Berikut adalah serial terakhir dari kumpulan fatwa Syaikh ibn Baz berkaitan dengan Ikhwanul Muslimin.

Tujuh buah fatwa ini, adalah fatwa Syaikh ibn Baz mengenai Ikhwanul Muslimin yang berhasil saya kumpulkan.

Jika misal ada fatwa lain dari Syaikh ibn Baz yang belum saya sebutkan, maka mohon informasinya agar nanti saya tambahkan di serial berikutnya.

***

الذي يقول بأن الجماعات الإسلامية من الفرق التي أمر
النبي صلى الله عليه وسلم باعتزالها هل فهمه غير صحيح؟

س 7: إذا يا شيخنا الكريم ، الذي يقول: بأن هذه الجماعات الإسلامية من الفرق التي تدعو إلى جهنم والتي أمر النبي باعتزالها فهمه على كلامكم غير صحيح؟

ج 7: الذي يدعو إلى كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم ليس من الفرق الضالة ، بل هو من الفرق الناجية المذكورة في قوله صلى الله عليه وسلم: افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة وافترقت النصارى على اثنين وسبعين فرقة وستفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا
واحدة قيل ومن هي يا رسول الله؟ قال من كان على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي وفي لفظ: ” هي الجماعة ” .
والمعنى: أن الفرقة الناجية: هي الجماعة المستقيمة على ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضي الله عنهم . من توحيد الله ، وطاعة أوامره وترك نواهيه ، والاستقامة على ذلك قولا وعملا وعقيدة ، هم أهل الحق وهم دعاة الهدى ولو تفرقوا في البلاد ، يكون منهم في الجزيرة العربية ، ويكون منهم في الشام ، ويكون منهم في أمريكا ، ويكون منهم في مصر ، ويكون منهم في دول أفريقيا ، ويكون منهم في آسيا ، فهم جماعات كثيرة يعرفون بعقيدتهم وأعمالهم ، فإذا كانوا على طريقة التوحيد والإيمان بالله ورسوله ، والاستقامة على دين الله الذي جاء به الكتاب وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم فهم أهل السنة والجماعة وإن كانوا في جهات كثيرة ، ولكن في آخر الزمان يقلون جدا .
فالحاصل: أن الضابط هو استقامتهم على الحق ، فإذا وجد إنسان أو جماعة تدعو إلى كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم ، وتدعو إلى توحيد الله واتباع شريعته فهؤلاء هم الجماعة ، وهم من الفرقة الناجية ، وأما من دعا إلى غير كتاب الله ، أو إلى غير سنة الرسول صلى الله عليه وسلم فهذا ليس من الجماعة ، بل من الفرق الضالة الهالكة ، وإنما الفرقة الناجية: دعاة الكتاب والسنة ، وإن كانت منهم جماعة هنا وجماعة هناك ما دام الهدف والعقيدة واحدة ، فلا يضر كون هذه تسمى: أنصار السنة ، وهذه تسمى: الإخوان المسلمين ، وهده تسمى: كذا ، المهم عقيدتهم وعملهم ، فإذا استقاموا على الحق وعلى توحيد الله والإخلاص له واتباع رسول الله صلى الله عليه وسلم قولا وعملا وعقيدة فالأسماء لا تضرهم ، لكن عليهم أن يتقوا الله ، وأن يصدقوا في ذلك ، وإذا تسمى بعضهم بـ: أنصار السنة ، وتسمى بعضهم بـ: السلفيين ، أو بالإخوان المسلمين ، أو تسمى بعضهم بـ: جماعة كذا ، لا يضر إذا جاء الصدق ، واستقاموا على الحق باتباع كتاب الله والسنة وتحكيمهما والاستقامة عليهما عقيدة وقولا وعملا ، وإذا أخطأت الجماعة في شيء فالواجب على أهل العلم تنبيهها وإرشادها إلى الحق إذا اتضح دليله
والمقصود: أنه لا بد أن نتعاون على البر والتقوى ، وأن نعالج مشاكلنا بالعلم والحكمة والأسلوب الحسن ، فمن أخطأ في شيء من هذه الجماعات أو غيرهم مما يتعلق بالعقيدة ، أو بما أوجب الله ، أو ما حرم الله نبهوا بالأدلة الشرعية بالرفق والحكمة والأسلوب الحسن ، حتى ينصاعوا إلى الحق ، وحتى يقبلوه ، وحتى لا ينفروا منه ، هذا هو الواجب على أهل الإسلام أن يتعاونوا على البر والتقوى ، وأن يتناصحوا فيما بينهم ، وأن لا يتخاذلوا فيطمع فيهم العدو .

Ada yang mengatakan bahwa jama’ah-jam’ah Islam yang ada saat ini adalah firqah-firqah yang diperintahkan oleh Nabi ﷺ untuk ditinggalkan, apakah ini pemahaman yang benar?

Begini wahai syaikhunal karim, ada orang yang mengatakan: bahwasanya Jama’ah-Jama’ah Islamiyyah yang ada saat ini termasuk perpecahan yang memanggil (pelakunya) ke neraka Jahannam yang diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menjauhinya, apakah pemahaman ini menurut anda benar atau tidak?

Jawaban:

Mereka yang menyeru pada Kitabullah dan Sunnah RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah termasuk firqah yang sesat, bahkan ia termasuk firqah yang selamat yang disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Berpecah Yahudi menjadi 71 golongan, berpecah Nasrani ke dalam 72 golongan, dan akan berpecah ummatku ke dalam 73 golongan, semua di neraka kecuali 1, lalu ditanyakan: Siapa mereka wahai Rasulullah? Jawab beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Yaitu mereka yang seumpama aku atasnya hari ini dan para sahabatku. Dalam lafazh yang lain: Al Jama’ah.

Maknanya: Bahwa firqah yang selamat adalah Jama’ah yang lurus sesuai Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya Radhilallahu ‘Anhum, dalam mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya, dan istiqamah atas hal tersebut baik perkataan, perbuatan dan aqidah, mereka itu adalah Ahlul Haqq dan mereka adalah para da’i kepada petunjuk, sekalipun mereka tercerai-berai di pelosok negeri. Mereka ada yang di Jazirah Arab, ada yang di Syam (Iraq, Syria), ada yang di Amerika, ada yang di Mesir, ada yang di negeri Afrika, ada yang di Asia, mereka adalah JAMA’AH YANG BANYAK SEKALI yang dikenali melalui aqidah & amal-amal mereka, tetapi mereka ada di atas jalan Tauhid & Iman pada Allah & RasulNya dan istiqamah di atas Dinullah yang datang atasnya Al-Qur’an & Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , maka mereka semua adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah , sekalipun mereka dalam bentuk yang beragam, tetapi di akhir zaman mereka sedikit sekali.

Alhasil yang dipegang adalah istiqamah mereka di atas Al Haq, jika ditemukan manusia atau jama’ah yang mengajak kepada Kitabullah dan Sunnah RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , mengajak mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dan mengikuti syariatNya maka MEREKA SEMUA ITULAH AL-JAMA’AH, DAN MEREKA TERMASUK FIRQAH NAJIYYAH. Adapun mereka yang menyeru kepada selain kitabullah, atau kepada selain Sunnah Ar Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka mereka itu bukan termasuk Al-Jama’ah, bahkan termasuk firqah yang sesat dan binasa, karena firqah an-najiyyah (yang selamat) adalah penyeru kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, sekalipun mereka adalah Jama’ah disini atau Jama’ah disana, sepanjang tujuan & aqidah mereka satu. MAKA TIDAK MASALAH BAHWA YANG INI BERNAMA ANSHARUS SUNNAH, DAN YANG INI BERNAMA AL IKHWAN AL MUSLIMUN, dan yang itu bernama anu, yang penting aqidah dan amal mereka, jika mereka istiqamah atas Al Haq dan atas Tauhidullah dan Ikhlas kepadaNya dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam perkataan, perbuatan dan aqidah maka NAMA APAPUN TIDAK MENJADI MASALAH. Tetapi wajib bagi mereka bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan benar dalam ketaqwaannya, ADAPUN SEKALI LAGI BAHWA SEBAGIAN MEREKA DISEBUT ANSHARUS SUNNAH DAN SEBAGIAN LAGI DINAMAKAN AS-SALAFIYYUN ATAU DINAMAKAN AL IKHWAN AL MUSLIMUN atau disebut dengan nama Jama’ah anu, tidak masalah jika mereka benar, istiqamah atas Al-Haq, mengikuti Al Kitab dan As Sunnah dan berhukum kepada keduanya dan istiqamah atas keduanya aqidah, perkataan dan perbuatan, dan jika Jama’ah tsb salah dalam sesuatu masalah maka wajib bagi ahlul ‘ilmi untuk memperingatkan dan menasihatinya kepada Al Haq jika dalilnya sudah jelas.

Yang dimaksud adalah wajib bagi mereka saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa dan mengobati permasalahan kita dengan ilmu dan hikmah dan dengan uslub yang baik, barangsiapa yang tersalah dalam hal apapun di antara Jama’ah-jama’ah ini atau juga pada selain mereka dalam masalah aqidah atau dari apa yang diwajibkan Allah ‘Azza wa Jalla atau dari apa yang diharamkan Allah maka hendaklah dinasihati berdasarkan dalil-dalil syar’iyyah DENGAN CARA YANG LEMAH LEMBUT, BIJAKSANA dan USLUB YANG BAIK hingga mereka kembali kepada kebenaran dan sampai mereka mau menerimanya dan jangan sampai mereka lari daripadanya, maka hal ini adalah wajib bagi semua orang Islam untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa dan untuk saling menasihati diantara mereka dan agar tidak dicaci-maki sehingga mengakibatkan terjadinya permusuhan.

(Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Majmu’ Fatawa, 8/181-183)

*Terjemahan ini bukan terjemahan saya.

Terjemahan ini saya copy paste apa adanya, termasuk yang ditulis dengan huruf kapital. Terjemahan ini saya ambil dari terjemahan yang dibuat oleh salah seorang pro pendukung Ikhwanul Muslimin.

****
Fatwa ke tujuh ini, ramai disebarkan oleh para pendukung dan pro IM. Ramai disebarkan guna dilakukan pemelintiran pemahaman dan framing, untuk mendukung kepentingan Ikhwanul Muslimin.

Ramai disebarkan di Indonesia, baik melalui situs-situs pro IM, broadcast, share social media, dan buzzer buzzer yang merupakan “foot soldier” pro Ikhwanul Muslimin di Indonesia.

Ramai disebarkan terutama setelah perkataan Ustadz Syafiq Basalamah mengenai hubungan antara IM, Al Qaeda, dan ISIS menjadi trending topik. Padahal perkataan Ustadz Syafiq Basalamah itu ada semenjak semenjak tahun yang lalu, bukan dikatakan pada tahun 2017 baru-baru saja ini.

Fatwa Syaikh ibn Baz ini diturunkan, bersama perkataan beberapa ulama Saudi lainnya, guna “membantah” perkataan Ustadz Syafiq Basalamah dengan judul framing “Syafiq Reza Versus Kibar Ulama”.

Maka mulailah fatwa fatwa para ulama dimainkan, terutama fatwa Syaikh ibn Baz ini, demi mendukung kepentingan Ikhwanul Muslimin.

***
Framing-Framing itu mengatakan,

Framing :
“Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz: Ikhwanul Muslimin, Salafiyyun, Ansharus Sunnah, semuanya adalah Firqah Najiyyah/kelompok yang selamat”

Framing :
“Sebagian manusia ada yang tidak menerima bahwa kelompok lain di luar kelompoknya adalah Ahlus Sunnah, bagi mereka selain diri mereka adalah ahlul bid’ah. Pemikiran itu berangkat dari hizbiyah kronis yang mematikan. Mereka akan cari fatwa-fatwa ulama yang pas dengan hawa nafsunya saja, ada pun yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya akan dicampakkan atau ditafsiri macam-macam agar ujung-ujungnya tetap sesuai dengan maunya mereka.”

***
Menjawab framing itu sebenarnya mudah saja

Jawaban pertama :

Begitu kita kumpulkan semua fatwa Syaikh ibn Baz, yang mana ini sudah kita kumpulkan sejak seri 1 sampai seri 6 yang lalu, terutama fatwa terakhir dari Syaikh ibn Baz yang sangat tegas mengenai Ikhwanul Muslimin pada dua tahun terakhir sebelum wafatnya beliau, yang memasukkan IM ke dalam 72 golongan sesat, maka tuduhan framing itu sudah terjawab sendiri.

Apa yang dimaksudkan oleh fatwa Syaikh ibn Baz ini, ternyata tidak seperti yang Ikhwanul Muslimin inginkan. Yang benar fatwa itu hanya bersifat umum saja.

Silakan baca lagi serial fatwa Syaikh ibn Baz dari no 1 sd 6.

Jadi tidak benar jika dikatakan bahwa Ikhwanul Muslimin itu termasuk ke dalam firqotun Najiyah (golongan yang selamat), sebagaimana framing :
“Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz: Ikhwanul Muslimin, Salafiyyun, Ansharus Sunnah, semuanya adalah Firqah Najiyyah/kelompok yang selamat”

Yang benar Ikhwanul Muslimin itu adalah termasuk firqotudh dholalah (golongan yang sesat).

***
Jawaban kedua :

Akan saya terangkan cara memahami fatwa dari Syaikh ini, dengan menggunakan pemahaman dari fatwa ini sendiri secara individu.

Yakni dengan tanpa perlu untuk ditafsirkan dengan enam buah fatwa Syaikh ibn Baz yang lain, walaupun sebenarnya ditafsirkan dengan enam buah fatwa yang lain itu sebenarnya lebih afdhol dan lebih jelas .

1. Fatwa ini sebenarnya jika orang yang membacanya adalah orang yang sudah mempunyai bekal manhaj, Aqidah, dan pemahaman yang benar dengan mengikuti manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Maka fatwa ini sebenarnya mudah untuk difahami, sudah benar, dan tidak kontroversial.

*
2. Berbeda jika orang yang membaca fatwa ini adalah orang yang tidak mempunyai pondasi pemahaman manhaj Salaf, atau orang awam, atau bahkan justru orang orang Haroki yang mempunyai manhaj dan pemahaman Hizbiyyah.

Maka fatwa ini bisa mereka giring ke arah manapun yang mereka mau, sepanjang itu menguntungkan Harokah nya. Khusushon sepanjang menguntungkan Ikhwanul Muslimin.

*
3. Hukum kaum muslimin untuk berkumpul, guna saling ta’awun dan saling menasehati di atas Islam; maka ini hukum asalnya Mubah. Secara definisi kumpulan orang itu artinya jamaah. Maka dari itu hukum asal dari berkumpul atau berjamaah itu, hukumnya memang mubah.

Tentu saja dengan catatan tidak dengan tujuan untuk Tahazzub (fanatik golongan terhadap kumpulan jamaah nya itu), tetap menjadikan Aqidah dan manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai standard nya, dan tidak menentang pemerintahan yang sah.

Maka yang seperti ini hukumnya mubah dan boleh-boleh saja.

Inilah yang namanya hukum berjamaah atau berorganisasi secara umum. Antum ikut bergabung dengan ta’mir pengurus masjid antum saja, maka itu sudah disebut berjamaah.

Antum kumpul di Group WA saja juga sudah cukup untuk disebut jamaah.

Tapi tentu saja yang dimaksudkan jamaah dalam bahasan kita ini adalah jamaah dalam masalah agama. Bukan jamaah yang membahas, saling tolong menolong serta berkoordinasi dalam masalah lain-lain.

*
4. Akan tetapi jika kita ingin bergabung ke suatu organisasi, kumpulan orang, komunitas, atau jamaah tertentu yang ternyata :
– Jamaah itu didirikan di atas kebid’ahan

– Diwajibkan untuk loyal dan hizbiyyah terhadap jamaah tersebut, karena sikap tahazzub ini dianggap sebagai pondasi bangunan dari Harokah tersebut.

– Jamaah itu dibangun atas dasar prinsip toleransi terhadap berbagai macam penyimpangan manhaj dan Aqidah.

Yakni mengumpulkan serta menyeru orang dengan berbagai macam manhaj dan Aqidah untuk bergabung dan mendukung penjuangan mereka, dengan tanpa wajib untuk memperbaiki dan menasehati kerusakan manhaj dan Aqidah itu.

Dengan catatan asalkan sepanjang itu menguntungkan perjuangan dan sesuai dengan strategi Harokah.

– Jamaah Harokah itu mempunyai manhaj terhadap penguasa Islam yang menyimpang dari Sunnah.

Baik itu dengan memiliki tujuan untuk menggulingkannya, menyeru kepada revolusi, perlawanan terang terangan, dan pemberontakan. Atau yang mengarah ke hal hal itu dengan tujuan agar dapat merebut kekuasaan.

Maka hukum dari jamaah hizbiyyah Harokah seperti ini, sudah keluar dari keumuman hukum jamaah. Termasuk juga hukum bergabung dengan nya.

Hukum jamaah seperti ini dan hukum bergabung dengan nya, jelas harom dan jamaah ini jelas dihukumi menyimpang dari manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

*
5. Dalam fatwa ini, karena yang ditanyakan adalah jamaah secara umum. Maka tentu di antara berbagai jamaah yang sangat banyak di belahan dunia ini, ada yang termasuk firqotun Najiyyah (golongan yang selamat), sepanjang dia berpegang kepada manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Dan ada juga yang merupakan firqotudh dholalah (golongan yang tersesat) karena menyimpang dari manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Tidak bisa kita langsung katakan bahwa semua jamaah yang ada sekarang ini termasuk firqah firqah sesat. Ini namanya “gebyak uyah” atau “over generalization”. Yang benar harus diperinci dan ditetapkan kriteria nya dulu, yang mana yang selamat dan yang mana yang sesat.

Karena hukum asal dari seorang muslim itu selamat baik Aqidah dan manhajnya, hingga terbukti terdapat penyimpangan di dirinya. Sama juga dengan jamaah

*
6. Maka dari itu Syaikh ibn Baz dalam fatwanya ini, menyebutkan dulu kriteria dan standard apa itu firqotun najiyah dan apa itu firqotudh dholalah.

Beliau berkata :
“firqah yang selamat adalah Jama’ah yang lurus sesuai Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya Radhilallahu ‘Anhum, dalam mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya, dan istiqamah atas hal tersebut baik perkataan, perbuatan dan aqidah, mereka itu adalah Ahlul Haqq dan mereka adalah para da’i kepada petunjuk, sekalipun mereka tercerai-berai di pelosok negeri.”

Beliau juga berkata mengenai firqotudh dholalah :
“Adapun mereka yang menyeru kepada selain kitabullah, atau kepada selain Sunnah Ar Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka mereka itu bukan termasuk Al-Jama’ah, bahkan termasuk firqah yang sesat dan binasa, karena firqah an-najiyyah (yang selamat) adalah penyeru kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, sekalipun mereka adalah Jama’ah disini atau Jama’ah disana, sepanjang tujuan & aqidah mereka satu”

*
7. Bagi yang sudah pernah belajar dan memiliki pondasi manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang benar, maka mereka akan memahami bahwa point nomer tujuh ini sebenarnya krusial.

Yakni bahwa nama itu tidak akan merubah hakikat. Yang penting itu adalah hakikat nya, sekedar nama itu tidak penting.

Ibnul Arabi berkata, sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Hajar dalam kitab nya Fathul Bari :

قال ابن العربي : هو أصل في أن الأحكام إنما تتعلق بمعاني الأسماء لا بألقابها ، ردا على من حمله على اللفظ

“Ini adalah pokok bagi kaidah: ‘Setiap hukum bergantung kepada MAKNA dari istilah nama yang dimaksud, bukan bergantung kepada julukan nama belaka’

Terlebih lagi jika ternyata hakikat dari yang diberi nama itu, ternyata berkebalikan dan tidak sesuai dengan kandungan yang terdapat dari lafadz nama itu.” [juz 10, hal 59]

Lihat : http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=10218&idto=10219&bk_no=52&ID=3129#docu

Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam juga bersabda,

ليشربن ناس من أمتي الخمر يسمونها بغير اسمها. رواه أبو داود، وله شواهد كثيرة.

Dari Abu Malik al-’Asy’ari radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh akan ada sekelompok orang dari umatku yang minum khamr, dan mereka menamakannya dengan selain namanya.” (HR. Abu Dawud, dan hadits ini memiliki banyak syawahid).

Maka dari itulah Syaikh ibn Baz mengulangi sampai dua kali perkataan beliau mengenai penamaan jamaah ini,

“MAKA TIDAK MASALAH BAHWA YANG INI BERNAMA ANSHARUS SUNNAH, DAN YANG INI BERNAMA AL IKHWAN AL MUSLIMUN, dan yang itu bernama anu, yang penting aqidah dan amal mereka, jika mereka istiqamah atas Al Haq dan atas Tauhidullah dan Ikhlas kepadaNya dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam perkataan, perbuatan dan aqidah maka NAMA APAPUN TIDAK MENJADI MASALAH. ”

“ADAPUN SEKALI LAGI BAHWA SEBAGIAN MEREKA DISEBUT ANSHARUS SUNNAH DAN SEBAGIAN LAGI DINAMAKAN AS-SALAFIYYUN ATAU DINAMAKAN AL IKHWAN AL MUSLIMUN atau disebut dengan nama Jama’ah anu, tidak masalah jika mereka benar, istiqamah atas Al-Haq, mengikuti Al Kitab dan As Sunnah dan berhukum kepada keduanya dan istiqamah atas keduanya aqidah, perkataan dan perbuatan, dan jika Jama’ah tsb salah dalam sesuatu masalah maka wajib bagi ahlul ‘ilmi untuk memperingatkan dan menasihatinya kepada Al Haq jika dalilnya sudah jelas.”

Jadi Syaikh tidak mempermasalahkan jamaah apapun atau dengan menggunakan nama apapun, sepanjang jamaah tersebut sesuai dengan haqiqotnya mengikuti manhaj dan Aqidah Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

*
8. Maka dari itu, untuk lebih mudah dalam memahami penjelasan di atas, walaupun Rasulullah dinamai sebagai penyihir dan orang gila oleh musyrikin Makkah. Maka penamaan itu tidaklah merubah hakekat kebenaran dakwah beliau.

Demikian juga, andaikata ada seseorang yang mempunyai nama Muhammad meniru nama Nabi (dan ini hukumnya sunnah), namun dia berbuat kerusakan dan penyimpangan manhaj serta Aqidah. Maka walaupun dia memiliki nama Muhammad, namun itu tidak menghalangi hukum bahwa dia adalah orang yang sesat dan menyimpang.

Sama juga dengan permasalahan jamaah yang kita bahas ini. Yang penting adalah hakikat nyata dari manhaj, Aqidah, dan amalannya saja. Masalah nama itu tidak penting.

Inilah yang dimaksudkan oleh fatwa Syaikh ibn Baz, dan pondasi pemahaman mengenai manhaj Salaf yang ditekankan oleh para masyaikh lainnya seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan dan Syaikh Al Utsaimin.

Tidak ada gunanya mengaku mengikuti Salaf (Salafiyyun), tapi menyimpang dari manhaj Salaf dalam masalah Aqidah “istawa ‘alal arsy” (Allah bersemayam di atas Arsy) sebagaimana yang terjadi pada Asyairoh.

Tidak ada gunanya mengaku mengikuti Salaf (Salafiyyun), tapi memiliki manhaj revolusi, pemberontakan, penjatuhan kehormatan pemerintah di muka umum, pengkafiran secara serampangan, dan perbuatan kekuasaan ala Khowarij. Sebagaimana orang yang mengaku Salafi Haroki atau Salafi Jihadi itu.

Jadi yang penting itu adalah hakikat dan kesesuaian dengan manhaj Salaf.

Menisbatkan diri kepada Sunnah dan Salaf, guna menamakan diri sebagai Ahlus Sunnah dan pengikut Salaf (Salafi atau Salafiyyun). Yakni untuk membedakan diri dengan Ahlul Bid’ah dan orang-orang yang menyimpang dari manhaj Salaf itu, maka ini hukumnya boleh dan tidak tercela. Sebagaimana ini adalah fatwa dari Ibnu Taimiyyah.

Namun kewajiban kita tidak hanya sekedar mengklaim dan menamakan diri saja. Akan tetapi membuktikan bahwa manhaj, Aqidah, dan amalan kita sesuai dengan manhaj Salaf inilah hakikat yang paling utama dan yang menjadi objek dalam menghukumi sesuatu.

Seseorang tidak ngaku ngaku sebagai Salafi sekalipun, asalkan manhaj, Aqidah, dan amalannya sesuai dengan manhaj Salaf. Maka dia sudah merupakan Salafi dengan sendirinya.

Baju itu memang tidak penting untuk hidup. Orang tidak pakai baju itu tidak akan mati. Tapi masak hidup tidak pakai baju?

Jadi yang proporsional saja. Yang penting menutupi aurat. Masalah bajunya ada tulisan merk Salafi atau tidak maka itu tidak penting. Yang penting menutupi aurat dan menjalani hidup sesuai dengan manhaj Salaf.

===
Syaikh Al Fauzan pernah ditanya :

“Sebagian orang mengakhiri namanya dengan embel-embel as-salafy (Pengikut Salaf) atau al-atsary (pengikut Atsar). Apakah tindakan ini termasuk memuji diri sendiri ataukah malah sejalan dengan syariat?”

Jawab :

“Yang menjadi kewajiban setiap orang adalah mengikuti kebenaran (baca: manhaj salafy). Yang diperintahkan atas setiap orang adalah mencari kebenaran lalu mengamalkannya.

Adapun menamai diri sendiri dengan embel-embel assalafy atau al atsary atau semisal itu maka itu adalah tindakan yang tidak perlu dilakukan. Allah mengetahui realita senyatanya dari kondisi seseorang.

(قل أتعلمون الله بدينكم والله يعلم ما في السماوات وما في الأرض والله بكل شيء عليم) .

Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah apakah kalian hendak memberi tahu Allah tentang ketaatan kalian. Dan Allah itu mengetahui semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan Allah itu mengetahui segala sesuatu” [QS al Hujurat:16].

Memberi embel-embel as salafy, al atsary atau semisalnya di belakang nama seseorang adalah perbuatan yang tidak berdasar. Kita melihat realita senyatanya, bukan pengakuan, embel-embel dan klaim.

Boleh jadi ada orang yang mengaku-aku dirinya sebagai salafy padahal dia bukanlah salafy atau mengaku-aku atsary padahal bukan atsary. Boleh jadi ada seorang yang benar-benar salafy dan atsary namun dia tidaklah menyebut-nyebut dirinya sebagai atsary atau pun salafy.

Yang jadi tolak ukur adalah realita senyatanya, bukan semata-mata klaim. Menjadi kewajiban setiap muslim untuk beradab kepada Allah.

لما قالت الأعراب آمنا أنكر الله عليهم: ( قالت الأعراب آمنا قل لم تؤمنوا ولكن قولوا أسلمنا )

Tatkala orang-orang arab badui mengatakan, “Kami telah beriman” Allah menegur mereka dengan firman-Nya yang artinya, ”Orang-orang badui mengatakan, ”Kami telah beriman”. Katakanlah kalian belum beriman akan tetapi katakanlah kami telah berislam” [QS al Hujurat:14].

Allah menegur mereka karena mereka memberi label iman kepada diri mereka sendiri karena salah pahal dengan status mereka yang telah masuk ke dalam Islam padahal mereka belum sampai level tersebut

Orang-orang badui yang baru saja datang dari perkampungan nomaden mengklaim bahwa diri mereka adalah orang-orang yang beriman. Ini tentu saja tidak benar. Mereka baru saja berislam alias baru saja masuk Islam. Jika mereka terus berislam dan mau terus mengkaji maka iman akan masuk ke dalam hati mereka sedikit demi sedikit.

(ولما يدخل الإيمان في قلوبكم)

Allah berfirman (yang artinya), “Dan iman itu belum masuk ke dalam hati kalian” [QS al Hujurat:14]. Kata-kata lamma yang kita terjemahkan dengan ’belum’ adalah kata-kata yang digunakan untuk menunjukkan akan terwujudnya apa yang diharapkan. Artinya iman akan masuk ke dalam hati mereka. Akan tetapi tiba-tiba anda mengklaim diri anda sebagai orang yang beriman maka ini termasuk memuji diri sendiri yang merupakan perbuatan terlarang.

Tidak perlu anda mengatakan ‘Saya salafy, Saya atsary’, saya demikian atau demikian. Kewajiban anda adalah mencari kebenaran lalu mengamalkannya. Perbaikilah niat dan Allah itu yang mengetahui hakekat senyatanya”.

Lihat : http://ustadzaris.com/hukum-embel-embel-as-salafy

*
9. Seseorang walaupun dia menisbatkan diri kepada Salaf dan menamakan dirinya sebagai pengikut Salaf, maka bukan berarti dia terlepas dari kewajibannya mengikuti manhaj Salaf. Apalagi mencampur campurnya dengan manhaj lain, seperti manhaj Haroki misalnya.

Ini sesuai dengan perkataan Rasulullah dalam Shohih Bukhori, “Sesungguhnya jika Fathimah (putri Rasulullah) mencuri, maka akan aku potong tangan nya”.

Maka dari itu demikian juga kumpulan para pengikut Salafiyyah, yang berkumpul untuk suatu keperluan dakwah agama dan yang semisal, hingga memenuhi definisi minimal dari istilah jamaah. Yakni berkumpulnya orang untuk suatu tujuan.

Mereka juga wajib untuk senantiasa mengikuti manhaj Salaf dan menjadikannya sebagai standart, dalam kegiatan dan organisasi jamaah mereka. Hanya sekedar embel embel nama saja itu tidak penting.

Mengikuti manhaj Salaf itu wajib, baik dalam kehidupan seorang muslim secara pribadi, ataupun dalam hubungan berkumpul dengan orang lain secara jamaah.

*
10. Uniknya pemahaman istilah “jamaah” yang berarti perkumpulan orang untuk suatu tujuan ini tidak difahami oleh Ikhwanul Muslimin.

Seorang Hizbi itu umumnya akan melihat orang dan jamaah lain juga Hizbi seperti dia.

Yakni yang wajib loyal, taat, ada tandzim sirriyah, instruksi dan kebijakan tandzim yang mutlak wajib ditaati sesuai dengan janji bai’at loyalitas, dan yang semisalnya. Hingga jika itu ada bertabrakan dengan manhaj dan Aqidah Salaf, maka wajib untuk mengutamakan Tandzim Harokah dibandingkan manhaj dan Aqidah sesuai dengan semangat hizbiyyah guna mendukung perjuangan Harokah.

Padahal faktanya tidak semuanya yang memenuhi definisi istilah jamaah itu, otomatis langsung dianggap sebagai jamaah hizbiyyah sama seperti Ikhwanul Muslimin.

Melakukan kegiatan berjamaah, ataupun mendirikan jamaah itu boleh. Asalkan wala dan baro nya itu tetap berdasarkan manhaj Salaf, bukan berdasarkan jamaah sebagaimana Ikhwanul Muslimin (sebenarnya istilah yang cocok bagi IM itu adalah “Hizb”, istilah jamaah itu terlalu global).

*
11. Maka dari itu karena ketidakfahaman ini, para pendukung Ikhwanul Muslimin merasa kegirangan dengan fatwa Syaikh ibn Baz ini. Dan merasa bisa melakukan Framing atas nama fatwa ini.

Framing mereka itu ada dua sebenarnya.

SATU,
mereka merasa juga sebagai Ahlus Sunnah karena disandingkan oleh Syaikh ibn Baz dalam perkataannya, dengan jamaah jamaah lainnya. Termasuk karena disandingkan dengan Salafiyyun.

Mereka berkata,
“Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz: Ikhwanul Muslimin, Salafiyyun, Ansharus Sunnah, semuanya adalah Firqah Najiyyah/kelompok yang selamat”

Padahal yang benar Syaikh ibn Baz dalam fatwanya ini, bukan sedang mentazkiyah bahwa Ikhwanul Muslimin itu adalah Ahlus Sunnah secara ta’yin (spesifik).

Akan tetapi Syaikh ibn Baz sedang menerangkan definisi umum mana yang firqotun Najiyah, dan mana yang firqotudh dholalah. Dan beliau menekankan bahwa sekedar nama itu tidak penting.

Baik itu Ikhwanul Muslimin, Anshorus Sunnah, Salafiyyun, jamaah-jamaah yang ada di Jazirah Arab, Amerika, Mesir, dan Afrika. Maka semua nama nama jamaah itu tidak penting. Yang penting itu adalah kesesuaian jamaah tersebut dengan definisi firqotun Najiyah itu.

Jika itu sesuai, ya maka namanya firqotun Najiyah walaupun itu dari jamaah manapun dengan nama apapun. Jika tidak sesuai maka ya berarti jamaah itu firqotudh dholalah, walaupun jamaah itu memakai nama Salafiyyun.

Tanah suci itu tidak mensucikan penduduknya. Demikian juga penisbatan yang benar kepada Salaf itu, tidak mentazkiyah seseorang mengikuti manhaj Salaf secara murni.

Dan haqiqot IM jika ternyata sesuai dengan firqotun Najiyah, ya berarti IM termasuk firqotun Najiyah. Tapi sayangnya ternyata tidak.

Jadi intinya IM merasa “Ge-er” karena nama mereka disebut oleh Syaikh ibn Baz dalam fatwa yang umum mengenai berbagai macam jamaah yang ada itu.

Sehingga karena semangat hizbiyyah nya, mereka melakukan Logical fallacy “Over statements” bahwa ini berarti Syaikh ibn Baz menganggap Ikhwanul Muslimin adalah termasuk firqotun Najiyah. Termasuk Ahlus Sunnah. Padahal faktanya tidak.

DUA,
Mereka merasa bahwa semua yang disebut dan memenuhi syarat minimal sebagai “jamaah” itu, maka berarti otomatis juga merupakan “jamaah hizbiyyah” sama seperti Ikhwanul Muslimin. Padahal faktanya tida.

Maka dari itu berangkat dari paradigma yang salah sejak dari awal ini, maka IM biasanya mencoba bersikap mengambil jalan tengah yang sok bijak, bahwa semua sama dianggap hizb sama seperti mereka. Yang penting bisa saling menghargai, toleran, dan bekerjasama antar hizb saja dan jangan saling mentahdzir penyimpangannya dari Sunnah, manhaj, dan aqidah Ahlul Sunnah wal Jama’ah.

Ini tidak lain karena Ikhwanul Muslimin dan para pendukungnya memandang bahwa tahazzub itu diperbolehkan; dan memandang jamaah, komunitas, dan perkumpulan lainnya itu sebenarnya sama-sama merupakan hizb dan bersikap tahazzub dan hizbiyyah juga sama seperti mereka.

Maka dari itu ketika mereka melakukan Framing atas nama fatwa Syaikh ibn Baz ini, mereka berkata :

“Sebagian manusia ada yang tidak menerima bahwa kelompok lain di luar kelompoknya adalah Ahlus Sunnah, bagi mereka selain diri mereka adalah ahlul bid’ah. Pemikiran itu berangkat dari hizbiyah kronis yang mematikan. Mereka akan cari fatwa-fatwa ulama yang pas dengan hawa nafsunya saja, ada pun yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya akan dicampakkan atau ditafsiri macam-macam agar ujung-ujungnya tetap sesuai dengan maunya mereka.”

*
12. Jika sebelumnya pada point nomer 7 saya sudah menjelaskan bahwa nama itu tidaklah merubah hakikat dari sesuatu.

Maka disini jika antum lihat terjemahan yang diberikan tulisan kapital besar besar oleh Ustadz pro Ikhwanul Muslimin, yang saya copas apa adanya itu. Bukan saya yang merubahnya menjadi huruf kapital.

Maka itu jika dikembalikan kepada pemahaman ulama sebagaimana yang saya jelaskan pada point nomer 7, maka sebenarnya sudah sangat menerangkan apa yang dimaksud kan oleh Syaikh ibn Baz. Berikut akan saya copas lagi yang sengaja ditulis dengan huruf kapital oleh Ustadz pro IM itu,

“JAMA’AH YANG BANYAK SEKALI”

“MEREKA SEMUA ITULAH AL-JAMA’AH, DAN MEREKA TERMASUK FIRQAH NAJIYYAH.”

“MAKA TIDAK MASALAH BAHWA YANG INI BERNAMA ANSHARUS SUNNAH, DAN YANG INI BERNAMA AL IKHWAN AL MUSLIMUN,”

“NAMA APAPUN TIDAK MENJADI MASALAH.”

“ADAPUN SEKALI LAGI BAHWA SEBAGIAN MEREKA DISEBUT ANSHARUS SUNNAH DAN SEBAGIAN LAGI DINAMAKAN AS-SALAFIYYUN ATAU DINAMAKAN AL IKHWAN AL MUSLIMUN”

“DENGAN CARA YANG LEMAH LEMBUT, BIJAKSANA dan USLUB YANG BAIK”

Demikianlah yang ditulis dengan huruf kapital ketika menterjemahkan fatwa Syaikh ibn Baz oleh Ustadz pro IM itu. Padahal jika itu dikembalikan kepada pemahaman ulama sebagaimana yang saya jelaskan pada point nomer 7, maka itu sudah sangat jelas apa yang dimaksud oleh Syaikh ibn Baz.

Ibnul Arabi berkata :

قال ابن العربي : هو أصل في أن الأحكام إنما تتعلق بمعاني الأسماء لا بألقابها ، ردا على من حمله على اللفظ

“Ini adalah pokok bagi kaidah: ‘Setiap hukum bergantung kepada MAKNA dari istilah nama yang dimaksud, bukan bergantung kepada julukan nama belaka’

Terlebih lagi jika ternyata hakikat dari yang diberi nama itu, ternyata berkebalikan dan tidak sesuai dengan kandungan yang terdapat dari lafadz nama itu.” [Fathul Bari juz 10, hal 59]

Mungkin bisa jadi sang ustadz pro IM itu lupa akan qaidah yang ditetapkan oleh para ulama ini, sehingga tergelincir untuk melakukan Framing terhadap fatwa Syaikh ibn Baz ini.

Atau bisa juga karena terlalu semangat hizbiyyah nya, sang ustadz tersebut lupa akan qaidah ini dan terburu sangat bernafsu untuk melakukan framing terhadap fatwa Syaikh ibn Baz ini.

Walloohu A’lam.

****
Demikianlah kiranya penjelasan saya mengenai fatwa Syaikh ibn Baz ini. Serial ketujuh ini juga sekaligus menutup dari kumpulan fatwa Syaikh ibn Baz mengenai Ikhwanul Muslimin yang berhasil saya kumpulkan.

Semoga penjelasan ini mudah untuk difahami, dan bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih sudah mau bersabar untuk membaca dan mengikuti serial fatwa Syaikh ibn Baz kami ini, mulai dari seri satu sampai seri ketujuh ini.

Baarokallahu fiik

Advertisements