Logical Fallacy “Argument To Moderation” atau “False Compromise” yang sering digunakan orang Liberal Pluralis

Leave a comment

Sepertinya sangat penting bagi kita untuk mengetahui Logical fallacy “Argument to Moderation” dewasa ini.

Terutama ketika banyak pemikiran munafiq yang sedang berkembang.

Jenis Logical fallacy ini yang kadang disebut juga “Middle Ground”, “false compromise “, atau “Grey argument”.

***
Logical fallacy ini bersifat ingin berpura-pura menjadi penengah yang sok bijak, dengan standar yang keliru, yang menginginkan agar masing-masing fihak mau berkompromi.

Misal si A mengatakan 5 + 5 =10, sedangkan si B mengatakan 5 + 5 = 20. Ketika beradu argument, muncul si C yang berkata daripada berdebat sebaiknya kita ambil saja jalur tengah, sehingga 5 + 5 =15.

Sounds fair kan? Masing-masing fihak terakomodasi. Tapi ini adalah logika yang salah.

***
Sama seperti logika Pluralis Liberal, dengan menganggap daripada masing-masing pemeluk agama itu melakukan “truth claim”. Maka sebaiknya dianggap saja semua agama itu benar.

Dianggap saja toh kita sama sama mendapatkan “warisan” Agama, maka sebaiknya semua dianggap benar saja.

Semua dianggap seperti filsafat Perennial, yang menganggap semua agama itu sebenarnya sumbernya sama, hanya berbeda dalam cara pengekspresian ibadah dan ajarannya saja.

Tidak perlu ada suatu argumentasi ilmiah dan pembuktian kebenaran wahyu, yang penting semua sama sama kompromistis saja. Semua sama sama diakomodasi, jadi adil.

Nah pemikiran dan pemahaman model seperti inilah yang disebut pemikiran munafiq. Kita diminta untuk mengorbankan sebagian keimanan kita, demi mendukung utopia indah yang munafiq atas nama perdamaian.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman mengenai orang orang munafiq semacam ini,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُون
أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka (orang orang munafiq) : “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.

Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [QS. Al Baqarah : 11-12]

****
Senada juga dalam hal ini, namun dengan intensitas yang lebih rendah di dalam kaum muslimin sendiri. Ketika berhadapan dengan Perselisihan Manhaj, dan penyimpangan Aqidah.

Maka mereka acuhkan argumentasi ilmiah dan solusi dakwah kepada manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah, demi ukhuwah, persatuan semu, dan menghadapi common enemy yang mereka katakan itu.

Akibatnya berapa banyak sunnah Rasulullah dan manhaj Salaf yang dilanggar, demi persatuan ukhuwah ala Pluralisme Manhaj.

Hadits hadits mutawatir masalah taat dan bersabar kepada ulil Amri yang dzolim? Buang saja ke tempat sampah.

Ada Da’i yang bermanhaj “tafsir jalan lain” dan memahami taqdir ala Qodariyah? Gpp, kasih aja udzur yang penting populer.

Takfiri bermunculan di mana mana? Gpp, yang penting dia satu kepentingan dengan kita dalam melawan pemerintah dan aparat nya.

Quburiyyun yang suka tawasul tabaruk ke kuburan para wali dan pewaris ilmu kalam yang menyimpang dalam memahami sifat sifat Allah, sehingga berkata Allah itu ada tanpa tempat dan Allâh ada di mana mana?

Gpp asalkan mereka adalah tradisionalis “garis lurus”, dan bukan orang Liberal. Maka mereka bisa kita rangkul dan tidak perlu untuk diotak atik penyimpangannya. Bikin perkara saja ntar kalau kita terlalu polos dan jujur berpegang kepada sunnah dan manhaj Salaf. Ada kepentingan dan common enemies yang lebih besar.

Dan lain lain.

***
Jadi di sini penting bagi kita untuk mengetahui Logical fallacy “Argument to Moderation”, atau “Middle Ground”, “false compromise “, dan “Grey argument”.

Baik itu dalam hubungan eksternal, yakni untuk menghadapi fitnah Pluralisme Agama.

Ataupun untuk kepentingan internal Ummat Islam sendiri, yakni untuk menghadapi fitnah Pluralisme Manhaj dalam memahami agama yang benar dengan berdasarkan sunnah Rasulullah dan manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Sometimes truth is hurt.
But Rasulullah and His companions (Sahabat) already said that, and already give us the guidance to face that.

Tinggal mau apa kagak. Tinggal memilih jalan yang benar, atau memilih jalan Logical fallacy.

Bersyukur terhadap kemudahan mendapatkan scan pdf kitab Ulama

Leave a comment

Kita itu harus banyak bersyukur, para ulama banyak sekali yang meng gratis kan kitab kitabnya, baik yang kecil ataupun yang besar berjilid jilid, dalam bentuk scan PDF.

Tugas kita tinggal download dan baca, tanpa perlu keluar uang dalam jumlah banyak.

Ada juga yang kitab ulama itu sudah dibuat file via aplikasi, tidak perlu via pdf scan, sehingga lebih dipermudah lagi bisa search dan copy paste.

Framing orang-orang tidak bertanggung jawab terhadap video-video Asatidz

Leave a comment

Beredar viral bahwa Framing seakan akan Ustadz Kholid Basalamah membela Ustadz Adi Hidayat, yang sedang ditahdzir akan kesalahan beliau.

Video itu dishare baik melalui WA ataupun youtube dengan cara cara yang licik dan menipu. Yakni dengan cara :

1. Diberikan subtitles pengantar di depan, agar orang orang ter Framing dan misleading bahwa Ustadz Kholid seakan akan sedang membela ustadz Adi Hidayat yang sedang ditahdzir.

2. Dihilangkan rekaman gambar video aslinya, dan ditinggalkan rekaman suaranya saja. Tentu saja maksudnya agar orang orang tidak bisa mengklarifikasi dan mencari sumber aslinya.

3. Setelah selesai rekaman suara itu dipertunjukkan, dilakukan closing yang cantik dengan subtitles caption dan tambahan penjelasan Rekaman suara Ustadz Adi Hidayat yang sedang ditahdzir, agar orang orang terframing dan misleading sesuai dengan kemauan fihak yang mengotak atik dan mengedit video itu.

***
Video yang diedit yang saya maksud adalah yang ada pada Link ini :

https://youtu.be/qj9mNd7PdAs

Sedangkan rekaman video yang asli dari Ustadz Kholid Basalamah yang sudah ada sejak berbulan bulan yang lalu, jauh sebelum ustadz Adi Hidayat ditahdzir adalah ada pada Link ini :

https://youtu.be/am1nSgfaIAk

Silakan perhatikan antara rekaman suara pada Link yang pertama, dan video utuh pada Link yang kedua. Sama bukan?

***
Saya sendiri mempunyai sikap tersendiri terhadap dua asatidz itu, baik Ustadz Kholid Basalamah ataupun Ustadz Adi Hidayat.

Akan tetapi demi keadilan, dan agar video dan rekaman suara Ustadz Kholid tidak disalahgunakan oleh fihak fihak tertentu. Maka hal ini saya jelaskan di sini.

Semoga ini bermanfaat bagi kita semua

Membongkar Syubhat Liberal yang Memakai Kedok Perkataan Ibnu Taimiyah untuk Membolehkan Pemimpin Kafir

Leave a comment

Bagaimana cara memahami perkataan Ibnu Taimiyyah berikut ini, yang sering dijadikan kedok orang Liberal dan yang semisal untuk membolehkan memilih pemimpin Kafir?

ولهذا يروى ” الله ينصر الدولة العادلة وإن كانت كافرة، ولا ينصر الدولة الظالمة وإن كانت مؤمنة ”

“Allah akan menolong suatu negara yang adil walaupun kafir. Dan Allah tidak akan menolong suatu negara yang dzolim walaupun beriman.”

****
Jawab :
Penjelasan akan hal ini sebenarnya mudah, asal kita faham apa yang dimaksud dari perkataan beliau dengan mengembalikan nya kepada Al Qur’an dan As Sunnah bi fahmis Salaf.

1. Yang terpakai disitu adalah fi’il madhi (kata kerja lampau), yakni pada masalah status daulah nya dengan kata ” إن كانت”

Sehingga ini memberikan faedah bahwa negaranya itu sudah ada dulu, ini seperti negara Mesir yang ada dulu sebelum datang Nabi Yusuf dan nabi Musa di situ.

2. Kemudian fi’il mudhori yang berupa pertolongan Allah ataupun hilangnya pertolongan Allah ada setelah berjalannya daulah itu.

Yakni pada perkataan fi’il mudhori ” ينصر”

3. Maksudnya bagaimana memahami point satu dan dua di atas itu?

Seperti misal negara Mesir pada waktu zaman Nabi Yusuf.

Negara Mesir waktu itu dibantu Allah nggak dengan kedatangan Nabi Yusuf yang mentakwilkan mimpi sang Raja dan kemudian menjadi Bendahara untuk mengatasi bencana paceklik?

Ya, dibantu. Jelas itu. Akan tetapi negara itu ada dulu jauh sebelum Nabi Yusuf datang bukan?

Dan Kalau argumentasi itu dijadikan dasar memilih pemimpin Kafir maka juga salah dan nggak benar. Karena negara itu sudah ada dulu, dan Nabi Yusuf tidak ikut mendirikan Mesir dan juga tidak ikut mengangkat pemimpinnya.

Beliau datang setelah semua itu ada.

Jadi sampai sini jelas dulu kan?

4. Sekarang bagaimana jika negara itu beriman dan negara Islam tapi dzolim, kan dikatakan Allah tidak akan menolongnya?

Ya, dan ini terjadi juga. Sebagaimana munculnya Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi karena kedzoliman para rakyatnya, sebagai bentuk ujian dan teguran dari Allah.

Para sahabat dan Tabi’in umumnya berkata, Hajjaj itu ada karena kedzoliman kita.

Padahal apakah para Sahabat dan Tabi’in itu kurang dalam masalah imannya? Dan apakah orang yang beriman itu tidak bisa melakukan kedzoliman?

Dan apakah Hajjaj ikut mendirikan kekholifahan? Tidak.

Sejak dari zaman Rasulullah negara Islam itu ada. Dia hanya datang setelahnya, ketika penduduknya dzolim walau beriman. Sama seperti kita memahami penjelasan mengenai Nabi Yusuf tadi.

*
Jadi jelas kan maksud memahami perkataan Ibnu Taimiyyah tadi?

Jadi ini adalah khobar, bukan perintah apalagi dalil yang membolehkan untuk memilih pemimpin Kafir.

Masalah khobar jika Allah akan menolong suatu negara yang Adil walaupun Kafir, itu berbeda dengan masalah larangan untuk memilih dan mengangkat pemimpin Kafir.

Allah menolong pezina yang membantu anjing yang kehausan di padang pasir (sebagaimana yang tersebut dalam hadits yang Shohih) itu, berbeda dengan masalah legalitas untuk menjadi Pezina yang jelas jelas dilarang.

Perhatikan dengan benar-benar perbedaan akan hal ini.

Para Komentator yang Menyimpang Manhaj nya

Leave a comment

Teknik stand up comedy

Ngomong sendiri yang nggak nyambung, tapi dipaksa nyambung.

Cara menghadapi : Diemin saja dan tahan ketawa

 

Gaya loper koran sok bijak

“Maaf saya cuman kopas, tapi semoga bisa diambil hikmahnya bagi kita semua ”

Pengikut IM di Indonesia dan Inkonsistensi Mereka terhadap Saudi ketika datangnya Raja Salman

Leave a comment

Sebenarnya kalau para pendukung Ikhwanul Muslimin dan simpatisannya konsisten, berikut juga para Harokiyyun yang mengadopsi pemikiran Haroki hizbiyyah yang dicetuskan oleh IM.

Maka kedatangan raja Salman ini, adalah saat yang paling tepat untuk menunjukkan kebencian mereka kepada pemerintah Saudi dalam tiga hal.

***
1. Kebencian karena Saudi secara resmi mendukung As Sisi sebagai pemerintah definitif di Mesir.

Ketika terjadi konflik sewaktu pemerintahan mantan Presiden Mursi yang berasal dari Ikhwanul Muslimin itu, As Sisi berhasil melakukan kudeta dan mengambil alih pemerintahan resmi Mesir.

Yang mana setelah tampak bahwa As Sisi yang menang dan berkuasa secara de facto mempunyai kekuatan, Saudi secara resmi mendukung pemerintahan As Sisi sebagai pemerintahan definitif.

Ikhwanul Muslimin, simpatisannya, dan para Harokiyyun lainnya biasanya tidak terima dengan sikap Saudi, dan menyimpan dendam kesumat kepada Saudi.

*
Mereka selalu membawa bawa “dendam sejarah” terbunuhnya sekitar 900 pendemo di Rabiah Square ketika menolak pemerintahan As Sisi.

Dalam artian, sudah jatuh korban 900 orang kok Saudi malah secara resmi dukung As Sisi sih?

Dan demikian juga yang diikuti oleh para simpatisan serta pengikut manhaj IM di Indonesia.

*
Padahal jika kita mau berpikir logis, justru jika gejolak fitnah di Mesir itu “tidak ditenangkan”, bisa jatuh korban yang lebih banyak dari 900 orang dan perang Saudara.

Sikap fiqh “menghindari madhorot yang lebih besar ini” ( Akhofud dhororoin) kadang tidak difahami oleh orang yang menyimpang dari manhaj Salaf, dan hanya bertindak berdasarkan emosi.

Padahal sikap ini juga dilakukan oleh Salaf yang lebih utama daripada raja Salman, yakni sahabat Abdullah bin Umar rodhiyalloohu ‘anhu.

*
Ketika terjadi konflik antara Abdullah bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwan, maka setelah Abdul Malik bin Marwan muncul sebagai pemenang dan berkuasa secara de facto.

Dan Abdullah bin Zubair Qodarulloh dikalahkan dan sampai dibunuh dengan cara disalib oleh Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi yang bengis (selaku Panglima perang Abdul Malik bin Marwan waktu itu).

Maka demi menghindari madhorot yang lebih besar dan juga karena de facto Abdul Malik bin Marwan yang berkuasa, maka Abdullah bin Umar pun berbai’at dan menyatakan dukungan nya kepada Abdul Malik bin Marwan yang keluar sebagai penguasa de facto.

Ini Shohih sebagaimana peristiwa bai’at Abdullah bin Umar dengan atas nama Allah dan Rasul-Nya kepada Abdul Malik bin Marwan ini, disebutkan oleh Imam Al Bukhori dalam Shohih nya.

*
Uniknya lagi apakah ada sahabat atau Tabi’in yang lain ada yang protes dengan sikap Abdullah bin Umar?

Tidak, bahkan mereka justru mendukung nya karena mereka faham ini untuk menghindari madhorot yang lebih besar.

Mereka faham karena mereka bermanhaj Ahlus Sunnah, bukan Khowarij.

Tidak pernah mereka melakukan demo atau mengungkit ungkit “korban sejarah”, untuk menolak kekuasaan de facto Abdul Malik bin Marwan.

Mereka tidak mengungkit ungkit terbunuhnya Abdullah bin Zubair beserta pengikutnya, sebagaimana yang dilakukan Ikhwanul Muslimin terhadap Mursi dan korban demo di Rabiah Square.

Anas bin Malik selaku sahabat senior yang lain pun juga faham akan hal itu, dan bersabar atas apa yang terjadi.

Bahkan ketika para Tabi’in mengadu kepada Anas bin Malik perihal Hajjaj yang dzolim, beliau justru mengingatkan agar bersabar sesuai dengan hadits Rasulullah yang beliau riwayat kan.

Dan hadits Anas bin Malik ini Shohih, sebagaimana yang diriwayatkan Bukhori dalam Shohih nya

*
Bahkan ketika Asma binti Abu Bakar, ibu dari Abdullah bin Zubair didatangi oleh Al Hajjaj guna “diprovokasi” mengenai anaknya yang dia bunuh.

Maka Asma membalas perkataan Hajjaj dengan sebaik baik perkataan yang dinisbatkan kepada Rasulullah, hingga Hajjaj terdiam dan pergi tidak bisa membantah kata kata Asma.

Ini Shohih, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohih nya.

Dan Asma sama sekali tidak mengungkit ungkit terbunuhnya anaknya beserta para pengikutnya, guna menolak pemerintahan Abdul Malik bin Marwan yang secara de facto berkuasa.

Perhatikan dengan benar benar akan hal ini.

****
2. Seharusnya IM, para harokiyyun yang mengadopsi manhaj Haroki Hizbiyyah nya, beserta para simpatisan nya menunjukkan kebencian dan protes nya kepada Raja Salman dan Saudi atas dibredel dan dilarangnya buku buku Haroki tersebar di Saudi.

Khususon kepada dilarangnya buku buku penulis yang berafiliasi kepada Ikhwanul Muslimin dan Harokiyyun secara umum. Lebih Khususon lagi mengenai dilarangnya buku buku Hasan Al Bana dan Sayyid Quthb.

Seharusnya mereka berani menunjukkan framing yang dulu telah mereka lakukan berkaitan dengan hal itu, yang disebarkan kepada para pengikut dan simpatisan nya, kepada raja Salman yang sedang berkunjung.

Minta tuh kepada raja Salman agar buku buku IM, Khususon buku bukunya Hasan Al banna dan Sayyid Quthb, tidak dicekal dan tidak diperlakukan sebagai buku buku yang menyimpang dari manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

***
3. Seharusnya IM, para harokiyyun yang mengadopsi manhaj Haroki Hizbiyyah nya, beserta para simpatisan nya menunjukkan kebencian dan protes nya kepada Raja Salman dan Saudi atas tiga buah pengeboman akhir Ramadhan tahun 2016 yang lalu. Yang mana salah satunya berlokasi di area parkir dekat Masjidil Nabawi.

Sudah ingat?

Yang mana tidak sampai sehari dan belum keluar keterangan resmi dari Saudi, langsung keluar Framing dan teori konspirasi dari harokiyyun bahwa itu hanya kerjaan media Saudi yang membesar besarkan masalah yang mana media itu berafiliasi kepada pemerintahan Saudi.

Broadcast itu langsung beredar secara massive di Indonesia untuk mendiskreditkan pemerintah Saudi. Bahkan disebutkan nama dua orang ustadz Haroki yang bertanggung jawab menyebarkan Broadcast itu.

Sudah ingat?

Harusnya mereka protes kepada raja Salman sesuai dengan Framing mereka, untuk menunjukkan kebencian masalah berita pengeboman yang dikatakan direkayasa teori konspirasi oleh pemerintah Saudi sendiri.

****
Ah Namun kita sudah faham betapa inkonsisten nya mereka. Apalagi kalau dirasa positioning nya nggak bagus. Strategi “bermain dua kaki” memang sudah biasa dimainkan.

Begitu rajanya datang sendiri beserta rombongan nya, langsung diam dan bermain retorika.

Betapa luar biasa manhaj Haroki kalian itu.

Haroki HT, Haroki IM, dan Kebenciannya terhadap Saudi

Leave a comment

Haroki-haroki hizbiyyah yang berafiliasi ke Ikhwanul Muslimin (IM) dan Quthubi (fans berat pemikiran Pemberontakan dan Takfiri Sayyid Quthb) yang biasanya benci ke Saudi sebagai negara utama pendukung dakwah Salafiyyah, sekarang sedang “tiarap” dulu tampaknya.

Maklum, situasi masih belum menguntungkan.

Adapun HT yang memiliki akar sejarah yang sedikit berbeda dengan IM, tampaknya masih konsisten dengan tulisan Framing pendiskreditannya kepada Saudi.

Syi’ah nggak usah ditanya. Adapun Liberal, maka biarkan saja mereka dengan kemunafikan Framing nya.

***

Tanya :

Ada beberapa literatur orientalis yang anaa pernah baca kalau akar nya HT itu “sempalan” dari IM, tapi akhirnya HT punya metode tersendiri untuk menjadikan politik sebagai kendaraan dakwahnya. Mungkin Mas Amru punya referensi dr ulama terkait sejarah HT dan kaitannya dengan IM. Sehingga terlihat jelas oposisi nya HT dengan kingdom. Adapun IM karena ada metode tarbiyah dengan rasa politik, jadi terasa samar dengan dakwah salafiyyin. Tolong beri faedah

Jawab :

Kalau secara ormas mungkin nggak, tapi kalo founding father nya HT pernah berafiliasi ke IM hingga kemudian memisahkan diri dan membentuk HT, maka iya.

Lihat buku WAMY mengenai gerakan pemikiran keagamaan di bagian Hizbut Tahrir.

HT itu lebih konsisten dibandingkan IM yang bermain “dua kaki”.

IM mempunyai sikap mengakomodir demokrasi sebagai manhaj dakwah nya hingga membentuk partai. Adapun HT tetap konsisten bergerak di luar sistem dan anti demokrasi.

Pengkaderan IM biasanya sembunyi sembunyi ala gerakan underground pada umumnya, sedangkan HT terang terangan dalam penyebaran pemikiran serta pengumpulan massa nya.

Adapun jika sudah mempunyai kekuatan, maka tujuan nya sama saja. Mereka akan berusaha menguasai pemerintahan yang ada.

Hanya saja HT lebih murni perlawanannya, dan didukung organisasi HT internasional yang berada di bawah satu komando.

Sedangkan IM disesuaikan dengan kondisi politik dan kekuatan dari “cabang” masing masing wilayah wilayah atau negara. Jadi mereka lebih memiliki otonomi.

Walloohu A’lam

 

Tanggapan :

Setuju mas. Dlu skripsi anaa bahas HT dan IM. Tapi literatur IM cuman dari buku barat. Klo HT udh sempet wawancara sih sama pak Ismail yusanto (jubir HTI). Klo buat IM anaa dpt faedah menarik dari salah satu ustadz dr madinah. Beliau cerita bahwa salah satu syaikh di sana menjelaskan bagaimana metode dua kaki IM ini:

Pertama, mereka tempatkan satu kaki di garis oposisi untuk terus menggoyangkan pemerintahan, dan satu kaki sebagai pendukung pemerintah.

Ketika terjadi tindakan represif dari pemerintah ke pihak oposisi untuk disikat habis, maka kaki yang pro pemerintah akan dibiarkan pemerintah. Dengan itu mereka akan terus bertahan untuk kaderisasi kaki oposisi nya di manapun rezim berkuasa

Tanggapan :

Tapi setahu ana ada sebagian HT yang mendirikan partai juga

Tanggapan :

HT sendiri itu partai. Klaim mereka adalah partai (hizbut-partai, tahrir-pembebasan). Tapi partai ekstra parlementer, gak ikut masuk parlemen. Mereka mengambil posisi sebagai oposisi terus untuk challenge rezim.

Klopun terbukti ada anomali sebagian shabab HT bikin partai sendiri itu di luar code of conduct nya HT berarti

Older Entries