Menjelang bulan ramadhan, kita harus waspada karena banyak juga bertebaran hadits hadits lemah dan palsu.

Termasuk juga perkataan “Berbukalah dengan yang manis manis”….

Ingat, ini itu bukan hadits ya mblo….

****

Sekedar untuk menambah wawasan.

“Berbuka dengan yang manis manis” itu sebenarnya adalah salah satu pemahaman ulama dalam memahami hadits Rasulullah berbuka dengan kurma.

Sebagian dari para ulama mengambil illat (sebab) dari hadits kurma itu, berarti yang dimaksud adalah berbuka dengan yang manis manis. Tidak mesti harus dengan kurma.

Imam An Nawawi rohimahulloh berkata,

وقال الروياني يفطر على تمر فإن لم يجد فعلى حلاوة فإن لم يجد فعلى الماء وقال القاضي حسين الأولى في زماننا أن يفطر على ما يأخذه بكفه من النهر ليكون أبعد عن الشبهة وهذا الذي قالاه شاذ والصواب ما سبق كما صرح به الحديث

Ar-Ruyani berkata,”Berbuka itu dengan kurma, bila tidak ada maka dengan halawah (manis-manis), bila tidak ada maka dengan air”.

Al-Qadhi Husein berkata yang lebih utama di zaman kami berbuka dengan apa yang didapatnya dengan kedua tangannya dari sungai, biar jauh dari syubhat.

Namun apa yang disebutkan oleh kedua ulama ini syadz. Yang benar adalah apa yang sudah disebutkan di dalam hadits. [An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 6 hal. 362]

***
Imam An Nawawi dalam kutipan di atas menyalahkan pendapat ulama tersebut, yang mana salah satunya adalah pendapat berbuka dengan yang manis manis.

Imam An Nawawi menganggap itu pendapat yang ganjil dan penarikan illat (sebab) yang tidak tepat. Beliau mengembalikan ke dhohir hadits bahwa yang benar itu adalah berbuka dengan kurma, bukan dengan yang manis manis.

وَعَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ اَلضَّبِّيِّ – رضي الله عنه – عَنِ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ, فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ, فَإِنَّهُ طَهُورٌ – رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhobbi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan tamr (kurma kering). Jika tidak dapati kurma, maka berbukalah dengan air karena air itu mensucikan.”

[Hadits ini diriwayatkan dalam 4 kitab sunan (Ibnu Majah, Abu Daud, An Nasai, Tirmidzi) dan musnad Imam Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim.]

***
Anyway mblo….

Perkataan ulama ( حلاوة) “Halaawah” (yang manis manis) dalam bentuk jamak itu, atau (حلو) hulwun (yang manis) dalam bentuk tunggal, sebenarnya tidak sebagaimana “majaz” yang umumnya difahami oleh orang Indonesia

Orang Arab disana memahami majaz itu dengan ungkapan (ملح) “milhun” yang artinya “Asin”. Bukan (حلو) “hulwun” yang artinya manis.

Jadi orang Arab sana nggak mudeng kalau antum bilang ( انت حلو) “Kamu manis”, fahamnya kalo antum bilang (انت ملح) “Kamu asin”….

Maka dari itu ketika ulama sana berkata “Berbuka dengan yang manis manis”, nggak ada orang Arab yang baper dan aji mumpung dengan kata-kata itu…

Beda kalo dengan dirimu mblo…

Advertisements