Dulu yang membuat saya senang belajar ushul fiqh, yakni agar bisa membedakan apakah sesuatu itu bisa sah dianggap sebagai dalil atau tidak. Sehingga kita bisa lebih obyektif dalam memandang permasalahan.

Adalah perkataan salah seorang ulama Indonesia dalam kitab “Soal Jawab” nya, yang selalu ringan berkata :

“Perkataan ulama itu bukan dalil”.

Biasanya ini dikatakan sebagai jawaban atas orang orang yang ngeyel taqlid kepada perkataan ulama, setelah diterangkan dalil dalilnya.

***
Sikap anti main stream ini cukup membantu dalam mengambil sikap, ketika pada zaman fitnah ini banyak perkataan ulama yang sengaja diselewengkan, dan dipilih pilih untuk mengelabui orang lain.

Terutama dalam masalah penyimpangan manhaj.

Ini membantu agar kita fokus saja terhadap dalil, dan koherensi pemahaman yang dibawakan dengan berdasarkan dalil itu.

Jika koheren dengan dalil, kita ambil. Jika tidak koheren, kita tinggal.

Jika hanya tipu tipu, maka kita pun juga faham muslihat nya.

***
Salah satu senjata yang selalu diulang ulang oleh orang yang “tidak terima” dengan cara ini, namun tidak memiliki argumentasi yang cukup kuat untuk membantah nya, adalah tuduhan bersikap “kurang ajar” dan “tidak hormat” kepada ulama.

Hal itu kita jawab bahwa justru sikap ini adalah cara untuk menghormati para ulama yang sebenarnya.

Yakni dengan menimbang secara ilmiah perkataan perkataan ulama, mencoba mendudukkannya, mengembalikannya kepada dalil, dan memilah milah mana perkataan ulama yang benar dan yang salah.

Memilah milah mana perkataan ulama yang sesuai dengan maksud dan duduk perkara nya, dan mana perkataan ulama yang sengaja diselewengkan.

Sebab jika seluruh perkataan ulama dianggap benar semua, maka justru inilah sikap “kurang ajar” dan “tidak hormat” kita pada ulama itu yang sebenarnya.

Kita bersikap kurang ajar dan tidak hormat kepada para ulama karena menganggap mereka ma’shum, menganggap semua perkataan mereka benar, dan mengangkatnya hingga dianggap setara dengan derajat kenabian.

Sikap kurang ajar dan tidak hormat kepada para ulama manakah yang lebih besar dari ini?

***

Tanya :

Sak jane beda dalil sm pendapat tu opo yo..

Jawab :

Dalam tataran praktis,
Yang namanya dalil itu tidak boleh kita tolak. Wajib diterima dan didudukkan agar koheren dengan dalil dalil yang lain.

Adapun yang namanya pendapat, hanya kita terima dan ikuti jika koheren dan sesuai dengan seluruh dalil yang ada. Adapun jika tidak koheren atau tidak sinkron dengan dalil dalil yang ada, maka boleh kita tolak, atau kita “peti es” kan dulu, atau kita tafsirkan serta jabarkan agar tidak bertentangan dengan dalil dalil yang ada.

Advertisements