Diskusi yang indah dan mengagumkan bersama Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rohimahulloh:

Mengenai permasalahan perbedaan antara perkara yang jelas (Azh Zhohiroh) dan perkara yang samar atau tersembunyi (Al Khofiyah) bagi seseorang, yang mana ini berkaitan dengan hal Iqomatul Hujjah wal Bayan (Menegakkan argumentasi bukti dan penjelasan) pada perkara yang bersifat nisbi (relatif)

*******
بسم الله الرحمن الرحيم

Penanya :
Fadhilatusy Syaikh, Assalamualaikum

Syaikh Utsaimin :
Wa alaikumussalaam wa rohmatulloohi

Penanya :
Bagaimana pendapatmu mengenai orang yang mengatakan “laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah” kemudian dia berbuat suatu kemungkaran dengan menyembelih untuk selain Allah. Apakah orang ini masih dianggap Muslim?

Yang mana diketahui, orang yang melakukan ini tumbuh besar dan hidup di negeri Islam.

Syaikh Utsaimin :
Menyembelih untuk selain Allah [perkataan beliau ini kurang “kaifa” (mengapa)]. Menyembelih untuk selain Allah?

Penanya :
Menyembelih untuk selain Allah. Yang mana dikatakan, jika aku meninggalkan dari melakukan ini maka nanti akan terjadi suatu madhorot yang menimpaku atau keluarga ku [baca : nanti akan kuwalat – pent]

Syaikh Utsaimin :
Tidak, yang aku maksud dari perkataan ku, kenapa sampai terjadi menyembelih untuk selain Allah?

Penanya :
[Pokoknya – pent] Menyembelih untuk selain Allâh.

Syaikh Utsaimin :
Apakah yang dimaksud dengan menyembelih untuk selain Allah ini, adalah suatu perbuatan dan media dengan tujuan untuk mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah?

Penanya :
Dengan kata lain seperti itu. Iya, benar.

Syaikh Utsaimin :
Perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah ini (taqorrub), yang mana dilakukan dengan cara menyembelih untuk selain Allah ini, maka dia adalah orang musyrik yang melakukan kesyirikan dengan syirik Akbar.

Tidak bermanfaat baginya perkataannya “Laa ilaaha illallaah”, tidak bermanfaat baginya sholat nya, dan juga amalan amalan ibadah lainnya.

Alloohumma, kecuali jika dia tinggal dan tumbuh besar di negeri yang jauh [dari Saudi – pent]. Yang mana di sana tidak beredar dan tersebar luas pemahaman mengenai hukum ini. Maka orang seperti ini termasuk orang yang mendapatkan udzur karena kejahilannya (kebodohan dan ketidakfahaman nya) [dia tidak dikafirkan karena melakukan syirik besar itu – pent]. Akan tetapi dia wajib untuk diberikan pelajaran dan pemahaman ilmu yang benar mengenai hal ini.

Penanya :
Kenapa hal itu berlaku bagi negeri yang jauh?

Syaikh Utsaimin :
Yakni sebagaimana misal. Seseorang tinggal dan hidup di suatu negeri yang jauh dari kerajaan [kerajaan Saudi]. Yang mana di negeri jauh yang dia tinggali itu, tersebar luas praktik amalan penyembelihan untuk selain Allah. Penyembelihan untuk penghuni kubur, dan penyembelihan untuk para wali.

Yang mana perbuatan ini di sisi mereka dianggap dianggap tidak apa-apa dan biasa saja [karena ‘toh’ mereka menganggap itu bertujuan sebagai sarana taqorrub kepada Allah – pent].

Dan mereka tidak mengetahui bahwa ini adalah perbuatan syirik atau perbuatan haram.

Maka untuk orang seperti ini diberikan udzur karena kejahilannya.

Adapun orang yang sudah dikatakan kepadanya [guna iqomatul hujjah wal bayan –pent] : ‘Ini adalah kekafiran [maka tinggalkanlah – pent]]’.
Kemudian dia malah berkata, ‘Tidak, bagaimana mungkin aku meninggalkan penyembelihan untuk wali? [padahal sudah jelas baginya dan dia faham bahwa ini adalah kesyirikan setelah iqomatul hujjah – pent]’

Maka orang ini dianggap sudah ditegakkan hujjah baginya, maka dia pun menjadi Kafir [dia baru dikafirkan karena dia tetap melakukan itu, walaupun dia sudah faham bahwa itu adalah syirik Akbar- pent]

Penanya :
Jika misal sudah diberikan nasehat dan dikatakan kepada nya ‘Sesungguhnya ini syirik’. Maka apakah boleh dimutlakkan kepada nya sebutan “Musyrik”, “Kafir “?

Syaikh Utsaimin :
Ya. Dia musyrik, kafir, murtad. Dia diminta untuk bertaubat atasnya. Jika dia mau untuk bertaubat [maka inilah yang diharapkan –pent], adapun jika dia tidak mau bertaubat maka dia dibunuh [oleh pemerintah selaku pihak yang berwenang – pent]

Penanya :
Apakah ada perbedaan antara perkara yang jelas (Azh Zhohiroh) dan perkara yang samar atau tersembunyi (Al Khofiyah) [dalam masalah syirik ini – pent]

Syaikh Utsaimin :
Yang dimaksud hal yang samar atau tersembunyi (Al Khofiyah) itu adalah hal yang memerlukan penjelasan atasnya.

Penanya :
Seperti misal yang bagaimana?

Syaikh Utsaimin :
Seperti misal masalah yang ditanyakan ini. Sebagaimana yang dikatakan : “aku tinggal di tengah tengah suatu kaum yang melakukan amalan ibadah berupa penyembelihan untuk para wali. Sedangkan mereka tidak mengetahui [atau tidak memahami – pent] bahwa ini adalah perbuatan haram.”

Apakah antum faham [yang dimaksud – pent] ? Inilah yang disebut perkara yang samar-samar dan tersembunyi itu.

Ini karena perkara yang jelas (Azh Zhohiroh) dan perkara yang samar atau tersembunyi (Al Khofiyah) itu merupakan hal yang nisbi (relatif).

Bisa saja sesuatu itu jelas dan terang (Azh Zhohiroh) bagi saya, namun itu samar atau tersembunyi (Al Khofiyah) bagimu. Dan sebaliknya bisa juga sesuatu itu samar atau tersembunyi (Al Khofiyah) bagi saya, namun itu jelas dan terang (Azh Zhohiroh) bagimu.

Penanya :
Bagaimana cara saya Iqomatul Hujjah atasnya kalau begitu? Dan hujjah apakah yang saya tegakkan atasnya?

Syaikh Utsaimin :
Hujjah atasnya adalah bahwasanya Allâh ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ

“Katakanlah sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku” (Q.S al-An’ām : 162-163)

Allah juga berfirman,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah sembelihan [pada hari raya idul kurban atau idul adha – pent] ” [QS. Al Kautsar : 1-2]

Ini adalah dalil bahwa menyembelih (kurban) dengan tujuan untuk mendekatkan diri (taqorrub) dan pengagungan itu, adalah suatu bentuk ibadah. Dan barangsiapa yang mempersembahkan bentuk peribadahan untuk diberikan kepada selain Allah, maka dia musyrik.

Penanya :
Zein (baiklah).
Dilihat dari pendapat yang dinisbatkan kepada orang yang membedakan [antara azh zhohiroh dan al khofiyah –pent], yang mana dia berkata
“Tidak ada udzur bil jahl [dalam perkara syirik Akbar –pent]karena ini termasuk perkara Azh Zhohiroh (yang jelas dan terang). Adapun yang dimaksud masalah yang samar-samar atau tersembunyi (Al Khofiyah) itu adalah suatu masalah yang diperselisihkan oleh manusia.”

[Maka bagaimana pendapatmu mengenai perkataan ini Syaikh? –pent]

Syaikh Utsaimin :
Sudah aku katakan kepadamu sekarang ini [penjelasan mengenai hal ini –pent], hingga kamu pun tahu masalah yang jelas (Azh Zhohiroh) dan masalah yang samar atau tersembunyi (Al Khofiyah).

Maka [sekarang aku tanyakan kepadamu –pent] apakah seluruh manusia sama dalam memahami hal ini, ataukah tidak?

Penanya :
Tidak, mereka tidak sama [dalam memahami hal ini –pent]

Syaikh Utsaimin :
[Ya benar –pent] tidak sama. Terkadang ada suatu perkara yang bagiku ini merupakan perkara yang zhohir (jelas), dan tidak ada kesukaran dalam memahaminya. Namun bagi orang lain, ini dianggap perkara khofi [samar-samar dan tersembunyi, yang tidak jelas maksud dan cara memahaminya –pent]

Sampai-sampai dalam masalah pendalilan (istidlal) pun : Sebagian ulama memahami bahwa ini adalah dalil yang jelas dalam menghukumi suatu perkara itu. Sedangkan sebagian ulama yang lain memahami bahwa ini adalah dalil yang khofi baginya dalam menghukumi perkara itu.

Inti dari pembahasan ini adalah : bergantung dari sampainya [hujjah dan penjelasan –pent] kepada manusia

Penanya :
Sampainya Al Hujjah

Syaikh Utsaimin :
Al Hujjah

Penanya :
Yakni [sampainya hujjah itu –pent] adalah Al Qur’an itu sudah sampai kepadanya?

Syaikh Utsaimin :
Yang dimaksud telah sampai hujjah kepadanya adalah jika dikatakan [disampaikan pemahaman –pent] kepadanya “Perbuatan yang engkau lakukan itu adalah kesyirikan”. Maka jika dia tetap melakukannya [setelah dia faham –pent], maka tidak ada lagi udzur baginya.

Penanya :
Yakni, harus diberitahu sampai dia memahaminya?

Syaikh Utsaimin :
Ya, harus. Dia harus diberitahu dan dijelaskan sampai dia memahaminya. Na’am

Penanya :
Berikut ini ada suatu masalah [berkaitan dengan hal ini –pent]. DI sana terdapat suatu syubhat yang berkata “Perbuatannya Syirik, namun pelakunya dianggap tidak musyrik! [bagaimana bisa? –pent]”.

Bagaimana cara kita membantah syubhat ini?

Syaikh Utsaimin :
Ini shohih (benar). Dia tidak dianggap musyrik jika belum tegak hujjah atasnya.

Penanya :
Bukankah telah tegak hujjah atasnya? Yakni dengan sampainya Al Qur’an kepadanya.

Syaikh Utsaimin :
Bukankah orang yang mengatakan “Alloohumma, ya Allah. Engkau adalah hambaku, dan aku adalah Rabb-Mu (Tuhan-Mu)”, maka dia telah mengatakan kekafiran?

[Ini adalah potongan hadits shohih riwayat Bukhori-Muslim mengenai keutamaan taubat, yang mana seseorang yang putus asa hampir meninggal di padang pasir. Kemudian dia sangat bergembira karena tiba-tiba menemukan unta dan perbekalannya yang sebelumnya hilang, hingga dia sampai kepleset lidah berkata “Alloohumma, ya Allah. Engkau adalah hambaku, dan aku adalah Rabb-Mu (Tuhan-Mu)”, karena saking gembiranya –pent]

Penanya :
Ya. [Dia telah mengatakan kekafiran yang menyebabkan dia jadi kafir –pent]

Syaikh Utsaimin :
Akan tetapi dia ternyata tidak dikafirkan, karena dia hanya salah berkata disebabkan kegembiraannya yang amat sangat.

Dan juga bukankah seseorang yang dipaksa di atas kekafiran, sehingga dia berada di atas kekafiran secara zhohir, akan tetapi hatinya tetap tenang dengan keimanan?

[Syaikh memaksudkan kepada firman Allah QS An Nahl : 106,

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” –pent]

Dan para ulama juga berkata : “Kalimatnya adalah kekafiran, akan tetapi pelakunya tidak.”

Ini berlaku bagi orang yang belum tegak hujjah atasnya , dan yang kita tidak mengetahui hal keadaannya [yang menyebabkan dia melakukan itu –pent].

Adapun jika kita telah mengetahui hal keadaannya [yakni telah tegak hujjah penjelasan dan dia memahaminya –pent] : Maka apa lagi yang tersisa?. Kalau kita tetap katakan, “Dia tidak kafir!”, maka ini maknanya : “Tidak ada seorang pun orang kafir! Tidak tersisa seorangpun yang bisa dikafirkan!”

Sampai-sampai orang yang telah wajib baginya untuk Sholat, namun dia tidak melakukan sholat, tetap kita katakan : “Orang ini tidak mungkin untuk kita kafirkan”?

Penanya :
Tidak Syaikh [bukan ini yang dimaksud –pent]. Akan tetapi yang dimaksud adalah jika hal ini dinisbatkan ke perkataan Ibnu Taimiyah.

Syaikh Utsaimin :
Bahkan hingga kepada Ibnu Taimiyah, bahkan hingga Ibnu Taimiyah pun juga berkata : “Jika telah sampai kepadanya hujjah, maka berarti dianggap telah tegaklah baginya hujjah”

Penanya :
Jika telah sampai kepadanya hujjah, maka tidak dibutuhkan kepadanya pengertian dan penjelasan. Maka apakah tidak dianggap sebenarnya telah sampai kepadanya hujjah, dengan telah sampainya Al Qur’an dan [Sunnah –pent] Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam kepadanya?

Syaikh Utsaimin :
Tidak cukup, hal ini tidak cukup

Penanya :
Bagaimana itu maksudnya?

Syaikh Utsaimin :
Saya berikan suatu contoh permisalan jika adalah seorang ‘Ajam (non Arab yang tidak faham bahasa Arab). Yang mana dia tidak bisa memahami Al Qur’an berkaitan dengan apa maknanya?

[maka bagaimana dengan kondisi ini, padahal Al Qur’an dan As Sunnah telah sampai kepadanya namun dia tidak faham ? –pent]

Penanya :
Yakni, ini berarti belum sampai hujjah kepadanya?

Syaikh Utsaimin :
Bukan begitu. Hujjah telah sampai kepadanya. Yang mana dia telah memperolehnya dan mendengarnya. Akan tetapi wajib baginya untuk bisa memahami maknanya.

[Yakni bukan hanya sekedar “sampai” saja, tapi juga harus faham maksudnya –pent]

Penanya :
Bagaimana itu Syaikh [maksudnya –pent]?

Syaikh Utsaimin :
Yakni aku katakan : wajib baginya untuk memahami maknanya. Baarokalloohu fiik (Semoga Allah memberikan barokah-Nya kepadamu)

Penanya :
[Akan tetapi dikatakan –pent] Tidak perlu dijelaskan sampai dia faham. Orang itu Kafir [Sang penanya menyandarkan kepada perkataan Ibnu Taimiyah rohimahullah]

Syaikh Utsaimin :
Tidak, Ibnu Taimiyah tidak berkata seperti itu.

Penanya :
[Ini ada di dalam –pent] risalah kitab yang ditulis oleh Syaikh Ishaq bin ‘Abdurrahman

Syaikh Utsaimin :
Al Muhim (Yang kita fahami), bahwasanya Syaikhul Islam [Ibnu Taimiyah –pent] dan kitab-kitabnya sudah ma’ruf bahwa beliau adalah sosok orang yang paling jauh dari pengkafiran (At-Takfir).

Penanya :
Bukan, ini bukan dalam masalah pengkafiran (At Takfir). Kita hanya mengatakan : “Masalah ini tidak butuh kepada iqomatul Hujjah, dan tidak ada keharusan untuk menjelaskan kepadanya hingga dia mengerti dan memahaminya”.

Syaikh Utsaimin :
Tetap ada keharusan untuk menjelaskan hingga dia faham dan mengerti.

Penanya :
Karena ini termasuk dalam masalah Azh zhohiroh (yang sudah jelas) [sehingga tidak butuh iqomatul hujjah –pent].

Syaikh Utsaimin :
Ini bukan termasuk ke dalam masalah Azh Zhohiroh (jelas).

Ini memang sudah sampai kepada orang ‘Ajam (Non Arab yang tidak faham bahasa Arab). Sekarang jika aku katakan suatu permisalan kepadamu “Seorang ‘Ajam (Non Arab yang tidak faham bahasa Arab) atau mungkin bahkan orang Arab [sekalipun –pent], maka jika aku bacakan tilawah Al Qur’an kepadanya maka apakah dia pasti akan langsung dapat mengetahui dan memahaminya [makna-maknanya –pent]?

Penanya :
Mungkin itu Syaikh [sang penanya sedikit berkata dan menyela perkataan Syaikh, silakan dengar rekaman audionya –pent]

Syaikh Utsaimin :
Tidak, sabar dulu. Ini bukanlah tempat untuk diskusi debat di sini. Ini adalah tempat untuk tanya-jawab saja. Diskusi debat nanti antara aku dan kamu saja.

Adapun sekarang yang terpenting adalah faedah bagi seluruh jamaah yang hadir di sini. Sesungguhnya [iqomatul hujjah itu –pent] tidak cukup hanya semata-mata sampai hujjah kepadanya, dengan tanpa dia bisa memahami apa yang sampai kepadanya itu.

Karena jika kita misalkan seorang ‘Ajam (Non Arab yang tidak faham bahasa Arab), yang mana kita bacakan kepadanya Al Qur’an padanya pada pagi [hingga –pent] petang. Akan tetapi dia tidak faham apa maknanya. Maka apakah ini berarti telah tegak iqomatul Hujjah kepadanya?

[Sedangkan Allah berfirman -pent],

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi PENJELASAN DENGAN TERANG kepada mereka.” [QS Ibrahim : 4]

—-
Perkataan Syaikh habis sampai di sini.

Sumber :
Rekaman dari acara Liqoo-ul Baab Al Maftuuh no ke 48, side B

Rekaman audio dapat di dengar atau diunduh di :
https://drive.google.com/…/0B3FT6ui1GzNVY0hwSVZNUjNnVTg/view

Rekaman dapat juga didengar via youtube di :
https://www.youtube.com/watch…

Sumber transkrip : https://www.sahab.net/forums/index.php…

Teks Asli :

مناقشة بديعة للشيخ محمد بن صالح العثيمين -رحمه الله – مع شخص يفرق بين المسائل الظاهرة والخفية في مسألة إقامة الحجة وبيان أنه أمر نسبي

بسم الله الرحمن الرحيم

( السائل : فضيلة الشيخ : السلام عليكم ورحمة الله .

الشيخ : وعليكم السلام ورحمة الله .

السائل : ما رأي فضيلتكم بمن يقول : لا إله إلا الله محمد رسول الله ، ثم يرتكب منكراً وهو الذبح لغير الله ، فهل يكون هذا مسلم ؟ مع العلم أنه نشأ في بلاد الإسلام ؟ .

الشيخ : يذبح لغير الله ( واشلون [كيف ]) يذبح لغير الله ؟

السائل : يذبح لغير الله ، يقول أنا إن ترك هذا الأمر فسوف يضرني أو يضر أهلي .

الشيخ : لا ، أنا أقول (واشلون ) يذبح لغير الله ، كيف ؟

السائل : يذبح لغير الله .

الشيخ : يعني ، يتقرب إلى هذا الغير بالذبح له ؟

السائل : اي ، نعم .

الشيخ : هذا الذي يتقرب إلى غير الله بالذبح له :(أي لهذا الغير ) مشرك شركاً أكبر ، ولا ينفعه قول ” لا إله إلا الله ” ، ولا صلاة ، ولا غيرها ، اللهم إلا إذا كان ناشئاً في بلاد بعيدة ، لا يدرون عن هذا الحكم ، فهذا معذور بالجهل ، لكن يعلَّم .

السائل : كيف يكون في بلاد بعيدة ؟

الشيخ : يعني ، مثلاً ، أفرض أنه عاش في بلاد بعيدة ليسبالمملكة[ السعودية] في بلاد يذبحون لغير الله ، ويذبحون للقبور ، ويذبحون للأولياء ، وليس عندهم في هذا بأس ، ولا علموا أن هذا شرك أو حرام : فهذا يُعذر بالجهل ، أما إنسان يقال له : هذا كفر ، فيقول : لا ، ما يمكن أترك الذبح للولي : فهذا قامت عليه الحجة ، فيكون كافراً .

السائل : فإذا نُصح وقيل له : إن هذا شرك ، فهل أُطلق عليه إنه ” مشرك ” ” كافر ” ؟ .

الشيخ : نعم ، مشرك ، كافر ، مرتد ، يستتاب ، فإن تاب وإلا قتل .

السائل : وهل هناك فرق بين المسائل الظاهرة والمسائل الخفية ؟ .

الشيخ : الخفية تُبيَّن .

السائل : مثل ايش ؟

الشيخ : مثل هذه المسألة ، لو فرضنا أنه يقول : أنا أعيش في قوم يذبحون للأولياء ، ولا أعلم أن هذا حرام , فهمت ؟

هذه تكون خفية ؛ لأن الخفاء والظهور أمر نسبي ، قد يكون ظاهراً عندي ما هو خفيٌ عليك ، وظاهرٌ عندك ما هو خفيٌّ عليَّ .

السائل : وكيف أقيم الحجة عليه ؟ وما هي الحجة التي أقيمها عليه ؟ .

الشيخ : الحجة عليه ، أن الله تعالى قال: ( قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ ) ،وقال تعالى : ( إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ) ، فهذا دليل على أن النحر للتقرب والتعظيم عبادة ، ومن صرف عبادة لغير الله : فهو مشرك .

السائل : زين , بالنسبة لمن فرق ، فقال لا يعذر بالجهل لانها من المسائل الظاهرة وأما المسائل الخفية مما تنازع فيه الناس؟

الشيخ : أنا قلت لك الآن وأنت تعرف الظهور والخفاء ، هل يستوي الناس فيه ؟

هل يستوي الناس فيه أو لا ؟

السائل : لا ، ما يستون .

الشيخ : ما يستون ،قد يكون هذا الشيء عندي ظاهر
، ما فيه إشكال وعند الآخر خفي ، حتى في الإستدلال بالأدلة بعض العلماء يرى أن هذا الدليل واضح في الحكم والآخر يخفى عليه .
الكلام بس على بلوغه للإنسان .

السائل : بلوغ الحجة .

الشيخ : الحجة .

السائل : يعني أن القران وصل ؟

الشيخ : فإذا بلغته الحجة وقيل له : هذا الفعل الذي تفعله شرك ، فَفَعَلَه : ما بقي عذر .

السائل :يعني يعرَّف ؟ .

الشيخ :اي، لازم ، لازم أن يُعرَّف.

الشيخ : نعم

السائل : هذه مسألة ، وهناك وردت شبهة وهي أنه يقال : إن فعله شرك وهو ليس بمشرك ! فكيف نرد ؟ .

الشيخ :هذا صحيح ، ليس بمشرك إذا لم تقم عليه الحجة .

السائل : ألم تقم عليه الحجة ؟ يعني بلغه القران .

الشيخ : أليس الذي قال : ( اللهم أنت عبدي وأنا ربك ) ، مو قال بالكفر ؟

السائل : نعم .

الشيخ : ولم يكفر ؛ لأنه أخطأ من شدة الفرح ، وأليس المُكره يُكره على الكفر فيكفر ظاهراً لكن قلبه مطمئن بالإيمان ؟

والعلماء الذين يقولون : ” كلمة كفر دون صاحبها ” ، هذا إذا لم تقم عليه الحجة ، ولم نعلم عن حاله ، أما إذا علمنا عن حاله : وش يبقى ؟! نقول : ما يكفر! معناه : ما أحد كافر! ، ما يبقى أحد يكفر ! ، حتى المصلي الذي ما يصلي نقول : ما يمكن أن يكفر ؟

السائل : لا ، شيخ بالنسبة لكلام ابن تيمية ؟

الشيخ : حتى ابن تيمية ، حتى ابن تيمية يقول : إذا بلغته الحجة : قامت عليه الحجة .

السائل : إذا بلغته الحجة ، لا يُعَّرَف ، بلغته الحجة القران والرسول صلى الله عليه وسلم؟.

الشيخ : ما يكفي ، ما يكفي .

السائل : كيف يعني ؟

الشيخ : أفرض أنه أعجمي ، ما يفهم القران أيش معناه ؟

السائل : يعني ما بلغته ؟

الشيخ : لا بلغته ، وصل ، سمع ، لكن لا بد أن يفهم المعنى .

السائل : كيف شيخ ؟

الشيخ : يعني أقول لا بد أن يفهم المعنى ، بارك الله فيك .

السائل : يقول لا يُعَّرف كافر [ يقصد السائل ابن تيمية -رحمه الله – ].

الشيخ : لا ، ما قال هذا .

السائل : في رسالة للشيخ اسحاق بن عبد الرحمن .

الشيخ : المهم ، شيخ الإسلام كتبه معروفة وهو من أبعد الناس عن التكفير .

السائل: لا ، ما هو تكفير ، نقول هذه المسألة يعني ما يحتاج إقامة الحجة ، ولكن لا يلزم أن يُعَّرَف؟

الشيخ : لازم يُعََّرَف ؟

السائل : لانها مسائل ظاهرة .

الشيخ : ما هي بظاهرة .

السائل : الذي يَصِلُ الأعجميّ ، أنا قلت لك مثل الأعجميّ يمكنالعربي إذا تلوت هذا القران عَرَف .

السائل : ممكن يا شيخ ؟.

الشيخ : لا ، اصبر ، المسألة ما هي مناظرة في هذا المكان ، هذا المكان سؤال جواب ، والمناظرة بيني وبينك .
إنما الآن الفائدة للجميع .
إنه لا يكفي بمجرد البلوغ حتى يفهمها .
لأنه لو فرضنا أنه إنسان أعجميّ ونقرأ عليه القرآن صباحا ومساء لكن لا يدري ايش معناها : هل قامت عليه الحجة ؟
{ وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ } . )) .انتهى كلام الشيخ رحمه الله

” لقاء الباب المفتوح شريط رقم 48 الوجه ب “

Advertisements