Khataman Al Qur’an ala Rasulullah

Leave a comment

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam belajar sembari mengkhatamkan Al Qur’an bersama Malaikat Jibril alaihis salaam, sekali khatam tiap tahun.

Tentu pada setahun itu termasuk juga pada bulan ramadhan.

Adapun pada tahun Rasulullah meninggal, beliau mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak dua kali.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ { فِيهِ }

“Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 4998).

***
Hadits ini memberikan pelajaran bagi kita :

1. Khataman itu jangan “ngoyo”, semampunya saja. Ditarget boleh, tapi jangan melebihi kemampuan kita.

2. Khataman itu tidak hanya sekedar membaca (qiroah) sampai khotam saja. Tapi juga membaca sambil mempelajari dan memahami nya juga. Paling tidak kita membaca Al Qur’an sambil membaca terjemahan nya setelahnya.

***
Lho, itu kan banyak riwayat ulama Salaf yang Khatam Al Qur’an berkali-kali di bulan ramadhan. Bagaimana itu?

Jawab, maqom kita beda. Saya cukup tahu diri bahwa mereka berada di level sangat jauh tinggi berbeda dengan saya.

Daripada saya ngos-ngosan nyerah nggak bisa ngikutin mereka, mending saya ikut Rasulullah saja yang memang kadang beliau sengaja melakukan seperti itu, agar semua umatnya bisa mengikuti nya.

Jadi saya cukup tahu diri. Sekali atau dua kali khatam Al Qur’an di bulan ramadhan itu bagi saya cukup.

Asalkan diikuti dengan mempelajari dan memahami Al Qur’an yang kita baca, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah yang saling belajar Al Qur’an dengan Malaikat Jibril.

Bagaimana dengan anda?

***

Tanya :

akhi bgmna cara tadarusan sprti dimasjid2 skrg ini, apkh ad sunnahny?

Jawab :

Kalau pesertanya adalah orang yang kurang lancar membaca Al Qur’an. Yakni agar satu sama lain bisa saling menyimak dan membenarkan. Atau mungkin ada seseorang yang ahli di sana yang menyimak.

Maka ini tidak mengapa.

Namun jikalau orangnya sudah mahir dan tidak diminta untuk bantu bantu simakan tadarusan, maka sebaiknya dia membaca Al Qur’an sendiri.

Walloohu A’lam

***

Tanya :

Kalo ga khatam selama Ramadhan?

Jawab :

Gpp, itu hanya keutamaan. Bukan kewajiban. Yang penting berusaha sebisanya saja

***

Tanya :

akhi mau tanya nih, di malam hari ramadhan yang paling afdhol shalat malam (tahajud) atau baca al qur’an? Baarakallahu fik.

Jawab :

Baca Al Qur’an dengan hafalan ketika berdiri untuk sholat Tahajud jika memungkinkan.

Tanya :

kalau tidak?

Jawab :

Jika sudah sholat tarawih bersama imam sampai selesai, maka lebih afdhol baca Al Qur’an

***

Tanya :

afwan..izin tanya ustadz..
benarkah boleh tarawih di rumah saja, berdasarkan hadist tentang sholat sunnah yg lebih utama dikerjakan d rumah? mohon jwbannya..

Jawab :

Tidak.
Rasulullah tiga kali sholat tarawih di masjid.

Zaman Umar dikoordinir jadi satu imam di masjid

Fiqh mencium dan bercumbu dengan istri ketika sedang berpuasa

Leave a comment

Boleh jika bisa menahan diri untuk tidak inzal dan dukhul.

Adapun jika tidak bisa, apalagi masih darah muda, maka itu terlarang baginya.

Dah gitu aja, gampang kan?

***

Tanya :

mas, kalau kita bercanda2 dg pegang2 tp tiba2 keluar sperma (tanpa masuk pusaka) gmana mas? Apakah batal puasa dan terkena kaffarat?

Jawab :

Ada khilaf diantara para ulama dalam masalah itu, tapi yang kami rojihkan adalah hal itu membatalkan puasa.

Pembahasan lebih lanjut silakan lihat Free ebook kami berikut ini, pada pembahasan pembatal pembatal puasa yang diperselisihkan ulama, pada hal 78-82.

https://kautsaramru.files.wordpress.com/…/ebook-hadiah…

Tanya :
mas, kalau kita menunda2 mandi junub karena malas gmana mas?
Jawab :
Gpp, tapi Rasulullah memberikan contoh wudhu saja jika lagi malas mandi junub.

Plus ada juga sedikit kekurangan bagi orang yang junub, yakni dia akan dijauhi malaikat

Tanya :
Klo sekedar tegang, mengurangi pahala kah?
Jawab :
Kalau hitam putih fiqh sepertinya tidak. Walloohu A’lam

Qiyas Fasid Takfir First

Leave a comment

Sebenarnya para ulama salaf berbeda pendapat mengenai anak anak kaum musyrikin yang meninggal sebelum baligh.

Ini karena memang ada hadits tersendiri dari Rasulullah mengenai hal ini.

Hanya saja tidak ada satu ulama salaf pun sejauh yang saya tahu, yang mengqiyaskan hal ini juga berlaku bagi kaum muslimin yang telah baligh yang melakukan kesyirikan.

Ini sepertinya Qiyas Fasid dan perkataan yang muhdats

Perincian Hukum Tabarruk yang menyalahi Syariat

Leave a comment

Hukum Tabaruk (ngalap berkah) pada hal hal yang tidak ada dalil syariat nya, atau katakanlah hanya semata mata bersandar kepada adat istiadat dan budaya, itu ada dua perincian hukumnya.

1. Jika yang bertabaruk (ngalap berkah) itu meyakini bahwa semua yang memberikan berkah itu hanya Allah semata, dan media yang dijadikan media Tabaruk itu hanya dianggap sebagai perantara saja.

Media Tabaruk itu dianggap bukan yang memberikan barokah. Yang memberikan barokah itu hanya Allah semata.

Media Tabaruk itu dianggap tidak dapat memberikan mashlahat dan madhorot apa apa. Yang memberikan mashlahat dan madhorot itu hanya Allah semata.

Maka ini hukumnya syirik kecil secara asal, yang merupakan perantara menuju ke syirik besar. Wajib untuk mengingkari nya, dan mengajarkan pemahaman yang benar seputar Tabaruk.

Akan tetapi ini bukan syirik besar secara asalnya, hanya merupakan perantara atau pintu pintu menuju syirik besar. Sehingga dia tidak otomatis dikafirkan, namun harus diberikan peringatan, pengingkaran, ilmu, pemahaman, dan nasehat.

***
2. Jika yang bertabaruk (ngalap berkah) itu meyakini bahwa media yang dijadikan Tabaruk itulah sendiri yang memberikan berkah itu kepadanya.

Yakni baik karena dia menganggap ada sesuatu yang dapat memberikan barokah, yang dapat memberikan mashlahat dan madhorot, selain Allah.

Atau dia menganggap yang dijadikan tabaruk itu sudah diberikan hak prerogative dari Allah untuk memberikan berkah secara mandiri, dengan tanpa bergantung kepada Allah.

Maka inilah syirik besar, dan orang tersebut dapat dikafirkan karena melakukan syirik besar ini.

Dia mensyirikkan Allah dengan syirik besar, karena menganggap selain Allah ada yang dapat memberikan nya barokah.

Dia mensyirikkan Allah dengan syirik besar, karena menganggap selain Allah ada yang dapat memberikan mashlahat dan madhorot kepadanya.

***
Point nomer dua itu, walaupun hukum asalnya syirik besar yang menyebabkan seseorang dapat dikafirkan.

Namun jikalau dia melakukan nya karena kebodohan nya, ketidakfahaman nya, hanya ikut ikutan karena dulu diajarkan kesesatan dan kesyirikan seperti itu oleh gurunya atau orang yang dia pandang tinggi dalam masalah agama (padahal tidak), atau hanya karena ikut ikutan budaya dan kebiasaan masyarakat setempat yang dia pandang sebagai masyarakat Islam dengan tanpa memahami ilmu akan masalah Tauhid dan syirik ini.

Maka dia tidak dikafirkan hingga ditegakkan hujjah kepadanya, hingga dia faham bahwa ini adalah syirik. Dia mendapatkan udzur karena kejahilannya, kebodohan nya, dan ketidakfahaman nya (baca : udzur bil jahl).

***
3. Jika dia melakukan sesuatu yang umumnya orang orang menganggap nya sebagai Tabaruk, namun dia melakukan nya hanya karena semata budaya saja dan tidak ada i’tiqod tabaruk cari berkah sama sekali.

Dia tidak beranggapan bahwa ini akan mendatangkan mashlahat dan madhorot, dan dia juga tidak beranggapan ini adalah suatu bentuk peribadahan.

Maka ini hukumnya dia hanya melakukan suatu amalan kebid’ahan semata saja, dan bukan kesyirikan.

Walloohu A’lam

****
Adapun seorang muslim yang menyiramkan air kembang di mobil untuk tabaruk (ngalap berkah), maka perincian hukumnya juga kembali kepada hal ini.

Tidak boleh bagi seseorang untuk langsung meng-ilzam-kan (memastikan) kekafiran nya karena telah melakukan syirik besar, secara mu’ayyan (vonis khusus terhadap suatu individu tertentu secara spesifik) dengan tanpa memahami perincian nya.

Ngomong ngomong siraman air kembang, pengantin yang melakukan siraman air kembang setaman juga masuk dalam pembahasan ini.

Walloohu A’lam

**************
Lihat : https://m.facebook.com/story.php…

Ustadz Abul Jauzaa Dony Arif Wibowo berkata :

[[ TABARRUK DENGAN AIR KEMBANG ]]

Tabarruk adalah aktifitas mencari barakah melalui perantaraan sesuatu. Barakah sendiri artinya tetapnya kebaikan pada sesuatu [Al-Mufradaat, hal. 44]. Tabarruk ada yang disyari’atkan, adapula yang tidak disyari’atkan.

Sesungguhnya semua barakah itu berasal dari Allah ta’ala, sehingga kita tidak boleh memohon barakah kecuali pada Allah ta’ala saja. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

قُلِ اللّهُمّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمّنْ تَشَآءُ وَتُعِزّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلّ مَن تَشَآءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنّكَ عَلَىَ كُلّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah : “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” [QS. Ali-‘Imran : 26].

Benda-benda, ucapan-ucapan, dan perbuatan-perbuatan yang oleh syari’at diperbolehkan dipakai mencari barakah, tidak lain itu semua hanyalah sarana saja. Sama seperti obat. Ia hanyalah merupakan sarana penyembuh saja, dan yang menyembuhkan hakikatnya adalah Allah ta’ala. Sebagaiamana hal itu diterangkan pada salah satu doa Nabi ﷺ untuk orang sakit dalam hadits:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ” كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ بَعْضَهُمْ يَمْسَحُهُ بِيَمِينِهِ أَذْهِبْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا ”

Dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : “Nabi ﷺ biasa berdoa meminta perlindungan untuk sebagian keluarganya, lalu mengusapkan tangan kanan beliau dan berdoa : ‘Hilangkanlah kesengsaraan, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah karena Engkaulah Dzat yang bisa menyembuhkan. Tidak ada penyembuh melainkan Engkau. Suatu penyembuhan yang tidak lagi meninggalkan sakit” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy].

Mencari barakah pada sesuatu harus didasarkan dalil, baik dzatnya maupun kaifiyyahnya. Tidak boleh berdasarkan perasaan dan prasangka semata.

Dulu orang pernah tabarruk dengan sengaja mencari-cari jejak peninggalan Nabi ﷺ hanya untuk shalat padanya. Ini tidak boleh, karena termasuk bid’ah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi ﷺ dan para shahabat radliyallaahu ‘anhu. Oleh karena itu, ‘Umar radliyallaahu ‘anhu melarangnya.

عَنْ مَرْوَان بْن سُوَيْدٍ الأَسَدِيُّ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ مَنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِينَةِ، فَلَمَّا أَصْبَحْنَا صَلَّى بِنَا الْغَدَاةَ، ثُمَّ رَأَى النَّاسَ يَذْهَبُونَ مَذْهَبًا، فَقَالَ: أَيْنَ يَذْهَبُ هَؤُلاءِ؟ قِيلَ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ مَسْجِدٌ صَلَّى فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُمْ يَأْتُونَ يُصَلُّونَ فِيهِ، فَقَالَ: ” إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِمِثْلِ هَذَا، يَتَّبِعُونَ آثَارَ أَنْبِيَائِهِمْ فَيَتَّخِذُونَهَا كَنَائِسَ وَبِيَعًا، مَنْ أَدْرَكَتْهُ الصَّلاةُ مِنْكُمْ فِي هَذِهِ الْمَسجِدِ فَلْيُصَلِّ، وَمَنْ لا فَلْيَمْضِ، وَلا يَعْتَمِدْهَا ”

Dari Marwaan bin Suwaid Al-Asadiy, ia berkata : Aku pernah keluar bersama Amiirul-Mukminiin ‘Umar bin Al-Khaththaab dari Makkah menuju Madiinah. Ketika memasuki waktu pagi, kami shalat Shubuh. Kemudian ia (‘Umar) melihat orang-orang pergi ke suatu tempat, lalu berkata : “Kemana mereka ini pergi ?”. Dikatakan : “Wahai Amiirul-Mukminiin, (mereka pergi) ke masjid dimana Rasulullah ﷺ dulu pernah shalat di dalamnya. Mereka mendatangi untuk shalat di dalamnya”. ‘Umar berkata : “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa hanyalah dengan sebab yang seperti ini. Mereka mengikuti/mencari-cari peninggalan-peninggalan nabi-nabi mereka, lalu menjadikannya tempat ibadah. Barangsiapa di antara kalian yang kebetulan mendapatkan waktu shalat di masjid ini, hendaklah ia shalat. Dan barangsiapa yang tidak mendapatinya, maka janganlah kalian sengaja untuk datang shalat di situ” [Diriwayatkan oleh Ibnu Wadldlah dalam Al-Bida’ wan-Nahyu ‘anhaa no. 105; shahih].

عَنْ نَافِعٍ، قَالَ: ” بَلَغَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَنَّ نَاسًا يَأْتُونَ الشَّجَرَةَ الَّتِي بُويِعَ تَحْتَهَا، قَالَ: فَأَمَرَ بِهَا فَقُطِعَتْ

Dari Naafi’, ia berkata : “Sampai kepada ‘Umar berita bahwa orang-orang mendatangi pohon dimana Nabi ﷺ pernah dibaiat di bawahnya. Lalu ia memerintahkan untuk menebangnya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 2/375; dishahihkan oleh Ibnu Hajar[4] dalam Fathul-Baariy 7/448].

Tidak ada keberkahan dari bekas-bekas tempat yang pernah disinggahi Nabi ﷺ, karena ketiadaan dalil.

Begitu juga yang lain, seperti misal kubur. Bertabarruk dengan mengusap-usap bangunan kubur orang-orang shalih – atau bahkan Nabi ﷺ – tidak disyari’atkan. Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu membencinya.

عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَكْرَهُ مَسَّ قَبْرِ النَّبِيِّ ﷺ

Dari Naafi’ : Bahwasannya Ibnu ‘Umar membenci mengusap kubur Nabi ﷺ [Diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Aashim Ats-Tsaqafiy dalam Juuz-nya no. 27, dan darinya Adz-Dzahabiy dalam Mu’jamusy-Syuyuukh 1/45 dan As-Siyar 12/378; shahih].

Lantas, apa hukum bertabarruk dengan makhluk (manusia dan benda-benda semisal air, batu, atau yang lainnya) yang tidak ada landasan syar’iynya ?. Ada perincian.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah berkata:

من تبرك بهؤلاء، أي: بأهل القبور، سواءٌ في المسجد أو في غير المسجد: فإن كان يدعوهم أو يستغيث بهم أو يستعين بهم أو يطلب منهم الحوائج فهذا شركٌ أكبر مخرجٌ عن الملة .

وإن كان لا يدعوهم ، ولكن يتبرك بترابهم ونحوه فهذا شركٌ أصغر، لا يصل إلى حد الشرك الأكبر، إلا إذا اعتقد أن بركته يحصل بها الخير من دون الله ، فهذا مشركٌ شركاً أكبر

“Barangsiapa yang bertabarruk dengan mereka – yaitu penghuni kubur – baik (yang terkubur) di dalam masjid atau selain masjid, apabila ia berdoa berdoa kepada mereka dan beristighatsah kepada mereka atau memohon pertolongan kepada mereka atau meminta kebutuhan/keperluan kepada mereka; maka ini adalah syirik akbar yang mengeluarkan dari agama.

Namun apabila ia tidak berdoa kepada mereka, yaitu hanya bertabarruk dengan tanah kubur mereka, maka ini syirik ashghar yang tidak sampai kepada syirik akbar. Kecuali apabila ia berkeyakinan bahwa barakahnya yang mendatangkan kebaikan berasal dari selain Allah; maka ia musyrik dengan syirik akbar” [Fataawaa Nuur ‘alad-Darb, 2/4].

Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah pernah ditanya kapan amalan tabarruk kepada kubur dihukumi syirik ashghar dan syirik akbar ?. Maka beliau hafidhahullah menjawab :

التبرك بالقبر إذا كان يعتقد أن القبر يمنح البركة، فهذا شرك أكبر، أما إذا أعتقد أن البركة من الله، وإنما القبر سبب فقط، فهذا شرك أصغر، ووسيلة من وسائل الشرك الأكبر، إذا كان يعتقد أن البركة من الله، وأن القبر سبب للبركة، فهذا شرك أصغر، ووسيلة إلى الشرك الأكبر، أما إذا كان يعتقد أن القبر يمنح البركة، والميت يعطي البركة، فهذا شرك أكبر، وهذا ما عليه عباد القبور الآن، يعتقدون في الأموات أنهم يعطون، يمنعون، ويتصرفون

“Tabarruk kepada kubur apabila pelakunya berkeyakinan bahwa kubur memberikan barakah, maka ini syirik akbar. Adapun jika ia berkeyakinan bahwa barakah berasal dari Allah sedangkan kubur hanyalah faktor penyebabnya saja, maka ini syirik ashghar dan merupakan perantara dari perantara-perantara menuju syirik akbar. Apabila ia berkeyakinan bahwa barakah berasal dari Allah sedangkan kubur hanyalah sebab datangnya barakah, maka ini syirik ashghar dan perantara menuju syirik akbar.

Adapun jika ia berkeyakinan kubur memberikan barakah dan si mayit memberikan barakah, maka ini syirik akbar. Inilah yang menjangkiti para penyembah kubur sekarang. Mereka berkeyakinan terhadap mayit/orang mati dapat memberi barakah, mencegahnya, dan mengaturnya” [sumber : http://www.alfawzan.af.org.sa/node/10618].

Lajnah Daaimah pernah ditanya kapan tabarruk dihukumi syirik akbar dan kapan dihukumi syirik ashghar. Dijawab:

التبرك بالمخلوق قسمان:أحدهما: التبرك بالمخلوق من قبر أو شجر أو حجر أو إنسان، حي أو ميت، يعتقد فاعل ذلك حصول البركة من ذلك المخلوق المتبرك به، أو أنه يقربه إلى الله سبحانه، ويشفع له عنده، كفعل المشركين الأولين، فهذا يعتبر شركًا أكبر من جنس عمل المشركين مع أصنامهم وأوثانهم، وهو الذي ورد فيه حديث أبي واقد الليثي في تعليق المشركين أسلحتهم على الشجرة، واعتبر النبي – صلى الله عليه وسلم – ذلك شركًا أكبر من المعلقين، وشبه قول من طلب ذلك منه بقول بني إسرائيل لموسى: اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ .

القسم الثاني: التبرك بالمخلوق اعتقادًا أن التبرك به قربة إلى الله يثيب عليها، لا لأنه يضر أو ينفع، كتبرك الجهال بكسوة الكعبة ، وبالتمسح بجدران الكعبة ، ومقام إبراهيم ، والحجرة النبوية ، وأعمدة المسجد الحرام والمسجد النبوي ؛ رجاء البركة من الله، فإن هذا التبرك يعتبر بدعة، ووسيلة إلى الشرك الأكبر إلا ما خصه الدليل، كالشرب من ماء زمزم والتبرك بعرق النبي – صلى الله عليه وسلم – وشعره وما مس جسده، وفضل وضوئه – صلوات الله وسلامه عليه -، فإن هذا لا بأس به لقيام الدليل عليه. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Tabarruk kepada makhluk ada dua jenis. Pertama, tabarruk kepada makhluk seperti kubur, pohon, batu, atau manusia baik yang masih hidup maupun sudah mati; yang pelakunya berkeyakinan bahwa makhluk-makhluk yang diharapkan barakahnya itu dapat mendatangkan barakah, atau ia dapat mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dan memberikan syafa’at baginya di sisi-Nya seperti perbuatan orang-orang musyrik generasi, maka ini dihukumi syirik akbar dari jenis perbuatan orang-orang musyrik terhadap berhala-berhala mereka. Dan itulah yang dijelaskan dalam hadits Abu Waaqid Al-Laitsiy tentang perbuatan orang-orang musyrik yang menggantungkan senjata-senjata mereka di sebuah pohon. Nabi ﷺ menganggapnya sebagai syirik akbar yang dilakukan oleh orang-orang yang menggantungkannya. Beliau ﷺ juga menyamakan permintaan mereka (para shahabat) itu dengan perkataan Bani Israaiil kepada Muusaa : ‘buatlah untuk kami sebuah tuhan sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)” (QS. Al-A’raaf : 138).

Kedua, tabarruk kepada makhluk dengan keyakinan bahwa bertabarruk dengannya merupakan amalan mendekatkan diri kepada Allah dan diberikan pahala. Bukan karena (keyakinan) bahwa makhkuk tersebut memberikan mudlarat atau mendatangkan manfaat, seperti tabarruknya orang-orang bodoh dengan kiswah (kain penutup) Ka’bah, mengusap-usap tembok Ka’bah, maqam Ibraahiim, eks kamar Nab ﷺ, tiang-tiang Masjidil-Haraam dan Masjid Nabawi; mengharapkan barakah dari Allah. Maka tabarruk jenis ini dihukumi bid;ah dan sarana/perantara menuju syirik akbar. Kecuali yang dikhususkan oleh dalil seperti minum air zam-zam, tabarruk dengan keringat Nabi ﷺ, keringat beliau, dan apa saja yang dapat disentuh dari jasad beliau, bekas air wudlu beliau ﷺ; maka semua ini tidak mengapa karena ada dasarnya dari dalil.

Wabillaahit-taufiiq, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammadin wa aalihi wa shahbihi wa sallam” [sumber : https://goo.gl/a1N8Dk].

Inilah rincian yang dijelaskan para ulama kita.

Kembali ke judul, jika ada orang yang menyiram mobil dengan air kembang untuk mendapatkan keberkahan, apakah langsung dicap dengan syirik akbar dan pelakunya musyrik lagi kafir ?. Tentu tidak. Harus dicek dulu dan dipastikan, apakah itu masuk dalam klasifikasi syirik akbar ataukah ashghar. Yang jelas, baik diklasifikasikan syirik akbar atau ashghar, perbuatan itu diharamkan tanpa ada perselisihan. Itu dilihat dari dzat perbuatannya. Belum lagi dilihat dari pelakunya. Seandainya ia bodoh, tentu butuh untuk diajari. Seandainya perbuatannya diklasifikasikan syirik akbar, tentu butuh terpenuhi syarat-syaratnya untuk pengkafirannya.

Dakwah kita bukan konsentrasi pada pengkafiran, tapi menunjukkan ketauhidan yang benar dan lawannya (kesyirikan). Masyarakat lebih membutuhkan pengajaran dua hal itu daripada diajari cara mengkafirkan person-person muslim.

Jangan sampai besarnya semangat kita dalam mendakwahkan tauhid dan memerangi syirik di masyarakat, merubah orientasi cita-cita kita menjadi mufti gadungan yang ringan dalam takfir. Asal pegang koran atau gadget, diinventarisasi siapa yang akan dikafirkan hari ini. Tiada hari tanpa ngomongin takfir.

Takfir itu ada, akan tetapi ia bukan perkara yang ringan. Harus dilakukan oleh orang yang bertaqwa dan mempunyai ilmu memadai, bukan orang yang hobi game online atau play-station.

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

****

Tanya :

Apakah berarti tidak bisa sembarang orang menetapkan hujjah kpd orang jahil tsb? Misalnya istri menjelaskan kpd suami bahaya dr perbuatan tsb dan suami tetap mengingkarinya krn justru beranggapan istrinyalah yg bodoh dan tidak mengerti.

Jawab :

Semua orang boleh untuk berusaha menegakkan hujjah kepada seseorang. Baik itu istrinya, anaknya, orangtua nya, dll.

Akan tetapi yang menghukumi bahwa hujjah itu telah tegak padanya, dia dianggap sebenarnya sudah memahami nya namun sengaja menentang setelah faham, atau syarat syaratnya dianggap sudah terpenuhi, dianggap tidak adanya penghalang atau udzur yang bisa berlaku lagi baginya.

Maka ini hendaknya seseorang yang Alim.

Walloohu A’lam

Minta Izin ke orang tua yang sudah meninggal di kuburan

Leave a comment

1. Yang namanya tathoyyur itu artinya adalah merasa sial, atau merasa nanti akan terkena suatu madhorot, atau kalau bahasa jawa nya “kuwalat”; dengan tanpa adanya suatu alasan yang logis atau dalil dari syariat.

Jika orang yang “takut kuwalat” atau yang bertathoyyur itu tetap menisbatkan madhorot itu kepada Allah. Yakni karena saya melakukan atau tidak melakukan ini, maka saya sial atau kuwalat, namun tetap semuanya itu dari Allâh semata.

Maka ini termasuk kesyirikan kecil, yakni karena dia tidak bertawakal sepenuhnya kepada Allah, dan bergantung kepada selain Allah.

Inilah hukum asalnya, yakni syirik kecil. Dan orang yang melakukan syirik kecil tidak dikafirkan.

Hanya saja syirik kecil itu adalah pintu pembuka, atau pintu gerbang, yang bisa berubah menjadi syirik besar. Adapun jika seseorang melakukan syirik besar, maka dia dikafirkan.

Ini adalah KONDISI PERTAMA

***
2. Kondisi pertama ini adalah kondisi yang kebanyakan terjadi pada masyarakat Islam di Indonesia.

Merasa nanti akan sial atau kuwalat atau celaka karena suatu hal. Seperti jika melihat burung gagak itu berarti nanti ada orang mati, nabrak kucing berarti nanti celaka, angka 4 dan 13 adalah angka sial, dan lain lain.

Termasuk juga jika tidak minta izin ke kuburan orang tua yang sudah meninggal ketika mau menikah, takut jika kuwalat.

Orang orang di Indonesia yang merasa kuwalat atau takut sial ini, jika ditanya siapakah yang memberikan madhorot ini, tentu mereka berkata Allah yang memberikan madhorot karena Allah yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, yang Maha berkuasa untuk memberikan mashlahat dan madhorot.

Maka dari itu ini dinamakan syirik ashghor atau syirik kecil, bukan syirik besar dan mereka tidak dikafirkan karena hal ini.

***
3. Sekarang KONDISI YANG KEDUA :

Jika seseorang melakukan tathoyyur, katakanlah dengan berkunjung dan minta izin ke kuburan orang tua nya, namun sembari melakukan syirik kecil itu, dia juga memberikan bentuk bentuk peribadahan kepada kuburan tersebut.

Katakanlah dia memberikan bentuk peribadahan seperti doa, sholat, penyembelihan, dan nadzar kepada sang penghuni kubur karena takut “kuwalat” sebagai akibat tathoyyur nya itu.

Maka ini termasuk ke dalam syirik Akbar (syirik besar), yang menyebabkan seseorang dapat dikafirkan karena syirik besar yang dia lakukan.

Kenapa?
Karena yang namanya syirik itu adalah menyerahkan sesuatu yang khusus hanya bagi dan milik Allah saja, kepada selain Allah.

Dalam kasus ini yang namanya bentuk peribadahan dan penyembahan itu adalah hak milik Allah semata.

Maka walaupun dia memiliki keyakinan bahwa yang memberikan mashlahat dan madhorot itu adalah Allah saja, namun dia tetap dianggap melakukan kesyirikan karena menyerahkan bentuk peribadahan dan penyembahan yang merupakan hak khusus milik Allah semata, kepada selain Allah. Dalam kasus ini kuburan.

***
4. Adapun kondisi kedua itu walaupun itu merupakan syirik besar yang dapat menyebabkan seseorang dikafirkan. Namun jikalau dia melakukannya karena kejahilan, kebodohan, dan ketidakfahaman nya.

Melakukan hanya karena ikut ikutan budaya, atau karena ajaran sesat seorang yang dianggap nya panutan dalam masalah agama.

Maka dia tidak dikafirkan dan mendapatkan udzur karena kejahilannya, walaupun dia telah melakukan syirik besar.

Dia tidak dikafirkan hingga ditegakkan hujjah kepada nya, hingga dia faham dan mengerti bahwa apa yang dilakukannya itu adalah merupakan kesyirikan besar.

***
5. Sekarang KONDISI YANG KETIGA :

Jika dia melakukan tathoyyur itu dilandasi keyakinan bahwa kuburan itu juga dapat memberikan mashlahat dan madhorot selain Allah, dan tidak menggantungkan mashlahat dan madhorot itu mutlaq hanya kepada Allah semata saja.

Maka dalam kasus ini, dia juga melakukan kesyirikan yang besar.

Kondisi ketiga ini berbeda dengan tathoyyur pada kondisi pertama, maka perhatikanlah baik-baik. Karena terdapat perbedaan i’tiqod disini. Yang kondisi satu hanya syirik kecil, sedangkan yang kondisi ketiga adalah syirik besar.

Ingat yang namanya syirik itu adalah menyerahkan sesuatu yang khusus hanya bagi dan milik Allah saja, kepada selain Allah.

Nah, dalam kasus ini memberikan mashlahat dan madhorot itu adalah khusus sifat milik Allah semata. Jika ada orang yang berkeyakinan dan memberikan sifat ini kepada selain Allah, maka dia telah melakukan kesyirikan yang besar.

Faham kan bedanya?

***
6. Kondisi ketiga ini juga memiliki perbedaan penyebab dengan kondisi kedua, walaupun hasil akhirnya sama yakni syirik besar.

Kondisi kedua merupakan syirik besar karena menyerahkan bentuk peribadahan yang merupakan haq khusus milik Allah saja, kepada selain Allah.

Sedangkan kondisi ketiga merupakan syirik besar karena menisbatkan suatu sifat yang merupakan sifat yang khusus milik Allah saja, kepada selain Allah.

***
7. Sekarang KONDISI YANG KEEMPAT :

Jika dia melakukan minta izin ke kuburan orang tua nya yang sudah meninggal, karena bentuk adab penghormatan kepada orang tua. Apalagi karena semata karena budaya saja.

Yang mana ini didorong karena adanya i’tiqod yang salah, bahwa mayit atau orang mati itu dianggap dapat mendengar perkataan orang yang masih hidup. Maka dari itu dia minta izin karena sang mayit dianggap dapat mendengar sebagai bentuk penghormatan kepada kedua orangtua nya.

Maka ini hukumnya hanyalah merupakan suatu i’tiqod yang salah atau kebid’ahan saja, karena menganggap mayit dapat mendengar.

Ini bukan merupakan kesyirikan, karena dia tidak memberikan bentuk peribadahan kepada selain Allah, dan dia juga tidak menisbatkan suatu sifat yang khusus milik Allah saja kepada selain Allâh.

Ini hanyalah merupakan suatu i’tiqod yang salah, yang dilandasi kesalahan dalam memahami hadits hadits bahwa Rasulullah berkata kepada mayit musyrikin yang telah meninggal. Yang mana ini merupakan suatu kekhususan yang Allâh berikan dengan diperuntukkan kepada Rasulullah untuk suatu hikmah tertentu.

Dan juga dilandasi kesalahan dalam memahami hadits hadits bahwa Rasulullah mengajarkan sunnah untuk mengucapkan salam kepada penghuni kubur, jika kita ziarah berkunjung ke kuburan.

Dulu ini sebenarnya sudah pernah saya bahas dalam tulisan saya yang terdahulu.

Silakan lihat :
https://kautsaramru.wordpress.com/2017/07/07/root-cause-tradisi-orang-pergi-ke-kuburan-ortu-yang-telah-meninggal-untuk-minta-izin/

***
8. Merupakan suatu kesalahan jika meng-ilzamkan atau memastikan bahwa setiap orang yang meminta izin kepada orang tua nya yang sudah meninggal, maka itu pasti dia sedang melakukan kondisi yang ketiga.

Yakni kondisi yang melakukan hal itu karena i’tiqod bahwa kuburan itu juga dapat memberikan mashlahat dan madhorot selain Allah, dan tidak menggantungkan mashlahat dan madhorot itu mutlaq hanya kepada Allah semata saja.

Sehingga dia otomatis menganggap nya sebagai syirik besar dan langsung dikafirkan.

Ini adalah suatu kesalahan yang besar. Ini adalah suatu kesalahan yang besar.

Hal ini butuh perincian dan analisa yang lebih mendalam. Tidak boleh bagi kita untuk main ilzam bahwa ini adalah kondisi ketiga. Tidak boleh bagi kita untuk langsung main kofar kafir saja.

Apalagi jika kita lihat kondisi orang Indonesia itu, umumnya dia melakukan hal itu karena kondisi yang pertama dan keempat saja.

Yakni melakukan karena didorong karena tathoyyur yang merupakan syirik kecil sebagaimana kondisi pertama.

Dan melakukan karena didorong sebagai bentuk adab penghormatan minta izin kepada ortu yg sudah meninggal, karena dianggap mayit itu dapat mendengar perkataan orang yang masih hidup. Ini sebagaimana kondisi keempat .

****
9. Dari empat kondisi dan perincian yang sudah dipaparkan tadi, maka kita faham bagaimana menyikapi hal ini.

Yakni hal ini harus diperinci dan tidak boleh langsung main kofar kafir saja.

Kalau bahasa kedokteran, kira harus lakukan anamnesa atau anamnesis dulu agar faham kondisi dan duduk perkara nya.

Dan merupakan kesalahan yang fatal jika kita salah vonis dan salah mendiagnosa.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Baarokalloohu fiik

Wujudul Hilal dan Ru’yatul Hilal

Leave a comment

Wujudul hubb (adanya cinta) dan ru’yatul hubb (terlihatnya cinta) itu adalah dua hal yang berbeda.

Seseorang bisa saja mengaku bahwa cinta nya telah terwujud dan ada pada dirinya, namun sepanjang dia tidak memperlihatkan cintanya dengan melamar nya, maka dia akan kalah dengan orang yang berani memperlihatkan dan menunjukkan cintanya.

Inilah bedanya metode wujudul hilal dan ru’yatul hilal dari sudut pandang sastra.

Kalau menurut kamu gimana?

Tipu-tipu atas nama Qaidah Fiqh

Leave a comment

Ada qaidah fiqh yang berbunyi :

ما لا يتم الواجب الا به، فهو واجب

“Apa-apa yang menjadikan sesuatu yang hukumnya wajib itu menjadi tidak bisa terpenuhi kecuali dengan adanya sesuatu itu, maka sesuatu itupun hukumnya juga otomatis berubah menjadi wajib ”

Memahami qoidah itu tentu kita faham, bahwa apa apa yang hukumnya haram dan bertentangan dengan sunnah, tentu tetap tidak bisa berubah menjadi boleh dan wajib, hanya dengan berdasarkan qoidah itu.

Seperti misal, zakat itu hukumnya wajib jika harta kita mencapai nishob dan haul. Nah apakah jika harta kita masih belum mencapai nishob, maka kita wajib harus mencuri atau cari utangan agar kita bisa memenuhi kewajiban zakat?

Tentu tidak bukan?

Contoh lain, sholat itu hukumnya wajib jika sudah masuk waktunya. Katakanlah waktu masih kurang 1 jam lagi agar masuk waktu sholat.

Maka apakah ini berarti kita wajib harus naik pesawat, pergi ke tempat yang jamnya lebih dulu 1 atau 2 jam seperti ke wilayah waktu indonesia tengah atau waktu Indonesia Timur. Agar kemudian kita bisa memenuhi kewajiban sholat kita?

Tentu tidak bukan?

Dan masih banyak lagi contoh kesalahan pemahaman yang bisa kita berikan.

***
Pada praktik nya,
Qoidah ini kadang dijadikan “kambing hitam” dan alasan oleh orang orang yang menyimpang manhaj nya, untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sunnah dan syariat, dengan alasan agar hal yang dianggap hukumnya wajib itu bisa terpenuhi dengan cara itu.

Terutama para Haroki, Takfiri, Jihadist, dan yang semisal.

Seperti misal dengan alasan untuk menegakkan kekholifahan dan syariat Islam, maka wajib untuk membentuk dan bergabung dengan organisasi hizbiyyun yang mendukung tujuan itu.

Dengan alasan itu juga, maka boleh untuk melakukan demo dan berbagai macam jenis perlawanan dan sikap oposisi secara terang terangan kepada pemerintah.

Boleh untuk menyebarkan berita berita Hoax dan Framing untuk membangun opini massa, agar membenci pemerintahan.

Boleh untuk melakukan usaha dan penggalangan massa untuk menggulingkan pemerintahan. Boleh untuk menggunakan sarana demokrasi dan membentuk partai politik dengan tanpa batas.

Boleh mengangkat pedang dan melakukan Pemberontakan revolusioner untuk menjatuhkan pemerintahan.

Dan lain lain hal yang bertentangan dengan sunnah dan syariat, dalam bermuamalah kepada pemerintahan.

Padahal sunnah Rasulullah sudah mengatur secara mutawatir akan hal itu, baik itu kepada pemerintah yang adil ataupun yang dzolim.

***
Inilah sebenarnya yang namanya “tipu-tipu atas nama fiqh”.

Ini masih belum jika ditambahin bumbu – bumbu “itu hanya masalah khilafiah furuiyyah”, “ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah ini “, “kita harus kedepankan masalah ukhuwah Islamiyyah walaupun manhaj berbeda”, “pakailah fiqhul waqi dan lihat realita yang ada”, “Pluralisme manhaj”, dan lain lain.

Apakah kiranya anda pernah menemukan “tipu-tipu atas nama fiqh” seperti ini?

Older Entries