Logical Fallacy “Argument To Moderation” atau “False Compromise” yang sering digunakan orang Liberal Pluralis

Leave a comment

Sepertinya sangat penting bagi kita untuk mengetahui Logical fallacy “Argument to Moderation” dewasa ini.

Terutama ketika banyak pemikiran munafiq yang sedang berkembang.

Jenis Logical fallacy ini yang kadang disebut juga “Middle Ground”, “false compromise “, atau “Grey argument”.

***
Logical fallacy ini bersifat ingin berpura-pura menjadi penengah yang sok bijak, dengan standar yang keliru, yang menginginkan agar masing-masing fihak mau berkompromi.

Misal si A mengatakan 5 + 5 =10, sedangkan si B mengatakan 5 + 5 = 20. Ketika beradu argument, muncul si C yang berkata daripada berdebat sebaiknya kita ambil saja jalur tengah, sehingga 5 + 5 =15.

Sounds fair kan? Masing-masing fihak terakomodasi. Tapi ini adalah logika yang salah.

***
Sama seperti logika Pluralis Liberal, dengan menganggap daripada masing-masing pemeluk agama itu melakukan “truth claim”. Maka sebaiknya dianggap saja semua agama itu benar.

Dianggap saja toh kita sama sama mendapatkan “warisan” Agama, maka sebaiknya semua dianggap benar saja.

Semua dianggap seperti filsafat Perennial, yang menganggap semua agama itu sebenarnya sumbernya sama, hanya berbeda dalam cara pengekspresian ibadah dan ajarannya saja.

Tidak perlu ada suatu argumentasi ilmiah dan pembuktian kebenaran wahyu, yang penting semua sama sama kompromistis saja. Semua sama sama diakomodasi, jadi adil.

Nah pemikiran dan pemahaman model seperti inilah yang disebut pemikiran munafiq. Kita diminta untuk mengorbankan sebagian keimanan kita, demi mendukung utopia indah yang munafiq atas nama perdamaian.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman mengenai orang orang munafiq semacam ini,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُون
أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka (orang orang munafiq) : “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.

Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [QS. Al Baqarah : 11-12]

****
Senada juga dalam hal ini, namun dengan intensitas yang lebih rendah di dalam kaum muslimin sendiri. Ketika berhadapan dengan Perselisihan Manhaj, dan penyimpangan Aqidah.

Maka mereka acuhkan argumentasi ilmiah dan solusi dakwah kepada manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah, demi ukhuwah, persatuan semu, dan menghadapi common enemy yang mereka katakan itu.

Akibatnya berapa banyak sunnah Rasulullah dan manhaj Salaf yang dilanggar, demi persatuan ukhuwah ala Pluralisme Manhaj.

Hadits hadits mutawatir masalah taat dan bersabar kepada ulil Amri yang dzolim? Buang saja ke tempat sampah.

Ada Da’i yang bermanhaj “tafsir jalan lain” dan memahami taqdir ala Qodariyah? Gpp, kasih aja udzur yang penting populer.

Takfiri bermunculan di mana mana? Gpp, yang penting dia satu kepentingan dengan kita dalam melawan pemerintah dan aparat nya.

Quburiyyun yang suka tawasul tabaruk ke kuburan para wali dan pewaris ilmu kalam yang menyimpang dalam memahami sifat sifat Allah, sehingga berkata Allah itu ada tanpa tempat dan Allâh ada di mana mana?

Gpp asalkan mereka adalah tradisionalis “garis lurus”, dan bukan orang Liberal. Maka mereka bisa kita rangkul dan tidak perlu untuk diotak atik penyimpangannya. Bikin perkara saja ntar kalau kita terlalu polos dan jujur berpegang kepada sunnah dan manhaj Salaf. Ada kepentingan dan common enemies yang lebih besar.

Dan lain lain.

***
Jadi di sini penting bagi kita untuk mengetahui Logical fallacy “Argument to Moderation”, atau “Middle Ground”, “false compromise “, dan “Grey argument”.

Baik itu dalam hubungan eksternal, yakni untuk menghadapi fitnah Pluralisme Agama.

Ataupun untuk kepentingan internal Ummat Islam sendiri, yakni untuk menghadapi fitnah Pluralisme Manhaj dalam memahami agama yang benar dengan berdasarkan sunnah Rasulullah dan manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Sometimes truth is hurt.
But Rasulullah and His companions (Sahabat) already said that, and already give us the guidance to face that.

Tinggal mau apa kagak. Tinggal memilih jalan yang benar, atau memilih jalan Logical fallacy.

Apa bedanya Murji’ah dengan Sufi?

Leave a comment

Murji’ah mengeluarkan amal dari iman. Sehingga menganggap amal itu tidak mempengaruhi iman.

Bagi Murji’ah ini tidak berhubungan dengan tingkatan dan dzauq (perasaan). Yakni tidak berhubungan jika sudah mencapai level seperti ini, maka baru dia boleh mengeluarkan amal dari iman.

Namun bagi Murji’ah, pemahaman ini berlaku bagi semua orang di semua tingkatan. Baik yang Alim ataupun yg awam.

***
Sufi mengeluarkan syariat dari Islam, jika sang Sufi sudah mencapai maqom tertentu. Syariat hanya dianggap bagi orang awam saja, bukan bagi orang yang khowas seperti dia.

Sehingga dia beranggapan syariat tidak memiliki pengaruh terhadap keimanan dan keislaman nya, dan dia menganggap dirinya tidak memiliki kewajiban ikatan amal baginya jika dia sudah mencapai maqom tertentu (maqom haqiqat biasanya).

Jadi bagi Sufi, dia mengeluarkan syariat bagi dirinya itu berhubungan dengan tingkatan dan dzauq (perasaan) yang dimiliki oleh tiap tiap praktisi Sufi.

Sehingga makin nyeleneh seorang Sufi dari kacamata syariat, maka umumnya dianggap makin tinggi level ke waliannya.

***
Jadi pada praktik nya, terdapat sedikit perbedaan antara mengeluarkan iman dari amal bagi Murji’ah, dan terlepas dari kewajiban dan ikatan syariat bagi Sufi.

Murji’ah memutlakkan bagi semua orang, baik itu awam ataupun alim. Sedangkan Sufi hanya membolehkan jika sudah mencapai tingkatan maqom tertentu dan mencapai dzauq (perasaan) tertentu.

Sufi mengharuskan “gila” dan “mabuk perasaan cinta” dulu. Sedangkan Murji’ah tidak.

Aplikasi mungkin bisa sama antara Murji’ah dan Sufi, namun cara pandang nya berbeda.

Murji’ah sedikit lebih “senior” atau lebih dahulu ada, dibandingkan Sufi.

***
Sekarang apa bedanya Murji’ah dengan Pluralis Liberal?

Sebenarnya prakteknya sama saja. Hanya beda sudut pandang dan beda pendekatan saja.

Bantahan pemahaman bahwa orang yang sudah murtad, tapi dianggap tetap Muslim sepanjang belum ganti KTP

Leave a comment

Riddah itu bisa terjadi karena takfir (pengkafiran), dan bisa juga karena orang tersebut murtad berpindah agama.

***
Murji’ah itu umumnya memiliki Aqidah bahwa Iman itu hanya sekedar Ma’rifat (mengetahui atau mengakui). Amalan dianggap bukan bagian dari iman, dan tidak mempengaruhi iman. Baik itu amalan perkataan ataupun amalan perbuatan.

Iman itu tetap dan konstan, tidak naik karena ketaatan, tidak turun karena kemaksiatan.

Maka dari itu, perkataan ash Shoolihii sang tokoh Murji’ah yang dikutip oleh Ibnu Taimiyyah dibawah ini berkata (yang digaris bawahi) :

ليس بكفر ولكنه لا يظهر إلا من كافر

“(Firman Allah mengenai perkataan orang kafir Ahlul Kitab, ‘Sesungguhnya Allah adalah satu dari tiga oknum’ di QS Al Maidah :73)

Maka perkataan ini bukanlah merupakan suatu kekufuran. Akan tetapi perkataan ini tidaklah ditampakkan terang terangan, kecuali oleh orang kafir ”
[Majmu Fatawa 7/544]

****
Hal ini dikatakan karena Murji’ah ber-i’tiqod, keimanan itu hanya sekedar Ma’rifat kepada Allah saja. Dan kekafiran itu karena sekedar karena kejahilan (kebodohan dan ketidaktahuan) mengenai Allah saja.

Ibnu Taimiyah berkata mengenai Murji’ah :

يزعمون أن الإيمان هو المعرفة بالله فقط، و الكفر به هو الجهل به فقط

“Murji’ah menganggap bahwa iman itu hanya sekedar Ma’rifat terhadap Allâh saja. Dan kekafiran kepada Allah itu hanya dikarenakan Jahl (tidak tahu) mengenai Allâh saja. “[Majmu Fatawa 7/544]

Dalam artian, amalan kekafiran apapun yang dilakukan, maka sepanjang dia masih mengetahui, mengakui dan mema’rifati beriman kepada Allah. Maka dia tetap dianggap sebagai Muslim yang memiliki keimanan yang sempurna.

Iman itu tetap menurut Murji’ah, sepanjang dia memiliki Ma’rifat yang benar kepada Allah sebagai bukti keimanan nya.

Maka dari itu Murji’ah juga berkata,

أن الصلاة ليست بعبادة الله، و أنه لا عبادة إلا الإيمان به

“Sesungguhnya sholat itu bukanlah bentuk peribadahan kepada Allah (yang sesungguhnya), dan sesungguhnya tidak ada ibadah (yang sesungguhnya) kecuali (hanya sekedar) beriman kepada Allah ” [Majmu Fatawa 7/544]

***
Jadi salah satu point pemahaman Murji’ah itu adalah : hanya menganggap keimanan kepada Allah itu hanya sekedar Ma’rifat saja.

Hal ini menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam definisi masalah iman, dan juga menyelisihi Ahlus Sunnah dalam masalah takfir (pengkafiran).

***
Disini juga harus kita tambahkan lagi, bahwa Ahlus Sunnah itu membedakan takfir mutlaq dan Takfir muayyan.

Sedangkan Khowarij menganggap bahwa semua itu adalah takfir mutlaq, baik itu terhadap masalah mu’ayyan (vonis individu tertentu) sekalipun.

Ini karena Khowarij memakai pemahaman “Kafir otomatis” dalam masalah takfir, sedangkan Ahlus Sunnah memiliki pemahaman “Pengkafiran secara terperinci” dalam masalah takfir.

Yakni Ahlus Sunnah memahami perincian dengan diverifikasi apakah sebab dan syarat takfir itu sudah terpenuhi atau belum.

Apakah ada syubhat dan udzur yang menyebabkan orang tersebut terhalang untuk dikafirkan atau tidak.

Jika itu semua terpenuhi, maka Ahlus Sunnah pun menjatuhkan takfir kepada nya. Jika tidak terpenuhi, maka tidak jatuh takfir kepada nya.

****
Adapun masalah seseorang murtad berpindah agama dengan keinginannya sendiri, maka Murji’ah pun tidak mengotak atik hal itu.

Orang yang murtad juga dianggap kafir oleh Murji’ah, karena dia telah mengingkari Ma’rifat nya kepada Allah. Sehingga dia dianggap tidak memiliki Iman alias Kafir.

Tidak ada Murji’ah yang menganggap bahwa Fir’aun itu adalah seorang Muslim, karena Fir’aun itu tidak mengakui dan tidak mema’rifati Allah sebagai Tuhan nya.

Demikian juga orang murtad yang tidak mengakui dan mema’rifati bahwa Allah sebagai Tuhan nya.

***
Orang yang bersikeras, bahwa orang yang murtad dengan keinginan sendiri berpindah agama, dia tetap dianggap sebagai Muslim atau Muslimah sepanjang dia belum mengurus administrasi dan ganti keterangan agama di KTP.

Dalam artian dia tidak menganggap nya sebagai orang Kafir.

Maka pemahamannya itu lebih irja’ dibandingkan Murji’ah itu sendiri. Pemahamannya lebih parah dibandingkan pemahaman Murji’ah itu sendiri.

Masalah dia mau Framing bagaimana pun, maka itu tidak merubah hakekat bahwa dia telah menyimpang dari manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dengan penyimpangan yang lebih parah dibandingkan Murji’ah.

Perkataan Murjiah masalah kekafiran Nashrani

 

*****

Tanya :

Di mn perbedaan mendasar…antara sufisme dgn murjiah khi..

Jawab :

Murji’ah mengeluarkan amal dari iman. Sehingga menganggap amal itu tidak mempengaruhi iman.

Bagi Murji’ah ini tidak berhubungan dengan tingkatan dan dzauq (perasaan). Yakni jika sudah level seperti ini, baru dia boleh mengeluarkan amal dari iman.

Namun bagi Murji’ah, pemahaman ini berlaku bagi semua orang di semua tingkatan. Baik yang Alim ataupun yg awam.

***
Sufi mengeluarkan syariat dari Islam, jika sang Sufi sudah mencapai maqom tertentu. Syariat hanya dianggap bagi orang awam saja, bukan bagi orang yang khowas seperti dia.

Sehingga dia beranggapan syariat tidak memiliki pengaruh terhadap keimanan dan keislaman nya, dan dia menganggap dirinya tidak memiliki kewajiban ikatan amal baginya jika dia sudah mencapai maqom tertentu (maqom haqiqat yang biasanya).

Jadi bagi Sufi, dia mengeluarkan syariat bagi dirinya itu berhubungan dengan tingkatan dan dzauq (perasaan) yang dimiliki oleh tiap tiap praktisi Sufi.

Sehingga makin nyeleneh seorang Sufi dari kacamata syariat, maka umumnya dianggap makin tinggi level ke waliannya.

***
Jadi pada praktik nya, terdapat sedikit perbedaan antara mengeluarkan iman dari amal bagi Murji’ah, dan terlepas dari kewajiban dan ikatan syariat bagi Sufi.

Murji’ah memutlakkan bagi semua orang, baik itu awam ataupun alim. Sedangkan Sufi hanya membolehkan jika sudah mencapai tingkatan maqom tertentu dan mencapai dzauq (perasaan) tertentu.

Sufi mengharuskan “gila” dan “mabuk perasaan cinta” dulu. Sedangkan Murji’ah tidak.

Aplikasi mungkin bisa sama antara Murji’ah dan Sufi, namun cara pandang nya berbeda.

Murji’ah sedikit lebih “senior” atau lebih dahulu ada, dibandingkan Sufi.

Meluruskan framing Takfir First

Leave a comment

Sekedar meluruskan informasi agar tidak salah faham, sesuai dengan informasi yang saya dapatkan.

***
Berkata Ustadz Abdul Barr :

“Melakukan syirik akbar atau kufur akbar misalnya. Tidak, tidak diadz.. . Tidak eee diadzab, tidak dipermasalahkan dia sampai datang padanya kejelasan.

Nah, itu satu point.

Point yang kedua kalau sampai kepadanya. Ya. Sampai kepadanya keterangan. Ini keterangan dari Allah dan Rasul-Nya. Ternyata dia menyelisihi, mujtahidan! dengan Ijtihad. Belum tahu yang benar seperti apa.

Lihat, fahuwa mukhthi’, ma’dzur, ma’jur marrotan waahidan…. Subhaanallooh.

Dia orang yang salah, diberi udzur, dapat pahala! Dapat pahala! Kenapa? Karena berijtihad. Berijtihad salah dapat pahala satu.

Ya lihat. Boro Boro mau kafir. Malah dikasih kesempatan dapat pahala. Subhaanallooh. Ya kan?

Fa qoola Ibnul Arobi, Al jaahil wal mukh… ”
[potongan rekaman audio berhenti di sini]

Sumber : https://www.dropbox.com/s/0…/AbdurBaarSyirikAkbarPahala.mp3…

****
Perhatikan bahwa sama sekali tidak ada perkataan,

“Ijtihad dalam syirik besar, seperti menyembah Nyi Roro Kidul atau Semar meskipun Ijtihadnya keliru, boro-boro kafir malah dapat satu pahala!!”

Dan orang yang faham fiqh tentu dia tau qaidah “Laaziimul qoul laisa bil qoul” (keharusan konsekuensi dari suatu perkataan itu bukanlah suatu perkataan sendiri)

Yang diterangkan adalah masalah Khofiyah (samar-samar) baginya sehingga dia berijtihad. Jika tidak Khofiyah mengapa sampai dikatakan ber Ijtihad?

Nah, jika di Framing dan dibawa kepada permasalahan dhohiroh yang sudah jelas, sebagaimana perkataan “menyembah Nyi Roro Kidul atau Semar” maka ini jelas adalah hal yang salah.

Perkataan beliau di atas itu umum, bisa dibawa kesini dan juga bisa dibawa kesana. Namun menisbatkan suatu perkataan yang tidak beliau katakan di rekaman itu, maka ini hanyalah kedustaan dan penipuan semata.

****
Contoh perkataan para ulama biasanya mengarah kepada perkataan yang menyimpang dari ulama seperti as subki, Al haitsami, dan As Suyuthi mengenai du’a bil amwaat (berdoa kepada mayit orang Sholeh atau melalui perantara mayit orang Sholeh).

Yang mana ini adalah pendapat dan Ijtihad beliau karena adanya hadits yang dhoif dan maudhu yang salah difahami.

Bukan contoh masalah “menyembah Nyi Roro Kidul atau Semar”. Para ulama tidak pernah mencontohkan hal ini.

Pluralisme yang sudah semakin memenuhi syarat sebagai agama baru

Leave a comment

Pluralisme dewasa ini sudah semakin memiliki ciri ciri sebagai suatu agama baru.

– Dia mempunyai konsep Tuhan sendiri
– Dia memiliki konsep salvation (penyelamatan) sendiri
– Dia memiliki konsep keimanan dan cara pandang terhadap kehidupan tersendiri.

Tinggal kurang memiliki Kitab Suci sendiri dan Nabi sendiri saja, maka Pluralisme sudah sah dinobatkan menjadi agama baru tersendiri.

***
Kalau boleh usul, nabi Pluralisme itu yang paling tepat itu ada dua sebenarnya. Yakni Nabi Humanisme dan Nabi Sekulerisme.

Btw itukan “Nabi Pemikiran”…. Kalau “Nabi Tokoh” nya diusulkan Al Hallaj, Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, Kahlil Gibran, Frithjof Schoun, dan yang semisal gimana?

Hmm terserah saja sih…. Kalau aku sih tidak mempermasalahkan… Toh para pengikut pluralisme juga sangat mendewa dewakan “para Nabi” itu…

***
Tinggal untuk masalah kitab suci nya saja, saya yang belum punya ide yang konkrit…..

Kalau dikatakan buku buku tulisan “Nabi Pemikiran” dan “Nabi Tokoh” sebagai kitab suci nya Pluralisme gimana?

Hmm saya kurang setuju. Sebab buku buku tulisan para Nabi Pluralisme itu tidak diperlakukan sebagai kitab suci oleh para pengikutnya.

Maksudnya adalah walaupun perkataan dalam buku buku itu sering dikutip, namun buku buku itu tidak pernah digunakan dalam ibadah pluralisme mereka.

Kan yang namanya kitab suci itu artinya suatu kitab yang selain bisa dipergunakan sebagai pedoman, juga harus bisa digunakan untuk ibadah.

Sedangkan buku buku mereka itu tidak memenuhi kriteria ini.

Konsep yang salah mengenai agama warisan

Leave a comment

Buat Adek yang di seberang Internet sana. Dek Afi ya namanya kalo tidak salah?

Kalau konsep toleransi itu hanya sekedar karena ini warisan, maka dari itu hendaklah kita jangan saling ganggu warisan masing-masing.

Maka Rasulullah dan dakwah nya sejak dari awal salah donk kalau kita melihat dari konsep “Toleransi itu adalah saling menghormati warisan masing-masing”.

Kok bisa?

Karena Rasulullah itu berdakwah dengan cara “menolak warisan budaya agama kaumnya”.

Allah berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ

“Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah: 104).

Jadi kalau misal konsep Toleransi itu adalah tidak boleh menolak dan menyalahkan warisan keyakinan masing-masing, maka yang pertama kali harus Adek salahkan harusnya Allah dan Rasul-Nya donk….?

****
Ah tapi mungkin karena adek beragama Islam “secara warisan”, maka adek tidak berani untuk menyalahkan Allâh dan Rasul-Nya kan?

Baik, kalau begitu mungkin pernyataan nya harus dirubah kali ya?

Kalau begitu bagaimana cara saya mensikapi agama Islam yang saya dapatkan secara warisan ini, sehingga bisa berbeda dengan agama, ideologi, dan keyakinan lain yang merupakan warisan juga itu?

Kalau ingin jawaban yang mendasar sebenarnya jawabannya adalah “Konsep Wahyu”, bukan “konsep warisan”.

Bingung? Maksudnya itu ini adalah uji ke otentikan wahyu. Akan saya jelaskan

****
Sekarang coba hadapkan semua kitab suci, pemikiran, dan ideologi manapun yang mereka bisa membuktikan keotentikan kitab suci, pemikiran, dan ideologi mereka bahwa itu benar benar dari Tuhan sang Maha Pencipta.

Masalah mereka mengklaim “ini juga wahyu dari sang Pencipta”, maka semua orang boleh mengklaim seperti itu. Tapi yang penting adalah buktinya.

Kenapa seperti itu?
Karena sejak dari awal Allah sudah menantang seluruh umat manusia, bahwa jika benar Al Qur’an itu adalah ciptaan manusia (baca : Muhammad). Maka tentu mereka bisa menciptakan gaya wahyu yang seperti Al Qur’an.

Kenapa?
Karena yang namanya buatan manusia itu tentu bisa ditiru atau dilakukan reverse engineering kalo bahasa teknik nya.

Misal, adek suka nggak dengan tulisan Shakespeare, Kahlil Gibran, atau Nietszche?

Nah kalau suka, bisa nggak membuat tulisan yang seperti gayanya Shakespeare, Kahlil Gibran, atau Nietszche walaupun itu berbeda konteks dengan yang mereka tulis?

Kalau belajar sastra dan faham masalah ilmu Hermeneutika, maka tentu adek akan langsung faham bahwa itu bisa. Namanya saja karya manusia, maka tentu pasti bisa ditiru gayanya.

Nah inilah yang Allah tantang berulang ulang dalam ayat-ayat Nya, supaya membuat yang semisal gaya Al Qur’an jika semisal mereka masih tidak yakin dan menuduh bahwa Al Qur’an itu hanya karya manusia saja (baca : karya Muhammad). Dan tidak menganggap bahwa Al Qur’an itu adalah Kalamullah (firman Allah).

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ ۚ بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ﴿٣٣﴾فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ

Ataukah mereka mengatakan, “Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman.

Kalau demikian, hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur’ân itu jika mereka orang-orang yang benar. [ath-Thûr/52: 33-34]

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِين ﴿٢٣﴾فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir. [ al-Baqarah/2: 23-24]

****
Mungkin nanti ada yang berkata,

“Ok, kalau begitu. Namun kan fakta bahwa saya memeluk agama Islam karena warisan keturunan. Saya tidak memeluk agama Islam dengan melalui proses pembuktian keotentikan wahyu dan berbagai macam analisa mukjizat Al Qur’an melalui Science dan teknologi.

Saya yakin itu ada dan benar. Namun saya tidak melalui itu semua. Saya kan hanya tinggal enak memeluk agama Islam karena warisan keturunan saja?

Bagaimana kemudian kalimat yang pas untuk membedakan antara warisan Islam yang saya peroleh, dengan warisan agama, ideologi, keyakinan, dan pemikiran lainnya? ”

Oh, jawabnya gini.

Emang yang namanya warisan itu mesti bentuknya harta ya? Enggak kan. Ada juga yang mewarisi hutang.

Emang yang namanya keturunan mesti sempurna ya? Enggak juga. Ada juga yang mendapatkan penyakit keturunan.

Nah disinilah dek bedanya…. Adek harusnya bersyukur mewarisi harta yang tidak bernilai berupa hidayah Islam. Adek harusnya bersyukur sebagai keturunan yang sempurna, tanpa memiliki penyakit keturunan atau cacat bawaan.

Maka bagaimana mungkin Adek justru menyamakan antara harta yang melimpah dengan hutang yang melilit, hanya gara gara sama namanya pake embel embel “warisan”?

Bagaimana mungkin Adek menyamakan antara tubuh yang sehat dan sempurna, dengan cacat bawaan dan penyakit keturunan, hanya gara gara sama namanya pake embel embel “keturunan”?

Kalau bahasa kerennya, ini namanya Logical fallacy” dek. Ini “not Apple to Apple”. Adek mencoba membandingkan dua hal yang berbeda, karena tertipu menganggap nya sama.

Semoga ini mudah untuk difahami.

– Kautsar Amru –

Al Qolam, Lauhil Mahfudz, Malaikat, Lailatul Qodr, Usaha, Doa, Silaturahim, dan catatan takdir

Leave a comment

Allah telah memerintahkan Al Qolam (pena) untuk menuliskan taqdir atas segala sesuatu di atas lauhil mahfudz (lembaran yang terjaga) hingga kiamat, sejak 50 ribu tahun sebelum segala sesuatu diciptakan kecuali Arsy dan Air.

Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

كتب الله مقادير الخلائق قبل أن يخلق السماوات والأرض بخمسين ألف سنة قال وعرشه على الماء

“Allah telah menulis taqdir semua mahluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi, dan Arsy Allah berada di atas air.” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

إن أوَّلَ ما خلق اللهُ تعالى القلمُ فقال له: اكتب! فقال: رب وماذا أكتب ؟ قال: اكتب مقادير كل شىء حتى تقوم الساعة

“Sesungguhnya mahluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al-Qalam (Pena)!, kemudian Allah berfirman kepadanya: Tulislah! Kemudian

Al-Qalam berkata:Wahai Rabbku, apa yang aku tulis?

Allah berfirman: Tulislah taqdir segala sesuatu sampai datang hari kiamat” (HR.Abu Dawud dan dishahihkan Syeikh Al-Albany)

Pada waktu inipun Malaikat juga belum diciptakan.

****
Adapun manusia juga dicatat di atas lembaran catatan malaikat akan taqdir nya, pada waktu 120 hari ketika bayi masih di dalam kandungan.

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمن عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدِ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيُنْفَخُ فِيْهِ الرُّوْحُ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ : بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا (رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menceritakan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur dan harus dipercaya:

Sesungguhnya (fase) penciptaan kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama 40 hari (dalam bentuk) nutfah (sperma), kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal darah kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal daging, kemudian diutuslah Malaikat, ditiupkan ruh dan dicatat 4 hal: rezekinya, ajalnya, amalannya, apakah ia beruntung atau celaka.

Demi Allah Yang Tidak Ada Sesembahan yang Haq Kecuali Dia, sungguh di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) hingga antara dia dengan jannah sejarak satu hasta kemudian ia didahului dengan catatan (taqdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk anNaar (neraka), sehingga masuk ke dalamnya (anNaar).

Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan penduduk anNaar, hingga antara dia dengan anNaar sejarak satu hasta kemudian ia didahului dengan catatan (taqdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk jannah sehingga masuk ke dalamnya (jannah) (H.R alBukhari dan Muslim).

***
Catatan taqdir yang ditulis oleh Al Qolam (pena) di atas Lauhil mahfudz , dengan catatan taqdir yang ditulis oleh Malaikat di dalam catatan Malaikat itu sendiri berbeda.

Apa yang ditulis di dalam lauhil mahfudz oleh Al Qolam itu tetap, tidak bertambah dan tidak berubah.

Adapun apa yang ditulis oleh Malaikat itu sesuai dengan kehendak Allah yang sesuai dengan apa apa yang tertulis di lauhil mahfudz.

Dari hal ini kita bisa memahami bahwa :
1. Taqdir tahunan yang ditulis oleh Malaikat ketika malam Lailatul Qodr.

2. Doa bisa merubah taqdir

3. Silaturahim dapat memperpanjang umur

Maka ini maksudnya adalah catatan taqdir yang ditulis oleh Malaikat, bukan catatan taqdir yang ditulis oleh Al Qolam di atas Lauhil Mahfudz.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ
إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ (الترمذي)

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam:

“Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)

***
Maka dari itulah kita selalu dianjurkan melakukan amalan baik yang sesuai syariat dan senantiasa berdoa, agar kita dimudahkan sesuai dengan apa yang Allah taqdir kan bagi kita.

عَنْ عَلِىٍّ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى جَنَازَةٍ فَأَخَذَ شَيْئًا فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِ الأَرْضَ فَقَالَ « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ « اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ » . ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ) الآيَةَ

Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam berada di satu jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:

“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”.

Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”,

beliau menjawab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”.

Kemudian beliau membaca ayat (surat Al-Lail 7-5):

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7)

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa”. “Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)”. “Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. [HR. Bukhari no.4949 dan Muslim no.2647]

Apa yang bisa kita usahakan dengan amalan kita, adalah catatan taqdir yang ada di tangan Malaikat yang sesuai dengan kehendak Allah. Adapun catatan taqdir yang ditulis oleh Al Qolam di atas Lauhil Mahfudz itu tetap sesuai dengan hikmah dan rahasia yang telah Allah tetapkan.

Maka dari itu hendaklah kita selalu semangat dalam beramal.

Walloohu A’lam

Older Entries