Pemahaman penting mengenai Tabarruk :

Perincian penjelasan berdasarkan petunjuk hadits dan kenyataan sejarah, bahwa seluruh barang peninggalan bekas Rasulullah, yang secara syariat boleh digunakan untuk Tabarruk, telah tiada pada zaman kita sekarang.

Sehingga semua klaim bahwa ini adalah barang bekas peninggalan Rasulullah, hanyalah merupakan kedustaan dan hal yang tidak bertanggung jawab semata.

Demikian juga Tabarruk dengan alasan napak tilas tempat tempat bersejarah lainnya.
———

Sebelumnya, saya sebenarnya sudah pernah membahas ini dalam dua tulisan saya yang terdahulu. Di dalam tulisan saya itu, saya berikan keterangan lebih lanjut mengenai syubhat “Mimbar Rasulullah” dan syubhat “roudhoh”.

Lihat

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/tabaruk-dengan-bekas-peninggalan-nabi-pada-zaman-ini/

dan

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/11/semua-klaim-barang-peninggalan-rasulullah-yang-mana-kadang-sering-digunakan-untuk-tabaruk-tidak-valid-dari-kacamata-sejarah/

****
Menurut data sejarah, mimbar tersebut sudah bukan mimbar yang asli lagi dari Rasulullah. Mimbar yang asli sudah pernah hancur terbakar.

Quote :
The Minbar: When addressing the people in the mosque, the Prophet used to lean on large wood block of date tree. Later, when some difficulties arose in terms of people hearing and seeing the Prophet, a minbar made up of tamarisk, which was one-meter high with the dimensions of 50 x125 cm and a three-stair ladder located on three columns behind, was built in the year 7 (628) or 8 (629). First caliphs did not use the third stair, due to respect for the Prophet, and covered it with a piece of wood. In the time of the third caliph, Othman, a dome was placed on top of the minbar, which was covered with a fabric, and the stairs were covered with ebony. Muawiya ibn Abû Süfyan added six more stairs to the minbar. This first minbar was used until 654 (1256), when it was ruined by a fire; a new minbar was placed which was sent by the king of Yemen, al-Malik al-Muzaffar Shamsuddin in 656 (1258). After this, the minbar was either replaced or removed in 666 (1268) by Sultan Baybars I, in 797 (1395) by the Mamluki Sultan Barkuk, and in 820 (1417) by another Mamluki Sultan Sheikh al-Mahmudi. In 886 (1481) the minbar was once more ruined by a fire, and a new minbar made up of brick plaster was built, which was later replaced by a marble minbar sent by Sultan Kayitbay in 888 (1483). This minbar was re-located to the Quba masjid in 998 (1590) when the Ottoman Sultan Murad III sent a marble minbar manufactured and ornamented in Istanbul, to replace it. This last minbar still stands in the Mosque of the Prophet today.

Sumber : http://www.lastprophet.info/the-prophet-s-mosque-%E2%94%82-masjid-al-nabawi

***
Adapun roudhoh Nabi, yaitu suatu tempat di masjid Nabawi yang berhubungan dengan rumah Rasulullah. Yang dikatakan bahwa itu adalah salah satu taman dari taman taman surga. Maka itu hanyalah barokah tempat semata. Bukan barokah yang dikaitkan dengan barokah bekas dzat Rasulullah.

Kenapa, kalau itu dikaitkan dengan Tabarruk kepada dzat jasad Rasulullah, maka tentu rumah Rasulullah dan juga tempat imam sholat di masjid Nabawi, lebih barokah dibandingkan roudhoh. Tapi nyatanya tidak.

Dan keberkahan roudhoh umumnya dikaitkan dengan keutamaan pahala untuk sholat dan doa disitu, walaupun ini tidak ada hadits Rasulullah khusus mengenai cara ini. Namun para ulama umumnya memang mengaitkan keberkahan tempat, dan juga waktu, dengan keutamaan ibadah di situ dan doa di situ.

Tidak ada Tabarruk di roudhoh dengan cara mengusap usapkan kain di roudhoh, agar keberkahan roudhoh mengalir disitu. Atau memotong karpet nya roudhoh untuk dibawa pulang guna dijadikan jimat atas nama Tabarruk.

Bahkan para ulama sebenarnya berbeda pendapat mengenai penjelasan hadits keutamaan Roudhoh “yang merupakan salah satu taman di antara taman-taman surga”.

Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits itu maksudnya secara hakiki, bahwa kelak nanti Roudhoh akan menjadi bagian dari surga. Sehingga karena ini bersifat kelak, maka para ulama yang berpendapat seperti itu menganggap tidak ada keutamaan tersendiri beribadah dan berdoa di Roudhoh. Karena memang tidak ada hadits yang menyebutkan ada keutamaan tersendiri berdoa dan beribadah sunnah di Roudhoh.

Sementara itu Ulama yang lain beranggapan bahwa itu hanya sebagai majazi saja, bukan hal yang hakiki akan benar-benar menjadi bagian surga. Karena dunia nanti akan dihancurkan dan diganti dengan dunia yang lain. Sehingga karena majazi, maka maksudnya adalah adanya suatu keutamaan tersendiri berdo’a, sholat, dan melakukan ibadah sunnah di roudhoh.

Akan tetapi dari kedua pendapat ulama ini, maksudnya sama sekali bukan Tabarruk dengan dzat benda yang ada di Roudhoh tersebut.

Demikian juga dengan kiswah (kain penutup) ka’bah. Tidak boleh untuk menggunting kain kiswah ka’bah guna disimpan dijadikan jimat atas nama Tabarruk. Tidak ada dalil bahwa kain kiswah ka’bah itu barokah karena bekas ka’bah, dan juga karena Rasulullah, para Sahabat, serta para Salaf tidak pernah melakukan hal itu.

Kain kiswah ka’bah itu ya hanya kain penutup biasa saja.

***
Bahkan yang secara syariat boleh untuk diusap di Ka’bah itu hanya rukun Yamani dan Hajar Aswad saja. Hajar Aswad bahkan disunnahkan untuk dicium juga jika mampu.

Tapi ini bukan berarti Tabarruk kepada dzat rukun Yamani dan Hajar Aswad, sebagaimana Tabarruk kepada dzat fisik Rasulullah. Yang benar itu adalah semata Tabarruk kepada sunnah Rasulullah dalam melakukan ibadah thowaf, bukan hanya Tabarruk langsung kepada dzat rukun Yamani dan Hajar Aswad nya.

Yakni Tabarruk dengan mengikuti sunnah Rasulullah, agar mendapatkan keutamaan dan pahala yang banyak. Bukan Tabarruk langsung kepada rukun Yamani dan Hajar Aswad, agar mendapatkan barokah tolak bala, lancar rizki, hidup lancar, dan lain lain.

Lho kok bisa?
Ya bisa. Karena Kholifah Umar bin Khoththob rodhiyalloohu anhu sendiri yang berkata bahwa Hajar Aswad itu tidak bisa memberikan mashlahat dan menolak madhorot. Beliau mencium Hajar Aswad karena semata mata mengikuti sunnah Rasulullah dalam cara beribadah thowaf saja.

Ini pemahaman sahabat, dan ini pemahaman Salaf yang wajib kita pegang erat erat.

عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270)

Senada dengan ini, karena keberkahan itu adalah mengikuti sunnah Rasulullah dalam beribadah. Maka tidak ada keutamaan dan barokah tersendiri, bersusah payah naik ke gua Hiro’ tempat Rasulullah pertama kali mendapatkan wahyu dan sholat di sana. Karena ini tidak ada tuntunan dan sunnahnya.

Senada dengan ini juga adalah menempelkan seluruh anggota tubuh di Multazam dan kemudian berdoa. Yang mana Multazam itu adalah bagian Ka’bah yang berada di antara rukun hajar aswad dan pintu ka’bah.

***
Masih juga senada dengan hal ini, maka sholat di belakang maqom Ibrahim setelah selesai thowaf jika mampu, itu karena semata-mata perintah Allah untuk cara rangkaian ibadah thowaf. Yakni untuk mendapatkan keutamaan pahala besar karena mengikuti tata cara yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, walaupun hukumnya Sunnah saja bukan wajib.

(Maqom, tempat berdiri. Yakni tempat berdiri Nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah. Bukan makam Nabi Ibrahim tempat beliau dikubur)

وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَآ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
”Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud” (al-Baqarah:125).

Jadi bukan untuk Tabarruk secara dzat karena itu bekas tempat berdirinya Nabi Ibrahim, guna diusap usap agar mendapatkan barokah tolak bala, lancar rizki, hidup lancar, dan lain lain.

Demikian juga keutamaan sholat di hijir Ismail yang berada di ka’bah. Bahkan sholat di dalam Ka’bah sekalipun.

****
Pembahasan diatas sengaja kami lebarkan, karena ada orang yang fanatik Tabarruk yang melakukan Qiyas fasid mengenai keberkahan bekas orang sholih, dengan meng qiyas kan kepada maqom Ibrahim, dan lain lain itu.

Sekarang mari kita kembali khusus membahas barang peninggalan bekas Nabi. Maka walaupun ini masyru’ Tabarruk dengan bekas peninggalan Rasulullah, namun di zaman kita ini sekarang semuanya itu sudah musnah dan tiada, sesuai dengan mafhum “keinginan” Rasulullah bahwa beliau tidak mewariskan apapun kecuali ilmu.

Dalam kancah penelitian disertasi doktoral Syaikh Nashir Al Juda’I, itupun juga ditegaskan dengan mengambil dasar dari berbagai hadits serta penelitian sejarah yang ada.

Sehingga seluruh barang peninggalan Rasulullah yang diklaim masih ada dan disimpan itu, baik itu rambut Rasulullah ataupun jubah baju Rasulullah, walaupun itu disimpan di museum di Istanbul Turki. Maka itu semua tidak otentik dan tidak valid bahwa itu berasal dari Rasulullah.

Berikut adalah penjelasan dari Syaikh Nashir Al Juda’I, yang penting untuk kita fahami dan agar menjadi arsip ilmiah kita dalam membicarakan masalah ini. (hal 341-345 dari halaman yang saya foto).

Insya Allah ini sangat bermanfaat dan sangat penting bagi kita semua, demi menjaga Aqidah Ummat.

Kalau antum punya rezeki, sebaiknya beli juga buku ini, untuk membentengi antum dan keluarga antum dari jenis Tabarruk terlarang yang banyak tersebar di Indonesia ini.

Jika antum bisa berbahasa Arab, maka itu lebih bagus lagi. Antum bisa hemat uang banyak. Antum bisa download free pdf ebook nya disini :

http://saaid.net/book/open.php?cat=1&book=11098

****
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Tabarruk yang salah -1Tabarruk dengan peninggalan Nabi-1Tabarruk dengan peninggalan Nabi-2Tabarruk dengan peninggalan Nabi-3Tabarruk dengan peninggalan Nabi-4Tabarruk dengan peninggalan Nabi-5