Memahami masalah Kasuistik belajar dan Merguru kepada Ahlul Bid’ah

Leave a comment

Bagaimana dengan kisah Abu Hasan Al Asy’ary yang pernah berguru, mengambil ilmu, dan datang di kajian nya Mu’tazilah (walaupun beliau akhirnya bertaubat), beserta kisah kisah yang semisal dengan itu?

*
Jadi merguru dan mengambil ilmu sama Ahlul Bid’ah atau orang yang menyimpang dari manhaj itu sebenarnya kasuistik, bukan standar.

Kita lihat dari output nya (hasilnya), ataukah ada udzur di situ.

Bukannya malah dijadikan Framing agar misleading untuk digeneralisir boleh seperti itu, sebagaimana yang diinginkan Free thinker dan fans berat manhaj muwazanah.

Kisah hidup seseorang itu berliku liku, dan tidak setiap lika liku kehidupan seseorang itu hujjah bagi kita.

Kita ini bukan tukang cerita, bukan novelis, dan bukan tukang Framing yang suka me misleading kan orang.

*
Adapun jika kembali kepada qoul ulama, maka biasanya mereka kasih syarat yang ketat atau memberikan udzur untuk hal-hal bersifat kasuistik.

Bahkan sebagian ulama Salaf berkata,

“Jika kita melihat pemuda di awal awal belajarnya bersama guru yang lurus dan benar manhaj serta Aqidah nya. Maka taruhlah harapan baginya.

Namun jika kita melihat pemuda di awal awal belajar nya bersama guru yang sesat, menyimpang Aqidah dan manhaj nya. Maka hilangkanlah harapanmu “.

Tentu saja ini tidak mutlak, karena hidayah itu di tangan Allâh.

Namun kita insya Allah faham apa yang dimaksud.

*
Jadi demikianlah jawaban dan counter attack terhadap serangan dari negara Abu-abu itu.

Guru, ustadz, dan majlis ilmu yang jelas Aqidah dan manhaj nya saja masih banyak dan bertebaran. Masak malah ngajak ngajak ke yang nggak jelas, dan bahkan yang sudah ditahdzir?

Kalau ada udzur, bisa dimaklumi lah. Walau sekarang lewat media Internet dan Ebook juga bisa. Nah kalau nggak ada udzur, maka ya emang pada dasarnya ingin promosi manhaj Muwazanah dan Pluralisme Manhaj.

Ingin seperti orang yang mabuk minum khomr dan pemakai narkoba yang penting having fun, disini senang, disana senang, mengikuti hawa nafsu saja.

Alasannya sih klise, “ingin piknik” katanya hehe

Namun memang demikianlah keadaan nya. Semua sudah berubah semenjak negara Abu Abu menyerang….

Fiqh Menghindari Zina dengan Memilih Madhorot yang lebih kecil -2

Leave a comment

Urutan solusi Halal :
1. Menikah
2. Menikah lagi
3. Service dengan menggunakan tangan istri atau bagian yang lain, asalkan bukan pada bagian yang sedang berhalangan
4. Puasa
5. Menundukkan pandangan
6. Melakukan aktivitas yang produktif dan bisa mengalihkan perhatian
7. Berkumpul dan bergaul dengan teman-teman yang sholeh, jangan suka menyendiri.

Solusi Haram dan merupakan pilihan terakhir, yang madhorot dan dosanya lebih kecil dibandingkan berzina : Self service.

***
Moga moga sekarang tidak ada lagi yang gagal faham.

Fiqh Menghindari Zina dengan Memilih Madhorot yang lebih kecil -1

Leave a comment

Maaf jika vulgar,
Jika memang berbahaya, sementara menyibukkan diri cari aktivitas lain dan Puasa masih belum bisa mengatasi hasrat. Maka lebih baik self service.

Ini berlaku untuk orang orang yang lebih memilih madhorot atau dosa yang lebih kecil, dibandingkan madhorot dan dosa yang lebih besar.

Apakah ini relevan dengan berita kejahatan pedofil yang terungkap dan lagi trending?

Bisa iya bisa tidak. Karena bisa jadi orang tersebut seperti itu karena tidak ada pelampiasan, dan kemudian dibisiki agar nyasar ke anak kecil saja. Bisa juga karena memang kelainan jiwa.

Orang yang mungkin sudah lama tidak beristri, atau yang mungkin LDR karena kerja di tempat jauh. Juga bisa termasuk dalam hal ini.

Pokoknya antum faham lah yang saya maksud. Lebih baik memilih madhorot yang lebih kecil daripada yang lebih besar

===
Bagi yang kurang sepakat dengan qaidah fiqh memilih dosa yang lebih kecil karena melakukan self service yang haram hukumnya, yakni karena takut dibandingkan melakukan zina dan yang semisal.

Silakan lihat : https://islamqa.info/ar/193320

Saya nggak pernah bilang ini halal dan ini solusi yang harus digunakan selalu. Ini hanya jika bener bener kepepet, dan ini lebih kecil dosanya dibandingkan zina

Fatwa Dari Darul Ifta Saudi Arabia mengenai masalah penambahan lafaz “Sayyidina” pada Sholawat Nabi

Leave a comment

Pertanyaan Ketiga dari Fatwa Nomor 4276

Pertanyaan 3:

Apakah boleh mengucapkan lafaz “Sayyidina Muhammad” pada saat menyebut nama Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, selain dalam Al-Quran dan Sunnah, seperti shalawat Ibrahimiyah atau yang lainnya?

Jawaban 3:

Sepengetahuan kami, bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat tasyahud tidak ada lafaz sayyidina, yakni: ( Allahumma Shalli `Ala sayyidina Muhammad.. dst). Begitu juga ketika azan dan iqamah, tidak boleh diucapkan lafaz tersebut.

Ini karena lafaz sayyidina tidak ada di dalam hadits shahih ketika Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam mengajarkan para sahabat beliau tata cara bershalawat, azan dan iqamah.

Selain itu, ibadah harus berdasarkan dalil. Oleh karena itu, tidak boleh menambah sesuatu yang tidak disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta`ala.

Namun, jika menambah lafaz tersebut diluar salat, maka itu diperbolehkan, berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam, “Aku adalah tuannya [Sayyid] anak Adam pada hari kiamat dan tidak ada kebanggaan”

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Anggota :
Abdullah bin Qu’ud
Abdullah bin Ghadyan

Ketua :
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Sumber : http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=id&View=Page&PageID=2239&PageNo=1&BookID=3

Membongkar Syubhat Liberal yang Memakai Kedok Perkataan Ibnu Taimiyah untuk Membolehkan Pemimpin Kafir

Leave a comment

Bagaimana cara memahami perkataan Ibnu Taimiyyah berikut ini, yang sering dijadikan kedok orang Liberal dan yang semisal untuk membolehkan memilih pemimpin Kafir?

ولهذا يروى ” الله ينصر الدولة العادلة وإن كانت كافرة، ولا ينصر الدولة الظالمة وإن كانت مؤمنة ”

“Allah akan menolong suatu negara yang adil walaupun kafir. Dan Allah tidak akan menolong suatu negara yang dzolim walaupun beriman.”

****
Jawab :
Penjelasan akan hal ini sebenarnya mudah, asal kita faham apa yang dimaksud dari perkataan beliau dengan mengembalikan nya kepada Al Qur’an dan As Sunnah bi fahmis Salaf.

1. Yang terpakai disitu adalah fi’il madhi (kata kerja lampau), yakni pada masalah status daulah nya dengan kata ” إن كانت”

Sehingga ini memberikan faedah bahwa negaranya itu sudah ada dulu, ini seperti negara Mesir yang ada dulu sebelum datang Nabi Yusuf dan nabi Musa di situ.

2. Kemudian fi’il mudhori yang berupa pertolongan Allah ataupun hilangnya pertolongan Allah ada setelah berjalannya daulah itu.

Yakni pada perkataan fi’il mudhori ” ينصر”

3. Maksudnya bagaimana memahami point satu dan dua di atas itu?

Seperti misal negara Mesir pada waktu zaman Nabi Yusuf.

Negara Mesir waktu itu dibantu Allah nggak dengan kedatangan Nabi Yusuf yang mentakwilkan mimpi sang Raja dan kemudian menjadi Bendahara untuk mengatasi bencana paceklik?

Ya, dibantu. Jelas itu. Akan tetapi negara itu ada dulu jauh sebelum Nabi Yusuf datang bukan?

Dan Kalau argumentasi itu dijadikan dasar memilih pemimpin Kafir maka juga salah dan nggak benar. Karena negara itu sudah ada dulu, dan Nabi Yusuf tidak ikut mendirikan Mesir dan juga tidak ikut mengangkat pemimpinnya.

Beliau datang setelah semua itu ada.

Jadi sampai sini jelas dulu kan?

4. Sekarang bagaimana jika negara itu beriman dan negara Islam tapi dzolim, kan dikatakan Allah tidak akan menolongnya?

Ya, dan ini terjadi juga. Sebagaimana munculnya Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi karena kedzoliman para rakyatnya, sebagai bentuk ujian dan teguran dari Allah.

Para sahabat dan Tabi’in umumnya berkata, Hajjaj itu ada karena kedzoliman kita.

Padahal apakah para Sahabat dan Tabi’in itu kurang dalam masalah imannya? Dan apakah orang yang beriman itu tidak bisa melakukan kedzoliman?

Dan apakah Hajjaj ikut mendirikan kekholifahan? Tidak.

Sejak dari zaman Rasulullah negara Islam itu ada. Dia hanya datang setelahnya, ketika penduduknya dzolim walau beriman. Sama seperti kita memahami penjelasan mengenai Nabi Yusuf tadi.

*
Jadi jelas kan maksud memahami perkataan Ibnu Taimiyyah tadi?

Jadi ini adalah khobar, bukan perintah apalagi dalil yang membolehkan untuk memilih pemimpin Kafir.

Masalah khobar jika Allah akan menolong suatu negara yang Adil walaupun Kafir, itu berbeda dengan masalah larangan untuk memilih dan mengangkat pemimpin Kafir.

Allah menolong pezina yang membantu anjing yang kehausan di padang pasir (sebagaimana yang tersebut dalam hadits yang Shohih) itu, berbeda dengan masalah legalitas untuk menjadi Pezina yang jelas jelas dilarang.

Perhatikan dengan benar-benar perbedaan akan hal ini.

Syubhat Khowarij masalah Negara Indonesia dan Fatwa Syaikh Abdul Malik Al Jazairi

Leave a comment

Logical fallacy “black or white” atau “with me or against me” sebenarnya adalah logika serta manhaj Khowarij sejak dari dulu sampai sekarang.

Maka dari itu menjawab syubhat Khowarij “Tapi pemerintah Indonesia dan konstitusi nya, mengatakan bahwa Indonesia itu bukan negara Islam. Mengapa anda mengatakan Indonesia itu negara Islam?”

Kita jawab, “Pemerintahan Inggris, Amerika, Israel beserta konstitusi nya juga tidak pernah mengatakan mereka adalah negara Kafir. Maka mengapa anda mengatakan mereka negara Kafir?”

***
Logika seperti ini sebenarnya dianut oleh Khowarij tempoe doeloe, ketika mereka berkata mengenai Kholifah Ali yang menolak sebutan Amirul mukminin bagi dirinya.

Khowarij berkata, “Kalau kamu tidak mau menyebut dirimu Amirul Mukminin, berarti kamu Amirul Kafirin!”

Coba lihat dan perhatikan. Logikanya serupa bukan dengan Khowarij zaman sekarang dan pengikutnya?

Kalau Indonesia itu bukan negara Islam, maka berarti ya negara Kafir. Kan pemerintahan dan konstitusi nya sendiri bilang Indonesia bukan negara Islam.

***
Padahal masalah pemerintahan dan negara itu tidak sesimple dan sekaku itu dalam memahaminya.

Syariat dan sunnah lebih luwes dan flexible dalam memahaminya.

Misal, kita faham kan jika ada perjanjian antar negara dan antar pemimpin maka wajib untuk menyebutkan “IDENTITAS RESMI” dari fihak fihak yang menandatangani nya?

Sebab ini mengandung kekuatan hukum dan implikasi yang besar.

Ada sosok mulia yang melakukan “lebih ekstrem” ketika menandatangani kesepakatan resmi antar kekuasaan dan antar “negara” pada waktu itu.

Sikap beliau jauh lebih ekstrem dibandingkan dengan tidak menyebutkan identitas nya sebagai pemimpin resmi dari suatu negara Islam, yang dia sendiri harusnya mengatakan bahwa negara nya itu negara Islam.

(Karena jika tidak maka secara otomatis berarti negara nya adalah negara kafir, sesuai dengan logika dan manhaj Khowarij.)

Apa yang beliau lakukan lebih ekstrem dibandingkan tidak mau mengakui negaranya sebagai negara Islam. Beliau rela tidak menyebutkan dan melepaskan identitas resminya sebagai Rasul Allah, dalam posisinya ketika menyepakati perjanjian itu.

Padahal posisi “Rasulullah” itu Allah subhaanahu wa ta’aala sendiri yang memberikan, namun beliau rela melepaskan posisi itu sebagai identitas resmi orang yang menyepakati perjanjian Hudaibiyah.

Beliau menyuruh Ali agar menghapus perkataan Rasulullah dalam perjanjian, dan mengganti nya dengan Muhammad bin Abdillah sesuai dengan permintaan orang kafir musyrikin Quraisy.

****
Mana yang lebih tinggi kedudukannya, sekedar pernyataan resmi “Negara Islam atau bukan negara Islam”? Atau pernyataan resmi “Rasulullah atau bukan Rasulullah”?

Tentu saja jelas pernyataan resmi posisi sebagai Rasulullah. Ini posisi yang Allah subhaanahu wa ta’aala sebutkan sendiri dalam Al Qur’an.

Namun apakah kemudian Rasulullah kehilangan dan tidak diakui sebagai Rasul secara de facto, akan hal itu?

Tidak, beliau tetap Rasulullah. Dan demikianlah juga kondisi negara negara Islam termasuk Indonesia, yang konstitusi beserta pemimpinnya yang mengatakan bahwa Indonesia bukan negara Islam.

Yang teranggap dalam syariat dan sunnah dalam hal ini adalah de facto nya saja. Yang lain lain boleh untuk kita berikan udzur.

Toh dalam perjanjian piagam Madinah (ini berbeda dengan perjanjian Hudaibiyah yang tadi kita sebutkan), Rasulullah juga tidak pernah menyebutkan Madinah sebagai negara Islam.

Tapi itu tidak menghalangi de facto hukum syariat dan sunnah, bahwa Madinah itu adalah negara Islam.

***
Maksud Khowarij dengan sikap “strict” nya masalah pendefinisian negara ini adalah :

Jika Indonesia bukan negara Islam, maka berarti boleh untuk melakukan perlawanan, menjatuhkan kehormatan pemerintah yang dzolim di depan rakyatnya.

Baik itu dengan cara mengembuskan berita berita hoax dan konspirasi di sosial media dan internet, ataupun berita yang bukan Hoax dan kedzoliman yang benar-benar dilakukan pemerintah. Sehingga rakyat menjadi benci dan tidak mau bersabar terhadap kedzoliman pemerintah.

Sehingga setelah rakyat membenci dan terprovokasi, maka mereka akan menyebarkan manhaj untuk melegalkan usaha usaha penumpahan darah, terjadinya kekacauan, dan hilangnya keamanan.

Inilah sebenarnya tujuan dari para Haroki, Takfiri, dan para pengikut Khowarij.

***
Syaikh Abdulmalik Ramadhani Al Jazairi hafidzahulloh, dalam jawaban beliau yang saya share di bawah ini.

Sebenarnya faham logika dan manhaj mana yang hendak digiring mengenai masalah pemerintahan yang tidak berhukum dengan hukum Islam secara totalitas, dan mengganti sebagian hukumnya dengan hukum buatan manusia.

Beliau faham maksud dari perkataan “Bukan negara Islam” yang dimaksud oleh para Haroki, Takfiri, dan para pengikut Khowarij.

Maka dari itu beliau jelaskan bahwa ini tidak boleh difahami dengan cara logical fallacy “black or white”, sebagaimana yang diinginkan oleh para Haroki, Takfiri, dan para pengikut Khowarij itu.

Maka beliau terangkan dengan de facto yang ada guna memahami masalah ini. Yakni bahwa negara tersebut secara syariat dan sunnah tetap disebut sebagai negara Islam dengan perincian yang beliau jelaskan.

***
Bahkan jika kita mau merujuk ke penjelasan Syaikh Al Utsaimin rohimahulloh, penjelasan beliau sebenarnya lebih “ekstrem” dibandingkan penjelasan Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi hafidzahullah.

Syeikh Muhammad Sholeh al-Utsaimin rahimahullah berkata:

“Sebahagian manusia menyangka bahawa yang dimaksudkan dengan negara Islam itu adalah negara yang tertegak hukum-hukum syariah di dalamnya dan sangkaan ini sebenarnya adalah satu kejahilan. Maksud negara Islam ialah negara yang tertegak di dalamnya syiar-syiar Islam seperti solat, azan, puasa dan Eid.”

(Syarah Sahih Bukhari 625/2)

Akan tetapi, karena penjelasan Syaikh Abdulmalik Ramadhani Al Jazairi hafidzahulloh lebih spesifik dan detail mengenai negara Indonesia. Sedangkan penjelasan Syaikh Utsaimin rohimahulloh lebih global.

Maka kami memandang penjelasan Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi sejalan dengan Qoul Syaikh Utsaimin, dan kita jadikan pegangan dalam memahami sebagian hukum Indonesia yang masih belum murni 100% mengikuti syariat.

Sehingga jika dikatakan apakah Indonesia itu sesuai dengan “negara Islam yang Ideal”? Maka kita jawab, tidak. Indonesia adalah negara Islam yang tidak ideal.

Akan tetapi kita tetap menganggap nya sebagai negara Islam (walau tidak ideal), dan kita tetap wajib taat dalam hal yang ma’ruf kepada pemerintah nya sebagai Ulil Amri. Bersabar terhadap kedzoliman nya.

Tidak menghasung perlawanan dan Pemberontakan kepada pemerintah Islam yang dzolim, sebagaimana yang diinginkan oleh manhaj para Harokiyyun, Takfiri, dan para pengikut Khowarij.

Kita ikuti sunnah sunnah Rasulullah walau berat, demi menjaga darah dan agar keamanan tidak tercabut di negara para Muslimin ini.

—–
NB : jika ingin menshare tulisan kami juga, sebaiknya copy dulu tulisan intro kami. Terus tempel lagi tulisan tersebut ketika antum pencet tombol share.

Sebab jika tidak, tulisan kami tidak akan ikut ikut ter Share.

Namun ini optional saja

*****

FP Anti Syubhat :

Alhamdulillah

Admin FP Anti Syubhat mendapatkan kiriman yang berharga dari Al Akh Ahmad Anshori, Mahasiswa Universitas Islam Madinah, yang menanyakan langsung kepada Syaikh Abdul Malik ramadhani Al Jazairi hafidzahulloh mengenai masalah status hukum syariat negara Indonesia.

Berikut adalah kiriman beliau :

******

INDONESIA BUKAN NEGARA ISLAM ?
———

Kita tidak bisa memutlakkan begitu saja sebutan “bukan negara islam” terhadap negara Indonesia.

Mengapa demikian?

Karena hukum Indonesia menurut penilaianku seperti negara-negara Islam lainnya, selain Saudi Arabia.

Mereka berhukum dengan hukum yang hampir sama; undang-undang buatan manusia.

Akan tetapi kami hendak mengajak saudara sekalian untuk teliti dalam menggunakan istilah dan memahami suatu negara.

Diantara kekeliruan yang tersebar saat ini adalah menggenalisir begitu saja aturan yang berlaku di mayoritas negara Islam saat ini adalah hukum liberal atau bukan hukum Islam.

Bila anda katakan begitu saja hukum yang berlaku di Indonesia, Mesir, Aljazair adalah bukan hukum Islam, ini kurang tepat.

Adapun bila anda katakan mayoritas hukum negara adalah bukan hukum islam maka ini baru tepat.

Adapun menggenalisir begitu saja hukum negara bukan hukum Islam, ini keliru.

Mengapa?

Karena pernyataan seperti ini akan memunculkan persepsi bahwa pemimpin negeri tersebut adalah kafir dan negara tersebut adalah negara kafir harbi yang boleh diperangi.

Padahal pemimpinnya masih muslim, dia masih sholat, syahadat, puasa, memerintahkan tauhid di sekolah-sekolah melalui buku-buku kurikulum walau masih global, beriman pada 6 rukun iman; Iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab dst, memerintahkan kepada akhlak-akhlak islam, membangun masjid, berpuasa ramadhan, mengatur proses haji dengan sistem yang sangat profesional.

Ini semua sesungguhnya bagian dari Islam..!

Oleh karenanya kami menghimbau untuk lebih teliti dalam memandang dan menggunakan istilah.

Jangan terpengaruh dengan euforia perasaan kelompok-kelompok pergerakan yang mensifati begitu saja negara Islam dengan bukan Islam, disebabkan karena tidak berhukum dengan hukum Islam.

Lebih tepat kita katakan, negara-negara itu “tidak berhukum dengan hukum islam pada mayoritas keadaan (atau minoritas keadaan)”.

Adapun menggenalisir begitu saja istilah “bukan negara islam” ini tidak tepat. Ini maknanya negara tersebut adalah negara kafir harbi.

Tentu saja keliru.

Negara tersebut adalah negara Islam, namun ada kekurangan yang dalam penerapan hukum Islam.

Pemahaman ini hendaknya kita pahami dengan baik..

Karena kita dapati syiar-syiar islam tersebar di negara-negara tersebut dan negara tersebut ikut menyemarakkannya. Adapun terkait jika ada sesuatu yang tersembunyi, maka ini pembahasan lain. Yang menjadi rujukan penilaian adalah keadaan dzohir dari suatu negara.

Lebih tepatnya, seperti Indonesia, Maroko, Aljazair dll adalah negeri Islam, namun masih kurang dalam menerapkan syariat Islam.

Wallahua’lam bis showab.

((Faidah saat kunjungan ke kekediaman guru kami Syaikh Abdulmalik bin Ahmad Romadhoni al Jazairi -hafidzohullah-, pada hari Senin 19 Februari 2017, Madinah An Nabawiyyah.))

📚Akhukum: Ahmad Anshori

Rekaman tanya jawab langsung kepada Syaikh Abdul Malik ramadhani Al Jazairi hafidzahulloh dapat didengar di :

https://drive.google.com/…/0Bx_gQF8gz7hoUUhHd0hQUVdQW…/view…

Masalah minta syafaat “titip pesan” antara sesama muslim : Baik dari sang ustadz ke jamaah pengajiannya, ataupun dari para jamaah pengajian ke Ustadz nya

Leave a comment

Di antara perkara Aqidah mengenai syafaat, adalah mengimani masalah syafaat antara sesama kaum muslimin.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَوَالَّذِى نَفْسِي بِيَدِهِ! مَا مِنْ أَحَدٍ مِنْكُمْ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً للهِ فِى اسْتِضَاءَةِ الْحَقِّ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ للهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لإِخْوَانِهِمُ الَّذِيْنَ فِى النَّارِ. يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! كَانُوْا يَصُوْمُوْنَ مَعَنَا وَيُصَلُّوْنَ وَيَحُجُّوْنَ. فَيُقَالُ لَهُمْ : أَخْرِجُوْا مَنْ عَرَفْتُمْ. فَتُحَـرَّمُ صُـوَرُهُمْ عَـلَى النَّارِ. فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا قَدْ أَخَذَتِ النَّاُر إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! مَا بَقِيَ فِيْهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ. فَيَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِيْنَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! لَمْ نَذَرْ فِيْهَا أَحَدًا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ. ثُمَّ يَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ نِصْفِ دِيْنَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! لَمْ نَذَرْ فِيْهَا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا أَحَدًا. ثُمَّ يَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا!ْ لَمْ نَذَرْ فِيْهَا خَيْرًا.
وَكَانَ أَبُوْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ يَقُوْلُ: إِنْ لَمْ تُصَدِّقُوْنِي بِهَذَا الْحَدِيْثِ فَاقْرَأُوْا إِنْ شِئْتُمْ : (إَنَّ اللهَ لاَيَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا) من سورة النساء : 40 – الحديث.- رواه البخاري ومسلم-.

“Demi Allah Yang jiwaku ada di tanganNya. Tidak ada seorangpun diantara kamu yang lebih bersemangat di dalam menyerukan permohonannya kepada Allah untuk mencari cahaya kebenaran, dibandingkan dengan kaum Mu’minin ketika memohonkan permohonannya kepada Allah pada hari Kiamat untuk (menolong) saudara-saudaranya sesama kaum Mu’minin yang berada di dalam Neraka.

Mereka berkata : “Wahai Rabb kami, mereka dahulu berpuasa, shalat dan berhaji bersama-sama kami”.

Maka dikatakan (oleh Allah) kepada mereka : “Keluarkanlah oleh kalian (dari Neraka) orang-orang yang kalian tahu!”

Maka bentuk-bentuk fisik merekapun diharamkan bagi Neraka (untuk membakarnya). Kemudian orang-orang Mu’min ini mengeluarkan sejumlah banyak orang yang dibakar oleh Neraka sampai pada pertengahan betis dan lututnya.

Kemudian orang-orang Mu’min ini berkata: “Wahai Rabb kami, tidak ada lagi di Neraka seorangpun yang engkau perintahkan untuk mengeluarkannya”.

Allah berfirman : “Kembalilah! Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat satu dinar, maka keluarkanlah (dari Neraka)!”

Maka merekapun mengeluarkan sejumlah banyak orang dari Neraka. Kemudian mereka berkata lagi : “Wahai Rabb kami, tidak ada lagi seorangpun yang kami sisakan dari orang yang Engkau perintahkan untuk kami mengeluarkannya”.

Allah berfirman : “Kembalilah! Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat setengah dinar, maka keluarkanlah (dari Neraka)”. Merekapun mengeluarkan sejumlah banyak orang.

Selanjutnya mereka berkata lagi : “Wahai Rabb kami, tidak ada seorangpun yang Engkau perintahkan, kami sisakan (tertinggal di Neraka)”.

Allah berfirman: “Kembalilah! Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji dzarrah, maka keluarkanlah (dari Neraka)”. Maka merekapun mengeluarkan sejumlah banyak orang.

Kemudian mereka berkata : “Wahai Rabb kami, tidak lagi kami menyisakan di dalamnya seorangpun yang mempunyai kebaikan”.

Pada waktu itu Abu Sa’id al Khudri mengatakan: “Apabila kalian tidak mempercayai hadits ini, maka jika kalian suka, bacalah firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak menzhalimi seseorang meskipun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar”. (QS an Nisaa’ : 40)”.

[HR. Bukhari dan Muslim]

Hadits ini Shohih, dan wajib bagi kita untuk mengimani adanya syafaat di antara sesama kaum Muslimin ini.

Karena sebagian kaum muslimin ada yang masuk surga duluan, dan ada juga yang “mampir” dulu ke neraka untuk dihukum dosa dosanya terlebih dahulu.

Hadits ini berbicara mengenai syafaat untuk kaum muslimin pendosa yang mampir dulu ke neraka.

***
Hadits ini untuk pemahaman Amaliyyah nya adalah, hendaknya kita banyak banyak berteman dengan orang yang sholeh. Karena hadits itu berkata,

يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! كَانُوْا يَصُوْمُوْنَ مَعَنَا وَيُصَلُّوْنَ وَيَحُجُّوْنَ

Mereka berkata : “Wahai Rabb kami, mereka dahulu berpuasa, shalat dan berhaji bersama-sama kami”.

Sehingga mafhumnya adalah memperbanyak teman yang beriman dan suka beramal sholeh.

Ini sesuai dengan perkataan Imam Al Hasan Al Bashri mengenai hal ini,

استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة. [تفسير البغوي جـ8 صـ340]

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” [Disebutkan riwayat nya dalam tafsir Al Baghowi (ma’alimut tanzil) , Juz 8, halaman 340]

***
Di sini ada sedikit musykilah ketika kita mencoba memahami apa dikatakan Ibnul Jauzi rahimahullah (bukan Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah ya).

Beliau berkata :
إن لم تجدوني في الجنة بينكم فاسألوا عني وقولوا : يا ربنا عبدك فلان كان يذكرنا بك

”Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Tuhan kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.” Kemudian beliau menangis.

Demikian perkataan Ibnul Jauzi.

Saya sendiri berusaha mencari cari sumber rujukan dari kitab mana beliau berkata, dan saya belum menemukannya.

Apakah di kitab beliau Shoidul Khothir atau yang lain, saya belum menemukan nya. Mungkin saya kurang “piknik”…

Tetapi yang jelas perkataan itu masyhur dinisbatkan kepada beliau.

Sikap meminta syafaat bagi orang yang masih hidup, dengan “titip pesan” seperti itu tampaknya mulai ngetrend di masyarakat kita sekarang ini.

Baik itu dari sang ustadz yang titip pesan kepada jamaah pengajian nya, ataupun jamaah pengajian yang titip pesan kepada ustadz nya.

Bolehkah kita mengkritisi fenomena yang ada dan mulai ngetrend ini?

Tentu saja boleh asalkan ilmiah.

***
Ketika hadits itu dikabarkan oleh Rasulullah, tidak ada para sahabat yang kemudian saling memberikan wasiat agar nanti menanyakan kepada Allah perihal dirinya jika tidak menemukan di surga dengan berdasarkan hadits ini.

Tidak juga para Tabi’in.
Tidak juga para Tabiut Tabi’in.
Tidak juga para imam empat Madzhab.

Hingga kemudian Ibnul Jauzi mengatakan hal itu secara “insidental”, dan tidak bertujuan agar para jamaah melazimkan meniru hal yang beliau lakukan itu.

Sikap ini juga tidak diikuti oleh para ulama sezaman dengan Ibnul Jauzi ataupun ulama setelahnya, dalam memahami hadits itu.

Baik Imam Nawawi, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Ibnu Katsir, Adz Dzahabi, Ibnu Hajar, dan lain lain tidak tercatat melakukan hal tersebut dalam memahami hadits itu

Jadi “ungkapan khouf dan sikap Tawadhu” dari Ibnul Jauzi ini sepertinya hanya merupakan perkara insidental, bukan sengaja untuk diajarkan agar dilazimkan seperti itu, dan perkara ini merupakan udzur bagi beliau jika benar hal ini dinisbatkan kepada beliau.

***
Kenapa hal ini dipermasalahkan?

1. Karena hadits tadi berbicara mengenai syafaat yang akan terjadi besok di hari kiamat, sedangkan kita masih hidup di dunia ini.

2. Hadits itu sebenarnya hanya masalah khobariyyah, bukan suatu amaliyah agar kita saling titip pesan ketika di dunia.

3. Dan yang paling penting adalah kita tidak mengetahui, apakah kita meninggal sebagai orang yang beriman ataukah catatan taqdir mendahului kita meninggal sebagai orang yang tidak beriman. Na ‘udzu billaahi min dzaalik.

Ini karena Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

عن أبي عبدالرحمن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق ” إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم علقه مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك , ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح , ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه , وأجله , وعمله , وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة

Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda, – dan beliau adalah orang yang jujur dan dibenarkan –

“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 hal: rezeki, ajal, amal dan celaka/bahagianya.

Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka.

Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Bad’ul Khalq)

***
Hadits di atas mengajarkan kepada kita kaidah berkaitan dengan masalah Aqidah,

“Tidak boleh memastikan seseorang yang masih hidup secara ta’yin definitif sebagai penghuni surga atau neraka, karena kita tidak mengetahui bagaimana akhir hidupnya kecuali dengan berdasarkan kabar dari Allah dan Rasul-Nya”.

Adapun jika hanya secara umum saja, dengan tanpa mengarahkan secara definitif kepada individu tertentu, maka hal itu tidak mengapa. Seperti perkataan “Orang Islam itu pasti masuk surga, sedangkan orang kafir itu pasti masuk neraka”, hal ini tidak mengapa.

***
Adapun yang kita permasalahkan dengan fenomena trend yang terjadi, karena hal itu memastikan seseorang masuk surga tanpa adanya kabar khusus mengenai orang tersebut dari Allah dan Rasul-Nya.

Dan juga ini karena termasuk dalam meminta syafaat kepada orang yang masih hidup berkaitan dengan masalah akhirat.

Baik ustadz yang meminta syafaat kepada jamaah nya, berarti dia memastikan jamaah nya atau salah satunya pasti akan masuk surga. Dan juga sang ustadz memastikan dirinya pasti akan meninggal sebagai muslim, dengan tanpa mengetahui apa yang Allâh takdir kan pada akhir hayatnya.

Demikian juga sebaliknya, jika para jamaah titip pesan kepada Ustadz nya. Maka ini berarti memastikan sang Ustadz pasti masuk surga, dengan tanpa mengetahui apa yang Allâh takdir kan pada akhir hayatnya.

Jadi Aqidah Ahlus Sunnah itu selain tidak boleh memastikan seseorang masuk neraka atau surga dengan tanpa dalil, dia itu juga harus menjalani hidup nya dengan khouf (rasa takut) dan roja (rasa harap) dengan bergantung sepenuhnya kepada Allah sembari melakukan amalan yang Allah dan Rasul-Nya perintah kan.

***
Sebenarnya yang cocok dalam memahami hal ini adalah hadits “anta ma’a man ahbabta” (Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai).

Mari kita perhatikan hadits di bawah ini.

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata:

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Kapankah hari kiamat terjadi wahai Rasulullah?”

beliau menjawab, “Apa yang telah kau persiapkan untuknya?”

Laki-laki itu menjawab, “Aku tidak mempersiapkan banyak shalat, puasa, ataupun sedekah, namun aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Maka beliau bersabda: “Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.” (HR. Al-Bukhari no. 5705 dan Muslim no. 2639)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya,

“Ya Rasulullah, bagaimana menurut anda tentang seseorang yang mencintai suatu kaum namun dia tidak bisa menjangkau (amalan saleh) mereka?”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dia cintai.” (HR. Al-Bukhari no. 5703 dan Muslim no. 2640)

***
Hadits inilah yang difahami dan langsung diamalkan oleh para Sahabat, para ulama Salaf, dan orang orang yang mengikuti mereka dengan Ihsan.

Mereka tujukan cinta mereka kepada orang orang yang benar-benar dijamin masuk surga dengan berdasarkan dalil khobar yang khusus ditujukan kepada mereka. Ini sepertinya mencintai Rasulullah, khulafaur Rasyidin, dan sisa dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

Bahkan hadits anta ma’a man ahbabta ini dikalangan Ahlul Hadits dan riwayat, dijadikan hadits musalsal bil mahabbah.

Yakni hadits yang bersambung sanadnya hingga ke Rasulullah, dengan harapan orang yang mendapatkan ijazah sanad periwayatab musalsal bil Mahabbah ini, bisa bersama sama dengan orang yang tersambung riwayat nya dengan kecintaannya sampai ke Rasulullah.

***
Namun tentu saja sanad dan ijazah periwayatan itu tidak ada gunanya kalau hanya sekedar mengklaim cinta, namun ternyata manhaj nya menyimpang dan amalan nya penuh dengan kebid’ahan yang bertentangan dengan sunnah.

Abu Tholib jelas mencintai Rasulullah, dan Rasulullah juga jelas mencintai beliau. Namun kecintaan beliau tidak menyebabkan beliau masuk surga bersama sama dengan Rasulullah.

Jadi yang penting itu adalah benar-benar mengikuti Rasulullah dan sunnah nya sebagai bukti kecintaan kita.

***
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Baarokalloohu fiik

Older Entries