Teman dekat (Kholil) yang bikin celaka

Leave a comment

Berdoa dan berusaha agar kita bergaul dan dikelilingi oleh orang orang baik itu, ternyata bukan hal yang dianggap kecil oleh Rasulullah.

Terutama kholil (teman dekat) .

Rasulullah dalam doanya, bahkan “memperinci” isi doanya dalam masalah teman ini.

Adapun prakteknya dalam kancah manhaj, maka kita lihat teman ini ternyata sangat berpengaruh.

Banyak orang yang karena salah gaul, akhirnya manhaj nya menjadi bermasalah. Dan banyak juga yang terlalu sering piknik, hingga akhirnya lupa jalan pulang.

Jadi ini maksudnya hanya agar kita waspada, namun jangan sampai kita berlebihan dan paranoid ya.

Tiap manusia itu memang punya imunitas, namun hendaknya diketahui tidak semua orang itu imunitas nya sama. Dan merupakan kesalahan jika orang jumawa dengan imunitas nya, lalu sengaja memasukkan penyakit di dirinya.

***
Di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shohihah, hadits no 3137, Syaikh Albani rohimahulloh menyebutkan hadits mengenai doa Rasulullah ini :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ، وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا، وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا، وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي، وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي، إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا، وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

أخرجه الطبراني في “الدعاء” (٣/١٤٢٥/١٣٣٩)

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari tetangga yang buruk,

dari pasangan yang membuat rambutku memutih sebelum waktunya memutih,

dari anak yang menjadi tuan bagiku,

dari harta yang menjadi adzab bagiku,

dari teman dekat kholil yang makir (suka menipu dan membuat makar), yang matanya melihatku [bersikap baik ketika bergaul- pent] namun hatinya menjelekkanku, yang jika ia melihat kebaikan maka ia menyimpannya [untuk keuntungan nya sendiri -pent] dan jika ia melihat keburukan maka ia menyebarkannya”

[Hadits ini dikeluarkan oleh Ath Thobroni dalam “Ad Du’a” (3/1425/1339)]

Syaikh Albani berkomentar setelah menyebutkan sanad hadits riwayat Ath Thobroni ini :

قلت: وهذا إسناد جيد، رجاله كلهم من رجال “التهذيب “، ولولا الخلاف المعروف في ابن عجلان؛ لقلت بصحته.

“Saya katakan : Hadits ini isnadnya jayyid (bagus), dan seluruh perowinya adalah perowi” At Tahdzib”. Seandainya tidak ada khilaf yang ma’ruf mengenai perowi yang bernama Ibnu ‘Ajlan, maka saya akan mengatakan keshohihan hadits ini”

Setelah itu Syaikh Albani menyebutkan hadits ini melalui jalur jalur sanad yang lain. Sehingga mafhumnya Syaikh Albani menghasankan hadits ini.

Walloohu A’lam

Advertisements

Kumpulan pemahaman penting yang mudah difahami dalam masalah Tawassul dan Tabarruk

Leave a comment

Dasar pemahaman :

1. Pemahaman yang penting mengenai Tawassul dan Tabarruk

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-yang-penting-mengenai-tawassul-dan-tabarruk/

*
Detail point-point pemahaman penting mengenai Tabarruk :

2. Kesalahan mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah. Ini adalah pendapat salah yang mutlaq harus dibenarkan, guna menjaga Aqidah Ummat

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-penting-mengenai-tabarruk-kesalahan-mengqiyaskan-tabarruk-kepada-rasulullah-guna-ber-tabarruk-kepada-orang-sholeh-selain-rasulullah-ini-adalah-pendapat-salah-yang-mutlaq-harus-dibenarkan/

3. Perincian penjelasan berdasarkan petunjuk hadits dan kenyataan sejarah, bahwa seluruh barang peninggalan bekas Rasulullah, yang secara syariat boleh digunakan untuk Tabarruk, telah tiada pada zaman kita sekarang.

Sehingga semua klaim bahwa ini adalah barang bekas peninggalan Rasulullah, hanyalah merupakan kedustaan dan hal yang tidak bertanggung jawab semata.

Demikian juga Tabarruk napak tilas tempat tempat bersejarah lainnya.

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-penting-mengenai-tabarruk-3/

4. Tabarruk kepada makam Rasulullah itu terlarang, demikian juga tawassul dan istighotsah kepada makam Rasulullah. Apalagi terhadap makam selain Rasulullah, baik itu makam orang Sholeh, wali, ulama, sunan dan makam makam lainnya.

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-penting-mengenai-tabarruk-4/

5. Tabarruk dengan benda yang terdapat ayat-ayat Al Qur’an yang ditulis, digantung, disimpan, dijadikan jimat, rajah, ataupun dicampur dengan tulisan lain yang tidak jelas maksudnya.

Baik itu dengan tujuan tolak bala, untuk mendapatkan kesaktian, guna perlindungan, mendatangkan rezeki, dan lain lain yang semisal.

Maka itu adalah Tabarruk yang haram, merendahkan kesucian ayat-ayat Al Qur’an walaupun orang melakukannya tidak tahu, dan wajib untuk diingkari.

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-penting-mengenai-tabarruk-5/

*
Buku referensi yang direkomendasikan dalam memahami Tawassul dan Tabarruk :

6. Buku yang direkomendasikan, yang komprehensif dalam membahas masalah Tabarruk

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/buku-yang-direkomendasikan-yang-komprehensif-dalam-membahas-masalah-tabarruk/

7. Buku yang direkomendasikan dan komprehensif dalam membahas masalah Tawassul

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/buku-yang-direkomendasikan-dan-komprehensif-dalam-membahas-masalah-tawassul/

Pemahaman penting mengenai Tabarruk -4

1 Comment

Pemahaman penting mengenai Tabarruk :

Tabarruk kepada makam Rasulullah itu terlarang, demikian juga tawassul dan istighotsah kepada makam Rasulullah. Apalagi terhadap makam selain Rasulullah, baik itu makam orang Sholeh, wali, ulama, sunan dan makam makam lainnya.
———

Sebelum memulai pembahasan ini, biasanya topik “tidak relevan” yang sering dikemukakan adalah, kenapa bangunan yang melingkupi makam Rasulullah itu berada di dalam halaman perluasan masjid Nabawi?

Dengan kata lain, mengapa makam Rasulullah berada di dalam masjid Nabawi?

Kenapa dikatakan tidak relevan?

Karena keberadaan bangunan yang melingkupi makam Rasulullah di halaman masjid Nabawi itu, sama sekali bukan dalil bahwa makam Rasulullah itu boleh digunakan untuk Tabarruk.

Kenapa? Karena Rasulullah tidak pernah mensyariatkan hal itu, dan para sahabat juga tidak pernah menganggap seperti itu.

***
Agar lebih jelas, maka mari kita lihat perbandingan berikut ini.

Makam Nabi itu ada di sekitar halaman perluasan masjid Nabawi. Sedangkan Hajar Aswad itu berada di ka’bah, dan benar-benar di dalam Masjidil Haram.

Dari segi lokasi, maka Hajar Aswad “lebih mantap” dibandingkan kuburan Rasulullah. Dan juga dari segi keutamaan, maka Masjidil Harom jauh lebih utama dibandingkan Masjid Nabawi.

Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.”

(HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.)

Dari hadits di atas, jika kita hitung-hitung, berarti keutamaan sholat di Masjidil Harom itu 100 kali lebih utama dibandingkan sholat di masjid Nabawi. Dalam arti lain barokah tempat Masjidil Harom itu 100 kali lebih tinggi, dibandingkan barokah tempat masjid Nabawi.

Namun walaupun begitu, Tabarruk kepada Hajar Aswad secara dzat nya itu sendiri, haram dan terlarang. Sebagaimana perkataan Kholifah Umar bin Khoththob. Yakni Hajar Aswad itu tidak bisa memberikan mashlahat dan menolak Madhorot, maka ini tentu berarti bukan dzat untuk ber-Tabarruk guna tolak bala, lancar rizki, hidup lancar dan lain-lain itu.

Maka dari itu apalagi makam Rasulullah. Tentu lebih tidak boleh digunakan sebagai tempat Tabarruk.

عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270)

Kiranya sampai disini sudah jelas dan mudah untuk difahami terlebih dahulu, mengenai tidak bolehnya Tabarruk kepada makam Rasulullah itu.

***
Jika pemahaman di atas sudah jelas bagi kita, maka mudah bagi kita untuk menerangkan kenapa makam Rasulullah masuk ke dalam halaman perluasan masjid Nabawi.

Saya sebenarnya pernah menerangkan masalah ini, baik dari segi fiqh ataupun dari segi sejarah. Silakan lihat tulisan kami yang terdahulu :

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/04/03/serba-serbi-masjid-nabawi-dan-makam-rasulullah/

Kesimpulannya adalah :

1. Perluasan masjid Nabawi itu memiliki konteks yang berbeda dengan hadits larangan mendirikan masjid di atas makam Nabi. Karena masjid Nabawi itu sudah ada terlebih dahulu dibandingkan makam Rasulullah.

Awal makam Rasulullah juga tidak di dalam masjid Nabawi, dan terpisah dengan masjid Nabawi.

2. Perluasan yang sampai memasukkan makam Rasulullah itu juga baru terjadi pada masa Tabi’in, bukan masa sahabat. Sehingga secara ushul fiqh, ini bukanlah dalil. Karena yang menjadi dalil itu adalah Ijma sahabat.

3. Atas jasa pemerintah Saudi, dibangun bangunan yang menutupi makam Rasulullah. Sehingga secara fiqh ini sudah dianggap tidak berada di dalam masjid Nabawi, karena ada pembatas.

4. Dan yang paling penting, bahwa ini sama sekali bukanlah dalil untuk boleh membangun makam di dalam masjid atau membangun masjid di atas makam.

Yang mana ini dilakukan terhadap makam orang orang Sholeh selain Rasulullah. Baik itu wali, Kyai, sunan, Habib, dan lain lain. Yang kemudian dijadikan tempat untuk Tabarruk, Tawassul, Istighotsah, dan yang semisal.

Ini dilarang dengan tegas oleh Rasulullah, demikian juga termasuk Tabarruk, Tawassul, Istighotsah di makam itu.

Di makam Rasulullah saja terlarang, apalagi di makam orang selain Rasulullah. Tentu lebih terlarang.

عَنْ جُنْدَبٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Dari Jundab, dia berkata: Lima hari sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku mendengar beliau bersabda: “Aku berlepas diri kepada Allah bahwa aku memiliki kekasih di antara kamu. Karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasihNya sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim menjadi kekasihNya (QS. 4:125-pen).

Jika aku menjadikan kekasih di antara umatku, pastilah aku telah menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih.

Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu telah menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka dan orang-orang sholih mereka sebagai masjid-masjid! Ingatlah, maka janganlah kamu menjadikan kubur-kubur sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari hal itu!” (HSR. Muslim no:532)

أَنَّ عَائِشَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ قَالَا لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا

Dari ‘Aisyah dan Abdullah bin Abbas –semoga Allah meridhoi mereka- mengatakan: “Ketika kematian datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau mulai meletakkan kain wol bergaris-garis pada wajah beliau, sewaktu beliau susah bernafas karenanya, beliau membukanya dari wajahnya, ketika dalam keadaan demikian, lalu beliau mengatakan:

“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashoro, mereka menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”.

Beliau memperingatkan apa yang telah mereka lakukan. (HSR. Bukhari no: 435, 436; Muslim no:531)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ

Dari Abdulloh, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Sesungguhnya di antara seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang ketika hari kiamat datang mereka masih hidup, dan orang-orang yang menjadikan kubur-kubur sebagai masjid”. (HSR. Ahmad 1/432; no: 4132; Ibnu Hibban; Thobaroni di dalam Mu’jamul Kabir. Dishohihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

****
Adapun perincian dari dalil dan qoul para ulama, bahwa tidak boleh bertabaruk kepada makam Rasulullah. Berikut juga bantahan terhadap syubhat syubhat seputar Tabarruk kepada makam Rasulullah.

Dijelaskan dan dikumpulkan di dalam terjemahan Disertasi doktoral dari Syaikh Dr. Nashir Al Judai’ berikut ini (hal 422-442 dari halaman yang saya foto).

Termasuk dalam kategori hal ini tentu saja tawassul dan istighotsah kepada makam Rasulullah, ini juga termasuk terlarang.

Hal-hal ini merupakan keharoman, kebid’ahan, dan pintu menuju kepada kesyirikan.

***
Adapun sebagian ulama yang tergelincir di dalam membolehkan mengusap dan mencium makam Rasulullah guna ber-Tabarruk. Maka itu adalah kesalahan Ijtihad beliau, dan Ulama itu tidak ada yang ma’shum.

Ulama jika berijtihad namun salah dalam Ijtihad nya, maka beliau mendapatkan satu pahala, kehormatannya tetap terjaga dan tidak boleh dijatuhkan karena kesalahannya, namun kesalahannya harus disalahkan, dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan ulama tersebut.

Pemuka sahabat saja bisa salah, harus dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan sahabat tersebut. Apalagi hanya sekedar ulama yang jauh derajatnya dibandingkan sahabat.

Bagi orang yang terbiasa mengetahui perselisihan para sahabat, maka hal ini tidak tersembunyi baginya.

Sehingga Tabarruk kepada makam Rasulullah itu tetaplah terlarang, dan perkataan sebagian ulama itu haruslah dikembalikan kepada dalil yang tegas dan jelas, dengan tanpa bermaksud menjatuhkan kehormatan ulama tersebut karena kesalahan Ijtihad mereka.

Penjelasan akan kesalahan ulama yang tidak boleh kita ikuti itu, juga disebutkan dalam disertasi doktoral Syaikh Nashir Al Juda’i tersebut.

***
Insya Allah buku ini sangat bermanfaat dan sangat penting bagi kita semua, demi menjaga Aqidah Ummat.

Kalau antum punya rezeki, sebaiknya beli juga buku ini, untuk membentengi antum dan keluarga antum dari jenis Tabarruk terlarang yang banyak tidak difahami oleh masyarakat Indonesia ini.

Jika antum bisa berbahasa Arab, maka itu lebih bagus lagi. Antum bisa hemat uang banyak. Antum bisa download free pdf ebook nya disini :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

Ini penting, terutama orang orang yang bertabaruk kepada kuburan para wali, sunan, Kyai dan yang semisal. Termasuk juga yang bertawassul dan beristighotsah ke makam tersebut.

Kenapa makam Rasulullah saja tidak boleh, apa ke makam selain Rasulullah.

Sekedar ziarah kubur saja nggak masalah. Beri salam dan mendoakan kepada Shohibul qubur juga tidak mengapa.

Namun Tabarruk, Tawassul, minta didoakan, dan istighotsah kepada penghuni kubur itu tidak boleh dan jelas terlarang.

****
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Tabarruk dengan Makam Nabi -1Tabarruk dengan Makam Nabi -2Tabarruk dengan Makam Nabi -3Tabarruk dengan Makam Nabi -4Tabarruk dengan Makam Nabi -5Tabarruk dengan Makam Nabi -6Tabarruk dengan Makam Nabi -7Tabarruk dengan Makam Nabi -8Tabarruk dengan Makam Nabi -9Tabarruk dengan Makam Nabi -10Tabarruk dengan Makam Nabi -11Tabarruk dengan Makam Nabi -12Tabarruk dengan Makam Nabi -13Tabarruk dengan Makam Nabi -14Tabarruk dengan Makam Nabi -15Tabarruk dengan Makam Nabi -16Tabarruk dengan Makam Nabi -17Tabarruk dengan Makam Nabi -18Tabarruk dengan Makam Nabi -19Tabarruk dengan Makam Nabi -20Tabarruk dengan Makam Nabi -21

Pemahaman penting mengenai Tawassul dan Tabarruk -1

1 Comment

Tawassul itu artinya mencari wasilah (perantara) agar dapat mendekatkan diri kita kepada Allah, demi kepentingan dunia dan akhirat kita.

Tawassul itu ada yang ditetapkan secara irodah kauniyah yang sesuai logika (biasanya hanya dalam masalah keduniaan), dan ada yang ditetapkan secara irodah syar’iyyah yang sesuai syariat yang merupakan bahasan kita ini.

Berbeda dengan tabarruk yang artinya mencari berkah, maka ini umumnya hanya untuk kepentingan dan kebaikan dunia semata. Bukan untuk kepentingan akhirat.

Yakni seperti misal tabarruk untuk pengobatan supaya sembuh penyakitnya, dilancarkan rizki nya, tolak bala, dan lain lain.

Syaikh Albani sudah cukup jelas membedakan antara tawassul dan tabarruk ini dalam kitab nya.

(Lihat foto untuk halaman 176-180 dari kitab Syaikh Albani ini)

Bolehkah berdoa dengan cara tawassul guna meminta keberkahan? Boleh saja, tapi ini namanya tawassul bukan tabarruk.

***
Tawassul itu dengan cara berdoa melalui perantara tiga hal saja, yakni melalui perantara amal sholeh kita, Asma wa Shifat Allah, dan doa orang Sholeh yang masih hidup.

Sedangkan tabarruk itu melalui dzat akan sesuatu yang Allah berkahi, dengan i’tiqod bahwa Allah lah yang semata memberikan berkah itu. Bukan dzat yang Allah berikan berkah itu. Jika Allah ingin menghilangkan keberkahan akan dzat itupun, maka itu mudah bagi Nya.

Cara tabarruk itu baik dengan cara menyimpannya atau memiliki nya (sebagaimana para sahabat menyimpan barang bekas Rasulullah), mengusap nya (mengusap fisik Rasulullah yang barokah), mencelupkannya (sebagaimana asma binti Abu Bakar mencelupkan baju bekas Rasulullah ke dalam air untuk obat), memakannya atau meminumnya (madu, buah tiin, minyak zaitun, air Zam Zam itu diberkahi), mempelajari nya (ilmu dari kitab para ulama agar kehidupan kita barokah karena sesuai syariat), menikahinya (menikahi wanita sholehah kan barokah), mengamalkan amalan yang sesuai sunnah, dan lain lain.

Tergantung dari jenis dzat yang memiliki keberkahan itu. Maka dengan cara itu keberkahan yang Allah berikan pada dzat itu akan tercurah kepada kita, bi idznillah.

***
Tawassul itu beda dengan Tabarruk. Maka dari itu tawassul itu hanya boleh dengan doa melalui tiga hal itu saja, tidak boleh berdoa dengan berdasarkan keberkahan dzat yang diberkahi itu.

Senada dengan itu, maka tawassul dengan berdasarkan dzat makhluq, walaupun itu kepada atas nama nabi, malaikat, dan orang-orang sholeh, maka itupun juga tidak diperbolehkan.

Baik itu tawassul dengan berdasarkan melalui kemuliaan, kehormatan, hak, atau keutamaan sesuatu apapun dari makhluk ciptaan Allah. Termasuk atas nama Nabi, orang Sholeh, wali, ataupun malaikat.

Terutama tawassul kepada orang orang yang sudah meninggal, baik dengan cara mendatangi kuburan nya ataupun tidak.

Tawassul seperti ini tidak dibolehkan, dan tidak disyariatkan. Sebagian merupakan kebid’ahan, dan sebagian merupakan pintu menuju kesyirikan.

Sebagian ulama yang membolehkan tawassul berdoa melalui pribadi Nabi yang telah meninggal, atau kepada orang Sholeh yang sudah meninggal (baik itu wali ataupun selainnya) maka mereka telah salah dalam Ijtihad nya dan tidak boleh diikuti kesalahan nya.

(Lihat foto untuk halaman 53-63 dari kitab Syaikh Albani ini)

***
Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat bagi pemahaman kita seputar masalah Tawassul dan Tabarruk, yang kadang salah kaprah difahami oleh penduduk Muslim di Indonesia ini karena pengaruh faham Sufi.

Baarokallahu fiik

=====

Hal 176-180

Shahih Tawasul dan Tabaruk -1Shahih Tawasul dan Tabaruk -2Shahih Tawasul dan Tabaruk -3Shahih Tawasul dan Tabaruk -4Shahih Tawasul dan Tabaruk -5

====

Halaman 53-63

Shahih Tawasul dan Tabaruk -6Shahih Tawasul dan Tabaruk -7Shahih Tawasul dan Tabaruk -8Shahih Tawasul dan Tabaruk -9Shahih Tawasul dan Tabaruk -10Shahih Tawasul dan Tabaruk -11Shahih Tawasul dan Tabaruk -12Shahih Tawasul dan Tabaruk -13Shahih Tawasul dan Tabaruk -14Shahih Tawasul dan Tabaruk -15Shahih Tawasul dan Tabaruk -16

====

Cover dan judul buku :

Shahih Tawasul dan Tabaruk -17

Berbagi Tips dan Trik agar mendapatkan pahala yang banyak di bulan ramadhan : Membaca Al Qur’an minimal 100 ayat pada malam hari

1 Comment

Usahakan minimal pada malam hari membaca Al Qur’an, minimal 100 ayat pada malam hari. Maka insya Allah kita akan dianggap mendapatkan pahala seperti sholat semalam suntuk.

(Lihat hadits Shohih yang akan kami sebutkan di akhir tulisan ini)

Malam hari itu dihitung mulai sejak masuk waktu maghrib.

Jadi habis buka puasa dan sholat maghrib, boleh bagi kita untuk nyicil baca Al Qur’an dulu. Nanti habis sholat Isya dan sholat Tarawih, baru dilanjutkan lagi agar bisa sampai minimal 100 ayat terbaca.

Cara ini berguna untuk mengantisipasi “nyicil” jika habis tarawih kita ngantuk. Ingat kalau ngantuk hati hati kalau baca Al Qur’an, nanti salah salah baca malah merubah arti.

Mending tidur dulu atau minum kopi kalau mau.

Atau bisa juga dilanjutkan saja sehabis sahur sambil nunggu subuh. Pokoknya usahakan minimal baca 100 ayat pada malam hari.

***
Rutinkan terus kebiasaan ini, kelak akan berguna untuk menyambut Lailatul Qodr.

مسند أحمد | مُسْنَدُ الشَّامِيِّينَ | حَدِيثُ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ
الجزء رقم :28، الصفحة رقم:156

16958 قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ : حَدَّثَنِي أَبِي إِمْلَاءً أَمْلَاهُ عَلَيْنَا فِي النَّوَادِرِ، قَالَ : كَتَبَ إِلَيَّ أَبُو تَوْبَةَ الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ حُمَيْدٍ ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَاقِدٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ ، عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِي لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ “.

الراوي : تميم الداري | المحدث : الألباني |المصدر : صحيح الجامع

الصفحة أو الرقم: 6468 | خلاصة حكم المحدث : صحيح

Dari Tamim Ad Daarii dia berkata, Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang membaca 100 ayat (dari Al Qur’an) pada malam hari, maka ditetapkan baginya pahala seperti qunut (sholat) semalam suntuk “.

[Hr. Ahmad dalam kitab Musnad Ahmad hadits no. 16958. Dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam kitab beliau Shohihul Jami’ hadits no. 6468]

Kritik terhadap metode pengobatan Al Fashdu ( الفصد) yang dikait kaitkan dengan hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam

Leave a comment

Hadits yang antum kutip yang menyebutkan fashdu (الْفَصْدُ) itu, hadits nya salah. Dan itu hanya merupakan penyisipan dari kata-kata fashdu (الْفَصْدُ) ke dalam hadits Shohih yang asli.

Hadits yang ditanyakan :

Hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ وَالْفَصْدُ

“Sesungguhnya metode pengobatan yang paling ideal bagi kalian adalah hijamah (bekam) dan fashdu (venesection).”

***
Yang benar, baik dalam Shohih Bukhori ataupun Shohih muslim, yang disebutkan itu adalah (الْقُسْطُ الْبَحْرِيُّ), bukan fashdu (الْفَصْدُ).

Perhatikan hadits berikut ini.

Shohih Bukhori

كِتَابُ الطِّبِّ. | بَابُ الْحِجَامَةِ مِنَ الدَّاءِ.
الجزء رقم :7، الصفحة رقم:125

5696 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ ، أَخْبَرَنَاعَبْدُ اللَّهِ ، أَخْبَرَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ ، عَنْأَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ أَجْرِ الْحَجَّامِ، فَقَالَ : احْتَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ، وَأَعْطَاهُ صَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ، وَكَلَّمَ مَوَالِيَهُ فَخَفَّفُوا عَنْهُ، وَقَالَ : ” إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ وَالْقُسْطُ الْبَحْرِيُّ “. وَقَالَ : ” لَا تُعَذِّبُوا صِبْيَانَكُمْ بِالْغَمْزِ مِنَ الْعُذْرَةِ ، وَعَلَيْكُمْ بِالْقُسْطِ “.

Dan dalam Shohih Muslim,

صحيح مسلم | كِتَابٌ : الْمُسَاقَاةُ | بَابٌ : حِلُّ أُجْرَةِ الْحِجَامَةِ

1577 ( 63 ) حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ ، حَدَّثَنَا مَرْوَانُ – يَعْنِي الْفَزَارِيَّ – عَنْحُمَيْدٍ ، قَالَ : سُئِلَ أَنَسٌ عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ، فَذَكَرَ بِمِثْلِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ : ” إِنَّ أَفْضَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ، وَالْقُسْطُ الْبَحْرِيُّ، وَلَا تُعَذِّبُوا صِبْيَانَكُمْ بِالْغَمْزِ “.

***
Bahkan jika dilihat penjelasan di dalam Fathul Bari’, dibedakan antara Al Fashdu (الفصد) dan Hijamah (الحجامة ) “bekam”. Yakni agar tidak salah dalam memahami hadits tersebut

Quote :

قوله : ( باب الحجامة من الداء ) أي بسبب الداء . قالالموفق البغدادي : الحجامة تنقي سطح البدن أكثر من الفصد ، والفصد لأعماق البدن

Diterangkan lagi di dalam Fathul Bari, bahwa orang Arab itu umumnya hanya mengenal Hijamah (bekam). Bukan Fashdu.

Quote :

ولهذا وردت الأحاديث بذكرها دون الفصد ، ولأن العرب غالبا ما كانت تعرف إلا الحجامة

Penjelasan lebih lengkap dari Fathul Bari’, silakan lihat :

http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php…

***
Adapun (القصط البحري) itu sering disebut dengan nama (الْقُسْطُ الهندي) atau yang mempunyai nama ilmiah cheilocostus specious

Ini adalah suatu jenis tumbuhan yang banyak terdapat di India dan Asia. Kalau untuk pengobatan diambil dalam bentuk kayak kayu gitu. (Lihat gambar di bawah yang yang saya sertakan)

Lihat penjelasan nya di :

http://mawdoo3.com/كيفية_استخدام_القسط_الهندي

***
Harap diperhatikan,
bahwa disini saya hanya mengkritik cara pengobatan fashdu yang dikait kaitkan dengan Hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Bukan mengkritik cara pengobatan Al Fashdu itu sendiri.

Jika memang secara medis cara pengobatan Al Fashdu itu bermanfaat, maka ya silakan saja berobat dengan cara Al Fashdu. Namun jangan dihubung hubungkan dengan hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Walloohu A’lam.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Baarokalloohu fiik

Qosthu Bahr

Rasulullah dan masalah memotong Janggut

Leave a comment

Via aplikasi jaami’ul kutubit tis’ah. Sunan At Tirmidzi hadits nomor 2762.

Masalah Rasulullah memotong janggut nya untuk memendekkan atau merapikan , sayang hadits ini maudhu’ karena bermasalah di perowi Umar bin Harun.

الجزء رقم :4، الصفحة رقم:472
2762 حَدَّثَنَا هَنَّادٌ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ هَارُونَ ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ مِنْ لِحْيَتِهِ، مِنْ عَرْضِهَا وَطُولِهَا. هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ، وسَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَاعِيلَ يَقُولُ : عُمَرُ بْنُ هَارُونَ مُقَارِبُ الْحَدِيثِ، لَا أَعْرِفُ لَهُ حَدِيثًا لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ – أَوْ قَالَ : يَنْفَرِدُ بِهِ – إِلَّا هَذَا الْحَدِيثَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْخُذُ مِنْ لِحْيَتِهِ، مِنْ عَرْضِهَا وَطُولِهَا. لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عُمَرَ بْنِ هَارُونَ، وَرَأَيْتُهُ حَسَنَ الرَّأْيِ فِي عُمَرَ، وَسَمِعْتُ قُتَيْبَةَ يَقُولُ : عُمَرُ بْنُ هَارُونَ كَانَ صَاحِبَ حَدِيثٍ، وَكَانَ يَقُولُ : الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ. سَمِعْتُ قُتَيْبَةَ، قَالَ : حَدَّثَنَا وَكِيعُ بْنُ الْجَرَّاحِ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَصَبَ الْمَنْجَنِيقَ عَلَى أَهْلِ الطَّائِفِ قَالَ قُتَيْبَةُ : قُلْتُ لِوَكِيعٍ : مَنْ هَذَا ؟ قَالَ : صَاحِبُكُمْ عُمَرُ بْنُ هَارُونَ.
حكم الحديث: موضوع

Adapun yang shohih adalah hadits mauquf riwayat imam Al Bukhori yang hanya sampai kepada sahabat saja, tidak sampai kepada Rasulullah.

Yakni masalah sahabat Ibnu Umar yang memotong janggut nya untuk memendekkan atau merapikan ketika hendak berhaji atau berumroh.

Older Entries