Tawassul itu artinya mencari wasilah (perantara) agar dapat mendekatkan diri kita kepada Allah, demi kepentingan dunia dan akhirat kita.

Tawassul itu ada yang ditetapkan secara irodah kauniyah yang sesuai logika (biasanya hanya dalam masalah keduniaan), dan ada yang ditetapkan secara irodah syar’iyyah yang sesuai syariat yang merupakan bahasan kita ini.

Berbeda dengan tabarruk yang artinya mencari berkah, maka ini umumnya hanya untuk kepentingan dan kebaikan dunia semata. Bukan untuk kepentingan akhirat.

Yakni seperti misal tabarruk untuk pengobatan supaya sembuh penyakitnya, dilancarkan rizki nya, tolak bala, dan lain lain.

Syaikh Albani sudah cukup jelas membedakan antara tawassul dan tabarruk ini dalam kitab nya.

(Lihat foto untuk halaman 176-180 dari kitab Syaikh Albani ini)

Bolehkah berdoa dengan cara tawassul guna meminta keberkahan? Boleh saja, tapi ini namanya tawassul bukan tabarruk.

***
Tawassul itu dengan cara berdoa melalui perantara tiga hal saja, yakni melalui perantara amal sholeh kita, Asma wa Shifat Allah, dan doa orang Sholeh yang masih hidup.

Sedangkan tabarruk itu melalui dzat akan sesuatu yang Allah berkahi, dengan i’tiqod bahwa Allah lah yang semata memberikan berkah itu. Bukan dzat yang Allah berikan berkah itu. Jika Allah ingin menghilangkan keberkahan akan dzat itupun, maka itu mudah bagi Nya.

Cara tabarruk itu baik dengan cara menyimpannya atau memiliki nya (sebagaimana para sahabat menyimpan barang bekas Rasulullah), mengusap nya (mengusap fisik Rasulullah yang barokah), mencelupkannya (sebagaimana asma binti Abu Bakar mencelupkan baju bekas Rasulullah ke dalam air untuk obat), memakannya atau meminumnya (madu, buah tiin, minyak zaitun, air Zam Zam itu diberkahi), mempelajari nya (ilmu dari kitab para ulama agar kehidupan kita barokah karena sesuai syariat), menikahinya (menikahi wanita sholehah kan barokah), mengamalkan amalan yang sesuai sunnah, dan lain lain.

Tergantung dari jenis dzat yang memiliki keberkahan itu. Maka dengan cara itu keberkahan yang Allah berikan pada dzat itu akan tercurah kepada kita, bi idznillah.

***
Tawassul itu beda dengan Tabarruk. Maka dari itu tawassul itu hanya boleh dengan doa melalui tiga hal itu saja, tidak boleh berdoa dengan berdasarkan keberkahan dzat yang diberkahi itu.

Senada dengan itu, maka tawassul dengan berdasarkan dzat makhluq, walaupun itu kepada atas nama nabi, malaikat, dan orang-orang sholeh, maka itupun juga tidak diperbolehkan.

Baik itu tawassul dengan berdasarkan melalui kemuliaan, kehormatan, hak, atau keutamaan sesuatu apapun dari makhluk ciptaan Allah. Termasuk atas nama Nabi, orang Sholeh, wali, ataupun malaikat.

Terutama tawassul kepada orang orang yang sudah meninggal, baik dengan cara mendatangi kuburan nya ataupun tidak.

Tawassul seperti ini tidak dibolehkan, dan tidak disyariatkan. Sebagian merupakan kebid’ahan, dan sebagian merupakan pintu menuju kesyirikan.

Sebagian ulama yang membolehkan tawassul berdoa melalui pribadi Nabi yang telah meninggal, atau kepada orang Sholeh yang sudah meninggal (baik itu wali ataupun selainnya) maka mereka telah salah dalam Ijtihad nya dan tidak boleh diikuti kesalahan nya.

(Lihat foto untuk halaman 53-63 dari kitab Syaikh Albani ini)

***
Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat bagi pemahaman kita seputar masalah Tawassul dan Tabarruk, yang kadang salah kaprah difahami oleh penduduk Muslim di Indonesia ini karena pengaruh faham Sufi.

Baarokallahu fiik

=====

Hal 176-180

Shahih Tawasul dan Tabaruk -1Shahih Tawasul dan Tabaruk -2Shahih Tawasul dan Tabaruk -3Shahih Tawasul dan Tabaruk -4Shahih Tawasul dan Tabaruk -5

====

Halaman 53-63

Shahih Tawasul dan Tabaruk -6Shahih Tawasul dan Tabaruk -7Shahih Tawasul dan Tabaruk -8Shahih Tawasul dan Tabaruk -9Shahih Tawasul dan Tabaruk -10Shahih Tawasul dan Tabaruk -11Shahih Tawasul dan Tabaruk -12Shahih Tawasul dan Tabaruk -13Shahih Tawasul dan Tabaruk -14Shahih Tawasul dan Tabaruk -15Shahih Tawasul dan Tabaruk -16

====

Cover dan judul buku :

Shahih Tawasul dan Tabaruk -17

Advertisements