Pemahaman penting mengenai Tabarruk -2

1 Comment

Pemahaman penting mengenai Tabarruk : Kesalahan mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah. Ini adalah pendapat salah yang mutlaq harus dibenarkan, guna menjaga Aqidah Ummat

===========

Tabarruk kepada dzat fisik Rasulullah ketika beliau hidup, sebagaimana yang dilakukan sahabat. Atau Tabarruk kepada bekas peninggalan benda yang pernah beliau pakai, yang mana sekarang sudah hilang atau musnah pada zaman kita ini.

Maka ini masyru’ dan dibolehkan.

Namun setelah Rasulullah meninggal, maka tidak ada satu dzat fisik pun yang boleh dijadikan tempat Tabarruk. Sebagaimana para Sahabat tidak bertabaruk kepada “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat.

Andaikata cium tangan pun, maka itu dalam rangka hormat. Bukan dalam rangka Tabarruk.

Demikian juga Tabarruk dengan barang bekas dan peninggalan Rasulullah, seperti baju, rambut, bekas air wudhu Rasulullah. Maka ini masyu’, dibolehkan, dan dilakukan oleh para Sahabat. Adapun kuburan Rasulullah, maka itu bukan bekas Rasulullah dan dilarang Tabarruk ke makam Rasulullah.

Namun setelah bekas peninggalan Rasulullah itu hilang semua, seperti sebagian musnah terbakar, dan sebagian dikuburkan bersama sama dengan sahabat yang memiliki nya (baju Rasulullah yang digunakan sebagai kain kafan sahabat biasanya). Maka tidak ada satu orang sahabat pun yang Tabarruk dengan bekas peninggalan “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat.

Tidak ada sahabat yang minum bekas air minumnya “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat, dan juga tidak ada sahabat yang memperebutkan bekas air wudhu “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat.

Singkat cerita Tabarruk kepada dzat fisik atau bekas peninggalannya sepeninggal Rasulullah itu, sudah tidak ada lagi setelah Rasulullah meninggal dan semua barang peninggalan Rasulullah musnah.

***
Termasuk kesalahan mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah.

Bahkan termasuk Tabarruk kepada anak keturunan Rasulullah sekalipun.

Para sahabat juga mengalami cobaan hidup sebagaimana manusia lain pada umumnya, namun tidak ada satupun yang mendatangi Kyai nya Sahabat, ulama nya Sahabat, ataupun anak keturunan kerabat Rasulullah sama sekali guna Tabarruk untuk menghilangkan bala’, memperlancar rezeki, dan yang semisal.

Tawassul minta didoakan, iya. Sebagaimana doa istisqo’ yang Kholifah Umar meminta agar Abbas bin Abdul Muntholib untuk berdoa. Namun Tabarruk dengan dzat fisik atau sesuatu bekas yang pernah dipakai, maka itu tidak pernah.

Demikian juga lah kondisi orang orang Sholeh, wali, dan yang semisal selain sahabat. Dzat fisik atau sesuatu bekas yang pernah dipakai saja tidak boleh digunakan untuk Tabarruk, apalagi kuburannya ketika sudah meninggal digunakan untuk Tabarruk ngalap berkah. Maka ini lebih tidak boleh lagi.

Cium tangan atau minum air bekas Kyai ataupun Ulama, ataupun wali, jika itu dimaksudkan untuk Tabarruk, maka itu tidak boleh. Apalagi kuburannya. Apalagi waktu haul peringatan kematiannya.

Ini adalah ghuluw (Sikap yang berlebih lebihan hingga melewati batas syariat) terhadap orang Sholeh, merupakan kebid’ahan, dan pintu pembuka kesyirikan yang harus kita waspadai untuk menjaga Aqidah Ummat.

Ziarah kubur saja gpp, mendoakan orang Sholeh yang meninggal nggak masalah. Namun Tabarruk dan juga berdoa tawassul kepada sang penghuni kubur itu, maka ini tidak diperbolehkan.

Ulama itu yang barokah itu adalah ilmunya dan juga jika kita bergaul dengannya. Yakni agar kita bisa mendapatkan ilmu, pengajaran, bimbingan, nasehat, dan mengambil pelajaran dari akhlaq serta adabnya.

Jadi yang barokah dari para ulama, orang Sholeh, dan wali itu bukan dzat fisik atau sesuatu bekas yang pernah dipakainya.

***
Sebagian ulama yang tergelincir di dalam masalah mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah. Maka ulama tersebut adalah Imam An Nawawi rohimahulloh dan Imam Ibnu Hajar Al Atsqolani rohimahulloh, yang mana kedua duanya dari Madzhab Syafi’i.

Ulama itu tidak ada yang ma’shum. Dan ulama itu jika berijtihad namun salah dalam Ijtihad nya, maka beliau mendapatkan satu pahala, kehormatannya tetap terjaga dan tidak boleh dijatuhkan karena kesalahannya, namun kesalahannya harus disalahkan, dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan ulama tersebut.

Pemuka sahabat saja bisa salah, harus dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan sahabat tersebut. Apalagi hanya sekedar ulama yang jauh derajatnya dibandingkan sahabat.

Bagi orang yang terbiasa mengetahui perselisihan para sahabat, maka hal ini tidak tersembunyi baginya.

Adapun bantahan para ulama secara terperinci dengan dalil-dalil nya akan kesalahan Imam An Nawawi rohimahulloh dan Imam Ibnu Hajar Al Atsqolani rohimahulloh dalam mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah.

Maka ini sudah dijelaskan dan dikumpulkan semua qoul ulama nya, di dalam terjemahan Disertasi doktor dari Syaikh Dr. Nashir Al Judai’ berikut ini (hal 351-355 dari halaman yang saya foto).

Insya Allah ini sangat bermanfaat dan sangat penting bagi kita semua, demi menjaga Aqidah Ummat.

Kalau antum punya rezeki, sebaiknya beli juga buku ini, untuk membentengi antum dan keluarga antum dari jenis Tabarruk terlarang yang banyak tersebar di Indonesia ini.

Jika antum bisa berbahasa Arab, maka itu lebih bagus lagi. Antum bisa hemat uang banyak. Antum bisa download free pdf ebook nya disini :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

****
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Tabarruk yang salah -2Tabarruk yang salah -3Tabarruk yang salah -4Tabarruk yang salah -5Tabarruk yang salah -6

Advertisements

Kenapa Aslibumiayu ditahdzir?

Leave a comment

Syahdan terdapat kisah sebagai berikut :

A : Mas, saya sakit mas…

B : Ohya, tunggu. Saya copas kan dulu resep dari dokter Ahli yang terpercaya sebagai resep bagi anda.

A :Lho nggak lewat anamnesa, cek riwayat medis, dan diagnosa dulu?

B : Nggak perlu, yang penting saya jujur sebutkan sumber copy paste saya. Itu cukup

***
Kira-kira demikianlah fragmen kisah mengenai orang yang tidak memiliki kafaah kemampuan, hanya modal copy paste, namun dia berani ikut nimbrung ngurusin pasien.

Jika orang tersebut hanya copy paste untuk nasehat nasehat menjaga diri dari penyakit, dan cara untuk menjaga kesehatan. Maka itu tidak masalah.

Sehingga harapan nya jika ada “pasien” yang tertarik dengan brosur copas dia, dia bisa merekomendasikan agar pasien tersebut berkonsultasi kepada dokter yang dia sarankan.

Karena dia sadar dia tidak memiliki kompetensi untuk memberikan resep dan melakukan anamnesa serta diagnosis.

Itu yang benar.

Namun jika akhirnya dia buka praktek dokter sendiri, padahal dia tidak punya kemampuan itu dan hanya modal copas serta bahasanya yang provokatif.

Tidak melihat lihat dulu pasien nya gimana, pokoknya harus ini.

Maka ini namanya malpraktek, dan dia harus ditahdzir setelah ngeyel dinasehati nggak mau.

Kritik terhadap metode pengobatan Al Fashdu ( الفصد) yang dikait kaitkan dengan hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam

Leave a comment

Hadits yang antum kutip yang menyebutkan fashdu (الْفَصْدُ) itu, hadits nya salah. Dan itu hanya merupakan penyisipan dari kata-kata fashdu (الْفَصْدُ) ke dalam hadits Shohih yang asli.

Hadits yang ditanyakan :

Hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ وَالْفَصْدُ

“Sesungguhnya metode pengobatan yang paling ideal bagi kalian adalah hijamah (bekam) dan fashdu (venesection).”

***
Yang benar, baik dalam Shohih Bukhori ataupun Shohih muslim, yang disebutkan itu adalah (الْقُسْطُ الْبَحْرِيُّ), bukan fashdu (الْفَصْدُ).

Perhatikan hadits berikut ini.

Shohih Bukhori

كِتَابُ الطِّبِّ. | بَابُ الْحِجَامَةِ مِنَ الدَّاءِ.
الجزء رقم :7، الصفحة رقم:125

5696 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ ، أَخْبَرَنَاعَبْدُ اللَّهِ ، أَخْبَرَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ ، عَنْأَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ أَجْرِ الْحَجَّامِ، فَقَالَ : احْتَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ، وَأَعْطَاهُ صَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ، وَكَلَّمَ مَوَالِيَهُ فَخَفَّفُوا عَنْهُ، وَقَالَ : ” إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ وَالْقُسْطُ الْبَحْرِيُّ “. وَقَالَ : ” لَا تُعَذِّبُوا صِبْيَانَكُمْ بِالْغَمْزِ مِنَ الْعُذْرَةِ ، وَعَلَيْكُمْ بِالْقُسْطِ “.

Dan dalam Shohih Muslim,

صحيح مسلم | كِتَابٌ : الْمُسَاقَاةُ | بَابٌ : حِلُّ أُجْرَةِ الْحِجَامَةِ

1577 ( 63 ) حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ ، حَدَّثَنَا مَرْوَانُ – يَعْنِي الْفَزَارِيَّ – عَنْحُمَيْدٍ ، قَالَ : سُئِلَ أَنَسٌ عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ، فَذَكَرَ بِمِثْلِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ : ” إِنَّ أَفْضَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ، وَالْقُسْطُ الْبَحْرِيُّ، وَلَا تُعَذِّبُوا صِبْيَانَكُمْ بِالْغَمْزِ “.

***
Bahkan jika dilihat penjelasan di dalam Fathul Bari’, dibedakan antara Al Fashdu (الفصد) dan Hijamah (الحجامة ) “bekam”. Yakni agar tidak salah dalam memahami hadits tersebut

Quote :

قوله : ( باب الحجامة من الداء ) أي بسبب الداء . قالالموفق البغدادي : الحجامة تنقي سطح البدن أكثر من الفصد ، والفصد لأعماق البدن

Diterangkan lagi di dalam Fathul Bari, bahwa orang Arab itu umumnya hanya mengenal Hijamah (bekam). Bukan Fashdu.

Quote :

ولهذا وردت الأحاديث بذكرها دون الفصد ، ولأن العرب غالبا ما كانت تعرف إلا الحجامة

Penjelasan lebih lengkap dari Fathul Bari’, silakan lihat :

http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php…

***
Adapun (القصط البحري) itu sering disebut dengan nama (الْقُسْطُ الهندي) atau yang mempunyai nama ilmiah cheilocostus specious

Ini adalah suatu jenis tumbuhan yang banyak terdapat di India dan Asia. Kalau untuk pengobatan diambil dalam bentuk kayak kayu gitu. (Lihat gambar di bawah yang yang saya sertakan)

Lihat penjelasan nya di :

http://mawdoo3.com/كيفية_استخدام_القسط_الهندي

***
Harap diperhatikan,
bahwa disini saya hanya mengkritik cara pengobatan fashdu yang dikait kaitkan dengan Hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Bukan mengkritik cara pengobatan Al Fashdu itu sendiri.

Jika memang secara medis cara pengobatan Al Fashdu itu bermanfaat, maka ya silakan saja berobat dengan cara Al Fashdu. Namun jangan dihubung hubungkan dengan hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Walloohu A’lam.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Baarokalloohu fiik

Qosthu Bahr

Pondasi dalam memahami agama itu bukanlah masalah karomah ataupun masalah wali. Tapi masalah keimanan dan wahyu.

Leave a comment

Rasulullah dan para sahabatnya dulu, yang diajarkan dan dijadikan pondasi dalam memahami agama itu bukanlah masalah karomah ataupun masalah wali. Tapi masalah keimanan dan wahyu.

Masalah karomah dan wali itu hanya mengikuti setelahnya saja, bukan pokok.

****
Buktinya nggak ada sahabat yang berkata, “wah sahabat Fulan itu levelnya sudah sampai level wali Quthb”, “Eh, sahabat Fulan itu punya karomah yang begini begini lho”, dan yang semisal.

Bahkan jika kita lihat kitab kitab hadits seperti Shohih Bukhori dan Shohih Muslim misalnya. Masalah masalah awal pasti hal yang berkaitan dengan wahyu, keimanan, lalu rukun Islam, dan seterusnya.

Bahkan bab fadhoilush shohabah (keutamaan sahabat), karena anggap saja Sahabat itu adalah orang yang paling layak mendapatkan keutamaan berupa karomah (walaupun tidak semua), letaknya justru agak di belakang belakang.

****
Maka dari itu jika ada seseorang yang menjadikan masalah wali dan karomah sebagai pondasi nya dalam memahami dan mengamalkan agama, maka dia salah dan menyimpang dalam memahami agama.

Barangsiapa yang menjadikan yang akhir sebagai pondasi untuk ditaruh di depan. Maka berarti dia salah dalam memahami dan membangun bangunan agama ini.

Barangsiapa yang mengedepankan apa yang diletakkan di belakang, maka ini pertanda pondasi dan pemahaman nya tidak benar.

Ketimpangan ketimpangan seperti inilah yang menyebabkan seseorang cacat dalam memahami dan mengamalkan Islam.

Akibatnya yang mudah jadi sulit, yang lurus jadi nyeleneh, yang indah jadi aneh, dan yang argumentative dalil berubah menjadi klenik mistis.

Menyambut bulan Romadhon dengan banyak menyebarkan hadits Palsu dan tidak jelas lewat Broadcast, postingan, dan lain lain

Leave a comment

Tanya :

Assalamu’alaikum, bagaimana jika ada seseorang yang menyebarkan hadits palsu dengan tidak disengaja atau belum tahu karna bodoh (awam) ?.

apakah tetap dikenai ancaman hadits yang menyatakan bahwasnnya berdusta atas nama nabi maka mempersiapkan tempatnya di neraka?,

sebelumnya ana ucapkan syukron jazakallahu khoiron

Jawab :

Wa alaikumussalaam, kalau benar dia tidak sengaja, tidak tahu, atau karena bodoh, maka dia tidak terkena Insya Allah.

Namun dia wajib untuk diberitahu.

Kenapa?
Karena salah satu redaksi hadits ancaman itu (variasi nya banyak) ada yang menggunakan lafadz ( متعمدا) “dengan sengaja”, yakni dia sudah tahu tapi ngeyel dan sengaja.

عَنْ الْمُغِيرَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Dari al-Mughirah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka”. [HR. Al-Bukhâri, no. 1229]

Itu yang pertama

***
Adapun yang kedua, berdusta atas nama Rasulullah itu sebenarnya termasuk dari bagian mengejek dan menghina Rasulullah. Dan ini adalah dosa yang besar.

Jadi walaupun kesalahan dia tidak sebesar orang yang sengaja, yakni karena dia bodoh dan tidak tahu.

Namun dia wajib untuk diberitahu, dinasehati, dan ditakut takuti.

Bukankah membunuh karena tidak sengaja itu juga kena hukuman?

***
Yang ketiga,
Bagaimana jika dia bermaksud baik dengan kedustaan nya itu?

Maka ini bahayanya justru lebih besar. Kenapa? Karena walaupun dia bermaksud baik namun dia sadar, tahu, dan sengaja berdusta atas nama Rasulullah. Sedangkan sabda Rasulullah itu adalah bagian dari ajaran agama.

Berbeda dengan yang kita bahas sebelumnya, yakni yang karena tidak tahu, tidak faham, dan bodoh.

Sehingga akibatnya dia akan menambah nambah pemahaman, ajaran, ataupun amalan dari agama dengan sengaja berdusta atas nama Rasulullah. Padahal agama ini sudah sempurna, tidak boleh ditambah tambahi dan tidak boleh dikurang kurangi.

Dan dia sadar, faham, dan sengaja untuk melakukan hal itu.

Orang seperti inilah cikal bakal kesesatan dan penyimpangan dalam pemahaman dan pengamalan agama. Dan tidak ada suatu kesesatan dan penyimpangan di dalam agama, melainkan dia itu sebelumnya mengaku aku bahwa tujuan nya itu baik dan mulia.

Demikianlah bahaya nya tipuan syaitan itu.

Walloohu A’lam

I’tikaf : Masjid perkantoran dan Masjid di Mall Pusat Perbelanjaan

1 Comment

Salah satu syarat i’tikaf adalah di masjid, dan sesuatu itu bisa disebut masjid adalah sesuatu yang kita anggap bisa dilakukan sholat Tahiyatul Masjid di situ.

Ini sebagaimana keumuman hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

“Jika salah seorang dari kalian masuk ke dalam masjid, maka janganlah kalian duduk hingga kalian sholat dua rekaat (Tahiyatul masjid) ” (HR. Bukhari Muslim)

****
Adapun syarat bahwa i’tikaf itu harus di masjid adalah potongan firman Allâh dalam QS Al Baqarah : 187,

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِد

“…. Dan kamu beri’tikaf di dalam masjid – masjid….” [QS Al Baqarah :187]

Kata (الْمَسَاجِد) “Al Masaajid” dalam ayat itu adalah jama’ dari kata (المسجد) “Al Masjid”. Sehingga kata “Al Masaajid” dalam ayat itu berarti masjid-masjid, dan ini mencakup berbagai jenis masjid yang penting dia bisa disebut masjid dan bisa ditegakkan sholat Tahiyatul masjid di situ.

Dan keumuman perkataan “Al Masaajid” dalam ayat ini, adalah pendapat yang kami rojihkan dan yang kami ambil pendapatnya dalam masalah jenis masjid yang sah untuk digunakan sebagai tempat i’tikaf.

***
Lho memang ada pendapat lain ya?

Al Jawab, ada.

Ada sebagian ulama yang memberikan definisi yang lebih khusus mengenai masjid yang sah digunakan sebagai tempat i’tikaf. Yang mana pengertian masjid ini lebih khusus, daripada istilah masjid yang telah kami paparkan tadi.

Sebagian ulama mensyaratkan bahwa masjid yang sah digunakan itu harus (مسجد جامع) “Masjid Jami’ “, dan tidak boleh sembarang masjid.

Pendapat ini didasarkan pada pendapat Aisyah rodhiyalloohu anhaa berikut ini,

عائشة – رضي الله عنها – قالت: “وَلَا اعْتِكَافَ إِلَّا فِي مَسْجِدٍ جَامِعٍ” ( رواه أبو داود – (٢٤٧٣) وقال الألباني في صحيح سنن أبي داود:(حسن صحيح))

Berkata Aisyah rodhiyalloohu anhaa, “Dan tidak ada i’tikaf kecuali di masjid Jaami'”. [Hr. Abu Daud (2473), berkata Al Albani dalam Shohih sunan Abu Daud : Hasan Shohih]

Dikatakan bahwa Ibnu Abbas juga berpendapat seperti ini, namun kami belum menemukan riwayat nya.

Atas dasar Atsar ini, maka sebagian ulama berpendapat bahwa masjid untuk i’tikaf itu harus masjid jami’. Tidak boleh sembarang masjid yang mana walaupun kita boleh melakukan sholat tahiyatul masjid disitu.

Sekarang apakah yang dimaksud masjid jami’ itu? Masjid jami’ adalah masjid yang dilakukan sholat jumat di situ. Maka dari itu dia disebut sebagai masjid jami’, yakni karena dia mengumpulkan orang untuk sholat jumat di situ.

Imam Asy Syafi’i berkata,

اعتكاف في المسجد الجامع أحب إلينا، وإن اعتكف في غيره فمن الجمعة إلى الجمعة

الأشراف على مذاهب العلماء لابن منذر ( 3 / 161 ) ، و ينظر كتاب الأم

“I’tikaf di masjid Jaami lebih kami sukai. Adapun jika ber-i’tikaf di selain masjid jami’, maka kita harus keluar dari masjid itu setiap jumat (untuk sholat jumat di masjid Jaami). ”
[Al Isyrof alaa madzaahib al ulamaa’ (3/161), tulisan Ibnu Mundzir. Lihat juga di dalam kitab Al Umm (tulisan imam Asy Syafi’i)]

***
Kenapa kita lebih menguatkan pendapat boleh i’tikaf di sembarang masjid, asal kiranya pantas dilakukan sholat tahiyatul masjid di situ. Dibandingkan dengan pendapat harus di masjid jami’ itu?

1. Karena ayat QS Al Baqarah :187 itu lebih bersifat global (mujmal), terlebih juga disebutkan dengan bentuk jama’ “Al Masaajid”. Sehingga ini memberikan faedah semua masjid bisa masuk di dalam hal itu.

2. Karena Rasulullah tidak memperinci jenis masjid yang bagaimanakah masjid yang dimaksud. Sehingga itu dikembalikan kepada pengertian umum akan istilah masjid.

Seandainya Rasulullah memperincinya, maka kami akan mengikutinya.

3. Adapun perincian dari ibunda Aisyah, maka itu adalah pendapat beliau. Dan secara ushul fiqh pendapat sahabat itu bukan dalil, karena dia bisa berbeda pendapat dengan dalil (karena mungkin dia tidak mendapatkan haditsnya) ataupun bertentangan dengan pendapat sahabat yang lainnya.

Dan perselisihan pendapat para sahabat dalam masalah fiqh itu sudah lumrah terjadi.

Adapun yang bisa teranggap sebagai dalil itu adalah Ijma’ sahabat, bukan pendapat sahabat.

Lagipula pendapat sebaiknya di masjid jami itu diterangkan juga illat (penyebab nya) oleh ulama (Lihat qoul imam syafi’i sebelumnya), yakni agar orang yang ber i’tikaf (mu’takif) juga bisa sholat di masjid Jaami tersebut, tidak perlu memutus i’tikaf nya guna keluar masjid untuk sholat jumat.

Sehingga pendapat yang benar mengenai i’tikaf di masjid Jaami itu adalah afdholiyyah saja, bukan syarat.

***
Ada juga pendapat lain yang disandarkan pada hadits “Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid”. Yakni di masjidil Haram, masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsho.

Namun ini sebenarnya hanya afdholiyyah juga, sama seperti masjid jami’, yakni karena keutamaan beribadah di tiga masjid itu dibandingkan masjid lain. Namun ini bukan syarat sah i’tikaf.

***
Sekarang ternyata ada lagi pendapat, bahwa syarat sah i’tikaf itu harus di masjid wakaf.

Yakni tidak boleh di masjid masjid yang didirikan oleh perkantoran, ataupun masjid masjid yang didirikan oleh Mall pusat perbelanjaan. Karena fasilitas masjid itu hakekatnya tetap milik dari orang yang memiliki tempat perkantoran atau Mall itu.

Masjid itu dianggap bukan masjid wakaf, yang bukan milik perseorangan, dan sudah benar-benar diberikan kepada Ummat.

Jadi yang dianggap sah i’tikaf nya menurut pendapat ini adalah harus di masjid umum yang merupakan masjid wakaf.

Tidak sah i’tikaf di masjid perkantoran dan Mall perbelanjaan, yang mana walaupun masjid itu dianggap layak untuk dilakukan sholat tahiyatul masjid disitu, dan rutin dilakukan sholat jumat disitu guna kepentingan pekerja kantoran dan pengunjung Mall.

Tanggapan kami terhadap pendapat ini, adalah pendapat ini kurang memiliki dalil khusus yang menunjukkan akan keharusan syarat masjid wakaf.

Apa yang teranggap dalil adalah pemahaman yang dibangun dari penarikan kesimpulan fiqh saja.

Berbeda dengan pendapat yang harus di masjid Jaami atau di tiga masjid itu. Pendapat itu walaupun kami anggap kurang kuat, namun pendapat itu memiliki Atsar dan dalil yang tegas menyebutkan hal itu.

Adapun dalil yang tegas menyebutkan “harus jenis masjid wakaf” belum pernah kami temukan.

Benar bahwa masjid masjid zaman Rasulullah dan para Salaf itu umumnya adalah masjid wakaf. Tidak ada yang namanya masjid pribadi. Semua milik ummat.

Masjid atas nama kepemilikan pribadi memang baru kita temukan pada zaman modern ini. Terutama masjid masjid di perkantoran dan Mall pusat perbelanjaan.

Akan tetapi jika benar bahwa harus masjid wakaf, tentu Rasulullah dan para sahabat seharusnya menjelaskan nya. Dan karena mereka tidak menjelaskan nya, maka ini kembali kepada qoidah ushul fiqh

تأخير البيان عن وقت الحاجة لا يجوز

“Mengakhirkan penjelasan ketika waktu dibutuhkan itu, tidak diperbolehkan ”

Maka dari itu, sanggahan kami atas pendapat ini adalah karena ketiadaan dalil. Penarikan kesimpulan fiqh yang dijadikan dalil itu kami anggap tidak sesuai dengan qaidah yang telah kami sebutkan itu.

Walloohu A’lam

***

Tanya :

bgmna musholah di dlm rumah akhi?

Jawab :

Tidak boleh, tidak sah

Tanya :

Berarti baik masjid wakaf maupun bukan wakaf berlaku hukum larangan jual beli?

Jawab :

Ya

Tanya :

pertanyaan, kalau di sembarang masjid yg notabenenya masjid tsb tdak ada shalat jumat, hanya sholat fardhu biasa, ketika harus shokat jumat gimana? berarti kan hrus pindah masjid yg menyelenggarakan sholat jumat. nah, jadi batal i’tikafnya. gimana tadz? lebih ke situ pertanyaan saya. jazakallahu khayran

Jawab :

Itu masuk ke dalam pembahasan berapa waktu minimal untuk i’tikaf, agar i’tikaf itu sah.

Bagi yang berpendapat minimal harus 10 hari terakhir Romadhon, seperti contoh Rasulullah i’tikaf. Karena pada tahun Rasulullah meninggal, beliau ber itikaf sampai 20 hari.

Maka masjid yang tidak ada jumatan nya, hal ini akan menjadi masalah bagi pendapat ini.

Namun saya sendiri lebih merojihkan pendapat, batas waktu minimal i’tikaf itu hanya berdiam sesaat saja. Maka itu sah.

Adapun jika keluar masjid tanpa hajat, maka i’tikaf nya terputus namun tetap sah. Tinggal diulangi saja niatnya ketika kembali untuk i’tikaf lagi.

Riwayat Ulama melakukan sholat sunnah mutlak 1000 rekaat sehari semalam, dalam timbangan – 2

Leave a comment

Jika Sahabat Abud Darda saja “ditegur” karena ibadahnya yang sangat terlalu berlebihan oleh Salman Al Farisi, yang mana sikap Salman ini dibenarkan oleh Rasulullah.

Maka bagaimana dengan riwayat riwayat manaqib para ulama yang sholat sunnah 1000 rekaat tiap hari, yang kita tidak tahu sanadnya bersambung atau tidak?

Cukup bagi kita sebaik baik Salaf adalah para Sahabat, dan pembenaran Rasulullah akannya sebagai standar kita dalam memahami nya.

Para sahabat jauh lebih berhak mendapatkan barokah dan karomah dibandingkan ulama manapun, dan barokah serta karomah mereka adalah istiqomah terhadap sunnah.

****
Abu Juhaifah Wahb bin `Abdillâh Radhiyallahu anhu berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan Salman al-Fârisi dan Abu Darda` Radhiyallahu anhuma.”

Setelah itu Salmân Radhiyallahu anhu mengunjungi Abu Darda` Radhiyallahu anhu. Dia melihat Ummu Darda`Radhiyallahu anha memakai pakaian kerja dan tidak mengenakan pakaian yang bagus.

Salman Radhiyallahu anhu bertanya kepadanya, “Wahai Ummu Darda`, kenapa engkau berpakaian seperti itu?”

Ummu Darda` Radhiyallahu anha menjawab, “Saudaramu Abu Darda` Radhiyallahu anhu sedikit pun tidak perhatian terhadap istrinya. Di siang hari dia berpuasa dan di malam hari dia selalu shalat malam.”

Lantas datanglah Abu Darda` Radhiyallahu anhu dan menghidangkan makanan kepadanya seraya berkata, “Makanlah (wahai saudaraku), sesungguhnya aku sedang berpuasa”

Salman Radhiyallahu anhu menjawab, “Aku tidak akan makan hingga engkau makan.” Lantas Abu Darda` Radhiyallahu anhu pun ikut makan.

Tatkala malam telah tiba, Abu Darda` Radhiyallahu anhu pergi untuk mengerjakan shalat. Akan tetapi, Salman Radhiyallahu anhu menegurnya dengan mengatakan, “tidurlah” dan dia pun tidur. Tak lama kemudian dia bangun lagi dan hendak shalat, dan Salman Radhiyallahu anhu berkata lagi kepadanya, “tidurlah.” (dia pun tidur lagi-pen)

Ketika malam sudah lewat Salman Radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Darda` Radhiyallahu anhu , “Wahai Abu Darda`, sekarang bangunlah”. Maka keduanya pun mengerjakan shalat”

Setelah selesai shalat, Salman Radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Darda` Radhiyallahu anhu, “ (Wahai Abu Darda`) sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu, badanmu mempunyai hak atas dirimu dan keluargamu (istrimu) juga mempunyai hak atas dirimu. Maka, tunaikanlah hak mereka.”

(selanjutnya) Abu Darda` Radhiyallahu anhu mendatangi Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut kepadanya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Salman benar” [HR. al-Bukhâri no. 1867., kitab Ash-Shahâbah hlm.462]

Older Entries