Framing orang-orang tidak bertanggung jawab terhadap video-video Asatidz

Leave a comment

Beredar viral bahwa Framing seakan akan Ustadz Kholid Basalamah membela Ustadz Adi Hidayat, yang sedang ditahdzir akan kesalahan beliau.

Video itu dishare baik melalui WA ataupun youtube dengan cara cara yang licik dan menipu. Yakni dengan cara :

1. Diberikan subtitles pengantar di depan, agar orang orang ter Framing dan misleading bahwa Ustadz Kholid seakan akan sedang membela ustadz Adi Hidayat yang sedang ditahdzir.

2. Dihilangkan rekaman gambar video aslinya, dan ditinggalkan rekaman suaranya saja. Tentu saja maksudnya agar orang orang tidak bisa mengklarifikasi dan mencari sumber aslinya.

3. Setelah selesai rekaman suara itu dipertunjukkan, dilakukan closing yang cantik dengan subtitles caption dan tambahan penjelasan Rekaman suara Ustadz Adi Hidayat yang sedang ditahdzir, agar orang orang terframing dan misleading sesuai dengan kemauan fihak yang mengotak atik dan mengedit video itu.

***
Video yang diedit yang saya maksud adalah yang ada pada Link ini :

https://youtu.be/qj9mNd7PdAs

Sedangkan rekaman video yang asli dari Ustadz Kholid Basalamah yang sudah ada sejak berbulan bulan yang lalu, jauh sebelum ustadz Adi Hidayat ditahdzir adalah ada pada Link ini :

https://youtu.be/am1nSgfaIAk

Silakan perhatikan antara rekaman suara pada Link yang pertama, dan video utuh pada Link yang kedua. Sama bukan?

***
Saya sendiri mempunyai sikap tersendiri terhadap dua asatidz itu, baik Ustadz Kholid Basalamah ataupun Ustadz Adi Hidayat.

Akan tetapi demi keadilan, dan agar video dan rekaman suara Ustadz Kholid tidak disalahgunakan oleh fihak fihak tertentu. Maka hal ini saya jelaskan di sini.

Semoga ini bermanfaat bagi kita semua

Membongkar Syubhat Liberal yang Memakai Kedok Perkataan Ibnu Taimiyah untuk Membolehkan Pemimpin Kafir

Leave a comment

Bagaimana cara memahami perkataan Ibnu Taimiyyah berikut ini, yang sering dijadikan kedok orang Liberal dan yang semisal untuk membolehkan memilih pemimpin Kafir?

ولهذا يروى ” الله ينصر الدولة العادلة وإن كانت كافرة، ولا ينصر الدولة الظالمة وإن كانت مؤمنة ”

“Allah akan menolong suatu negara yang adil walaupun kafir. Dan Allah tidak akan menolong suatu negara yang dzolim walaupun beriman.”

****
Jawab :
Penjelasan akan hal ini sebenarnya mudah, asal kita faham apa yang dimaksud dari perkataan beliau dengan mengembalikan nya kepada Al Qur’an dan As Sunnah bi fahmis Salaf.

1. Yang terpakai disitu adalah fi’il madhi (kata kerja lampau), yakni pada masalah status daulah nya dengan kata ” إن كانت”

Sehingga ini memberikan faedah bahwa negaranya itu sudah ada dulu, ini seperti negara Mesir yang ada dulu sebelum datang Nabi Yusuf dan nabi Musa di situ.

2. Kemudian fi’il mudhori yang berupa pertolongan Allah ataupun hilangnya pertolongan Allah ada setelah berjalannya daulah itu.

Yakni pada perkataan fi’il mudhori ” ينصر”

3. Maksudnya bagaimana memahami point satu dan dua di atas itu?

Seperti misal negara Mesir pada waktu zaman Nabi Yusuf.

Negara Mesir waktu itu dibantu Allah nggak dengan kedatangan Nabi Yusuf yang mentakwilkan mimpi sang Raja dan kemudian menjadi Bendahara untuk mengatasi bencana paceklik?

Ya, dibantu. Jelas itu. Akan tetapi negara itu ada dulu jauh sebelum Nabi Yusuf datang bukan?

Dan Kalau argumentasi itu dijadikan dasar memilih pemimpin Kafir maka juga salah dan nggak benar. Karena negara itu sudah ada dulu, dan Nabi Yusuf tidak ikut mendirikan Mesir dan juga tidak ikut mengangkat pemimpinnya.

Beliau datang setelah semua itu ada.

Jadi sampai sini jelas dulu kan?

4. Sekarang bagaimana jika negara itu beriman dan negara Islam tapi dzolim, kan dikatakan Allah tidak akan menolongnya?

Ya, dan ini terjadi juga. Sebagaimana munculnya Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi karena kedzoliman para rakyatnya, sebagai bentuk ujian dan teguran dari Allah.

Para sahabat dan Tabi’in umumnya berkata, Hajjaj itu ada karena kedzoliman kita.

Padahal apakah para Sahabat dan Tabi’in itu kurang dalam masalah imannya? Dan apakah orang yang beriman itu tidak bisa melakukan kedzoliman?

Dan apakah Hajjaj ikut mendirikan kekholifahan? Tidak.

Sejak dari zaman Rasulullah negara Islam itu ada. Dia hanya datang setelahnya, ketika penduduknya dzolim walau beriman. Sama seperti kita memahami penjelasan mengenai Nabi Yusuf tadi.

*
Jadi jelas kan maksud memahami perkataan Ibnu Taimiyyah tadi?

Jadi ini adalah khobar, bukan perintah apalagi dalil yang membolehkan untuk memilih pemimpin Kafir.

Masalah khobar jika Allah akan menolong suatu negara yang Adil walaupun Kafir, itu berbeda dengan masalah larangan untuk memilih dan mengangkat pemimpin Kafir.

Allah menolong pezina yang membantu anjing yang kehausan di padang pasir (sebagaimana yang tersebut dalam hadits yang Shohih) itu, berbeda dengan masalah legalitas untuk menjadi Pezina yang jelas jelas dilarang.

Perhatikan dengan benar-benar perbedaan akan hal ini.

Para Komentator yang Menyimpang Manhaj nya

Leave a comment

Teknik stand up comedy

Ngomong sendiri yang nggak nyambung, tapi dipaksa nyambung.

Cara menghadapi : Diemin saja dan tahan ketawa

 

Gaya loper koran sok bijak

“Maaf saya cuman kopas, tapi semoga bisa diambil hikmahnya bagi kita semua ”

Pengikut IM di Indonesia dan Inkonsistensi Mereka terhadap Saudi ketika datangnya Raja Salman

Leave a comment

Sebenarnya kalau para pendukung Ikhwanul Muslimin dan simpatisannya konsisten, berikut juga para Harokiyyun yang mengadopsi pemikiran Haroki hizbiyyah yang dicetuskan oleh IM.

Maka kedatangan raja Salman ini, adalah saat yang paling tepat untuk menunjukkan kebencian mereka kepada pemerintah Saudi dalam tiga hal.

***
1. Kebencian karena Saudi secara resmi mendukung As Sisi sebagai pemerintah definitif di Mesir.

Ketika terjadi konflik sewaktu pemerintahan mantan Presiden Mursi yang berasal dari Ikhwanul Muslimin itu, As Sisi berhasil melakukan kudeta dan mengambil alih pemerintahan resmi Mesir.

Yang mana setelah tampak bahwa As Sisi yang menang dan berkuasa secara de facto mempunyai kekuatan, Saudi secara resmi mendukung pemerintahan As Sisi sebagai pemerintahan definitif.

Ikhwanul Muslimin, simpatisannya, dan para Harokiyyun lainnya biasanya tidak terima dengan sikap Saudi, dan menyimpan dendam kesumat kepada Saudi.

*
Mereka selalu membawa bawa “dendam sejarah” terbunuhnya sekitar 900 pendemo di Rabiah Square ketika menolak pemerintahan As Sisi.

Dalam artian, sudah jatuh korban 900 orang kok Saudi malah secara resmi dukung As Sisi sih?

Dan demikian juga yang diikuti oleh para simpatisan serta pengikut manhaj IM di Indonesia.

*
Padahal jika kita mau berpikir logis, justru jika gejolak fitnah di Mesir itu “tidak ditenangkan”, bisa jatuh korban yang lebih banyak dari 900 orang dan perang Saudara.

Sikap fiqh “menghindari madhorot yang lebih besar ini” ( Akhofud dhororoin) kadang tidak difahami oleh orang yang menyimpang dari manhaj Salaf, dan hanya bertindak berdasarkan emosi.

Padahal sikap ini juga dilakukan oleh Salaf yang lebih utama daripada raja Salman, yakni sahabat Abdullah bin Umar rodhiyalloohu ‘anhu.

*
Ketika terjadi konflik antara Abdullah bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwan, maka setelah Abdul Malik bin Marwan muncul sebagai pemenang dan berkuasa secara de facto.

Dan Abdullah bin Zubair Qodarulloh dikalahkan dan sampai dibunuh dengan cara disalib oleh Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi yang bengis (selaku Panglima perang Abdul Malik bin Marwan waktu itu).

Maka demi menghindari madhorot yang lebih besar dan juga karena de facto Abdul Malik bin Marwan yang berkuasa, maka Abdullah bin Umar pun berbai’at dan menyatakan dukungan nya kepada Abdul Malik bin Marwan yang keluar sebagai penguasa de facto.

Ini Shohih sebagaimana peristiwa bai’at Abdullah bin Umar dengan atas nama Allah dan Rasul-Nya kepada Abdul Malik bin Marwan ini, disebutkan oleh Imam Al Bukhori dalam Shohih nya.

*
Uniknya lagi apakah ada sahabat atau Tabi’in yang lain ada yang protes dengan sikap Abdullah bin Umar?

Tidak, bahkan mereka justru mendukung nya karena mereka faham ini untuk menghindari madhorot yang lebih besar.

Mereka faham karena mereka bermanhaj Ahlus Sunnah, bukan Khowarij.

Tidak pernah mereka melakukan demo atau mengungkit ungkit “korban sejarah”, untuk menolak kekuasaan de facto Abdul Malik bin Marwan.

Mereka tidak mengungkit ungkit terbunuhnya Abdullah bin Zubair beserta pengikutnya, sebagaimana yang dilakukan Ikhwanul Muslimin terhadap Mursi dan korban demo di Rabiah Square.

Anas bin Malik selaku sahabat senior yang lain pun juga faham akan hal itu, dan bersabar atas apa yang terjadi.

Bahkan ketika para Tabi’in mengadu kepada Anas bin Malik perihal Hajjaj yang dzolim, beliau justru mengingatkan agar bersabar sesuai dengan hadits Rasulullah yang beliau riwayat kan.

Dan hadits Anas bin Malik ini Shohih, sebagaimana yang diriwayatkan Bukhori dalam Shohih nya

*
Bahkan ketika Asma binti Abu Bakar, ibu dari Abdullah bin Zubair didatangi oleh Al Hajjaj guna “diprovokasi” mengenai anaknya yang dia bunuh.

Maka Asma membalas perkataan Hajjaj dengan sebaik baik perkataan yang dinisbatkan kepada Rasulullah, hingga Hajjaj terdiam dan pergi tidak bisa membantah kata kata Asma.

Ini Shohih, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohih nya.

Dan Asma sama sekali tidak mengungkit ungkit terbunuhnya anaknya beserta para pengikutnya, guna menolak pemerintahan Abdul Malik bin Marwan yang secara de facto berkuasa.

Perhatikan dengan benar benar akan hal ini.

****
2. Seharusnya IM, para harokiyyun yang mengadopsi manhaj Haroki Hizbiyyah nya, beserta para simpatisan nya menunjukkan kebencian dan protes nya kepada Raja Salman dan Saudi atas dibredel dan dilarangnya buku buku Haroki tersebar di Saudi.

Khususon kepada dilarangnya buku buku penulis yang berafiliasi kepada Ikhwanul Muslimin dan Harokiyyun secara umum. Lebih Khususon lagi mengenai dilarangnya buku buku Hasan Al Bana dan Sayyid Quthb.

Seharusnya mereka berani menunjukkan framing yang dulu telah mereka lakukan berkaitan dengan hal itu, yang disebarkan kepada para pengikut dan simpatisan nya, kepada raja Salman yang sedang berkunjung.

Minta tuh kepada raja Salman agar buku buku IM, Khususon buku bukunya Hasan Al banna dan Sayyid Quthb, tidak dicekal dan tidak diperlakukan sebagai buku buku yang menyimpang dari manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

***
3. Seharusnya IM, para harokiyyun yang mengadopsi manhaj Haroki Hizbiyyah nya, beserta para simpatisan nya menunjukkan kebencian dan protes nya kepada Raja Salman dan Saudi atas tiga buah pengeboman akhir Ramadhan tahun 2016 yang lalu. Yang mana salah satunya berlokasi di area parkir dekat Masjidil Nabawi.

Sudah ingat?

Yang mana tidak sampai sehari dan belum keluar keterangan resmi dari Saudi, langsung keluar Framing dan teori konspirasi dari harokiyyun bahwa itu hanya kerjaan media Saudi yang membesar besarkan masalah yang mana media itu berafiliasi kepada pemerintahan Saudi.

Broadcast itu langsung beredar secara massive di Indonesia untuk mendiskreditkan pemerintah Saudi. Bahkan disebutkan nama dua orang ustadz Haroki yang bertanggung jawab menyebarkan Broadcast itu.

Sudah ingat?

Harusnya mereka protes kepada raja Salman sesuai dengan Framing mereka, untuk menunjukkan kebencian masalah berita pengeboman yang dikatakan direkayasa teori konspirasi oleh pemerintah Saudi sendiri.

****
Ah Namun kita sudah faham betapa inkonsisten nya mereka. Apalagi kalau dirasa positioning nya nggak bagus. Strategi “bermain dua kaki” memang sudah biasa dimainkan.

Begitu rajanya datang sendiri beserta rombongan nya, langsung diam dan bermain retorika.

Betapa luar biasa manhaj Haroki kalian itu.

Haroki HT, Haroki IM, dan Kebenciannya terhadap Saudi

Leave a comment

Haroki-haroki hizbiyyah yang berafiliasi ke Ikhwanul Muslimin (IM) dan Quthubi (fans berat pemikiran Pemberontakan dan Takfiri Sayyid Quthb) yang biasanya benci ke Saudi sebagai negara utama pendukung dakwah Salafiyyah, sekarang sedang “tiarap” dulu tampaknya.

Maklum, situasi masih belum menguntungkan.

Adapun HT yang memiliki akar sejarah yang sedikit berbeda dengan IM, tampaknya masih konsisten dengan tulisan Framing pendiskreditannya kepada Saudi.

Syi’ah nggak usah ditanya. Adapun Liberal, maka biarkan saja mereka dengan kemunafikan Framing nya.

***

Tanya :

Ada beberapa literatur orientalis yang anaa pernah baca kalau akar nya HT itu “sempalan” dari IM, tapi akhirnya HT punya metode tersendiri untuk menjadikan politik sebagai kendaraan dakwahnya. Mungkin Mas Amru punya referensi dr ulama terkait sejarah HT dan kaitannya dengan IM. Sehingga terlihat jelas oposisi nya HT dengan kingdom. Adapun IM karena ada metode tarbiyah dengan rasa politik, jadi terasa samar dengan dakwah salafiyyin. Tolong beri faedah

Jawab :

Kalau secara ormas mungkin nggak, tapi kalo founding father nya HT pernah berafiliasi ke IM hingga kemudian memisahkan diri dan membentuk HT, maka iya.

Lihat buku WAMY mengenai gerakan pemikiran keagamaan di bagian Hizbut Tahrir.

HT itu lebih konsisten dibandingkan IM yang bermain “dua kaki”.

IM mempunyai sikap mengakomodir demokrasi sebagai manhaj dakwah nya hingga membentuk partai. Adapun HT tetap konsisten bergerak di luar sistem dan anti demokrasi.

Pengkaderan IM biasanya sembunyi sembunyi ala gerakan underground pada umumnya, sedangkan HT terang terangan dalam penyebaran pemikiran serta pengumpulan massa nya.

Adapun jika sudah mempunyai kekuatan, maka tujuan nya sama saja. Mereka akan berusaha menguasai pemerintahan yang ada.

Hanya saja HT lebih murni perlawanannya, dan didukung organisasi HT internasional yang berada di bawah satu komando.

Sedangkan IM disesuaikan dengan kondisi politik dan kekuatan dari “cabang” masing masing wilayah wilayah atau negara. Jadi mereka lebih memiliki otonomi.

Walloohu A’lam

 

Tanggapan :

Setuju mas. Dlu skripsi anaa bahas HT dan IM. Tapi literatur IM cuman dari buku barat. Klo HT udh sempet wawancara sih sama pak Ismail yusanto (jubir HTI). Klo buat IM anaa dpt faedah menarik dari salah satu ustadz dr madinah. Beliau cerita bahwa salah satu syaikh di sana menjelaskan bagaimana metode dua kaki IM ini:

Pertama, mereka tempatkan satu kaki di garis oposisi untuk terus menggoyangkan pemerintahan, dan satu kaki sebagai pendukung pemerintah.

Ketika terjadi tindakan represif dari pemerintah ke pihak oposisi untuk disikat habis, maka kaki yang pro pemerintah akan dibiarkan pemerintah. Dengan itu mereka akan terus bertahan untuk kaderisasi kaki oposisi nya di manapun rezim berkuasa

Tanggapan :

Tapi setahu ana ada sebagian HT yang mendirikan partai juga

Tanggapan :

HT sendiri itu partai. Klaim mereka adalah partai (hizbut-partai, tahrir-pembebasan). Tapi partai ekstra parlementer, gak ikut masuk parlemen. Mereka mengambil posisi sebagai oposisi terus untuk challenge rezim.

Klopun terbukti ada anomali sebagian shabab HT bikin partai sendiri itu di luar code of conduct nya HT berarti

Serba serbi Masjid Nabawi dan Makam Rasulullah

Leave a comment

Kalau ditanyakan,
duluan mana antara masjid Nabawi dan kuburan Rasulullah ada dan dibangun ?

Tentu kita jawab, Masjid Nabawi tentu yang duluan ada dan dibangun.

Masjid Nabawi didirikan ketika Rasulullah hidup, maka bagaimana mungkin makam Rasulullah ada duluan?

Ya, benar. Shodaqta.
Ini pemahaman penting yang harus kita fahami terlebih dahulu.

***
Sekarang kalau ditanya, dimana rumah Rasulullah?

Di dalam masjid Nabawi atau di luar masjid Nabawi?

Al jawab tentu di luar masjid Nabawi. Tidak mungkin bangun rumah di dalam masjid.

Ya benar, rumah Rasulullah bukan di dalam masjid, tapi di luar masjid Nabawi.

Di dekat masjid Nabawi tepatnya.

Jadi kalau Rasulullah dikuburkan di dalam rumah tempat beliau meninggal, itu artinya Rasulullah dikuburkan di dalam masjid Nabawi atau di luar masjid Nabawi?

Tentu artinya dimakamkan di luar masjid Nabawi.

***
Kenapa Rasulullah dimakamkan di rumah tempat beliau meninggal? Tidak di pemakaman umum di Baqi sana?

Al jawab, karena inilah kekhususan syariat bagi Rasulullah sebagai nabi. Yang mana para Nabi itu dimakamkan di tempat dia meninggal. Bukan dipindahkan dikuburkan di tempat lain.

Para sahabat mengetahui Syariat ini, maka dari itu mereka menguburkan Rasulullah di tempat beliau meninggal. Yakni di rumah beliau, di bilik istri beliau Aisyah radhiyallaahu anhaa.

***
Maka dari itu, karena Rasulullah dikuburkan oleh para sahabat di dalam rumahnya yang tidak berada di dalam lingkungan masjid Nabawi pada waktu itu.

Para sahabat tidak terkena larangan dan laknat terhadap orang yang membangun kuburan di dalam masjid, atau yang membangun masjid di atas kuburan setelah kuburan itu ada. Sebagaimana hadits yang disabdakan oleh Rasulullah itu sendiri.

Ini pemahaman penting juga yang harus kita fahami. Yakni agar para sahabat tidak dituduh yang macam macam mengenai penguburan dan tempat makam Rasulullah itu.

***
Sampai sini faham dulu ya.

Jadi antara masjid Nabawi dan rumah Rasulullah pada waktu itu berbeda, terpisah, dan tidak jadi satu.

Sehingga otomatis, demikian juga kuburan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang ada di dalam rumah beliau.

Para sahabat tidak ada yang melanggar larangan beliau, atau coba coba ingin mendapatkan laknat dengan membangun kuburan di dalam masjid.

***
Demikianlah pemahaman para sahabat mengenai letak dan posisi antara masjid Nabawi dan makam Rasulullah.

Dan hal ini terus bertahan pada zaman khulafaur Rasyidin dan awal awal kekholifahan dinasti Umayah.

Bahkan Kholifah Abu Bakar dan Kholifah Umar juga dimakamkan di samping makam Rasulullah, di dalam rumah beliau.

Dua Kholifah itu dimakamkan di samping Rasulullah, karena para sahabat faham bahwa letak makam Rasulullah itu tidak di dalam masjid Nabawi pada waktu itu.

Jadi para sahabat tidak ada yang melanggar syariat larangan membangun masjid di atas kuburan, atau menguburkan seseorang di dalam masjid.

***
Demikianlah kondisi para sahabat dan umat Islam pada waktu itu.

Dan waktu pun terus berlalu, pengaruh Islam makin besar, dan pemeluk agama Islam makin banyak.

Akibatnya masjid Nabawi yang mulanya cukup untuk menampung umat Islam di Madinah, akhirnya menjadi tidak cukup lagi dan harus dilakukan perluasan.

Akhirnya perluasan masjid Nabawi dilakukan, hingga akhirnya terpaksa sampai memasukkan rumah Rasulullah ke dalam halaman masjid Nabawi.

***
Para ulama pun tidak tinggal diam melihat hal ini.

Karena perluasan hingga memasukkan rumah Rasulullah ke dalam halaman masjid Nabawi ini terjadi pada masa Tabi’in (masa ulama dari murid para Sahabat), maka berdirilah ulama Tabi’in terkenal Said bin Musayyab untuk memprotes perluasan yang kebablasan ini kepada Kholifah.

Namun sayangnya hal ini kurang diindahkan oleh Kholifah, dan Kholifah memiliki pertimbangan lain.

***
Sebagian ulama yang lain memandang, bahwa perluasan ini tidak melanggar larangan Rasulullah mengenai membangun masjid di atas kuburan.

Karena masjid Nabawi ada lebih dulu dibandingkan kuburan Rasulullah, dan juga karena pada awalnya Rasulullah tidak dikuburkan di dalam masjid.

Jadi tidak terkena larangan dan laknat hadits Rasulullah masalah membangun masjid di atas kuburan, karena masjidnya sudah ada duluan dibandingkan kuburan nya. Sehingga tidak bisa dikatakan membangun masjid di atas kuburan.

Dan juga karena awalnya kuburan Rasulullah itu dikuburkan di dalam rumah beliau, bukan di dalam masjid Nabawi. Maka perluasan masjid itu tidak bisa dipandang membangun kuburan di dalam masjid.

Jadi juga dianggap tidak terkena larangan dan laknat hadits Rasulullah mengenai menguburkan seseorang di dalam masjid.

Toh masjidnya dan kuburan nya juga sudah sama sama ada, dan tidak menjadi satu. Ini hanya masalah perluasan nya saja.

Lagipula kuburan Rasulullah itu dikelilingi bangunan pembatas yang mulanya adalah rumah beliau. Jadi tidak dibiarkan terbuka kuburan apa adanya, masuk di dalam halaman masjid Nabawi yang diperluas itu.

Sehingga kuburan itu dianggap menjadi suatu bangunan yang terpisah dengan masjid Nabawi, karena ada bangunan yang menutupi makam beliau.

Perhatikanlah hal ini, dan bacalah berulang ulang jika perlu. Karena point-point ini adalah Point paling penting dari keseluruhan tulisan kita.

***
Dari penjelasan di atas, kita memahami kekhususan syariat mengenai letak makam nabi, masalah sejarah masjid Nabawi dan makam Rasulullah pada mulanya hingga terkena perluasan, dan juga perincian hukum mengenai masalah itu.

Jadi kesimpulan nya, jika ada orang yang membangun masjid di atas kuburan. Atau menguburkan seseorang di dalam masjid ataupun di halaman masjid.

Maka dia telah melanggar larangan Rasulullah dan terkena laknat akan hal itu.

***
Adapun argumen dia mengenai kuburan Rasulullah yang ada di masjid Nabawi, tidaklah berlaku dengan pelanggaran yang dia lakukan karena kasusnya berbeda.

Sehingga not Apple to apple, atau pendalilan yang salah karena berbeda latar belakangnya.

Maka jangan kuburkan seseorang pun di dalam masjid ataupun di lingkungan halaman masjid.

Hal itu haram dan dilarang Rasulullah.

Entah itu Habib, Syaikh, Sunan, Wali, Kyai, Ajengan, Ulama, atau orang biasa; jangan dikuburkan baik di dalam masjid ataupun di lingkungan masjid. Haram itu.

Dan ingkarilah masjid masjid yang di dalamnya ataupun di halamannya ada kuburan, kecuali masjid Nabawi.

Berilah nasehat agar kuburan tersebut dipindahkan dari masjid dan lingkungan masjid. Atau jika tidak bisa, carilah masjid lain yang tidak ada kuburan nya sebagai bentuk pengingkaran kita, setelah nasehat yang santun dan ilmiah telah diberikan.

————————————

Tanya :

Draft Area Kuburan di dalam Masjid

Afwan akhi. Lebih kurang kalo keadaannya kayak gambar ini gimna akhi ?

Lebar jalannya ± 1,5 meter itu. Mohon sedikit penjelasanya akhi, tafadhol di zoom dulu gambarnya akhi hehe.. Krn pintu masuknya agak kedalam tuh

Jawab :

Itu kotakan area kuburan masih masuk area halaman masjid ya?

Tanya :

Iya akhi tapi ada pembatas dgn jalan utk menuju ketempat berwudhu’

Jawab :

Kalo itu masih dianggap dalam area masjid, maka tidak boleh ada terkena larangan Rasulullah dalam hal ini.

Tapi kalo itu dianggap terpisah, ada tembok pembatas yang tinggi, dan tidak dianggap bagian area masjid, maka itu tidak mengapa.

Sebagai perbandingan agar memahami larangan Rasulullah, coba Google “cemetery Church”, lihat gambarnya, dan bandingkan.

Itulah yang Rasulullah cela terhadap Ahlul Kitab, dan beliau larang dengan keras kepada umat nya.

Kalau kuburan di area halaman masjid itu maksudnya seperti cemetery Church, maka tidak boleh

 

 

Lesson Learn dari Menghadapi Mukholif

Leave a comment

Sesuai perkataan saya sebelumnya, demi menjaga kenyamanan para tetangga yang telah banyak memberikan complain dan masukan kepada diri saya.

Maka batas waktu 3 x 24 jam yang saya berikan telah habis.

Dan akun akun yang saya pandang telah meresahkan itu,
Yang menghilangkan kenyamanan bertetangga dengan saya untuk saling berbagi faedah ilmu, Yang kurang memiliki itikad baik untuk menjadi tetangga yang baik,

Telah saya unfriend.

Semoga ini bisa mengembalikan kenyamanan para ikhwah semua ketika berteman dengan akun FB saya ini.

***
Namun dari semua peristiwa ini, ada baiknya saya sebutkan lesson learn yang bisa kita ambil ilmu darinya.

Banyak sebenarnya ilmu dan praktek nyata yang bisa kita ambil dari hal ini, walau bukan dengan konotasi yang baik.

1. Kita telah belajar masalah sikap dzul wajhain (memiliki dua muka) dan Ghooibul Haya’ (hilangnya rasa malu).

2. Kita telah belajar masalah teknik penyesatan berpikir (logical fallacy) dan praktik langsung dari strawman, playing victim, appeal to force, dan Argumentum ad hominem.

3. Khusus mengenai appeal to force, kita telah belajar bahwa bertemu itu baiknya di kepolisian atau di pengadilan. Kita belajar juga dari appeal to force agar tidak memberikan KTP, foto, dan no HP secara sembarangan.

Karena teror telepon itu bisa menimpa tidak hanya kita, tapi juga berefek pada keluarga kita.

Kita juga bisa didatangi baik di rumah kita atau tempat kita mencari nafkah untuk menyelesaikan masalah secara appeal to force. Sebagaimana hal ini pernah terjadi.

Keluarga kita juga tidak terlepas dari bahaya appeal to force ini. Maka dari itu jangan tertipu dengan bahasa silaturahim, koordinasi, dan yang semisal.

4. Kita telah belajar bahwa melaporkan ke kepolisian guna diproses secara pidana ke pengadilan itu tidak memerlukan No HP, KTP, atau yang semisal dari yang dilaporkan.

Cukup ada bukti awal dan pihak yang melaporkan ke kepolisian, maka polisi akan langsung bisa mengusut dan menyidik.

5. Kita juga telah belajar perincian buruknya suka bersumpah atas nama Allah dan suka menantang mubahalah.

Dikit dikit sumpah, dikit dikit nantang mubahalah. Padahal hal ini ada tahapan tahapannya dan juga hikmahnya, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.

Bukan malah ini digunakan secara semena mena demi kepentingan appeal to force.

6. Perlu dicatat juga bahwa kombinasi Playing victim dan appeal to force itu hal yang sering terjadi.

Hingga pada prakteknya terjadi tipuan merasa terdzolimi (playing victim) yang kemudian orang tersebut bisa semena mena mendoakan keburukan kepada orang yang dianggap mendzolimi nya.

Dan ini terjadi berulang ulang. Sehingga tampak bahwa ini adalah adab yang buruk kepada Allah, demi membenarkan logical fallacy appeal to force nya.

7. Lebih lanjut mengenai playing victim, kita juga telah belajar boleh berkata buruk mengenai hakikat seseorang ketika orang tersebut dzolim kepada kita, agar umat mengetahui keburukan orang itu.

Maka playing victim bahwa orang yang mengungkapkan keburukannya, sebagai orang yang dituduh balik buruk adab dan buruk akhlaknya itu tidak berlaku disini.

Bahkan justru perkataan yang buruk untuk mengungkapkan keburukan seseorang, agar orang lain waspada kepadanya itulah yang sebenarnya merupakan akhlak yang baik.

8. Kita juga belajar masalah Strawman atas nama “Baper”.

Yang mana si Juki hanya berkata A, namun si Mukidi karena baper bisa berkata B hingga Z untuk menuduh Juki.

Padahal Juki tidak pernah ngomong atau membicarakan kecuali A, namun atas nama “baper” semua dianggap bisa dihubung hubungkan oleh Mukidi guna menuduh Juki.

Demikianlah manhaj wanita Strawman dan baper ini.

***
Bagaimana?

Banyak bukan yang sebenarnya telah kita pelajari, walau melalui proses yang tidak nyaman?

Ini ilmu yang mahal sebenarnya, dan kita beruntung bisa mendapatkan langsung dari praktik nyata yang ada walaupun itu menimbulkan keresahan.

Itulah tantangan tantangan manhaj dan dakwah yang kadang harus kita hadapi.

Akan tetapi itu insya Allah sudah berlalu.

Kita akan fokus lagi untuk saling berbagi faedah ilmu dan manhaj ke depannya Insya Allah.

Semoga ini bisa mengembalikan kenyamanan yang ada lagi dalam “bertetangga” dengan akun saya ini.

***
Sekarang jika misal ada yang membuat tidak nyaman lagi langsung beritahu saya saja. Sekarang sudah tidak pakai batas waktu 3 x 24 jam lagi.

Saya insya Allah akan bisa langsung bertindak jika ada oknum oknum yang meresahkan tetangga saya.

Kalau bisa dibina ya kita bina. Kalau tidak bisa, maka terpaksa kita unfriend.

Namun tentu saja unfriend itu bukan hanya karena masalah ini saja. Jadi jangan difahami bahwa jika di unfriend itu pasti karena masalah ini.

Sekedar intermezzo :
Kalau misal antum punya hutang sama temen, maka ya jangan di unfriend temen antum donk gara gara dia nagih utang. Itu hak dia hehee… 🙂

***
Terakhir, status ini bersifat umum sama seperti status status saya lainnya.

Ini hanya sekedar perkataan umum untuk pelajaran kita bersama.

Jadi tidak perlu sebut nama, cukup kita introspeksi diri kita sendiri saja.

Jika misal masih ada lesson learn yang terlewat, maka silakan saja tulis di comment agar bisa kita ambil faedah nya bersama sama.

Older Entries