Soal:

Saya berkeinginan agar anda (wahai Syaikh) dapat memberikan faedah ilmu kepada saya, mengenai dakwah yang dilakukan oleh Ikhwanul Muslimin.

Dan apakah terdapat perbedaan antara jenis dakwah yang dilakukan Ikhwanul Muslimin, dengan jenis dakwah yang dilakukan organisasi jamaah Anshorus Sunnah?

Jawab :

Al Ikhwanul Muslimin dan Anshorus Sunnah, kedua duanya adalah organisasi dakwah yang menyeru kepada Allah. Dan kedua duanya sama-sama mengharapkan kebaikan dari dakwah yang mereka lakukan itu.

Akan tetapi Anshorus Sunnah itu, sebagaimana yang kita ketahui, sangat bersemangat dan fokus dalam menjelaskan mengenai masalah Tauhid, dan memberikan bayan (penjelasan) mengenai hakikat kesyirikan [di dalam dakwah mereka – pent]. Dan jamaah Anshorus Sunnah itu umumnya memulai dakwah mereka dari perkara ini.

Ini sebagaimana yang diketahui dari dakwah Jama’ah Anshorus Sunnah yang berada di Mesir, dan yang berada di Sudan.

Mereka (Jama’ah Anshorus Sunnah) memulai dakwah mereka dengan penjelasan akan masalah Tauhid. Memberikan peringatan (tahdzir) terhadap berbagai macam kesyirikan, terhadap sikap bergantung kepada [arwah – pent] orang orang yang telah mati, dan terhadap istighotsah (doa meminta bantuan ketika kesusahan) kepada para penghuni kubur.

*
Adapun Ikhwanul Muslimin, maka dakwah mereka itu tidaklah memiliki semangat dan fokus dalam memberikan bayan (penjelasan) dalam masalah Tauhid, dan tidak juga bayan (penjelasan) dalam masalah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Dakwah Ikhwanul Muslimin itu hanya seputar mengenai keumuman Islam saja. Dakwah model ini tentu saja tidak mencukupi.

Maka dari itu wajib bagi Ikhwanul Muslimin dan selainnya, agar bersemangat dan menfokuskan usaha dakwah mereka dalam memberikan perincian [ilmu dan penjelasan – pent] dan [panduan – pent] amalan, dengan berdasarkan Aqidah yang Shohih.

Hendaklah mereka menerangkan itu kepada masyarakat Islam luas, hingga dengan dakwah itu mereka dapat mengeluarkan masyarakat dari Aqidah yang kufur ke Aqidah yang Shohih.

Dengan ini baru kita benar benar mendakwahkan Islam, baru kita sungguh sungguh berbicara mengenai Islam.

Dengan ini kita menyampaikan dakwah kepada masyarakat umum, terutama bagi yang masih memberikan peribadahan dan penyembahan kepada orang orang yang telah meninggal.

Baik itu kepada orang orang yang masih melakukan istighotsah kepada Al Badawi, atau kepada Al Husain, atau kepada Syaikh Abdul Qodir (Al Jaelani), atau kepada fulan dan fulan.

Yang mana orang orang tersebut meminta bantuan dan memohon agar terbebas dari masalah yang menimpa mereka, ketika berjalan melewati kuburan mereka itu (Al Badawi, Al Husain, Syaikh Abdul Qodir Al Jaelani, dan lain lain).

Dan ini adalah kufur akbar, na’udzu billaahi min dzaalik (kami berlindung kepada Allah dari melakukan hal yang demikian itu).

[Syaikh berbicara mengenai kesyirikan di kuburan yang umumnya terjadi di Mesir, negara asal Ikhwanul Muslimin. Kecuali masalah Syaikh Abdul Qodir Al Jaelani, karena makamnya terdapat di Iraq – pent]

*
Dan tersebar juga di dalam lingkungan mereka [Ikhwanul Muslimin di Mesir, negara asal mereka – pent] , thoriqot dari thoriqot-thoriqot Sufi yang khobitsah (buruk, menjijikkan).

Maka wajib bagi Ikhwanul Muslimin untuk memberikan dakwah berupa bayan (penjelasan) dan penerangan, dalam masalah ini [thoriqot Sufi menyimpang – pent].

*
Jamaah Anshorus Sunnah, maka mereka fokus dan bersemangat di dakwah nya dalam masalah bab ini. Mereka benar-benar berusaha untuk menyempurnakan dan menguatkan dakwah mereka dalam perkara ini.

Sementara itu Ikhwanul Muslimin, mereka hanya dipuji akan semangat mereka dalam masalah dakwah keislaman yang bersifat umum-umum saja.

Saya berharap mereka (IM) mendapatkan tambahan taufiq dari Allah mengenai masalah ini. Akan tetapi telah diambil dan dihilangkan dari mereka [pemahaman dalam masalah dakwah – pent], berkaitan dengan apa apa yang telah saya sampaikan sebelumnya.

Dan saya mengetahui bahwa mereka (IM) telah meniadakan dalam dakwah mereka, penetapan secara tafshil (terperinci) dalam hal hal yang berkaitan dengan masalah Aqidah, dalam hal hal yang berkaitan dengan masalah kebid’ahan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat.

Atas hal itu maka wajib bagi Ikhwanul Muslimin untuk merubah sejarah dakwah mereka, dengan bersungguh sungguh untuk memberikan penerangan mengenai Aqidah yang Shohih.

Yang mana dengan dakwah ini, masyarakat menerima dakwah kepada tauhidullah dan mengikhlashkan seluruh bentuk peribadahan kepada Allah semata.

Yang dengan dakwah itu, Masyarakat dapat menerima penjelasan mengenai terlarang nya berdoa meminta minta kepada orang mati, mengenai terlarang nya istighotsah kepada kuburan wali orang orang yang sudah mati, yang mana itu merupakan kesyirikan dan kekufuran.

Bersama dengan dakwah tauhid yang benar itu juga, Ikhwanul Muslimin dapat menerangkan mengenai penyimpangan thoriqot shufiyah yang khobitsah munkaroh (yang buruk menjijikkan dan mungkar) itu, yang banyak terdapat di negeri mereka (Mesir).

Dan memberikan dakwah penjelasan akan wajibnya bagi seluruh manusia untuk mengikuti thoriqot (jalan) nya Nabi shalalloohu alaihi wa sallam saja [bukannya thoriqot Sufiyyah -pent], dan menjalani kehidupan sesuai dengan contoh sejarah kehidupan beliau.

Memberikan tahdzir (peringatan akan bahaya) terhadap jalan yang “dikendalikan” oleh pihak yang menyimpang, yang keluar dari contoh petunjuk kehidupan Nabi sholatu alaihi wa sallam.

*
Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka berarti dia telah melakukan perbuatan yang besar dengan mengambil pelajaran dari kebenaran (Al Haq). Bukan melakukan perbuatan dengan cara mengambil pelajaran dari manusia khalayak umum.

Mengambil pelajaran dari kebenaran itu adalah dengan berdasarkan petunjuk Al Musthofa Nabi Shalalloohu alaihi wa sallam, yang petunjuk Nabi ini disebarkan oleh para sahabat yang telah mendapatkan ridho dari Allah.

Ini dikarenakan kita itu adalah manusia yang lemah [maka dari itu harus merujuk ke petunjuk Nabi -pent]. Kita itu adalah manusia yang fakir.

Tidak ada pelajaran yang bisa diambil dari orang yang menyelisihi kebenaran (Al Haq). Walaupun orang yang menyelisihi kebenaran itu adalah para tokoh besar, para pemimpin, para pembesar, dan para orang kaya.

Tidak,
Tidak patut bagi kita sekedar mengambil pandangan dalam masalah agama ini. Akan tetapi yang wajib bagi kita adalah pandangan yang diterapkan dalam bentuk amalan, ada hakikat nyatanya, dan yang dijadikan keyakinan Aqidah.

Maka dengan [pondasi Aqidah dan dakwah yang benar -pent] ini, menjadi beranilah orang orang yang memiliki Aqidah yang Shohih menyeru berdakwah kepada masyarakat dengan berdasarkan taufiq dari Allah.

Bersemangat untuk tetap teguh di atas apa apa yang mereka miliki [Aqidah yang Shohih – pent], dan termasuk juga menyeru berdakwah kepada orang orang yang memiliki Aqidah yang menyimpang.

Andaikata orang yang didakwahi itu adalah orang orang besar, maka orang orang yang memiliki Aqidah yang Shohih itu tidak akan segan atau malu terhadap mereka. Tidak bersikap mudahanah (bermuka manis karena takut, atau basa basi) dalam berdakwah menyeru mereka kepada Al Haq (kebenaran).

Orang orang yang memiliki Aqidah yang Shohih, akan menerangkan kepada mereka semua berkaitan dengan hal-hal yang salah dan perlu untuk dibenarkan.

Baik itu kesalahan yang terdapat di dalam Aqidah mereka, akhlaq mereka, atau bahkan yang berkaitan dengan masalah kebid’ahan.

Masalah Kebid’ahan inilah yang wajib untuk ditekankan supaya berdakwah didalam masalah ini, baik itu bagi jamaah Anshorus Sunnah, bagi Ikhwanul Muslimin, dan bagi seluruh penyeru dakwah illallaah -jalla wa ‘alaa-.

Merupakan kewajiban bagi mereka semua untuk memberikan nasehat yang ikhlash karena Allah, dan nasehat agar beribadah semata kepada Nya saja.

Merupakan kewajiban untuk menerangkan Aqidah yang Shohih, menjelaskan hakikat tauhid yang seluruh para Rasul – alaihim sholatu wa salam- menyeru berdakwah di atas dakwah tauhid itu.

Dan memberitahu mengenai kesyirikan yang diingkari oleh semua Rasul dalam dakwah tauhid mereka, yang mana umat diberikan peringatan (tahdzir) akan bahaya syirik itu.

Hendaklah tidak berbasa basi kepada manusia dalam masalah ini. Dan janganlah menjadikan cara penyampaian yang tidak jelas akan apa yang dimaksud dalam dakwah tauhid ini, guna ditujukan pada manusia kebanyakan. Jangan.

Sampaikanlah dengan jelas apa adanya wujud hakikat dakwah ini, walaupun akibatnya hanya sedikit orang yang mengikuti nya.

Yang terpenting adalah dakwah ini disampaikan dengan cara yang teratur dan jelas, sehingga menjadikan pengikutnya istiqomah di atas kebenaran dan kokoh teguh di atasnya walau jumlahnya hanya sedikit.

Orang yang sedikit itu asalkan dia jujur dan ikhlash, maka dia akan dapat memberikan manfaat yang banyak bagi orang banyak.

Dibandingkan dengan orang yang banyak berlipat ganda, namun dia jahil bodoh [terhadap hakikat agama dan dakwah ini -pent] dan hanya memiliki sedikit bashiroh (ilmu agama yang jelas dan mendalam). Atau dibandingkan [orang yang jumlahnya banyak – pent], namun hanya memiliki sedikit kejujuran dan keikhlasan [dalam masalah dakwah agama ini -pent].

Wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Sumber : http://www.binbaz.org.sa/noor/1386

Rekaman audio Syaikh ibn Baz juga dapat didengar secara langsung di situ.

****
Transkrip teks Arab asli :

أريد منكم أن تفيدوني علماً عن دعوة الإخوان المسلمين، وهل هناك اختلاف بين دعوتهم ودعوة جماعة أنصار السنة؟

الإخوان المسلمون وأنصار السنة كلاهما من الدعاة إلى الله, وكلاهما نرجو لهما الخير, ولكن أنصار السنة فيما نعلم أنشط منهم في إيضاح التوحيد, وبيان حقيقة الشرك, وأكثر منهم عناية بهذا الأمر, فكانوا معروفين في مصر, وفي السودان بالعناية ببيان بالتوحيد, وتحذير من الشرك, والتعلق بالأموات, والاستغاثة بأهل القبور ، وأما الإخوان المسلمون فليس لهم نشاط واضح في بيان التوحيد وبيان عقيدة أهل السنة والجماعة, وإنما دعوتهم عامة إلى الإسلام, وهذا لا يكفي بل يجب على الإخوان المسلمون, وعلى غيرهم من الدعاة أن يكون نشاطهم تفصيلياً وعلمهم بالعقيدة الصحيحة, وأن يوضحوها للناس حتى يخرج مدعي الإسلام من عقيدة الكفر إلى العقيدة الصحيحة؛ لأنه قد يدعي الإسلام, وقد يتكلم به, ويصلي مع الناس وهو مع ذلك يعبد الأموات, ويستغيث بالبدوي, أو بالحسين, أو بالشيخ عبد القادر, أو بفلان وفلان، ويسألهم المدد والغوث إذا مر بقبورهم, وهذا كفر أكبر نعوذ بالله من ذلك, وقد يكون عندهم طريقة من طرق الصوفية خبيثة, فالواجب البيان والإيضاح, فأنصار السنة في هذا الباب أنشط وأكمل في الدعوة وأقوى في هذا الأمر, والإخوان المسلمون يمدحون على نشاطهم في الدعوة الإسلامية العامة, ويرجى لهم المزيد من التوفيق ، لكن يؤخذ عليهم فيما بلغني, وفيما أعلم عدم العناية بالتفصيل فيما يتعلق بالعقيدة, وفيما يتعلق بالبدع التي يتعاطاها بعض الناس, فالواجب عليهم أن يغيروا من سيرتهم, وأن يجتهدوا في إيضاح العقيدة الصحيحة, وأن يقبلوا إلى توحيد الله والإخلاص له, وينبهوا على دعوة الأموات, والاستغاثة بهم أنها شرك وكفر, وأن يوضحوا أيضاً الطرق الصوفية الخبيثة المنكرة التي في بلادهم ، وأن الواجب على الناس جميعاً أن يتبعوا طرق النبي – صلى الله عليه وسلم – و يسيروا على سيرته, وأن يحذروا الطرق الموجهة والخارجة عن سيرته -عليه الصلاة والسلام-, وإن فعلها من فعلها من الأكبائر فإن العبرة بالحق لا بالناس ، العبرة بالحق وبهدي المصطفى – صلى الله عليه وسلم – ودرج عليه صحابته المرضيون وإن كانوا ضعفاء, وإن كانوا فقراء ، ولا عبرة بمن خالف الحق وإن كانوا من الأكابر والرؤساء والعظماء والأغنياء،لا, لا ينبغي النظر إلى هذا بل ينبغي النظر إلى العمل والحقيقة والعقيدة، فيشجع أهل العقائد الصحيحة, ويدعى لهم بالتوفيق, وينشطون على الثبات على ما هم عليه ويدعى أهل العقائد المنحرفة, وإن كانوا كباراً لا يستحيى منهم ولا يداهنون يدعون إلى الحق, ويوضح لهم ما هم فيه من الخطأ في العقيدة, والأخلاق, أو في البدع التي يؤيدونها هذا هو الواجب على أنصار السنة, وعلى الإخوان المسلمين, وعلى جميع الدعاة إلى الله -جل وعلا- الواجب عليهم أن ينصحوا لله ولعبادة , وأن يوضحوا العقيدة الصحيحة, ويبينوا حقيقة التوحيد التي دعت إليها الرسل-عليهم الصلاة والسلام-, وينبهوا على الشرك الذي أنكرته الرسل وحذروا منه, وأن لا يداهنوا الناس في هذا الأمر, وأن لا يكون همهم كثرة الناس لا ، همهم وجود الحقيقة ولوا كانوا قليلين، المهم أن تكون الدعوة صافية نقية، وأن يكونوا أهلها مستقيمين على الحق ثابتين عليه ولو كانوا قليلين، فالقليل مع الصدق والإخلاص أنفع بكثير من الكثيرين مع الضعف والجهل وقلة البصيرة, أو قلة الصدق والإخلاص ولا حول ولا قوة إلا بالله