Raja Salman, Tangga Escalator, dan Hutang – fasilitas riba

Leave a comment

Karena banyak yang share analisa mengenai kenapa raja Salman datang membawa tangga eskalator sendiri dan perlengkapan beliau lainnya.

Dianalisa bahwa itu karena mau memberikan utang jadi tidak sepantasnya memanfaatkan fasilitas yang diberikan fihak yang diutangi.

Yang mana itu dikait kaitkan dengan hadits Rasulullah riwayat Ibnu Majah.

Maka perlu diluruskan bahwa :

1. Hadits tersebut dhoif, di dhoif kan oleh Syaikh Albani.

إذا أقرضَ أحدُكم قرضًا فأَهدِى لَهُ أو حملَهُ على الدَّابَّةِ فلا يرْكبها ولا يقبلهُ إلَّا أن يَكونَ جرى بينَهُ وبينَهُ قبلَ ذلِكَ
الراوي : أنس بن مالك | المحدث : الألباني | المصدر : ضعيف ابن ماجه
الصفحة أو الرقم: 479 | خلاصة حكم المحدث : ضعيف

2. Secara resmi, sejauh yang saya tahu secara resmi, ini tujuannya untuk investasi, bukan untuk kasih hutang.

Itu dua hal yang berbeda.

*
Saya kira demikian masukan dari saya.

Bergembira itu boleh, namun jangan ghuluw. Apalagi jika itu dikaitkan dengan hadits Rasulullah, maka kita harus kritis.

 

***

Tanya :

Klo dari imam suyuthi, dihasankan ya? Mohon arahan

 

Jawab :

Hadits Ibnu Majah tersebut matan dan sanad lengkapnya adalah sbb :

الجزء رقم :4، الصفحة رقم:84

2432 حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ ، قَالَ : حَدَّثَنِيعُتْبَةُ بْنُ حُمَيْدٍ الضَّبِّيُّ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي إِسْحَاقَ الْهُنَائِيِّ ، قَالَ : سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ : الرَّجُلُ مِنَّا يُقْرِضُ أَخَاهُ الْمَالَ فَيُهْدِي لَهُ ؟ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا فَأَهْدَى لَهُ، أَوْ حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ، فَلَا يَرْكَبْهَا، وَلَا يَقْبَلْهُ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ جَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ قَبْلَ ذَلِكَ ”

***
Dua perowi sebelum Sahabat Anas bin Malik itu semuanya bermasalah.

Rowi pertama yang dikritik : عُتْبَةُ بْنُ حُمَيْدٍ الضَّبِّيُّ

Dia didhoifkan imam Ahmad, berikut keterangan nya:

حمد بن حنبل:قال أبو طالب : سألت أحمد بن حنبل عن عتبة أبي معاذ ، فقال : هو عتبة بن حميد الذي روى عنه الأشجعى ، وكان من أهل البصرة ، وكتب من الحديث شيئًا كثيرًا .
فقلت : كيف حديثه ؟ فقال : ضعيف ، ليس بالقوي ، ولم يشته الناس حديثه .

الذهبي:قال في (الكاشف) : ضعفه أحمد .

*
Rowi kedua yang dikritik : يَحْيَى بْنِ أَبِي إِسْحَاقَ الْهُنَائِيِّ

Dia majhul sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar

ابن حجر العسقلاني:قال في تقريب التهذيب : مجهول .

***
Andaikata As Suyuthi meng hasan kannya, maka berarti harus ada thuruq lain yang bisa mengangkat derajat hadits ini. Yakni menjadi Hasan li ghoirihi.

Nah, hadits apa yang dijadikan argumen oleh Imam As Suyuthi tinggal kita telaah lagi saja.

Sebab kalau murni hanya dari hadits Ibnu Majah itu saja, maka tidak bisa.

Walloohu A’lam

 

Diskusi :

Ada hadits riwayat Bukhari no.3814 yg semakna mas

Tanggapan :

Na’am, itu hadits mauquf dari Abdullah bin Salam tapi. Bukan hadits marfu

 

Diskusi :

Na’am, lalu kaedah trkenal yg brbunyi “كل قرض جر منفعة فهو ربا” itu gmn mas..

Tanggapan :

Qoidah nya benar, tinggal aplikasinya saja bagaimana.

Misal antum bertamu kepada saya dan kebetulan saya ada hutang dengan antum.

Sebagai tuan rumah tentu saya diperintahkan syariat untuk memuliakan tamu, paling tidak saya kasih air putih lah.

Apakah karena ada hutang lalu antum tidak mau minum air putih yg saya sajikan?

Adapun kedudukan tamu negara dalam syariat lebih tinggi kedudukannya daripada hanya sekedar tamu biasa.

Dan ini hanya sekedar fiqh “Andaikata” saja, dan tidak terjadi. Hanya berandai andai saja sedangkan yang resmi tujuan nya untuk investasi.

Jadi not Apple to Apple

 

Diskusi :

Klo diluar kebiasaan gmn mas, misal yg tadinya biasa air putih kok stlh brhutang jd berwarna airnya, hhe…

Btw, sbnrnya mksd ana tadi tntang dalil yg dijadikan fondasi dari kaedah tsb..

Tanggapan :

Pondasi nya adalah QS Al Baqarah : 278-279, hadits dhoif tadi, hadits mauquf dari Abdullah bin Salam, dan Ijma ulama dalam memahami ayat serta hadits hadits tersebut.

Walloohu A’lam

 

Diskusi :

Na’am, jazakallah khair mas..

 

Diskusi :

jd jika tidak ada kesepakatan di awal gk papa mas
BU?

Tanggapan :

Hmm, itu agak beda topik sebenarnya….

Misal :
Antum hutang 7000 rupiah buat beli gorengan sama saya.

Lalu ketika antum berkunjung ke rumah saya, antum menolak minuman dan hidangan ala kadarnya yang saya suguhkan kepada anda sebagai tamu dengan alasan ini riba.

Maka ini kurang tepat sepertinya.

*
Masalah ini beda ketika saya ingin mengembalikan utang 7000 rupiah ke anda, saya bayar pakai uang 10 ribu.

Ketika anda kesusahan cari kembalian saya bilang, “ah, dah nggak usah lah”.

Nah ini sesuai dengan yang anda tanyakan tadi. Ini gpp karena tidak ada kesepakatan di awal.

***
Berbeda jika saya hutang 1 milyar ke anda. Berhubung saya usaha rumah makan, maka khusus untuk anda saya kasih diskon 30% ke anda karena anda sudah berbaik hati kasih saya utangan.

Nah maka ini tidak boleh. Ini riba.

Walloohu A’lam

 

Diskusi :

jdi untuk mnjwab brta yg bredar bhwa king salman mmbawa apa2 dr sana itu tujuany apa akh?

Tanggapan :

Bilang saja kalau tujuan menganalisa King Salman bawa perlengkapan itu dengan tujuan untuk “mengejek” secara tidak langsung melalui metode framing, bahwa pemerintahan kita itu suka berhutang atau mengharap dapat utang dari King Salman

Maka itu framing yang tidak tepat dan hanya bertujuan untuk mengolok olok saja.

***
Adapun jika analisa itu didasarkan karena ada informasi yang salah, dan yang benar bahwa beliau datang sebagai tamu negara dengan tujuan untuk pembicaraan skema investasi di Indonesia.

Maka hendaknya informasi yang salah itu diluruskan.

Dan tidak benar sikap memuji muji tamu serta merendahkan sang tuan rumah itu. Apalagi kita ini juga termasuk tuan rumah sebenarnya.

Maka jadilah tuan rumah yang baik

Berjihad seperti Nabi Musa dalam memahami perkataan Afdholul Jihad (seutama utama jihad) yang disabdakan Rasulullah

Leave a comment

Nabi Musa ‘alaihis salaam sebagai manusia biasa, takut terhadap kekuasaan Fir’aun.

Maka dari itulah jihad dengan cara berkata yang haq di sisi penguasa itu, adalah dengan benar benar face to face berhadapan muka dan berdiksusi dengan penguasa, sebagaimana yang diperintahkan Allah dan yang dilakukan Nabi Musa ‘alaihis salaam.

Bukan dengan demo dan memprovokasi rakyat dulu agar bisa menghadap penguasa.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر

“Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di sisi penguasa zhalim” [Hr. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah]

Bisakah nabi Musa demo dan memprovokasi rakyat bani Israil? Bisa.

Kenapa itu tidak dilakukan? Karena bukan itu perintah Allah.

Bukan perintah Allah? Ya, bukan perintah Allah.

Allah memerintahkan agar langsung menghadap Fir’aun. Bukan menggalang kekuatan dan melakukan usaha Perlawanan dulu.

إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى. فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS Thaahaa, 43-44)

Dan jika kita perhatikan lagi ayat di atas secara detail, yang Allah perintahkan adalah berdua yakni Nabi Musa dan Nabi Harun. Bukan Nabi Musa sendiri saja. Namun juga didampingi oleh Nabi Harun.

Kenapa?
Karena Nabi Musa memiliki kekurangan di lidahnya, dan diharapkan kefasihan lisan Nabi Harun dapat menutupi kekurangan beliau.

Selain itu juga agar Nabi Harun dapat memperkuat Nabi Musa alaihis Salaam, agar tidak takut dalam menasehati dan berdialog menghadapi Fir’aun.

***
Dari tadi bilang takut, takut, takut….

Emang benar, Nabi Musa alaihis salaam takut kepada Fir’aun dan kekuasaannya?

Ya, Nabi Musa dengan tabiat nya sebagai manusia biasa, takut kepada kekuasaan Fir’aun. Dan ini Allah sebutkan dalam firman Nya,

فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا الَّذِي اسْتَنْصَرَهُ بِالْأَمْسِ يَسْتَصْرِخُهُ ۚ قَالَ لَهُ مُوسَىٰ إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ

Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)” [QS Qoshosh : 18]

Ayat di atas berkisah mengenai takutnya Nabi Musa alaihis salaam kepada kekuasaan Fir’aun, ketika Nabi Musa bersalah memukul penduduk Mesir yang berseteru dengan bani Israil hingga tewas dengan sekali pukulan saja.

Yang mana pukulan itu sebenarnya tidak dimaksudkan untuk membunuhnya. Nabi Musa pun pergi dari Mesir karena takut akan kekuasaan Fir’aun.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”. [QS Qoshosh : 21]

Ketakutan Nabi Musa akan kekuasaan Fir’aun ini, juga diakui sendiri oleh Nabi Musa alaihis salaam. Nabi Musa mengatakan mengenai hal ini, ketika terjadi audiensi menghadap langsung kepada Fir’aun bersama Nabi Harun, dalam melaksanakan perintah Allah sebagai bentuk Afdholul Jihad (seutama utama jihad).

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ

Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. [QS Asy Syukron :21]

Ini point awal yang harus kita fahami terlebih dahulu.

***
Point kedua,

Bahkan Nabi Musa alaihis salaam ketika akan menghadap Fir’aun, juga merasa takut dengan kekuasaan Fir’aun. Yakni takut untuk didustakan dan dibunuh.

Maka Nabi Musa meminta agar Nabi Harun Allah jadikan sebagai pendamping nya dalam menemui Fir’aun. Ini juga untuk menutupi kekurangan Nabi Musa, di dalam masalah kelancaran lisan beliau.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ
وَيَضِيقُ صَدْرِي وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِي فَأَرْسِلْ إِلَىٰ هَارُونَ
وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْبٌ فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun. Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku”. [QS Asy syu-aroo : 12-14]

Allah subhaanahu wa ta’aala pun berfirman memerintahkan nabi Musa agar jangan takut di ayat selanjutnya,

قَالَ كَلَّا ۖ فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا ۖ إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُونَ

Allah berfirman: “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan). [QS Asy syu-aroo : 15]

Bahkan walaupun sudah didampingi oleh Nabi Harun, mereka berdua tetap takut dan khawatir terhadap kekuasaan Fir’aun.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَىٰ
قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

Berkatalah mereka berdua: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas”. Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”. [QS Thaha : 45-46]

Jadi ada dua ketakutan yang harus dihadapi oleh Nabi Musa dalam melaksanakan Afdholul Jihad (seutama utama jihad) ini, yakni :

1. Takut didustakan
2. Takut dibunuh

Dua point yang harus dihadapi dalam Afdholul Jihad (seutama utama jihad) ini, harus benar-benar kita fahami.

***
Demikianlah Kondisi Nabi Musa dan Nabi Harun ketika akan menghadap Fir’aun secara langsung, face to face.

Mereka juga mengalami rasa takut dan khawatir, baik itu takut perkataan tidak akan dianggap (baca : didustakan) dan dibunuh.

Sekali lagi,
Mereka juga mengalami rasa takut dan khawatir, karena takut perkataan tidak akan dianggap (baca : didustakan) dan dibunuh. Maka apalagi kita yang bukan Nabi dan Rasul.

Namun demikianlah perintah dan cara yang Allah kehendaki.

Bukan dengan cara demo, provokasi, menggalang kekuatan, dan melakukan usaha Perlawanan dulu agar perkataan kita mau didengar, diterima, tidak dianggap sepele, dan tidak didustakan oleh Fir’aun.

Kenapa takut didustkan itu juga disebut selain takut dibunuh?
Ini karena manhaj dalam menasehati penguasa itu hanya menyampaikan kebenaran saja. Yakni menjelaskan, diskusi, dan memahamkan.

Bukan untuk memaksakan bahwa kebenaran yang kita sampaikan itu harus diterima oleh penguasa, dan jika tidak maka akan diancam dengan revolusi untuk memakzulkannya.

Mana perkataan Rasulullah bahwa menyampaikan perkataan Haq kepada penguasa itu, harus diterima oleh penguasa? Dan jika tidak diterima maka harus dipaksa dengan ancaman dan pemakzulan?

Mana? Tidak ada bukan?

Bahkan Nabi Musa ‘Alaihis salaam saja tidak mengancam dan menekan seperti itu kepada Fir’aun. Sekali lagi, bahkan Nabi Musa ‘Alaihis salaam saja tidak mengancam dan menekan seperti itu kepada Fir’aun.

Namun ketika Fir’aun menolak dan mendustakan audiensi dan dakwah Nabi Musa, apakah itu berarti Afdholul Jihad (seutama utama jihad) yang dilakukan Nabi Musa itu batal?

Tentu tidak.

Walaupun dakwah dan kalimat yang Haq yang disampaikan Nabi Musa itu tidak didengar, tidak dianggap, disepelekan, dan didustakan oleh Fir’aun. Namun Afdholul Jihad (seutama utama jihad) nya itu sah dan selesai.

Tidak ada yang namanya harus dengan mengancam dan menekan bahwa jika tuntutannya tidak diterima, maka akan dilakukan revolusi untuk memakzulkannya.

Ini seperti penjelasan Rasulullah yang lain mengenai detail target dari Afdholul Jihad (seutama utama jihad) itu.

Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَّةً وَلَكِنْ لَيَأْخُذَ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang ingin menasihati sulthan (pemimpin kaum muslimin) tentang satu perkara, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangannya secara menyendiri (untuk menyampaikan nasihat).

Bila sulthan tersebut mau mendengar nasihat tersebut, maka itu yang terbaik. Dan bila sulthan tersebut enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia (si penasihat) telah melaksanakan kewajibannya yang dibebankan kepadanya” [HR. Ahmad no. 15369, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 1096-1098, dan Al-Hakim no. 5269; shahih lighairihi].

Sampai di sini moga moga sudah faham dulu. Kalau perlu ulang ulangilah membaca penjelasan ini.

***
Setelah memahami penjelasan di atas, faham lah kita kenapa Rasulullah sampai berkata bahwa Afdholul Jihad (seutama utama jihad) itu dilanjutkan dengan perkataan ‘inda Sulthon ( عند سلطان), atau benar benar face to face di hadapan penguasa.

Orang yang faham bahasa Arab akan faham maksud dari kata ‘inda (عند ) yang dikatakan Rasulullah ini.

Jadi, bukan di jalanan atau medsos guna menekan pemerintah untuk memenuhi keinginan mereka, sembari mengancam akan melakukan revolusi untuk memakzulkan nya jika tidak dipenuhi tuntutannya.

Bukan pula dengan teriak-teriak dan mengancam, karena bukan ini yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Musa.

Hah, sampai permasalahan cara agar tidak dengan teriak-teriak dan mengancam juga disebutkan Allah?

Ya, permasalahan cara Afdholul Jihad (seutama utama jihad) yang dilakukan nabi Musa itu juga disebutkan dengan terperinci perintahnya oleh Allah subhaanahu wa Ta’ala.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى. فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS Thaahaa, 43-44)

Jadi sikap teriak-teriak dan mengancam atau memprovokasi, baik di jalanan atau di medsos itu, berlawanan dengan Afdholul Jihad (seutama utama jihad) yang dilakukan nabi Musa.

***
Tapi sebenarnya kalau kita lihat di zaman sekarang ini, Afdholul Jihad (seutama utama jihad) relatif lebih mudah dilakukan melalui laporan pengadilan dibandingkan pada zaman Nabi Musa.

Jika ada bukti yang kuat mengenai tindak pidana yang dilakukan penguasa, maka silakan laporkan ke pengadilan.

Jika ada bukti kuat mengenai tindak korupsi, maka laporkan ke KPK.

Jika ada bukti kuat mengenai penyimpangan konstitusi, silakan laporkan ke MK (Mahkamah Konstitusi).

Jika ada bukti kuat mengenai berbagai hal yang memerlukan arbitrase Internasional, maka silakan laporkan ke Mahkamah Internasional.

Hal ini relatif lebih mudah dan lebih efektif untuk melakukan Audiensi dengan pihak pemerintah guna Afdholul Jihad. Namun dengan tanpa harus melakukan demo, provokasi, dan penggalangan masa tentu saja.

Jika dikatakan, ah terlalu naïf. Kayak nggak faham masalah mafia peradilan saja. Paling dipelintir sana sini agar tuntutan kita tidak diterima, disepelekan, dan didustakan.

Salah-salah juga nanti kita malah jadi korban pembunuhan via pembunuh bayaran. Atau ditekan, dibully, dan diteror dimana-mana yang menghancurkan kehidupan kita. Dan ancaman ini kadang sadis. Tidak hanya terkena diri kita saja, tapi juga akan kena kepada keluarga yang kita cintai juga.

Keluarga kita juga tidak akan lepas dari usaha pembunuhan dan terror. Gimana? Jangan naïf makanya….

Lho-lho-lho……
Tunggu dulu mas…..

Antum kira yang namanya Afdholul Jihad (seutama-utama jihad) itu cukup hanya dengan jalan bareng di jalanan, menyuarakan tuntutan, dan kadang sambil selfie-selfie?

Cukup ketak-ketik di medsos, sambil bilang like and share sebanyak-banyaknya?

Cukup dengan ngeyel dalam menuduh, framing teori konspirasi, dan memaksa agar diterima tuntutannya jika tidak dituntut akan dimakzulkan dengan seruan revolusi?

Itu yang namanya Afdholul Jihad (seutama-utama Jihad)?

Kalau itu dinamakan sebagai Afdholul Jihad, maka anak kecil saja juga bisa.

Padahal Nabi Musa dalam melakukan Afdholul Jihad (seutama utama jihad) itu juga benar-benar disertai dengan ketakutan dan kekhawatiran. Beliau berjihad dengan cara jika Fir’aun menerima maka Alhamdulillah, jika tidak maka kewajiban beliau selesai sampai disitu.

Apakah didustakan dan diancam dibunuh juga terjadi kepada beliau?

Ya, beliau didustakan oleh Fir’aun, dan beliau beserta bani Israil juga hendak dibunuh melalui kejaran pasukan Fir’aun.

Namun Allah menyelamatkannya dengan membelah laut Merah, dan menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya disana.

Jadi mas, jangan salah dalam memahami Afdholul Jihad (seutama utama jihad) itu.

Jangan juga dekat-dekat sama para Mukholif yang menyimpang manhajnya. Akibatnya, antum jadi kacau pemahamannya kayak gini kan?

Kalau kata orang jawa, “Ojo cedak Kebo Gupak”.

***
Makanya kalau belum bisa menempuh Afdholul Jihad (seutama utama jihad) seperti Nabi Musa itu ya Sabarrr…… Itu juga hal yang diperintahkan oleh Rasulullah kok.

Doakan kebaikan bagi pemerintah agar taubat dari kedzolimannya, dan ikuti Sunnah Rasulullah dan manhaj Salaf walau berat.

Syukuri nikmat keamanan yang ada di negeri ini, dan perbaiki keadaan dengan tanpa harus merusaknya melalui kedok afdholul jihad (seutama-utama jihad) yang salah kaprah itu.

Katakanlah yang benar walaupun itu pahit.
Jika penjelasan ini dianggap sebagai pil pahit bagi kita, maka anggap sajalah itu sebagai obat pahit guna menyembuhkan penyakit manhaj yang ada di dalam diri kita.

Jauhi para mukholif yang menyimpang manhajnya itu, dan jangan dekat-dekat dengan mereka. Ojo cedak Kebo Gupak.

Ebook : Kumpulan 106 Hadits larangan keluar dari ketaatan dalam hal yang ma’ruf dan menghasung pemberontakan kepada pemerintahan Muslim yang dzolim

Leave a comment

Alhamdulillaah, bi idznillah Free Ebook kami yang terbaru sudah selesai kami kerjakan. ebook ini berjudul :

“Kumpulan 106 Hadits larangan keluar dari ketaatan dalam hal yang ma’ruf dan menghasung pemberontakan kepada pemerintahan Muslim yang dzolim”

Ebook ini hanya bersifat terjemahaman.

Silakan download di sini :

https://kautsaramru.files.wordpress.com/2017/01/kumpulan-106-hadits-larangan-keluar-dari-ketaatan-dalam-hal-yang-maruf-dan-menghasung-pemberontakan-kepada-pemerintahan-yang-dzolim.pdf

****

MUQODDIMAH

Sembari menyelesaikan ebook saya “Meninggalkan Syubhat dan kembali kepada ilmu yang jelas dan tegas”, yang membahas mengenai ilmu yang berkaitan dengan masalah pemerintahan yang dzolim dan banyak kekufuran di dalamnya.

Saya diminta oleh istri saya, untuk membuat quiz berhadiah (makanan berupa cake, risoles, onde-onde, dll) yang merupakan handmade istri saya, untuk para akhwat dan ummahat guna disebar di medsos istri saya.

Untuk memenuhi “tugas negara” itu, saya buat pertanyaan yang berhubungan dengan tema yang berhubungan dengan ebook yang sedang saya buat, karena mumpung masih lagi anget-angetnya. Dan juga karena pesan istri saya agar pertanyaannya dibikin agak susah, jangan gampang-gampang, karena hadiahnya lumayan. Maka saya bikin pertanyaannya agak sedikit susah.

Pertanyaan itu adalah,

“Sebutkan minimal 30 dalil dan terjemahannya, hadits-hadits yang berhubungan dengan kepada pemerintah Islam yang dzolim dalam hal yang ma’ruf, yang secara dhohir masih terlihat melakukan sholat. Yang memberikan dalil paling banyak, maka dia yang menang”

Quiz berhadiah dengan tenggat waktu sekitar 3-4 hari itu ternyata cukup banyak diminati, dan menggembirakan hasilnya.

Pemenangnya berhasil menyebutkan sampai dengan 40 dalil. Walau setelah diteliti ternyata hanya 38 yang merupakan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, sedangkan 2 sisanya adalah qoul dari Al Hasan Al Bashri, ulama Salaf dari kalangan tabi’in. Akan tetapi ini adalah hasil yang sudah sangat bagus dan patut di acungi jempol.

Adapun dalil-dalil mengenai haramnya khuruj (keluar dari ketaatan dalam hal yang ma’ruf, ataupun menghasung keluar untuk memberontak) kepada pemerintahan yang dzolim itu sebenarnya total berjumlah 106 hadits, menurut referensi yang saya ketahui. Dan berikut ini adalah terjemahan kumpulan 106 hadits tersebut yang saya terjemahkan.

Sekedar sedikit catatan, Rasulullah sebenarnya memberikan banyak variasi kata yang kembali kepada arti yang sama kepada arti : pemimpin, penguasa, atau pemerintahan.

Ini seperti : Amir (atau Umaro’ untuk versi jamaknya), Imam (atau aimmah untuk versi jamaknya), Sulthon, Al Jama’ah (atau jama’atul Muslimin), Kholifah (atau khulafa’ untuk versi jamaknya), Dzu amrukum (yang secara harfiah berarti “pemilik urusan kalian”), Malik (raja), dan lain-lain. Untuk melihat perinciannya, silakan lihat teks asli arab yang saya sertakan sebelum terjemahan. Adapun untuk terjemahan, saya terjemahkan dengan pemimpin, penguasa, atau pemerintah secara berganti sesuai dengan makna yang dimaksud.

Banyaknya hadits hingga berjumlah 106 hadits ini, membuktikan bahwa permasalahan haramnya “khuruj” dari pemerintahan Islam yang dzolim merupakan hadits yang mutawatir ma’nawi. Maka dari itu tidak heran, jika para Ulama Ahlus Sunnah, menjadikan ini sebagai salah satu dari ushul (pokok) dari manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah, di dalam kitab-kitab induk mereka mengenai manhaj dan aqidah.

Faedah dari bersabar terhadap pemerintahan yang dzolim ini, selain dari mengikuti sunnah yang tegas dan jelas, adalah agar tidak terjadi madhorot yang lebih besar dan tertumpahnya darah rakyat akibat penentangan dan pemberontakan.

Petunjuk Sunnah Nabawiyah memberikan kita arahan agar memilih madhorot yang lebih kecil, bersabar, memberikan nasehat kepada pemerintah untuk perbaikan, dan memperbaiki kerusakan yang terjadi di masyarakat itu sendiri.

Karena munculnya pemerintahan yang dzolim itu tentu berasal dari masyarakat yang rusak. Dari masyarakat yang seperti itulah pemegang kekuasaan yang asal mulanya juga berasal dari rakyat, dipilih dan berkuasa.

Maka dari itu pola pandang dalam memahami petunjuk Sunnah Nabawiyah dalam masalah pemerintahan yang dzolim ini, sangat bertolak belakang paradigma-nya dengan yang dituduhkan para penentangnya sebagai penjilat, murji’ah, dan yang semisal.

Akhirul kalam, semoga terjemahan 106 hadits yang berhubungan dengan haramnya “khuruj” dari pemerintahan yang dzolim ini bermanfaat bagi kita semua. Ebook 106 hadits ini juga dimaksudkan untuk melengkapi ebook kami “Meninggalkan Syubhat dan kembali kepada ilmu yang jelas dan tegas” yang terdahulu.

Tangerang Selatan dan Jakarta, Januari 2017 M / Robi’ul Akhir 1438

Abu Maryam Kautsar Amru bin Syamsudin bin Muhammad Ja’far

 

Bergaul itu tidak harus dengan menuliskan ilmu terus

Leave a comment

Rasulullah berkata “sa’atan”, “sa’atan”. (Sesekali waktu, sesekali waktu).

Jadi kalau Ahlus Sunnah atau pengikut manhaj Salaf itu kadang menulis bercanda yang tidak haram, maka itu normal dan wajar. Maksudnya adalah dalam tema tema kemanusiaan dan sosial yang wajar dalam masalah muamalah.

Seorang Ahlus Sunnah atau pengikut manhaj Salaf itu tidak dituntut harus menulis terus masalah manhaj, atau hadits, atau ilmu dalam status status nya.

Bercanda, sharing info umum, dll itu wajar dalam suatu waktu. Sedangkan waktu yang lain diisi kembali dengan ilmu, sunnah, dan semisal.

Saya aja juga pernah tanya masalah “sandal gunung” hehee.

Bahkan jika ditarik lebih jauh, sikap ini sebenarnya justru yang sesuai sunnah dari perkataan Rasulullah “sa’atan”, “sa’atan”. (Sesekali waktu, sesekali waktu)

****
Kenapa status ini saya tulis?

Karena saya lihat, bahwa seakan akan ada orang yang berusaha menyudutkan Ahlus Sunnah atau pengikut manhaj Salaf yang bercanda masalah fenomena “Telolet”.

Padahal sikap ringan seperti ini justru sesuai sunnah. Asal jangan keterusan tentu saja, dan kembali lagi ke masalah ilmu, sunnah, dan semisal pada waktu yang lain 🙂
Rasulullah berkata “sa’atan”, “sa’atan”. (Sesekali waktu, sesekali waktu).

Memahami perincian menasehati “on the spot” dan menunggu waktu yang tepat dalam masalah fitnah

Leave a comment

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

إِنَّ هَذِهِ اَلْفِتْنَةُ إِذَا أَقْبَلَتْ عَرَفَهَا كُلُّ عَالِمٍ وَإِذَا أَدْبَرَتْ عَرَفَهَا كُلُّ جَاهِلٍ

“Sesungguhnya fitnah ini, jika dia datang maka sudah diketahui oleh setiap alim dan jika dia sudah pergi maka baru diketahui oleh setiap yang jahil.”

***
Al Hasan Al Bashri adalah ulama dari kalangan Tabi’in yang kokoh dalam berpegang kepada sunnah ketika terjadi fitnah Al Hajjaj dan Ibnul Asy’ats, sebagaimana yang pernah saya tuliskan dalam serial syubhat atas nama Salaf bagian kelima.

Ketika saya mencoba menganalisa hadits hadits Rasulullah yang menasehati “on the spot” beberapa orang yang dalam kondisi susah menerima nasehat.

Dan orang yang menasehatkan agar melihat dan menunggu waktu yang tepat, jika hendak memberikan nasehat. Atau jangan “nyinyir” menurut bahasa mereka, sambil mencoba menarik hikmah dari hadits Rasulullah yang membiarkan orang Arab Badui kencing di masjid.

Maka saya melihat bahwa kata putus dari hadits hadits itu adalah pada perkataan Al Hasan Al Bashri tersebut.

Yakni baik yang menasehatkan “on the spot”, ataupun yang menasehati dengan cara menunggu waktu yang tepat, maka kedua duanya tergantung dari besar kecilnya fitnah yang dihadapi.

Melihat hadits hadits nasehat “on the spot”, maka tampaknya fitnah yang ada dalam konteks hadits hadits itu jauh lebih besar dibandingkan hadits masalah orang Arab Badui kencing di masjid.

***
Tentu saja hadits masalah nasehat on the spot Itu harus difahami dan diterapkan dengan cara :

1. Tidak boleh menyebabkan madhorot yang lebih besar dari fitnah yang dihadapi.

Kalau misal menyebabkan madhorot yang lebih besar, maka lebih baik diam dulu dan cari waktu yang lebih baik.

2. Tidak meninggalkan nasehat on the spot, sehingga berkesan hanya untuk pembiaran saja.

Adapun penggiringan opini yang terlihat, orang orang sengaja berkata “ini bukan waktu yang tepat untuk memberikan nasehat”, “jangan nyinyir “, dan “berilah udzur” hanya untuk tujuan pembiaran saja.

Hanya dengan tujuan agar seakan akan kita ridho terhadap fitnah itu, maka dari itu mereka menyuruh kita diam dengan kedok “ini bukan waktu yang tepat”. Dan membiarkan fitnah tersebar dengan lebih luas jika didiamkan.

Ini adalah penggiringan opini yang salah, dan harus kita ingkari.

Pada hakikatnya fitnah itu seperti nyala api. Yang mana kadang ada nyala api kalau didiamkan akan mati sendiri. Dan ada juga jika didiamkan justru akan malah semakin menyebar dan merembet kemana mana.

Belum lagi kita lihat faktanya, sebagian orang yang menyuruh diam dengan tujuan yang salah itu berkata dengan membawa kayu dan bahan bakar agar apinya makin besar….

****
Maka dari itu orang yang berkata “mencari waktu yang tepat” yang tulus, kita hargai dan kita rangkul.

Orang yang berkata hanya untuk sekedar kedok agar api makin besar, harus kita lawan.

Dan orang yang terkena syubhat serta hanya diperalat harus kita jelaskan.

****
Hadits hadits masalah nasehat Rasulullah “on the spot” walau faham bahwa kemungkinan besar akan ditolak, namun tetap berusaha untuk disampaikan itu adalah seperti :

1. Hadits Rasulullah berkata ketika melihat orang yang marah, menasehati agar dia ta’awudz supaya marah nya yang merupakan hasutan setan hilang. Maka orang itu menolak nasehat dengan marah sambil berkata “aku bukan orang gila”.

2. Hadits Rasulullah menasehati “on the spot” seorang wanita yang sangat sedih dan galau karena meninggalnya seseorang. Beliau berkata “bersabarlah, karena sabar itu pada pukulan pertama”. Maka wanita itu emosi dan menolak nasehat Rasulullah.

3. Hadits Rasulullah menasehati “on the spot” dan memberikan kata harapan “laa ba’sa Thohuurun insya Allah” waktu menengok orang Arab Badui tua yang sedang terkena penyakit demam.

Dan orang Arab Badui itu menolak perkataan, bahwa demam itu Thohuurun (mensucikan). Seraya berkata bahwa demam itu adalah hal yang menyusahkan nya dan akan membawanya mati ke kuburan

***

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ قَالَ: اِسْتَبَّ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيّ ص فَجَعَلَ اَحَدُهُمَا يَغْضَبُ وَ يَحْمَرُّ وَ جْهُهُ. فَنَظَرَ اِلَيْهِ النَّبِيُّ ص فَقَالَ: اِنّيْ َلاَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ ذَا عَنْهُ: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. فَقَامَ اِلَى الرَّجُلِ رَجُلٌ مِمَّنْ سَمِعَ النَّبِيَّ ص فَقَالَ: أَ تَدْرِى مَا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص آنِفًا؟ قَالَ اِنّيْ َلاَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ ذَا عَنْهُ. اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. فَقَالَ لَهُ الرَّجُلُ: اَمَجْنُوْنًا تَرَانِيْ؟ مسلم
Dari Sulaiman bin Shurad, ia berkata : Ada dua orang saling mencaci di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu salah seorang diantara keduanya menjadi marah, dan merah mukanya. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kepada orang itu dan bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat seandainya ia mau mengucapkannya pastilah hilang marah itu darinya, kalimat itu ialah : A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir rojiim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk)”. Maka berdirilah seorang laki-laki diantara orang yang mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut menghampiri orang yang marah itu dan berkata, “Tahukah kamu apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi ?”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat seandainya ia mau mengucapkannya pastilah hilang marah itu darinya. Kalimat itu ialah : A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir rojiim”. Lalu orang yang marah itu berkata, “Apakah engkau menganggap aku ini gila ?”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2015]

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ قَالَ: اِسْتَبَّ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيّ ص وَ نَحْنُ عِنْدَهُ جُلُوْسٌ وَ اَحَدُهُمَا يَسُبُّ صَاحِبَهُ مُغْضَبًا قَدِ احْمَرَّ وَجْهُهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: اِنّيْ َلاَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. فَقَالُوْا لِلرَّجُلِ: اَلاَ تَسْمَعُ مَا يَقُوْلُ النَّبِيُّ ص قَالَ: اِنّى لَسْتُ بِمَجْنُوْنٍ. البخارى
Dari Sulaiman bin Shurad, ia berkata : Ketika kami duduk di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua orang saling mencaci. Lalu salah seorang diantara keduanya menjadi marah, merah mukanya. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat seandainya ia mau mengucapkannya pastilah hilang marah itu darinya, seandainya ia mengucapkan : A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir rojiim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk)”. Kemudian orang-orang berkata kepada laki-laki tersebut, “Tahukah kamu apa yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi ?”. Orang yang marah itu menjawab, “Aku ini tidak gila !”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 99]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

“ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berjalan melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur. Maka Beliau berkata,: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Wanita itu berkata,: “Menjauhlah dari saya, karena kamu tidak mengalami musibah seperti yang aku alami “. Wanita itu tidak mengetahui beliau. Ketika hal itu diberitahu kepadanya, maka wanita tersebut mendatangi rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ternyata beliau tidak ada pengawalnya, dan dia berkata; “Maaf, tadi aku tidak mengetahui anda”. Maka Beliau bersabda: “Sesungguhnya sabar itu pada saat pertama datang musibah”. ( HR. Bukhari,1203 dan Muslim, 926)


أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَبِيٍّ يَعُوْدُهُ فَقَالَ: لَا بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ قَالَ: قُلْتُ: طَهُورٌ! كَلَّا، بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُوْرُ –أَوْ تَثُوْرُ- عَلَى شَيْخٍ كَبِيْرٍ تزيره القبور. فَقَالَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “فَنَعَمْ إِذًا “

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menjenguk seorang a’raby (arab badui), beliau bersabda, “Tidak mengapa, (sakitmu ini sebagai) pembersih dosa insya Allah.” Aku (Ibnu Abbas) berkata, “Pembersih dosa?! Sekali-sekali tidak, bahkan ini adalah demam yang mendidih -atau bergejolak- pada seorang yang sudah tua renta, yang akan mengantarkannya kepada kubur.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau demikian, benar (ia adalah penghapus dosa).” (H.R Bukhari, 6916 )

Memahami kondisi sebagian peruqyah di zaman kita

Leave a comment

Tanya :
Bgimana dg kisah ibnu taimiyah ?

Jawab :

Seandainya semua yang dilakukan Ibnu Taimiyyah itu adalah dalil, maka tentu “udzur beliau” tidak menikah hingga akhir hayat beliau, sah untuk kita jadikan dalil untuk tidak menikah.

Akan tetapi duduk perkaranya sebenarnya bukan seperti itu.

Akan tetapi ini adalah masalah saddudz dzaroi (menghindari bahaya) dengan mencukupkan diri pada apa yang dicontohkan Rasulullah, dan mengedukasi masyarakat bahwa tidak semua orang itu memiliki udzur ataupun keutamaan bisa memahami tipuan jin, seperti halnya Ibnu Taimiyyah rohimahulloh.

***
Belum lagi faktanya kita lihat sebagian peruqyah pada zaman kita yang “katanya” kondang.

Ternyata ngajinya nggak beres dan salah salah bacanya. Sebagian manhajnya menyimpang dari Sunnah. Sebagian suka selalu mengaitkan apa apa dengan masalah jin dan ruqyah, bahkan hingga masalah manga Naruto sekalipun. Dan juga sebagian ternyata adalah mantan dukun yang belum mapan dalam belajar agama.

Dan demikian lah fenomena sebagian peruqyah yang kita lihat. Oleh karena itu terlalu naif dan “not Apple to apple” membandingkan mereka dengan Ibnu Taimiyyah rohimahulloh.

***
Yang tepat adalah membandingkan mereka dengan sikap Rasulullah yang melarang berziarah kubur, karena masih kuatnya pemahaman yang salah kaprah di masyarakat pada masa itu. Dan sikap Rasulullah yang membolehkan dirinya untuk men ziarahi kuburan ibunya.

Ibu Rasulullah dimakamkan di Makkah, tentu besar pemahaman kita bahwa Rasulullah menziarahi kubur beliau waktu masih fase Mekkah.

Sedangkan pembolehan Rasulullah untuk ziarah kubur, karena melihat pemahaman yang salah akan ziarah kubur sudah hilang, hadits nya datangnya belakangan setelah adanya pelarangan Ziarah Kubur.

Dari sini Tentu mafhum kita, hadits yang memperbolehkan itu ada pada fase Madinah. Karena ketika Rasulullah Hijrah dari Mekkah, kondisi penduduk Mekkah masih syirik. Maka dari itu tidak mungkin kita memahami hadits pembolehan ziarah itu ada pada fase Mekkah.

***
Dari semua penjelasan dan fakta kondisi sebagian peruqyah “kondang” yang ada di negeri kita terutama. Maka seharusnya mudah bagi kita untuk memahami fatwa dari Syaikh Sholih Al Fauzan tersebut.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Khowarij dan Murjiah kontemporer : Seputar hukum islam yang digantikan dengan undang-undang buatan, pada hal-hal yang Islam mengatur akan hal itu.

Leave a comment

Di dalam Shohih Muslim,

Di Kitabul Jihad was siyar (كِتَاب الْجِهَاد وَالسِّيَرِ ) [Kitab jihad dan ekpedisi],

Di bab kedua (باب تَأْمِيرِ الإِمَامِ الأُمَرَاءَ عَلَى الْبُعُوثِ وَوَصِيَّتِهِ إِيَّاهُمْ بِآدَابِ الْغَزْوِ وَغَيْرِهَا ) [Bab Imam menunjuk pimpinan ekpedisi perang dan menasehati mereka mengenai adab-adab perang dan hal-hal yang terkait],

Sahabat Buraidah bin Al-Hashib radhiyalloohu ‘anhu menceritakan perkataan Rasulullah shalalloohu ‘alahi wa sallam mengenai adab-adab perang. Di dalam hadits yang panjang itu, ada kutipan perkataan Rasulullah shalalloohu ‘alahi wa sallam yang menarik perhatian saya.

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَإِذَا حَاصَرْتَ أَهْلَ حِصْنٍ فَأَرَادُوكَ أَنْ تُنْزِلَهُمْ عَلَى حُكْمِ اللَّهِ ، فَلَا تُنْزِلْهُمْ عَلَى حُكْمِ اللَّهِ وَلَكِنْ أَنْزِلْهُمْ عَلَى حُكْمِكَ ، فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي أَتُصِيبُ حُكْمَ اللَّهِ فِيهِمْ أَمْ لَا ؟

“Dan jika kamu telah mengepung penjaga benteng (Ahlul Hishn), lalu mereka memintamu untuk menghukumi mereka dengan berdasarkan hukum Allah.

Maka janganlah kamu hukumi mereka dengan berdasarkan hukum Allah. Akan tetapi hukumilah mereka dengan berdasarkan hukummu (ketentuan/ketetapan darimu).

Karena kamu tidak tahu, apakah kamu akan memberikan hukum Allah kepada mereka atau tidak. (atau karena kamu tidak tahu apa hukum Allah pada mereka) “ [Hr. Muslim, hadits no. 1731]

***
Perkataan Rasulullah ini cukup menakjubkan saya, karena Rasulullah sendiri memberikan dispensi bagi orang-orang yang tidak mengetahui hukum Allah untuk menggantinya dengan kebijakannya sendiri.

Sehingga faedah bagi kita pada abad modern ini, tidak setiap orang yang menetapkan hukum atau undang-undang yang bertentangan dengan hukum Allah itu bisa langsung OTOMATIS dikafirkan.

Karena bisa jadi mereka tidak tahu akan hukum Allah, sehingga mereka hanya menetapkan apa yang mereka kira baik.

Atau karena terkena tekanan “kalah suara” akibat sistem demokrasi, sehingga pendukung hawa nafsu (Ahlul Hawa’), orang munafik, dan orang-orang kafir beserta pendukungnya berhasil memaksa mereka untuk bersikap kompromistis.

Atau karena mereka terkena syubhat-syubhat faham-faham Sekulerisme, Liberalisme, atau Pluralisme; yang kemudian beranggapan hukum Allah itu lentur dan harus bisa disesuaikan dengan zaman.

Sebagaimana ini adalah salah satu syubhat Munawir Syadzali, hingga beliau ingin agar hukum waris direvisi dan laki-laki serta wanita mendapatkan bagian yang sama.

Atau syubhat-syubhat kaum liberal yang lainnya seperti syariat poligami itu hanya karena waktu zaman perang saja, untuk melindungi janda-janda yang suaminya korban jihad. Sehingga kebanyakan istri Rasulullah itu janda, dan hanya Aisyah saja yang perawan.

Atau syubhat-syubhat bahwa hukum hudud dan jinayat itu bisa diganti dengan hukuman penjara saja.

Atau terjebak sistem konstitusi dan argumentasi kontrak sosial, dengan berkilah menggunakan dalil kisah historis Piagam Madinah.

Dan lain-lain yang pada intinya karena syubhat itu, maka mereka menetapkan hukum-hukum yang lain dari yang telah ditetapkan Allah.

***
Tulisan ini bukan berarti membolehkan untuk tidak berhukum dengan hukum Allah, atau menggantinya dengan undang-undang buatan. Tidak seperti itu.

Hukum asal orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, atau pemerintah yang mengganti suatu hukum yang telah ditetapkan Allah dengan Undang-Undang buatan parlemen, maka orang ini bisa termasuk orang yang dzolim, atau orang fasiq, ataupun dikafirkan hingga berubah menjadi orang kafir.

Namun hal ini saya tulis untuk membahas hukum takfir muayyan (spesifik kepada individu atau golongan tertentu), yang mana harus terpenuhi syarat-syaratnya dan sebab-sebabnya. Serta hilangnya mawani’ (penghalang-penghalang) atau udzur-udzur, yang menyebabkan hukum pengkafiran tidak bisa diterapkan kepadanya sebelum adanya verifikasi.

Secara ringkas hadits itu saya tulis untuk memberikan nasehat kepada orang-orang yang bermanhaj KAFIR OTOMATIS, terhadap pemerintah yang menerapkan undang-undang buatan untuk menggantikan hukum-hukum syariat. Karena zaman modern ini, sangat besar sekali syubhat dan udzur akan hal itu.

Dan yang benar adalah PENGKAFIRAN DENGAN CARA PERINCIAN, terhadap tiap-tiap orang yang menetapkan undang-undang buatan untuk menggantikan hukum-hukum syariat. Karena kondisi tiap-tiap orang itu berbeda-beda. Dan hadits yang saya sebutkan di atas, memberikan kita justifikasi untuk memahami duduk perkara yang benar terhadap pemerintah yang menetapkan undang-undang buatan untuk menggantikan hukum-hukum syariat.

Jadi apakah bisa dikafirkan? Bisa, asal terpenuhi sebab, syarat, dan hilangnya mawani’ serta udzurnya pada individu tertentu yang dituju. Tidak bisa dan tidak boleh digeneralisir.

Jadi apakah tidak bisa dikafirkan?
Tidak bisa dikafirkan selama ada syubhat ataupun udzur yang tampat terlihat pada pemahaman mereka atas nama Islam. Sehingga mereka merasa bahwa yang mereka lakukan itu tidak bertentangan dengan Islam, karena buruknya pemahaman mereka.

Walau tidak jatuh dikafirkan, namun mereka boleh dicela, dihina, di-ghibah, dianggap orang fajir, fasiq, dzolim, dan bahkan munafik karena buruknya pemahaman yang mereka miliki.

Adapun bagi orang yang dipaksa atau terpaksa. Atau yang sebenarnya ingin menerapkan undang-undang yang sesuai dengan hukum Islam, namun tidak mempunyai kekuasaan akan hal itu karena terikat sistem demokrasi. Maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan udzur dan bahkan penghargaan atas upaya serta jasa-jasanya memperjuangkan hukum Islam di dalam penetapan undang-undang.

LikeShow more reactions

Comment

Older Entries