Memahami masalah Kasuistik belajar dan Merguru kepada Ahlul Bid’ah

Leave a comment

Bagaimana dengan kisah Abu Hasan Al Asy’ary yang pernah berguru, mengambil ilmu, dan datang di kajian nya Mu’tazilah (walaupun beliau akhirnya bertaubat), beserta kisah kisah yang semisal dengan itu?

*
Jadi merguru dan mengambil ilmu sama Ahlul Bid’ah atau orang yang menyimpang dari manhaj itu sebenarnya kasuistik, bukan standar.

Kita lihat dari output nya (hasilnya), ataukah ada udzur di situ.

Bukannya malah dijadikan Framing agar misleading untuk digeneralisir boleh seperti itu, sebagaimana yang diinginkan Free thinker dan fans berat manhaj muwazanah.

Kisah hidup seseorang itu berliku liku, dan tidak setiap lika liku kehidupan seseorang itu hujjah bagi kita.

Kita ini bukan tukang cerita, bukan novelis, dan bukan tukang Framing yang suka me misleading kan orang.

*
Adapun jika kembali kepada qoul ulama, maka biasanya mereka kasih syarat yang ketat atau memberikan udzur untuk hal-hal bersifat kasuistik.

Bahkan sebagian ulama Salaf berkata,

“Jika kita melihat pemuda di awal awal belajarnya bersama guru yang lurus dan benar manhaj serta Aqidah nya. Maka taruhlah harapan baginya.

Namun jika kita melihat pemuda di awal awal belajar nya bersama guru yang sesat, menyimpang Aqidah dan manhaj nya. Maka hilangkanlah harapanmu “.

Tentu saja ini tidak mutlak, karena hidayah itu di tangan Allâh.

Namun kita insya Allah faham apa yang dimaksud.

*
Jadi demikianlah jawaban dan counter attack terhadap serangan dari negara Abu-abu itu.

Guru, ustadz, dan majlis ilmu yang jelas Aqidah dan manhaj nya saja masih banyak dan bertebaran. Masak malah ngajak ngajak ke yang nggak jelas, dan bahkan yang sudah ditahdzir?

Kalau ada udzur, bisa dimaklumi lah. Walau sekarang lewat media Internet dan Ebook juga bisa. Nah kalau nggak ada udzur, maka ya emang pada dasarnya ingin promosi manhaj Muwazanah dan Pluralisme Manhaj.

Ingin seperti orang yang mabuk minum khomr dan pemakai narkoba yang penting having fun, disini senang, disana senang, mengikuti hawa nafsu saja.

Alasannya sih klise, “ingin piknik” katanya hehe

Namun memang demikianlah keadaan nya. Semua sudah berubah semenjak negara Abu Abu menyerang….

Ketika Imam Bukhori ditahdzir, maka beliau membalas dengan membuat tulisan Ilmiah

Leave a comment

Dulu Imam Al Bukhori pernah terkena fitnah bahwa beliau beraqidah Al Qur’an adalah makhluq, namun beliau membantahnya dengan membuat kitab :

( خلق أفعال العباد و الرد على الجهمية و أصحاب التعطيل)

Untuk menjelaskan secara ilmiah bahwa tuduhan itu hanya fitnah belaka, dan Aqidah beliau itu Al Qur’an adalah Kalamullah (Firman Allah) bukan makhluq.

Maka dari itu ketika para asatidz mengkritik dengan tulisan ilmiah dan bukti bukti yang nyata dari perkataan orang yang dikritik itu sendiri.

Bahwa Aqidah nya dalam masalah taqdir itu salah dan menyerupai firqoh Qodariyah. Dan penafsiran Al Qur’an nya dalam masalah QS Al Fatihah ayat “Ihdinash Shiroothol mustaqiim” itu ditafsirkan semaunya sendiri dan menyelisihi tafsir para Imam Ahli tafsir dari Ahlus Sunnah.

Maka balaslah saja kritikan ilmiah itu dengan tulisan yang ilmiah juga, sebagaimana sikap imam Al Bukhori.

Be a man!

Kalau salah, ngaku salah. Kalau benar, maka bantah secara ilmiah

Qaidah-qaidah Mudah dalam Memahami Takdir

Leave a comment

Takdir itu sudah ditetapkan. Apa yang kita ketahui itu adalah takdir yang sudah berlalu, adapun takdir yang ada di depan kita tidak mengetahui nya.

Karena kita tidak mengetahui takdir yang akan terjadi ke depannya, yang diwajibkan bagi kita ada dua :

1. Beriman secara global bahwa takdir manusia yang tidak kita ketahui di depan itu sudah ditetapkan sejak dulu kala.

2. Berikhtiar semaksimal mungkin untuk menjemput apa yang Allâh telah takdirkan bagi kita.

Adapun yang dilarang bagi kita juga ada dua :

1. Beralasan dengan takdir Allah yang belum kita ketahui di depan, untuk menolak irodah syar’iyyah Allâh yang dibebankan kepada kita.

2. Bahwasanya dilarang bagi kita menetapkan takdir muallaq yang merupakan takdir baru yang baru ditetapkan bergantung sesuai dengan usaha, ikhtiar, dan kehendak kita.

***
Dibolehkan bagi kita satu hal :

Beralasan dan berargumen dengan takdir yang telah lalu, yang telah terjadi, dan yang kita ketahui untuk bahan introspeksi serta penetapan takdir terhadap diri kita dengan menggunakan timbangan syariat.

Ini sebagaimana “debat” yang terjadi antara Nabi Musa dan Nabi Adam, ketika Nabi Musa menyalahkan “kesalahan” yang dilakukan Nabi Adam hingga menyebabkan dirinya dan keturunan nya dikeluarkan dari surga.

Nabi Adam memenangkan perdebatan itu dengan beralasan bahwa itu adalah takdir Allah yang telah ditetapkan sejak jauh kala, sesuai dengan hikmah Nya.

Hadits ini Shohih.

***
Dan dilarang bagi kita satu hal juga :
Berusaha mencari cari tahu apa takdir kita ke depan, karena itu rahasia Allâh sesuai dengan hikmah Nya.

Yang diwajibkan bagi kita adalah berikhtiar semampu kita sesuai dengan syariat, guna menjemput takdir kita yang sudah ditetapkan dan yang merupakan rahasia ilahi.

Salah satu hikmah dari hal ini agar terkumpul pada kita rasa Khouf (takut), Roja’ (pengharapan), dan Mahabbah (cinta) kepada Allah Ta’ala.

Ketiga rasa ini adalah ruh dalam memahami dan menjalankan agama.

Walloohu A’lam

Halal bagi orang lain untuk mentahdzir, Harom Bagimu untuk mentahdzir

Leave a comment

Bolehkah seorang kyai mengatakan ke murid-muridnya: Jangan ngaji di sana karena aqidahnya bukan asy’ariyah maturudiyah dan juga karena mereka keras soal bid’ah?

Jawab: Monggo.

Bolehkah seorang ustadz jihadis menasehati muridnya: “Jangan ngaji ke Fulan karena dia pernah ngisi bareng BNPT, bahkan sudah ditahdzir oleh Lajnah Ad Daimah”?

Jawab: Silakan.

Bolehkan seorang musyrif harokah menghimbau: “Jangan ngaji ke salafi karena mereka lebih suka kritik harokah lain daripada bersatu” ?

Jawab: Tafadhdhol.

Bolehkah seorang ustadz salafi mewanti-wanti: “Ngajilah ke yang bermanhaj salaf, dan jangan ngaji ke yang belum jelas”?

Jawab: Antum tukang tahdzir.

Copas dari seseorang. Boleh di copas lagi, dan di copas lagi. Multilevel copas.

Nb : upline saya ust-dos Setyanto Umar Hanif

Jadilah orang yang membuka pintu kebaikan dan menutup pintu keburukan

Leave a comment

Jadilah orang orang yang merupakan kunci untuk membuka pintu pintu kebaikan, dan menutup pintu pintu keburukan. Dan jangan menjadi yang sebaliknya.

Dua tipe manusia ini pada hakekatnya akan saling berselisih antara satu sama lain, hingga yang satu mengikuti yang lain.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَ إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مفتاحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مفتاحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

“Sesungguhnya diantara manusia, ada orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan, namun ada juga orang yang menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan.

Maka berbahagialah orang-orang yang Allah jadikan kunci kebaikan ada pada kedua tangannya. Dan celakalah orang-orang yang Allah jadikan kunci keburukan ada pada kedua tangannya”

(HR Ibnu Majah, dan selainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah)

Syubhat Pluralis Manhaj – Manhaj dan Akhlaq (2)

Leave a comment

Masih edisi masalah timbangan,

Seorang muslim jika dia berakhlak buruk, maka apakah dia berdosa? Tentu dia berdosa, dan bahkan itu dosa besar.

Namun jikalau dia dosanya besar karena akhlaknya yang buruk, namun manhajnya dalam tauhid lurus dan benar.

Maka jika ditimbang dan dibandingkan di timbangan Allâh, maka manakah yang lebih berat?

***
Sebentar, sebelumnya saya nasehati ya mas. Fikir dulu baik baik sebelum menjawab.

Masalah timbangan Allâh itu masalah yang ghoib dan termasuk dalam perkara Aqidah lho.

Jangan sampai karena antum mengikuti hawa nafsu, lalu sembarangan menjawabnya.

***
Hmmm, ya. Anda benar.

Jikalau saya tujuannya sejak dari awal ingin mendiskreditkan seorang Muslim yang kebetulan saya menemukan “celah” keburukan di akhlaknya, maka ini adalah kesempatan paling baik untuk menjatuhkannya.

Jika tujuan saya seperti itu, tentu akan saya jawab berat Akhlaq dibandingkan pemahaman manhaj nya yang haq dalam masalah Tauhid

Peduli amat timbangan Allâh itu termasuk hal ghoib yang merupakan perkara Aqidah atau nggak. Yang penting tujuan saya untuk menjatuhkannya terpenuhi.

Tapi setelah anda berkata seperti itu, maka saya harus adil menjawabnya, walaupun saya membencinya dan menyebabkan tujuan saya tidak terpenuhi.

****
Jadi Karena akhlak buruk itu termasuk dosa besar yang harus diingkari, namun karena kita sudah berbicara dengan timbangan Allâh guna dibandingkan dengan manhaj yang haq dalam masalah Tauhid yang ada pada seorang muslim.

Maka sesuai dengan hadits Bithoqoh (Kartu) yang Rasulullah sebutkan, jika dibandingkan antara dosanya karena akhlaknya yang buruk dengan manhaj nya yang haq dalam masalah Tauhid, maka lebih berat manhaj tauhid nya yang haq di sisi timbangan Allâh.

Sekali lagi ini di sisi timbangan Allâh ya.

Kalau di sisi timbangan manusia seperti saya, saya tetap tidak terima dengan akhlaknya yang buruk, dan dia jatuh di timbangan manusia seperti saya ini.

***
Ohya gpp jika dia jatuh di timbangan manusia seperti kita kita ini.

Yang penting antum telah berlaku benar dan sesuai ilmu mengenai timbangan Allâh mengenai hal yang dibandingkan.

***
Hmm, tapi bukannya Rasulullah juga berkata yang berat di timbangan Allâh itu adalah bertaqwa kepada Allah dan Akhlak yang baik?

Ya benar, tapi hadits itu Rasulullah tidak mengikutinya dengan membanding bandingkan nya dengan hal lain. Beda dengan hadits Bithoqoh.

Sekali lagi hadits itu tidak dalam konteks membandingkan antara akhlak dengan manhaj dalam masalah Tauhid. Hadits itu hanya menjelaskan beratnya amalan akhlak baik di sisi timbangan Allâh. Bukan untuk membandingkan nya dengan manhaj.

Benar kan? Jadi kita on the same page dulu ya.

Jadi jangan sampai karena mengikuti hawa nafsu terus antum nambah nambahin hadits.

Jangan ya, nggak baik itu 🙂

***
Kalau begitu antum membandingkan dengan masalah akhlak Abu Tholib ? Kenapa nggak langsung sebutkan hadits masalah Bithoqoh?

Saya masih es-mos-si nih…..

Hehe jangan es-mos-si mas. Tapi antum menerima dan mengimani hadits Bithoqoh tadi kan?

Ya, saya mengimani nya. Jawaban anda benar dan saya salah. Saya hanya tanya kenapa nggak langsung sebut ke hadits Bithoqoh? Kan saya nggak harus korban perasaan jadinya.

Lho mas, cup cup jangan baper dan sedih dulu. Kan pertanyaan nya antara akhlak dan manhaj, berat mana di timbangan Allâh? Itu kan pertanyaan umum, jadi ya nggak salah donk jawaban saya.

Lagi pula jelas saya sebut disitu “manhaj masalah Tauhid” dibandingkan dengan akhlak baik. Antum saja kali yg kurang teliti membaca, dan terburu nafsu melempar tuduhan.

***
Iya, benar sih. Tapi kenapa antum nggak jawab pertanyaan saya?

Oh Itu kan pertanyaan hari jumat, sedangkan sekarang masih hari Ahad. Jadi buat apa saya jawab sekarang?….

Haha bercanda mas… Sekarang hari Ahad bukan hari jumat, semua tahu itu.

Anyway,
Saya ini sudah terbiasa tidak menjawab “loaded questions”.

Lagi pula teman teman yang lain faham kok apa yang saya maksud, dan faham juga bahwa ini adalah “loaded questions” yang berbeda dengan penjelasan yang saya tuliskan.

Maka dari itu saya biarkan saja dulu, biar mau meneliti lagi dan faham sendiri bahwa dia salah.

Bukanlah sikap yang bijak menasehati orang yang sedang mabuk.

Mending tunggu dulu biar mabuknya hilang, biar muntah muntah dulu dan mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya.

Setelah lega dan sadar, baru kita coba nasehati setelahnya. Siapa tau dia mau mendengar 🙂

=====
Catatan : Hadits Bithoqoh yang kita maksud adalah sebagai berikut,

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ

“Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. Setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang.

Kemudian Allah menanyakan padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zholim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.”

Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Dan sungguh tidak akan ada kezaliman atasmu hari ini.”

Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh’.

Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah didzolimi .”

Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya.Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tadi.

(HR. Ibnu Majah no. 4300, Tirmidzi no. 2639 dan Ahmad 2: 213. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy yaitu kuat dan perowinya tsiqoh termasuk perowi kitab shahih selain Ibrahim bin Ishaq Ath Thoqoni. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Syubhat Pluralis Manhaj – Manhaj dan AKhlaq (1)

Leave a comment

Lebih berat mana timbangan di sisi Allah, antara manhaj dan akhlaq?

Tanya kok lucu, ya jelas manhaj lah.

Sekarang akhlak mana yang lebih baik daripada merawat Rasulullah sejak kecil, dan membela Rasulullah dan dakwah nya walaupun dia manhaj tauhid nya salah?

Tentu saja ini akhlaq yang luar biasa baik dan sangat berat pahala kebaikan nya.

Namun karena manhaj beliau dalam masalah Tauhid menyimpang, yakni karena hanya mengakui tauhid Rububiyyah Allâh saja dan tidak mau mengakui Tauhid uluhiyyah Allâh.

Maka akhlak beliau yang baik pun tidak dianggap dalam timbangan di sisi Allah, dan beliau masuk neraka.

***
Jangan sampai karena “terdesak” dari sisi manhaj, terus bikin manuver manuver acrobatic yang not Apple to Apple lah….

Ndak baik itu

Older Entries