Kumpulan pemahaman penting yang mudah difahami dalam masalah Tawassul dan Tabarruk

Leave a comment

Dasar pemahaman :

1. Pemahaman yang penting mengenai Tawassul dan Tabarruk

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-yang-penting-mengenai-tawassul-dan-tabarruk/

*
Detail point-point pemahaman penting mengenai Tabarruk :

2. Kesalahan mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah. Ini adalah pendapat salah yang mutlaq harus dibenarkan, guna menjaga Aqidah Ummat

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-penting-mengenai-tabarruk-kesalahan-mengqiyaskan-tabarruk-kepada-rasulullah-guna-ber-tabarruk-kepada-orang-sholeh-selain-rasulullah-ini-adalah-pendapat-salah-yang-mutlaq-harus-dibenarkan/

3. Perincian penjelasan berdasarkan petunjuk hadits dan kenyataan sejarah, bahwa seluruh barang peninggalan bekas Rasulullah, yang secara syariat boleh digunakan untuk Tabarruk, telah tiada pada zaman kita sekarang.

Sehingga semua klaim bahwa ini adalah barang bekas peninggalan Rasulullah, hanyalah merupakan kedustaan dan hal yang tidak bertanggung jawab semata.

Demikian juga Tabarruk napak tilas tempat tempat bersejarah lainnya.

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-penting-mengenai-tabarruk-3/

4. Tabarruk kepada makam Rasulullah itu terlarang, demikian juga tawassul dan istighotsah kepada makam Rasulullah. Apalagi terhadap makam selain Rasulullah, baik itu makam orang Sholeh, wali, ulama, sunan dan makam makam lainnya.

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-penting-mengenai-tabarruk-4/

5. Tabarruk dengan benda yang terdapat ayat-ayat Al Qur’an yang ditulis, digantung, disimpan, dijadikan jimat, rajah, ataupun dicampur dengan tulisan lain yang tidak jelas maksudnya.

Baik itu dengan tujuan tolak bala, untuk mendapatkan kesaktian, guna perlindungan, mendatangkan rezeki, dan lain lain yang semisal.

Maka itu adalah Tabarruk yang haram, merendahkan kesucian ayat-ayat Al Qur’an walaupun orang melakukannya tidak tahu, dan wajib untuk diingkari.

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/pemahaman-penting-mengenai-tabarruk-5/

*
Buku referensi yang direkomendasikan dalam memahami Tawassul dan Tabarruk :

6. Buku yang direkomendasikan, yang komprehensif dalam membahas masalah Tabarruk

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/buku-yang-direkomendasikan-yang-komprehensif-dalam-membahas-masalah-tabarruk/

7. Buku yang direkomendasikan dan komprehensif dalam membahas masalah Tawassul

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/12/buku-yang-direkomendasikan-dan-komprehensif-dalam-membahas-masalah-tawassul/

Advertisements

Pemahaman penting mengenai Tabarruk -5

1 Comment

Pemahaman penting mengenai Tabarruk :

Tabarruk dengan benda yang terdapat ayat-ayat Al Qur’an yang ditulis, digantung, disimpan, dijadikan jimat, rajah, ataupun dicampur dengan tulisan lain yang tidak jelas maksudnya.

Baik itu dengan tujuan tolak bala, untuk mendapatkan kesaktian, guna perlindungan, mendatangkan rezeki, dan lain lain yang semisal.

Maka itu adalah Tabarruk yang haram, merendahkan kesucian ayat-ayat Al Qur’an walaupun orang melakukannya tidak tahu, dan wajib untuk diingkari.

——-
Tabarruk dengan Al Qur’an itu yang disyariatkan adalah dengan cara membacanya, mempelajari nya, mengamalkan nya, berdoa dan berdzikir dengan nya, dan melakukan ruqyah dengan Al Qur’an.

Adapun Tabarruk dengan menggantungkan jimat (Tamimah) yang berasal dari Al Qur’an, maka para ulama berbeda pendapat dalam masalah itu.

Dan yang rojih, adalah hal itu dilarang atas nama saddudz dzaroi (tindakan antisipasi untuk menghindari madhorot), dan juga melihat realita yang ada di masyarakat Islam sekarang ini.

Silakan lihat penjelasan dari Disertasi Syaikh Nashir Al Juda’i, yang saya foto pada halaman 318-324 tersebut.

Yakni dengan catatan bahwa yang digantung kan adalah benar-benar murni hanya ayat Al Qur’an saja. Tidak disertai tulisan lain, ataupun gambar, ataupun simbol, angka, huruf, dan lain lain semisal.

Adapun ta’liq Syaikh ibn Baz terhadap Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid tulisan Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh. Maka Syaikh ibn Baz berkata bahwa pendapat Salaf dari kalangan Sahabat yang membolehkan untuk memakai jimat (Tamimah) yang murni hanya bertuliskan ayat Al Qur’an itu.

Yang mana pendapat ini berasal sahabat Abdullah bin Amr rodhiyalloohu anhu, yang kemudian diikuti oleh ulama setelah nya dari kalangan selain Sahabat.

Maka Syaikh ibn Baz berkata bahwa riwayat yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Amr itu lemah, dan juga sebenarnya tidak sesuai untuk konteks masalah jimat (Tamimah) yang murni bertuliskan ayat Al Qur’an.

Syaikh ibn Baz berkata, bahwa Abdullah bin Amr menggantungkan papan bertuliskan ayat-ayat Al Qur’an di papan kecil di leher anak anak itu dengan tujuan agar anak anak kecil itu menghafalnya.

Bukan dengan tujuan untuk jimat (Tamimah) guna Tabarruk kepada Al Qur’an.

Inilah argumentasi dan penjelasan yang benar. Maka dari itu tidak boleh ber Tabarruk dengan menggantungkan ataupun membawa ataupun yang semisal dari ayat-ayat Al Qur’an. Larangan ini juga dikuatkan oleh perkataan sahabat utama lainnya seperti Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas.

Lihat foto akan ta’liq (catatan) Syaikh ibn Baz pada hal 244 di footnote Fathul Majid. Lihat juga kelengkapan Fathul Majid dan ta’liq Syaikh ibn Baz pada hal 244 – 247, yang saya foto semuanya agar dapat memberikan faedah yang lebih sempurna.

***
Versi buku asli berbahasa Arab dalam bentuk PDF, dari disertasi doktoral Syaikh Nashir Al Juda’i dapat diunduh secara gratis di :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

Sedangkan Fathul Majid syarh kitabut Tauhid Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh dengan tahqiq dan ta’liq (catatan) dari Syaikh ibn Baz, yang versi asli berbahasa Arab. Dapat diunduh secara gratis di :

http://waqfeya.com/book.php?bid=8230

****
Adapun jika yang digantungkan itu bukan ayat Al Qur’an; atau ayat Al Qur’an tapi dicampur dengan tulisan selainnya. Baik itu berupa simbol simbol, gambar, angka, coretan, atau yang lain-lain. Yang mana ini sebenarnya adalah jampi jampi syaitan.

Ataupun jika cara pembuatan tulisan Al Qur’an yang dijadikan jimat itu, harus ada syarat syarat tertentu dan melalui ritual tertentu. Dan demikian juga dengan cara pemakaian dan perawatan jimat tersebut.

Ataupun yang ditulis dengan menggunakan bahan bahan najis dan menjijikkan, atau harus dengan metode tertentu.

Maka ini mutlaq harom dan terlarang. Inilah tipuan syaitan atas nama Tabarruk kepada ayat-ayat Al Qur’an.

Dan inilah yang umumnya ada di sebagian masyarakat Muslim. Yang mana mereka tertipu menggantungkan jimat karena ada tulisan Al Qur’an nya disitu, ataupun bahkan hanya sekedar tulisan Arab yang dia tidak faham karena dikira ayat-ayat Al Qur’an, karena saking awamnya dia.

***
Jimat-jimat, rajah, dan lain lain yang semisal ini wajib untuk diingkari dan bahkan dibakar guna dimusnahkan agar ayat-ayat Al Qur’an tidak dihinakan oleh permainan Syaitan dan para dukun yang berkedok agama ini.

Jika dalam proses pemusnahan ataupun penghilangan jimat ini mengalami gangguan dari jin jin yang bersarang akibat jimat haram itu, maka lawanlah dengan Tabarruk kepada Al Qur’an yang sesuai dengan syariat. Baik itu dengan dzikir dan do’a yang berasal dari Al Qur’an atau yang diajarkan Rasulullah, ataupun dengan ruqyah syar’iyyah.

Tabarruk yang salah -1Tabarruk dan Jimat -1Tabarruk dan Jimat -2Tabarruk dan Jimat -3Tabarruk dan Jimat -4Tabarruk dan Jimat -5Tabarruk dan Jimat -6Tabarruk dan Jimat -7Tabarruk dan Jimat -8Tabarruk dan Jimat -9Tabarruk dan Jimat -10Tabarruk dan Jimat -11Tabarruk dan Jimat -12

Buku yang direkomendasikan dan komprehensif dalam membahas masalah Tawassul

1 Comment

Jika postingan saya sebelumnya khusus mengenai rekomendasi buku mengenai Tabarruk, maka sekarang ini rekomendasi buku khusus mengenai Tawassul.

Berikut adalah daftar isi komprehensif mengenai Tawassul, yang bisa digunakan sebagai acuan ringkas dengan hanya berdasarkan mengetahui daftar isinya, dari buku yang merupakan kumpulan dari buah karya Syaikh Al Albani dan Syaikh Al Utsaimin yang dijadikan satu. (Lihat foto yang saya sertakan).

Judul asli, ( صحيح التوسل انواعه و أحكامه) “Shohih Tawassul : Jenis-jenis dan hukum-hukum nya”.

Diterjemahkan oleh Akbar Media menjadi “Shahih Tawassul : Perantara Terkabulnya Doa”

***
Buku terjemahan ini sebenarnya berasal dari dua buku yang dijadikan satu, yakni :

1. Buku (التوسل انواعه و أحكامه) “Tawassul : Jenis-jenis dan hukum-hukum nya” yang semula ditulis oleh Syaikh Albani.

Yang mana setelah berlalu 20 tahun kemudian buku itu diedit, disusun lagi, ditambahkan, dan ditakhrij lagi ayat-ayat dan hadits hadits nya oleh Syaikh Muhammad ‘Id Al Abbasi. Yang mana setelah disodorkan kepada Syaikh Albani, beliau mensetujuinya dan meringkasnya lagi agar lebih mudah difahami.

Maka kitab itupun dirubah judulnya sehingga menjadi ( صحيح التوسل انواعه و أحكامه) “Shohih Tawassul : Jenis-jenis dan hukum-hukum nya”

2. Berbagai rekaman ceramah dan tanya jawab Syaikh Al Utsaimin mengenai Tawassul, yang kemudian dikumpulkan dan disusun transkrip nya dalam bentuk tulisan oleh Syaikh Abu Laits Al Atsary.

Yang mana kumpulan kedua buku menjadi satu itu dipertahankan judulnya yang ( صحيح التوسل انواعه و أحكامه) “Shohih Tawassul : Jenis-jenis dan hukum-hukum nya” dan diterjemahkan oleh Akbar Media.

****
Buku asli berbahasa Arab dalam bentuk PDF, yang dapat diunduh secara gratis dari dua buku yang dijadikan satu itu, maka terus terang saya belum menemukan nya.

Saya hanya baru menemukan pdf free download dari kitab Syaikh Albani yang asli saja, yang berjudul (التوسل انواعه و أحكامه) “Tawassul : Jenis-jenis dan hukum-hukum nya”

Silakan download di sini :

http://waqfeya.com/book.php?bid=9180

Adapun kumpulan transkrip yang sudah disusun dalam bentuk buku oleh Syaikh Abu Laits Al Atsary, dari berbagai rekaman ceramah dan tanya jawab Syaikh Al Utsaimin mengenai Tawassul.

Maka saya juga belum menemukan free ebook nya.

***
Secara garis besar, terdapat 5 tema besar dari tulisan Syaikh Albani, yang harus kita fahami seputar Tawassul :

1. Tawassul ditinjau dari kacamata Bahasa dan Al Qur’an

2. Wasilah Kauniyah dan Syar’iyyah

3. Tawassul yang disyariatkan dan bentuknya yang beraneka ragam

4. Tawassul yang Syubhat (tidak jelas), yang mana Tawassul syubhat itu ditolak dan tidak diterima disisi Allah

5. Syubhat-syubhat pengekor hawa nafsu seputar Tawassul dan bantahan nya

Adapun dari Syaikh Utsaimin, maka terdapat 3 tema besar yang harus kita fahami seputar Tawassul :

1. Pengertian Tawassul menurut bahasa Arab

2. Bentuk-bentuk Tawassul

3. Tanya jawab seputar Tawassul bersama Syaikh Utsaimin.

***
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah difahami. Baarokalloohu fiik

Shahih Tawasul dan Tabaruk -17Daftar isi Shohih Tawassul -1Daftar isi Shohih Tawassul -2Daftar isi Shohih Tawassul -3Daftar isi Shohih Tawassul -4Daftar isi Shohih Tawassul -5Daftar isi Shohih Tawassul -6

Buku yang direkomendasikan, yang komprehensif dalam membahas masalah Tabarruk

1 Comment

Berikut adalah daftar isi komprehensif mengenai Tabarruk, yang bisa digunakan sebagai acuan ringkas dengan hanya berdasarkan mengetahui daftar isinya, dari Disertasi doktoral Syaikh Dr. Nashir Al Juda’i. (Lihat foto yang saya sertakan).

Judul asli, (التبرك انواعه و أحكامه) “Tabarruk : Jenis-jenis dan hukum-hukum nya”.

Diterjemahkan oleh Pustaka Imam Syafi’i menjadi “Tuntutan Mengambil Berkah”

Buku asli berbahasa Arab dalam bentuk PDF, dapat diunduh secara gratis di :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

***
Secara garis besar, terdapat 4 tema bab pokok yang harus kita fahami seputar Tabarruk :

1. Perkara-perkara yang diberkahi
2. Mencari berkah (Tabarruk) yang disyariatkan
3. Tabarruk yang dilarang
4. Sebab, dampak, dan upaya meluruskan Tabarruk yang dilarang

***
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Daftar Isi kitab Tabarruk -1Daftar Isi kitab Tabarruk -2Daftar Isi kitab Tabarruk -3Daftar Isi kitab Tabarruk -4Daftar Isi kitab Tabarruk -5Daftar Isi kitab Tabarruk -6Daftar Isi kitab Tabarruk -7Daftar Isi kitab Tabarruk -8Daftar Isi kitab Tabarruk -9Daftar Isi kitab Tabarruk -10

Pemahaman penting mengenai Tabarruk -4

1 Comment

Pemahaman penting mengenai Tabarruk :

Tabarruk kepada makam Rasulullah itu terlarang, demikian juga tawassul dan istighotsah kepada makam Rasulullah. Apalagi terhadap makam selain Rasulullah, baik itu makam orang Sholeh, wali, ulama, sunan dan makam makam lainnya.
———

Sebelum memulai pembahasan ini, biasanya topik “tidak relevan” yang sering dikemukakan adalah, kenapa bangunan yang melingkupi makam Rasulullah itu berada di dalam halaman perluasan masjid Nabawi?

Dengan kata lain, mengapa makam Rasulullah berada di dalam masjid Nabawi?

Kenapa dikatakan tidak relevan?

Karena keberadaan bangunan yang melingkupi makam Rasulullah di halaman masjid Nabawi itu, sama sekali bukan dalil bahwa makam Rasulullah itu boleh digunakan untuk Tabarruk.

Kenapa? Karena Rasulullah tidak pernah mensyariatkan hal itu, dan para sahabat juga tidak pernah menganggap seperti itu.

***
Agar lebih jelas, maka mari kita lihat perbandingan berikut ini.

Makam Nabi itu ada di sekitar halaman perluasan masjid Nabawi. Sedangkan Hajar Aswad itu berada di ka’bah, dan benar-benar di dalam Masjidil Haram.

Dari segi lokasi, maka Hajar Aswad “lebih mantap” dibandingkan kuburan Rasulullah. Dan juga dari segi keutamaan, maka Masjidil Harom jauh lebih utama dibandingkan Masjid Nabawi.

Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.”

(HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.)

Dari hadits di atas, jika kita hitung-hitung, berarti keutamaan sholat di Masjidil Harom itu 100 kali lebih utama dibandingkan sholat di masjid Nabawi. Dalam arti lain barokah tempat Masjidil Harom itu 100 kali lebih tinggi, dibandingkan barokah tempat masjid Nabawi.

Namun walaupun begitu, Tabarruk kepada Hajar Aswad secara dzat nya itu sendiri, haram dan terlarang. Sebagaimana perkataan Kholifah Umar bin Khoththob. Yakni Hajar Aswad itu tidak bisa memberikan mashlahat dan menolak Madhorot, maka ini tentu berarti bukan dzat untuk ber-Tabarruk guna tolak bala, lancar rizki, hidup lancar dan lain-lain itu.

Maka dari itu apalagi makam Rasulullah. Tentu lebih tidak boleh digunakan sebagai tempat Tabarruk.

عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270)

Kiranya sampai disini sudah jelas dan mudah untuk difahami terlebih dahulu, mengenai tidak bolehnya Tabarruk kepada makam Rasulullah itu.

***
Jika pemahaman di atas sudah jelas bagi kita, maka mudah bagi kita untuk menerangkan kenapa makam Rasulullah masuk ke dalam halaman perluasan masjid Nabawi.

Saya sebenarnya pernah menerangkan masalah ini, baik dari segi fiqh ataupun dari segi sejarah. Silakan lihat tulisan kami yang terdahulu :

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/04/03/serba-serbi-masjid-nabawi-dan-makam-rasulullah/

Kesimpulannya adalah :

1. Perluasan masjid Nabawi itu memiliki konteks yang berbeda dengan hadits larangan mendirikan masjid di atas makam Nabi. Karena masjid Nabawi itu sudah ada terlebih dahulu dibandingkan makam Rasulullah.

Awal makam Rasulullah juga tidak di dalam masjid Nabawi, dan terpisah dengan masjid Nabawi.

2. Perluasan yang sampai memasukkan makam Rasulullah itu juga baru terjadi pada masa Tabi’in, bukan masa sahabat. Sehingga secara ushul fiqh, ini bukanlah dalil. Karena yang menjadi dalil itu adalah Ijma sahabat.

3. Atas jasa pemerintah Saudi, dibangun bangunan yang menutupi makam Rasulullah. Sehingga secara fiqh ini sudah dianggap tidak berada di dalam masjid Nabawi, karena ada pembatas.

4. Dan yang paling penting, bahwa ini sama sekali bukanlah dalil untuk boleh membangun makam di dalam masjid atau membangun masjid di atas makam.

Yang mana ini dilakukan terhadap makam orang orang Sholeh selain Rasulullah. Baik itu wali, Kyai, sunan, Habib, dan lain lain. Yang kemudian dijadikan tempat untuk Tabarruk, Tawassul, Istighotsah, dan yang semisal.

Ini dilarang dengan tegas oleh Rasulullah, demikian juga termasuk Tabarruk, Tawassul, Istighotsah di makam itu.

Di makam Rasulullah saja terlarang, apalagi di makam orang selain Rasulullah. Tentu lebih terlarang.

عَنْ جُنْدَبٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Dari Jundab, dia berkata: Lima hari sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku mendengar beliau bersabda: “Aku berlepas diri kepada Allah bahwa aku memiliki kekasih di antara kamu. Karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasihNya sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim menjadi kekasihNya (QS. 4:125-pen).

Jika aku menjadikan kekasih di antara umatku, pastilah aku telah menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih.

Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu telah menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka dan orang-orang sholih mereka sebagai masjid-masjid! Ingatlah, maka janganlah kamu menjadikan kubur-kubur sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari hal itu!” (HSR. Muslim no:532)

أَنَّ عَائِشَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ قَالَا لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا

Dari ‘Aisyah dan Abdullah bin Abbas –semoga Allah meridhoi mereka- mengatakan: “Ketika kematian datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau mulai meletakkan kain wol bergaris-garis pada wajah beliau, sewaktu beliau susah bernafas karenanya, beliau membukanya dari wajahnya, ketika dalam keadaan demikian, lalu beliau mengatakan:

“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashoro, mereka menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”.

Beliau memperingatkan apa yang telah mereka lakukan. (HSR. Bukhari no: 435, 436; Muslim no:531)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ

Dari Abdulloh, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Sesungguhnya di antara seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang ketika hari kiamat datang mereka masih hidup, dan orang-orang yang menjadikan kubur-kubur sebagai masjid”. (HSR. Ahmad 1/432; no: 4132; Ibnu Hibban; Thobaroni di dalam Mu’jamul Kabir. Dishohihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

****
Adapun perincian dari dalil dan qoul para ulama, bahwa tidak boleh bertabaruk kepada makam Rasulullah. Berikut juga bantahan terhadap syubhat syubhat seputar Tabarruk kepada makam Rasulullah.

Dijelaskan dan dikumpulkan di dalam terjemahan Disertasi doktoral dari Syaikh Dr. Nashir Al Judai’ berikut ini (hal 422-442 dari halaman yang saya foto).

Termasuk dalam kategori hal ini tentu saja tawassul dan istighotsah kepada makam Rasulullah, ini juga termasuk terlarang.

Hal-hal ini merupakan keharoman, kebid’ahan, dan pintu menuju kepada kesyirikan.

***
Adapun sebagian ulama yang tergelincir di dalam membolehkan mengusap dan mencium makam Rasulullah guna ber-Tabarruk. Maka itu adalah kesalahan Ijtihad beliau, dan Ulama itu tidak ada yang ma’shum.

Ulama jika berijtihad namun salah dalam Ijtihad nya, maka beliau mendapatkan satu pahala, kehormatannya tetap terjaga dan tidak boleh dijatuhkan karena kesalahannya, namun kesalahannya harus disalahkan, dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan ulama tersebut.

Pemuka sahabat saja bisa salah, harus dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan sahabat tersebut. Apalagi hanya sekedar ulama yang jauh derajatnya dibandingkan sahabat.

Bagi orang yang terbiasa mengetahui perselisihan para sahabat, maka hal ini tidak tersembunyi baginya.

Sehingga Tabarruk kepada makam Rasulullah itu tetaplah terlarang, dan perkataan sebagian ulama itu haruslah dikembalikan kepada dalil yang tegas dan jelas, dengan tanpa bermaksud menjatuhkan kehormatan ulama tersebut karena kesalahan Ijtihad mereka.

Penjelasan akan kesalahan ulama yang tidak boleh kita ikuti itu, juga disebutkan dalam disertasi doktoral Syaikh Nashir Al Juda’i tersebut.

***
Insya Allah buku ini sangat bermanfaat dan sangat penting bagi kita semua, demi menjaga Aqidah Ummat.

Kalau antum punya rezeki, sebaiknya beli juga buku ini, untuk membentengi antum dan keluarga antum dari jenis Tabarruk terlarang yang banyak tidak difahami oleh masyarakat Indonesia ini.

Jika antum bisa berbahasa Arab, maka itu lebih bagus lagi. Antum bisa hemat uang banyak. Antum bisa download free pdf ebook nya disini :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

Ini penting, terutama orang orang yang bertabaruk kepada kuburan para wali, sunan, Kyai dan yang semisal. Termasuk juga yang bertawassul dan beristighotsah ke makam tersebut.

Kenapa makam Rasulullah saja tidak boleh, apa ke makam selain Rasulullah.

Sekedar ziarah kubur saja nggak masalah. Beri salam dan mendoakan kepada Shohibul qubur juga tidak mengapa.

Namun Tabarruk, Tawassul, minta didoakan, dan istighotsah kepada penghuni kubur itu tidak boleh dan jelas terlarang.

****
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Tabarruk dengan Makam Nabi -1Tabarruk dengan Makam Nabi -2Tabarruk dengan Makam Nabi -3Tabarruk dengan Makam Nabi -4Tabarruk dengan Makam Nabi -5Tabarruk dengan Makam Nabi -6Tabarruk dengan Makam Nabi -7Tabarruk dengan Makam Nabi -8Tabarruk dengan Makam Nabi -9Tabarruk dengan Makam Nabi -10Tabarruk dengan Makam Nabi -11Tabarruk dengan Makam Nabi -12Tabarruk dengan Makam Nabi -13Tabarruk dengan Makam Nabi -14Tabarruk dengan Makam Nabi -15Tabarruk dengan Makam Nabi -16Tabarruk dengan Makam Nabi -17Tabarruk dengan Makam Nabi -18Tabarruk dengan Makam Nabi -19Tabarruk dengan Makam Nabi -20Tabarruk dengan Makam Nabi -21

Pemahaman penting mengenai Tabarruk -3

1 Comment

Pemahaman penting mengenai Tabarruk :

Perincian penjelasan berdasarkan petunjuk hadits dan kenyataan sejarah, bahwa seluruh barang peninggalan bekas Rasulullah, yang secara syariat boleh digunakan untuk Tabarruk, telah tiada pada zaman kita sekarang.

Sehingga semua klaim bahwa ini adalah barang bekas peninggalan Rasulullah, hanyalah merupakan kedustaan dan hal yang tidak bertanggung jawab semata.

Demikian juga Tabarruk dengan alasan napak tilas tempat tempat bersejarah lainnya.
———

Sebelumnya, saya sebenarnya sudah pernah membahas ini dalam dua tulisan saya yang terdahulu. Di dalam tulisan saya itu, saya berikan keterangan lebih lanjut mengenai syubhat “Mimbar Rasulullah” dan syubhat “roudhoh”.

Lihat

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/tabaruk-dengan-bekas-peninggalan-nabi-pada-zaman-ini/

dan

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/semua-klaim-barang-peninggalan-rasulullah-yang-mana-kadang-sering-digunakan-untuk-tabaruk-tidak-valid-dari-kacamata-sejarah/

****
Menurut data sejarah, mimbar tersebut sudah bukan mimbar yang asli lagi dari Rasulullah. Mimbar yang asli sudah pernah hancur terbakar.

Quote :
The Minbar: When addressing the people in the mosque, the Prophet used to lean on large wood block of date tree. Later, when some difficulties arose in terms of people hearing and seeing the Prophet, a minbar made up of tamarisk, which was one-meter high with the dimensions of 50 x125 cm and a three-stair ladder located on three columns behind, was built in the year 7 (628) or 8 (629). First caliphs did not use the third stair, due to respect for the Prophet, and covered it with a piece of wood. In the time of the third caliph, Othman, a dome was placed on top of the minbar, which was covered with a fabric, and the stairs were covered with ebony. Muawiya ibn Abû Süfyan added six more stairs to the minbar. This first minbar was used until 654 (1256), when it was ruined by a fire; a new minbar was placed which was sent by the king of Yemen, al-Malik al-Muzaffar Shamsuddin in 656 (1258). After this, the minbar was either replaced or removed in 666 (1268) by Sultan Baybars I, in 797 (1395) by the Mamluki Sultan Barkuk, and in 820 (1417) by another Mamluki Sultan Sheikh al-Mahmudi. In 886 (1481) the minbar was once more ruined by a fire, and a new minbar made up of brick plaster was built, which was later replaced by a marble minbar sent by Sultan Kayitbay in 888 (1483). This minbar was re-located to the Quba masjid in 998 (1590) when the Ottoman Sultan Murad III sent a marble minbar manufactured and ornamented in Istanbul, to replace it. This last minbar still stands in the Mosque of the Prophet today.

Sumber : http://www.lastprophet.info/the-prophet-s-mosque-%E2%94%82-masjid-al-nabawi

***
Adapun roudhoh Nabi, yaitu suatu tempat di masjid Nabawi yang berhubungan dengan rumah Rasulullah. Yang dikatakan bahwa itu adalah salah satu taman dari taman taman surga. Maka itu hanyalah barokah tempat semata. Bukan barokah yang dikaitkan dengan barokah bekas dzat Rasulullah.

Kenapa, kalau itu dikaitkan dengan Tabarruk kepada dzat jasad Rasulullah, maka tentu rumah Rasulullah dan juga tempat imam sholat di masjid Nabawi, lebih barokah dibandingkan roudhoh. Tapi nyatanya tidak.

Dan keberkahan roudhoh umumnya dikaitkan dengan keutamaan pahala untuk sholat dan doa disitu, walaupun ini tidak ada hadits Rasulullah khusus mengenai cara ini. Namun para ulama umumnya memang mengaitkan keberkahan tempat, dan juga waktu, dengan keutamaan ibadah di situ dan doa di situ.

Tidak ada Tabarruk di roudhoh dengan cara mengusap usapkan kain di roudhoh, agar keberkahan roudhoh mengalir disitu. Atau memotong karpet nya roudhoh untuk dibawa pulang guna dijadikan jimat atas nama Tabarruk.

Bahkan para ulama sebenarnya berbeda pendapat mengenai penjelasan hadits keutamaan Roudhoh “yang merupakan salah satu taman di antara taman-taman surga”.

Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits itu maksudnya secara hakiki, bahwa kelak nanti Roudhoh akan menjadi bagian dari surga. Sehingga karena ini bersifat kelak, maka para ulama yang berpendapat seperti itu menganggap tidak ada keutamaan tersendiri beribadah dan berdoa di Roudhoh. Karena memang tidak ada hadits yang menyebutkan ada keutamaan tersendiri berdoa dan beribadah sunnah di Roudhoh.

Sementara itu Ulama yang lain beranggapan bahwa itu hanya sebagai majazi saja, bukan hal yang hakiki akan benar-benar menjadi bagian surga. Karena dunia nanti akan dihancurkan dan diganti dengan dunia yang lain. Sehingga karena majazi, maka maksudnya adalah adanya suatu keutamaan tersendiri berdo’a, sholat, dan melakukan ibadah sunnah di roudhoh.

Akan tetapi dari kedua pendapat ulama ini, maksudnya sama sekali bukan Tabarruk dengan dzat benda yang ada di Roudhoh tersebut.

Demikian juga dengan kiswah (kain penutup) ka’bah. Tidak boleh untuk menggunting kain kiswah ka’bah guna disimpan dijadikan jimat atas nama Tabarruk. Tidak ada dalil bahwa kain kiswah ka’bah itu barokah karena bekas ka’bah, dan juga karena Rasulullah, para Sahabat, serta para Salaf tidak pernah melakukan hal itu.

Kain kiswah ka’bah itu ya hanya kain penutup biasa saja.

***
Bahkan yang secara syariat boleh untuk diusap di Ka’bah itu hanya rukun Yamani dan Hajar Aswad saja. Hajar Aswad bahkan disunnahkan untuk dicium juga jika mampu.

Tapi ini bukan berarti Tabarruk kepada dzat rukun Yamani dan Hajar Aswad, sebagaimana Tabarruk kepada dzat fisik Rasulullah. Yang benar itu adalah semata Tabarruk kepada sunnah Rasulullah dalam melakukan ibadah thowaf, bukan hanya Tabarruk langsung kepada dzat rukun Yamani dan Hajar Aswad nya.

Yakni Tabarruk dengan mengikuti sunnah Rasulullah, agar mendapatkan keutamaan dan pahala yang banyak. Bukan Tabarruk langsung kepada rukun Yamani dan Hajar Aswad, agar mendapatkan barokah tolak bala, lancar rizki, hidup lancar, dan lain lain.

Lho kok bisa?
Ya bisa. Karena Kholifah Umar bin Khoththob rodhiyalloohu anhu sendiri yang berkata bahwa Hajar Aswad itu tidak bisa memberikan mashlahat dan menolak madhorot. Beliau mencium Hajar Aswad karena semata mata mengikuti sunnah Rasulullah dalam cara beribadah thowaf saja.

Ini pemahaman sahabat, dan ini pemahaman Salaf yang wajib kita pegang erat erat.

عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270)

Senada dengan ini, karena keberkahan itu adalah mengikuti sunnah Rasulullah dalam beribadah. Maka tidak ada keutamaan dan barokah tersendiri, bersusah payah naik ke gua Hiro’ tempat Rasulullah pertama kali mendapatkan wahyu dan sholat di sana. Karena ini tidak ada tuntunan dan sunnahnya.

Senada dengan ini juga adalah menempelkan seluruh anggota tubuh di Multazam dan kemudian berdoa. Yang mana Multazam itu adalah bagian Ka’bah yang berada di antara rukun hajar aswad dan pintu ka’bah.

***
Masih juga senada dengan hal ini, maka sholat di belakang maqom Ibrahim setelah selesai thowaf jika mampu, itu karena semata-mata perintah Allah untuk cara rangkaian ibadah thowaf. Yakni untuk mendapatkan keutamaan pahala besar karena mengikuti tata cara yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, walaupun hukumnya Sunnah saja bukan wajib.

(Maqom, tempat berdiri. Yakni tempat berdiri Nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah. Bukan makam Nabi Ibrahim tempat beliau dikubur)

وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَآ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
”Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud” (al-Baqarah:125).

Jadi bukan untuk Tabarruk secara dzat karena itu bekas tempat berdirinya Nabi Ibrahim, guna diusap usap agar mendapatkan barokah tolak bala, lancar rizki, hidup lancar, dan lain lain.

Demikian juga keutamaan sholat di hijir Ismail yang berada di ka’bah. Bahkan sholat di dalam Ka’bah sekalipun.

****
Pembahasan diatas sengaja kami lebarkan, karena ada orang yang fanatik Tabarruk yang melakukan Qiyas fasid mengenai keberkahan bekas orang sholih, dengan meng qiyas kan kepada maqom Ibrahim, dan lain lain itu.

Sekarang mari kita kembali khusus membahas barang peninggalan bekas Nabi. Maka walaupun ini masyru’ Tabarruk dengan bekas peninggalan Rasulullah, namun di zaman kita ini sekarang semuanya itu sudah musnah dan tiada, sesuai dengan mafhum “keinginan” Rasulullah bahwa beliau tidak mewariskan apapun kecuali ilmu.

Dalam kancah penelitian disertasi doktoral Syaikh Nashir Al Juda’I, itupun juga ditegaskan dengan mengambil dasar dari berbagai hadits serta penelitian sejarah yang ada.

Sehingga seluruh barang peninggalan Rasulullah yang diklaim masih ada dan disimpan itu, baik itu rambut Rasulullah ataupun jubah baju Rasulullah, walaupun itu disimpan di museum di Istanbul Turki. Maka itu semua tidak otentik dan tidak valid bahwa itu berasal dari Rasulullah.

Berikut adalah penjelasan dari Syaikh Nashir Al Juda’I, yang penting untuk kita fahami dan agar menjadi arsip ilmiah kita dalam membicarakan masalah ini. (hal 341-345 dari halaman yang saya foto).

Insya Allah ini sangat bermanfaat dan sangat penting bagi kita semua, demi menjaga Aqidah Ummat.

Kalau antum punya rezeki, sebaiknya beli juga buku ini, untuk membentengi antum dan keluarga antum dari jenis Tabarruk terlarang yang banyak tersebar di Indonesia ini.

Jika antum bisa berbahasa Arab, maka itu lebih bagus lagi. Antum bisa hemat uang banyak. Antum bisa download free pdf ebook nya disini :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

****
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Tabarruk dengan peninggalan Nabi-1Tabarruk dengan peninggalan Nabi-2Tabarruk dengan peninggalan Nabi-3Tabarruk dengan peninggalan Nabi-4Tabarruk dengan peninggalan Nabi-5

Pemahaman penting mengenai Tabarruk -2

1 Comment

Pemahaman penting mengenai Tabarruk : Kesalahan mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah. Ini adalah pendapat salah yang mutlaq harus dibenarkan, guna menjaga Aqidah Ummat

===========

Tabarruk kepada dzat fisik Rasulullah ketika beliau hidup, sebagaimana yang dilakukan sahabat. Atau Tabarruk kepada bekas peninggalan benda yang pernah beliau pakai, yang mana sekarang sudah hilang atau musnah pada zaman kita ini.

Maka ini masyru’ dan dibolehkan.

Namun setelah Rasulullah meninggal, maka tidak ada satu dzat fisik pun yang boleh dijadikan tempat Tabarruk. Sebagaimana para Sahabat tidak bertabaruk kepada “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat.

Andaikata cium tangan pun, maka itu dalam rangka hormat. Bukan dalam rangka Tabarruk.

Demikian juga Tabarruk dengan barang bekas dan peninggalan Rasulullah, seperti baju, rambut, bekas air wudhu Rasulullah. Maka ini masyu’, dibolehkan, dan dilakukan oleh para Sahabat. Adapun kuburan Rasulullah, maka itu bukan bekas Rasulullah dan dilarang Tabarruk ke makam Rasulullah.

Namun setelah bekas peninggalan Rasulullah itu hilang semua, seperti sebagian musnah terbakar, dan sebagian dikuburkan bersama sama dengan sahabat yang memiliki nya (baju Rasulullah yang digunakan sebagai kain kafan sahabat biasanya). Maka tidak ada satu orang sahabat pun yang Tabarruk dengan bekas peninggalan “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat.

Tidak ada sahabat yang minum bekas air minumnya “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat, dan juga tidak ada sahabat yang memperebutkan bekas air wudhu “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat.

Singkat cerita Tabarruk kepada dzat fisik atau bekas peninggalannya sepeninggal Rasulullah itu, sudah tidak ada lagi setelah Rasulullah meninggal dan semua barang peninggalan Rasulullah musnah.

***
Termasuk kesalahan mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah.

Bahkan termasuk Tabarruk kepada anak keturunan Rasulullah sekalipun.

Para sahabat juga mengalami cobaan hidup sebagaimana manusia lain pada umumnya, namun tidak ada satupun yang mendatangi Kyai nya Sahabat, ulama nya Sahabat, ataupun anak keturunan kerabat Rasulullah sama sekali guna Tabarruk untuk menghilangkan bala’, memperlancar rezeki, dan yang semisal.

Tawassul minta didoakan, iya. Sebagaimana doa istisqo’ yang Kholifah Umar meminta agar Abbas bin Abdul Muntholib untuk berdoa. Namun Tabarruk dengan dzat fisik atau sesuatu bekas yang pernah dipakai, maka itu tidak pernah.

Demikian juga lah kondisi orang orang Sholeh, wali, dan yang semisal selain sahabat. Dzat fisik atau sesuatu bekas yang pernah dipakai saja tidak boleh digunakan untuk Tabarruk, apalagi kuburannya ketika sudah meninggal digunakan untuk Tabarruk ngalap berkah. Maka ini lebih tidak boleh lagi.

Cium tangan atau minum air bekas Kyai ataupun Ulama, ataupun wali, jika itu dimaksudkan untuk Tabarruk, maka itu tidak boleh. Apalagi kuburannya. Apalagi waktu haul peringatan kematiannya.

Ini adalah ghuluw (Sikap yang berlebih lebihan hingga melewati batas syariat) terhadap orang Sholeh, merupakan kebid’ahan, dan pintu pembuka kesyirikan yang harus kita waspadai untuk menjaga Aqidah Ummat.

Ziarah kubur saja gpp, mendoakan orang Sholeh yang meninggal nggak masalah. Namun Tabarruk dan juga berdoa tawassul kepada sang penghuni kubur itu, maka ini tidak diperbolehkan.

Ulama itu yang barokah itu adalah ilmunya dan juga jika kita bergaul dengannya. Yakni agar kita bisa mendapatkan ilmu, pengajaran, bimbingan, nasehat, dan mengambil pelajaran dari akhlaq serta adabnya.

Jadi yang barokah dari para ulama, orang Sholeh, dan wali itu bukan dzat fisik atau sesuatu bekas yang pernah dipakainya.

***
Sebagian ulama yang tergelincir di dalam masalah mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah. Maka ulama tersebut adalah Imam An Nawawi rohimahulloh dan Imam Ibnu Hajar Al Atsqolani rohimahulloh, yang mana kedua duanya dari Madzhab Syafi’i.

Ulama itu tidak ada yang ma’shum. Dan ulama itu jika berijtihad namun salah dalam Ijtihad nya, maka beliau mendapatkan satu pahala, kehormatannya tetap terjaga dan tidak boleh dijatuhkan karena kesalahannya, namun kesalahannya harus disalahkan, dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan ulama tersebut.

Pemuka sahabat saja bisa salah, harus dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan sahabat tersebut. Apalagi hanya sekedar ulama yang jauh derajatnya dibandingkan sahabat.

Bagi orang yang terbiasa mengetahui perselisihan para sahabat, maka hal ini tidak tersembunyi baginya.

Adapun bantahan para ulama secara terperinci dengan dalil-dalil nya akan kesalahan Imam An Nawawi rohimahulloh dan Imam Ibnu Hajar Al Atsqolani rohimahulloh dalam mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah.

Maka ini sudah dijelaskan dan dikumpulkan semua qoul ulama nya, di dalam terjemahan Disertasi doktor dari Syaikh Dr. Nashir Al Judai’ berikut ini (hal 351-355 dari halaman yang saya foto).

Insya Allah ini sangat bermanfaat dan sangat penting bagi kita semua, demi menjaga Aqidah Ummat.

Kalau antum punya rezeki, sebaiknya beli juga buku ini, untuk membentengi antum dan keluarga antum dari jenis Tabarruk terlarang yang banyak tersebar di Indonesia ini.

Jika antum bisa berbahasa Arab, maka itu lebih bagus lagi. Antum bisa hemat uang banyak. Antum bisa download free pdf ebook nya disini :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

****
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Tabarruk yang salah -2Tabarruk yang salah -3Tabarruk yang salah -4Tabarruk yang salah -5Tabarruk yang salah -6

Older Entries