1. Bukankah sebelum Rasulullah diutus, terdapat orang Hanif yang mengikuti tauhid secara murni, mengikuti ajaran nabi Ibrahim, dan tidak menyembah berhala?

Sebagaimana Zaid bin Amr bin Nufail, yang mana Rasulullah bersabda dia akan dibangkitkan sebagai suatu umat seorang diri?

2. Bukankah kabilah Arab mengikuti ajaran tauhid secara murni dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sebelum akhirnya Amr bin Luhay Al Khuza’i mengimpor dan memasukkan berhala sehingga merusak kemurnian ajaran tauhid Nabi Ibrahim?

3. Dan bukankah ketika Rasulullah diutus, mereka diseru kepada Laa ilaaha illallaah maka mereka memahami makna nya namun enggan untuk mengatakannya?

Baca : Mereka tidak bodoh atau jahil akan arti, makna, rukun, dan tuntutan tauhid. Mereka faham, mengilmuinya namun mereka menentang apa yang mereka fahami

Dan mereka mengakui bahwa apa yang mereka lakukan itu memang benar benar kesyirikan, namun mereka mengatakan bahwa ini adalah kesyirikan yang diizinkan, karena sesuai dengan ajaran nenek moyang mereka?

4. Dari point point itulah kita bisa memahami kenapa Rasulullah mengatakan ayah ibunya di neraka.

Walloohu A’lam

***

Tanya :

Afwan ustad apa ada dalil atw hadist tentang ayah dan ibu rosulullah di dlm neraka?

Jawab :

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa ada seseorang yang bertanya,
يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ أَبِي؟
“Wahai Rasulullah di mana tempat kembali bapakku?”
فِي النَّارِ
“Di neraka.”
Ketika orang tersebut berpaling, Rasul memanggilnya lantas berkata,
إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّار
“Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” (HR. Muslim, no. 203)

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berziarah ke makam ibunya. Kemudian beliau menangis. Para sahabatpun ikut menangis. Kemudian beliau bersabda,

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لأُمِّى فَلَمْ يَأْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِى

Aku minta izin kepada Rabku untuk memohonkan ampunan bagi ibuku, namun Dia tidak mengizinkanku. Lalu aku minta izin untuk menziarahi kuburannya, kemudian beliau mengizinkanku. (HR. Muslim 2303, Abu Daud 3236, Nasai 2046, dan Ahmad 9688).

مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah : 113)
Advertisements