Hukum asalnya dari tabaruk dengan barang bekas peninggalan nabi itu boleh. Hanya saja menurut Syaikh Albani, sebenarnya seluruh barang peninggalan bekas Rasulullah itu sudah tidak ada pada zaman ini. Baik itu bekas jubah Nabi, rambut, dll.

Dengan kata lain, itu sebenarnya hanya klaim yang mengada ada jika dikatakan ini jubah bekas nabi, atau ini bekas rambut nabi. Sehingga tabaruk dengan bekas peninggalan nabi itu sudah tidak relevan dan mengada ada pada zaman kita sekarang ini.

Quote :

” هذا ولابد من الإشارة إلى أننا نؤمن بجواز التبرك بآثاره صلى الله عليه وسلم ، ولا ننكره خلافاً لما يوهمه صنيع خصومنا .
ولكن لهذا التبرك شروطاً منها الإيمان الشرعي المقبول عند الله ، فمن لم يكن مسلماً صادق الإسلام فلن يحقق الله له أي خير بتبركه هذا ، كما يشترط للراغب في التبرك أن يكون حاصلاً على أثر من آثاره صلى الله عليه وسلم ويستعمله .
ونحن نعلم أن آثاره صلى الله عليه وسلم من ثياب أو شعر أو فضلات قد فقدت ، وليس بإمكان أحد إثبات وجود شيء منها على وجه القطع واليقين ، وإذا كان الأمر كذلك فإن التبرك بهذه الآثار يصبح أمراً غير ذي موضوع في زماننا هذا ويكون أمراً نظرياً محضاً، فلا ينبغي إطالة القول فيه ” . انتهى من “التوسل أنواعه وأحكامه ” (144) .

Sumber quote : https://islamqa.info/ar/224579

Itu yang pertama.

*
Adapun yang kedua, bagaimanakah pandangan syariat mengenai kemungkinan mendapatkan barang bekas peninggalan Rasulullah?

Barang bekas peninggalan Rasulullah itu boleh kita katakan sebagai warisan. Dan sesuai hadits di bawah ini, Rasulullah tidak mewariskan apapun kecuali ilmu.

Sehingga berdasarkan hadits ini tidak mungkin ada barang warisan peninggalan Rasulullah yang ada sampai sekarang. Andaikan adapun, maka itu hanya bisa sampai bertahan sampai zaman para sahabat saja. Atau paling pol sampai zaman Salaf saja. Tidak bertahan dan tetap selalu ada sampai zaman kita sekarang ini.

Sehingga membicarakan masalah tabaruk dengan benda yang pernah dipakai nabi itu hanya relevan pada waktu zaman Nabi dan zaman sahabat saja. Adapun zaman kita sekarang ini sudah tidak relevan lagi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.”

(HR. al-Imam at-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimah-nya, serta dinyatakan sahih oleh al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih at-Targhib, 1/33/68)

****

Tanya :

Mimbar nabi masih ada

Jawab :

Menurut data sejarah, mimbar tersebut sudah bukan mimbar yang asli lagi dari Rasulullah. Mimbar yang asli sudah pernah hancur terbakar.

Quote :


The Minbar: When addressing the people in the mosque, the Prophet used to lean on large wood block of date tree. Later, when some difficulties arose in terms of people hearing and seeing the Prophet, a minbar made up of tamarisk, which was one-meter high with the dimensions of 50 x125 cm and a three-stair ladder located on three columns behind, was built in the year 7 (628) or 8 (629). First caliphs did not use the third stair, due to respect for the Prophet, and covered it with a piece of wood. In the time of the third caliph, Othman, a dome was placed on top of the minbar, which was covered with a fabric, and the stairs were covered with ebony. Muawiya ibn Abû Süfyan added six more stairs to the minbar. This first minbar was used until 654 (1256), when it was ruined by a fire; a new minbar was placed which was sent by the king of Yemen, al-Malik al-Muzaffar Shamsuddin in 656 (1258). After this, the minbar was either replaced or removed in 666 (1268) by Sultan Baybars I, in 797 (1395) by the Mamluki Sultan Barkuk, and in 820 (1417) by another Mamluki Sultan Sheikh al-Mahmudi. In 886 (1481) the minbar was once more ruined by a fire, and a new minbar made up of brick plaster was built, which was later replaced by a marble minbar sent by Sultan Kayitbay in 888 (1483). This minbar was re-located to the Quba masjid in 998 (1590) when the Ottoman Sultan Murad III sent a marble minbar manufactured and ornamented in Istanbul, to replace it. This last minbar still stands in the Mosque of the Prophet today.

Sumber : http://www.lastprophet.info/the-prophet-s-mosque-%E2%94%82-masjid-al-nabawi

*

Tanya :

ustadz, dengan dalil hadits diatas bahwa para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, andai ada pakaian, tentu di serahkan kpd ahli waris, ada riwayatnya kah ust?

Jawab :

Ada riwayat dalam Shohih Muslim, hadits no. 2069 bahwa Aisyah memiliki jubah yang merupakan peninggalan kepunyaan Rasulullah.

Yang mana setelah Aisyah meninggal, Asma binti Abu Bakar mengambil jubah itu.

Asma binti Abu Bakar berkisah bahwa dia bertabaruk dengan jubah peninggalan Rasulullah itu.

Yang jadi masalah adalah jubah tersebut hilang, atau hancur, dan yang semisal dengan berdasarkan hadits Rasulullah bahwa beliau tidak mewarisi kecuali ilmu tadi.

Hadits kisah jubah Rasulullah yang saya maksud tadi adalah sebagai berikut,

الجزء رقم :6، الصفحة رقم:139
2069 ( 10 ) حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى ، أَخْبَرَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ – مَوْلَى أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ، وَكَانَ خَالَ وَلَدِ عَطَاءٍ – قَالَ : أَرْسَلَتْنِي أَسْمَاءُ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، فَقَالَتْ : بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَرِّمُ أَشْيَاءَ ثَلَاثَةً ؛ الْعَلَمَ فِي الثَّوْبِ، وَمِيثَرَةَ الْأُرْجُوَانِ ، وَصَوْمَ رَجَبٍ كُلِّهِ. فَقَالَ لِي عَبْدُ اللَّهِ : أَمَّا مَا ذَكَرْتَ مِنْ رَجَبٍ فَكَيْفَ بِمَنْ يَصُومُ الْأَبَدَ، وَأَمَّا مَا ذَكَرْتَ مِنَ الْعَلَمِ فِي الثَّوْبِ ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” إِنَّمَا يَلْبَسُ الْحَرِيرَ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ “. فَخِفْتُ أَنْ يَكُونَ الْعَلَمُ مِنْهُ، وَأَمَّا مِيثَرَةُ الْأُرْجُوَانِ فَهَذِهِ مِيثَرَةُ عَبْدِ اللَّهِ، فَإِذَا هِيَ أُرْجُوَانٌ فَرَجَعْتُ إِلَى أَسْمَاءَ ، فَخَبَّرْتُهَا، فَقَالَتْ : هَذِهِ جُبَّةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَخْرَجَتْ إِلَيَّ جُبَّةَ طَيَالِسَةٍ كِسْرَوَانِيَّةٍ، لَهَا لِبْنَةُ دِيبَاجٍ، وَفَرْجَيْهَا مَكْفُوفَيْنِ بِالدِّيبَاجِ، فَقَالَتْ : هَذِهِ كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ حَتَّى قُبِضَتْ، فَلَمَّا قُبِضَتْ قَبَضْتُهَا، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُهَا، فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرْضَى يُسْتَشْفَى بِهَا.

Advertisements