Berikut juga merupakan fatwa Syaikh ibn Baz, yang tidak beliau keluarkan secara sendirian.

Akan tetapi fatwa beliau ini dikeluarkan secara team fatwa di Lajnah Daimah. Yang mana fatwa ini dikeluarkan, dengan Syaikh ibn Baz sebagai ketua dari Team fatwa tersebut.

***
Fatwa Lajnah Daimah no. 6250

Soal :
Di dalam dunia Islam sekarang ini banyak terdapat berbagai macam firqoh (pecahan golongan) dan thoriqot Shufiyyah, seperti : Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Sunni (pengikut sunnah), dan Syiah.

Maka jamaah manakah sebenarnya yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam?

Jawaban :

Jamaah-jamaah Islam yang paling dekat kepada Al Haq (kebenaran), dan yang sangat menginginkan agar dapat mengimplementasikan seluruh Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah itu adalah : Ahlus Sunnah.

Jamaah jamaah Islam Ahlus Sunnah itu adalah : Ahlul Hadits (pengikut manhaj Ahlul Hadits), dan (و) Jamaah Anshorus Sunnah, baru kemudian (ثم) Al Ikhwanul Muslimin.

Secara global, setiap firqoh jamaah yang disebutkan tadi itu dan juga yang selain itu, ada salahnya dan juga ada benarnya.

Maka sebaiknya anda berta’awun (saling tolong menolong) dengan jamaah yang berafiliasi kepada Ahlus Sunnah dalam masalah kebenaran. Dan saling menjauhi dalam hal-hal yang didalamnya terdapat kesalahan.

Yang mana semua itu disertai dengan saling menasihati antara satu sama lain, untuk ta’awun (saling tolong menolong) dalam masalah kebaikan dan ketaqwaan.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Lajnah Ad Daimah lil buhuts Al ilmiyyah wal ifta’

*
Ketua : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
Wakil ketua : Syaikh Abdurrazzaq Afifi
Anggota : Syaikh Abdullah bin Ghudyan
Anggota : Syaikh Abdullah bin Qu’ud

Lihat : http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&PageID=607&PageNo=1&BookID=3

***
Memahami fatwa Lajnah no 6250 ini, bagi orang orang yang sudah memiliki pondasi manhaj Salaf yang benar, faham dasar dasar bahasa Arab, dan faham gaya pemakaian bahasa Rasulullah yang ditiru oleh lajnah daimah untuk “kritikan halusnya” yakni pada perubahan kata (و) ke (ثم) ketika menyebutkan Ikhwanul Muslimin; maka fatwa ini sebenarnya tidak bermasalah, dan tidak ada kontroversi di dalamnya.

Akan tetapi bagi orang yang pondasi dasarnya dalam memahami Islam adalah berdasarkan manhaj Hizbiyyah, kurang dalam memahami dasar dasar bahasa Arab, dan tidak memahami pondasi manhaj Salaf mengenai masalah tercelanya Ahzab (Hizb-hizb) serta sikap Hizbiyyah di dalam Islam.

Maka terutama lagi bagi pendukung Ikhwanul Muslimin, fatwa ini akan dipelintir pemahamannya guna mendukung kepentingan mereka, hingga seakan akan Lajnah mengakui Ikhwanul Muslimin sebagai Ahlus Sunnah, walaupun IM banyak memiliki kebid’ahan baik dalam perkara tahazzub nya, dalam perkara mengumpulkan orang untuk bersatu dari berbagai macam Aqidah dan manhaj atas nama ukhuwah, dan dalam manhaj Perlawanan Pemberontakan dan revolusi terhadap pemerintah guna meraih kekuasaan.

Saya pernah menjumpai orang pro IM yang seperti ini. Dan kemudian ketika saya luruskan pemahaman bahasanya yang salah, dia langsung diam 1000 bahasa.

Padahal ini saya hanya sampai menerangkan gaya bahasa Lajnah, yang meniru pemakaian gaya bahasa Rasulullah mengenai (ثم). Saya belum sampaikan fatwa Lajnah dan Syaikh ibn Baz yang lain, sebagaimana yang telah saya sebutkan dalam serial fatwa Syaikh Ibn Baz mengenai IM pada seri 1 s/d 4 sebelumnya itu.

Kenapa?
Karena qoulul ‘Aalim yufassiru ba’dhuhum ba’dho (Perkataan ulama yang alim itu, perkataannya itu memperjelas dan menafsirkan perkataannya yang lain).

Jadi kalau ingin lebih jelas dan faham maksud perkataan Lajnah dan Syaikh ibn Baz, maka harus kita bawa perkataan Lajnah dan Syaikh ibn Baz yang lain.

Bukannya malah “cherry picking”, dipilih-pilih apa yang sekiranya menguntungkan bagi dirinya, pemahamannya, dan hizb Harokah nya. Guna kemudian dipelintir pelintir dan dilakukan Framing, guna menipu khalayak ramai.

IM dan pendukungnya umumnya memandang bahwa tahazzub itu diperbolehkan; dan memandang jamaah, komunitas, dan perkumpulan lainnya itu sebenarnya sama-sama merupakan hizb dan bersikap tahazzub sama seperti mereka. Sehingga mereka mencoba bersikap mengambil jalan tengah yang sok bijak, bahwa semua sama dianggap hizb sama seperti mereka. Yang penting bisa saling menghargai, toleran, dan bekerjasama antar hizb saja dan jangan saling mentahdzir penyimpangannya dari Sunnah, manhaj, dan aqidah Ahlul Sunnah wal Jama’ah.

Berikut akan saya jelaskan cara memahami fatwa lajnah no 6250 ini, agar tidak tertipu oleh framing para pendukung IM.

***
Sebenarnya menarik cara memahami fatwa Lajnah Daimah no 6250 itu.

Kalau orang faham bahasa Arab, maka perubahan penggunaan kata dari (و) ke (ثم) untuk IM, justru malah menunjukkan bahwa IM di luar kelompok Ahlus Sunnah itu.

Berkata Ustadz Muhammad Abduh, ketika memahami dan menterjemahkan fatwa Lajnah daimah no. 6250 itu, sebagaimana yang terdapat dalam situs ustadz Aris ( Aris Munandar) :

“Dalam fatwa di atas terdapat penegasan dari para ulama yang berada dalam Lajnah Daimah bahwa Ikhwan Muslimin itu bukan bagian dari ahli sunnah.”

Lihat : http://ustadzaris.com/salafi-kerja-sama-dengan-ikhwani

Berikut adalah bukti yang lebih jelas lagi dari Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam, selaku orang yang paling fasih berbahasa Arab dan yang paling otoritatif dalam menjelaskan masalah agama.

Dalam sunan Abu Daud disebutkan,
الجزء رقم :5، الصفحة رقم:163

4980 حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِيُّ ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، عَنْ مَنْصُورٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَسَارٍ ، عَنْ حُذَيْفَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” لَا تَقُولُوا : مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلَكِنْ قُولُوا : مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ “.
Dari Hudzaifah, dari Nabi Shalalloohu alaihi wa sallam beliau bersabda,

“Janganlah kalian berkata, ‘semua karena kehendak Allah dan (و) kehendak fulan’ . Akan tetapi katakanlah, ‘semua karena kehendak Allah baru kemudian (ثم) kehendak fulan’ ” [Hadits Shohih riwayat Abu Daud, hadits no. 4980]

Ibnu Abbas rodhiyalloohu anhu berkata :

” أن رجلا قال للنبي :” ما شاء الله وشئت “، فقال : أجعلتني لله ندا ؟ ما شاء الله وحده “.

“Bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Nabi Muhammad : ‘atas kehendak Allah dan (و) kehendakmu’, maka Nabi bersabda : “apakah kamu telah menjadikan diriku sekutu bagi Allah ? (katakanlah) hanya atas kehendak Allah semata”.

(Hasan, HR Bukhari dalam al-Adabul Mufrad [783], An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah [988], Ibnu Majah [217], Ahmad [I/214, 224, 283 dan 347], Ath-Thahawi dalam Syarah Musykilil Aatsaar [235], Baihaqi [III/217], Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Taariikh Baghdad [VIII/105], Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa’ [IV/99])

***
Sebelumnya mungkin kita bertanya-tanya, kenapa Lajnah Daimah menggunakan bahasa “kritikan halus” bagi IM pada kesempatan kali ini?

Kenapa kok tidak langsung menggunakan bahasa yang tegas dan jelas, sebagaimana serial fatwa no 1 s/d 4 yang telah kita posting sebelumnya?

Al jawab, yang nampak bagi saya ada empat analisanya :

1. Adanya hikmah “Tunjukkan dulu yang benar, jangan langsung ‘vulgar’ dikritik dan disalahkan. Harapannya, orang yang tahu yang benar itu nanti akan tahu sendiri salahnya dia dimana”.

Sehingga cara yang halus ini diharapkan bisa memotong pohon, tanpa perlu membakar hutan.

2. Adanya komunitas exodus IM yang ditampung di Saudi sejak tahun 50-an, sebagaimana yang telah kami jelaskan pada postingan yang lain.

Sehingga harapannya para masyaikh dengan terus menerangkan dan menjelaskan manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang haq di sekitar Saudi Arabia itu secara khusus, bisa ikut membina para komunitas IM yang ada di sana.

Jadi selaku ulama, orang tua dan sesepuh tentu berusaha untuk mengayomi dan “dibina” dulu sebisanya. Jika memang tidak bisa dan tetap menyimpang dari manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka dengan berat hati terpaksa harus “dibinasakan”.

3. Katakanlah Lajnah Daimah dan Syaikh ibn Baz benar-benar dulunya menganggap Ikhwanul Muslimin termasuk dari golongan Ahlus Sunnah. Walaupun kalau dilihat dari pemakaian kata (ثم) dan kenyataan berbagai penyimpangan dan kebid’ahan yang dilakukan IM, hal itu tampaknya tidak mungkin.

Namun katakanlah benar sepertinya itu misalnya.

Maka ini adalah qoul qodim (perkataan yang lama) dari para ulama tersebut, dan kemudian setelah tampak hakikat Ikhwanul Muslimin yang sebenarnya yang mereka sembunyikan melalui dakwah sirriyah dan tandzim sirriyah mereka (yang mana ini merupakan manhaj IM untuk menyembunyikan jati diri mereka yang sebenarnya secara terang terangan di khalayak umum).

Barulah para ulama merevisi fatwa mereka dengan qoul jadid nya (perkataan yang baru), mengenai IM. Ini sebagaimana yang jelas terang terlihat dari qoul Syaikh ibn Baz yang terakhir mengenai IM, pada dua tahun terakhir sebelum beliau meninggal.

Yang mana beliau memasukkan IM di dalam 72 golongan sesat, yang menyimpang dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Lihat kembali postingan serial fatwa Syaikh ibn Baz kami pada serial yang pertama dan paling awal sendiri.

Hal ini lumrah terjadi bagi ulama, karena mereka tidak ma’shum dan tidak mengetahui ilmu ghoib serta yang tersembunyi. Sebagaimana imam syafi’i yang juga mempunyai qoul qodim dan qoul jadid.

Adapun yang penting bagi kita itu adalah argumentasi nya saja. Tidak hanya semata nama besar dan otoritas yang umumnya mudah untuk dipermainkan dan dipelintir oleh para Hizbiyyun, guna membela Harokah hizbiyyah nya.

4. Analisa keempat ini sebenarnya hampir sama dengan analisa ketiga, hanya berbeda pendekatan nya saja.

Yakni lajnah menerapkan qaidah bahwa hukum asal seorang muslim itu selamat. Yakni dianggap sebagai Ahlus Sunnah yang selamat dengan berdasarkan pengakuan dhohir yang terlihat, hingga sampai terlihat hakikat yang sebenarnya.

Dengan kata lain, Lajnah bersikap Husnudzon kepada IM. Karena toh IM asalnya mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Hingga kemudian ternyata pengakuan nya itu tidak sesuai dengan hakikat kenyataannya, maka barulah IM dianggap menyimpang dari manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Semua orang itu boleh mengaku sebagai Ahlus Sunnah, mengikuti manhaj Salaf, dan Salafi. Akan tetapi yang terpenting itu adalah pembuktian kenyataan manhaj dan hakikat nya dengan berdasarkan ilmu yang hak.

Hanya sekedar nama dan klaim itu tidak akan bisa merubah hakikat.

***
Berikut adalah transkrip teks Arab asli dari fatwa Lajnah Daimah tersebut :

السؤال الأول من الفتوى رقم ( 6250 ):

س1: في العالم الإِسلامي اليوم عدة فرق وطرق الصوفية مثلاً: هناكجماعة التبليغ التبليغ التبليغ التبليغ التبليغ التبليغ التبليغ التبليغ ، الإِخوان المسلمين ، السنيين ، الشيعة ، فما هي الجماعة التي تطبق كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم؟ج1: أقرب الجماعات الإِسلامية إلى الحق وأحرصها على تطبيقه: أهل السنة : وهم أهل الحديث ، وجماعة أنصار السنة ، ثم الإِخوان المسلمون .( الجزء رقم : 2، الصفحة رقم: 238)وبالجملة فكل فرقة من هؤلاء وغيرهم فيها خطأ وصواب، فعليك بالتعاون معها فيما عندها من الصواب، واجتناب ما وقعت فيه من أخطاء، مع التناصح والتعاون على البر والتقوى.وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإِفتاء

عضو
عبد الله بن قعود

عضو
عبد الله بن غديان

نائب رئيس اللجنة
عبد الرزاق عفيفي

الرئيس
عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Advertisements