Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam mengimbau ummatnya agar makan sahur, supaya menyelisihi dan tidak tasyabbuh dengan ibadah Ahlul kitab.

Kenapa? Karena Ahlul Kitab itu kalau berpuasa, mereka tidak makan sahur. Sedangkan kita Ummat Islam dihimbau makan sahur agar tidak tasyabbuh bil kuffar dengan Ahlul Kitab itu.

Sekarang bagaimana kasusnya jika seseorang sengaja tidak makan sahur, mungkin karena malas, walaupun tahu itu menyerupai Ahlul Kitab?

Bagaimana juga orang yang memang sengaja tidak makan sahur, namun dia tidak tahu bahwa itu menyerupai puasanya Ahlul Kitab?

Apakah orang tersebut langsung secara mutlaq dikatakan berdosa besar, karena tasyabbuh bil kuffar dalam masalah ibadah?

Al jawab, tidak.

Boleh jadi dia terkena dosa karena sengaja menyelisihi sunnah, namun tentu saja tidak otomatis dosa besar karena dia tidak mempunyai i’tiqod seperti Ahlul Kitab.

Boleh jadi juga dia malah tidak terkena dosa sama sekali karena tidak tahu, dan sama sekali tidak ada niat untuk menyerupai cara ibadahnya Ahlul Kitab.

****
Senada dengan hal itu,
Demikian juga kasus kaum muslimin yang main petasan untuk merayakan hari raya.

Main petasan itu sebenarnya kebudayaan penganut agama Konghucu dari Tionghoa, yang dilakukan guna mengusir roh roh jahat.

Sedangkan kaum muslimin di Indonesia, umumnya melakukan hal itu dengan tujuan untuk bermain main guna merayakan hari raya. Tidak ada niat sama sekali main petasan dengan ada i’tiqod untuk mengusir roh jahat.

Main main di hari raya itu sebenarnya sunnah yang dibolehkan Rasulullah. Hanya saja kala zaman Rasulullah mereka bermain tombak dan pedang untuk bermain main guna mengisi kemeriahan hari raya. Nah kita di Indonesia ini biasanya main main dengan cara yang lain.

Nah,
apakah atas nama klaim tasyabbuh bil kuffar, maka setiap muslimin di Indonesia yang bermain petasan di hari raya langsung dikatakan telah melakukan dosa besar secara mutlaq?

Padahal juga mereka sama sekali tidak ada i’tiqod bermain petasan guna mengusir roh jahat?

Al hasil ini tampaknya adalah sesuatu kekeliruan.

Katakanlah kalau dikatakan berdosa secara umum saja karena tasyabbuh bil kuffar, walau tidak memiliki i’tiqod untuk mengusir roh jahat, maka ini tidak mengapa.

Namun kalau langsung dikatakan dosa besar secara mutlaq, yang mana tuduhan dosa besar ini levelnya kalau dihadapkan pada liga yang sama, maka itu berarti satu liga dengan minum khomr yang dosa besar. Maka ini adalah hal yang tidak tepat.

***
Bagaimana kalau dosa karena main petasan itu madhorot dan banyak bikin celaka? Mengganggu orang, belum lagi main petasan kan tabdzir (mubadzir)?

Ya, saya setuju dengan hal itu. Main petasan memang haram dan berdosa.

Tapi disini yang hendak saya jadikan fokusnya adalah orang yang menganggap nya berdosa karena tasyabbuh bil kuffar. Dan langsung mutlaq dianggap dosa besar.

Kalau sekedar dosa secara umum saja saya nggak masalah. Tapi kalau langsung mutlaq dosa besar, maka ini yang sepertinya tidak tepat

 

Advertisements