Bedanya memberikan rekomendasi akan seorang Ustadz dan menjadikan seorang Ustadz sebagai standart

Leave a comment

Memberikan rekomendasi dan menjadikan standar itu adalah dua hal yang berbeda.

Misal :
Rasulullah mewanti wanti akan bahaya Da’i Da’i penyeru kepada pintu neraka jahanam.

Ini namanya standar

Lalu Fulan yang ingin mengikuti nasehat Rasulullah itu, merekomendasikan untuk silakan simak saja kajian para asatidz yang tergabung di TV dan Radio A.

Karena sepengetahuan Fulan, para asatidz yang tergabung di TV dan Radio A itu insya Allah jelas manhaj nya, dan tegas terhadap kebid’ahan serta manhaj manhaj yang menyimpang.

Nah ini namanya rekomendasi, bukan standar.

****
Bolehkah kita menolak rekomendasi itu? Boleh saja, nggak masalah. Lha wong ini bukan standar.

Bolehkah kita menuduh orang orang yang memberikan rekomendasi itu, sebagai orang orang yang menetapkan rekomendasi nya sebagai standar?

Tidak boleh donk. Ini namanya kebodohan dan kebohongan.

Tapi ada “sebagian” orang yang bisanya hanya taqlid, yang menjadikan itu sebagai standar, bukan rekomendasi. Bolehkah sample yang “cacat” ini kita jadikan framing untuk melancarkan tuduhan itu?

Boleh, kalau hati antum ada penyakit nya. Tidak boleh, jika antum cukup ilmiah memahami bahwa itu sample yang tidak valid.

Advertisements

Buku Tahdzir dan Penjelasan akan Kesesatan IM

Leave a comment

“Ngapain piknik ke sarang ular? Mending saya piknik ke kebun binatang sambil ditemani oleh pawangnya.”

****
Berikut adalah edisi “pamer” sebelum saya pulang balik dari mudik (karena buku buku saya disimpan di tempat ortu. Tempat kontrakan saya nggak cocok buat simpan buku banyak banyak hehe).

Dua buku pada foto di bawah ini adalah terjemahan dari kitab :

1. Kitab Syaikh Ahmad An Najmi ( المورد العذب الزلال فيما انتقد على بعض المناهج الدعوية من العقائد والأعمال)

Versi asli bahasa Arab free ebook bisa diunduh di sini :

http://www.alnajmi.net/downloads-action-show-id-127.htm

Judul kitab terjemahan nya itu sebenarnya menurut saya terlalu bombastis.

Kitab ini sebenarnya tidak hanya fokus membahas masalah Ikhwanul Muslimin, dengan berdasarkan sumber sumber Ikhwanul Muslimin itu sendiri.

Akan tetapi kitab itu sebenarnya terdiri dari lima bagian besar :

A. Aqidah, manhaj, dan pokok pondasi dakwah para Rasul

B. Hizbiyyah merupakan kebid’ahan dan bukan manhaj para Nabi. Berikut juga penjelasan mengenai keburukan keburukan hizbiyyah

C. Penjelasan terperinci akan penyimpangan Ikhwanul Muslimin dari manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Terdapat 25 point mengenai IM yang dibahas dengan detail oleh Syaikh disana.

Dan kemudian ditutup dengan penjelasan info bahwa firqoh Qutbiyyah dan Sururiyah itu merupakan pecahan dari firqoh Ikhwanul Muslimin.

Beliau membahas juga mengenai Qutbiyyah dan Sururiyah di sana, namun tidak sebanyak porsi pembahasan mengenai IM yang mencakup seratusan halaman.

D. Penjelasan terperinci akan penyimpangan Jamaah Tabligh dari manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

E. Penutup berupa wajibnya berjalan di atas manhaj nabi dalam berdakwah, celaan terhadap bid’ah dan Ahlul Bid’ah, berikut pujian dan penjelasan terhadap ghuroba dan orang-orang yang komitmen di atas sunnah.

*
2. Kitab Syaikh Salim bin Ied Al Hilali, ( الجماعات الإسلامية في ضوء الكتاب والسنة), yang versi terjemahan nya dipecahkan sampai menjadi 2 jilid.

Disini Syaikh membahas banyak jamaah Islam dalam timbangan Al Qur’an dan As Sunnah. JT, IM, HT, dan lain lain dibahas disini. Dan seperti kebiasaan Syaikh Salim dan masyaikh Salafiyyin lainnya, sumber sumber referensi dari kitab kitab para tokoh dan dokumen dokumen resmi lainnya yang terkait dengan jamaah jamaah itu, sangat kuat sekali rujukan nya.

Versi asli bahasa Arab free ebook bisa diunduh di sini :

http://www.moswarat.com/books_view_710.html

***
Bagi orang yang ingin meneliti atau ingin mengetahui kritik penyimpangan manhaj, terutama jamaah-jamaah yang terperosok ke dalam perangkap Hizbiyyah dan penyimpangan manhaj.

Maka dua kitab itu sudah mencukupi untuk dijadikan referensi. Antum tidak perlu repot repot “babat alas” dan piknik ke sarang ular, karena sudah ada orang yang kompeten yang sudah mewakili itu untuk anda.

Metode ini juga dipakai oleh Syaikh ibn Baz, ketika beliau menyebutkan bahwa Ikhwanul Muslimin itu sudah dikritik oleh orang orang khowas (spesialis) dan Syaikh ibn Baz menerima serta menyadarkan kepada hasil penelitian itu. Tentu saja mafhumnya dengan dipadukan kepada pergaulan dan wawasan Syaikh ibn Baz yang luas.

Silakan lihat kumpulan fatwa Syaikh ibn Baz serial nomer 3 yang sudah saya terjemahkan.

***
Lho, tapi katanya Syaikh ibn Baz tidak menyesatkan Ikhwanul Muslimin?

Ah, siapa bilang?

Saya sudah kumpulkan 7 buah fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin, dan sudah saya jelaskan beberapa kesalahan fahaman dan framing yang dilakukan oleh Ikhwanul Muslimin akan sebagian fatwa Syaikh ibn Baz itu.

Silakan baca seluruh 7 buah serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz yang sudah saya susun itu.

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin/

***
Btw sejauh yang saya tahu, kitab kitab terjemahan ini sudah tidak dicetak lagi. Jadi sudah lumayan langka nih buku.

Tapi kan tadi sudah saya kasih link download kitab asli yang versi bahasa Arab nya. Jadi itu sudah bisa dijadikan kompensasi kan?

Dah gitu aja

Kitab referensi agar mudah untuk mempelajari IM

****

Ada tambahan referensi baru, tapi masih berbahasa Arab :

Al hudud Al Fashilah

Link  download :
en.calameo.com/read/0001319102f4adf7d60d2

Kumpulan pemahaman penting yang mudah difahami dalam masalah Tawassul dan Tabarruk

Leave a comment

Dasar pemahaman :

1. Pemahaman yang penting mengenai Tawassul dan Tabarruk

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-yang-penting-mengenai-tawassul-dan-tabarruk/

*
Detail point-point pemahaman penting mengenai Tabarruk :

2. Kesalahan mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah. Ini adalah pendapat salah yang mutlaq harus dibenarkan, guna menjaga Aqidah Ummat

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-penting-mengenai-tabarruk-kesalahan-mengqiyaskan-tabarruk-kepada-rasulullah-guna-ber-tabarruk-kepada-orang-sholeh-selain-rasulullah-ini-adalah-pendapat-salah-yang-mutlaq-harus-dibenarkan/

3. Perincian penjelasan berdasarkan petunjuk hadits dan kenyataan sejarah, bahwa seluruh barang peninggalan bekas Rasulullah, yang secara syariat boleh digunakan untuk Tabarruk, telah tiada pada zaman kita sekarang.

Sehingga semua klaim bahwa ini adalah barang bekas peninggalan Rasulullah, hanyalah merupakan kedustaan dan hal yang tidak bertanggung jawab semata.

Demikian juga Tabarruk napak tilas tempat tempat bersejarah lainnya.

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-penting-mengenai-tabarruk-3/

4. Tabarruk kepada makam Rasulullah itu terlarang, demikian juga tawassul dan istighotsah kepada makam Rasulullah. Apalagi terhadap makam selain Rasulullah, baik itu makam orang Sholeh, wali, ulama, sunan dan makam makam lainnya.

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-penting-mengenai-tabarruk-4/

5. Tabarruk dengan benda yang terdapat ayat-ayat Al Qur’an yang ditulis, digantung, disimpan, dijadikan jimat, rajah, ataupun dicampur dengan tulisan lain yang tidak jelas maksudnya.

Baik itu dengan tujuan tolak bala, untuk mendapatkan kesaktian, guna perlindungan, mendatangkan rezeki, dan lain lain yang semisal.

Maka itu adalah Tabarruk yang haram, merendahkan kesucian ayat-ayat Al Qur’an walaupun orang melakukannya tidak tahu, dan wajib untuk diingkari.

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-penting-mengenai-tabarruk-5/

*
Buku referensi yang direkomendasikan dalam memahami Tawassul dan Tabarruk :

6. Buku yang direkomendasikan, yang komprehensif dalam membahas masalah Tabarruk

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/buku-yang-direkomendasikan-yang-komprehensif-dalam-membahas-masalah-tabarruk/

7. Buku yang direkomendasikan dan komprehensif dalam membahas masalah Tawassul

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/buku-yang-direkomendasikan-dan-komprehensif-dalam-membahas-masalah-tawassul/

Pemahaman penting mengenai Tabarruk -5

1 Comment

Pemahaman penting mengenai Tabarruk :

Tabarruk dengan benda yang terdapat ayat-ayat Al Qur’an yang ditulis, digantung, disimpan, dijadikan jimat, rajah, ataupun dicampur dengan tulisan lain yang tidak jelas maksudnya.

Baik itu dengan tujuan tolak bala, untuk mendapatkan kesaktian, guna perlindungan, mendatangkan rezeki, dan lain lain yang semisal.

Maka itu adalah Tabarruk yang haram, merendahkan kesucian ayat-ayat Al Qur’an walaupun orang melakukannya tidak tahu, dan wajib untuk diingkari.

——-
Tabarruk dengan Al Qur’an itu yang disyariatkan adalah dengan cara membacanya, mempelajari nya, mengamalkan nya, berdoa dan berdzikir dengan nya, dan melakukan ruqyah dengan Al Qur’an.

Adapun Tabarruk dengan menggantungkan jimat (Tamimah) yang berasal dari Al Qur’an, maka para ulama berbeda pendapat dalam masalah itu.

Dan yang rojih, adalah hal itu dilarang atas nama saddudz dzaroi (tindakan antisipasi untuk menghindari madhorot), dan juga melihat realita yang ada di masyarakat Islam sekarang ini.

Silakan lihat penjelasan dari Disertasi Syaikh Nashir Al Juda’i, yang saya foto pada halaman 318-324 tersebut.

Yakni dengan catatan bahwa yang digantung kan adalah benar-benar murni hanya ayat Al Qur’an saja. Tidak disertai tulisan lain, ataupun gambar, ataupun simbol, angka, huruf, dan lain lain semisal.

Adapun ta’liq Syaikh ibn Baz terhadap Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid tulisan Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh. Maka Syaikh ibn Baz berkata bahwa pendapat Salaf dari kalangan Sahabat yang membolehkan untuk memakai jimat (Tamimah) yang murni hanya bertuliskan ayat Al Qur’an itu.

Yang mana pendapat ini berasal sahabat Abdullah bin Amr rodhiyalloohu anhu, yang kemudian diikuti oleh ulama setelah nya dari kalangan selain Sahabat.

Maka Syaikh ibn Baz berkata bahwa riwayat yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Amr itu lemah, dan juga sebenarnya tidak sesuai untuk konteks masalah jimat (Tamimah) yang murni bertuliskan ayat Al Qur’an.

Syaikh ibn Baz berkata, bahwa Abdullah bin Amr menggantungkan papan bertuliskan ayat-ayat Al Qur’an di papan kecil di leher anak anak itu dengan tujuan agar anak anak kecil itu menghafalnya.

Bukan dengan tujuan untuk jimat (Tamimah) guna Tabarruk kepada Al Qur’an.

Inilah argumentasi dan penjelasan yang benar. Maka dari itu tidak boleh ber Tabarruk dengan menggantungkan ataupun membawa ataupun yang semisal dari ayat-ayat Al Qur’an. Larangan ini juga dikuatkan oleh perkataan sahabat utama lainnya seperti Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas.

Lihat foto akan ta’liq (catatan) Syaikh ibn Baz pada hal 244 di footnote Fathul Majid. Lihat juga kelengkapan Fathul Majid dan ta’liq Syaikh ibn Baz pada hal 244 – 247, yang saya foto semuanya agar dapat memberikan faedah yang lebih sempurna.

***
Versi buku asli berbahasa Arab dalam bentuk PDF, dari disertasi doktoral Syaikh Nashir Al Juda’i dapat diunduh secara gratis di :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

Sedangkan Fathul Majid syarh kitabut Tauhid Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh dengan tahqiq dan ta’liq (catatan) dari Syaikh ibn Baz, yang versi asli berbahasa Arab. Dapat diunduh secara gratis di :

http://waqfeya.com/book.php?bid=8230

****
Adapun jika yang digantungkan itu bukan ayat Al Qur’an; atau ayat Al Qur’an tapi dicampur dengan tulisan selainnya. Baik itu berupa simbol simbol, gambar, angka, coretan, atau yang lain-lain. Yang mana ini sebenarnya adalah jampi jampi syaitan.

Ataupun jika cara pembuatan tulisan Al Qur’an yang dijadikan jimat itu, harus ada syarat syarat tertentu dan melalui ritual tertentu. Dan demikian juga dengan cara pemakaian dan perawatan jimat tersebut.

Ataupun yang ditulis dengan menggunakan bahan bahan najis dan menjijikkan, atau harus dengan metode tertentu.

Maka ini mutlaq harom dan terlarang. Inilah tipuan syaitan atas nama Tabarruk kepada ayat-ayat Al Qur’an.

Dan inilah yang umumnya ada di sebagian masyarakat Muslim. Yang mana mereka tertipu menggantungkan jimat karena ada tulisan Al Qur’an nya disitu, ataupun bahkan hanya sekedar tulisan Arab yang dia tidak faham karena dikira ayat-ayat Al Qur’an, karena saking awamnya dia.

***
Jimat-jimat, rajah, dan lain lain yang semisal ini wajib untuk diingkari dan bahkan dibakar guna dimusnahkan agar ayat-ayat Al Qur’an tidak dihinakan oleh permainan Syaitan dan para dukun yang berkedok agama ini.

Jika dalam proses pemusnahan ataupun penghilangan jimat ini mengalami gangguan dari jin jin yang bersarang akibat jimat haram itu, maka lawanlah dengan Tabarruk kepada Al Qur’an yang sesuai dengan syariat. Baik itu dengan dzikir dan do’a yang berasal dari Al Qur’an atau yang diajarkan Rasulullah, ataupun dengan ruqyah syar’iyyah.

Tabarruk yang salah -1Tabarruk dan Jimat -1Tabarruk dan Jimat -2Tabarruk dan Jimat -3Tabarruk dan Jimat -4Tabarruk dan Jimat -5Tabarruk dan Jimat -6Tabarruk dan Jimat -7Tabarruk dan Jimat -8Tabarruk dan Jimat -9Tabarruk dan Jimat -10Tabarruk dan Jimat -11Tabarruk dan Jimat -12

Buku yang direkomendasikan dan komprehensif dalam membahas masalah Tawassul

1 Comment

Jika postingan saya sebelumnya khusus mengenai rekomendasi buku mengenai Tabarruk, maka sekarang ini rekomendasi buku khusus mengenai Tawassul.

Berikut adalah daftar isi komprehensif mengenai Tawassul, yang bisa digunakan sebagai acuan ringkas dengan hanya berdasarkan mengetahui daftar isinya, dari buku yang merupakan kumpulan dari buah karya Syaikh Al Albani dan Syaikh Al Utsaimin yang dijadikan satu. (Lihat foto yang saya sertakan).

Judul asli, ( صحيح التوسل انواعه و أحكامه) “Shohih Tawassul : Jenis-jenis dan hukum-hukum nya”.

Diterjemahkan oleh Akbar Media menjadi “Shahih Tawassul : Perantara Terkabulnya Doa”

***
Buku terjemahan ini sebenarnya berasal dari dua buku yang dijadikan satu, yakni :

1. Buku (التوسل انواعه و أحكامه) “Tawassul : Jenis-jenis dan hukum-hukum nya” yang semula ditulis oleh Syaikh Albani.

Yang mana setelah berlalu 20 tahun kemudian buku itu diedit, disusun lagi, ditambahkan, dan ditakhrij lagi ayat-ayat dan hadits hadits nya oleh Syaikh Muhammad ‘Id Al Abbasi. Yang mana setelah disodorkan kepada Syaikh Albani, beliau mensetujuinya dan meringkasnya lagi agar lebih mudah difahami.

Maka kitab itupun dirubah judulnya sehingga menjadi ( صحيح التوسل انواعه و أحكامه) “Shohih Tawassul : Jenis-jenis dan hukum-hukum nya”

2. Berbagai rekaman ceramah dan tanya jawab Syaikh Al Utsaimin mengenai Tawassul, yang kemudian dikumpulkan dan disusun transkrip nya dalam bentuk tulisan oleh Syaikh Abu Laits Al Atsary.

Yang mana kumpulan kedua buku menjadi satu itu dipertahankan judulnya yang ( صحيح التوسل انواعه و أحكامه) “Shohih Tawassul : Jenis-jenis dan hukum-hukum nya” dan diterjemahkan oleh Akbar Media.

****
Buku asli berbahasa Arab dalam bentuk PDF, yang dapat diunduh secara gratis dari dua buku yang dijadikan satu itu, maka terus terang saya belum menemukan nya.

Saya hanya baru menemukan pdf free download dari kitab Syaikh Albani yang asli saja, yang berjudul (التوسل انواعه و أحكامه) “Tawassul : Jenis-jenis dan hukum-hukum nya”

Silakan download di sini :

http://waqfeya.com/book.php?bid=9180

Adapun kumpulan transkrip yang sudah disusun dalam bentuk buku oleh Syaikh Abu Laits Al Atsary, dari berbagai rekaman ceramah dan tanya jawab Syaikh Al Utsaimin mengenai Tawassul.

Maka saya juga belum menemukan free ebook nya.

***
Secara garis besar, terdapat 5 tema besar dari tulisan Syaikh Albani, yang harus kita fahami seputar Tawassul :

1. Tawassul ditinjau dari kacamata Bahasa dan Al Qur’an

2. Wasilah Kauniyah dan Syar’iyyah

3. Tawassul yang disyariatkan dan bentuknya yang beraneka ragam

4. Tawassul yang Syubhat (tidak jelas), yang mana Tawassul syubhat itu ditolak dan tidak diterima disisi Allah

5. Syubhat-syubhat pengekor hawa nafsu seputar Tawassul dan bantahan nya

Adapun dari Syaikh Utsaimin, maka terdapat 3 tema besar yang harus kita fahami seputar Tawassul :

1. Pengertian Tawassul menurut bahasa Arab

2. Bentuk-bentuk Tawassul

3. Tanya jawab seputar Tawassul bersama Syaikh Utsaimin.

***
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah difahami. Baarokalloohu fiik

Shahih Tawasul dan Tabaruk -17Daftar isi Shohih Tawassul -1Daftar isi Shohih Tawassul -2Daftar isi Shohih Tawassul -3Daftar isi Shohih Tawassul -4Daftar isi Shohih Tawassul -5Daftar isi Shohih Tawassul -6

Buku yang direkomendasikan, yang komprehensif dalam membahas masalah Tabarruk

1 Comment

Berikut adalah daftar isi komprehensif mengenai Tabarruk, yang bisa digunakan sebagai acuan ringkas dengan hanya berdasarkan mengetahui daftar isinya, dari Disertasi doktoral Syaikh Dr. Nashir Al Juda’i. (Lihat foto yang saya sertakan).

Judul asli, (التبرك انواعه و أحكامه) “Tabarruk : Jenis-jenis dan hukum-hukum nya”.

Diterjemahkan oleh Pustaka Imam Syafi’i menjadi “Tuntutan Mengambil Berkah”

Buku asli berbahasa Arab dalam bentuk PDF, dapat diunduh secara gratis di :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

***
Secara garis besar, terdapat 4 tema bab pokok yang harus kita fahami seputar Tabarruk :

1. Perkara-perkara yang diberkahi
2. Mencari berkah (Tabarruk) yang disyariatkan
3. Tabarruk yang dilarang
4. Sebab, dampak, dan upaya meluruskan Tabarruk yang dilarang

***
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Daftar Isi kitab Tabarruk -1Daftar Isi kitab Tabarruk -2Daftar Isi kitab Tabarruk -3Daftar Isi kitab Tabarruk -4Daftar Isi kitab Tabarruk -5Daftar Isi kitab Tabarruk -6Daftar Isi kitab Tabarruk -7Daftar Isi kitab Tabarruk -8Daftar Isi kitab Tabarruk -9Daftar Isi kitab Tabarruk -10

Pemahaman penting mengenai Tabarruk -4

1 Comment

Pemahaman penting mengenai Tabarruk :

Tabarruk kepada makam Rasulullah itu terlarang, demikian juga tawassul dan istighotsah kepada makam Rasulullah. Apalagi terhadap makam selain Rasulullah, baik itu makam orang Sholeh, wali, ulama, sunan dan makam makam lainnya.
———

Sebelum memulai pembahasan ini, biasanya topik “tidak relevan” yang sering dikemukakan adalah, kenapa bangunan yang melingkupi makam Rasulullah itu berada di dalam halaman perluasan masjid Nabawi?

Dengan kata lain, mengapa makam Rasulullah berada di dalam masjid Nabawi?

Kenapa dikatakan tidak relevan?

Karena keberadaan bangunan yang melingkupi makam Rasulullah di halaman masjid Nabawi itu, sama sekali bukan dalil bahwa makam Rasulullah itu boleh digunakan untuk Tabarruk.

Kenapa? Karena Rasulullah tidak pernah mensyariatkan hal itu, dan para sahabat juga tidak pernah menganggap seperti itu.

***
Agar lebih jelas, maka mari kita lihat perbandingan berikut ini.

Makam Nabi itu ada di sekitar halaman perluasan masjid Nabawi. Sedangkan Hajar Aswad itu berada di ka’bah, dan benar-benar di dalam Masjidil Haram.

Dari segi lokasi, maka Hajar Aswad “lebih mantap” dibandingkan kuburan Rasulullah. Dan juga dari segi keutamaan, maka Masjidil Harom jauh lebih utama dibandingkan Masjid Nabawi.

Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.”

(HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.)

Dari hadits di atas, jika kita hitung-hitung, berarti keutamaan sholat di Masjidil Harom itu 100 kali lebih utama dibandingkan sholat di masjid Nabawi. Dalam arti lain barokah tempat Masjidil Harom itu 100 kali lebih tinggi, dibandingkan barokah tempat masjid Nabawi.

Namun walaupun begitu, Tabarruk kepada Hajar Aswad secara dzat nya itu sendiri, haram dan terlarang. Sebagaimana perkataan Kholifah Umar bin Khoththob. Yakni Hajar Aswad itu tidak bisa memberikan mashlahat dan menolak Madhorot, maka ini tentu berarti bukan dzat untuk ber-Tabarruk guna tolak bala, lancar rizki, hidup lancar dan lain-lain itu.

Maka dari itu apalagi makam Rasulullah. Tentu lebih tidak boleh digunakan sebagai tempat Tabarruk.

عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270)

Kiranya sampai disini sudah jelas dan mudah untuk difahami terlebih dahulu, mengenai tidak bolehnya Tabarruk kepada makam Rasulullah itu.

***
Jika pemahaman di atas sudah jelas bagi kita, maka mudah bagi kita untuk menerangkan kenapa makam Rasulullah masuk ke dalam halaman perluasan masjid Nabawi.

Saya sebenarnya pernah menerangkan masalah ini, baik dari segi fiqh ataupun dari segi sejarah. Silakan lihat tulisan kami yang terdahulu :

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/04/03/serba-serbi-masjid-nabawi-dan-makam-rasulullah/

Kesimpulannya adalah :

1. Perluasan masjid Nabawi itu memiliki konteks yang berbeda dengan hadits larangan mendirikan masjid di atas makam Nabi. Karena masjid Nabawi itu sudah ada terlebih dahulu dibandingkan makam Rasulullah.

Awal makam Rasulullah juga tidak di dalam masjid Nabawi, dan terpisah dengan masjid Nabawi.

2. Perluasan yang sampai memasukkan makam Rasulullah itu juga baru terjadi pada masa Tabi’in, bukan masa sahabat. Sehingga secara ushul fiqh, ini bukanlah dalil. Karena yang menjadi dalil itu adalah Ijma sahabat.

3. Atas jasa pemerintah Saudi, dibangun bangunan yang menutupi makam Rasulullah. Sehingga secara fiqh ini sudah dianggap tidak berada di dalam masjid Nabawi, karena ada pembatas.

4. Dan yang paling penting, bahwa ini sama sekali bukanlah dalil untuk boleh membangun makam di dalam masjid atau membangun masjid di atas makam.

Yang mana ini dilakukan terhadap makam orang orang Sholeh selain Rasulullah. Baik itu wali, Kyai, sunan, Habib, dan lain lain. Yang kemudian dijadikan tempat untuk Tabarruk, Tawassul, Istighotsah, dan yang semisal.

Ini dilarang dengan tegas oleh Rasulullah, demikian juga termasuk Tabarruk, Tawassul, Istighotsah di makam itu.

Di makam Rasulullah saja terlarang, apalagi di makam orang selain Rasulullah. Tentu lebih terlarang.

عَنْ جُنْدَبٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Dari Jundab, dia berkata: Lima hari sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku mendengar beliau bersabda: “Aku berlepas diri kepada Allah bahwa aku memiliki kekasih di antara kamu. Karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasihNya sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim menjadi kekasihNya (QS. 4:125-pen).

Jika aku menjadikan kekasih di antara umatku, pastilah aku telah menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih.

Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu telah menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka dan orang-orang sholih mereka sebagai masjid-masjid! Ingatlah, maka janganlah kamu menjadikan kubur-kubur sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari hal itu!” (HSR. Muslim no:532)

أَنَّ عَائِشَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ قَالَا لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا

Dari ‘Aisyah dan Abdullah bin Abbas –semoga Allah meridhoi mereka- mengatakan: “Ketika kematian datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau mulai meletakkan kain wol bergaris-garis pada wajah beliau, sewaktu beliau susah bernafas karenanya, beliau membukanya dari wajahnya, ketika dalam keadaan demikian, lalu beliau mengatakan:

“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashoro, mereka menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”.

Beliau memperingatkan apa yang telah mereka lakukan. (HSR. Bukhari no: 435, 436; Muslim no:531)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ

Dari Abdulloh, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Sesungguhnya di antara seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang ketika hari kiamat datang mereka masih hidup, dan orang-orang yang menjadikan kubur-kubur sebagai masjid”. (HSR. Ahmad 1/432; no: 4132; Ibnu Hibban; Thobaroni di dalam Mu’jamul Kabir. Dishohihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

****
Adapun perincian dari dalil dan qoul para ulama, bahwa tidak boleh bertabaruk kepada makam Rasulullah. Berikut juga bantahan terhadap syubhat syubhat seputar Tabarruk kepada makam Rasulullah.

Dijelaskan dan dikumpulkan di dalam terjemahan Disertasi doktoral dari Syaikh Dr. Nashir Al Judai’ berikut ini (hal 422-442 dari halaman yang saya foto).

Termasuk dalam kategori hal ini tentu saja tawassul dan istighotsah kepada makam Rasulullah, ini juga termasuk terlarang.

Hal-hal ini merupakan keharoman, kebid’ahan, dan pintu menuju kepada kesyirikan.

***
Adapun sebagian ulama yang tergelincir di dalam membolehkan mengusap dan mencium makam Rasulullah guna ber-Tabarruk. Maka itu adalah kesalahan Ijtihad beliau, dan Ulama itu tidak ada yang ma’shum.

Ulama jika berijtihad namun salah dalam Ijtihad nya, maka beliau mendapatkan satu pahala, kehormatannya tetap terjaga dan tidak boleh dijatuhkan karena kesalahannya, namun kesalahannya harus disalahkan, dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan ulama tersebut.

Pemuka sahabat saja bisa salah, harus dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan sahabat tersebut. Apalagi hanya sekedar ulama yang jauh derajatnya dibandingkan sahabat.

Bagi orang yang terbiasa mengetahui perselisihan para sahabat, maka hal ini tidak tersembunyi baginya.

Sehingga Tabarruk kepada makam Rasulullah itu tetaplah terlarang, dan perkataan sebagian ulama itu haruslah dikembalikan kepada dalil yang tegas dan jelas, dengan tanpa bermaksud menjatuhkan kehormatan ulama tersebut karena kesalahan Ijtihad mereka.

Penjelasan akan kesalahan ulama yang tidak boleh kita ikuti itu, juga disebutkan dalam disertasi doktoral Syaikh Nashir Al Juda’i tersebut.

***
Insya Allah buku ini sangat bermanfaat dan sangat penting bagi kita semua, demi menjaga Aqidah Ummat.

Kalau antum punya rezeki, sebaiknya beli juga buku ini, untuk membentengi antum dan keluarga antum dari jenis Tabarruk terlarang yang banyak tidak difahami oleh masyarakat Indonesia ini.

Jika antum bisa berbahasa Arab, maka itu lebih bagus lagi. Antum bisa hemat uang banyak. Antum bisa download free pdf ebook nya disini :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

Ini penting, terutama orang orang yang bertabaruk kepada kuburan para wali, sunan, Kyai dan yang semisal. Termasuk juga yang bertawassul dan beristighotsah ke makam tersebut.

Kenapa makam Rasulullah saja tidak boleh, apa ke makam selain Rasulullah.

Sekedar ziarah kubur saja nggak masalah. Beri salam dan mendoakan kepada Shohibul qubur juga tidak mengapa.

Namun Tabarruk, Tawassul, minta didoakan, dan istighotsah kepada penghuni kubur itu tidak boleh dan jelas terlarang.

****
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Tabarruk dengan Makam Nabi -1Tabarruk dengan Makam Nabi -2Tabarruk dengan Makam Nabi -3Tabarruk dengan Makam Nabi -4Tabarruk dengan Makam Nabi -5Tabarruk dengan Makam Nabi -6Tabarruk dengan Makam Nabi -7Tabarruk dengan Makam Nabi -8Tabarruk dengan Makam Nabi -9Tabarruk dengan Makam Nabi -10Tabarruk dengan Makam Nabi -11Tabarruk dengan Makam Nabi -12Tabarruk dengan Makam Nabi -13Tabarruk dengan Makam Nabi -14Tabarruk dengan Makam Nabi -15Tabarruk dengan Makam Nabi -16Tabarruk dengan Makam Nabi -17Tabarruk dengan Makam Nabi -18Tabarruk dengan Makam Nabi -19Tabarruk dengan Makam Nabi -20Tabarruk dengan Makam Nabi -21

Older Entries