Pembahasan itu harus bertahap, tidak boleh langsung otomatis dianggap sedang istighotsah (meminta pertolongan) atau berdoa minta-minta kepada mayit sang penghuni kuburan.

Root cause nya sebenarnya adalah pemahaman apakah mayit itu dapat mendengar panggilan atau perkataan orang yang masih hidup, ataukah tidak.

Di sini terdapat perselisihan faham dalam memahami dalil dalil yang ada. Namun yang benar adalah mayit tidak bisa mendengar panggilan atau perkataan orang yang masih hidup.

Adapun Rasulullah berbicara dan mengatakan bahwa mayit kaum musyrikin yang Rasulullah ajak bicara itu dapat mendengar nya, maka itu adalah kasus khusus untuk Rasulullah untuk suatu hikmah tertentu. Bukan suatu rutinitas dan berlaku bagi semua orang.

Penjelasan lebih terperinci, nanti akan saya sertakan terjemahan dari fatwa lajnah daimah.

***
Nah adapun bagi fihak yang berpegang kepada pemahaman bahwa mayit itu dapat mendengar panggilan dan perkataan kita, maka walaupun ini adalah keyakinan yang salah, namun apakah mereka langsung otomatis kafir?

Al jawab, tidak. Mereka hanya salah dalam memahami nya saja.

Tapi bukankah orang yang istighotsah (meminta pertolongan) atau berdoa minta-minta kepada mayit sang penghuni kuburan itu pemahaman awalnya berasal dari sini?

Ya benar, itu efek stadium tingkat akhirnya yang merupakan kesyirikan. Namun efek efek awalnya itu, tidak bisa langsung dihukumi sebagai kesyirikan sebagaimana efek stadium tingkat akhir. Itu hal yang berbeda.

Mana bentuk penyerahan peribadahan dan penyembahan yang ada pada stadium awal, bagi orang yang meyakini mayit dapat mendengar panggilan dan suara orang yang masih hidup ? Tidak ada bukan?

Kan hanya meyakini mayit dapat mendengar. Emang itu langsung dihukumi syirik?

***
Yang namanya syirik itu adalah menyerahkan dan menisbatkan sesuatu yang khusus hanya milik dan bagi Allâh semata, kepada selain Allah.

Adapun dalam kasus ini adalah bentuk peribadahan dan penyembahan seperti istighotsah dan berdoa minta-minta kepada mayit. Yang mana istighotsah dan berdoa itu adalah hak peribadahan khusus untuk Allâh saja, tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Hatta kepada mayit di kuburan.

Bagi orang yang meyakini mayit dapat mendengar, maka dimana bentuk kesyirikan nya pada stadium awal ini? Tidak ada bukan?

Masalah ini adalah masalah keyakinan yang salah, masalah stadium awal, dan jika diterus teruskan memang dapat menjurus ke stadium akhir yang berupa kesyirikan; maka itu benar.

Namun langsung menghakimi stadium awal sebagai kesyirikan sebagaimana stadium akhir, maka itu adalah suatu kesalahan.

Sampai di sini sudah faham belum?

***
Nah efek efek ringan bagi keyakinan yang salah meyakini mayit dapat mendengar, itu adalah seperti adanya amalan mengajarkan mayit akan jawaban pertanyaan qubur yang ditanyakan oleh Malaikat setelah mayit selesai dikuburkan. Memberikan kabar, atau minta izin, atau minta restu akan peristiwa peristiwa penting yang ada di keluarga. Dan lain-lain.

Kalau ini hanya sekedar karena keyakinan mayit dapat mendengar, atau karena mengikuti tradisi untuk menghormati mayit sesepuh yang dapat mendengar. Maka jika hanya sepanjang ini saja, maka ini hukumnya hanya kebid’ahan, dan keyakinan yang salah saja.

Bukan kesyirikan secara asal, walaupun ini adalah pintu gerbang kesyirikan jika sudah sampai stadium akhir.

Berbeda jika kemudian ada keyakinan melakukan pembicaraan dengan mayit karena keyakinan agar dapat memberikan mashlahat dan menolak madhorot. Dengan tujuan untuk istighotsah (meminta pertolongan) atau berdoa minta-minta kepada mayit sang penghuni kuburan.

Nah kalau ini baru syirik.

***
Jadi maksud saya membahas secara terperinci ini adalah agar kita bisa melihat kasus per kasus. Tidak tiba-tiba langsung “njujug” skipping level, dan langsung dihukumi syirik Akbar lalu orangnya langsung dikafirkan firrr gitu.

Jadi kiranya jelas ya apa yang saya maksud? Ini kita belum masukkan juga di situ masalah udzur bil jahl lhoo….

Berikut saya copas kan terjemahan fatwa lajnah daimah, agar jelas bagi kita Root cause atau sumber permasalahannya.

Semoga seluruh penjelasan yang terperinci ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

***
APAKAH ORANG MATI DAPAT MENDENGAR PANGGILAN ORANG YANG MEMANGGILNYA ?

Oleh
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta

Pertanyaan.
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apakah para wali yang shalih mendengar panggilan orang-orang yang memanggilnya ? Apa makna sabfda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Demi Allah sesungguhnya orang yang telah meninggal dari kalian (di dalam kuburnya) mendengar bunyi langkah terompah kalian?”.

Mohon penjelasan !

Jawaban.
Pada dasarnya bahwa orang yang telah meninggal dunia baik yang shalih atau yang tidak shalih, mereka tidak mendengar perkataan manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang maha Mengetahui”. [Fathir : 14]

Begitu juga firmanNya Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar”. [Fathir : 22]

Akan tetapi terkadang Allah memperdengarkan kepada mayit suara dari salah satu rasulnya untuk suatu hikmah tertentu, seperti Allah memperdengarkan suara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang kafir yang terbunuh di perang Badar, sebagai penghinaan dan penistaan untuk mereka, dan kemuliaan untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada para sahabatnya ketika sebagian mereka mengingkari hal tersebut.

“Artinya : Tidaklah kalian lebih mendengar apa yang aku katakana daripada mereka, akan tetapi mereka tidak mampu menjawab”. [1]

Lihat pembahasan ini di kitab An-Nubuwat, kitab At-Tawassul Wa-al-Wasilah dan kitab Al-Furqan, seluruhnya karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Maka kitab-kitab tersebut cukup memadai dalam mengupas pembahasan ini.

Adapun mayat yang mendengar suara langkah orang yang mengantarnya (ketika berjalan meninggalkan kuburnya) setelah dia dikubur, maka itu adalah pengengaran khusus yang ditetapkan oleh nash (dalil), dan tidak lebih dari itu (tidak lebih dari sekedar mendengar suara terompah mereka), karena hal itu diperkecualikan dari dalil-dalil yang umum yang menunjukkan bahwa orang yang meninggal tidak bisa mendengar (suara orang yang masih hidup), sebagaimana yang telah lalu.

Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, keluarganya, dan sahabat-shabatnya.

[Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da’imah I/151-152 dari Fatwa no. 7366 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 7/I/ 1424H]
_________
Foote Note
[1]. Hadits Riwayat Ahmad -dan ini lafalnya- (I/27 : III/104, 182, 263 dan 287), Bukhari II/101 dan Nasa’i IV/110

Sumber: https://almanhaj.or.id/1477-apakah-orang-mati-dapat-mendeng…

 

****

Tanggapan :

Ibnu Taimiyyah:

وقد ثبت عنه في الصحيحين من غير وجه أنه كان يأمر بالسلام على أهل القبور . ويقول : { قولوا السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين وإنا إن شاء الله بكم لاحقون ويرحم الله المستقدمين منا ومنكم والمستأخرين نسأل الله لنا ولكم العافية اللهم لا تحرمنا أجرهم ولا تفتنا بعدهم واغفر لنا ولهم }

فهذا خطاب لهم وإنما يخاطب من يسمع

Jawab :

Na’am, itu hanya khusus masalah mendengar salam saja ustadz . Tidak untuk digeneralisir ke berbagai hal.

Sebab jika tidak, maka itu nanti akan bertentangan dengan keumuman dalil seperti

firman Allah Ta’ala:

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى

“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar” (QS. An Naml: 80)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

فَإِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى

“Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar” (QS. Ar Ruum: 52)

Juga firman-Nya:

وَمَا أَنتَ بِمُسْمِعٍ مَّن فِي الْقُبُورِ

“Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar” (QS. Fathir: 22)

Advertisements