Ebook : Meninggalkan Syubhat dan Kembali kepada Ilmu yang jelas dan tegas mengenai Pemerintahan

Leave a comment

Alhamdulillaah, bi idznillah Free Ebook kami yang terbaru sudah selesai kami kerjakan. ebook ini berjudul :

“Meninggalkan Syubhat dan Kembali Kepada Ilmu yang Jelas dan Tegas Mengenai Pemerintahan yang Dipimpin Seorang Muslim Pada Zaman ini. Yang mana pemerintahan dan sistemnya dipenuhi dengan ketidak idealan, kedzoliman, dan kekufuran”

Silakan download di sini :

https://kautsaramru.files.wordpress.com/2016/12/meninggalkan-syubhat-dan-kembali-kepada-ilmu-yang-jelas-dan-tegas-mengenai-pemerintahan1.pdf

***

Berikut adalah sedikit pengantar dari kami mengenai buku ini :

Pembuatan buku ini mulai terpikir ketika saya hampir menyelesaikan tulisan berseri saya yang berjudul :
“Syubhat perlawanan dan pemberontakan kepada pemerintah yang dzolim atas nama sejarah dan fitnah yang menimpa sebagian Salaf”.

Ketika itu saya berpikir, alangkah baiknya jika tulisan berseri ini saya kumpulkan menjadi satu buku dengan digabungkan dengan tulisan-tulisan saya yang lain yang memiliki kaitan tema yang sama, yang dulu pernah saya tulis. Berikut juga sebagian tulisan asatidz yang bermanfaat yang pernah saya ikut menshare nya.

Atas dasar pemikiran itu maka saya mulai “bongkar-bongkar” dan menyusun ulang tulisan-tulisan saya terdahulu, berikut juga sebagian tulisan asatidz yang bermanfaat yang pernah saya ikut menshare nya, untuk dijadikan sebuah buku berupa free ebook yang insya Allah semoga bermanfaat.

Buku ini kemudian saya berikan judul :
“Meninggalkan Syubhat dan Kembali Kepada Ilmu yang Jelas dan Tegas Mengenai Pemerintahan yang Dipimpin Seorang Muslim Pada Zaman ini. Yang mana pemerintahan dan sistemnya dipenuhi dengan ketidak idealan, kedzoliman, dan kekufuran”

Dari penelusuran tulisan saya yang terdahulu, dan juga sebagian tulisan asatidz yang bermanfaat, saya kemudian menetapkan 14 bab yang relevan dan sesuai alur pemahamannya dengan tema dari judul buku ini. Untuk kemudian saya turunkan tulisan-tulisan yang sesuai dengan bab tersebut.

Ketiga belas bab yang saya susun dalam buku ini adalah :
1. Dalil-dalil yang jelas dan tegas mengenai pemerintahan Islam yang jaa-ir (Bengkok. Yakni tidak adil, sewenang-wenang, dan dzolim)

2. Syubhat perlawanan dan pemberontakan kepada pemerintah yang dzolim atas nama sejarah dan fitnah yang menimpa sebagian Salaf

3. Bahaya faham pengkafiran dan fanatisme golongan Jama’ah akibat salah memahami Hadits masalah Bai’at

4. Bagaimana cara pemimpin terpilih dalam pandangan Syariat Islam dan Manhaj Salaf

5. Hubungan dakwah Islam berdasarkan manhaj Salaf dengan Politik

6. Teori konspirasi bukanlah dasar untuk memahami agama

7. Perincian masalah berhukum tidak dengan hukum Allah, Undang-undang buatan, dan konstitusi

8. Memelintir perkataan umum ulama untuk menghukumi masalah khusus

9. Tuduhan Murji’ah

10. Menjelaskan faham-faham kufur dan bid’ah yang masuk ke dalam pemerintahan dan masyarakat

11. Haroki, Takfiri, Khowarij, dan Terorisme

12. Pluralisme Manhaj, manhaj muwazanah, Hizbiyyah, dan polemik Ukhuwah

13. Serial Logical Fallacy (Kesalahan logika atau gagal faham) yang digunakan sebagai alasan untuk menolak Sunnah

14. Kemudahan dalam memahami Agama dengan berdasarkan Sunnah dan manhaj Salaf

Pembagian empat belas bab diatas kiranya cukup mewakili judul yang diketengahkan, dan –insya Allah- semoga buku ini ringan serta mudah untuk difahami.

Diperkenankan untuk men-share free ebook ini, kepada orang yang antum rasa memerlukan ilmu atau nasehat seputar masalah ini.

Kami sendiri menyadari besarnya fitnah yang menimpa ummat seputar masalah ini, dan pentingnya ummat untuk meninggalkan syubhat serta kembali kepada Ilmu yang jelas dan tegas. Yakni kembali kepada sunnah Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, dan mengikuti manhaj Salaf yang dipraktekkan oleh para Sahabat beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan Ihsan.

Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua, dan dapat menjadi pemberat amal timbangan kami di akhirat kelak. Baarokalloohu fiik

Tangerang Selatan dan Jakarta, akhir Desember 2016 M / Robi’ul Awwal 1438

Abu Maryam Kautsar Amru bin Syamsudin bin Muhammad Ja’far

Ketika Ummat sudah mulai berbondong bondong mengikuti Manhaj Salaf, dan Haroki ingin meraih jumlah massa yang sangat banyak dan belum matang Aqidah nya itu

Leave a comment

Bagi yang pernah baca buku Madarikun Nadzor fis Siyasah (Pandangan Tajam Terhadap Politik) tulisan Syaikh Abdul Malik Romadhon Al Jazairi, berikut juga ibroh kejadian di Aljazair sebagai negara asal sang penulis.

Maka antum pasti faham akan apa yang ditulis oleh Wikipedia, mengenai Partai FIS yang ada di Aljazair ini.

***
Copas from Wikipedia :

Sampai tahun 1988, satu-satunya parpol di Aljazair ialah partai pemerintah, FLN. Setelah terjadi pemberontakan dan penentangan terhadap pemerintahan dan FLN, Presiden Aljazair saat itu Chadli Bendjedid, yang notabene merupakan Sekretaris Jenderal FLN, melakukan reformasi dengan mengizinkan berdirinya berbagai parpol baru. Pada 1989 berdirilah FIS atas desakan masyarakat yang mayoritas Muslim. Mereka kecewa sebab satu-satunya partai yang dibentuk pada masa Presiden Boumedienne yakni FLN yang berasaskan sekuler gagal mewujudkan kemajuan.

Sebagai parpol Islam wajarlah FIS kemudian mengangkat isu seputar Islam. FIS menyodorkan program-program yang memikat simpati masyarakat Aljazair seperti ekonomi kerakyatan, mendukung terwujudnya kehidupan yang lebih Islami, demokratisasi, dan pemerintahan yang lebih dekat kepada Daulah Islam dibanding Barat.

Dalam waktu yang singkat FIS berhasil menarik simpati masyarakat Aljazair yang mayoritas Islam. Hasilnya pada pemilu putaran pertama 20 Juni 1991, FIS memenangkan 54% suara dan mendapat 188 (81%) kursi di parlemen. Umat Islam Aljazair menyambut gembira kemenangan ini dan berharap FIS memenangkan pemilu putaran kedua. Sesuai dugaan, pada pemilu putaran kedua Desember 1991, FIS menang besar.

Kemenangan FIS pada pemilu putaran I dan II menunjukkan jika rakyat Aljazair menginginkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dan Islami.

Diawali 11 Januari 1992 saat Presiden Chadli Benjedid mengundurkan diri setelah partainya keok dalam pemilu atas desakan sebagian anggota kabinetnya, terutama pihak militer.

Mereka tak rela jika sebuah parpol Islam memimpin di sana sebab membahayakan kedudukannya. Kemudian penguasa militer membubarkan parlemen Aljazair dan membatalkan hasil pemilu.

Lalu militer melalui Mohammed Boudiaf mendirikan Dewan Tinggi Negara yang menjalankan pemerintahan sementara dan menyatakan Aljazair dalam keadaan darurat. Dewan Tinggi Negara ini menjadi penguasa baru Aljazair. Pengadilan yang direkayasa memberangus FIS dan menjadikannya sebagai parpol terlarang, ribuan orang baik anggota maupun pendukungnya ditangkap, dipenjara, dan sebagian lainnya ditindas, dianiaya, hingga dibunuh.

Pemimpin FIS Abassi Madani dan Ali Belhadj dipenjarakan. Namun akhirnya Mohammed Boudiaf tewas di tangan Letnan Mohammed Bumaaraf yang berusia 26 tahun.

Lihat : https://id.m.wikipedia.org/wiki/FIS

***

Kalau misal belum faham, maka silakan download dan baca bukunya dulu di sini.

Lihat : https://drive.google.com/file/d/0B5IPsHNYkn4rdWpoWjRXdHRQVlU/view

Buku fenomenal, terjemahan dari madarikun nadzor fis siyasah jilid 1. Ini file bentuk djvu, harap install juga aplikasi yang bisa membaca file djvu

 

Pencela Utsman bin Affan dari kalangan penulis kontemporer

Leave a comment

Prof Ali Ash Shollabi telah mendaftar deretan nama buku dan penulis kontemporer yang mengalami kesalahan dalam membahas sejarah Kholifah Utsman, hingga memberikan kesimpulan yang mendiskreditkan Kholifah Utsman.

Beliau sendiri telah membantah dan menjelaskan analisa analisa penulis kontemporer yang mendiskreditkan Kholifah Utsman itu, pada buku beliau yang lain “Utsman bin Affan” yang khusus menjelaskan mengenai sejarah Utsman bin Affan.

*Foto ini diambil dari buku beliau “Muawiyah bin Abi Sufyan”

pencela-utsman-dari-penulis-kontemporer

Dakwah dan Penguasa

Leave a comment

Para penguasa kafir yang tidak dilakukan pemberontakan dan penaklukan, namun mencukupkan diri dengan dilakukan dakwah di sana :

1. Raja Namrud pada zaman Nabi Ibrahim
2. Al Aziz Mesir pada zaman Nabi Yusuf
3. Fir’aun Mesir pada zaman Nabi Musa
4. Penguasa kafir pada zaman Ashabul Kahfi sebelum mereka bersembunyi di gua
5. Kaisar Romawi pada zaman Nabi Isa
6. Raja kafir dalam kisah ashabul ukhdud (penghuni parit) sebagaimana dalam QS Al Buruj
7. Bani Quraisy pada fase Mekkah Rasulullah
8. Raja Najasyi di Habasyah pada fase Makkah dan Madinah Rasulullah. Beliau masuk Islam sembunyi sembunyi dan mendukung dakwah Islam
9. Raja Mauqoqis di Mesir pada fase Madinah Rasulullah. Beliau membiarkan dakwah Islam berkembang, tidak menghalang halangi, memberikan hadiah jariyah Maryam Al Qibthiyyah kepada Rasulullah, namun saya tidak menemukan ada riwayat bahwa beliau masuk Islam.

***
Para penguasa kafir yang dilakukan penaklukan karena menolak dakwah Islam berkembang di wilayah kekuasaan nya :
1. Ratu Bilqis oleh Nabi Sulaiman, hingga akhirnya beliau takluk dan masuk Islam
2. Penaklukan oleh Dzulqornain di berbagai belahan bagian barat dan timur
3. Heraclius di Romawi pada fase Madinah Rasulullah dan diteruskan zaman kekholifahan
4. Kisra di Persia pada masa khulafaur rasyidin dan ditaklukkan Kholifah Umar
5. Bani Quraisy di Mekkah pada fase Madinah Rasulullah

***
Para penguasa kafir yang tidak menolak dakwah Islam berkembang di wilayah nya. Para penguasa kafir yang membangun perjanjian damai dengan salah satu penguasa Islam :

Tidak pernah dilakukan penaklukan atau usaha subversif pemberontakan di sana. Dan wilayah kekuasaan nya itu biasa disebut Darush Shulh (wilayah damai karena ada ikatan perjanjian) atau Darud Dakwah (wilayah lahan dakwah)

Sekelumit Kisah mengenai Al Hasan

Leave a comment

Al Hasan bin Ali itu dipilih sebagai Kholifah menggantikan Ali bin Abi Tholib, dengan cara Aklamasi kesepakatan bai’at tokoh tokoh rakyat pendukung Ali.

Hampir sama seperti metode terpilihnya Abu Bakar.

Beliau dipilih bukan karena wasiat atau petunjuk dari Ali. Karena Ali sendiri, waktu hendak meninggal, enggan untuk menunjuk penggantinya ketika diminta.

Maka dari itu Al Hasan bin Ali menjadi Kholifah bukan semata mata karena dia anak dari Kholifah Ali. Akan tetapi karena kemampuannya memimpin dan pengaruhnya.

Beliau sendiri termasuk Khulafaur Rasyidin kelima, sesuai dengan perkataan ulama, sebelum corak kekuasaan Islam berubah menjadi kerajaan.

Ini sesuai dengan sabda Rasulullah bahwa masa khulafaur Rasyidin itu hanya 30 tahun, dan kemudian berubah menjadi kerajaan.

Al Hasan bin Ali sendiri hanya memerintah selama 6 bulan, meliputi Iraq sebagai pusat pemerintahan, Hijaz, Yaman, kecuali Syam. Karena Syam adalah wilayah kekuasaan Muawiyah.

Al Hasan memerintah hanya sepanjang 6 bulan karena beliau adalah orang yang cenderung kepada perdamaian dan menyatukan Ummat. Setelah beliau menyerahkan kekuasaan nya dengan syarat syarat perdamaian yang harus ditepati oleh Muawiyah.

Maka beliau pun pulang kembali ke Madinah setelah dia melepaskan jabatan nya dan Muawiyah menjadi Kholifah. Dan pusat pemerintahan kekholifahan pun berpindah dari Iraq ke Syam

Syubhat “Perlawanan” dan Pemberontakan Kepada Pemerintah yang Dzolim Atas Nama Sejarah Fitnah yang menimpa sebagian Salaf – 5

Leave a comment

4. Dalam posisi pemerintahan yang benar-benar sangat dzolim, hingga hilang kesabaran, dan lupa akan sunnah sunnah Rasulullah akan hal ini. Yang mana kemudian hari ingat akan sunnah tersebut, dan bertaubat atas kesalahannya.

Sebagaimana yang terjadi kepada seseorang tabi’in (murid atau pengikut Sahabat) yang bernama Said bin Jubair dalam menghadapi gubernur Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi yang sangat dzolim, bengis, kejam, dan sangat suka membunuh.

***
Membahas kekhilafan ataupun kesalahan ijtihad Sa’id bin Jubair hingga beliau memberontak, maka ini tidak lepas dari membahas Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofy dan tokoh-tokoh yang terkait dengannya, terutama Abdurrahman bin Al-Asy’ats atau yang dikenal Ibnul Asy’ats.

Nama Ibnul Asy’ats ini kelak akan lebih dikenal oleh para Ulama dengan fitnah Ibnul Asy’ats. Dari fitnah Ibnul Asy’ats ini juga istilah irja’, yang kemudian hari istilah ini berkembang dan memunculkan sekte sesat Murjiah.

Tokoh Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofy mulai muncul saat diangkat oleh Abdul Malik bin Marwan sebagai panglima pasukan, untuk menyerang dan merebut kekuasaan dari kholifah Abdullah bin Zubair. Tugas ini berhasil dijalankan Hajjaj dengan gemilang, hingga dia bisa memukul mundur Abdullah bin Zubair sampai ke basis pertahanan terakhir di Makkah.

Dengan menggunakan manjaniq (alat pelempar), Hajjaj merusak kehormatan kota suci Makkah hanya untuk tujuan menaklukkan Abdullah bin Zubair. Singkat kata Abdullah bin Zubair kalah di Makkah dan tewas dengan cara disalib oleh Hajjaj.

Setelah itu sempurnalah Abdul Malik bin Marwan merebut kembali kekholifahan dari Abdullah bin Zubair, dengan bantuan dari Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi, kembali lagi ke dinasti keluarga Umayyah.

Atas jasa-jasanya, Hajjaj akhirnya ditunjuk sebagai Gubernur Iraq. Yang mana Kufah dan Bashrah juga berada di Iraq. Kemudian hari diperluas dengan menguasai masyriq dan negeri-negeri yang berada di seberangnya.

Karakter Hajjaj yang kejam, bengis, mudah menumpahkan darah, dan bertangan besi dipandang cocok mengatur stabilitas Iraq, yang selalu mengalami gejolak dan kekacauan akibat dari sifat orang-orang Iraq itu sendiri. Masih belum lepas dari ingatan kita muslihat dan pengkhianatan penduduk Kufah hingga Husain bin Ali terbunuh karena fitnah.

Hajjaj sendiri walau dia kejam dan bengis, dia sebenarnya seorang qurro’ yang mutqin. Penghafal dan pembaca Al Qur’an yang kokoh dengan qiroah-nya. Dia dulu menghadiri majlis para sahabat dan ulama tabi’in, untuk menyetorkan hafalan qiroah Al Qur’an dan mendapatkan sanad. Hajjaj bin Yusuf juga seorang yang sangat fasih dalam berbahasa Arab, sekaligus orator ulung.

Abu Amr bin Ala’ mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih fasih (dalam berbahasa) seperti Hasan al-Basri kemudian Hajjaj.”

Akan tetapi latar belakangnya yang sholeh itu tidaklah menghalanginya untuk menjadi panglima perang (yang kemudian dipromosikan menjadi Gubernur Iraq) yang kejam, bengis mudah menumpahkan darah, dan bertangan besi.

Seluruh sahabat dan ulama tabi’in sepakat akan karakter kejam, dan mudahnya Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi menumpahkan darah. Dia adalah sosok yang ditakuti rakyat karena kekejaman dan tangan besinya. Hajjaj juga seorang nashibi, orang yang membenci Ahlul Bait.

***
Berikut sedikit kami sebutkan karir jabatan Hajjaj.

73 H
====
Hajjaj sebagai panglima perang dan Amirul Hajj :

Setelah berhasil membunuh Abdullah bin Zubair di Makkah pada tahun 73 H, Hajjaj membongkar Ka’bah dan merenovasinya hingga berbentuk seperti sekarang ini (sampai zaman Imam As Suyuthy sang penulis Tarikh Khulafa’).

Hal ini tampaknya dilakukan karena Ka’bah mengalami kerusakan akibat lemparan manjaniq yang dilakukan Hajjaj, dalam usaha perang menaklukkan Abdullah bin Zubair.

Pada tahun ini juga sahabat Abdullah bin Umar bersedia untuk membaiat Abdul Malik bin Marwan sebagai kholifah, setelah sebelumnya Abdullah bin Umar tidak menyatakan bersedia memberikan dukungan ataupun baiat kepada siapapun. Baik itu kepada Abdullah bin Zubair ataupun kepada Abdul Malik bin Marwan.

Dari Abdullah bin Dinar, ia berkata, “Aku melihat —pada saat umat berkumpul untuk berbaiat kepada Abdul Malik bin Marwan sebagai khalifah— Ibnu Umar berkata,

“Sesungguhnya aku menyatakan mendengar dan taat kepada hamba Allah Jalla wa ‘ala, Abdul Malik, Amirul Mukminin, di atas ketetapan Allah Jalla wa ‘ala Azza wa Jalla dan Sunnah Rasul-Nya selama aku mampu, dan sesungguhnya anak-anakku telah menyatakan hal yang sama.”(HR. Al-Bukhari no. 7203 dan 7205).

Ijtihad Abdullah bin Umar ini sebenarnya bukan hal yang aneh, karena beliau memang lebih cenderung menghindari fitnah dan pertikaian di antara sesama kaum Muslimin.

Hal yang serupa juga pernah beliau lakukan ketika terjadi peperangan antara Ali dan Muawiyah, yang mana beliau lebih memilih uzlah (mengasingkan diri) dan tidak mendukung siapapun. Padahal posisi yang benar dalam hal ini adalah ijtihadnya Ali, sedangkan Muawiyah salah ijtihadnya. Dan beliau akhirnya menyesal karena dulu tidak mendukung Ali.

Selain itu, terdapat riwayat shohih yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa Abdullah bin Umar sebenarnya telah melarang dan tidak setuju dengan sikap yang diambil Abdullah bin Zubair.

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim:

‘Uqbah bin Mukarram Al ‘Ammiy memberitahu kami, katanya Ya’qub iaitu Ibnu Ishaq Al Hadhrami memberitahu kami, katanya Al Aswad bin Syaiban memberitahu kami, dari Abu Naufal, katanya:

Aku melihat (mayat) ‘Abdullah bin Az Zubair (dalam keadaan tergantung) di ‘Aqabah Al Madinah (di Makkah), dan kaum Quraisy serta orang-orang lainnya pergi ke arahnya, termasuklah ‘Abdullah bin ‘Umar, apabila beliau berdiri di hadapannya (mayat Ibn Az Zubair) beliau mengucapkan:

“Wahai Abu Khubaid (‘Abdullah bin Az Zubair), semoga keselamatan ke atas engkau, semoga keselamatan ke atas engkau, semoga keselamatan ke atas engkau! Demi Allah, aku telah melarang engkau dari perkara ini, Demi Allah, aku telah melarang engkau dari perkara ini, Demi Allah, aku telah melarang engkau dari perkara ini.

Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui seseorang yang selalu berpuasa, selalu qiyam (bangun malam untuk beribadah), dan selalu menyambung silaturrahim selain dari engkau. Demi Allah, engkau yang dikatakan sejahat-jahat ummat, sebenarnya adalah sebaik-baiknya.”

‘Abdullah bin ‘Umar pun berlalu pergi.

Kata-kata Ibnu ‘Umar telah sampai kepada Al Hajjaj lalu dia mengutus seseorang untuk menurunkan mayat ‘Abdullah bin Az Zubair, kemudian mayat tersebut dicampakkan ke perkuburan Yahudi.

Kemudian Al Hajjaj menghantar utusan kepada Asma’ Binti Abu Bakr agar Asma’ menemuinya, tetapi Asma’ enggan. Utusan tersebut pulang dan kembali membawa pesan Al Hajjaj: “Engkau mesti datang berjumpa dengan aku atau aku akan hantar seseorang yang akan mengheret engkau sambil menarik rambutmu.”

Asma’ tetap juga enggan.

Katanya, “Aku tidak akan berjumpa dengan engkau hinggalah engkau hantar seseorang yang akan mengheret aku dengan rambutku.”

Al Hajjaj yang mendengarnya (sebagaimana disampaikan oleh utusannya) pun berkata, “Ambilkan alas kakiku”.

Lalu utusannya mengambilkan alas kaki untuknya, dan Al Hajjaj pergi menuju kepada Asma’ dalam keadaan marah, lalu berkata:
“Apa pendapat engkau tentang apa yang aku lakukan terhadap si musuh Allah itu (‘Abdullah bin Az Zubair)?”

Asma’ menjawab:
“Aku lihat engkau telah menghancurkan kehidupan dunianya, manakala dia pula telah menghancurkan kehidupan akhirat engkau. Aku dengar engkau memanggilnya (sebagai), “Wahai anak Dzat An Nithaqain (pemilik dua tali pinggang).” Sesungguhnya demi Allah, akulah Dzat An Nithaqain; tali pinggang yang pertama aku gunakan untuk menghantar makanan Rasulullah dan Abu Bakr, manakala tali pinggang kedua tidak dapat ditandingi oleh mana-mana wanita pun. Rasulullah pernah memberitahu kami bahwa di Tsaqif nanti ada seorang pendusta dan seorang pemusnah, si pendusta itu kami telah mengenalinya, manakala si pemusnah pula, aku tidak kenal yang lain melainkan engkau.”

Al Hajjaj lalu bangkit pergi dan tidak membalas kata-kata Asma’. [HR. Muslim, no. 2545]

*
Pada tahun 73 H hijriah ini disebutkan juga bahwa Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi pernah berselisih dengan Abdullah bin Umar ketika melaksanakan Haji. Hajjaj diserahi tugas sebagai Amirul Hajj (pimpinan Haji) untuk haji tahun itu.

Imam Al Bukhari meriwayatkan di dalam shohihnya,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَالِمٍ، قَالَ كَتَبَ عَبْدُ الْمَلِكِ إِلَى الْحَجَّاجِ أَنْ لاَ يُخَالِفَ ابْنَ عُمَرَ فِي الْحَجِّ، فَجَاءَ ابْنُ عُمَرَ ـرضى الله عنهـ وَأَنَا مَعَهُ يَوْمَ عَرَفَةَ حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ، فَصَاحَ عِنْدَ سُرَادِقِ الْحَجَّاجِ، فَخَرَجَ وَعَلَيْهِ مِلْحَفَةٌ مُعَصْفَرَةٌ فَقَالَ مَا لَكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَقَالَ الرَّوَاحَ إِنْ كُنْتَ تُرِيدُ السُّنَّةَ‏.‏ قَالَ هَذِهِ السَّاعَةَ قَالَ نَعَمْ‏.‏ قَالَ فَأَنْظِرْنِي حَتَّى أُفِيضَ عَلَى رَأْسِي ثُمَّ أَخْرُجَ‏.‏ فَنَزَلَ حَتَّى خَرَجَ الْحَجَّاجُ، فَسَارَ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي، فَقُلْتُ إِنْ كُنْتَ تُرِيدُ السُّنَّةَ فَاقْصُرِ الْخُطْبَةَ وَعَجِّلِ الْوُقُوفَ‏.‏ فَجَعَلَ يَنْظُرُ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ صَدَقَ‏.

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf, telah berkabar kepada kami Malik, dari Ibn Syihab, dari Salim (anak Abdullahbin Umar), dia berkata: ‘Abd al-Malik menulis surat kepada al-Hajjaj untuk tidak menyelisihi Ibnu ‘Umar dalam masalah ibadah haji.

Lalu Ibnu ‘Umar –radliallahu ‘anhu– datang, dan saat itu aku membersamainya pada hari ‘Arafah setelah matahari tergelincir.

Ibn ‘Umar berteriak di dekat tenda al-Hajjaj. Al-Hajjaj pun keluar dengan berselubung mantel kuning. Al-Hajjaj berkata, “Ada apa denganmu, wahai Abu ‘Abd ar-Rahman?” Ibn ‘Umar menjawab, “Bersegeralah bertolak jika kau ingin mengikuti Sunnah!”

Al-Hajjaj berkata, “Saat inikah?” Ibn ‘Umar menjawab, “Iya, benar.” Al-Hajjaj berkata, “Tunggulah hingga kubasahi kepalaku kemudian kita berangkat.”

Maka Ibn ‘Umar pun turun sampai al-Hajjaj keluar dari tendanya. Setelah itu al-Hajjaj berjalan di antara aku dan ayahku (yakni Ibn ‘Umar). Lantas aku berkata kepadanya al-Hajjaj, “Jika kau meninginkan Sunnah, maka persingkatlah khutbah dan segerakan wuquf.” Kemudian al-Hajjaj memandang ‘Abdullah (bin ‘Umar). Ketika ‘Abdullah (bin ‘Umar) melihat al-Hajjaj melihat kepadanya, dia pun berkata, “(Anakku berkata) benar.” [HR. Bukhari]

Perselisihan antara Hajjaj bin Yusuf dengan sahabat Abdullah bin Umar ini di satu sisi tidaklah menyebabkan Abdullah bin Umar melepaskan ketaatan kepada pemimpin, walau Hajjaj adalah pemimpin yang bengis dan telah merusak kehormatan Makkah. Abdullah bin Umar tetap melaksanakan wuquf di padang Arafah waktu haji bersama dengan Hajjaj, dan mendengarkan khutbah yang diberikan oleh Hajjaj sebagai Amirul Hajj.

Akan tetapi di sisi lain, Hajjaj tampaknya tidak terima akan perselisihannya dengan Abdullah bin Umar. Sehingga dia memerintahkan seorang pasukannya melemparkan lembing (tombak kecil) yang diolesi racun, untuk mengenai kaki Abdullah bin Umar ketika sedang berada di Mina.

Ibn Hajar di kitab Fath al-Bari menukil suatu kisah sebagai berikut:

حَكَى الزُّبَيْرُ فِي الْأَنْسَابِ أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ لَمَّا كَتَبَ إِلَى الْحَجَّاجِ أَنْ لَا يُخَالِفَ ابْنَ عُمَرَ شَقَّ عَلَيْهِ فَأَمَرَ رَجُلًا مَعَهُ حَرْبَةٌ يُقَالُ إِنَّهَا كَانَتْ مَسْمُومَةً فَلَصِقَ ذَلِكَ الرَّجُلُ بِهِ فَأَمَرَّ الْحَرْبَةَ عَلَى قَدَمِهِ فَمَرِضَ مِنْهَا أَيَّامًا ثُمَّ مَاتَ ، وَذَلِكَ فِي سَنَةِ أَرْبَعٍ وَسَبْعِينَ

“Az-Zubair menghikayatkan di kitab al-Ansab bahwa tatkala ‘Abd al-Malik menulis surat kepada al-Hajjaj untuk tidak menyelisihi Ibn ‘Umar, al-Hajjaj pun merasa berat untuk melakukan itu.

Lalu dia memerintahkan salah seorang (dari pasukan) yang bersamanya untuk mengambil lembing –dikatakan bahwa lembing itu telah diberi racun. Lalu orang itu membubuhkan racun kepada lembing itu, lalu melemparkannya ke kaki Ibn ‘Umar. Setelah itu Ibn ‘Umar pun sakit beberapa hari karena racun itu, kemudian wafat. Itu terjadi pada tahun 74 Hijriyah.”

Imam al-Bukhari berkata di dalam Shahih nya:

حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ يَحْيَى أَبُو السُّكَيْنِ، قَالَ: حَدَّثَنَا المُحَارِبِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُوقَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ حِينَ أَصَابَهُ سِنَانُ الرُّمْحِ فِي أَخْمَصِ قَدَمِهِ، فَلَزِقَتْ قَدَمُهُ بِالرِّكَابِ، فَنَزَلْتُ، فَنَزَعْتُهَا وَذَلِكَ بِمِنًى، فَبَلَغَ الحَجَّاجَ فَجَعَلَ يَعُودُهُ، فَقَالَ الحَجَّاجُ: لَوْ نَعْلَمُ مَنْ أَصَابَكَ، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: «أَنْتَ أَصَبْتَنِي» قَالَ: وَكَيْفَ؟ قَالَ: «حَمَلْتَ السِّلاَحَ فِي يَوْمٍ لَمْ يَكُنْ يُحْمَلُ فِيهِ، وَأَدْخَلْتَ السِّلاَحَ الحَرَمَ وَلَمْ يَكُنِ السِّلاَحُ يُدْخَلُ الحَرَمَ

Telah bercerita kepada kami Zakariya’ bin Yahya Abu as-Sukain, dia berkata: telah bercerita kepada kami al-Muharibi, dia berkata: telah bercerita kepada kami Muhammad bin Suqah, dari Sa’id bin Jubair, dia berkata:

Aku tengah bersama Ibn ‘Umar tatkala sebilah sinan (mata lembing) mengenai lekuk telapak kakinya sampai-sampai kakinya itu menempel pada sanggurdi hewan tunggangannya. Aku pun turun dari tungganganku, lalu mencabutnya (yakni mencabut potongan besi mata lembing itu dari kakinya –pent). Peristiwa itu terjadi di Mina. Kemudian sampailah kabar tersebut ke telinga al-Hajjaj (bin Yusuf ats-Tsaqafi) sehingga dia pun menjenguk Ibn ‘Umar.

Al-Hajjaj berkata, “Seandainya saja kami tahu orang yang melukaimu?” Lalu Ibn ‘Umar berkata, “Kaulah yang melukaiku!” Al-Hajjaj berkata, “Bagaimana bisa?”

Ibn ‘Umar berkata, “Kau (memerintahkan pasukanmu) untuk membawa senjata di hari yang tidak diperbolehkan untuk membawa senjata. Kau juga memasukkan senjata ke tanah haram (Mekkah), padahal tidaklah diperbolehkan membawa masuk senjata ke tanah haram.” [HR. Bukhari]

Pada kisah di atas kami memiliki ada sedikit catatan mengenai penyebutan tahun “74 H” yang dinukil Ibnu Hajar.

Sepertinya yang benar haji yang dipimpin Hajjaj itu dilakukan pada 73 H, dan kemudian Ibnu Umar terkena racun yang dioleskan di mata lembing pada saat haji itu juga.

Racun itu bereaksi secara perlahan, hingga Abdullah bin Umar meninggal karena racun itu pada 74 H, setahun setelahnya. Argumentasi ini kami sebutkan, karena dalam Tarikh Khulafa’ oleh Imam As Suyuthy dikatakan bahwa peristiwa tertikam lembing racun itu terjadi pada 73 H. Walloohu A’lam.

74 H
====
Hajjaj sebagai penguasa kota Madinah :

Imam As Suyuthy berkata dalam Tarikh Khulafa’ nya, bahwa Hajjaj pergi ke Madinah pada tahun 74 H. Dia melakukan kejahatan kepada penduduk Madinah dengan cara melakukan penghinaan terhadap beberapa orang sahabat yang masih hidup.

Hajjaj bin Yusuf memberikan tanda di bagian tangan dan leher mereka sebagai bentuk penghinaan. Sahabat-sahabat Rasulullah yang diberikan penghinaan itu adalah seperti Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan Sahl bin Sa’ad As Sa’di.

Dan perlu untuk diberikan perhatian penting, walau sahabat Anas bin Malik diperlakukan seperti itu, beliau tetap sabar dan teguh memegang Sunnah. Di kemudian hari ketika banyak orang mengeluhkan perlakuan Hajjaj kepada Anas bin Malik, beliau berkata :

عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِىٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الْحَجَّاجِ فَقَالَ « اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِى بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ » . سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ – صلى الله عليه وسلم –

Dari Az Zubair bin ‘Adiy, ia berkata, “Kami pernah mendatangi Anas bin Malik. Kami mengadukan tentang (kekejaman) Al Hajjaj pada beliau.

Anas pun mengatakan, “Sabarlah, karena tidaklah datang suatu zaman melainkan keadaan setelahnya lebih jelek dari sebelumnya sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian. Aku mendengar wasiat ini dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 7068).

Anas bin Malik benar-benar berpegang kepada sunnah Rasulullah itu, dan mau untuk sholat berjamaah di belakang Hajjaj ketika Hajjaj sebagai penguasa bertindak sebagai Imam sholat.

Ibnu ‘Umar (sebelum beliau meninggal karena racun) shalat di belakang Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi demikian pula Anas bin Malik shalat di belakangnya [Al Bukhari, lihat Syarah At Thahawiyah:374]

75 H hingga 95 H
=============
Hajjaj sebagai Gubernur Iraq, seluruh masyriq (negeri-negeri timur), dan negeri di seberangnya :

Pada tahun 75 H ini Hajjaj diangkat sebagai Gubernur Iraq sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya. Jabatan ini dipegang selama 20 tahun, dengan kemudian ditambahkan seluruh masyriq (negeri-negeri timur) dan negeri di seberangnya, hingga akhir hayat Hajjaj pada tahun 95 H.

Selama 20 tahun pemerintahan Hajjaj sebagai Gubernur (75 H hingga 95 H), terutama ketika mengatur masalah Iraq, dia memerintah dengan sangat kejam. Pada saat inilah terjadi pemberontakan Abdurrahman bin Asy’ats, yang sebelumnya dia adalah panglima dari Gubernur Hajjaj itu sendiri. Peristiwa ini terjadi pada tahun 82 H, setelah 7 tahun Hajjaj memerintah Iraq dan banyak melakukan penaklukan.

Yang mana pada pemberontakan ini, Ibnul Asy’ats mendapatkan dukungan dari Sa’id bin Jubair ulama dari kalangan Tabi’in atas dasar ijtihad Sa’id bin Jubair. Yakni setelah Sa’id bin Jubair menilai kekuatan militer yang dimiliki Ibnul Asy’ats sebagai mantan panglima Hajjaj, dan besarnya kedzoliman yang makin hari makin kejam dilakukan Hajjaj.

Sikap Hajjaj yang benar-benar dzolim ini tampaknya menghilangkan kesabaran Said bin Jubair, sehingga beliau lupa akan sunnah Rasulullah untuk bersabar dan tidak melepaskan ketaatan kepada penguasa yang dzolim. Hingga beliau tergelincir, khilaf, dan melakukan ijtihad yang salah.

Jika tokoh sahabat yang lebih utama seperti Aisyah, Tholhah, Zubair, Amru bin Al-’Ash, dan Muawiyah bin Abi Sufyan juga pernah tergelincir dan melakukan ijtihad yang salah hingga berperang dengan Kholifah Ali bin Abi Tholib. Maka hal yang serupa bukan tidak mungkin terjadi dan menggelincirkan seorang tokoh Tabi’in Sa’id bin Jubair, hingga beliau memerangi Gubernur Hajjaj.

Walloohu A’lam.

Di sisi lain kita juga tidak mengingkari bahwa Hajjaj juga memiliki jasa-jasa bagi ummat Islam. Seperti meredam pemberontakan Khowarij, melakukan penaklukan-penaklukan dan memperluas kekuasaan wilayah Islam di mana-mana, dan membuat kawasan Iraq stabil dengan tangan besinya.

Bahkan Hajjaj sebenarnya juga berjasa dalam pemberian tambahan tanda baca bahasa Arab, terutama yang untuk dipergunakan di dalam penulisan Al-Qur’an dan untuk mempermudah membacanya.

Yakni dengan memberikan penambahan tanda titik pada huruf-huruf yang sama bentuknya, sehingga mudah untuk membedakannya. Seperti huruf Ba’ dan Ta’, Dal dan Dzal, dan seterusnya. Hajjaj meneruskan usaha yang pernah dirintis oleh Abul Aswad Ad Duali dan menyempurnakannya, atas perintah Kholifah Abdul Malik bin Marwan. Hajjaj dalam hal ini menggunakan kekuasaannya untuk berkolaborasi dengan Nashr bin ‘Ashim dan Yahya bin Ya’mur (keduanya adalah murid dari Abul Aswad Ad Duali), untuk menyelesaikan project yang abadi hasilnya hingga sekarang ini.

Jika Hajjaj benar-benar ikhlash dalam khidmatnya kepada Islam dan bahasa Arab, terutama kepada Al Qur’an. Maka setiap kali kita membaca Al Qur’an yang ada huruf titik pembedaan huruf Arab, Hajjaj bisa ikut mendapatkan pahala dari bacaan Al Qur’an kita.

Dalam masa 20 tahun ini, Hajjaj melewati 2 masa kekholifahan bani Ummayah. Yakni :
1. Kholifah Abdul Malik bin Marwan
2. Kholifah Al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan

Hajjaj tidak menemui zaman Kholifah Sulaiman bin Abdul Malik yang diangkat pada tahun 96 H, yang merupakan saudara dari Kholifah Al-Walid bin Abdul Malik karena Hajjaj meninggal pada tahun 95 H. Dan juga tidak menemui zaman Kholifah Umar bin Abdul Aziz, yang menjabat pada masa setelah Kholifah Sulaiman bin Abdul Malik.

Akan tetapi Umar bin Abdul Aziz, selaku keluarga bangsawan dari bani Ummayah dan yang pernah menjabat berbagai jabatan pemerintahan sebelum akhirnya menjadi Kholifah. Mengetahui perihal Hajjaj dan mencela beliau dengan perkataan “musuh Allah”. Umar bin Abdul Aziz berkata,

“Aku tidak sedikitpun merasa iri hati (dengki) terhadap Al Hajjaj si musuh Allah itu, melainkan terhadap sikapnya yang cinta kepada Al Qur’an dan sikap pemurahnya terhadap ahlul Qur’an, serta ucapannya sebelum wafat, “Ya Allah ampunilah aku, sesungguhnya manusia menyangka bahwa Engkau tidak bertindak.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/158)

Umar bin Abdul Aziz juga berkata,
“Kalau sekiranya setiap umat datang dengan para penjahatanya manakala kita pula datang dengan membawa Al Hajjaj, niscaya kita akan mengalahkan semua penjahat tersebut.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 6/267, 9/158)

***
Untuk lebih menjelaskan kabar mengenai kebengisan dan kekejaman Hajjaj, maka berikut kami turunkan qoul para ulama mengenai kedzoliman Hajjaj.

Imam adz-Dzahabi berkata di kitab Siyar A’lam an-Nubala’ sebagai berikut:

أَهْلَكَهُ اللَّهُ فِي رَمَضَانَ سَنَةَ خَمْسٍ وَتِسْعِينَ. كَهْلًا، وَكَانَ ظَلُومًا، جَبَّارًا، نَاصِبِيًّا، خَبِيثًا، سَفَّاكًا لِلدِّمَاءِ، وَكَانَ ذَا شَجَاعَةٍ وَإِقْدَامٍ وَمَكْرٍ وَدَهَاءٍ، وَفَصَاحَةٍ وَبَلَاغَةٍ، وَتَعْظِيمٍ لِلْقُرْآنِ. قَدْ سُقْتُ مِنْ سُوءِ سِيرَتِهِ فِي تَارِيخِي الْكَبِيرِ، وَحِصَارَهُ لِابْنِ الزُّبَيْرِ بِالْكَعْبَةِ، وَرَمْيَهُ إِيَّاهَا بِالْمَنْجَنِيقِ، وَإِذْلَالَهُ لِأَهْلِ الْحَرَمَيْنِ، ثُمَّ وِلَايَتَهُ عَلَى الْعِرَاقِ وَالْمَشْرِقِ كُلِّهِ عِشْرِينَ سَنَةً ، وَحُرُوبَ ابْنِ الْأَشْعَثِ لَه، وَتَأْخِيرَهُ لِلصَّلَوَاتِ إِلَى أَنِ اسْتَأْصَلَهُ اللَّهُ .فَنَسُبُّهُ وَلَا نُحِبُّهُ، بَلْ نُبْغِضُهُ فِي اللَّهِ; فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ أَوْثَقِ عُرَى الْإِيمَانِ. وَلَهُ حَسَنَاتٌ مَغْمُورَةٌ فِي بَحْرِ ذُنُوبِهِ، وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ، وَلَهُ تَوْحِيدٌ فِي الْجُمْلَةِ، وَنُظَرَاءُ مِنْ ظَلَمَةِ الْجَبَابِرَةِ وَالْأُمَرَاءِ

“Allah membinasakan al-Hajjaj pada bulan Ramadhan tahun 95 Hijriyah dalam keadaan tua renta. Dia seorang yang sangat zalim lagi bengis, seorang nashibi (membenci Ahl al-Bait), seorang yang kejam lagi penumpah darah. Dia seorang berjiwa satria lagi berani, penuh tipu daya lagi cerdik. Dia seorang yang fasih, unggul dalam bahasa, juga mengangungkan al-Quran.

Aku (Imam adz-Dzahabi) telah memuat sejarah hidupnya yang buruk di dalam kitabku, Tarikh al-Kabir, mengenai pengepungannya terhadap Ibn az-Zubair di Ka’bah, juga perbuatannya melempari Ka’bah dengan manjaniq (alat pelontar), penghinaannya terhadap penduduk dua tanah haram dan pengambilalihan negeri Irak dan wilayah Timur. Semua itu dilakukannya dalam rentang waktu dua puluh tahun.

Selain itu, peperangannya dengan Ibn al-‘Asy’ats dan sikapnya dalam menunda-nunda shalat hingga Allah membinasakannya. Oleh karena itu, kami mencercanya dan tidak mencintainya. Bahkan kami membencinya karena Allah, karena sesungguhnya hal itu (yakni al-Wala wa al-Bara’ –pent) termasuk ikatan keimanan yang terkukuh. Al-Hajjaj memiliki kebaikan-kebaikan yang tenggelam dalam samudera dosanya -sedangkan perkaranya kembali kepada Allah, dan secara umum dia masih memiliki tauhid. Banyak lagi yang sebanding dengannya dari kalangan para pemimpin yang tiran.”

Ibnu Katsir berkata mengenai Hajjaj:

“Diriwayatkan kepada kami dari beliau bahwa beliau meninggalkan hal-hal yang memabukkan, banyak membaca Al Qur’an, menjauhi larangan-larangan, dan tidak dikenali sebagai orang yang pernah terjerumus dalam urusan kemaluan, walaupun dia terlalu berani dalam hal menumpahkan darah.

Maka Allah Ta’ala-lah yang lebih mengetahui kebenaran dan hakikat-hakikat segala urusan serta rahasia-rahasianya, serta hal-hal yang tersembunyi di dalam dada.” [Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/153]

Di dalam Sunan At Tirmidzi disebutkan riwayat bahwa Hisyam bin Hassan berkata:

“Mereka menghitung jumlah manusia yang dibunuh oleh Al Hajjaj secara zhalim (dibunuh dengan cara tidak diberi makan dan minum), maka jumlahnya mencapai sebanyak 120.000 orang manusia.” [Sunan At Tirmidzi, no. 2220. Dinilai hasan oleh At Tirmidzi. Lihat juga Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzib At Tahdzib, 2/211]

Al Ashma’i rahimahullah berkata:

“Di suatu pagi, Sulaiman bin ‘Abdul Malik membebaskan 81.000 orang tawanan, setelah Al Hajjaj (selepas kematiannya), penjara-penjara diperiksa lalu mereka dapati ada 33.000 orang yang belum dilaksanakan atas mereka pemutusan hukum dan tidak juga penyaliban.” [Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/156]

Bahkan ketika Hajjaj bin Yusuf meninggal dunia, para Ulama Salaf meluapkan kegembiraannya.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Lebih dari seorang yang meriwayatkan bahwa Al Hasan (Al Bashri) ketika dikabarkan dengan berita gembira mengenai kematian Al Hajjaj, beliau langsung melakukan sujud syukur kepada Allah Ta’ala yang mana sebelumnya beliau bersembunyi, maka setelah itu beliau menonjolkan diri. Lalu beliau berdoa: “Ya Allah, matikanlah dia dan hilangkanlah sunnahnya (kebiasaan-kebiasaannya) dari diri kami.”

Hammad bin Sulaiman berkata, “Apabila aku mengkhabarkan kepada Ibrahim An Nakha’i tentang kematian Al Hajjaj, beliau pun menangis karena gembira.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/159)

***
Setelah melihat qoul dari para Ulama mengenai sosok Hajjaj bin Yusuf, maka perlu juga kami jabarkan sikap para Ulama Salaf terhadap Hajjaj, latar belakang kenapa muncul “bencana” yang dibawa sosok bernama Hajjaj yang berasal dari Tsaqif itu, dan nasehat mereka mengenai Hajjaj.

Sebelumnya kami sudah sebutkan sikap, kisah, dan perkataan dari Abdullah bin Umar dan Anas bin Malik, maka berikut akan sebutkan perkataan sahabat dan ulama yang lain.

Sebagian ulama menganggap Hajjaj itu adalah akibat dari do’a yang dipanjatkan oleh Ali bin Abi Tholib untuk penduduk Iraq, yang mana mereka telah banyak mengkhianati dan mendzolimi Ali bin Abi Tholib selama beliau menjadi Kholifah dan berinteraksi dengan mereka.

Celaan Ali bin Abi Tholib terhadap penduduk Iraq, terutama Kufah, juga sudah pernah kami sebutkan dalam tulisan kami ketiga mengenai nasehat para sahabat untuk melarang Husain bin Abi Tholib agar tidak pergi ke Kufah.

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata (berdoa):

“Ya Allah, aku telah memberi mereka amanah tetapi mereka mengkhianatiku, aku telah menasihati mereka tetapi mereka curang padaku. Maka kuasakanlah atas mereka seorang pemuda Tsaqif yang angkuh lagi sombong, yang memakan kesejahteraannya, yang memakai kulitnya, dan menerapkan hukum-hukum jahiliyyah atas mereka.”

Al Hasan berkata, “Pada ketika itu Al Hajjaj belum lahir.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/152. Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, 12/169)

Diriwayatkan juga oleh Mu’tamir bin Sulaiman, bahwa ‘Ali berkata:

“Pemuda yang angkuh, Amiir (pemimpin) dua kota yang memakai kulitnya dan memakan kesejahteraannya, membunuhi para tokoh penduduknya, menimbulkan perpecahan yang banyak, banyak menimbulkan kegelisahan, dan Allah menguasakannya ke atas kaumnya.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/152. Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, 12/169)

Umar bin Khoththob juga pernah menyebutkan mengenai Hajjaj, yakni sebagai orang dari Tsaqif (Maka dari itu Hajjaj dikenal dengan nama Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi, sebagai nama nisbat daerah Tsaqif).

Ibnu Katsir dan Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari jalan Ya’qub bin Sufyan (berkenaan apa yang pernah berlaku ketika zaman pemerintahan ‘Umar):

“Seorang lelaki datang kepada ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu memberitahunya bahwa warga ‘Iraq melempari wakil pemimpin (gubernur) mereka, maka ‘Umar pun keluar (untuk shalat) dalam keadaan marah, lalu beliau mengimami kami suatu shalat, lalu beliau lupa di dalam shalatnya sehingga orang-orang (para makmum) mengatakan, “Subhanallah, Subhanallah…”

Setelah salam, ‘Umar pun menghadap kepada para makmum lalu berkata, “Siapakah di sini dari kalangan penduduk Syam?”

Lalu berdirilah seorang lelaki, kemudian berdiri juga lelaki yang lainnya, kemudian aku (perawi Ya’qub bin Sufyan) juga berdiri sebagai orang ketiga atau keempat. Lalu ‘Umar berkata:

“Wahai warga Syam, bersiap-siaplah kalian untuk menghadapi penduduk ‘Iraq. Karena Syaitan telah bertelur di tengah-tengah mereka dan menebarkan anak-anaknya. Ya Allah, sesungguhnya mereka telah menyamarkan diri mereka, maka samarkanlah atas mereka, dan segeralah ke atas mereka dengan anak Tsaqif yang memimpin (berhukum) dengan hukum jahiliyyah. Tidak akan diterima kebaikan dari orang baik mereka, dan tidak akan dimaafkan dari orang buruk mereka.”

Ibnu Katsir berkata, “Kami juga telah meriwayatkan di dalam kitab Musnad ‘Umar bin Al Khaththab, dari jalan Abu Azabah Al Himshi dari ‘Umar yang semisal dengannya.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/151-152)

Apa yang diketahui oleh Umar bin Khoththob, dan apa yang didoakan oleh Ali bin Abi Tholib mengenai orang dari Tsaqif ini, sebenarnya tidak lepas dari apa yang pernah dikabarkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Asma’ binti Abu Bakar, ibu dari Abdullah bin Zubair, ketika berhadapan dengan Hajjaj Ats Tsaqofi.

Asma’ binti Abu Bakar berkata :
“Rasulullah pernah memberitahu kami bahwa di Tsaqif nanti ada seorang pendusta dan seorang pemusnah. Si pendusta itu kami telah mengenalinya (yakni Al Mukhtar bin Abi ‘Ubaid Ats Tsaqafi sang Nabi Palsu, yang diberantas oleh Kholifah Abdullah bin Zubair).

Adapun si pemusnah, maka aku tidak kenal yang lain kecuali engkau.” [HR. Muslim]

Ibnu Taimiyah mengutip perkataan Al Hasan Al Basri dan Thalq bin Habib,

“Al Hasan Al Bashri pernah berkata: “Sesungguhnya kemunculan Al Hajjaj adalah disebabkan dari azab Allah, maka janganlah kamu melawan azab Allah dengan tangan-tangan kamu. Akan tetapi wajib bagi kamu untuk tunduk dan memohon dengan merendah diri karena sesungguhnya Allah telah berfirman :

وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (Surah Al Mukminun, 23: 76)

Thalq bin Habib berkata: “Lindungilah dirimu dari fitnah dengan ketaqwaan.” Maka dikatakan kepadanya, “beritahukan kepada kami apa itu ketaqwaan?”

Beliau berkata, “Yaitu engkau beramal dengan ketaatan kepada Allah dengan cahaya (petunjuk) dari Allah dengan berharap rahmat Allah. Dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan azab Allah.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Abi Ad Dunya).” [Disebutkan dalam Minhajus Sunnah An Nabawiyyah, 4/527-531]

Inti nasehat para Ulama Salaf adalah menganggap Hajjaj sebagai adzab atau cobaan karena dosa dan kesalahan telah mereka lakukan sendiri. Mereka menyuruh agar bersabar, memperbaiki diri, dan berdo’a kepada Allah sebagai solusi dalam menghadapi Hajjaj. Serta menghasung agar berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah terhadap pemimpin yang dzolim, dan tidak memberontak.

***
Sekarang mari kita beralih ke Abdurrahman bin Al Asy’ats, atau yang lebih dikenal Ibnul Asy’ats.

Ibnul Asy’ats adalah panglima pasukan dari gubernur Hajjaj Ats Tsaqofi. Sebelumnya dia sering berperang atas perintah Hajjaj untuk menaklukkan kawasan-kawasan baru, guna memperluas kekuasaan Islam.

Suatu ketika Hajjaj mengutus Ibnul Asy’ats bersama pasukannya untuk menaklukkan kota Ratbil di Turki, di belakang daerah yang bernama Sajistan.

Maka berperanglah panglima yang tangguh tersebut dengan membawa pasukan besarnya dan berhasil menguasai sebagian besar wilayah negeri tersebut. Termasuk merebut beberapa benteng yang kokoh dan mendapatkan banyak ghanimah dari kota-kota dan desa-desa.

Kemudian Ibnul Asy’ats mengirim utusan untuk menghadap kepada Hajjaj agar menyampaikan kabar gembira dan sekaligus mengirimkan seperlima dan ghanimah untuk baitul maal milik kaum muslimin. Selain itu dia juga menulis surat, minta izin untuk sementara menghentikan perang. Agar dia dapat mempelajari seluk-beluk medan maupun keadaan dan kebiasaan penduduk negeri itu, sebelum memutuskan untuk menyerbu daerah pedalaman yang belum diketahui medannya oleh pasukan yang sebelumnya telah berhasil mendapatkan kejayaan.

Namun Hajjaj murka dengan masukan dari Abdurrahman bin Al Asy’ats tersebut. Dia menulis surat balasan berisi kecaman pedas, dan menuduh Ibnul Asy’ats sebagai pengecut serta mengancam akan memecatnya.

Begitu surat dari gubernurnya datang. Abdurrahman bin Al-Asy’ats segera mengumpulkan para komandan pasukan dan perwiranya. Beliau membaca surat tersebut untuk kemudian dimusyawarahkan bagaimana sikap yang harus mereka ambil.

Ternyata para komandan itu menyarankan untuk menentang perintah Hajjaj. Maka Ibnul Asy’ats berkata, “Apakah kalian bersedia berbaiat untuk berjihad kepadanya hingga Allah membersihkan bumi Irak dari kezalimannya?” akhirnya mereka melakukan baiat kepada panglimanya.

Tentara Abdurrahman bin Asy’ats bergerak menyerang pasukan Hajjaj dengan kebencian berkobar di dada. Terjadilah pertempuran dahsyat antara mereka dengan pasukan Ibnu Yusuf, dan pasukan Abdurrahman berhasil memenangkannya hingga mampu menguasai Sajistan serta sebagian besar wilayah Persia. Selanjutnya Abdurrahman berhasrat merebut Kufah dan Basrah dari kekuasaan Hajjaj bin Yusuf.

Perang terus berkecamuk antara dua kubu dan Ibnu Asy’ats terus menguasai kota demi kota. Hal itu membuat kemarahan Hajjaj memuncak ke ubun-ubun.

Bersamaan dengan itu, para wali di berbagai daerah telah menulis surat kepada Hajjaj yang melaporkan banyaknya ahli dzimmah yang memeluk Islam untuk melepaskan diri dari kewajiban membayar jizyah. Mereka telah meninggalkan pedesaan menuju ke kota-kota. Ini berarti makin menipisnya pendapatan negara.

Kemudian Hajjaj menulis surat kepada walinya di Basrah dan kota-kota lainnya untuk mengumpulkan para ahli dzimmah yang telah berpindah dan mengembalikan semuanya ke tempat asal masing-masing. Tak luput pula bagi mereka yang sudah lama tinggal di kota. Perintah Hajjaj segera dilaksanakan. Sejumlah besar ahli dzimmah tersebut dikumpulkan dan dijauhkan dari mata pencahariannya. Di pinggiran kota, mereka dikumpulkan beserta anak-istrinya dan dipaksa kembali ke desa-desa yang telah lama mereka tinggalkan.

Para wanita, anak-anak dan orang-orang tua menangis beruraian air mata. Mereka minta tolong sambil berseru, “Wahai umat Muhammad.. wahai umat Muhammad.” Mereka bingung hendak berbuat apa, tak tahu harus pergi kemana.

Kemudian, keluarlah para ulama dan ahli-ahli fikih Bashrah dan sekitarnya untuk menolong serta mengusahakan agar perintah tersebut dibatalkan. Namun hasilnya nihil, sehingga mereka pun ikut menangis karena tangisan mereka lalu berdoa agar Allah mengentaskan mereka dari musibah tersebut.

Lihat Shuwar min Hayatit Tabi’in tulisan Dr. Abdurrahman Ra’at Basya.

Berlatar belakang kekejian Hajjaj yang sudah terlalu melampaui batas ini, maka sebagian Ulama yang sebelumnya telah berusaha untuk sabar terhadap Hajjaj sesuai sunnah Rasulullah, akhirnya “tergoda” dengan ajakan Ibnul Asy’ats untuk berbaiat kepadanya, dan membela pemberontakannya.

Dengan berdasarkan Ijtihad dengan melihat kekuatan militer yang dimiliki Ibnul Asy’ats sebagai mantan panglima Hajjaj, yang ternyata telah terbukti mampu merebut banyak daerah kekuasaan Hajjaj. Sehingga besar kemungkinan untuk bisa memenangkan pemberontakan ini. Termasuk juga pertimbangan besarnya kedzoliman yang dilakukan oleh Hajjaj yang sudah melampaui batas. Maka Sa’id bin Jubair pun akhirnya juga ikut bergabung dan berbaiat kepada Ibnul Asy’ats.

Imam Adz Dzahabi menulis bahwa Abdurrahman bin Al Asy’ats berhasil mengumpulkan total 100 ribu orang lebih yang mendukungnya (terdiri dari pasukannya, rakyat, dan qurro’ (ahli baca qiroat Al Qur’an) yang mendukungnya), dan berhasil mengalahkan kubu Hajjaj berkali-kali. Sebagaimana yang dinukil oleh Syaikh Ahmad Farid dalam bukunya Min A’lamis Salaf, dengan merujuk kepada Siyar A’lamin Nubala’

***
Sebelumnya kami merasa perlu untuk menulis ulang perkataan Al Hasan Al Bashri, selaku tokoh Ulama di wilayah Iraq, Bashrah tepatnya, yang kokoh memegang Sunnah dan menolak ajakan Ibnul Asy’ats.

Syaikh Ahmad Farid dalam bukunya Min A’lamis Salaf mengumpulkan riwayat-riwayat perkataan Al Hasan Al Basri, dan yang berkenaan dengan dirinya terhadap fitnah Ibnul Asy’ats.

Dari Sulaiman bin Ali Ar Rab’i dia berkata, Tatkala terjadi fitnah (fitnah Ibnul Asy’ats) ketika memerangi Al Hajjaj bin Yusuf, maka Uqbah bin Abdul Ghafir, Abu Al-Jauza’, dan Abdullah bin Ghalib bersama sejawat mereka berangkat untuk menemui Al Hasan.

Ketika bertemu mereka berkata,
“Wahai Abu Sa’id (nama kunyah Al Hasan Al Bashri), apa pendapatmu memerangi diktaktor ini yang telah menumpahkan darah yang haram ditumpahkan, mengambil harta yang haram diambil, meninggalkan sholat, dan melakukan demikian dan demikian?” Mereka juga menyebutkan perbuatan Al Hajjaj yang lain.

Maka Al Hasan berkata,
“Aku berpendapat agar kalian tidak memeranginya. Karena jika ini adalah hukuman dari Allah, maka kalian tidak bisa menolak adzab Allah dengan pedang kalian. Jika ini adalah ujian, maka bersabarlah hingga Allah memberi keputusan, dan Dia-lah Sebaik-baik Pemberi Keputusan.”

Mereka pun pergi dari sisinya seraca berkata,”Apakah kita menaati orang kafir bukan Arab ini?” Sedangkan mereka adalah orang-orang Arab.

Mereka pun pergi bersama Ibnul Asy’ats. Akhirnya mereka terbunuh semua.

Dari Al Hasan dia berkata,
“Seandainya manusia bersabar ketika mendapatkan ujian dari pihak penguasa mereka, niscaya mereka akan dilapangkan dari kesempitan. Tetapi mereka cemas (tidak sabar, lalu bergegas) mengambil pedang mereka, maka mereka dipasrahkan kepadanya.

Demi Allah mereka tidak membawa satu kebaikan pun.”

Hasan Al Bashri adalah tokoh Ulama yang terpandang di Iraq secara umum,dan Bashrah secara khusus. Maka dari itulah Ibnul Asy’ats ingin mendapatkan dukungan dari beliau agar mendapatkan simpati rakyat. Ibnul Asy’ats pun akhirnya sampai memaksa agar Hasan Al Basri keluar bersamanya, hingga kemudian setelah beberapa lama Hasan Al Basri berhasil melarikan diri setelah “diculik” oleh Ibnul Asy’ats.

Dari Ayyub dia berkata, dikatakan kepada Ibnul Asy’ats “Jika engkau senang mereka terbunuh di sekitarmu sebagaimana mereka terbunuh di sekitar unta Aisyah, maka keluarkanlah Al Hasan.” Ibnul Asy’ats pun kemudian mengirimkan utusan kepada Al Hasan, dan memaksanya keluar.

Dari Ibnu Aun dia berkata, “Orang-orang menganggap lamban dalam peristiwa Ibnul Asy’ats, maka mereka bertanya ‘Apakah Syaikh ini (yakni Al Hasan Al Bashri) keluar?’”.
Ibnu Aun berkata “Aku melihatnya berada di dua jembatan dengan memakai surban hitam. Ketika mereka melalaikannya, maka dia (Al Hasan Al Bashri) menjatuhkan dirinya ke salah satu sungai hingga selamat dari mereka, dan hampir dia binasa pada hari itu.”

Dari Salim bin Abudz Dzayyal dia berkata,
“Seseorang bertanya kepada Al Hasan, sementara dia bersama sejumlah orang dari penduduk Syam mendengarkan, ’Wahai Abu Sa’id (nama kunyah Al Hasan), apa pendapatmu tentang berbagai fitnah, seperti fitnah Yazid bin Al-Muhallab dan Ibnul Asy’ats?’

Al Hasan menjawab, “Janganlah kamu bersama mereka (Yazid bin Al-Muhallab dan pendukungnya), atau bersama mereka (Ibnul Asy’ats dan pendukungnya).”

Seorang dari penduduk Syam berkata,”Tidak pula bersama Amirul Mukminin wahai Abu Sa’id?

Hasan Al Bashri pun marah dan mengisyaratkan dengan tangannya sebagai peringatan. Kemudian dia berkata, ”Tidak pula bersama Amirul Mukminin wahai Abu Sa’id? Ya, tidak pula bersama Amirul Mukminin.”

Dari Ibnu Aun dia berkata, “Muslim bin Yasar lebih tinggi kedudukannya bagi penduduk Bashrah daripada Al-Hasan, hingga dia terlibat bersama Ibnul Asy’ats. Setelah itu, Al Hasan lebih tinggi kedudukannya di sana, dan yang lainnya jatuh kedudukannya.”

***
Kemudian terjadilah perang besar yang disebut dengan Perang Dair Al-Jamajim, antara kubu Ibnul Asy’ats dengan 100.000 pendukungnya dengan kubu Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofy.

Di antara pasukan Ibnul Asy’ats itu terdapat pasukan Qurro’ yang terdiri dari para pembaca ahli qiroat Al Qur’an. Pasukan Qurro’ ini dipimpin oleh Kumail bin Ziyad an-Nakha’i. Sa’id bin Jubair tergabung dalam pasukan itu.

Peperangan ini terjadi pada tahun 82 H, sebagaimana keterangan Adz Dzahabi, pada masa Gubernur Hajjaj bin Yusuf masih berada di bawah Kholifah Abdul Malik bin Marwan.

Mula-mula kemenangan berpihak di pasukan Ibnu Asy-ats, tapi kemudian sedikit demi sedikit keseimbangan beralih. Pasukan Hajjaj berada di atas angin, sampai akhirnya kekuatan Ibnu Asy’ats dapat dihancurkan. Ibnu Asy’at melarikan diri dan pasukannya menyerah kepada Hajjaj.

Setelah itu, Hajjaj memerintahkan pegawainya untuk menyeru kepada para pemberontak agar memperbaharui baiatnya. Di antara mereka ada yang menaati dan sebagian kecil kabur menghilang, termasuk Sa’id bin Jubair.

***
Apa yang disebut sebagai fitnah Ibnul Asy’ats dimulai ketika terjadi peperangan, dan mencapai puncaknya setelah Hajjaj berhasil mengalahkan Ibnul Asy’ats dan menyuruh orang-orang yang menyerah untuk berbaiat lagi kepada Hajjaj. Kekejaman Hajjaj benar-benar ditunjukkan pada peristiwa ini.

Orang-orang yang menyerah ketika datang untuk berbaiat kepada Hajjaj, dikejutkan oleh syarat yang diberikan Hajjaj.

Hajjaj berkata kepada salah seorang di antara mereka, “Apakah engkau mengaku kafir karena telah membatalkan baiatmu kepada amirmu?

Jika mereka menjawab, “Ya” maka diterima baiatnya yang baru lalu dibebaskan. Namun jika menjawab, “Tidak” maka dibunuh.

Sebagian dari mereka yang lemah, tunduk, dan terpaksa berpura-pura mengatakan kafir dengan sangat terpaksa demi keselamatan dirinya. Sedangkan sebagian lagi tetap teguh dan tidak mengindahkan perintah tersebut, tetapi mereka harus membayar dengan lehernya.

Penjagalan orang yang teguh tidak mau mengatakan bahwa dirinya telah Kafir, berjumlah ribuan orang, sedangkan ribuan selainnya selamat setelah berpura-pura mengaku kafir karena terpaksa.

Inilah puncak dari fitnah Ibnul Asy’ats itu.

Dr. Abdurrahman Ra’at Basya dalam Shuwar min Hayatit Tabi’in, memberikan gambaran akan apa yang terjadi, dengan menurunkan contoh kisah dari tiga orang yang hendak berbaiat kepada Hajjaj.

Kisah pertama :

Ada orang tua dari suku Khat’am. Ketika terjadi huru-hara dan kekacauan antara dua kubu, dia tidak berpihak kepada siapapun dan tinggal di suatu tempat yang jauh di belakang sungai Eufrat. Kemudian dia digiring menghadap Hajjaj, lalu ditanya tentang dirinya.

Orang Tua: “Semenjak meletus pertempuran, aku mengasingkan diri ke tempat yang jauh sambil menunggu perang usai. Setelah Anda menang dan perang usai, maka aku datang kemari untuk melakukan baiat.”

Hajjaj: “Celakalah engkau! Engkau tinggal diam menjadi penonton dan tidak ikut membantu pemimpinmu, sekarang apakah engkau mengaku bahwa dirimu telah kafir?”

Orang tua: “Terkutuklah aku jika selama 80 tahun ini mengabdi kepada Allah, lalu mengaku sebagai kafir.”

Hajjaj: “Jika demikian aku akan membunuhmu.”

Orang tua: “Jika engkau membunuhku.. demi Allah, yang tersisa dari usiaku selama ini hanyalah seperti waktu kesabaran seekor keledai yang kehausan. Pagi hari dia minum dan sorenya mati. Aku memang sudah menantikan kematian itu siang dan malam hari. Oleh karena itu, lakukanlah semaumu.

Akhirnya orang tua itupun dipenggal lehernya. Tak seorang pun dari pengikut ataupun musuh Hajjaj yang hadir di situ yang tak memuji dan merasa iba terhadap syaikh tua tersebut serta memintakan rahmat untuknya.

Kisah kedua :

Hajjaj memanggil Kumail bin Ziyad an-Nakha’i pemimpin batalion qurrom untuk dihadapkan dan ditanya:

Hajjaj: “Apakah engkau mengakui dirimu telah kafir?”
Kamil: “Tidak. Demi Allah aku tidak akan mengakuinya.”
Hajjaj: “Bila demikian, aku akan membunuhmu.”
Kamil: “Silakan saja kalau engkau mau melakukannya. Kelak akan bertemu di sisi Allah dan setiap pembunuhan ada perhitungannya.”
Hajjaj: “Ketika itu, kesalahan berada di pihakmu.”
Kamil: “benar, bila engkau yang menjadi hakimnya di hari kiamat itu.”
Hajjaj: “Bunuh dia!”
Lalu beliaupun dibunuh…

Kisah Ketiga :

Dihadapkan seseorang yang sudah lama menjadi burnonan Hajjaj karena dianggap menghinanya.

Hajjaj berkata, “Kurasa orang yang di hadapanku ini mustahil mengakui dirinya kafir.”

Namun orang itu menjawab, “Janganlah tuan memojokkan aku dulu dan jangan pula berdusta tentang diriku. Sesungguhnya akulah orang yang paling kafir di muka bumi ini, lebih kafir daripada Fir’aun yang semena-mena itu.”

Hajjaj terpaksa membebaskannya, padahal ia sudah sangat ingin untuk membunuhnya.

***
Adapun Sa’id bin Jubair ketika pasukan Ibnul Asy’ats kalah, beliau memilih kabur keluar dari Iraq. Hidup berpindah-pindah, dan selalu dalam persembunyian dari Hajjaj dan kaki tangannya.

Hingga kemudian Sa’id bin Jubair tinggal bersembunyi di sebuah desa di dekat Mekkah. Di situ Sa’id bin Jubair hidup dalam persembunyian selama 12 tahun. Mulanya Sa’id bin Jubair aman di situ, hingga datang Amir baru yang datang untuk menggantikan memimpin Makkah, yang bernama Khalid bin Abdullah al-Qasri. Khalid berasal dari bani Ummayah.

Adz Dzahabi berkata,”Dia lama bersembunyi. Karena para qurro’ memberontak terhadap Al Hajjaj pada 82 H, dan mereka tidak menangkap Sa’id kecuali pada 95 H, tahun dimana Allah mengambil Al Hajjaj.”

Lihat riwayat yang dikutip oleh Syaikh Ahmad Farid dalam Min A’lamis Salaf.

Para sahabat Sa’id bin Jubair menjadi gelisah dan khawatir karena mereka tahu tentang kekejaman wali baru itu. Mereka menduga bahwa wali baru tersebut pasti akan menangkap Sa’id bin Jubair.

Di antara mereka segera menemui Sa’id bin Jubair dan menasehatkan agar Sa’id bin Jubair kabur.

Dari Abu Hushain dia berkata, Aku melihat Sa’id di Makkah maka aku katakan,
“Seseungguhnya orang ini datang (yakni Khalid bin Abdullah Al Qasri, Amir Makkah yang baru), dan aku bukan pencegahnya menimpakan keburukan terhadapmu.”

Sa’id bin Jubair menjawab, “Demi Allah, sungguh aku telah melarikan diri hingga aku malu kepada Allah”.

Lihat riwayat yang dikutip oleh Syaikh Ahmad Farid dalam Min A’lamis Salaf.

Khalid Al Qasri sendiri, sang Amir Makkah yang baru, begitu mendapatkan informasi mengenai Sa’id bin Jubair, langsung menyuruh pasukannya untuk menangkap Sa’id.

Tentara Khalid mengepung rumah syaikh tersebut lalu menangkap dan mengikatnya di depan murid-murid dan para sahabatnya. Setelah itu mereka bersiap-siap untuk membawanya kepada Hajjaj. Sa’id menghadapi semua itu dengan tenang. Beliau menoleh kepada para sahabatnya dan berkata,

“Saya merasa akan terbunuh di tangan penguasa yang zalim itu. Sesungguhnya pada suatu malam aku pernah melakukan ibadah bersama dua orang teman. Kami merasakan manisnya ibadah dan doa kepada Allah, lalu kami bertiga memohon syahadah (mati syahid). Kedua kawan tersebut sudah mendapatkannya, tinggal aku yang masih menunggu.”

Setelah itu Said bin Jubair dibawa dari Mekkah menghadap ke Al Hajjaj di Iraq, dan terjadilah dialog nasehat haq di sisi penguasa yang cukup fenomenal di antara mereka berdua.

Hajjaj: “Siapa namamu?”

Sa’id: “Sa’id (bahagia) bin Jubair (perkasa).”

Hajjaj: “Yang benar engkau adalah Syaqi (celaka) bin Kasir (lumpuh).”

Sa’id: “Ibuku lebih mengetahui namaku daripada engkau.”

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang Muhammad?”

Sa’id: “Apakah yang kau maksud adalah Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Hajjaj: “Benar.”

Sa’id: “Manusia utama di antara keturunan Adam dan nabi yang terpilih. Yang terbaik di antara manusia yang hidup dan yang paling mulia di antara yang telah mati. Beliau telah mengemban risalah dan menyampaikan amanat, beliau telah menunaikan nasihat bagi Allah, kitab-Nya, bagi seluruh kaum muslimin secara umum dan khusus.”

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar?”

Sa’id: “Ash-Shiddiq, khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau wafat dengan terpuji dan hidup dengan bahagia. Beliau mengambil tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa merubah ataupun mengganti sedikitpun darinya.”

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang Umar?”

Sa’id: “Beliau adalah al-Faruq, dengannya Allah membedakan antara yang haq dengan yang batil. Beliau adalah manusia pilihan Allah dan rasul-Nya, beliau melaksanakan dan mengikuti jejak kedua pendahulunya, maka dia hidup terpuji dan mati sebagai syuhada.”

Hajjaj: “Bagaimana dengan Utsman?”

Sa’id: “Beliau yang membekali pasukan Usrah dan meringankan beban kaum muslimin dengan membeli sumur “Ruumah” dan membeli rumah untuk dirinya di Surga. Beliau adalah menantu Rasulullah atas dua orang putri beliau dan dinikahkan karena wahyu dari langit. Lalu terbunuh di tangan orang zalim.”

Hajjaj: “Bagaimana dengan Ali?”

Sa’id: “Beliau adalah Putra paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pemuda pertama yang memeluk Islam. Beliau adalah suami Fathimah radhiallahu ‘anha putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ayah dari Hasan dan Husein yang merupakan dua pemimpin pemuda ahli Surga.”

Hajjaj: “Khalifah yang mana dari Bani Umayah yang paling kau sukai?”

Sa’id: “Yang paling diridhai Pencipta mereka.”

Hajjaj: “Manakah yang paling diridhai Rabb-nya?”

Sa’id: “Ilmu tentang itu hanyalah diketahui oleh Yang Maha Mengetahui yang zahir dan yang tersembunyi.”

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang diriku?”

Sa’id: “Engkau lebih tahu tentang dirimu sendiri.”

Hajjaj: “Aku ingin mendengarkan pendapatmu.”

Sa’id: “Itu akan menyakitkan dan menjengkelkanmu.”

Hajjaj: “Aku harus tahu dan mendengarnya darimu.”

Sa’id: “Yang kuketahui, engkau telah melanggar Kitabullah, engkau mengutamakan hal-hal yang kelihatan hebat padahal justru membawamu ke arah kehancuran dan menjurumuskanmu ke neraka.”

Hajjaj: “Kalau begitu, demi Allah aku akan membunuhmu.”

Sa’id: “Bila demikian, maka engkau merusak duniaku dan aku merusak akhiratmu.”

Hajjaj: “Pilihlah bagi dirimu cara-cara kematian yang kau sukai.”

Sa’id: “Pilihlah sendiri wahai Hajjaj. Demi Allah, untuk setiap cara yang kau lakukan, Allah akan membalasmu dengan cara yang setimpal di akhirat nanti.”

Hajjaj: “Tidakkah engkau menginginkan ampunanku?”

Sa’id: “Ampunan itu hanyalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan engkau tak punya ampunan dan alasan lagi di hadapan-Nya.”
Memuncaklah kemarahan Hajjaj. Kepada algojonya diperintahkan: “Siapkan pedang dan alasnya!”

Sa’id tersenyum mendengarnya, sehingga bertanyalah Hajjaj,
Hajjaj: “Mengapa engkau tersenyum?”

Sa’id: “Aku takjub atas kecongkakanmu terhadap Allah dan kelapangan Allah terhadapmu.”

Hajjaj: “Bunuh dia sekarang!”

Sa’id: (Menghadap kiblat sambil membaca firman Allah Ta’ala):

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Al-An’am: 79)

Hajjaj: “Palingkan ia dari kiblat!”

Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala)

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah: 115)

Hajjaj: “Sungkurkan dia ke tanah!”

Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala)

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55)

Hajjaj: “Sembelihlah musuh Allah ini! Aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti dia.”

Sa’id: (Mengangkat kedua tangannya sambil berdoa), “Ya Allah jangan lagi Kau beri kesempatan ia melakukannya atas orang lain setelah aku.”

Tak lebih dari lima belas hari setelah wafatnya Sa’id bin Jubair, mendadak Hajjaj bin Yusuf terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya makin meningkat dan bertambah parah rasa sakitnya hingga keadaannya silih berganti antara pingsan dan siuman.

Tidurnya tak lagi nyenyak, sebentar-sebentar terbangun dengan ketakutan dan mengigau: “Ini Sa’id bin Jubair hendak menerkamku! Ini Sa’id bin Jubair berkata: “Mengapa engkau membunuhku?”

Dia menangis tersedu-sedu menyesali diri: “Apa yang telah aku perbuat atas Sa’id bin Jubair? Kembalikan Sa’id bin Jubair kepadaku!”

Kondisi itu terus berlangsung hingga dia meninggal. Setelah kematian Hajjaj, seorang kawannya pernah memimpikannya. Dalam mimpinya itu dia bertanya kepada Hajjaj: “Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perbuat terhadapmu setelah membunuh orang-orang itu, wahai Hajjaj?”

Dia menjawab, “Aku disiksa dengan siksaan yang setimpal atas setiap orang tersebut, tapi untuk kematian Sa’id bin Jubair aku disiksa 70 kali lipat.”

Lihat Shuwar Min Hayatit Tabi’in tulisan Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, dan Min A’laamis Salaf tulisan Syaikh Ahmad Farid

***
Dari semua latar belakang dan kisah yang telah kita sebutkan, tidak berlebihan jika kita katakan bahwa Sa’id bin Jubair telah melakukan ijtihad yang salah dan semoga Allah memberikan satu pahala atas ijtihad beliau yang salah itu.

Nampak bagi kita bahwa Ijtihad yang ditempuh oleh Sa’id bin Jubair terhadap Hajjaj tidak sejalan dengan sunnah Rasulullah. Tidak sejalan dengan contoh sikap para sahabat (Abdullah bin Umar dan Anas bin Malik) terhadap Hajjaj, sebagaimana yang telah kita sebutkan sebelumnya. Dan juga tidak sejalan dengan tabi’in lain, seperti Hasan Al Bashri yang juga telah kita sebutkan.

Dan beliau tampak menyesali ijtihad beliau dan ingin bertaubat dengan kesalahan beliau, dengan cara membiarkan beliau tertangkap. Karena jika benar beliau melegalkan dan menjadikan perlawanan dan pemberontakan sebagai manhajnya, maka tentu setelah diberitahukan info mengenai Kholid Al Qasri, Amir baru Mekkah yang kejam dan pro Hajjaj, beliau akan bersembunyi dan berpindah ke tempat lain,.

Tidak ada orang yang memiliki manhaj perlawanan dan pemberontakan terhadap pemerintah, mau begitu saja dengan mudahnya ditangkap oleh pemerintah. Apalagi jikalau dia sadar bahwa resiko dari tertangkap itu adalah dengan dibunuh.

Maka dari itu besar rasa huznudzon kita dan pemberian udzur kita, bahwa beliau menyesali ijtihad beliau yang salah dan bertaubat atasnya.

Point penting lainnya yang wajib kita ingat, bahwa ternyata senjata terampuh untuk menyingkirkan Hajjaj adalah kesabaran dan do’a dari Sa’id bin Jubair itu sendiri. Bukan pemberontakan, mengangkat pedang, dan bergabung dengan Ibnul Asy’ats ternyata yang membunuh Hajjaj. Akan tetapi kesabaran dan do’a.

Ini terlihat dari terkabulkannya do’a Sa’id bin Jubair sebelum dibunuh oleh Hajjaj, yang mana beliau berdo’a sambil mengangkat tangan, “Ya Allah jangan lagi Kau beri kesempatan ia melakukannya atas orang lain setelah aku.”

Dan 15 hari sesudahnya, Hajjaj pun mulai sakit dan meninggal dunia setelah mengalami keadaan yang menyedihkan. Sikap sabar dan do’a ini sesuai dengan sunnah Rasulullah, contoh para sahabat, dan nasehat Al Hasan Al Basri.

Dialog fenomenal “face to face” langsung antara Sa’id bin Jubair dan Hajjaj Ats Tsaqofi, yang mana Sa’id mengatakan kebenaran kepada Hajjaj sebagai bentuk nasehat kepadanya. Telah memenuhi syarat jihad yang paling afdhol mengatakan kalimat yang haq di sisi penguasa secara langsung empat mata, sesuai dengan sabda Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Dan jihad yang paling afdhol ini bukan dengan memberontak dan mengangkat pedang kepada penguasa.

Sehingga terbunuhnya Sa’id bin Jubair oleh Hajjaj setelah itu, termasuk ke dalam kategori mati syahid Insya Allah.

***
Fitnah pemberontakan Ibnul Asy’ats ini dikemudian hari juga merupakan cikal bakal pemicu munculnya firqoh Murjiah yang sesat. Sebagaimana yang dijelaskan oleh para Ulama Salaf sebagai berikut,

Qatadah rahimahullah berkata :

إنما أحدث الارجاء بعد هزيمة ابن الاشعث

“Paham irja’ itu hanya muncul pertama kali setelah terjadinya fitnah Ibnul-Asy’ats” [As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, no. 644].

Yang dimaksud adalah irja’ yang berasal dari kata roja’ (berharap), yakni mereka hanya mengharapkan kebaikan dari pemberontakan yang mereka lakukan terhadap Hajjaj bersama dengan Ibnul Asy’ats. Sehingga kemungkaran, dosa, kedzoliman, dan pemberontakan yang mereka lakukan diharapkan dimaafkan dan diberikan udzur dengan berharap kepada rahmat Allah.

Dengan kata lain, “Toh yang mereka lakukan adalah kebaikan, walaupun dibungkus dengan kemaksiatan yang berupa pemberontakan dan penumpahan darah. Berikanlah udzur kepada saudaramu.”

Faham ini lama-kelamaan berkelanjutan sehingga menganggap bahwa apa yang dilakukan itu bukan dosa, dan tidak mempengaruhi keimanan menurut definisi Murjiah. Hingga murjiah pun akhirnya mengeluarkan amal dari iman.

Ajaran pemberontakan Ibnul Asy’ats ini juga dilanjutkan oleh firqoh Murjiah, sebagaimana yang dijelaskan Sufyan bin ‘Uyainah,

إن قول المرجئة يخرج إلى السيف.

“Sesungguhnya perkataan Muji’ah adalah keluar (ketaatan) menuju pedang” [As-Sunnah oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, no. 363].

Para Ulama lain juga menerangkan,
Telah berkata ‘Abdullah bin Thaahir rahimahullah mengenai Murji’ah :

يا أحمد إنكم تبغضون هؤلاء القوم جهلا، وأنا أبغضهم عن معرفة. أولا: إنهم لا يرون للسلطان طاعة الثاني: إنه ليس للإيمان عندهم قدر

“Wahai Ahmad, kamu membenci mereka (Murji’ah) tanpa didasari ilmu, sedangkan aku membenci mereka dengan dasar ilmu. Pertama, mereka (Murji’ah) tidak memandang taat kepada penguasa; dan yang kedua mereka tidak memandang bahwa qadar adalah bagian dari iman” [Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadits, hal. 68].

Murjiah berpandangan bahwa iman itu hanya di keyakinan dan lisan saja. Iman itu tidak bisa bertambah dengan amalan ketaatan kita, dan tidak bisa berkurang dengan kemaksiatan kita. Iman itu konstan. Oleh karena itu, walaupun kita telah melakukan dosa besar, ketidak taatan, dan kemaksiatan jenis apapun, hal itu tidak akan mempengaruhi keimanan kita sepanjang hati kita yakin dan kita telah mengucapkan keimanan kita dengan lisan kita.

Murji’ah membolehkan pemberontakan walaupun pemerintahnya tidak kafir. Kenapa? Karena pola pandang mereka bukan berasal dari apakah pemerintah itu kafir atau tidak. Tapi kepada apakah perbuatan pemberontakan dan pembunuhan itu mempengaruhi keimanan mereka atau tidak. Karena mereka memandang hal itu tidak akan mempengaruhi keimanan mereka, hal itu tidak akan membuat iman mereka turun atau naik.

Maka dari itu kita lihat pemberontakan Ibnul Asy’ats itu, sama sekali tidak didasarkan karena mereka mengkafirkan Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi. Walloohu A’lam

***
Dari segala uraian kita di atas, maka point penting yang harus kita ketahui bahwa Sa’id bin Jubair berhadapan dengan pemerintahan yang benar-benar sangat dzolim, hingga hilang kesabaran, dan lupa akan sunnah Rasulullah untuk bersabar akan hal ini. Yang mana beliau di kemudian hari ingat akan sunnah tersebut, dan bertaubat atas kesalahannya.

Maka dari itu wajib kita ber-huznudzon dan udzur kepada Sa’id bin Jubair atas ijtihad dan ketergelinciran beliau. Adapun wajib juga bagi kita untuk mengingkari orang-orang yang mengikuti ketergelinciran beliau dalam masalah ini.

Hanya orang yang dzolim dan salah dalam memahami manhaj, pengikut hawa nafsu dan kebid’ahan, yang menjadikan Sa’id bin Jubair sebagai tameng kesalahan mereka.

Sungguh orang orang yang menisbatkan “Perlawanan” dan Pemberontakan terhadap pemerintahan Islam yang dzolim, kepada kejadian fitnah, kesalahan Ijtihad, atau ketergelinciran yang terjadi pada sebagian Salaf, untuk meninggalkan sunnah Rasulullah yang jelas dan tegas dalam masalah ini.

Maka mereka sesungguhnya hanyalah pengikut hawa nafsu dan Ahlul fitnah. Mereka menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka menipu umat atas nama Salaf untuk berpaling dari manhaj Salaf itu sendiri

Syubhat “Perlawanan” dan Pemberontakan Kepada Pemerintah yang Dzolim Atas Nama Sejarah Fitnah yang menimpa sebagian Salaf – 4

Leave a comment

3. Dalam posisi pemerintahan yang sedang vakum, yang membolehkan untuk membaiat pemerintah baru karena tidak ada kejelasan suksesor penggantinya.

Sebagaimana yang terjadi kepada sahabat Abdullah bin Zubair

***
Sebelumnya harus kita terangkan bahwa sikap tidak berbai’at, dalam artian tidak mengangkat sumpah setia dalam hal yang ma’ruf kepada suatu pemerintahan Islam, secara kacamata sunnah adalah sikap yang tercela.

Ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim No. 1851, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 769, dari Muawiyah, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 14810, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 16389)

Maka dari itu sikap sebagian sahabat yang menolak, atau tidak mau untuk berbai’at, umumnya adalah sikap minoritas sahabat. Yang mana kita berhuznudzon mereka mempunyai suatu Ijtihad tersendiri, atau ada suatu udzur tersendiri.

Khusus pada topik kita, ada dua orang sahabat yang enggan untuk berbai’at kepada Yazid bin Muawiyah.

Yang pertama adalah Husain bin Ali bin Abi Tholib yang telah kita bahas sebelumnya. Dan yang kedua adalah Abdullah bin Zubair yang hendak kita bahas sekarang ini.

***
Abdullah bin Zubair memang tidak berbai’at kepada Yazid bin Muawiyah, dengan berdasarkan Ijtihad beliau sendiri, dan melarikan diri dari Madinah untuk berlindung ke Makkah.

Kekuasaan Kholifah tampaknya tidak bisa begitu represif di Makkah. Selain karena ada Ka’bah di situ, Allah subhaanahu wa ta’aala juga berfirman bahwa Makkah adalah Al balad Al Amiin (negeri yang aman).

وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ

“dan demi kota (Mekah) ini yang aman” (QS At Tiin : 3)

Demikianlah pandangan dan argumentasi kami mengenai kenapa Abdullah bin Zubair melarikan diri dari Madinah ke Mekkah, sehingga Kholifah dan utusannya tidak bisa memaksa beliau untuk bersedia membai’at Yazid bin Muawiyah.

Sedangkan di Madinah sendiri, polemik sejarah menyebutkan bahwa pada zaman Ali hendak dibaiat terdapat sebagian sahabat yang dipaksa untuk mau membaiat Ali. Ini telah kami terangkan pada tulisan yang kedua mengenai Ali bin Abi Tholib.

Buku buku sejarah memang tidak menyebutkan, sejauh yang kami tahu, argumentasi kenapa Abdullah bin Zubair lebih memilih Makkah sebagai tempat melarikan diri dan berlindung dari paksaan bai’at.

Dan sikap Abdullah bin Zubair ini juga diikuti oleh Husain bin Ali bin Abi Tholib, sebagaimana yang telah kami sebutkan pada tulisan kami yang ketiga.

Walloohu A’lam

***
Sepanjang masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah, Abdullah bin Zubair berlindung di Mekkah.

Adapun Husain, beliau tidak begitu lama berlindung di Makkah.

Selang beberapa waktu, Husain meninggalkan Makkah menuju Kufah di Iraq. Hingga terjadilah peristiwa di padang Karbala, sebagaimana yang telah kami sebutkan di tulisan ketiga.

***
Sekarang kita akan sedikit me-refresh kisah mengenai Husain, karena kisah beliau memiliki rangkaian dengan apa yang akan terjadi pada Abdullah bin Zubair.

Husain bin Ali mulai melakukan perjalanan dari Mekkah ke Kufah di Iraq, pada tahun 60 H.

Dan setelah menempuh perjalanan hampir setahun menuju Kufah di Iraq, pada 10 Muharom tahun 61 H bertepatan dengan hari ashuro, beliau akhirnya terbunuh secara dzolim sebagai syuhada .

Adapun Yazid bin Muawiyah memerintah pada tahun 60 H hingga tahun 64 H. Dan terbunuhnya Husain oleh gubernur Kufah Ubaidullah pada tahun 61 H, merupakan goncangan yang cukup keras bagi kekholifahan nya.

Goncangan ini terjadi karena Yazid adalah pimpinan tertinggi sebagai Kholifah. Walaupun bukan Yazid yang membunuh Husain, dan bukan pula yang menyuruh Ubaidullah untuk membunuhnya, namun dialah yang menunjuk Ubaidullah sebagai gubernur Kufah dan memerintahkan Ubaidullah untuk menghadang Husain agar tidak masuk Kufah.

Perlu diketahui, bahwa Yazid sebenarnya hanya menyuruh Ubaidullah bin Ziyad untuk menghalangi masuknya Husain ke Kufah. Dia tidak memerintahkan untuk membunuh Husain.

Maka dari itu Husain dihadang di padang Karbala, yang terletak di sebelah barat laut dari Kufah. Yang masih jauh dari Kufah, agar tidak bisa masuk Kufah.

Husain sendiri sebenarnya berbaik sangka terhadap Yazid, atas penghadangan yang dilakukan oleh Ubaidullah bin Ziyad. Terutama setelah mengetahui bahwa penduduk Kufah ternyata mengkhianatinya dan tidak mau membelanya.

Ini seperti yang terlihat dari perkataan Husain, “Biarkan aku pergi ke tempat Yazid (di Syam), kemudian aku taruh tanganku di atas tangannya (berbai’at).”

Ibnu Taimiyyah berkata dalam minhajus Sunnah, sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Utsman Al Khomis dalam Hiqbah minat Taarikh,

“Yazid bin Muawiyah tidak pernah memerintahkan pembunuhan terhadap Al Husain. Demikian menurut kesepakatan ulama ahli hadits. Akan tetapi, dia hanya memerintahkan Ibnu Ziyad supaya melarang Al Husain memasuki wilayah Iraq.

Saat berita terbunuhnya Al Husain terdengar oleh Yazid, dia menampakkan kesedihan yang mendalam atas peristiwa ini. Dia juga tidak pernah menawan satu pun perempuan dari keluarga Al Husain, tetapi sebaliknya dia menghormati keluarga Al Husain, membebaskan mereka sampai dia mengembalikan mereka ke negeri negeri mereka. ”

****
Peristiwa terbunuhnya Husain bin Ali secara dzolim oleh Gubernur Kufah Ubaidullah dan pengkhianatan penduduk Kufah, menimbulkan gejolak luar biasa di berbagai wilayah Islam. Terutama di Makkah dan Madinah.

Imam As Suyuthi dalam Tarikh Khulafa’ menyebutkan bahwa setelah mendengar terbunuhnya Husain dan kabar bahwa Yazid banyak melakukan kemaksiatan, penduduk Madinah dan Makkah ingin melepaskan diri dari kekuasaan Kholifah Yazid bin Muawiyah. Mereka ingin membatalkan bai’at mereka kepada Yazid.

Menanggapi kencang nya keinginan untuk memisahkan diri itu, Yazid akhirnya mengirim pasukan dari Syam untuk memerangi penduduk Madinah pada tahun 63 H. Dan untuk memerangi penduduk Makkah pada tahun 64 H.

Sekarang mari kita fokus dulu mengenai penduduk Madinah.

Yazid sendiri sebenarnya telah mendapatkan laporan mengenai gejala itu dari Gubernurnya yang berada di Madinah, yakni ‘Utsman bin Muhammad bin Abu Sufyan.

Dari hal itu, maka ‘Utsman bin Muhammad bin Abu Sufyan mencoba melakukan “pendekatan” ke penduduk Madinah dengan cara mengirimkan perwakilan penduduk Madinah yang terdiri dari kalangan yang terpandang, untuk bertemu dengan Kholifah Yazid yang berada di Syam.

Hal ini dilakukan dalam rangka untuk melunakkan hati penduduk para penduduk Madinah, dan untuk menumbuhkan rasa cinta antara mereka dengan khalifahnya.

Ketika telah sampai di Damaskus – Syam, Yazid menjamu dan memuliakan mereka dengan sangat. Akan tetapi -amat disayangkan- utusan perwakilan penduduk Madinah itu tetap menaruh kedengkian terhadap Yazid.

Setelah kembali ke Madinah, yang mereka tampakkan adalah celaan dan ejekan. Setelah itu mereka menampakkan sikap mereka berupa pengguguran baiat. Apa yang mereka lakukan itu diikuti oleh sebagian besar penduduk Madinah, dan ‘Abdullah bin Hanzhalah Al-Anshari ditunjuk sebagai pimpinannya.

Ketika Yazid mengetahui sikap mereka, maka dia mengutus An-Nu’man bin Basyir Al-Anshari ke Madinah dalam rangka untuk memberikan nasehat kepada mereka. Sesampai An Nu’man bin Basyir di Madinah, beliau memerintahkan agar tetap taat kepada sang penguasa, dan beliau berkatan kepada mereka: “Kalian tidak akan mampu menghadapi kekuatan pasukan Syam.”

Akan tetapi nasehat yang beliau sampaikan tidak mendapatkan sambutan yang baik. Lalu An-Nu’man meninggalkan mereka.

`Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu juga memberikan nasehat kepada penduduk Madinah dan mengingkari pembatalan baiat yang mereka lakukan. Beliau juga mengingkari pemberontakan yang dilakukan terhadap khalifah dalam perkara yang sebenarnya tidak demikian adanya. Dan bahwasanya apa yang mereka lakukan menyelisihi aturan-aturan Islam. Kemudian Abdullah bin ‘Umar meninggalkan mereka dengan membawa keluarganya (menuju Makkah).

Dari hal ini, maka kita lihat bahwa Abdullah bin Umar selaku salah seorang Ulama dari kalangan sahabat mengingkari apa yang dilakukan oleh penduduk Madinah. Sehingga harus jujur kita katakan, bahwa apa yang mereka lakukan itu sebenarnya bertentangan dengan Syariat.

Bahkan terdapat juga riwayat bahwa sebagian penduduk Madinah yang membatalkan baiat itu, sampai melakukan pengepungan di rumah Marwan, terhadap orang-orang dari bani Ummayah (yang satu bani dengan Yazid) yang berada di Madinah. Oleh karena itu orang-orang bani Ummayah itu mengirimkan surat kepada Yazid untuk meminta bantuan.

Lihat Tarikh Daulah Umawiyyah, yang ditulis oleh Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, Riyadh Saudi Arabia.

***
Mengetahui perkembangan situasi di Madinah, maka yang pertama kali didatangkan pasukan dan diserang adalah kota Madinah. Yazid memerintahkan Muslim bin Uqbah, untuk menghalalkan kota suci Madinah itu diserang selama 3 hari.

Perang dan penghalalan yang terjadi di tanah suci Madinah itu berlokasi di Harrah (suatu tempat yang terletak di sebelah timur Madinah).

Maka terkenal lah apa yang disebut peristiwa Harrah atau perang Harrah di Madinah.

***
Akibat perang Harrah ini sejumlah sahabat Nabi terbunuh, dan kota Madinah dihancurkan.

Imam Suyuthi berkata dalam Tarikh Khulafa, bahwa orang yang meninggal karena peristiwa perang Harrah itu sebanyak 306 laki-laki dari kalangan Quraisy dan Anshor.

Selesai “menaklukkan” Madinah pada tahun 63 H, maka pasukan Syam yang diutus Yazid itu beralih menyerang Makkah pada tahun 64 H.

Muslim bin Uqbah yang ikut memimpin menyerang Madinah dalam perang Harrah, ternyata meninggal pada waktu perjalanan ke Makkah. Dan kemudian dia digantikan oleh Al Husain bin Numyr As Sakuni untuk menyerang Makkah.

***
Di Makkah pasukan Syam berhadapan dengan Abdullah bin Zubair dan pasukannya.

Pasukan Syam dalam penyerangan Makkah itu menggunakan manjaniq (alat pelempar bola api), sehingga lemparannya mengenai Ka’bah dan menyebabkan sebagian kiswah (kain penutup Ka’bah) terbakar. Atap Ka’bah juga ikut terbakar, demikian juga tanduk domba kurban Nabi Ibrahim yang zaman dulu masih ada dan diletakkan di atap Ka’bah.

Demikian perkataan Imam Suyuthi dalam Tarikh Khulafa.

Akan tetapi kitab lain menganalisa bahwa peristiwa terbakarnya Ka’bah itu terlalu dibesar-besarkan, dan banyak isu yang tidak benar.

Isu-isu yang disebarkan oleh Syi’ah Rafidhah berupa berita bahwa pasukan Yazid membakar Ka’bah dengan api adalah tidak benar. Akan tetapi yang benar adalah berasal dari api kecil yang menjalar ke Ka’bah hingga menyala tanpa disengaja.

Lihat Tarikh Daulah Umawiyyah, yang ditulis oleh Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, Riyadh Saudi Arabia.

***
Penyerangan Makkah itu dimulai pada bulan Safar tahun 64 H, dan peperangan itu bertahan sekitar 1 bulan lamanya hingga sampai bulan robiul awal.

Peperangan berhenti karena pasukan Syam mendapatkan kabar dari bahwa Yazid bin Muawiyah meninggal secara tiba-tiba. Dan kabar kematian Yazid terdengar pada waktu perang berlangsung.

Tidak jelas apa penyebab meninggalnya Yazid, Imam As Suyuthi dalam Tarikh Khulafa’ hanya berkata “Allah membinasakan Yazid pada bulan Robiul Awal tahun itu juga.”

Setelah itu maka pasukan Syam pun kembali ke Syam dengan kehinaan.

***
Yazid ikut menyertai dalam perang di Madinah dan Makkah ini, sebagaimana yang kita lihat dari deskripsi Imam Adz Dzahabi yang dikutip oleh As Suyuthi, yakni ketika Yazid melakukan kekejian terhadap penduduk Madinah dalam perang penaklukan Madinah selama 3 hari itu. Sehingga posisi Yazid berada jauh dari pusat ibukota Syam pada waktu itu.

Penaklukan Madinah hanya selama 3 hari itu juga membuktikan bahwa penduduk Madinah sebenarnya tidak bersiap untuk menghadapi perang, dan hanya berniat untuk tafarruq saja (memisahkan diri) bukan untuk memberontak dan melawan.

Kondisi ini berbeda dengan Mekkah yang sudah benar-benar bersiap diri untuk menghadapi peperangan, setelah mengetahui apa yang terjadi di Madinah.

Peristiwa meninggalnya Yazid ini otomatis membuat posisi pemerintahan dan kekholifahan vakum. Yang mana ini membolehkan untuk membaiat Kholifah baru bagi kaum muslimin untuk menggantikannya.

Adapun sampainya kabar meninggalnya Yazid ini sampainya lebih lambat ke Syam, karena harus mengirimkan kabar dari medan perang ke Syam yang jauh disana. Namun ini berbeda dengan Abdullah bin Zubair dan penduduk Makkah yang berhadapan langsung dengan Yazid dan pasukannya.

Zaman itu masih belum ada internet, telepon, dan sarana komunikasi canggih lainnya yang bisa mengabarkan meninggalnya Yazid ke Syam dengan seketika, agar mereka bisa langsung membaiat Kholifah penggantinya.

Singkat kata, ada jeda waktu yang membuat posisi kekholifahan vakum selama beberapa waktu. Dan hal ini dimanfaatkan oleh Abdullah bin Zubair dan penduduk Makkah beserta para ulama nya, untuk mengangkat dan membaiat Abdullah bin Zubair sebagai Kholifah yang baru.

Dan akhirnya terangkat lah Abdullah bin Zubair sebagai Kholifah baru yang sah secara syariat, menggantikan Yazid bin Muawiyah yang meninggal.

Imam As Suyuthi berkata dalam Tarikh Khulafa’,
“Setelah kematian Yazid, Abdullah bin Zubair mengangkat dirinya sebagai Khalifah. Sedangkan penduduk Syam membai’at Muawiyah anak Yazid. Dia (Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan) memerintah dalam tempo yang sangat singkat.”

***
Yazid meninggal di Mekkah dan sekitarnya.

Karena pada waktu pasukan Syam pimpinan Muslim bin Uqbah melakukan perjalanan dari Madinah menuju Makkah, Muslim bin Uqbah meninggal di perjalanan tersebut.

Kemudian dia digantikan oleh Al Husain bin Numyr As Sakuni untuk menyerang Makkah.

Proses penggantian ini tentu saja memerlukan otorisasi Yazid bin Muawiyah sebagai kholifah. Dan penggantian yang cepat ini membuktikan bahwa Yazid juga menyertai dalam penyerangan Makkah ini, sebagaimana dia juga menyertai pada waktu penyerangan di Madinah.

Mungkin tidak ikut terjun langsung, akan tetapi mengawasi dari kejauhan, sementara panglima dan pasukannya yang menyerang.

Di sisi lain kehadiran Kholifah khusus pada waktu penyerangan Madinah dan Makkah ini juga di rasa penting. Karena yang diserang ini adalah dua buah kota suci.

Pasukan Syam tentu juga merasa enggan menyerang kota suci, karena mereka juga Muslim, kecuali kalau tidak atas perintah Kholifah sembari sang Kholifah juga menyertai mereka dalam penyerangan itu.

Hal ini penting agar menghilangkan “beban” dosa dan merasa bersalah karena melanggar kehormatan dua buah kota suci itu dalam penyerangannnya.

Point yang terakhir, yang ikut meneriakkan bahwa Yazid meninggal di medan perang itu adalah Abdullah bin Zubair juga. Sebagaimana yang tercatat dalam Tarikh Khulafa’ oleh Imam As Suyuthi.

Sehingga ini membuktikan, bahwa kejadian meninggalnya Yazid itu mudah untuk diakses informasinya baik dari fihak tentara Syam ataupun pasukan Abdullah bin Zubair. Ini tidak lain karena Yazid sendiri juga menyertai pasukannya di dalam penyerangan Makkah itu.

***
Melihat dari itu, maka jelas bahwa Abdullah bin Zubair adalah kholifah yang legitimate dan syar’i. Masa-masa vakumnya pemerintahan berhasil dimanfaatkan dengan baik dan tidak melanggar syari’at.

Adapun mengenai Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan yang dibaiat oleh penduduk Syam paska wafatnya Yazid. Maka bisa difahami bahwa dia dibaiat, setelah Abdullah bin Zubair dibaiat oleh penduduk Makkah dan sekitarnya sebagai Kholifah.

Sehingga boleh dikatakan Abdullah bin Zubair lebih sah sebagai kholifah, karena dia lebih dahulu dibai’at. Atau bisa juga dikatakan terdapat dua kholifah dalam waktu yang sementara.

Kenapa dikatakan sementara?

Karena Muawiyah bin Yazid sendiri sebenarnya hanya memerintah dan menjadi Kholifah dalam waktu yang sangat pendek, yakni sekitar 40 hari dan ada pula yang mengatakan selama 2 bulan.

Muawiyah bin Yazid sebenarnya adalah seorang yang sholih, akan tetapi ketika dia diangkat menjadi Kholifah dia sebenarnya sudah menderita sakit. Dan sakitnya pun semakin bertambah-tambah hingga meninggal dunia.

Saat menjelang akan meninggal dunia, Muawiyah bin Yazid ditanya :
“Tidakkah kau akan menentukan siapa yang akan menjadi penggantimu?”

Muawiyah bin yazid menjawab :
“Saya belum pernah mencicipi kelezatan dan manisnya, lalu mengapa saya haru menanggung kegetirannya.”

Demikian yang tercatat dalam Tarikh Khulafa’ yang ditulis oleh Imam As Suyuthi.

Sehingga singkat kata Muawiyah bin Yazid sepertinya ingin menyerahkan kekholifahan kepada Abdullah bin Zubair seluruhnya, dan tidak ingin memberikan wasiat menunjuk siapa penggantinya.

***
Abdullah bin Zubair sendiri setelah dibaiat menjadi Kholifah di Makkah dan Yazid telah meninggal, maka hampir seluruh wilayah kekuasaan Islam tunduk dan taat menyerahkan bai’at kepada Abdullah bin Zubair. Yakni wilayah Hijaz, Yaman, Iraq, dan Khurosan semuanya berada di bawah kekuasaan Abdullah bin Zubair.

Semua berada di bawah kekuasaan Kholifah Abdullah bin Zubair, kecuali Syam dan Mesir yang tunduk kepada baiat yang diberikan kepada Muawiyah bin Yazid.

Dan setelah Muawiyah bin Yazid meninggal dunia dengan tanpa menunjuk siapa penggantinya, maka Syam dan Mesir pun akhirnya tunduk kepada Kholifah Abdullah bin Zubair.

Namun setelah itu, tidak beberapa lama, Marwan bin Hakam dari bani Ummayah pun ternyata memberontak dan berhasil menguasai Syam. Setelah menguasai Syam, lalu dia menguasai Mesir. Setelah berhasil memberontak kepada Abdullah bin Zubair dan menguasai Syam serta Mesir, maka tidak berapa lama Marwan bin Hakam pun kemudian meninggal. Dia pun kemudian digantikan oleh anaknya Abdul Malik bin Marwan.

Pada masa Abdul Malik bin Marwan ini, kekuasaannya semakin bertambah luas dan berhasil merebut wilayah-wilayah yang dikuasai Kholifah Abdullah bin Zubair. Hingga Abdullah bin Zubair sampai mundur ke Mekkah, dan hanya tinggal Makkah sajalah wilayah kekuasaan terakhirnya.

Abdullah bin Zubair pun akhirnya terbunuh di Makkah oleh Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi, yang diutus oleh Abdul Malik bin Marwan untuk memeranginya dengan membawa 40 ribu pasiukan.

Hajjaj mengepung Abdullah bin Zubair di Makkah selama beberapa bulan, dan melemparinya dengan manjaniq. Hingga akhirnya Hajjaj pun berhasil mengalahkan Abdullah bin Zubair, dan membunuhnya dengan cara disalib.

Setelah itu, maka sah lah Abdul Malik bin Marwan sebagai kholifah yang menguasai seluruh wilayah kekuasaan Islam menggantikan Abdullah bin Zubair. Dan atas sebab itu juga, maka garis kekholifahan kembali lagi ke bani Ummayah setelah sebelumnya sempat berpindah ke Abdullah bin Zubair selama 9 tahun, dari tahun 64 H hingga 73 H.

Lihat riwayat-riwayat yang ada dalam Tarikh Khulafa’ tulisan Imam As Suyuthi

***
Menilik dari seluruh kisah di atas, maka tokoh yang kontroversial sebenarnya bukanlah Abdullah bin Zubair sebagaimana yang disangka orang. Akan tetapi yang kontroversial sebenarnya adalah Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan sendiri.

Dari 4 tahun masa kekuasaannya, yakni dari tahun 60 H hingga 64 H, cukup banyak peristiwa kontroversi yang terjadi. Seperti :
1. Terbunuhnya Husain di Padang Karbala pada tahun 61 H
2. Perang Harrah di kota suci Madinah pada tahun 63 H
3. Penyerangan kota suci Makkah pada tahun 64 H

Ibnu Taimiyah berkata bahwa ada tiga kelompok yang mempunyai perbedaan dalam memandang dan mensikapi Yazid bin Muawiyah tersebut. Dua kelompok ghuluw berlebihan, sedangkan yang satu moderat.

Dua kelompok yang ghuluw ini, yang satu sangat fanatik dan sangat mencintai Yazid. Bahkan mereka mengatakan bahwa Yazid adalah Nabi dan dia ma’shum. Sedangkan yang satunya lagi sangat anti kepada Yazid dan membencinya. Bahkan mengkafirkannya. Kelompok ini mengatakan bahwa Yazid adalah orang munafik yang pura-pura menampakkan keislaman, tapi menyembunyikan kemunafikan serta benci kepada Nabi Shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Sedangkan mengenai kelompok yang moderat, Ibnu Taimiyah berkata :
“Pendapat dua kelompok ini tidak benar. Yazid adalah salah seorang penguasa kaum Muslimin, serta salah seorang khalifah mereka. Jadi, sekali lagi ditegaskan, pendapat dua kelompok ini tidaklah benar.”

Lihat perkataan Ibnu Taimiyah yang dikutip oleh Dr. Utsman Al Khamis dalam Hiqbah minat Taarikh.

Sikap terbaik mengenai Yazid bin Muawiyah sebenarnya adalah sebagaimana yang dikatakan Adz Dzahabi,

“Kita tidak mencaci makinya dan tidak pula mencintai nya ”

Lihat perkataan Adz Dzahabi yang dikutip oleh Dr. Utsman Al Khamis dalam Hiqbah minat Taarikh.

***
Dari segala uraian kita di atas, maka point penting yang harus kita ketahui bahwa Abdullah bin Zubair itu berada di dalam posisi pemerintahan yang sedang vakum. Yang mana jeda waktu ini secara syariat membolehkan untuk membaiat pemerintah baru, karena belum adanya penggantinya yang definitif.

Maka dari itu sungguh orang orang yang menisbatkan “Perlawanan” dan Pemberontakan terhadap pemerintahan Islam yang dzolim, kepada kejadian fitnah, kesalahan Ijtihad, atau posisi kevakuman pemerintahan yang terjadi pada sebagian Salaf, untuk meninggalkan sunnah Rasulullah yang jelas dan tegas dalam masalah ini.

Maka mereka sesungguhnya hanyalah pengikut hawa nafsu dan Ahlul fitnah. Mereka menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka menipu umat atas nama Salaf untuk berpaling dari manhaj Salaf itu sendiri

***

Tanya :

Kenapa cara pemerintahan ala kerajaan itu memberikan dampak seperti itu?

Jawab :

Cara memimpin turun temurun itu hanyalah cabang dari suksesi pemerintahan dengan cara wasiat menunjuk siapa penggantinya.

Adapun karena sistem pemerintahannya berbentuk kerajaan Islam, maka secara otomatis siapa yang ditunjuk sebagai pengganti itu hanya terbatas kepada siapa yang berada di dalam lingkup keluarga kerajaan tersebut.

Baik atau buruk, maka itu tergantung dari siapa yang ditunjuk dan situasi politik yang mendominasi. Bukan semata-mata karena sistemnya.

Abu Bakar menunjuk Umar sebagai penggantinya dengan metode wasiat. Dan pemerintahannya bagus serta sejahtera. Memang contoh ini tidak sama persis dengan sistem kerajaan, karena Umar bukanlah orang yang memiliki kekerabatan dekat dengan Abu Bakar.

Akan tetapi jika ditilik jauh ke belakang, Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam juga ditunjuk oleh Nabi Daud ‘alaihis salaam sebagai penggantinya dalam sistem kerajaan yang dimiliki oleh Nabi Daud. Dan kerajaannya semakin bagus, makmur, dan luas kekuasaannya

Umar bin Abdul Aziz rohimahulloh dari kekholifahan dinasti bani Umayyah, juga terpilih dengan metode wasiat ala sistem kerajaan ini. Dan pemerintahan beliau sangat bagus.

Maka dari itu yang menjadi masalah itu sebenarnya siapa yang ditunjuk sebagai penggantinya, bukan masalah sistem wasiat penggantiannya. Sistem wasiat turun temurun diperbolehkan dalam syariat Islam, dan hal itu tidak masalah.

Kita merasa agak alergi dengan sistem kerajaan, mungkin karena kita terlalu terpengaruh dengan sistem demokrasi yang masyhur pada zaman ini.

 

Older Entries