1. Yang namanya tathoyyur itu artinya adalah merasa sial, atau merasa nanti akan terkena suatu madhorot, atau kalau bahasa jawa nya “kuwalat”; dengan tanpa adanya suatu alasan yang logis atau dalil dari syariat.

Jika orang yang “takut kuwalat” atau yang bertathoyyur itu tetap menisbatkan madhorot itu kepada Allah. Yakni karena saya melakukan atau tidak melakukan ini, maka saya sial atau kuwalat, namun tetap semuanya itu dari Allâh semata.

Maka ini termasuk kesyirikan kecil, yakni karena dia tidak bertawakal sepenuhnya kepada Allah, dan bergantung kepada selain Allah.

Inilah hukum asalnya, yakni syirik kecil. Dan orang yang melakukan syirik kecil tidak dikafirkan.

Hanya saja syirik kecil itu adalah pintu pembuka, atau pintu gerbang, yang bisa berubah menjadi syirik besar. Adapun jika seseorang melakukan syirik besar, maka dia dikafirkan.

Ini adalah KONDISI PERTAMA

***
2. Kondisi pertama ini adalah kondisi yang kebanyakan terjadi pada masyarakat Islam di Indonesia.

Merasa nanti akan sial atau kuwalat atau celaka karena suatu hal. Seperti jika melihat burung gagak itu berarti nanti ada orang mati, nabrak kucing berarti nanti celaka, angka 4 dan 13 adalah angka sial, dan lain lain.

Termasuk juga jika tidak minta izin ke kuburan orang tua yang sudah meninggal ketika mau menikah, takut jika kuwalat.

Orang orang di Indonesia yang merasa kuwalat atau takut sial ini, jika ditanya siapakah yang memberikan madhorot ini, tentu mereka berkata Allah yang memberikan madhorot karena Allah yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, yang Maha berkuasa untuk memberikan mashlahat dan madhorot.

Maka dari itu ini dinamakan syirik ashghor atau syirik kecil, bukan syirik besar dan mereka tidak dikafirkan karena hal ini.

***
3. Sekarang KONDISI YANG KEDUA :

Jika seseorang melakukan tathoyyur, katakanlah dengan berkunjung dan minta izin ke kuburan orang tua nya, namun sembari melakukan syirik kecil itu, dia juga memberikan bentuk bentuk peribadahan kepada kuburan tersebut.

Katakanlah dia memberikan bentuk peribadahan seperti doa, sholat, penyembelihan, dan nadzar kepada sang penghuni kubur karena takut “kuwalat” sebagai akibat tathoyyur nya itu.

Maka ini termasuk ke dalam syirik Akbar (syirik besar), yang menyebabkan seseorang dapat dikafirkan karena syirik besar yang dia lakukan.

Kenapa?
Karena yang namanya syirik itu adalah menyerahkan sesuatu yang khusus hanya bagi dan milik Allah saja, kepada selain Allah.

Dalam kasus ini yang namanya bentuk peribadahan dan penyembahan itu adalah hak milik Allah semata.

Maka walaupun dia memiliki keyakinan bahwa yang memberikan mashlahat dan madhorot itu adalah Allah saja, namun dia tetap dianggap melakukan kesyirikan karena menyerahkan bentuk peribadahan dan penyembahan yang merupakan hak khusus milik Allah semata, kepada selain Allah. Dalam kasus ini kuburan.

***
4. Adapun kondisi kedua itu walaupun itu merupakan syirik besar yang dapat menyebabkan seseorang dikafirkan. Namun jikalau dia melakukannya karena kejahilan, kebodohan, dan ketidakfahaman nya.

Melakukan hanya karena ikut ikutan budaya, atau karena ajaran sesat seorang yang dianggap nya panutan dalam masalah agama.

Maka dia tidak dikafirkan dan mendapatkan udzur karena kejahilannya, walaupun dia telah melakukan syirik besar.

Dia tidak dikafirkan hingga ditegakkan hujjah kepada nya, hingga dia faham dan mengerti bahwa apa yang dilakukannya itu adalah merupakan kesyirikan besar.

***
5. Sekarang KONDISI YANG KETIGA :

Jika dia melakukan tathoyyur itu dilandasi keyakinan bahwa kuburan itu juga dapat memberikan mashlahat dan madhorot selain Allah, dan tidak menggantungkan mashlahat dan madhorot itu mutlaq hanya kepada Allah semata saja.

Maka dalam kasus ini, dia juga melakukan kesyirikan yang besar.

Kondisi ketiga ini berbeda dengan tathoyyur pada kondisi pertama, maka perhatikanlah baik-baik. Karena terdapat perbedaan i’tiqod disini. Yang kondisi satu hanya syirik kecil, sedangkan yang kondisi ketiga adalah syirik besar.

Ingat yang namanya syirik itu adalah menyerahkan sesuatu yang khusus hanya bagi dan milik Allah saja, kepada selain Allah.

Nah, dalam kasus ini memberikan mashlahat dan madhorot itu adalah khusus sifat milik Allah semata. Jika ada orang yang berkeyakinan dan memberikan sifat ini kepada selain Allah, maka dia telah melakukan kesyirikan yang besar.

Faham kan bedanya?

***
6. Kondisi ketiga ini juga memiliki perbedaan penyebab dengan kondisi kedua, walaupun hasil akhirnya sama yakni syirik besar.

Kondisi kedua merupakan syirik besar karena menyerahkan bentuk peribadahan yang merupakan haq khusus milik Allah saja, kepada selain Allah.

Sedangkan kondisi ketiga merupakan syirik besar karena menisbatkan suatu sifat yang merupakan sifat yang khusus milik Allah saja, kepada selain Allah.

***
7. Sekarang KONDISI YANG KEEMPAT :

Jika dia melakukan minta izin ke kuburan orang tua nya yang sudah meninggal, karena bentuk adab penghormatan kepada orang tua. Apalagi karena semata karena budaya saja.

Yang mana ini didorong karena adanya i’tiqod yang salah, bahwa mayit atau orang mati itu dianggap dapat mendengar perkataan orang yang masih hidup. Maka dari itu dia minta izin karena sang mayit dianggap dapat mendengar sebagai bentuk penghormatan kepada kedua orangtua nya.

Maka ini hukumnya hanyalah merupakan suatu i’tiqod yang salah atau kebid’ahan saja, karena menganggap mayit dapat mendengar.

Ini bukan merupakan kesyirikan, karena dia tidak memberikan bentuk peribadahan kepada selain Allah, dan dia juga tidak menisbatkan suatu sifat yang khusus milik Allah saja kepada selain Allâh.

Ini hanyalah merupakan suatu i’tiqod yang salah, yang dilandasi kesalahan dalam memahami hadits hadits bahwa Rasulullah berkata kepada mayit musyrikin yang telah meninggal. Yang mana ini merupakan suatu kekhususan yang Allâh berikan dengan diperuntukkan kepada Rasulullah untuk suatu hikmah tertentu.

Dan juga dilandasi kesalahan dalam memahami hadits hadits bahwa Rasulullah mengajarkan sunnah untuk mengucapkan salam kepada penghuni kubur, jika kita ziarah berkunjung ke kuburan.

Dulu ini sebenarnya sudah pernah saya bahas dalam tulisan saya yang terdahulu.

Silakan lihat :
https://kautsaramru.wordpress.com/2017/07/07/root-cause-tradisi-orang-pergi-ke-kuburan-ortu-yang-telah-meninggal-untuk-minta-izin/

***
8. Merupakan suatu kesalahan jika meng-ilzamkan atau memastikan bahwa setiap orang yang meminta izin kepada orang tua nya yang sudah meninggal, maka itu pasti dia sedang melakukan kondisi yang ketiga.

Yakni kondisi yang melakukan hal itu karena i’tiqod bahwa kuburan itu juga dapat memberikan mashlahat dan madhorot selain Allah, dan tidak menggantungkan mashlahat dan madhorot itu mutlaq hanya kepada Allah semata saja.

Sehingga dia otomatis menganggap nya sebagai syirik besar dan langsung dikafirkan.

Ini adalah suatu kesalahan yang besar. Ini adalah suatu kesalahan yang besar.

Hal ini butuh perincian dan analisa yang lebih mendalam. Tidak boleh bagi kita untuk main ilzam bahwa ini adalah kondisi ketiga. Tidak boleh bagi kita untuk langsung main kofar kafir saja.

Apalagi jika kita lihat kondisi orang Indonesia itu, umumnya dia melakukan hal itu karena kondisi yang pertama dan keempat saja.

Yakni melakukan karena didorong karena tathoyyur yang merupakan syirik kecil sebagaimana kondisi pertama.

Dan melakukan karena didorong sebagai bentuk adab penghormatan minta izin kepada ortu yg sudah meninggal, karena dianggap mayit itu dapat mendengar perkataan orang yang masih hidup. Ini sebagaimana kondisi keempat .

****
9. Dari empat kondisi dan perincian yang sudah dipaparkan tadi, maka kita faham bagaimana menyikapi hal ini.

Yakni hal ini harus diperinci dan tidak boleh langsung main kofar kafir saja.

Kalau bahasa kedokteran, kira harus lakukan anamnesa atau anamnesis dulu agar faham kondisi dan duduk perkara nya.

Dan merupakan kesalahan yang fatal jika kita salah vonis dan salah mendiagnosa.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Baarokalloohu fiik

Advertisements