Pemahaman penting mengenai Tabarruk :

Tabarruk kepada makam Rasulullah itu terlarang, demikian juga tawassul dan istighotsah kepada makam Rasulullah. Apalagi terhadap makam selain Rasulullah, baik itu makam orang Sholeh, wali, ulama, sunan dan makam makam lainnya.
———

Sebelum memulai pembahasan ini, biasanya topik “tidak relevan” yang sering dikemukakan adalah, kenapa bangunan yang melingkupi makam Rasulullah itu berada di dalam halaman perluasan masjid Nabawi?

Dengan kata lain, mengapa makam Rasulullah berada di dalam masjid Nabawi?

Kenapa dikatakan tidak relevan?

Karena keberadaan bangunan yang melingkupi makam Rasulullah di halaman masjid Nabawi itu, sama sekali bukan dalil bahwa makam Rasulullah itu boleh digunakan untuk Tabarruk.

Kenapa? Karena Rasulullah tidak pernah mensyariatkan hal itu, dan para sahabat juga tidak pernah menganggap seperti itu.

***
Agar lebih jelas, maka mari kita lihat perbandingan berikut ini.

Makam Nabi itu ada di sekitar halaman perluasan masjid Nabawi. Sedangkan Hajar Aswad itu berada di ka’bah, dan benar-benar di dalam Masjidil Haram.

Dari segi lokasi, maka Hajar Aswad “lebih mantap” dibandingkan kuburan Rasulullah. Dan juga dari segi keutamaan, maka Masjidil Harom jauh lebih utama dibandingkan Masjid Nabawi.

Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.”

(HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.)

Dari hadits di atas, jika kita hitung-hitung, berarti keutamaan sholat di Masjidil Harom itu 100 kali lebih utama dibandingkan sholat di masjid Nabawi. Dalam arti lain barokah tempat Masjidil Harom itu 100 kali lebih tinggi, dibandingkan barokah tempat masjid Nabawi.

Namun walaupun begitu, Tabarruk kepada Hajar Aswad secara dzat nya itu sendiri, haram dan terlarang. Sebagaimana perkataan Kholifah Umar bin Khoththob. Yakni Hajar Aswad itu tidak bisa memberikan mashlahat dan menolak Madhorot, maka ini tentu berarti bukan dzat untuk ber-Tabarruk guna tolak bala, lancar rizki, hidup lancar dan lain-lain itu.

Maka dari itu apalagi makam Rasulullah. Tentu lebih tidak boleh digunakan sebagai tempat Tabarruk.

عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270)

Kiranya sampai disini sudah jelas dan mudah untuk difahami terlebih dahulu, mengenai tidak bolehnya Tabarruk kepada makam Rasulullah itu.

***
Jika pemahaman di atas sudah jelas bagi kita, maka mudah bagi kita untuk menerangkan kenapa makam Rasulullah masuk ke dalam halaman perluasan masjid Nabawi.

Saya sebenarnya pernah menerangkan masalah ini, baik dari segi fiqh ataupun dari segi sejarah. Silakan lihat tulisan kami yang terdahulu :

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/04/03/serba-serbi-masjid-nabawi-dan-makam-rasulullah/

Kesimpulannya adalah :

1. Perluasan masjid Nabawi itu memiliki konteks yang berbeda dengan hadits larangan mendirikan masjid di atas makam Nabi. Karena masjid Nabawi itu sudah ada terlebih dahulu dibandingkan makam Rasulullah.

Awal makam Rasulullah juga tidak di dalam masjid Nabawi, dan terpisah dengan masjid Nabawi.

2. Perluasan yang sampai memasukkan makam Rasulullah itu juga baru terjadi pada masa Tabi’in, bukan masa sahabat. Sehingga secara ushul fiqh, ini bukanlah dalil. Karena yang menjadi dalil itu adalah Ijma sahabat.

3. Atas jasa pemerintah Saudi, dibangun bangunan yang menutupi makam Rasulullah. Sehingga secara fiqh ini sudah dianggap tidak berada di dalam masjid Nabawi, karena ada pembatas.

4. Dan yang paling penting, bahwa ini sama sekali bukanlah dalil untuk boleh membangun makam di dalam masjid atau membangun masjid di atas makam.

Yang mana ini dilakukan terhadap makam orang orang Sholeh selain Rasulullah. Baik itu wali, Kyai, sunan, Habib, dan lain lain. Yang kemudian dijadikan tempat untuk Tabarruk, Tawassul, Istighotsah, dan yang semisal.

Ini dilarang dengan tegas oleh Rasulullah, demikian juga termasuk Tabarruk, Tawassul, Istighotsah di makam itu.

Di makam Rasulullah saja terlarang, apalagi di makam orang selain Rasulullah. Tentu lebih terlarang.

عَنْ جُنْدَبٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Dari Jundab, dia berkata: Lima hari sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku mendengar beliau bersabda: “Aku berlepas diri kepada Allah bahwa aku memiliki kekasih di antara kamu. Karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasihNya sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim menjadi kekasihNya (QS. 4:125-pen).

Jika aku menjadikan kekasih di antara umatku, pastilah aku telah menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih.

Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu telah menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka dan orang-orang sholih mereka sebagai masjid-masjid! Ingatlah, maka janganlah kamu menjadikan kubur-kubur sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari hal itu!” (HSR. Muslim no:532)

أَنَّ عَائِشَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ قَالَا لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا

Dari ‘Aisyah dan Abdullah bin Abbas –semoga Allah meridhoi mereka- mengatakan: “Ketika kematian datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau mulai meletakkan kain wol bergaris-garis pada wajah beliau, sewaktu beliau susah bernafas karenanya, beliau membukanya dari wajahnya, ketika dalam keadaan demikian, lalu beliau mengatakan:

“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashoro, mereka menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”.

Beliau memperingatkan apa yang telah mereka lakukan. (HSR. Bukhari no: 435, 436; Muslim no:531)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ

Dari Abdulloh, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Sesungguhnya di antara seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang ketika hari kiamat datang mereka masih hidup, dan orang-orang yang menjadikan kubur-kubur sebagai masjid”. (HSR. Ahmad 1/432; no: 4132; Ibnu Hibban; Thobaroni di dalam Mu’jamul Kabir. Dishohihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

****
Adapun perincian dari dalil dan qoul para ulama, bahwa tidak boleh bertabaruk kepada makam Rasulullah. Berikut juga bantahan terhadap syubhat syubhat seputar Tabarruk kepada makam Rasulullah.

Dijelaskan dan dikumpulkan di dalam terjemahan Disertasi doktoral dari Syaikh Dr. Nashir Al Judai’ berikut ini (hal 422-442 dari halaman yang saya foto).

Termasuk dalam kategori hal ini tentu saja tawassul dan istighotsah kepada makam Rasulullah, ini juga termasuk terlarang.

Hal-hal ini merupakan keharoman, kebid’ahan, dan pintu menuju kepada kesyirikan.

***
Adapun sebagian ulama yang tergelincir di dalam membolehkan mengusap dan mencium makam Rasulullah guna ber-Tabarruk. Maka itu adalah kesalahan Ijtihad beliau, dan Ulama itu tidak ada yang ma’shum.

Ulama jika berijtihad namun salah dalam Ijtihad nya, maka beliau mendapatkan satu pahala, kehormatannya tetap terjaga dan tidak boleh dijatuhkan karena kesalahannya, namun kesalahannya harus disalahkan, dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan ulama tersebut.

Pemuka sahabat saja bisa salah, harus dibantah, dan Ummat wajib diperingatkan agar jangan mengikuti kesalahan sahabat tersebut. Apalagi hanya sekedar ulama yang jauh derajatnya dibandingkan sahabat.

Bagi orang yang terbiasa mengetahui perselisihan para sahabat, maka hal ini tidak tersembunyi baginya.

Sehingga Tabarruk kepada makam Rasulullah itu tetaplah terlarang, dan perkataan sebagian ulama itu haruslah dikembalikan kepada dalil yang tegas dan jelas, dengan tanpa bermaksud menjatuhkan kehormatan ulama tersebut karena kesalahan Ijtihad mereka.

Penjelasan akan kesalahan ulama yang tidak boleh kita ikuti itu, juga disebutkan dalam disertasi doktoral Syaikh Nashir Al Juda’i tersebut.

***
Insya Allah buku ini sangat bermanfaat dan sangat penting bagi kita semua, demi menjaga Aqidah Ummat.

Kalau antum punya rezeki, sebaiknya beli juga buku ini, untuk membentengi antum dan keluarga antum dari jenis Tabarruk terlarang yang banyak tidak difahami oleh masyarakat Indonesia ini.

Jika antum bisa berbahasa Arab, maka itu lebih bagus lagi. Antum bisa hemat uang banyak. Antum bisa download free pdf ebook nya disini :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

Ini penting, terutama orang orang yang bertabaruk kepada kuburan para wali, sunan, Kyai dan yang semisal. Termasuk juga yang bertawassul dan beristighotsah ke makam tersebut.

Kenapa makam Rasulullah saja tidak boleh, apa ke makam selain Rasulullah.

Sekedar ziarah kubur saja nggak masalah. Beri salam dan mendoakan kepada Shohibul qubur juga tidak mengapa.

Namun Tabarruk, Tawassul, minta didoakan, dan istighotsah kepada penghuni kubur itu tidak boleh dan jelas terlarang.

****
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Tabarruk dengan Makam Nabi -1Tabarruk dengan Makam Nabi -2Tabarruk dengan Makam Nabi -3Tabarruk dengan Makam Nabi -4Tabarruk dengan Makam Nabi -5Tabarruk dengan Makam Nabi -6Tabarruk dengan Makam Nabi -7Tabarruk dengan Makam Nabi -8Tabarruk dengan Makam Nabi -9Tabarruk dengan Makam Nabi -10Tabarruk dengan Makam Nabi -11Tabarruk dengan Makam Nabi -12Tabarruk dengan Makam Nabi -13Tabarruk dengan Makam Nabi -14Tabarruk dengan Makam Nabi -15Tabarruk dengan Makam Nabi -16Tabarruk dengan Makam Nabi -17Tabarruk dengan Makam Nabi -18Tabarruk dengan Makam Nabi -19Tabarruk dengan Makam Nabi -20Tabarruk dengan Makam Nabi -21

Advertisements