Buku yang direkomendasikan, yang komprehensif dalam membahas masalah Tabarruk

1 Comment

Berikut adalah daftar isi komprehensif mengenai Tabarruk, yang bisa digunakan sebagai acuan ringkas dengan hanya berdasarkan mengetahui daftar isinya, dari Disertasi doktoral Syaikh Dr. Nashir Al Juda’i. (Lihat foto yang saya sertakan).

Judul asli, (التبرك انواعه و أحكامه) “Tabarruk : Jenis-jenis dan hukum-hukum nya”.

Diterjemahkan oleh Pustaka Imam Syafi’i menjadi “Tuntutan Mengambil Berkah”

Buku asli berbahasa Arab dalam bentuk PDF, dapat diunduh secara gratis di :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

***
Secara garis besar, terdapat 4 tema bab pokok yang harus kita fahami seputar Tabarruk :

1. Perkara-perkara yang diberkahi
2. Mencari berkah (Tabarruk) yang disyariatkan
3. Tabarruk yang dilarang
4. Sebab, dampak, dan upaya meluruskan Tabarruk yang dilarang

***
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Daftar Isi kitab Tabarruk -1Daftar Isi kitab Tabarruk -2Daftar Isi kitab Tabarruk -3Daftar Isi kitab Tabarruk -4Daftar Isi kitab Tabarruk -5Daftar Isi kitab Tabarruk -6Daftar Isi kitab Tabarruk -7Daftar Isi kitab Tabarruk -8Daftar Isi kitab Tabarruk -9Daftar Isi kitab Tabarruk -10

Advertisements

Pemahaman penting mengenai Tabarruk -4

1 Comment

Pemahaman penting mengenai Tabarruk :

Tabarruk kepada makam Rasulullah itu terlarang, demikian juga tawassul dan istighotsah kepada makam Rasulullah. Apalagi terhadap makam selain Rasulullah, baik itu makam orang Sholeh, wali, ulama, sunan dan makam makam lainnya.
———

Sebelum memulai pembahasan ini, biasanya topik “tidak relevan” yang sering dikemukakan adalah, kenapa bangunan yang melingkupi makam Rasulullah itu berada di dalam halaman perluasan masjid Nabawi?

Dengan kata lain, mengapa makam Rasulullah berada di dalam masjid Nabawi?

Kenapa dikatakan tidak relevan?

Karena keberadaan bangunan yang melingkupi makam Rasulullah di halaman masjid Nabawi itu, sama sekali bukan dalil bahwa makam Rasulullah itu boleh digunakan untuk Tabarruk.

Kenapa? Karena Rasulullah tidak pernah mensyariatkan hal itu, dan para sahabat juga tidak pernah menganggap seperti itu.

***
Agar lebih jelas, maka mari kita lihat perbandingan berikut ini.

Makam Nabi itu ada di sekitar halaman perluasan masjid Nabawi. Sedangkan Hajar Aswad itu berada di ka’bah, dan benar-benar di dalam Masjidil Haram.

Dari segi lokasi, maka Hajar Aswad “lebih mantap” dibandingkan kuburan Rasulullah. Dan juga dari segi keutamaan, maka Masjidil Harom jauh lebih utama dibandingkan Masjid Nabawi.

Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.”

(HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.)

Dari hadits di atas, jika kita hitung-hitung, berarti keutamaan sholat di Masjidil Harom itu 100 kali lebih utama dibandingkan sholat di masjid Nabawi. Dalam arti lain barokah tempat Masjidil Harom itu 100 kali lebih tinggi, dibandingkan barokah tempat masjid Nabawi.

Namun walaupun begitu, Tabarruk kepada Hajar Aswad secara dzat nya itu sendiri, haram dan terlarang. Sebagaimana perkataan Kholifah Umar bin Khoththob. Yakni Hajar Aswad itu tidak bisa memberikan mashlahat dan menolak Madhorot, maka ini tentu berarti bukan dzat untuk ber-Tabarruk guna tolak bala, lancar rizki, hidup lancar dan lain-lain itu.

Maka dari itu apalagi makam Rasulullah. Tentu lebih tidak boleh digunakan sebagai tempat Tabarruk.

عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270)

Kiranya sampai disini sudah jelas dan mudah untuk difahami terlebih dahulu, mengenai tidak bolehnya Tabarruk kepada makam Rasulullah itu.

***
Jika pemahaman di atas sudah jelas bagi kita, maka mudah bagi kita untuk menerangkan kenapa makam Rasulullah masuk ke dalam halaman perluasan masjid Nabawi.

Saya sebenarnya pernah menerangkan masalah ini, baik dari segi fiqh ataupun dari segi sejarah. Silakan lihat tulisan kami yang terdahulu :

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/04/03/serba-serbi-masjid-nabawi-dan-makam-rasulullah/

Kesimpulannya adalah :

1. Perluasan masjid Nabawi itu memiliki konteks yang berbeda dengan hadits larangan mendirikan masjid di atas makam Nabi. Karena masjid Nabawi itu sudah ada terlebih dahulu dibandingkan makam Rasulullah.

Awal makam Rasulullah juga tidak di dalam masjid Nabawi, dan terpisah dengan masjid Nabawi.

2. Perluasan yang sampai memasukkan makam Rasulullah itu juga baru terjadi pada masa Tabi’in, bukan masa sahabat. Sehingga secara ushul fiqh, ini bukanlah dalil. Karena yang menjadi dalil itu adalah Ijma sahabat.

3. Atas jasa pemerintah Saudi, dibangun bangunan yang menutupi makam Rasulullah. Sehingga secara fiqh ini sudah dianggap tidak berada di dalam masjid Nabawi, karena ada pembatas.

4. Dan yang paling penting, bahwa ini sama sekali bukanlah dalil untuk boleh membangun makam di dalam masjid atau membangun masjid di atas makam.

Yang mana ini dilakukan terhadap makam orang orang Sholeh selain Rasulullah. Baik itu wali, Kyai, sunan, Habib, dan lain lain. Yang kemudian dijadikan tempat untuk Tabarruk, Tawassul, Istighotsah, dan yang semisal.

Ini dilarang dengan tegas oleh Rasulullah, demikian juga termasuk Tabarruk, Tawassul, Istighotsah di makam itu.

Di makam Rasulullah saja terlarang, apalagi di makam orang selain Rasulullah. Tentu lebih terlarang.

عَنْ جُنْدَبٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Dari Jundab, dia berkata: Lima hari sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku mendengar beliau bersabda: “Aku berlepas diri kepada Allah bahwa aku memiliki kekasih di antara kamu. Karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasihNya sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim menjadi kekasihNya (QS. 4:125-pen).

Jika aku menjadikan kekasih di antara umatku, pastilah aku telah menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih.

Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu telah menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka dan orang-orang sholih mereka sebagai masjid-masjid! Ingatlah, maka janganlah kamu menjadikan kubur-kubur sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari hal itu!” (HSR. Muslim no:532)

أَنَّ عَائِشَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ قَالَا لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا

Dari ‘Aisyah dan Abdullah bin Abbas –semoga Allah meridhoi mereka- mengatakan: “Ketika kematian datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau mulai meletakkan kain wol bergaris-garis pada wajah beliau, sewaktu beliau susah bernafas karenanya, beliau membukanya dari wajahnya, ketika dalam keadaan demikian, lalu beliau mengatakan:

“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashoro, mereka menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”.

Beliau memperingatkan apa yang telah mereka lakukan. (HSR. Bukhari no: 435, 436; Muslim no:531)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ

Dari Abdulloh, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Sesungguhnya di antara seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang ketika hari kiamat datang mereka masih hidup, dan orang-orang yang menjadikan kubur-kubur sebagai masjid”. (HSR. Ahmad 1/432; no: 4132; Ibnu Hibban; Thobaroni di dalam Mu’jamul Kabir. Dishohihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

****
Adapun perincian dari dalil dan qoul para ulama, bahwa tidak boleh bertabaruk kepada makam Rasulullah. Berikut juga bantahan terhadap syubhat syubhat seputar Tabarruk kepada makam Rasulullah.

Dijelaskan dan dikumpulkan di dalam terjemahan Disertasi doktoral dari Syaikh Dr. Nashir Al Judai’ berikut ini (hal 422-442 dari halaman yang saya foto).

Termasuk dalam kategori hal ini tentu saja tawassul dan istighotsah kepada makam Rasulullah, ini juga termasuk terlarang.

Hal-hal ini merupakan keharoman, kebid’ahan, dan pintu menuju kepada kesyirikan.

***
Adapun sebagian ulama yang tergelincir di dalam membolehkan mengusap dan mencium makam Rasulullah guna ber-Tabarruk. Maka itu adalah kesalahan Ijtihad beliau, dan Ulama itu tidak ada yang ma’shum.

Ulama jika berijtihad namun salah dalam Ijtihad nya, maka beliau mendapatkan satu pahala, kehormatannya tetap terjaga dan tidak boleh dijatuhkan karena kesalahannya, namun kesalahannya harus disalahkan, dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan ulama tersebut.

Pemuka sahabat saja bisa salah, harus dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan sahabat tersebut. Apalagi hanya sekedar ulama yang jauh derajatnya dibandingkan sahabat.

Bagi orang yang terbiasa mengetahui perselisihan para sahabat, maka hal ini tidak tersembunyi baginya.

Sehingga Tabarruk kepada makam Rasulullah itu tetaplah terlarang, dan perkataan sebagian ulama itu haruslah dikembalikan kepada dalil yang tegas dan jelas, dengan tanpa bermaksud menjatuhkan kehormatan ulama tersebut karena kesalahan Ijtihad mereka.

Penjelasan akan kesalahan ulama yang tidak boleh kita ikuti itu, juga disebutkan dalam disertasi doktoral Syaikh Nashir Al Juda’i tersebut.

***
Insya Allah buku ini sangat bermanfaat dan sangat penting bagi kita semua, demi menjaga Aqidah Ummat.

Kalau antum punya rezeki, sebaiknya beli juga buku ini, untuk membentengi antum dan keluarga antum dari jenis Tabarruk terlarang yang banyak tidak difahami oleh masyarakat Indonesia ini.

Jika antum bisa berbahasa Arab, maka itu lebih bagus lagi. Antum bisa hemat uang banyak. Antum bisa download free pdf ebook nya disini :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

Ini penting, terutama orang orang yang bertabaruk kepada kuburan para wali, sunan, Kyai dan yang semisal. Termasuk juga yang bertawassul dan beristighotsah ke makam tersebut.

Kenapa makam Rasulullah saja tidak boleh, apa ke makam selain Rasulullah.

Sekedar ziarah kubur saja nggak masalah. Beri salam dan mendoakan kepada Shohibul qubur juga tidak mengapa.

Namun Tabarruk, Tawassul, minta didoakan, dan istighotsah kepada penghuni kubur itu tidak boleh dan jelas terlarang.

****
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Tabarruk dengan Makam Nabi -1Tabarruk dengan Makam Nabi -2Tabarruk dengan Makam Nabi -3Tabarruk dengan Makam Nabi -4Tabarruk dengan Makam Nabi -5Tabarruk dengan Makam Nabi -6Tabarruk dengan Makam Nabi -7Tabarruk dengan Makam Nabi -8Tabarruk dengan Makam Nabi -9Tabarruk dengan Makam Nabi -10Tabarruk dengan Makam Nabi -11Tabarruk dengan Makam Nabi -12Tabarruk dengan Makam Nabi -13Tabarruk dengan Makam Nabi -14Tabarruk dengan Makam Nabi -15Tabarruk dengan Makam Nabi -16Tabarruk dengan Makam Nabi -17Tabarruk dengan Makam Nabi -18Tabarruk dengan Makam Nabi -19Tabarruk dengan Makam Nabi -20Tabarruk dengan Makam Nabi -21

Pemahaman penting mengenai Tabarruk -3

1 Comment

Pemahaman penting mengenai Tabarruk :

Perincian penjelasan berdasarkan petunjuk hadits dan kenyataan sejarah, bahwa seluruh barang peninggalan bekas Rasulullah, yang secara syariat boleh digunakan untuk Tabarruk, telah tiada pada zaman kita sekarang.

Sehingga semua klaim bahwa ini adalah barang bekas peninggalan Rasulullah, hanyalah merupakan kedustaan dan hal yang tidak bertanggung jawab semata.

Demikian juga Tabarruk dengan alasan napak tilas tempat tempat bersejarah lainnya.
———

Sebelumnya, saya sebenarnya sudah pernah membahas ini dalam dua tulisan saya yang terdahulu. Di dalam tulisan saya itu, saya berikan keterangan lebih lanjut mengenai syubhat “Mimbar Rasulullah” dan syubhat “roudhoh”.

Lihat

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/tabaruk-dengan-bekas-peninggalan-nabi-pada-zaman-ini/

dan

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/semua-klaim-barang-peninggalan-rasulullah-yang-mana-kadang-sering-digunakan-untuk-tabaruk-tidak-valid-dari-kacamata-sejarah/

****
Menurut data sejarah, mimbar tersebut sudah bukan mimbar yang asli lagi dari Rasulullah. Mimbar yang asli sudah pernah hancur terbakar.

Quote :
The Minbar: When addressing the people in the mosque, the Prophet used to lean on large wood block of date tree. Later, when some difficulties arose in terms of people hearing and seeing the Prophet, a minbar made up of tamarisk, which was one-meter high with the dimensions of 50 x125 cm and a three-stair ladder located on three columns behind, was built in the year 7 (628) or 8 (629). First caliphs did not use the third stair, due to respect for the Prophet, and covered it with a piece of wood. In the time of the third caliph, Othman, a dome was placed on top of the minbar, which was covered with a fabric, and the stairs were covered with ebony. Muawiya ibn Abû Süfyan added six more stairs to the minbar. This first minbar was used until 654 (1256), when it was ruined by a fire; a new minbar was placed which was sent by the king of Yemen, al-Malik al-Muzaffar Shamsuddin in 656 (1258). After this, the minbar was either replaced or removed in 666 (1268) by Sultan Baybars I, in 797 (1395) by the Mamluki Sultan Barkuk, and in 820 (1417) by another Mamluki Sultan Sheikh al-Mahmudi. In 886 (1481) the minbar was once more ruined by a fire, and a new minbar made up of brick plaster was built, which was later replaced by a marble minbar sent by Sultan Kayitbay in 888 (1483). This minbar was re-located to the Quba masjid in 998 (1590) when the Ottoman Sultan Murad III sent a marble minbar manufactured and ornamented in Istanbul, to replace it. This last minbar still stands in the Mosque of the Prophet today.

Sumber : http://www.lastprophet.info/the-prophet-s-mosque-%E2%94%82-masjid-al-nabawi

***
Adapun roudhoh Nabi, yaitu suatu tempat di masjid Nabawi yang berhubungan dengan rumah Rasulullah. Yang dikatakan bahwa itu adalah salah satu taman dari taman taman surga. Maka itu hanyalah barokah tempat semata. Bukan barokah yang dikaitkan dengan barokah bekas dzat Rasulullah.

Kenapa, kalau itu dikaitkan dengan Tabarruk kepada dzat jasad Rasulullah, maka tentu rumah Rasulullah dan juga tempat imam sholat di masjid Nabawi, lebih barokah dibandingkan roudhoh. Tapi nyatanya tidak.

Dan keberkahan roudhoh umumnya dikaitkan dengan keutamaan pahala untuk sholat dan doa disitu, walaupun ini tidak ada hadits Rasulullah khusus mengenai cara ini. Namun para ulama umumnya memang mengaitkan keberkahan tempat, dan juga waktu, dengan keutamaan ibadah di situ dan doa di situ.

Tidak ada Tabarruk di roudhoh dengan cara mengusap usapkan kain di roudhoh, agar keberkahan roudhoh mengalir disitu. Atau memotong karpet nya roudhoh untuk dibawa pulang guna dijadikan jimat atas nama Tabarruk.

Bahkan para ulama sebenarnya berbeda pendapat mengenai penjelasan hadits keutamaan Roudhoh “yang merupakan salah satu taman di antara taman-taman surga”.

Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits itu maksudnya secara hakiki, bahwa kelak nanti Roudhoh akan menjadi bagian dari surga. Sehingga karena ini bersifat kelak, maka para ulama yang berpendapat seperti itu menganggap tidak ada keutamaan tersendiri beribadah dan berdoa di Roudhoh. Karena memang tidak ada hadits yang menyebutkan ada keutamaan tersendiri berdoa dan beribadah sunnah di Roudhoh.

Sementara itu Ulama yang lain beranggapan bahwa itu hanya sebagai majazi saja, bukan hal yang hakiki akan benar-benar menjadi bagian surga. Karena dunia nanti akan dihancurkan dan diganti dengan dunia yang lain. Sehingga karena majazi, maka maksudnya adalah adanya suatu keutamaan tersendiri berdo’a, sholat, dan melakukan ibadah sunnah di roudhoh.

Akan tetapi dari kedua pendapat ulama ini, maksudnya sama sekali bukan Tabarruk dengan dzat benda yang ada di Roudhoh tersebut.

Demikian juga dengan kiswah (kain penutup) ka’bah. Tidak boleh untuk menggunting kain kiswah ka’bah guna disimpan dijadikan jimat atas nama Tabarruk. Tidak ada dalil bahwa kain kiswah ka’bah itu barokah karena bekas ka’bah, dan juga karena Rasulullah, para Sahabat, serta para Salaf tidak pernah melakukan hal itu.

Kain kiswah ka’bah itu ya hanya kain penutup biasa saja.

***
Bahkan yang secara syariat boleh untuk diusap di Ka’bah itu hanya rukun Yamani dan Hajar Aswad saja. Hajar Aswad bahkan disunnahkan untuk dicium juga jika mampu.

Tapi ini bukan berarti Tabarruk kepada dzat rukun Yamani dan Hajar Aswad, sebagaimana Tabarruk kepada dzat fisik Rasulullah. Yang benar itu adalah semata Tabarruk kepada sunnah Rasulullah dalam melakukan ibadah thowaf, bukan hanya Tabarruk langsung kepada dzat rukun Yamani dan Hajar Aswad nya.

Yakni Tabarruk dengan mengikuti sunnah Rasulullah, agar mendapatkan keutamaan dan pahala yang banyak. Bukan Tabarruk langsung kepada rukun Yamani dan Hajar Aswad, agar mendapatkan barokah tolak bala, lancar rizki, hidup lancar, dan lain lain.

Lho kok bisa?
Ya bisa. Karena Kholifah Umar bin Khoththob rodhiyalloohu anhu sendiri yang berkata bahwa Hajar Aswad itu tidak bisa memberikan mashlahat dan menolak madhorot. Beliau mencium Hajar Aswad karena semata mata mengikuti sunnah Rasulullah dalam cara beribadah thowaf saja.

Ini pemahaman sahabat, dan ini pemahaman Salaf yang wajib kita pegang erat erat.

عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270)

Senada dengan ini, karena keberkahan itu adalah mengikuti sunnah Rasulullah dalam beribadah. Maka tidak ada keutamaan dan barokah tersendiri, bersusah payah naik ke gua Hiro’ tempat Rasulullah pertama kali mendapatkan wahyu dan sholat di sana. Karena ini tidak ada tuntunan dan sunnahnya.

Senada dengan ini juga adalah menempelkan seluruh anggota tubuh di Multazam dan kemudian berdoa. Yang mana Multazam itu adalah bagian Ka’bah yang berada di antara rukun hajar aswad dan pintu ka’bah.

***
Masih juga senada dengan hal ini, maka sholat di belakang maqom Ibrahim setelah selesai thowaf jika mampu, itu karena semata-mata perintah Allah untuk cara rangkaian ibadah thowaf. Yakni untuk mendapatkan keutamaan pahala besar karena mengikuti tata cara yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, walaupun hukumnya Sunnah saja bukan wajib.

(Maqom, tempat berdiri. Yakni tempat berdiri Nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah. Bukan makam Nabi Ibrahim tempat beliau dikubur)

وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَآ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
”Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud” (al-Baqarah:125).

Jadi bukan untuk Tabarruk secara dzat karena itu bekas tempat berdirinya Nabi Ibrahim, guna diusap usap agar mendapatkan barokah tolak bala, lancar rizki, hidup lancar, dan lain lain.

Demikian juga keutamaan sholat di hijir Ismail yang berada di ka’bah. Bahkan sholat di dalam Ka’bah sekalipun.

****
Pembahasan diatas sengaja kami lebarkan, karena ada orang yang fanatik Tabarruk yang melakukan Qiyas fasid mengenai keberkahan bekas orang sholih, dengan meng qiyas kan kepada maqom Ibrahim, dan lain lain itu.

Sekarang mari kita kembali khusus membahas barang peninggalan bekas Nabi. Maka walaupun ini masyru’ Tabarruk dengan bekas peninggalan Rasulullah, namun di zaman kita ini sekarang semuanya itu sudah musnah dan tiada, sesuai dengan mafhum “keinginan” Rasulullah bahwa beliau tidak mewariskan apapun kecuali ilmu.

Dalam kancah penelitian disertasi doktoral Syaikh Nashir Al Juda’I, itupun juga ditegaskan dengan mengambil dasar dari berbagai hadits serta penelitian sejarah yang ada.

Sehingga seluruh barang peninggalan Rasulullah yang diklaim masih ada dan disimpan itu, baik itu rambut Rasulullah ataupun jubah baju Rasulullah, walaupun itu disimpan di museum di Istanbul Turki. Maka itu semua tidak otentik dan tidak valid bahwa itu berasal dari Rasulullah.

Berikut adalah penjelasan dari Syaikh Nashir Al Juda’I, yang penting untuk kita fahami dan agar menjadi arsip ilmiah kita dalam membicarakan masalah ini. (hal 341-345 dari halaman yang saya foto).

Insya Allah ini sangat bermanfaat dan sangat penting bagi kita semua, demi menjaga Aqidah Ummat.

Kalau antum punya rezeki, sebaiknya beli juga buku ini, untuk membentengi antum dan keluarga antum dari jenis Tabarruk terlarang yang banyak tersebar di Indonesia ini.

Jika antum bisa berbahasa Arab, maka itu lebih bagus lagi. Antum bisa hemat uang banyak. Antum bisa download free pdf ebook nya disini :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

****
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Tabarruk dengan peninggalan Nabi-1Tabarruk dengan peninggalan Nabi-2Tabarruk dengan peninggalan Nabi-3Tabarruk dengan peninggalan Nabi-4Tabarruk dengan peninggalan Nabi-5

Pemahaman penting mengenai Tabarruk -2

1 Comment

Pemahaman penting mengenai Tabarruk : Kesalahan mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah. Ini adalah pendapat salah yang mutlaq harus dibenarkan, guna menjaga Aqidah Ummat

===========

Tabarruk kepada dzat fisik Rasulullah ketika beliau hidup, sebagaimana yang dilakukan sahabat. Atau Tabarruk kepada bekas peninggalan benda yang pernah beliau pakai, yang mana sekarang sudah hilang atau musnah pada zaman kita ini.

Maka ini masyru’ dan dibolehkan.

Namun setelah Rasulullah meninggal, maka tidak ada satu dzat fisik pun yang boleh dijadikan tempat Tabarruk. Sebagaimana para Sahabat tidak bertabaruk kepada “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat.

Andaikata cium tangan pun, maka itu dalam rangka hormat. Bukan dalam rangka Tabarruk.

Demikian juga Tabarruk dengan barang bekas dan peninggalan Rasulullah, seperti baju, rambut, bekas air wudhu Rasulullah. Maka ini masyu’, dibolehkan, dan dilakukan oleh para Sahabat. Adapun kuburan Rasulullah, maka itu bukan bekas Rasulullah dan dilarang Tabarruk ke makam Rasulullah.

Namun setelah bekas peninggalan Rasulullah itu hilang semua, seperti sebagian musnah terbakar, dan sebagian dikuburkan bersama sama dengan sahabat yang memiliki nya (baju Rasulullah yang digunakan sebagai kain kafan sahabat biasanya). Maka tidak ada satu orang sahabat pun yang Tabarruk dengan bekas peninggalan “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat.

Tidak ada sahabat yang minum bekas air minumnya “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat, dan juga tidak ada sahabat yang memperebutkan bekas air wudhu “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat.

Singkat cerita Tabarruk kepada dzat fisik atau bekas peninggalannya sepeninggal Rasulullah itu, sudah tidak ada lagi setelah Rasulullah meninggal dan semua barang peninggalan Rasulullah musnah.

***
Termasuk kesalahan mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah.

Bahkan termasuk Tabarruk kepada anak keturunan Rasulullah sekalipun.

Para sahabat juga mengalami cobaan hidup sebagaimana manusia lain pada umumnya, namun tidak ada satupun yang mendatangi Kyai nya Sahabat, ulama nya Sahabat, ataupun anak keturunan kerabat Rasulullah sama sekali guna Tabarruk untuk menghilangkan bala’, memperlancar rezeki, dan yang semisal.

Tawassul minta didoakan, iya. Sebagaimana doa istisqo’ yang Kholifah Umar meminta agar Abbas bin Abdul Muntholib untuk berdoa. Namun Tabarruk dengan dzat fisik atau sesuatu bekas yang pernah dipakai, maka itu tidak pernah.

Demikian juga lah kondisi orang orang Sholeh, wali, dan yang semisal selain sahabat. Dzat fisik atau sesuatu bekas yang pernah dipakai saja tidak boleh digunakan untuk Tabarruk, apalagi kuburannya ketika sudah meninggal digunakan untuk Tabarruk ngalap berkah. Maka ini lebih tidak boleh lagi.

Cium tangan atau minum air bekas Kyai ataupun Ulama, ataupun wali, jika itu dimaksudkan untuk Tabarruk, maka itu tidak boleh. Apalagi kuburannya. Apalagi waktu haul peringatan kematiannya.

Ini adalah ghuluw (Sikap yang berlebih lebihan hingga melewati batas syariat) terhadap orang Sholeh, merupakan kebid’ahan, dan pintu pembuka kesyirikan yang harus kita waspadai untuk menjaga Aqidah Ummat.

Ziarah kubur saja gpp, mendoakan orang Sholeh yang meninggal nggak masalah. Namun Tabarruk dan juga berdoa tawassul kepada sang penghuni kubur itu, maka ini tidak diperbolehkan.

Ulama itu yang barokah itu adalah ilmunya dan juga jika kita bergaul dengannya. Yakni agar kita bisa mendapatkan ilmu, pengajaran, bimbingan, nasehat, dan mengambil pelajaran dari akhlaq serta adabnya.

Jadi yang barokah dari para ulama, orang Sholeh, dan wali itu bukan dzat fisik atau sesuatu bekas yang pernah dipakainya.

***
Sebagian ulama yang tergelincir di dalam masalah mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah. Maka ulama tersebut adalah Imam An Nawawi rohimahulloh dan Imam Ibnu Hajar Al Atsqolani rohimahulloh, yang mana kedua duanya dari Madzhab Syafi’i.

Ulama itu tidak ada yang ma’shum. Dan ulama itu jika berijtihad namun salah dalam Ijtihad nya, maka beliau mendapatkan satu pahala, kehormatannya tetap terjaga dan tidak boleh dijatuhkan karena kesalahannya, namun kesalahannya harus disalahkan, dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan ulama tersebut.

Pemuka sahabat saja bisa salah, harus dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan sahabat tersebut. Apalagi hanya sekedar ulama yang jauh derajatnya dibandingkan sahabat.

Bagi orang yang terbiasa mengetahui perselisihan para sahabat, maka hal ini tidak tersembunyi baginya.

Adapun bantahan para ulama secara terperinci dengan dalil-dalil nya akan kesalahan Imam An Nawawi rohimahulloh dan Imam Ibnu Hajar Al Atsqolani rohimahulloh dalam mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah.

Maka ini sudah dijelaskan dan dikumpulkan semua qoul ulama nya, di dalam terjemahan Disertasi doktor dari Syaikh Dr. Nashir Al Judai’ berikut ini (hal 351-355 dari halaman yang saya foto).

Insya Allah ini sangat bermanfaat dan sangat penting bagi kita semua, demi menjaga Aqidah Ummat.

Kalau antum punya rezeki, sebaiknya beli juga buku ini, untuk membentengi antum dan keluarga antum dari jenis Tabarruk terlarang yang banyak tersebar di Indonesia ini.

Jika antum bisa berbahasa Arab, maka itu lebih bagus lagi. Antum bisa hemat uang banyak. Antum bisa download free pdf ebook nya disini :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

****
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Tabarruk yang salah -2Tabarruk yang salah -3Tabarruk yang salah -4Tabarruk yang salah -5Tabarruk yang salah -6

Pemahaman penting mengenai Tawassul dan Tabarruk -1

1 Comment

Tawassul itu artinya mencari wasilah (perantara) agar dapat mendekatkan diri kita kepada Allah, demi kepentingan dunia dan akhirat kita.

Tawassul itu ada yang ditetapkan secara irodah kauniyah yang sesuai logika (biasanya hanya dalam masalah keduniaan), dan ada yang ditetapkan secara irodah syar’iyyah yang sesuai syariat yang merupakan bahasan kita ini.

Berbeda dengan tabarruk yang artinya mencari berkah, maka ini umumnya hanya untuk kepentingan dan kebaikan dunia semata. Bukan untuk kepentingan akhirat.

Yakni seperti misal tabarruk untuk pengobatan supaya sembuh penyakitnya, dilancarkan rizki nya, tolak bala, dan lain lain.

Syaikh Albani sudah cukup jelas membedakan antara tawassul dan tabarruk ini dalam kitab nya.

(Lihat foto untuk halaman 176-180 dari kitab Syaikh Albani ini)

Bolehkah berdoa dengan cara tawassul guna meminta keberkahan? Boleh saja, tapi ini namanya tawassul bukan tabarruk.

***
Tawassul itu dengan cara berdoa melalui perantara tiga hal saja, yakni melalui perantara amal sholeh kita, Asma wa Shifat Allah, dan doa orang Sholeh yang masih hidup.

Sedangkan tabarruk itu melalui dzat akan sesuatu yang Allah berkahi, dengan i’tiqod bahwa Allah lah yang semata memberikan berkah itu. Bukan dzat yang Allah berikan berkah itu. Jika Allah ingin menghilangkan keberkahan akan dzat itupun, maka itu mudah bagi Nya.

Cara tabarruk itu baik dengan cara menyimpannya atau memiliki nya (sebagaimana para sahabat menyimpan barang bekas Rasulullah), mengusap nya (mengusap fisik Rasulullah yang barokah), mencelupkannya (sebagaimana asma binti Abu Bakar mencelupkan baju bekas Rasulullah ke dalam air untuk obat), memakannya atau meminumnya (madu, buah tiin, minyak zaitun, air Zam Zam itu diberkahi), mempelajari nya (ilmu dari kitab para ulama agar kehidupan kita barokah karena sesuai syariat), menikahinya (menikahi wanita sholehah kan barokah), mengamalkan amalan yang sesuai sunnah, dan lain lain.

Tergantung dari jenis dzat yang memiliki keberkahan itu. Maka dengan cara itu keberkahan yang Allah berikan pada dzat itu akan tercurah kepada kita, bi idznillah.

***
Tawassul itu beda dengan Tabarruk. Maka dari itu tawassul itu hanya boleh dengan doa melalui tiga hal itu saja, tidak boleh berdoa dengan berdasarkan keberkahan dzat yang diberkahi itu.

Senada dengan itu, maka tawassul dengan berdasarkan dzat makhluq, walaupun itu kepada atas nama nabi, malaikat, dan orang-orang sholeh, maka itupun juga tidak diperbolehkan.

Baik itu tawassul dengan berdasarkan melalui kemuliaan, kehormatan, hak, atau keutamaan sesuatu apapun dari makhluk ciptaan Allah. Termasuk atas nama Nabi, orang Sholeh, wali, ataupun malaikat.

Terutama tawassul kepada orang orang yang sudah meninggal, baik dengan cara mendatangi kuburan nya ataupun tidak.

Tawassul seperti ini tidak dibolehkan, dan tidak disyariatkan. Sebagian merupakan kebid’ahan, dan sebagian merupakan pintu menuju kesyirikan.

Sebagian ulama yang membolehkan tawassul berdoa melalui pribadi Nabi yang telah meninggal, atau kepada orang Sholeh yang sudah meninggal (baik itu wali ataupun selainnya) maka mereka telah salah dalam Ijtihad nya dan tidak boleh diikuti kesalahan nya.

(Lihat foto untuk halaman 53-63 dari kitab Syaikh Albani ini)

***
Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat bagi pemahaman kita seputar masalah Tawassul dan Tabarruk, yang kadang salah kaprah difahami oleh penduduk Muslim di Indonesia ini karena pengaruh faham Sufi.

Baarokallahu fiik

=====

Hal 176-180

Shahih Tawasul dan Tabaruk -1Shahih Tawasul dan Tabaruk -2Shahih Tawasul dan Tabaruk -3Shahih Tawasul dan Tabaruk -4Shahih Tawasul dan Tabaruk -5

====

Halaman 53-63

Shahih Tawasul dan Tabaruk -6Shahih Tawasul dan Tabaruk -7Shahih Tawasul dan Tabaruk -8Shahih Tawasul dan Tabaruk -9Shahih Tawasul dan Tabaruk -10Shahih Tawasul dan Tabaruk -11Shahih Tawasul dan Tabaruk -12Shahih Tawasul dan Tabaruk -13Shahih Tawasul dan Tabaruk -14Shahih Tawasul dan Tabaruk -15Shahih Tawasul dan Tabaruk -16

====

Cover dan judul buku :

Shahih Tawasul dan Tabaruk -17

Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin

1 Comment

Berikut adalah 7 buah Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin :

1. Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin – 1

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin-1/

2. Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin – 2

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin-2/

3. Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin – 3

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin-3/

4. Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin – 4

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin-4/

5. Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin – 5

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin-5/

6. Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin – 6

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin-6/

 

7. Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin – 7

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin-7/

Kumpulan tulisan dan nasehat mengenai realita Ikhwanul Muslimin, tahdzir, dan yang berkaitan dengan itu

Leave a comment

1. Qatar ditahdzir dan di-hajr Saudi mengenai masalah terorisme

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/berita-resmi-dari-saudi-mengenai-mengapa-saudi-memutuskan-hubungan-diplomatik-dengan-qatar/

2. Syi’ah Houthi dan Iran mendeklarasikan dukungannya kepada Qatar pasca diboikot.

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/qatar-diboikot-dukungan-syiah-malah-datang/

3. Mengenang tulisan saya mengenai sikap pro IM ketika dulu raja Salman berkunjung ke Indonesia

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/04/03/pengikut-im-di-indonesia-dan-inkonsistensi-mereka-terhadap-saudi-ketika-datangnya-raja-salman/

4. Hizbiyyah

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/hizbiyyah/

5. Rukun Hizbiyyah menurut Syaikh Muqbil

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/rukun-hizbiyyah/

6. Sekilas info mengenai pangkalan militer terbesar Amerika di Qatar

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/pangkalan-militer-amerika-di-qatar/

7. Sekilas info mengenai hubungan diplomatik dan hubungan ekonomi antara Qatar dan Israel

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/hubungan-diplomatik-qatar-israel/

8. Berita resmi mengenai telepon kenegaraan yang inisiatif dilakukan oleh Emir Qatar ke Presiden Iran

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/telepon-kenegaraan-resmi-qatar-iran/

9. Ancaman dan denda di UAE bagi warganya yang menunjukkan simpati kepada Qatar di media online

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/hukuman-uae-jika-ada-warganya-yang-memberikan-simpati-kepada-qatar-di-medsos/

10. Harapan agar orang yang terperangkap ke dalam firqoh IM mendapatkan pencerahan melalui kasus Qatar ini

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/harapan-terhadap-orang-yang-terperdaya-dengan-firqoh-im-kasus-qatar/

11. Mengenang tulisan saya yang terdahulu mengenai faksi faksi IM

https://kautsaramru.wordpress.com/2016/09/23/faksi-faksi-ikhwanul-muslimin-im/

Itu adalah apa yang pernah saya tulis mengenai faksi-faksi Ikhwanul Muslimin beberapa waktu yang lalu.

Link Republika yang cantumkan di bawah, sayang sekali konten nya sudah dihapus.

Akan tetapi karena Republika hanya me-reproduce wawancara yang dilakukan oleh News Agency El Wathon di Mesir terhadap Kholid Az Za’farani selaku peneliti Ahli mengenai Ikhwanul Muslimin, maka konten aslinya masih bisa dilihat di situs asli El Wathon yang berbahasa Arab.

Lihat : http://m.elwatannews.com/news/details/1311685

Jika misal ingin yang sudah diterjemahkan, maka saya sudah pernah menterjemahkan nya pada buku Free ebook saya berikut ini pada Bab 11, topik ke 29, hal 363 – 369.

Silakan lihat Free ebook tersebut di :
https://kautsaramru.files.wordpress.com/2016/12/meninggalkan-syubhat-dan-kembali-kepada-ilmu-yang-jelas-dan-tegas-mengenai-pemerintahan1.pdf

 

12. Share berita bahwa Rabithah Alam Islami memberhentikan Syaikh Yusuf Al Qordhowy dari keanggotaannya di Al Majma Al Fiqh Al Islami

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10154697301938634&id=683333633

13. Syaikh Yusuf Al Qordhowy

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/syaikh-yusuf-al-qordhowy-qatar/

14. Mauqif (Sikap) Ahlus Sunnah terhadap orang yang menyimpang manhaj nya

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/mauqif-sikap-ahlus-sunnah-terhadap-orang-orang-yang-menyimpang-manhaj-nya-kasus-qatar/

15. Qoul Syaikh Yusuf Al Qordhowy mengenai Qatar dan revolusi Arab Spring

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/bukti-seruan-dan-pujian-syaikh-yusuf-al-qordhowi-terhadap-qatar-dalam-masalah-revolusi-arab-spring/

16. Bersyukur bahwa berbagai gelombang demo angka cantik dulu tidak berhasil ditunggangi agar terjadi revolusi, sebagaimana revolusi Arab Spring

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/teriakan-revolusi-dan-demo-angka-cantik-di-indonesia/

17. Bani Tamim dan Qatar?

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/bani-tamim-dan-qatar/

18. Mengenai pernyataan Al ittihad Al alami lil Ulama’il Muslimin (Persatuan Ulama Islam Internasional)

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/antara-al-ittihaad-al-aalami-li-ulamai-al-muslimin-yusuf-al-qordhowi-dan-qatar/

19. Mengenai dua buah buku kritik terhadap Syaikh Yusuf Al Qordhowy yang pernah saya baca

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/buku-kritik-terhadap-yusuf-al-qardhowy/

20. Kekaguman Syaikh Yusuf Al Qordhowy terhadap hasil pemilu perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu pada tahun 1996

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/kekaguman-syaikh-yusuf-al-qordhowy-terhadap-hasil-pemilu-perdana-menteri-israel-benjamin-netanyahu-pada-tahun-1996/

21. Syaikh Yusuf Al Qordhowy berbicara mengenai ISIS, pemimpinnya Abu Bakar Al Baghdadi, dan hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/syaikh-yusuf-al-qordhowy-abu-bakar-al-baghdady-isis-dan-hubungannya-dengan-ikhwanul-muslimin/

22. Penjelasan Syaikh Yusuf Al Qordhowy mengenai hubungan IM dan ISIS yang senada dengan penjelasan Ustadz Syafiq Basalamah

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/hubungan-antara-im-dan-isis-ustadz-syafiq-basalamah/

23. Fir’aun pun juga sok bijaksana injaksini

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/firaun-pun-juga-sok-bijaksana-injaksini/

24. Ibadah yang lebih tinggi nilainya daripada i’tikaf : menjelaskan dan menerangkan kepada umat mengenai Ahlul Bid’ah, pemikirannya, dan firqoh organisasi nya

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/ibadah-yang-lebih-tinggi-nilai-nya-dibandingkan-itikaf-menjelaskan-dan-menerangkan-kepada-ummat-mengenai-para-ahlul-bidah-pemikiran-nya-dan-firqoh-organisasi-nya/

25. Free ebook : Kitab Dakwah Al Ikhwanul Muslimin dalam timbangan Islam

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/kitab-dakwah-al-ikhwanul-muslimin-dalam-timbangan-islam/

26. Qobil membunuh Habil maka bukan berarti mereka tidak bersaudara dan punya hubungan : IM dan ISIS

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/isis-dan-im-saudara-seakar-pemikiran-dan-saudara-historis/

27. IM, Al Qaeda, dan ISIS

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/im-al-qaeda-dan-isis/

28. Dakwah Hizbiyyah dan ambisi kekuasaan “faksi pertama”

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/faksi-politik-im-dan-yang-mengikuti-jalannya/

29. Memahami bagaimana IM bisa bertransformasi menjadi ISIS

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/memahami-bagaimana-im-bisa-bertransformasi-menjadi-isis/

30. Tambahan referensi ilmiah untuk memahami transformasi pemikiran IM ke ISIS

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/buku-islam-radikal-telaah-dari-im-hingga-isis/

31. Ikhwanul Muslimin : Sebuah Catatan Kelam?

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/ikhwanul-muslimin-sebuah-catatan-kelam/

32. Kritik terhadap penyimpangan Syaikh Yusuf Al Qordhowy, dalam masalah toleransi terhadap penyimpangan para Ahlul Bid’ah dan pembiaran untuk tidak meluruskan kebid’ahannya .

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/kritik-terhadap-penyimpangan-syaikh-yusuf-al-qordhowy-toleransi-yang-terlalu-berlebihan-terhadap-ahlul-bidah/

33. Hubungan tanpa status di balik tandzim sirriyah

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/hubungan-tanpa-status-di-balik-tandzim-sirriyah/

34. Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin – 1

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin-1/

35. Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin – 2

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin-2/

36. Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin – 3

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin-3/

37. Menolak lupa

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/menolak-lupa/

38. Ini adalah berita dari CNN, berarti harus langsung ditolak

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10154745241693634&id=683333633

39. Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin – 4

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin-4/

40. Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin – 5

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin-5/

41. Tulisan ringan : Manhaj Piknik dan atas nama pengalaman dalam sorotan

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/tulisan-ringan-manhaj-piknik-dan-atas-nama-pengalaman-dalam-sorotan/

42. Tabaruk dengan bekas peninggalan Nabi pada zaman ini?

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/tabaruk-dengan-bekas-peninggalan-nabi-pada-zaman-ini/

43. Semua klaim barang peninggalan Rasulullah, yang mana kadang sering digunakan untuk tabaruk, tidak valid dari kacamata sejarah

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/semua-klaim-barang-peninggalan-rasulullah-yang-mana-kadang-sering-digunakan-untuk-tabaruk-tidak-valid-dari-kacamata-sejarah/

44. Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin – 6

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin-6/

45. Selayang pandang mengenai sikap hizbiyyah, yang mewajibkan loyal, fanatik, dan patuh tanpa syarat, terhadap Ikhwanul Muslimin.

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/contoh-sikap-hizbiyyah-ikhwanul-muslimin/

46. Bekerjasama dengan orang orang Sekuler demi kepentingan Revolusi?

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/bekerjasama-dengan-orang-orang-sekuler-demi-kepentingan-revolusi/

47. Serial Kumpulan Fatwa Syaikh ibn Baz Mengenai Ikhwanul Muslimin – 7

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/serial-kumpulan-fatwa-syaikh-ibn-baz-mengenai-ikhwanul-muslimin-7/

Older Entries Newer Entries