Berdoa dan berusaha agar kita bergaul dan dikelilingi oleh orang orang baik itu, ternyata bukan hal yang dianggap kecil oleh Rasulullah.

Terutama kholil (teman dekat) .

Rasulullah dalam doanya, bahkan “memperinci” isi doanya dalam masalah teman ini.

Adapun prakteknya dalam kancah manhaj, maka kita lihat teman ini ternyata sangat berpengaruh.

Banyak orang yang karena salah gaul, akhirnya manhaj nya menjadi bermasalah. Dan banyak juga yang terlalu sering piknik, hingga akhirnya lupa jalan pulang.

Jadi ini maksudnya hanya agar kita waspada, namun jangan sampai kita berlebihan dan paranoid ya.

Tiap manusia itu memang punya imunitas, namun hendaknya diketahui tidak semua orang itu imunitas nya sama. Dan merupakan kesalahan jika orang jumawa dengan imunitas nya, lalu sengaja memasukkan penyakit di dirinya.

***
Di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shohihah, hadits no 3137, Syaikh Albani rohimahulloh menyebutkan hadits mengenai doa Rasulullah ini :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ، وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا، وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا، وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي، وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي، إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا، وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

أخرجه الطبراني في “الدعاء” (٣/١٤٢٥/١٣٣٩)

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari tetangga yang buruk,

dari pasangan yang membuat rambutku memutih sebelum waktunya memutih,

dari anak yang menjadi tuan bagiku,

dari harta yang menjadi adzab bagiku,

dari teman dekat kholil yang makir (suka menipu dan membuat makar), yang matanya melihatku [bersikap baik ketika bergaul- pent] namun hatinya menjelekkanku, yang jika ia melihat kebaikan maka ia menyimpannya [untuk keuntungan nya sendiri -pent] dan jika ia melihat keburukan maka ia menyebarkannya”

[Hadits ini dikeluarkan oleh Ath Thobroni dalam “Ad Du’a” (3/1425/1339)]

Syaikh Albani berkomentar setelah menyebutkan sanad hadits riwayat Ath Thobroni ini :

قلت: وهذا إسناد جيد، رجاله كلهم من رجال “التهذيب “، ولولا الخلاف المعروف في ابن عجلان؛ لقلت بصحته.

“Saya katakan : Hadits ini isnadnya jayyid (bagus), dan seluruh perowinya adalah perowi” At Tahdzib”. Seandainya tidak ada khilaf yang ma’ruf mengenai perowi yang bernama Ibnu ‘Ajlan, maka saya akan mengatakan keshohihan hadits ini”

Setelah itu Syaikh Albani menyebutkan hadits ini melalui jalur jalur sanad yang lain. Sehingga mafhumnya Syaikh Albani menghasankan hadits ini.

Walloohu A’lam

Advertisements