Pluralisme dewasa ini sudah semakin memiliki ciri ciri sebagai suatu agama baru.

– Dia mempunyai konsep Tuhan sendiri
– Dia memiliki konsep salvation (penyelamatan) sendiri
– Dia memiliki konsep keimanan dan cara pandang terhadap kehidupan tersendiri.

Tinggal kurang memiliki Kitab Suci sendiri dan Nabi sendiri saja, maka Pluralisme sudah sah dinobatkan menjadi agama baru tersendiri.

***
Kalau boleh usul, nabi Pluralisme itu yang paling tepat itu ada dua sebenarnya. Yakni Nabi Humanisme dan Nabi Sekulerisme.

Btw itukan “Nabi Pemikiran”…. Kalau “Nabi Tokoh” nya diusulkan Al Hallaj, Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, Kahlil Gibran, Frithjof Schoun, dan yang semisal gimana?

Hmm terserah saja sih…. Kalau aku sih tidak mempermasalahkan… Toh para pengikut pluralisme juga sangat mendewa dewakan “para Nabi” itu…

***
Tinggal untuk masalah kitab suci nya saja, saya yang belum punya ide yang konkrit…..

Kalau dikatakan buku buku tulisan “Nabi Pemikiran” dan “Nabi Tokoh” sebagai kitab suci nya Pluralisme gimana?

Hmm saya kurang setuju. Sebab buku buku tulisan para Nabi Pluralisme itu tidak diperlakukan sebagai kitab suci oleh para pengikutnya.

Maksudnya adalah walaupun perkataan dalam buku buku itu sering dikutip, namun buku buku itu tidak pernah digunakan dalam ibadah pluralisme mereka.

Kan yang namanya kitab suci itu artinya suatu kitab yang selain bisa dipergunakan sebagai pedoman, juga harus bisa digunakan untuk ibadah.

Sedangkan buku buku mereka itu tidak memenuhi kriteria ini.

Advertisements