Hukum bergabung dengan hizb-hizb (ahzab) yang mengatasnamakan Islam

[Hizb : golongan yang sengaja dibentuk untuk taat, benci, loyal, dan memusuhi orang lain atas dasar garis kebijakan, pendapat, atau fanatisme nya kepada suatu hizb organisasi atau suatu hizb perkumpulan atau hizb atas nama tokoh tertentu selain Rasulullah -pent]

****
Soal :

Bagaimana cara kita untuk menasehati para Da’i (Ustadz dan yang semisal), berkenaan dengan sikap mereka terhadap para pelaku kebid’ahan?

Yakni agar kami bisa kembali memberikan kepada mereka arahan dan nasehat khusus darimu wahai Syaikh yang mulia, berkaitan dengan para pemuda yang terpengaruh ingin bergabung dengan [organisasi Harokah pergerakan – pent] hizbiyyah yang mengatasnamakan agama ?

*
Jawab :

Aku mewasiatkan kepada seluruh saudaraku se Islam untuk berdakwah kepada Allah subhaanahu wa ta’aala dengan cara yang hikmah, memberikan contoh pelajaran yang baik, dan berdiskusi dengan cara memberikan bantahan jawaban yang lebih baik.

Ini sebagaimana cara yang Allah perintahkan untuk berdakwah, baik kepada manusia secara umum, ataupun kepada para pelaku kebid’ahan jika mereka terang terangan menampakkan kebid’ahan nya.

Berdakwah dengan cara yang bertujuan untuk mengingkari kebid’ahan mereka. Sama saja baik itu terhadap orang syi’ah, ataupun selainnya.

Kebid’ahan apapun yang dilihat oleh seorang mukmin, maka wajib baginya untuk mengingkarinya, dengan cara cara yang sekiranya dapat membuat pelaku kebid’ahan ituvbisa kembali menaati dan mengikuti jalan Syar’iyyah .

Kebid’ahan itu adalah seburuk-buruk hal yang diada adakan oleh manusia. Yang mana mereka menisbatkan kebid’ahan itu ke dalam agama, hingga seakan akan merupakan ajaran agama, padahal sebenarnya bukan.

Buruknya kebid’ahan ini adalah berdasarkan sabda Nabi Shalalloohu alaihi wa sallam,

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barangsiapa yang mengada adakan suatu perkara yang baru dalam masalah agama kami, padahal itu sebenarnya bukan dari ajaran agama ini. Maka hal tersebut tertolak”

Dan sabda Nabi Shalalloohu alaihi wa sallam,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan, yang tidak ada tuntunan perintah nya dari kami. Maka amalan tersebut tertolak”.

Contoh dari kebid’ahan seperti ini adalah seperti kebid’ahan Syi’ah Rofidhoh, Kebid’ahan Mu’tazilah, Kebid’ahan Murji’ah, kebid’ahan Khowarij, kebid’ahan peringatan maulid, kebid’ahan membangun bangunan di atas kuburan dan menjadikannya sebagai masjid (kuburan dijadikan bangunan tempat sholat – pent), dan berbagai macam jenis kebid’ahan lainnya.

Maka wajib untuk menasehati mereka, dan mengarahkan mereka ke dalam kebaikan. Mengingkari hal-hal baru yang mereka ada adakan dari berbagai macam kebid’ahan, dengan berdasarkan dalil-dalil syar’iyyah.

Mengajari dan memahamkan mereka mengenai apa apa yang mereka jahil dan tidak tahu mengenai Al Haq (kebenaran), dengan cara yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Dengan metode yang baik, dengan penyampaian dalil-dalil yang terang dan mudah difahami bagi mereka, agar mereka dapat menerima Al Haq (kebenaran).

*
أما الانتماءات إلى الأحزاب المحدثة فالواجب تركها

Adapun bergabung dengan hizb-hizb (ahzab) yang mengadakan hal hal yang baru yang merupakan kebid’ahan dalam masalah agama (Al Ahzaab Al Muhadatsah), maka wajib adalah meninggalkan nya dan tidak bergabung dengan mereka.

Adapun yang wajib bagi kita itu adalah bergabung kepada Kitabullaah (Al Qur’an) dan sunnah Rasul-Nya Shalalloohu alaihi wa sallam. Saling ta’awun (saling tolong menolong) dalam perkara perintah dan tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah, dengan cara membenarkannya (Al Qur’an dan As Sunnah) dan ikhlas dalam mengamalkannya.

Inilah yang disebut dengan istilah “hizbullah” (golongan Allah), yang mana Allah berfirman mengenai hizbullah pada akhir surat Al Mujadalah sebagai berikut,

أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُون

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah (golongan Allah) itu adalah golongan yang beruntung” [QS Al Mujadalah : 22]

Ayat tersebut disebutkan, setelah Allah terlebih dahulu menyebutkan sifat yang agung dari Hizbullah pada firman Nya,

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” [QS Al Mujadalah : 22]

Di antara sifat sifat agung lain yang dimiliki oleh golongan Hizbullah itu, adalah sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firman Nya dalam surat Adz Dzariyat berikut ini,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ * آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ * كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ * وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ * وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُوم

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” [QS Adz Dzariyat : 15-19]

Inilah sifat-sifat yang merupakan ciri-ciri dari golongan Hizbullah, mereka tidak memihak dan bergabung dengan fihak manapun kecuali kitabullaah (Al Qur’an), As Sunnah, dan berdakwah kepada keduanya. Menjalankan pemahaman dan amalan dari hal itu (Al Qur’an, As Sunnah, dan berdakwah kepada keduanya) dengan berdasarkan manhaj Salaful Ummah, dari para sahabat rodhiyalloohu anhum dan orang-orang yang mengikuti manhaj para sahabat itu dengan sebaik baiknya (Ihsan).

***
Inilah nasehatku kepada seluruh hizb-hizb (ahzab) dan jamaah jamaah (organisasi perkumpulan) Islam. Saya menyeru kepada mereka semua agar benar-benar berpegang teguh kepada kitabullaah (Al Qur’an) dan As Sunnah.

Saya menyeru agar mengembalikan segala sesuatu yang diperselisihkan, kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Apa apa yang sesuai dengan keduanya (Al Qur’an dan As Sunnah), atau yang sesuai dengan salah satu dari keduanya, maka itulah yang kita terima sebagai kebenaran.

Sedangkan apa apa yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah, maka itu wajib kita tinggalkan.

Tidak ada perbedaan dalam masalah kewajiban terhadap Al Qur’an, As Sunnah, dan Manhaj Salaful Ummah ini [ bagi seluruh hizb-hizb (ahzab) dan jamaah jamaah (organisasi perkumpulan) Islam -pent].

Baik itu terhadap jamaah Ikhwanul Muslimin, atau terhadap Anshorus Sunnah dan Al Jama’ah Asy Syar’iyyah*, atau terhadap Jama’ah Tabligh, atau yang selainnya dari jamaah jamaah dan hizb-hizb (ahzab) yang mengaku menisbatkan diri mereka kepada Islam.

Dengan metode ini, maka terkumpullah semua kalimat, dan bersatulah semua tujuan dan cita-cita.

Berkumpullah semua hizb-hizb dan jamaah jamaah itu menjadi golongan hizb yang satu. Dan kemudian terbentuklah sketsa coretan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Yang mana Ahlus Sunnah wal Jama’ah inilah Hizbul lah, penolong agama Allah, dan para Da’i yang menyeru kepada Nya.

Tidak boleh ta’ashub (fanatik dan membela membabi buta) terhadap Jama’ah manapun, ataupun terhadap hizb manapun, jika ternyata hizb atau jamaah itu menyelisihi syariat Islam yang suci ini.

Sumber :
http://www.binbaz.org.sa/fatawa/177

***
*Syaikh ibn Baz dalam fatwanya ini mengelompokkan Anshorus Sunnah dan jamaah yang sesuai dengan syariah (Al Jama’ah Asy Syar’iyyah) sebagai suatu kelompok tersendiri, yang berbeda dengan Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Tabligh.

Ini adalah Isyarat “halus” dari Syaikh ibn Baz yang harus kita perhatikan.

Lebih lanjut silakan lihat serial fatwa Syaikh ibn Baz nomor dua yang telah kami terjemahkan dan posting sebelumnya, yang mana beliau terang terangan membedakan antara Ikhwanul Muslimin dan Anshorus Sunnah

****
Transkrip teks Arab asli :

حكم الانتماء إلى أحزاب دينية

بماذا تنصحون الدعاة حيال موقفهم من المبتدعة؟ كما نرجو من حمل سماحتكم توجيه نصيحة خاصة إلى الشباب الذين يتأثرون بالانتماءات الحزبية المسماة بالدينية؟

وصي إخواننا جميعا بالدعوة إلى الله سبحانه بالحكمة والموعظة الحسنة والجدال بالتي هي أحسن كما أمر الله سبحانه بذلك مع جميع الناس ومع المبتدعة إذا أظهروا بدعتهم، وأن ينكروا عليهم سواء كانوا من الشيعة أو غيرهم- فأي بدعة رآها المؤمن وجب عليه إنكارها حسب الطاقة بالطرق الشرعية.
والبدعة هي ما أحدثه الناس في الدين ونسبوه إليه وليس منه، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد، وقول النبي صلى الله عليه وسلم: من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد ومن أمثلة ذلك بدعة الرفض، وبدعة الاعتزال، وبدعة الإرجاء، وبدعة الخوارج، وبدعه الاحتفال بالموالد، وبدعة البناء على القبور واتخاذ المساجد عليها إلى غير ذلك من البدع، فيجب نصحهم وتوجيههم إلى الخير، وإنكار ما أحدثوا من البدع بالأدلة الشرعية وتعليمهم ما جهلوا من الحق بالرفق والأسلوب الحسن والأدلة الواضحة لعلهم يقبلون الحق.
أما الانتماءات إلى الأحزاب المحدثة فالواجب تركها، وأن ينتمي الجميع إلى كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم، وأن يتعاونوا في ذلك بصدق وإخلاص، وبذلك يكونون من حزب الله الذي قال الله فيه سبحانه في آخر سورة المجادلة: أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ[1]بعدما ذكر صفاتهم العظيمة في قوله تعالى: لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ[2] الآية.
ومن صفاتهم العظيمة ما ذكره الله عز وجل في سورة الذاريات في قول الله عز وجل: إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ * آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ * كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ * وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ * وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ[3] فهذه صفات حزب الله لا يتحيزون إلى غير كتاب الله، والسنة والدعوة إليها والسير على منهج سلف الأمة من الصحابة رضي الله عنهم وأتباعهم بإحسان.
فهم ينصحون جميع الأحزاب وجميع الجمعيات ويدعونهم إلى التمسك بالكتاب والسنة، وعرض ما اختلفوا فيه عليهما فما وافقهما أو أحدهما فهو المقبول وهو الحق، وما خالفهما وجب تركه.
ولا فرق في ذلك بين جماعة الإخوان المسلمين، أو أنصار السنة والجمعية الشرعية، أو جماعة التبليغ أو غيرهم من الجمعيات والأحزاب المنتسبة للإسلام. وبذلك تجتمع الكلمة ويتحد الهدف ويكون الجميع حزبا واحدا يترسم خطى أهل السنة والجماعة الذين هم حزب الله وأنصار دينه والدعاة إليه.
ولا يجوز التعصب لأي جمعية أو أي حزب فيما يخالف الشرع المطهر.

[1] سورة المجادلة الآية 22.
[2] سورة المجادلة الآية 22.
[3] سورة الذاريات الآيات 15 – 19.

Advertisements