السؤال هناك من يقع في التوسل بغير الله ويطلب المدد من الأولياء والصالحين رغم أنه يوحد الله بالقول ويصلي ويصوم وإذا نهيناه عن ذلك كابر وجادل وحاول أن يحرِّف في معاني القرآن ويقول‏‏: إنني لا أطلب الرزق مباشرة أو دفع الضر ولكني أطلب من الله ببركتهم وصلاحهم وتقواهم فهل في هذا فرق بين من يطلبهم مباشرة أو يطلب الله بواسطتهم وهل هذا القائل على حق أم لا‏ ؟‏

Pertanyaan :

Pada suatu tempat terdapat orang yang melakukan tawassul kepada selain Allâh, yakni dengan cara meminta bantuan dan dukungan dari para wali dan para orang Sholeh [yang telah meninggal – pent].

Walaupun begitu dia tetap mentauhidkan Allah dengan perkataan lisannya, dan dia juga tetap melakukan sholat dan puasa.

Jika dia kami larang dari perbuatan tawassul itu, maka dia malah justru menantang kami, mengajak debat, dan bahkan berusaha untuk merubah makna yang dimaksud di dalam Al Qur’an [guna membuat syubhat untuk membenarkan perbuatannya -pent]

Dia berkata :
“Sesungguhnya aku tidak meminta rizqi secara langsung [kepada yang dijadikan perantara tawassul itu – pent], atau meminta perlindungan dari madhorot secara langsung kepadanya.

Akan tetapi aku meminta kepada Allah dengan melalui barokah para wali dan orang orang Sholeh, meminta kepada Allah dengan melalui kebaikan dan keutamaan yang mereka miliki, dan meminta kepada Allah dengan melalui ketaqwaan yang mereka miliki.”

Berdasarkan itu, maka apakah ada perbedaan antara meminta secara langsung kepada para wali dan orang sholeh, dengan meminta kepada Allah namun dengan menjadikan mereka sebagai penengah [untuk meminta kepada Allah – pent] ?

Dan apakah pernyataan ini [yang dikatakan olehnya tadi -pent] benar atau tidak?

نص الإجابة التوسل بالأموات والغائبين أمر محرم ولا يجوز؛ لأن الميت والغائب لا يقدر أن يعمل شيئًا مما طلب منه ثم هذا يختلف حكمه باختلاف نوع التوسل فإن كان توسلًا بالغائب والميت ويتقرب إليه بشيء من أنواع العبادة كالذبح له والنذر له ودعائه فهذا شرك أكبر ينقل من الملة – والعياذ بالله – ؛ لأنه صرف نوع من أنواع العبادة لغير الله ، أما إذا كان التوسل بالغائب والميت بمعنى أنه يدعو الله سبحانه وتعالى ويجعل هذا واسطة فيقول‏‏: أسألك بحق فلان فهذا بدعة لا يصل إلى حد الشرك الأكبر لكنه بدعة محرمة وهو وسيلة إلى الشرك وباب إلى الشرك فلا يجوز التوسل بالأموات والغائبين بهذا المعنى ، فإن كان يطلب منهم الحاجة ويذبح لهم فهذا شرك أكبر قال الله تعالى‏‏ : ‏( ‏وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ) ‏[‏يونس :‏‏ 18‏]‏‏ .

Jawab :

Tawassul bil amwaat (tawassul kepada orang-orang yang telah meninggal) dan tawassul kepada hal-hal yang ghoib, adalah perkara haram dan tidak boleh untuk dilakukan.

Ini karena para mayit dan hal-hal yang ghoib itu, sebenarnya tidak memiliki kekuasaan untuk melakukan apapun untuk memenuhi yang diminta kepada mereka.

Adapun hukum dari tawassul ini sendiri berbeda beda, tergantung dari jenis tawassul nya.

Jika seseorang bertawassul kepada hal hal yang ghoib dan mayit, dengan cara berusaha untuk mendekatkan diri kepada mereka (taqorrub) melalui sesuatu yang merupakan bentuk dari bentuk peribadahan.

Seperti menyembelih untuk mereka (mayit dan hal hal yang ghoib), melakukan nadzar untuk mereka, dan melakukan doa kepada mereka.

Maka ini merupakan syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari agama. – wal ‘iyadzubillaah (dan kami berlindung kepada Allah dari hal itu) -.

Ini merupakan syirik besar, karena mereka telah merubah suatu jenis dari jenis-jenis peribadahan untuk diberikan kepada selain Allah.

Adapun jika tawassul kepada hal hal yang ghoib dan mayit ini dilakukan dengan makna pengertian, bahwasanya mereka beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’aala sembari menjadikan hal ini [hal hal yang ghoib dan mayit -pent] sebagai penengah dari ibadah mereka.

Yang mana mereka berkata : “Aku meminta kepada-Mu wahai Allah dengan berdasarkan haq Fulan”.

Maka ini adalah kebid’ahan yang tidak sampai kepada batas syirik Akbar. Ini adalah suatu kebid’ahan yang diharamkan. Yang mana tawassul jenis ini merupakan wasilah (perantara) menuju ke kesyirikan [akan tetapi ini bukan syirik secara dzat -pent], dan juga merupakan pintu menuju ke kesyirikan.

Maka tidak diperbolehkan untuk bertawassul dengan makna pengertian ini. Dan jika mereka sampai meminta kepada yang dijadikan sebagai penengah itu [hal-hal ghoib dan para mayit – pent] , untuk memenuhi hajat keperluan mereka. Dan mereka melakukan penyembelihan untuk penengah itu. Maka ini [berubah menjadi – pent] syirik besar.

Allah ta’ala berfirman,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّه

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah” [QS Yunus : 18]

Sumber :
http://www.alfawzan.af.org.sa/node/10330

Advertisements