Pemahaman penting mengenai Tabarruk : Kesalahan mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah. Ini adalah pendapat salah yang mutlaq harus dibenarkan, guna menjaga Aqidah Ummat

===========

Tabarruk kepada dzat fisik Rasulullah ketika beliau hidup, sebagaimana yang dilakukan sahabat. Atau Tabarruk kepada bekas peninggalan benda yang pernah beliau pakai, yang mana sekarang sudah hilang atau musnah pada zaman kita ini.

Maka ini masyru’ dan dibolehkan.

Namun setelah Rasulullah meninggal, maka tidak ada satu dzat fisik pun yang boleh dijadikan tempat Tabarruk. Sebagaimana para Sahabat tidak bertabaruk kepada “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat.

Andaikata cium tangan pun, maka itu dalam rangka hormat. Bukan dalam rangka Tabarruk.

Demikian juga Tabarruk dengan barang bekas dan peninggalan Rasulullah, seperti baju, rambut, bekas air wudhu Rasulullah. Maka ini masyu’, dibolehkan, dan dilakukan oleh para Sahabat. Adapun kuburan Rasulullah, maka itu bukan bekas Rasulullah dan dilarang Tabarruk ke makam Rasulullah.

Namun setelah bekas peninggalan Rasulullah itu hilang semua, seperti sebagian musnah terbakar, dan sebagian dikuburkan bersama sama dengan sahabat yang memiliki nya (baju Rasulullah yang digunakan sebagai kain kafan sahabat biasanya). Maka tidak ada satu orang sahabat pun yang Tabarruk dengan bekas peninggalan “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat.

Tidak ada sahabat yang minum bekas air minumnya “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat, dan juga tidak ada sahabat yang memperebutkan bekas air wudhu “Kyai”-nya atau “ulama”-nya para sahabat.

Singkat cerita Tabarruk kepada dzat fisik atau bekas peninggalannya sepeninggal Rasulullah itu, sudah tidak ada lagi setelah Rasulullah meninggal dan semua barang peninggalan Rasulullah musnah.

***
Termasuk kesalahan mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah.

Bahkan termasuk Tabarruk kepada anak keturunan Rasulullah sekalipun.

Para sahabat juga mengalami cobaan hidup sebagaimana manusia lain pada umumnya, namun tidak ada satupun yang mendatangi Kyai nya Sahabat, ulama nya Sahabat, ataupun anak keturunan kerabat Rasulullah sama sekali guna Tabarruk untuk menghilangkan bala’, memperlancar rezeki, dan yang semisal.

Tawassul minta didoakan, iya. Sebagaimana doa istisqo’ yang Kholifah Umar meminta agar Abbas bin Abdul Muntholib untuk berdoa. Namun Tabarruk dengan dzat fisik atau sesuatu bekas yang pernah dipakai, maka itu tidak pernah.

Demikian juga lah kondisi orang orang Sholeh, wali, dan yang semisal selain sahabat. Dzat fisik atau sesuatu bekas yang pernah dipakai saja tidak boleh digunakan untuk Tabarruk, apalagi kuburannya ketika sudah meninggal digunakan untuk Tabarruk ngalap berkah. Maka ini lebih tidak boleh lagi.

Cium tangan atau minum air bekas Kyai ataupun Ulama, ataupun wali, jika itu dimaksudkan untuk Tabarruk, maka itu tidak boleh. Apalagi kuburannya. Apalagi waktu haul peringatan kematiannya.

Ini adalah ghuluw (Sikap yang berlebih lebihan hingga melewati batas syariat) terhadap orang Sholeh, merupakan kebid’ahan, dan pintu pembuka kesyirikan yang harus kita waspadai untuk menjaga Aqidah Ummat.

Ziarah kubur saja gpp, mendoakan orang Sholeh yang meninggal nggak masalah. Namun Tabarruk dan juga berdoa tawassul kepada sang penghuni kubur itu, maka ini tidak diperbolehkan.

Ulama itu yang barokah itu adalah ilmunya dan juga jika kita bergaul dengannya. Yakni agar kita bisa mendapatkan ilmu, pengajaran, bimbingan, nasehat, dan mengambil pelajaran dari akhlaq serta adabnya.

Jadi yang barokah dari para ulama, orang Sholeh, dan wali itu bukan dzat fisik atau sesuatu bekas yang pernah dipakainya.

***
Sebagian ulama yang tergelincir di dalam masalah mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah. Maka ulama tersebut adalah Imam An Nawawi rohimahulloh dan Imam Ibnu Hajar Al Atsqolani rohimahulloh, yang mana kedua duanya dari Madzhab Syafi’i.

Ulama itu tidak ada yang ma’shum. Dan ulama itu jika berijtihad namun salah dalam Ijtihad nya, maka beliau mendapatkan satu pahala, kehormatannya tetap terjaga dan tidak boleh dijatuhkan karena kesalahannya, namun kesalahannya harus disalahkan, dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan ulama tersebut.

Pemuka sahabat saja bisa salah, harus dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan sahabat tersebut. Apalagi hanya sekedar ulama yang jauh derajatnya dibandingkan sahabat.

Bagi orang yang terbiasa mengetahui perselisihan para sahabat, maka hal ini tidak tersembunyi baginya.

Adapun bantahan para ulama secara terperinci dengan dalil-dalil nya akan kesalahan Imam An Nawawi rohimahulloh dan Imam Ibnu Hajar Al Atsqolani rohimahulloh dalam mengqiyaskan Tabarruk kepada Rasulullah, guna ber-Tabarruk kepada orang Sholeh selain Rasulullah.

Maka ini sudah dijelaskan dan dikumpulkan semua qoul ulama nya, di dalam terjemahan Disertasi doktor dari Syaikh Dr. Nashir Al Judai’ berikut ini (hal 351-355 dari halaman yang saya foto).

Insya Allah ini sangat bermanfaat dan sangat penting bagi kita semua, demi menjaga Aqidah Ummat.

Kalau antum punya rezeki, sebaiknya beli juga buku ini, untuk membentengi antum dan keluarga antum dari jenis Tabarruk terlarang yang banyak tersebar di Indonesia ini.

Jika antum bisa berbahasa Arab, maka itu lebih bagus lagi. Antum bisa hemat uang banyak. Antum bisa download free pdf ebook nya disini :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

****
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Tabarruk yang salah -2Tabarruk yang salah -3Tabarruk yang salah -4Tabarruk yang salah -5Tabarruk yang salah -6

Advertisements