Menunggu atau Mempersiapkan Kematian?

Leave a comment

Kalau kita hidup hanya untuk “menunggu” kematian, maka apa bedanya dengan orang kafir?

Tapi kalau kita hidup untuk “mempersiapkan” kematian, maka ini baru muslim yang kuat Aqidah nya.

Advertisements

Seberapa jauh sih kita merindukan nya?

Leave a comment

Sekarang masih bulan jumadil ula. Habis itu jumadil akhir, rajab, sya’ban, dan baru kita bertemu bulan Ramadhan kembali.

Jadi total kira kira 3-4 bulan lagi insya Allah kita akan bertemu Ramadhan kembali.

Saya sebenarnya mempunyai tulisan Free ebook berkaitan dengan hadiah dan bekal untuk menyambut bulan Ramadhan.

Baik itu dari persiapan menyambut bulan ramadhan, hikmah dan fiqh nya, keutamaan nya, hingga masalah akhir bulan Ramadhan beserta amalan di bulan Syawal nya.

Bagi yang berminat, bisa mengunduh nya disini :

https://kautsaramru.files.wordpress.com/…/ebook-hadiah-dan-…

Status ini akan saya usahakan saya share lagi tiap bulan baru, agar kita aware akan kedatangan bulan Ramadhan.

Karena jika kita mencintai nya, maka kita akan mempersiapkan nya dan menyambutnya walau masih jauh jauh hari.

Apakah itu betul?

Orang yang paling jahat adalah orang yang bermuka dua dengan tanpa udzur yang dibolehkan syariat

Leave a comment

Hukum Bermuka Dua

Pertanyaan :

Apakah hukumnya bermuka dua yang menghadapi manusia dengan penampilan yang berbeda-beda. Kami mengharapkan dalil atas hal tersebut ? Semoga Alloh Subhanahu Wata`ala membalas kebaikan atas kalian.

Jawaban :

Orang yang bermuka dua, yang menghadapi sesuatu dengan wajah/penampilan seperti ini dan menghadapi yang lain dengan wajah/penampilan yang lain, adalah sejahat-jahat manusia.

Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi Shallallahu` Alahi Wasallam, dan ia adalah salah satu jenis nifaq.

Apabila hal ini sudah mewabah di suatu masyarakat, berarti masyarakat ini adalah tidak lurus. Setiap orang dari komunitas ini tidak percaya terhadap yang lain, selanjutnya tercerai berailah masyarakat itu. Banyak terjadi penipuan dan perbuatan khianat.

Manusia paling jahat pada hakikatnya adalah yang bermuka dua.Sebagaimana terdapat dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam.

“Yang mendatangi mereka dengan satu wajah dan mendatangi yang lain dengan wajah yang berbeda.”(HR.Al-Bukhori dalam al-manaqib (3494);muslim dalam al-Birr(2536).

Seorang muslim harus waspada terhadap perkara ini dan memperingatkan darinya sehingga tidak terjadi berbagai kerusakan yang telah kami jelaskan sebagian di antaranya.

Fatwa syaikh Utsaimin yang beliau tanda tangani

Sumber : Fatwa-Fatwa Terkini jilid 3, hal. 397 cet, Darul Haq, Jakarta.

***

Tanya :

Udzur yg dibenarkan syariat contohnya apa Ustadz?

Jawab :

Yang dimaksud adalah sebagaimana contoh hadits Rasulullah berikut ini,

Seorang lelaki meminta untuk bertemu dengan Rosululloh. Beliaupun berkata: “Izinkan dia. Sungguh dia anak keluarga yang jelek – atau sungguh dia saudara keluarga yang jelek –“ namun ketika dia masuk, beliau berkata lemah lembut padanya.

Aisyah berkata: “Akupun berkata kepada beliau: “Wahai Rosululloh, tadi Anda berkata begini dan begitu namun Anda berkata lemah lembut padanya.”

Beliaupun bersabda:

أَيْ عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ مَنْ تَرَكَهُ – أَوْ وَدَعَهُ – النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah yang dihindari oleh manusia karena khawatir akan kejahatannya.” [Hr. Bukhari]

 

Tanya :

Muka dua dan muka tebal (tidak tahu malu).. kira’kira bahaya mana bang Kautsar Amru?

Jawab :

Dua hal itu biasanya satu paket.

Ada lagi paket tambahan yang bisa disertakan seperti paket Strawman, paket Playing Victim, paket Argumentum ad Hominem, dan paket Appeal to force.

Biasanya itu dijual terpisah. Tapi kalau ada paket Promo, dan semua itu ada jadi satu. Maka itu yang saya sebut paling berbahaya.

Buruknya Adab dan Akhlak orang yang suka bersumpah atas nama Allah dan suka menantang mubahalah

Leave a comment

Orang yang gemar bersumpah atas nama Allah dan suka menantang mubahalah itu adalah orang yang berakhlak buruk.

Karena banyak bersumpah itu tercela, dan mubahalah itu pada dasarnya adalah doa saling laknat.

Orang yang banyak bersumpah itu seakan hanya menganggap nama Allah itu adalah perkara yang mudah dilontarkan.

Mari kita simak sedikit kutipan dari fatwa Syaikh Ibn Baaz berikut :

***
HUKUM BANYAK BERSUMPAH, BENAR ATAUPUN DUSTA

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya :
Saya memiliki kerabat yang banyak sekali bersumpah atas nama Allah, baik dia ucapkan secara benar ataupun dusta ; apa hukumnya?

Jawaban.
Dia harus dinasehati dan dikatakan kepadanya, “Seharusnya kamu tidak memperbanyak bersumpah sekalipun kamu benar” dan hal ini berdasarkan firmanNya.

واحفظوا أيمانكم

“Dan jagalah sumpah-sumpah kamu”(QS. Al Maidah : 89)

Juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Tiga orang yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat dan tidak Dia sucikan mereka bahkan mereka mendapatkan adzab yang pedih (yaitu) :

– Seorang yang sudah bercampur rambut hitam dan putihnya (orang yang sudah tua) lagi pezina,
– Seorang fakir lagi sombong,
– dan seorang laki-laki yang Allah jadikan dia tidak membeli barangnya kecuali dengan bersumpah atas namaNya dan tidak menjual kecuali dengan bersumpah dengan bersumpah atas namaNya”

[Lihat Al-Mu’jam Al-Kabir karya Ath-Thabrani (6111), Al-Mu’jam Al-Awsath senada dengan itu (5577), Al-Haitsami berkata di dalam kitabnya Majma Az-Zawa’id ; para periwayatnya adalah para periwayat pada kitab Shahih.]

Untuk fatwa selengkapnya, lihat : https://almanhaj.or.id/1459-hukum-banyak-bersumpah-benar-at…

***
Rasulullah pernah diminta untuk melaknat kaum musyrikin yang mendzolimi nya, maka beliau menolak dan berkata bahwa beliau itu diutus bukan untuk menjadi pelaknat.

قيل : يا رسول الله ! ادع على المشركين . قال ” إني لم أبعث لعانا . وإنما بعثت رحمة “. رواه مسلم

”Dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:” Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam! Doakanlah keburukan (laknatlah) atas kaum musyrikin.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:” Sesungguhnya aku diutus bukan sebagai pelaknat, namun aku diutus sebagai rahmat (pembawa kasih sayang) (HR. Muslim)

Doa laknat disyariatkan dalam perkara tuduhan zina antara suami Istri, dan ini semisal dengan perkara mubahalah (doa saling laknat) yang sedang kita bahas, sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an mengenai Li’an.

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُن لَّهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِن كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَن تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِن كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu adalah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika ia termasuk orang-orang yang berdusta. Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas Nama Allah se-sungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima bahwa laknat Allah atas-nya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.” [An-Nuur: 6-9]

Namun opsi ini diberikan jika misal sudah tidak bisa ke pengadilan karena bukti tidak cukup, ini tampak jelas sebagaimana yang disebutkan dalam QS An Nuur ayat 6 itu sendiri.

Nah kalau selama masih ada bukti, ya maju dulu ke pengadilan.

Kalau setelah ketemu di pengadilan mau ngajak mubahalah di sana setelah jalur hukum kurang bisa menyelesaikan, maka ya monggo

***
Ini adalah perincian tahapan doa saling laknat dalam masalah pidana. Sebagaimana tahapan hukum yang kita ambil dari permasalahan tuduhan zina antar suami Istri.

Adapun jika berkaitan dengan masalah Aqidah, maka boleh mubahalah jika semisalnya dakwah dan iqomatul hujjah sudah tidak bisa dan kemadhorotan semakin besar.

Ini sebagaimana mana yang disebut dalam QS Ali Imron : 59 – 61

إنَّ مَثَلَ عِيسَى عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ . الْـحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلا تَكُن مِّنَ الْـمُمْتَرِينَ . فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنفُسَنَا وأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.

(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran: 59 – 61)

Jika ditanyakan apakah mubahalah dalam masalah Aqidah ini ada tahapan dan adab adabnya juga?

Ya, jelas ada. Yakni ketika dakwah dan iqomatul hujjah sudah tidak bisa, dan kemadhorotan semakin besar. Jadi tidak langsung ujug ujug main nantang mubahalah.

Ini namanya tidak tahu adab dan berakhlak buruk.

Sebab jika dakwah dan mubahalah dalam masalah Aqidah ini tidak ada tahapannya, maka QS Ali Imron : 59-61 itu akan bertentangan dengan cara dakwah yang khusus Allah perintahkan kepada Ahlul kitab dalam QS Al Ankabut : 46.

وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (٤٦) وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ فَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمِنْ هَؤُلاءِ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا الْكَافِرُونَ (٤٧

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri (taat) [QS Al Ankabut : 46]

Jadi QS Ali Imron : 59-61 dan QS Al Ankabut : 46 itu “Apple to apple” karena membahas masalah Ahlul Kitab, dan dari sinilah kita memahami tahapan tahapan dakwah dan mubahalah dalam masalah Aqidah.

***
Maka mubahalah itu ada adab adabnya, tahapan tahapannya juga.

Termasuk orang yang memiliki adab dan akhlak yang buruk orang yang suka bersumpah atas nama Allah, dan suka menantang bermubahalah tanpa memandang tahapan tahapannya sebagaimana yang diajarkan dalam syariat.

Jika itu adalah masalah duniawi atau yang berhubungan dengan personal, maka silakan maju ke pengadilan terlebih dahulu.

Jika itu adalah masalah Aqidah, maka silakan berdakwah dan iqomatul hujjah dengan cara yang hikmah.

Hubungan antara Malu dan Hidupnya Hati

Leave a comment

Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata,

“Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhûr.

Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang.

Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.”

[Madârijus Sâlikîn (II/270)]

***
Intermezzo :
Tapi kalau mau melamar harus berani ya, jangan banyakan alasan malu

Tahdzir lah dirimu sendiri lagi. Ad hominem dirimu sendiri lah lagi

Leave a comment

Alhamdulillah, karena semua faham bahwa saya bukan ustadz dan saya meminta agar jangan dipanggil ustadz. Cukup panggil mas BU (Bukan Ustadz) saja.

[Bukan BU butuh uang yaaa…. Hehee]

Maka otomatis bagi yang kadang ada yang suka nanya, paham bahwa saya itu hanya sekedar memberitahu menurut ilmu yang saya tahu. Atau yang saya pandang kuat menurut diri saya pribadi saja yaa….

***
Bagi saya kalau ada yang nanya, dan kebetulan saya faham jawabannya, ya saya jawab. Karena itu amanah ilmu.

Kalau saya nggak tau, maka ya saya bilang saya nggak tau.

***
Kenapa anda menjawab jawab pertanyaan kalau begitu?

Karena hadits Rasulullah menyebutkan bahwa permasalahan ilmu itu seperti hujan dan tanah. Jadi kalau saya tau ilmunya dan ditanya, ya saya jawab.

Jadi bukan karena ingin sok Ngustadz. Saya suka menulis juga karena saya suka, alhamdulillah, bukan karena ingin sok Ngustadz

Adapun jika anda lebih suka “kebijakan satu pintu” harus ustadz yang jawab, maka saya tidak melarang hal itu. Dan itu bagus kok

***
Maka dari itu, telitilah kembali apa yang saya tulis atau jawaban dari diskusi yang antum beri.

Jika sesuai dengan manhaj dan dalil, maka alhamdulillah. Silakan Antum ambil apa yang Allah titipkan amanah ilmiah berupa ilmu dan pemahaman tersebut kepada saya, jika antum berkenan.

Jika menyalahi, maka silakan buang saja di tong sampah. Karena hakikat dakwah itu adalah menyebarkan ilmu dan pemahaman yang Shohih berdasarkan manhaj Salaf Ahlus Sunnah. Bukan untuk mencari pengikut.

Dan jika anda mengkritik saya dengan alasan “kebijakan satu pintu” maka saya juga tidak keberatan, walau saya berbeda pandangan.

Dah gitu aja.

Jerawat dan Sembarangan Menyebarkan Berita Hoax

Leave a comment

Jika misal satu info hoax yang kita sebar itu menumbuhkan satu jerawat di wajah kita, maka tentu kita akan malu kalau wajah kita banyak jerawat nya.

Maka dari itu harus banyak cek dan recek dulu, sebelum nge-share pada zaman informasi ini. Baik itu info yang mendukung kecenderungan kita, ataupun info yang kontra dengan kecenderungan kita.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

”Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim).

Older Entries