Berikut adalah fatwa Syaikh ibn Baz yang tidak beliau keluarkan secara sendirian.

Akan tetapi fatwa beliau ini dikeluarkan secara team fatwa di Lajnah Daimah. Yang mana fatwa ini dikeluarkan, dengan Syaikh ibn Baz sebagai ketua dari Team fatwa tersebut.

***
Fatwa nomer 1674

Apa hukum Islam di dalam masalah hizb hizb (Ahzab)?

Soal :
Apa hukum berhizb-hizb (Ahzab) di dalam Islam?

Dan apakah boleh berhizb-hizb atas nama Islam, sebagaimana halnya hizb Hizbut Tahrir dan hizb Al Ikhwanul Muslimin?

[Hizb itu adalah golongan tertentu yang sengaja dibentuk guna taat, benci, loyal, dan memusuhi orang lain atas dasar garis kebijakan, pendapat, atau fanatisme nya kepada suatu hizb organisasi, atau atas suatu hizb perkumpulan, atau hizb atas nama tokoh tertentu selain Rasulullah -pent]

*
Jawab :

Tidak boleh bagi kaum Muslimin untuk berpecah belah di dalam agamanya, dengan cara bergolong-golongan (Syiya’an) dan berhizb-hizb (Ahzab).

Yang mana ini menyebabkan satu sama lain saling melaknat, dan satu saling bertengkar.

Sesungguhnya perpecahan seperti ini termasuk perkara yang dilarang Allah. Allah mencela pemrakasa adanya golongan hizb ini, dan demikian juga pengikut yang mengikuti golongan hizb ini.

Allah mengancam orang yang ber-tahazzub dan memecah belah Ummat ini dengan siksa yang berat. Dan sungguh Allah dan Rasul-Nya shalalloohu alaihi wa sallam berlepas diri dari golongan-golongan hizb ini.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” [QS Ali Imron : 103]

Sampai dengan firman Allah Ta’ala,

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah keterangan yang jelas datang kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” [Ali Imron : 105]

Dan Allah Ta`ala juga berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (159) مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى إِلا مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ (160)

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan , tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.

Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” [QS Al An’am : 159 – 160]

Dan telah tsabit (tetap dan pasti) diriwayatkan dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda

لا ترجعوا بعدي كفارًا يضرب بعضكم رقاب بعض

Janganlah kalian sepeninggalku kembali lagi menjadi orang-orang kafir, sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain

Dan banyak lagi ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi, yang mencela perpecahan di dalam masalah agama [dengan cara berhizb-hizb -pent] .

*
Akan tetapi jika yang dimaksud [dalam topik ini – pent] adalah pemimpin kaum Muslimin (waliyyul Amril Muslimin) selaku pihak yang mengatur urusan rakyat mereka.

Yang mana waliyyul Amri membagi-bagikan tugas pekerjaan antara rakyatnya, baik bersifat agama maupun duniawi. Agar masing-masing fihak yang diatur oleh pemerintah itu bisa bekerja menuntaskan kewajibannya dalam berbagai segi, baik urusan agama maupun urusan dunia.

Maka pembagian tugas oleh pemerintah seperti ini itu disyariatkan.

[Maka pembagian golongan dan kelompok oleh pemerintah ini bukan termasuk dalam Ahzab yang tercela -pent]

Bahkan wajib bagi pemimpin kaum Muslimin untuk melakukan pembagian tugas, yang berhubungan dengan kewajiban agama, dan yang berhubungan dengan masalah dunia, yang masing-masing memiliki spesialisasi yang bermacam-macam kepada rakyat yang dipimpinnya.

Ini seperti pemerintah menentukan dan menugaskan satu jamaah kelompok orang [yang ditunjuk resmi oleh pemerintah – pent] untuk bekerja menekuni dan meneliti Ilmu Hadits dari sisi periwayatannya dan pembukuannya. Untuk memisahkan antara hadits shahih dan tidak shahih, dan seterusnya.

Menentukan dan menugaskan satu jamaah kelompok orang yang lain [yang ditunjuk resmi oleh pemerintah – pent] untuk menekuni Ilmu Fikih, menekuni matan-nya (teks) baik dari segi pembukuan atau pengajarannya.

Dan yang ketiga kelompok jamaah [yang ditunjuk resmi oleh pemerintah – pent] yang khusus ditunjuk untuk berkhidmat menekuni ilmu bahasa Arab baik, dari sisi kaedah, kosakata, menjelaskan gaya bahasanya, dan membuka tabir rahasia bahasa tersebut.

Dan mempersiapkan kelompok yang keempat [yang ditunjuk resmi oleh pemerintah – pent] guna berjihad dan membela tanah air kaum Muslimin. Melakukan penaklukan dan menghancurkan segala rintangan untuk menyebarkan agama Islam.

Dan menunjuk kelompok berikutnya untuk fokus pada produksi baik dalam dunia industri, pertanian maupun perdagangan dan seterusnya.

*
Semua ini adalah kebutuhan primer yang dibutuhkan dalam kehidupan. Karena tanpa hal itu, umat tidak akan maju, Islam tidak akan aman terjaga, dan ajarannya tidak akan tersebar luas.

Semua ini bisa terwujud selama semua kaum Muslimin berpegang teguh kepada Kitab Allah (Al Qur’an), petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berpegang kepada prinsip-prinsip yang diajarkan Khulafaur Rasyidin dan generasi Salaf.

Yang mana semuanya [pemerintah dan rakyat – pent] mempunyai satu tujuan, dan saling tolong menolong, untuk membela agama Islam dan menjaga kehormatannya.

Semuanya berusaha untuk merealisasikan sarana sarana yang menunjang kehidupan yang bahagia. Yang mana semuanya berjalan di bawah naungan dan panji Islam, yang berjalan di atas jalan Allah yang lurus.

Semuanya berusaha untuk menjauhi jalan jalan kesesatan, dan perpecahan yang menghancurkan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” [QS Al An’am : 153]

*
Lajnah Ad Daimah lil buhuts Al ilmiyyah wal ifta’

Ketua : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
Wakil ketua : Syaikh Abdurrazzaq Afifi
Anggota : Syaikh Abdullah bin Ghudyan
Anggota : Syaikh Abdullah bin Qu’ud

Lihat : http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=3&View=Page&PageNo=1&PageID=590

****
Transkrip teks Arab asli :

من الفتوى رقم 1674

ما حكم الإِسلام في الأحزاب؟

س1: ما حكم الإسلام في الأحزاب، وهل تجوز الأحزاب بالإسلام مثل حزب التحرير وحزب الإخوان المسلمين؟
ج1: لا يجوز أن يتفرق المسلمون في دينهم شيعًا وأحزابًا يلعن بعضهم بعضًا ويضرب بعضهم رقاب بعض، فإن هذا التفرق مما نهى الله عنه وذم من أحدثه أو تابع أهله وتوعد فاعليه بالعذاب العظيم، وقد تبرأ الله ورسوله صلى الله عليه وسلم منه، قال الله تعالى: { وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا } إلى قوله تعالى: { وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ } الآيات سورة آل عمران ، الآيات 103 -105.
وقال تعالى: { إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ }{ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ } سورة الأنعام ، الآيتان 159 ، 160
وثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال « لا ترجعوا بعدي كفارًا يضرب بعضكم رقاب بعض » . والآيات والأحاديث في ذم التفرق في الدين كثيرة.
أما إن كان ولي أمر المسلمين هو الذي نظمهم ووزع بينهم أعمال الحياة ومرافقها الدينية والدنيوية ليقوم كل بواجبه في جانب من جوانب الدين والدنيا فهذا مشروع، بل واجب على ولي أمر المسلمين أو يوزع رعيته على واجبات الدين والدنيا على اختلاف أنواعها، فيجعل جماعة لخدمة علم الحديث من جهة نقله وتدوينه وتمييز صحيحه من سقيمه… إلخ، وجماعة أخرى لخدمة فقه متونه تدوينًا وتعليمًا، وثالثة لخدمة اللغة العربية قواعدها ومفرداتها وبيان أساليبها والكشف عن أسرارها، وإعداد جماعة رابعة للجهاد وللدفاع عن بلاد الإسلام وفتح الفتوح وتذليل العقبات لنشر الإسلام، وأخرى للإنتاج صناعة وزراعة وتجارة.. إلخ.
فهذا من ضرورات الحياة التي لا تقوم للأمة قائمة إلا بها ولا يحفظ الإسلام ولا ينتشر إلا عن طريقه، هذا مع اعتصام الجميع بكتاب الله وهدي رسوله صلى الله عليه وسلم وما كان عليه الخلفاء الراشدون وسلف الأمة ووحدة الهدف وتعاون جميع الطوائف الإسلامية على نصرة الإسلام والذود عن حياضه، وتحقيق وسائل الحياة السعيدة، وسير الجميع في ظل الإسلام وتحت لوائه على صراط الله المستقيم، وتجنبهم السبل المضلة والفرق الهالكة، قال الله تعالى: { وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ } سورة الأنعام ، الآية 153 .

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو
عبد الله بن قعود

عضو
عبد الله بن غديان

نائب رئيس اللجنة
عبد الرزاق عفيفي

الرئيس
عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Advertisements