Menyambung status saya sebelumnya, berhubungan dengan masalah tidak kafir nya orang yang memiliki perbedaan perincian dalam takfir terhadap Ahlul Qiblat.

Sebagaimana Imam syafi’i memiliki perbedaan perincian dibandingkan imam lain, dalam memahami perkataan takfir dari hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkaitan dengan orang muslim yang meninggalkan sholat.

Yang mana beliau memperincinya, bahwa jika dia meninggalkan sholat karena malas, namun dengan tetap meyakini kewajiban sholat. Maka dia hanya berdosa besar saja, dan tidak dikafirkan.

Yang mana ini berbeda pendapat dengan sebagian imam lain, yang cenderung mengkafirkan secara mutlak orang yang meninggalkan sholat.

Namun walaupun begitu, tidak ada seorang imam pun yang mengkafirkan imam syafi’i, hanya karena perbedaan perincian pemahamannya dalam masalah takfir terhadap Ahlul Qiblat.

****
Sekarang di antara masalah takfir terhadap Ahlul Qiblat, adalah masalah udzur bil jahl.

Yang mana sebagian mengakui keberadaan udzur bil jahl dengan perincian nya, sedangkan sebagian meniadakan udzur bil jahl secara mutlaq.

Sehingga bagi yang meniadakan udzur bil jahl secara mutlaq, maka siapapun harus langsung dikafirkan tanpa pandang bulu. Dan orang yang tidak mengkafirkan orang kafir, maka dia sendiri juga kafir.

Anehnya ketika orang yang memiliki pemahaman barangsiapa orang yang tidak mengkafirkan orang kafir yang asalnya Ahlul Qiblat itu, maka dia sendiri juga kafir.

Maka ketika ditanya bahwa saya berbeda pendapat dengan anda, saya memiliki perincian pemahaman akan udzur bil jahl. Saya tidak meniadakan udzur bil jahl secara mutlaq.

Maka apakah saya kafir, karena saya tidak mengkafirkan orang Ahlul Qiblat yang antum pandang kafir karena antum meniadakan udzur bil jahl secara mutlaq?

Jika antum mengkafirkan saya, maka antum konsisten dengan pendapat antum. Adapun jika antum tidak mengkafirkan saya, maka ini berarti pemahaman antum terhadap perkataan ulama itu sebenarnya salah.

Saya kan lebih jahil (bodoh) dibandingkan ulama yang antum politisir qoulnya untuk pemahaman antum yang salah itu (karena beliau sebenarnya juga memiliki qoul lain yang mengakui keberadaan udzur bil jahl).

Nah kalau antum konsisten dengan tiada udzur bil jahl, maka mengapa antum memberikan udzur dan tidak mengkafirkan saya?

Bukannya orang yang tidak mengkafirkan orang kafir itu, maka dia sendiri juga kafir secara otomatis?

Advertisements