Ustadz Muhammad Arifin Badri membagi IM menjadi 3 faksi aliran :

1. Aliran Hasan al-Banna

Dalam mengembangkan jaringannya, Hasan al-Banna lebih mementingkan terbentuknya suatu jaringan sebesar-besarnya, tanpa perduli dengan perbedaan yang ada di antara mereka.

Kelompok ini senantiasa mendengungkan slogan:

نَجْتَمِعُ عَلَى مَا اتَّفَقْنَا عَلَيْهِ وَيَعْذِرُ بَعْضُنَا بَعْضًا فِيْمًا اخْتَلَفْنَا فِيْهِ

“kita bersatu dalam hal yang sama, dan saling toleransi dalam setiap perbedaan antara kita”.

Tidak mengherankan bila para penganut ini siap bekerja sama dengan siapa saja, bahkan dengan non Muslim sekalipun, demi mewujudkan tujuannya.

Prinsip-prinsip agama bagi mereka sering kali hanya sebatas pelaris dan pelicin agar gerakannya di terima oleh masyarakat luas. Tidak heran bila corak politis nampak kental ketimbang agamis pada kelompok penganut aliran ini.

Karenanya, dalam perkumpulan dan pengajian mereka, permasalahan politik, strategi pergerakan dan tanzhîm sering menjadi tema utama pembahasan. [end of quote]

***
Komentar saya : Aliran hizbiyyah dengan corak politik IM seperti ini, tampaknya yang paling banyak terdapat di Indonesia.

***
2. Aliran Sayyid Quthub

Setelah bergabungnya Sayyid Quthub ke dalam barisan Ikhwânul Muslimîn, terbentuklah aliran baru yang ekstrim pada tubuh Ikhwânul Muslimîn. Pemikiran dan corak pergerakannya lebih mendahulukan konfrontasi. Ia menjadikan pergerakan Ikhwânul Muslimîn terbelah menjadi dua aliran.

Melalui berbagai tulisannya Sayyid Quthub menumpahkan ideologi ekstrimnya. Tanpa segan-segan ia mengkafirkan seluruh pemerintahan umat Islam yang ada, dan bahkan seluruh lapisan masyarakat yang tidak sejalan dengannya.

Karenanya ia menjuluki masjid-masjid umat Islam di seluruh penjuru dunia sebagai “Tempat peribadatan jahiliyyah. [end of quote]

***
Komentar saya : Aliran Sayyid Quthb ini adalah aliran prototype ideologi Takfir, yang kemudian akan dikembangkan lagi oleh aliran ketiga.

***
3. Aliran Muhammad Surûr Zaenal Abidin

Setelah pergerakan Ikhwânul Muslimîn mengalami banyak tekanan di negeri mereka, yaitu Mesir, Suria, dan beberapa negeri Arab lainnya, mereka berusaha menyelamatkan diri.

Negara yang paling kondusif untuk menyelamatkan diri dan menyambung hidup ketika itu ialah Kerajaan Saudi Arabia. Hal itu itu karena penguasa Kerajaan Saudi saat itu begitu menunjukkan solidaritas kepada mereka yang ditindas di negeri mereka sendiri.

Lebih dari itu, pada saat itu kerajaan Saudi sedang kebanjiran pendapatan dari minyak buminya, mereka membuka berbagai lembaga pendidikan dalam berbagai jenjang, sehingga mereka kekurangan tenaga pengajar. Jadi, keduanya saling membutuhkan.

Untuk itu, mereka diterima dengan dua tangan terbuka oleh otoritas Pemerintah Saudi Arabia. Selanjutnya, mereka pun dipekerjakan sebagai tenaga pengajar di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di sana.

Di sisi lain, Pemerintah Mesir, Suria dan lainnya merasa terbebaskan dari banyak pekerjaannya. Mereka tidak berkeberatan dengan sikap Pemerintah Saudi Arabia yang memberikan tempat kepada para pelarian Ikhwânul Muslimîn, sebagaimana ditegaskan oleh Pangeran Nayif bin Abdul Azîz di atas.

Selama tinggal di Kerajaan Saudi Arabia inilah, beberapa tokoh gerakan Ikhwânul Muslimîn berusaha beradaptasi dengan paham yang diajarkan di sana.

Sebagaimana kita ketahui, Ulama’-Ulama’ Saudi Arabia adalah para penerus dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb rahimahullah yang anti-pati dengan segala bentuk kesyirikan dan bid’ah.

Sehingga, selama mengembangkan pergerakannya, tokoh-tokoh Ikhwânul Muslimîn turut menyuarakan hal yang sama. Hanya dengan cara inilah mereka bisa mendapatkan tempat di masyarakat setempat.

Inilah faktor pembeda antara aliran ketiga dari aliran kedua, yaitu adanya sedikit perhatian terhadap tauhid dan sunnah. Walaupun pada tataran aplikasinya, masalah tauhid acap kali dikesampingkan dengan cara membuat istilah baru yang mereka sebut dengan tauhîd hakimiyyah. [end of quote]

***
Komentar saya : Aliran Muhammad Surur atau yang yang lebih dikenal dengan Sururiyah ini, adalah tahap awal dari transformasi aliran Takfir dan aliran politik IM.

Yang semula hanya bersumber kepada Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb, berubah menggunakan pondasi kedok qoul Ibnu Taimiyyah, Kitab kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan fatwa para ulama Najd yang sesuai dengan kepentingan mereka.

Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb tetap dihormati, namun qoul mereka sudah tidak begitu signifikan lagi digunakan karena kurang ilmiah. Pelintiran pelintiran dari qoul Ibnu Taimiyyah, Kitab kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan fatwa para ulama Najd yang umumnya digunakan.

***
Sumber : https://muslim.or.id/2492-siapakah-tokoh-di-balik-radikalisme-dan-terorisme.html

***
Analisa :
Dengan adanya aliran sesat ketiga ini, IM jadi memiliki senjata baru.

Dari sinilah muncul istilah Salafi Haroki dan Salafi Jihadi.

Sangat disayangkan, niat baik Saudi ternyata malah berbalik merugikan diri mereka sendiri.

Perkembangan selanjutnya muncullah juga semacam Al Qoidah, Al Jamaah Al Islamiyyah , dan ISIS. Yang mana mereka menggunakan qoul Ibnu Taimiyyah, Kitab kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan fatwa para ulama Najd untuk membenarkan ideologi takfir dan terorisme mereka.

Dari sini kita lihat urutan pewarisan dan modifikasi pondasi pemikiran Takfir dan terorisme IM adalah sebagai berikut :

1. IM aliran Hasan Al-Banna
Mewariskan manhaj hizbiyyah terhadap semua organisasi pergerakan.

2. IM aliran Sayyid Quthb
Mewariskan prototipe pemikiran takfir dan terorisme yang masih belum sempurna, dan masih kurang memiliki “syubhat ilmiah”.

3. IM aliran Sururiyah
Menyempurnakan pemikiran takfiri dan terorisme dengan berdasarkan “cherry picking” qoul Ibnu Taimiyyah, Kitab kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan fatwa para ulama Najd untuk membenarkan ideologi takfir dan terorisme mereka.

Semua aliran itu saling melengkapi dan berkolaborasi, hingga muncullah organisasi organisasi baru yang melepaskan diri dari IM seperti Al Qoidah (Al Qaeda). Al Qaeda nanti juga akan pecah lagi menjadi ISIS.

Aliran resmi IM umumnya masih berkiblat ke aliran Hasan Al banna. Namun pengaruh aliran IM yang lain juga ikut mewarnai.

****

Tanya :

apa yang menyebabkan mereka mudah mengkafirkan?

Jawab :

“Gemes” sama pemerintah dan ingin menjatuhkan nya

Tanya :

Kenapa femikiran mereka begitu mudah ya masuk ke kampus kampus ,bagaimana ustad?

Jawab :

Karena mereka senantiasa menempatkan personil personil mereka di tempat tempat strategis, termasuk kampus.

Sehingga “agent” mereka memperlancar akses untuk masuk ke berbagai tempat yang ingin “dikuasainya”.

Lihat juga penjelasan saya yang terdahulu :

https://kautsaramru.wordpress.com/2017/10/03/faksi-politik-im-dan-yang-mengikuti-jalannya/

Komentar :

Dan tmbhan lg ustadz.. Krn mereka ktika menjaring anggota baru (yaitu para mahasiswa br) mereka tdk mengenalkan identitas asli mereka.. mereka hny blg ini lembaga dakwah.. adk adk mhsswa br pgn Join biasanya pgn belajar agama… Stlh 2-3 thn akhire adk adk ini br sadar kog lama lama msk k partai.. bbrp ada Keluar, bbrp ada yg sdh pw..
.
Klo dr awal mereka mgtkan bhw mreka dr partai x, tentu mahasiswa br tdk trtarik

Jawab :

Jenjang anggota IM itu bertahap, yang pendukung atau rekrutmen baru itu masuk sebagai anggota liqo.

Nanti kalau loyal, Hizbi, dan melewati proses seleksi, bisa diangkat menjadi anggota inti alias anggota usrah.

Usrah artinya keluarga. Sudah dianggap sah masuk anggota mafia underground jadinya

Komentar :

Betul semua itu..ya kaya gtu di kampus2, kalo dari awal bilg kami partai x, dan background kami mafia underground yg menggurita di sono sini ya dah ilfill tuh maba

Komentar :

Ana kenal dr sma kuliah juga ikut mentoring… Alhamdulillh kerja ketemu kajian sunnah..

Komentar :

Klik aja dgn darah muda, ideologi pergerakan mereka kan sesuai dgn jiwa muda yg menggebu2

Komentar :

Karena cocok sama jiwa muda yg berapi-api, sok kritis dan mudah berontak

***

Tanya :

Selama ini, saya kira Pak Surur itu Salafiyun yg kemakan fahamnya Sayyid Quthb
Ternyata kebalik ya, beliaunya Quthbiyyun yg terms ngaruh salafy

Jawab :

Muhammad Surur itu Petinggi IM wilayah Syria yang melarikan diri ke Saudi, terus hijrah lagi ke Inggris

Lihat : https://en.m.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Surur

***

Tanya :

Kalau hari ini IM nggak dikasih tempat di Arab Saudi, wajar.. dulu terusir, ditampung, malah bertingkah.. bikin ulah..

Apakah ada kritikan mereka terhadap Qatar sebagaimana kritikan kepada Arab Saudi? Hubungan Qatar Amerika? Pangkalan militer Amerika ?

Jawab :

Selama menguntungkan dan membantu perjuangan qiyadah, maka ya harus dipuji puji dan dibela mati matian donk.

Nanti kalau sudah nggak menguntungkan, boleh deh dikritik

***

Tanya :

Yusuf Qaradhawi aliran yg mana ustadz?

Jawab :

Aliran Hasan Al Banna kecenderungan nya saya lihat.

Tapi beliau pro revolusi dan yang menyuruh secara terang terangan di talkshow acara TV, untuk membunuh Khadafi ketika ada kekacauan Libya waktu Arab Spring

***

Komentar :

Baru ngerti… salafi haroki dan salafi jihadi ternyata munculnya dari itu2 juga. Syukron tadz… baarokallohu fiik.

Advertisements