Saking getolnya membela mudzoharoh, sampai sampai slogan “Al Qur’an adalah makhluq” itu dianggap perbedaan pendapat saja, bukan penistaan terhadap Al Qur’an.

Sehingga mudzoharoh itu boleh karena membela dari penistaan Al Qur’an, berbeda dengan masalah slogan “Al Qur’an adalah makhluq” yang hanya dianggap perbedaan pendapat saja.

Padahal konsekuensi nya berat kalau menganggap Al Qur’an selaku Kalamullah (firman Allah) itu sebagai makhluq yang diciptakan. Allah mempunyai sifat Kalam (berbicara), maka jika apa apa yang difirmankan itu dianggap makhluq maka itu tidak ada bedanya dengan manusia yang sama-sama makhluq.

Bahkan kedudukannya lebih tinggi manusia sebenarnya, karena manusia itu adalah sebaik baik makhluq yang diciptakan.

Nah karena sama-sama makhluq, dan manusia adalah makhluk yang lebih tinggi derajatnya, maka boleh donk ngatur atur, menerima atau menolak, merubah dan mengintepretasikan sesuka hati akan makhluq yang lebih rendah tingkatan nya?

***
Belum lagi di dalam Al Qur’an itu dikhabarkan nama nama dan sifat sifat Allah juga.

Kalau Al Qur’an dianggap makhluq, maka berarti boleh donk mentakwil kan dan menta’thil kan nama dan sifat sifat Allah sekehendak hati?

Baik itu sesuai dengan hermeneutika, filsafat Perennial, dan lain lain.

Lalu apa bedanya dengan orang Liberal?

Hal yang sama berlaku juga dengan hukum hukum Allah yang tersebut di dalamnya. Bebas untuk ditakwil kan, ditafsirkan, diambil, dan ditolak sekehendak hati akan hukum hukum Allah itu.

Termasuk juga hukum dalam ayat Al Qur’an yang dilecehkan, yang antum bela dengan mudzoharoh antum itu.

***
Ironis memang.

Ngakunya membela dari penistaan yang terjadi, namun menganggap “Al Qur’an adalah makhluq” itu hanyalah sekedar perbedaan pendapat saja. Tidak dianggap sebagai penistaan.

Demikian lah akibatnya, kalo manhaj itu dianggap tidak penting.

Inilah Liberal gaya baru.

Advertisements