Serangan Amerika kepada Suriah, jauh lebih saya sukai dibandingkan serangan ISIS kepada Suriah.

Teringat ketika zaman dulu, Arab Saudi dengan fatwa Syaikh ibn Baz ber isti’anah (meminta bantuan) Amerika ketika menghadapi invasi Saddam Husain ke Kuwait.

Syaikh ibn Baz berselisih pendapat secara fiqh dengan Syaikh Albany dalam hal ini.

Adapun Saddam Husain sendiri, dengan partai Ba’ats nya yang socialist itu memang sudah dikafirkan oleh Syaikh ibn Baz rohimahulloh setau saya.

Dan permasalahan isti’anah kepada orang Kafir itu sebenarnya adalah permasalahan fiqh yang para ulama berbeda pendapat, jauh sejak zaman para Imam Madzhab.

Sebagai misal, bisa dicek di Taudhihul Ahkaam syarh Bulughul Maraam yang sedikit menjelaskan masalah ini.

***
Namun akibat dari fatwa Syaikh ibn Baz itu, yang seharusnya ditanggapi sebagai suatu Ijtihad dan perbedaan fiqh.

Orang orang yang terfitnah dan menyimpang manhaj nya mencoba memancing di air keruh.

Dengan framing bahwa ini adalah penyimpangan tauhid dalam masalah wala’ dan baro, dan bukan dianggap perbedaan Ijtihad fiqh dalam masalah isti’anah kepada orang Kafir untuk menghindari madhorot yang lebih besar.

Maka mulailah Saudi Arabia dan terutama Syaikh ibn Baz mendapatkan fitnah dan serangan dari para Haroki Takfiri.

Bahkan Muhammad Surur dengan fitnah sururiyyah nya, juga muncul setelah adanya perang Teluk itu.

Orang orang Haroki itu memang aneh, suka menclok sana menclok sini asalkan menguntungkan mereka. Dulu ketika Syaikh Albani menfatwakan bolehnya orang Palestina untuk Hijroh dari Palestina karena tidak mampu menghadapi Yahudi Israel, mereka cela dan Framing habis habisan.

Sekarang ketika Syaikh Albani berbeda pendapat dalam masalah isti’anah kepada orang Kafir dalam masalah perang Teluk dengan Syaikh ibn Baz, malah dipuja puja dan dijadikan tameng untuk mendiskreditkan dan menjatuhkan Saudi dan pemerintahannya.

Memang benar benar politik belah bambu!!

***
Orang orang yang menyimpang manhaj nya dari para Da’i Da’i di Saudi sendiri, juga menampakkan jati dirinya dan menghasut masyarakat sehubungan dengan hal ini.

Muncul orang orang seperti Safar Al Hawali, Salman Al Audah, dan Aidh Al Qorni menyebarkan fitnah nya di Saudi, yang disambut dengan gembira oleh para orang orang Haroki dan orang-orang Takfiri.

Syaikh ibn Baz rohimahulloh sampai mengeluarkan fatwa nya kepada pemerintah, sebagai landasan dan permintaan untuk menangkap dan memenjarakan orang orang tersebut.

Ketiga orang itu, yakni Safar Al Hawali, Salman Al Audah, dan Aidh Al Qorni banyak dinukil perkataan syubhat nya, guna kemudian dibantah dengan berdasarkan sunnah dan manhaj Salaf yang haq oleh Syaikh Abdul Malik ramadhan Al Jazairi hafidzahulloh di dalam kitab beliau Madaarikun Nadzor fis siyasah (Pandangan Tajam terhadap Politik).

***
Dulu orang orang Haroki hizbiyyah dan Takfiri tidak suka memakai kedok dan mengaku aku sebagai Salafi.

Tidak suka mengaku aku diri dengan apa yang sekarang ini disebut sebagai “Salafy Haroki”.

Namun semenjak munculnya fitnah perang Teluk, Saddam Husain, dan Amerika itu. Maka semuanya pun berubah.

Fitnah manhaj muwazanah dan gerakan Pluralisme Manhaj yang mulai ngetrend zaman sekarang ini, berdasarkan analisa saya seperti nya juga dimulai dan dipicu salah satunya sejak adanya fitnah perang Teluk itu.

Walaupun sebenarnya kalau ditarik lebih jauh, bisa juga itu dimulai bergulir sejak zaman perang Afghanistan tahun 80 – an ketika melawan invasi Rusia.

Adapun fenomena yang besar dan terjadi zaman sekarang ini, hanya merupakan snow ball effects dari apa apa yang dipicu sebelumnya. Yang mana bola salju itu makin hari makin besar, dengan bertambahnya fitnah yang bergulir.

 

****

Tanya :

Kenapa kasusnya syaikh bin baz tdk bs dianggap sebagai al wara’ wal baro’ ust..? Apakah ada contoh ketika zaman sahabat kasus seperti ini (sebelum imam mahzab)…?

Jawab :

Wala’ dan Baro’ itu sebenarnya amalan hati yang kemudian didhohirkan dalam tindakan. Namun tidak semua dhohir amal perbuatan itu langsung dikategorikan wala dan baro karena dilihat dulu niat dan latar belakangnya.

Misal orang tua fulan kafir, lalu anaknya yang muslim minta bantuan kepada orang tuanya itu dalam suatu hal. Maka ini tidak otomatis perkara wala dan baro.

Demikian juga sebaliknya jika sang anak membantu orang tua nya yang kafir itu akan suatu hal. Tidak otomatis ini adalah wala dan baro.

Ini juga berlaku dalam segala perkara muamalah dengan orang kafir. Tidak mesti harus otomatis dianggap perkara wala dan baro.

***
Maka dari itu Kasus Syaikh ibn Baz, kita lihat dari tiga hal :

1. Maksud atau niat dari isti’anah itu.

Apakah maksudnya karena ada kecenderungan hati, ataukah hanya muamalah terbatas biasa saja?

Ternyata itu hanya masalah muamalah biasa saja.

2. Masalah syarat syarat atau keadaan dhorurot, apakah itu terpenuhi?

Maka ternyata terpenuhi dan keadaan memang dhorurot.

3. Dilihat hasilnya. Apakah hasil sesuai yang dimaksudkan terpenuhi?

Ternyata terpenuhi, dan tidak ada pengaruh kekafiran yang mewarnai kehidupan sosial di Saudi dan Kuwait. Tidak ada madhorot dalam masalah agama yang terjadi.

Yang ada justru malah sebaliknya, sebagian tentara Amerika itu ada yg masuk Islam. Bahkan kian hari Amerika justru semakin menerima dakwah Islam bi idznillah, sehingga komunitas Islam malah makin bertambah di Amerika itu sendiri dan dakwah makin berkembang di sana. Alhamdulillah

Jika antum sudah memahami penjelasan di atas, maka sudah siap pondasi nya dan baru kita beranjak ke dalam masalah aplikasi fiqh nya.

Untuk fiqh muamalah dalam masalah isti’anah kepada orang Kafir, terutama dalam perkara perang, silakan lihat perkataan dan penjelasan para ulama dalam Link berikut ini :

https://almanhaj.or.id/1824-hukum-meminta-bantuan-kepada…

http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/…/hukum-meminta…

***

Tanya :

Poin2 apa saja Kautsar Amru yg menjadi landasan syaikh binbaz mengkafirkan saddam husein.. ?

Jawab :

Partai Ba’ats yang didirikan Michael Aflaq itu sejatinya didirikan atas ideologi sosialis yang Atheis dan Kafir. Yang mana jika ideologi tersebut sudah menjadi Aqidah nya, yakni Kafir I’tiqodi (atau Kufur I’tiqodi, biar pas terjemahan nya hehe) yang DINYATAKAN SECARA DHOHIR. Maka dia kafir dengan kekafiran yang mengeluarkan dari Islam.

Dia kafir walaupun dia syahadat dan sholat dan mengaku Muslim. Karena sudah tampak dhohir i’tiqod nya melalui pengakuannya sendiri.

Adapun jika bergabung namun sejatinya dia mengingkari nya. Dia bergabung karena hawa nafsu, kemaksiatan, dan haus kekuasaan namun dia mengakui bahwa itu sebenarnya salah dan merupakan kemaksiatan kepada Allah.

Maka dia hanyalah Kafir Amali (Atau Kufur Amali kalau ingin terjemahan yang pas), yang mana merupakan dosa besar, akan tetapi ini termasuk kufrun duuna kufrin yang tidak mengeluarkan dari Islam.

***
Adapun Syaikh ibn Baz sudah men ta’yin kafir nya Saddam karena i’tiqod nya, yakni karena kafir I’tiqodi nya sehubungan dengan partai Ba’ats yang sosialis Atheis itu.

Lihat fatwa beliau di sini :
http://www.binbaz.org.sa/mat/259

Atau lihat pembacaan fatwa beliau di rekaman siaran berita berikut :
https://youtu.be/FUor52ke7pE

***
Pesan sponsor : baca juga kitab yang saya terjemahkan ini, agar jelas maksud dan qoidah qoidah pengkafiran dalam hal ini

https://kautsaramru.files.wordpress.com/…/majmu-fatawa…

Advertisements