Fiqh Internet

Leave a comment

Suatu kenikmatan dan kelapangan yang Allâh berikan, maka jika itu biasa kita manfaatkan dalam ketaatan kepada Allah.

Maka itu adalah tanda keberkahan daripada nikmat dan kelapangan yang Allah berikan

***
Demikian juga sebaliknya, jika suatu kenikmatan dan kelapangan itu digunakan untuk bermaksiat kepada Allah.

Maka itu adalah tanda dari “istidroj” (sengaja dibiarkan dalam maksiat dan kesesatan, agar nanti di akhirat hukumannya lebih berat), dan tiadanya keberkahan dari nikmat dan kelapangan yang Allah berikan kepada kita.

***
Kalau misalnya digunakan hanya untuk senang senang dan hiburan saja, yang tidak berpahala dan juga tidak dosa maksiat bagaimana?

Al jawab, tidak mengapa asalkan secukupnya saja. Karena manusia itu butuh hiburan dan permainan untuk senang senang juga, asalkan tidak berlebihan.

“saa’atan, saa’atan” (sesekali waktu, sesekali waktu) kalau kata Rasulullah.

Bahkan senang senang dan hiburan itu perlu ketika kita dilanda kebosanan dan futur dalam beramal. Daripada digunakan untuk bermaksiat, maka ya mending digunakan untuk yang senang senang asal nggak dosa.

***
Kembali ke bahasan awal.

Jadi di era modern ini nikmat dan kelapangan yang umumnya paling mudah didapatkan itu adalah, “kuota internet”.

Hal ini jangan diremehkan, karena inilah salah satu nikmat dan kelapangan yang dekat dengan kita yang senantiasa diakses lewat HP kita, gadget kita, atau laptop kita.

Maka dari itu gunakanlah kenikmatan Internet ini guna ketaatan kepada Allah. Bisa dengan menulis, share tulisan, lihat video kajian atau dengar video kajian, unduh ebook ulama, ambil faedah dengan banyak membaca tulisan berkaitan dengan manhaj, dan lain lain.

Nah ini adalah tanda dari keberkahan Internet kita.

Kalau yang jomblo bagaimana?

Kalau yang jomblo ya gunakan nikmat dan kelapangan internet kita dalam kebaikan juga. Bantu bantu dakwah. Dan cari jodoh untuk mengakhiri masa lajang sebenarnya juga gpp. Asal cara dan wasilah nya sesuai. Awas lho ya, hehe.

Kalau yang faqir kuota gimana?

Ya itu derita antum… . Sabar saja ya.

Advertisements

Mendahulukan puasa sunnah dulu di bulan Syawal, dibandingkan puasa wajib untuk meng qodho puasa Romadhon

Leave a comment

Bila seseorang wanita terkena nifas, dan ketika awal bulan Syawal dia baru suci, maka apakah boleh dia puasa Syawal dulu baru puasa qodho Romadhon yang ditinggalkan nya?

Boleh menurut jumhur ulama, dan juga dengan berdasarkan hadits Aisyah yang mengakhirkan puasa Qodho sampai masuk bulan sya’ban.

Kalau harus puasa qodho dulu yang merupakan kewajiban baginya, baru bisa puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal setelah selesai qodho. Maka ini tentu memberatkan, dan bisa-bisa bulan syawalnya habis duluan untuk puasa qodho karena bayar hutang nifas.

***
Bagaimana kalau wanita haid biasa? Bolehkah dia puasa sunnah dulu di bulan Syawal, dan baru puasa wajib untuk meng qodho puasa ramadhan karena dia haidh?

Boleh aja. Tidak masalah. Dibuat ringan saja. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman dalam masalah yang masih dalam konteks puasa,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Al-Baqarah : 185]

Apakah ada ulama yang berbeda pendapat dalam masalah ini?

Ada. Namanya saja juga fiqh.

Futur (lesu dan tidak bersemangat) untuk beramal setelah selesai Ramadhan, tanda tidak diterimanya amalan sholeh yang dilakukan sepanjang bulan Ramadhan?

Leave a comment

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rohimahulloh pernah ditanya.

Soal :

Fadhilatusy Syaikh, apakah futur (lesu dan tidak bersemangat) untuk melakukan amalan Sholih setelah selesainya bulan ramadhan itu, merupakan tanda bahwa amalannya selama bulan ramadhan itu sebenarnya tidak diterima oleh Allah?

Aku merasa futur, dan aku takut Allah tidak menerima amalan ku selama ramadhan.

*
Jawab :

Tidak.
Futur itu bukanlah pertanda bahwa Allah tidak menerima amalanmu. Akan tetapi itu hanyalah pertanda akan lemahnya himmah (keinginan yang besar, tekad, hasrat) dan roghbah (minat).

Maka dari itu wajib bagi setiap manusia untuk berusaha bersabar terhadap dirinya sendiri, dan berusaha untuk membawa dirinya agar senantiasa beramal Sholih.

Karena Romadhon ini adalah madrasah (tempat pendidikan) yang aktual [agar kita berlatih bersabar terhadap diri kita, dan berusaha agar diri kita mau untuk “memaksa” diri kita sendiri agar melakukan amal sholih -pent].

Sebanyak 30 atau 29 hari pada bulan ramadhan telah berlalu, dan engkau telah memakai pakaian ibadah yang beraneka macam [untuk mengisi bulan ramadhan itu -pent]. Hal itu tentu meninggalkan bekas pada hatimu dan perjalanan [kehidupan dan ibadah -pent] mu.

Maka ambil dan rampaslah peluang berharga ini.

Adapun jika kami harus mengatakan : “Barangsiapa yang kembali melakukan maksiat setelah bulan ramadhan, maka itu adalah pertanda bahwa amalannya selama bulan Romadhon itu tidak diterima.”

Maka kami tidak sanggup untuk mengatakan perkataan tersebut.

[Al Liqo’ Asy Syahri -Ibnu Utsaimin -, (22/42)]

Sumber : https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=113897

***
Transkrip teks Arab asli :

السؤال

فضيلة الشيخ هل الفتور في عمل الصالحات بعد رمضان دليل على عدم القبول، أنا أحس بفتور وأخشى ألا يكون الله قد تقبل مني؟

الجواب:

لا. ليس دليلا على أن الله لم يقبل منك، لكنه دليل على ضعف الهمة وعدم الرغبة، ولذلك ينبغي للإنسان أن يصبر نفسه وأن يحملها على العمل الصالح؛ لأن رمضان مدرسة في الواقع، ثلاثون يوما أو تسعة وعشرون يوما تمضي وأنت متلبس بالعبادات المتنوعة، لا بد أن يؤثر على قلبك وعلى مسيرك، فاغتنم هذه الفرصة.

أما أن نقول: إن من عاد إلى المعاصي بعد رمضان، فإنه علامة على عدم القبول.

فلا نستطيع أن نقول هكذا.

اللقاء الشهري – ابن عثيمين – (42 / 22)

Bermain petasan di hari raya langsung dikategorikan dosa besar?

Leave a comment

Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam mengimbau ummatnya agar makan sahur, supaya menyelisihi dan tidak tasyabbuh dengan ibadah Ahlul kitab.

Kenapa? Karena Ahlul Kitab itu kalau berpuasa, mereka tidak makan sahur. Sedangkan kita Ummat Islam dihimbau makan sahur agar tidak tasyabbuh bil kuffar dengan Ahlul Kitab itu.

Sekarang bagaimana kasusnya jika seseorang sengaja tidak makan sahur, mungkin karena malas, walaupun tahu itu menyerupai Ahlul Kitab?

Bagaimana juga orang yang memang sengaja tidak makan sahur, namun dia tidak tahu bahwa itu menyerupai puasanya Ahlul Kitab?

Apakah orang tersebut langsung secara mutlaq dikatakan berdosa besar, karena tasyabbuh bil kuffar dalam masalah ibadah?

Al jawab, tidak.

Boleh jadi dia terkena dosa karena sengaja menyelisihi sunnah, namun tentu saja tidak otomatis dosa besar karena dia tidak mempunyai i’tiqod seperti Ahlul Kitab.

Boleh jadi juga dia malah tidak terkena dosa sama sekali karena tidak tahu, dan sama sekali tidak ada niat untuk menyerupai cara ibadahnya Ahlul Kitab.

****
Senada dengan hal itu,
Demikian juga kasus kaum muslimin yang main petasan untuk merayakan hari raya.

Main petasan itu sebenarnya kebudayaan penganut agama Konghucu dari Tionghoa, yang dilakukan guna mengusir roh roh jahat.

Sedangkan kaum muslimin di Indonesia, umumnya melakukan hal itu dengan tujuan untuk bermain main guna merayakan hari raya. Tidak ada niat sama sekali main petasan dengan ada i’tiqod untuk mengusir roh jahat.

Main main di hari raya itu sebenarnya sunnah yang dibolehkan Rasulullah. Hanya saja kala zaman Rasulullah mereka bermain tombak dan pedang untuk bermain main guna mengisi kemeriahan hari raya. Nah kita di Indonesia ini biasanya main main dengan cara yang lain.

Nah,
apakah atas nama klaim tasyabbuh bil kuffar, maka setiap muslimin di Indonesia yang bermain petasan di hari raya langsung dikatakan telah melakukan dosa besar secara mutlaq?

Padahal juga mereka sama sekali tidak ada i’tiqod bermain petasan guna mengusir roh jahat?

Al hasil ini tampaknya adalah sesuatu kekeliruan.

Katakanlah kalau dikatakan berdosa secara umum saja karena tasyabbuh bil kuffar, walau tidak memiliki i’tiqod untuk mengusir roh jahat, maka ini tidak mengapa.

Namun kalau langsung dikatakan dosa besar secara mutlaq, yang mana tuduhan dosa besar ini levelnya kalau dihadapkan pada liga yang sama, maka itu berarti satu liga dengan minum khomr yang dosa besar. Maka ini adalah hal yang tidak tepat.

***
Bagaimana kalau dosa karena main petasan itu madhorot dan banyak bikin celaka? Mengganggu orang, belum lagi main petasan kan tabdzir (mubadzir)?

Ya, saya setuju dengan hal itu. Main petasan memang haram dan berdosa.

Tapi disini yang hendak saya jadikan fokusnya adalah orang yang menganggap nya berdosa karena tasyabbuh bil kuffar. Dan langsung mutlaq dianggap dosa besar.

Kalau sekedar dosa secara umum saja saya nggak masalah. Tapi kalau langsung mutlaq dosa besar, maka ini yang sepertinya tidak tepat

 

Antara Fithri dan Fithroh

Leave a comment

Eh jangan salah lho,
Fithri itu artinya makanan untuk berbuka puasa lho. Kalau Fithroh baru artinya kembali ke asal atau suci.

Idul fitri itu diambil dari kata Fithri, bukan Fithroh. Jadi hari raya idul fitri itu hari raya makan makan setelah sebulan penuh lamanya berpuasa. Bukan kembali menjadi suci dari dosa.

Yang namanya dosa mah ya harus bertaubat dan istighfar atuh… Bukan dengan cara merayakan Idul fitri terus dosa diampuni

Maka dari itu puasa waktu hari raya idul fitri itu haram hukumnya. Lha wong hari raya disuruh makan makan kok malah puasa.

***
Maaf ini tidak membahas nama orang, baik mbak Fitri atau mas Fitri ya….

Apalagi judul sinetron “cinta Fitri”…

***

Tanya :

Mas, penyebutan dan penulisan zakatnya gmana mas? “Zakat Fithr atau Zakat Fitra(o)h”?

Jawab :

Zakat Fithr itu sebenarnya yang benar, dan lebih sesuai secara bahasa.

Tapi sebagian ulama Syafi’iyyah membolehkan penyebutan zakat fitroh (dan ini nama yang lebih populer), walaupun sebenarnya ini mengundang kritik dan inkonsistensi

Tanya :

Lek kalau dalil yg dijadikan sama mereka yg bilang menjadi kembali suci seperti bayi yg baru lahir itu apa?

Jawab :

Ada disebutkan pendapat dalam kifayatul Akhyar, namun pendapat tersebut tidak mencantumkan dalilnya.

Saya sudah membahas 4 macam istilah yang digunakan ulama dalam membahas zakat fitri :
1. Zakat fitri
2. Zakat Fithroh
3. Zakat badan atau zakat nafs atau zakat ro’s (kepala)
4. Zakat ramadhan

Lihat Ebook saya hal 194 – 196

Sibuk i’tikaf tapi jangan lupa zakat fitri nya juga ya

Leave a comment

Akhir ramadhan ini kita sibuk i’tikaf, alhamdulillah. Tapi jangan lupa, bagi yang mampu persiapkan untuk zakat fithri nya juga ya.

Saya sudah pernah menulis berbagai macam masalah fiqh dan hikmah berkaitan dengan zakat fitri ini. Silakan lihat Free ebook saya pada halaman 194-218.

Cukup detail, insya Allah. Silakan merujuk ke sana jika berkenan.

Silakan unduh di :

https://kautsaramru.files.wordpress.com/…/ebook-hadiah-dan-…

***

Tanya :

apakah zakat fitri itu hanya untuk fakir miskin?
Dikampung saya zakat fitri dibagi utk fakr miskin, amil, dll
Bolehkah?

Jawab :

Para ulama berbeda pendapat mengenai siapakah zakat fitri ini diberikan.

Jumhur berpendapat untuk 8 asnaf, sama seperti halnya pembagian zakat seperti biasa.

Sedangkan ulama lain seperti Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim berpendapat zakat fitri itu hanya khusus untuk fakir dan miskin saja.

Saya sudah membahas nya pada Free ebook saya hal 212.

Tanya :

Di tempat saya karena amil jumlahnya sedikit mereka yg dapat paling banyak..
Kasihan yg lain

Jawab :

Amil zakat fitri itu beda dengan Amil zakat maal.

Amil zakat maal itu ditunjuk negara atau mendapatkan izin dari negara. Atas hal itulah mereka mendapatkan jatah dari 8 asnaf zakat.

Adapun Amil zakat fitri itu maka yang benar hanya “Panitia zakat fitri” saja bukan Amil. Karena kita boleh kok membagi bagikan sendiri zakat fitri kita.

Sehingga Amil atau panitia zakat fitri, jika dia bukan orang yang fakir atau miskin. Maka dia tidak mendapatkan bagian dari zakat fitri itu.

Walloohu A’lam

Tanya :

Itu yg yg saya sayangkan BU,,
Dikampung saya zakat fitrinya pakai amil berbentuk uang pula lagi,
Maka mereka yg paling banyak dapatnya karena semua uang yg terkumpul di bagi 8 asnaf dulu setelah itu baru di bagi ke jumlah per asnaf..
Karena amil paling sedikit tentu pembagiannya bisa ber jt2 perorang…

Bagaimana menjelaskannya tu BU?

Jawab :

Coba terangkan dulu saja secara fiqh kepada mereka.

Sampaikan hadits nya bahwa tujuan utama dari zakat fitri itu untuk fakir miskin. Menyalahi dalil donk kalau “Amil” dalam tanda kutip malah dapat yang paling besar.

Habis itu terangkan lagi, bahwa yang dimaksud Amil itu adalah yang ditunjuk pemerintah secara resmi. Jika tidak, maka ya panitia saja. Bukan Amil

Kritik terhadap pendapat bahwa I’tikaf harus di Masjid wakaf

Leave a comment

Salah satu argumentasi pendapat bahwa i’tikaf harus di masjid wakaf, dan tidak boleh di masjid yang bukan wakaf, adalah firman Allah

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” [QS Al-Jinn : 18]

Firman Allah (الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ) “masjid masjid milik Allah” itu ditafsirkan sebagai masjid wakaf.

Yang kemudian itu dijadikan argumentasi untuk menafsirkan lebih lanjut firman Allah (وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدَ) “dan kalian sedang beritikaf di masjid masjid” dalam Al Baqarah ayat 187

***
Argumentasi ini agak janggal menurut saya, dan berikut ini adalah beberapa kritik dan tanggapan saya mengenai argumentasi itu.

1. Ketika menafsirkan firman Allah,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” [QS Al-Jinn : 18]

Ibnu Katsir menyebutkan riwayat dari Qotadah, yang mana Qotadah berkata mengenai ayat ini dengan perkataan beliau :

كانت اليهود والنصارى إذا دخلوا كنائسهم وبيعهم أشركوا بالله فأمر الله نبيه صلى الله عليه وسلم أن يوحدوه وحده

“Adapun orang orang Yahudi dan Nashara dulu ketika memasuki gereja dan kuil sinagoge (tempat peribadahan Yahudi) mereka, maka mereka melakukan kesyirikan kepada Allah di dalam tempat ibadah mereka itu.

Maka dari itu Allah memerintahkan Nabi Nya Shallallahu alaihi wa sallam, agar (memerintahkan ummatnya) untuk mentauhidkan Allah semata saja.”

Riwayat dari Qotadah ini juga disebutkan dalam tafsir Ath Thobari.

Yakni maksud dari ayat itu adalah agar masjid itu hanya digunakan untuk menyembah dan mentauhidkan Allah saja.

Jangan ikut ikutan orang orang Yahudi dan Nashara yang justru malah mensyirikkan Allah di tempat peribadahan mereka sendiri, padahal mereka adalah Ahlul Kitab, mereka mengenal Allah, Nabi Allah dulu diutus kepada mereka (bani Israil) , dan kitab suci Allah juga turun kepada mereka.

*
Sisi pendalilan dari perkataan Qotadah ini, adalah kenapa masjid ummat Islam disandingkan dengan tempat ibadah orang Yahudi dan orang Nashara?

Al jawab adalah karena Rasulullah sendiri juga pernah memakai kata masjid bagi Ahlul Kitab, bagi orang Kristen tepatnya.

Padahal Shohabiyah (Ummu Salamah dan Ummu Habibah, dan juga Aisyah selaku periwayat) menyebutkan kisah mengenai kisah tempat ibadah gereja bagi orang Nashara, menyebutkan dengan lafal (كَنِيسَةً) “Kanisah” (gereja).

Namun ternyata Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam langsung berkomentar dengan menggunakan lafadz (مَسْجِدًا) “masjid”.

Hadits yang saya maksud itu adalah sebagai berikut

الجزء رقم :1، الصفحة رقم:93

427 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى ، قَالَ : حَدَّثَنَا يَحْيَى ، عَنْ هِشَامٍ ، قَالَ : أَخْبَرَنِيأَبِي ، عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ، فَذَكَرَتَا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ : ” إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “.

Dari Aisyah bahwasanya Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan tentang gereja (كَنِيسَةً) “Kanisah” yang mereka lihat ketika di Habasyah (Ethiopia). Yang mana di dalamnya banyak patung.

Kemudian keduanya mengabarkan kepada Rasulullah salallahu alahi wasallam , lalu beliau berkata :

إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ”

“Sesungguhnya mereka adalah apabila ada seorang yang sholeh dari mereka yang meninggal maka mereka membangun mesjid (مَسْجِدًا) diatas kuburan orang tersebut dan membuat gambar/patung didalamnya, mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 427)

*
Adapun kritik pada pendapat yang membedakan antara masjid wakaf dan masjid non wakaf ini, pemahaman bahwa Firman Allah (الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ) “masjid masjid milik Allah” pada QS Al Jin : 18 yang ditafsirkan sebagai masjid wakaf, pemahaman dan penafsiran itu ternyata tidak tepat.

Kenapa tidak tepat?

Karena yang sesuai untuk diperbandingkan dalam ayat itu adalah tempat ibadah umat Islam dan tempat ibadah Ahlul Kitab. Ini sebagaimana tafsir yang disebutkan Qotadah, dan juga perbandingan dari hadits yang Rasulullah sebutkan sendiri.

Jadi menganggap itu ditakwilkan sebagai masjid wakaf itu tidak benar. Karena Ahlul Kitab tidak mengenal istilah itu.

***
2. Terdapat tafsir bil ma’tsur yang lain mengenai firman Allah,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” [QS Al-Jinn : 18]

Disebutkan bahwa ini adalah jawaban dari pertanyaan jin yang beriman mengenai permintaan izinnya untuk ikut bersama Rasulullah sholat di masjid, maka kemudian turunlah ayat ini.

Ini sebagaimana yang disebutkan oleh Al A’masy dan Sa’id bin Jubair. Ibnu Katsir dan Ath Thobari kedua duanya sama-sama menyebutkan riwayat dari Al A’masy dan Sa’id bin Jubair ini.

Berikut saya ambilkan yang dari Tafsir Ibnu Katsir,

قال الأعمش قالت الجن يا رسول الله ائذن لنا فنشهد معك الصلوات في مسجدك فأنزل الله تعالى “وأن المساجد لله فلا تدعوا مع الله أحدا” يقول صلوا لا تخالطوا الناس

Berkata Al A’masy : Seorang jin berkata “Wahai Rasulullah, izinkanlah kami untuk ikut sholat bersama denganmu di masjidmu (masjid Nabawi)”,

Maka kemudian turunlah firman Allah,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” [QS Al-Jinn : 18]

Lalu Rasulullah bersabda,
“Ikutlah sholat, tapi janganlah kamu bercampur dengan manusia”

عن سعيد بن جبير “وأن المساجد لله فلا تدعوا مع الله أحدا” قال: قالت الجن للنبي صلى الله عليه وسلم كيف لنا أن نأتي المسجد ونحن ناءون؟ أي بعيدون عنك وكيف نشهد الصلاة ونحن ناءون عنك؟ فنزلت “وأن المساجد للّه فلا تدعوا مع الله أحدا”

Dari Said bin Jubair, dia berkata mengenai firman Allah ( وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا) :

Seorang jin berkata kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam “Bagaimana jika kami ikut mendatangi masjid dan kami berada di tempat terpisah?” Atau di tempat yang jauh darimu di dalam masjid

Atau dikatakan “Bagaimana jika kami ikut sholat bersamamu, dan kami berada di tempat terpisah? ”

Maka kemudian turunlah firman Allah,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” [QS Al-Jinn : 18]

*
Jadi menurut riwayat yang kedua ini, ayat ini sebenarnya turun berkenaan dengan pertanyaan dan permintaan Jin agar diizinkan ikut sholat bersama Rasulullah di masjid Nabawi.

Bukan turun berkenaan bahwa para Jin itu hanya boleh hadir dan ikut sholat di masjid wakaf saja. Sedangkan jika bukan masjid wakaf, maka para jin tidak boleh hadir dan ikut sholat.

Bagaimana jika dipaksakan bahwa itu adalah masjid wakaf, dan itu adalah hukum khusus bagi jin?

Maka jawabnya sebenarnya ada di dalam firman Allah itu sendiri. Yakni Jin tersebut sebenarnya hanya minta izin di satu masjid saja, yakni masjid Rasulullah dan ini disebutkan dalam bentuk mufrod (tunggal).

Namun firman Allah yang diturunkan justru dalam bentuk jamak (الْمَسَاجِدَ) “masjid masjid”. Jadi maksudnya adalah tidak hanya terbatas di masjid Rasulullah saja. Akan tetapi seluruh masjid boleh hadir dan ikut sholat, baik itu masjid wakaf ataupun tidak.

Ah, namun bagaimana jika dikatakan bahwa maksud dalam bentuk jamak itu adalah hanya masjid masjid yang wakaf juga. Kan sekarang banyak masjid wakaf?

Al jawab, tetap tidak bisa. Karena di dalam tafsir dari Ikrimah sebagaimana yang disebutkan dalam tafsir Ath Thobari, yang dimaksud Al masaajid (الْمَسَاجِدَ) “masjid masjid” itu adalah masjid secara keseluruhan. Tidak dibedakan antara masjid wakaf ataupun non wakaf.

عن عكرِمة ( وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ ) قال: المساجد كلها.

Dari Ikrimah mengenai firman Allah ( وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ ) “Dan sesungguhnya masjid-masjid (Al Masaajid) itu adalah milik Allah”, maka Ikrimah berkata :
“Masjid masjid secara keseluruhan”.

***
3. Kritik kami yang ketiga ini adalah kritik dari konsekuensi pemahaman.

Jika benar dan tetap dipaksakan bahwa (الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ) “masjid masjid milik Allah” itu ditafsirkan sebagai masjid wakaf. Maka ini berarti secara mafhum mukholafah, masjid masjid non wakaf boleh untuk dilakukan kesyirikan. Yang tidak boleh itu hanya masjid wakaf saja.

Lho kok bisa?
Bisa, karena kelanjutan ayat itu berbunyi ( فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا) “Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.”

Jadi ini adalah pemahaman yang kurang tepat dan dipaksakan. Yang benar itu adalah dimana saja kita berada, syirik itu haram dan dosa besar. Apalagi jika itu dilakukan di dalam masjid, baik itu masjid wakaf ataupun non wakaf.

Kalau begitu kenapa kata kata masjid disebutkan secara khusus? Karena ini berkaitan dengan ibroh sikap para Ahlul Kitab yang suka melakukan kesyirikan di dalam “masjid masjid” tempat ibadah mereka, karena ghuluw nya mereka kepada orang Sholeh.

Lihat kembali penjelasan kami pada point nomer satu, insya Allah hal ini akan mudah untuk difahami.

***
Demikianlah kurang lebih kritik kami, terhadap argumentasi pendapat bahwa i’tikaf itu hanya boleh di masjid wakaf saja.

Adapun yang kami rojihkan adalah semua masjid sepanjang dipandang layak untuk dilakukan sholat tahiyatul masjid, maka masjid itu boleh untuk digunakan i’tikaf.

Kami sudah membahas hal itu panjang lebar di tulisan kami yang lain, yang mana tulisan tersebut sebenarnya juga mengkritik pendapat i’tikaf harus di masjid wakaf, namun dari sisi yang lain.

Lihat tulisan kami yang terdahulu pada :

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/itikaf-masjid-perkantoran-dan-masjid-di-mall-pusat-perbelanjaan/

 

***
Semoga tulisan kami ini bermanfaat dan mudah difahami.

Baarokallahu fiik

Older Entries