Hilangnya baju dan jubah bekas milik Rasulullah, dilihat dari tinjauan para mu’arrikhin (Ulama ahli Sejarah Islam).

Quote :
The mantle and the staff of the dear Prophet ﷺ were lost towards the end of ‘Abbasid rule till the Tartars burnt it the day Baghdad was ransacked in 656 A.H.

Ibn al-Jawzi notes that it was kept by the caliphs of his time.

Ibn Kathir writes in his monumental work of history, ‘al-Bidaya wa al-Nihaya‘:

“Banu Abbas inherited this mantle (burda) generation after generation from the earlier generations. The Caliph would wear it on the day of Eed upon his shoulders and hold the staff attributed to him, may Allah’s blessings and peace be on him, in one of his hands, coming out with such serenity and dignity that the hearts would burst and eyes would become dazzled.”

Quote :
Another reason why some relics have been lost is because some Sahaba, may Allah grant us love like theirs, bequeathed that they be buried with them.

For example, Bukhari reports that a Sahabi asked for the mantle (burda) of the Prophet that a woman had gifted him. When asked why he asked the Prophet ﷺ for it, he said, “I hope to have its baraka (blessings) since the Prophet ﷺ wore it, and I hope to be buried in it.”

Mu’aawiya ibn Abi Sufyan had saved some hair and nails clippings of the Prophet ﷺ. Close to his death, he asked that they be put on his eyes and ears in the grave and hoped to be saved from the punishment of the grave thereby.

***
Lebih detail mengenai penjelasan telah hilangnya semua barang peninggalan Nabi, baik itu cincin nabi, sandal nabi, dan lain lain.

Lihat :
http://imammufti.com/relics-of-prophet-muhammad-ﷺ/

***
Bagi yang kurang bisa bahasa Inggris, maka kadang disitu saya merasa sedih….

Akhi, belajar akhi….
Masih banyak mualaf bule yang perlu antum selamatkan.

***

Hadits Burdah yang kemudian dijadikan kain Kafan itu adalah sebagai berikut :

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu beliau berkata :

جَاءَتِ امْرَأَةٌ بِبُرْدَةٍ… قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَسَجْتُ هَذِهِ بِيَدِي أَكْسُوكَهَا، فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْتَاجًا إِلَيْهَا، فَخَرَجَ إِلَيْنَا وَإِنَّهَا إِزَارُهُ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اكْسُنِيهَا. فَقَالَ: «نَعَمْ». فَجَلَسَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي المَجْلِسِ، ثُمَّ رَجَعَ، فَطَوَاهَا ثُمَّ أَرْسَلَ بِهَا إِلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ القَوْمُ: مَا أَحْسَنْتَ، سَأَلْتَهَا إِيَّاهُ، لَقَدْ عَلِمْتَ أَنَّهُ لاَ يَرُدُّ سَائِلًا، فَقَالَ الرَّجُلُ: وَاللَّهِ مَا سَأَلْتُهُ إِلَّا لِتَكُونَ كَفَنِي يَوْمَ أَمُوتُ، قَالَ سَهْلٌ: فَكَانَتْ كَفَنَهُ

“Datang seorang wanita membawa sebuah burdah… lalu ia berkata,

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menenun kain burdah ini dengan tanganku agar engkau memakainya.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengambil kain burdah tersebut dalam kondisi memang membutuhkannya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami dengan menggunakan kain burdah tersebut sebagai sarung beliau. Maka ada seorang lelaki –diantara kaum yang hadir- berkata,

“Wahai Rasulullah, berikanlah sarung itu kepadaku untuk aku pakai !”.

Nabi berkata, “Iya”. Maka Nabi pun duduk di suatu tempat lalu kembali, lalu melipat kain burdah tersebut lalu ia kirimkan kepada orang yang meminta tadi.

Maka orang-orangpun berkata kepadanya, “Bagus sikapmu…, engkau meminta kain tersebut kepada Nabi, padahal kau sudah tahu bahwa Nabi tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya?”.

Maka orang itu berkata, “Demi Allah, aku tidaklah meminta kain tersebut kecuali agar kain tersebut menjadi kain kafanku jika aku meninggal”.

Sahl berkata, “Maka kain tersebut akhirnya menjadi kafan orang itu” (HR Al-Bukhari no 2093)

Advertisements