Bagi yang faham qaidah ushul fiqh, tentu faham bahwa dalil yang mutlak itu harus dibawa ke dalil yang muqoyyad (yang membatasi kemutlakannya).

Misal hadits “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturahim”, maka ini tentu saja tidak boleh difahami secara mutlak, bahwa orang yang memutuskan hubungan silaturahim itu berarti kafir, karena lafal yang disebutkan di dalam hadits itu “laa tadkhulul jannah” (tidak akan masuk surga).

Kenapa tidak boleh difahami secara mutlak yang berarti kafir?

Yakni karena ada dalil dalil lain yang membatasi dan menjelaskan maksud hadits itu, seperti misal hadits “akan dikeluarkan dari neraka orang yang dalam hatinya ada keimanan sebesar biji sawi”, ayat “Allah akan mengampuni semua dosa kecuali syirik”, dll.

Sehingga hadits orang yang tidak akan masuk surga bagi pemutus hubungan silaturahim, maknanya adalah bahwa itu adalah dosa besar yang berbahaya. Namun bukan berarti pelakunya kafir.

***
Ini levelnya dalil lho ya, apalagi hanya sekedar penjelasan dan fatwa para ulama.

Maka jika ulama itu ternyata memiliki banyak qoul (perkataan), maka perkataan nya yang bersifat mutlak harus dibawa ke perkataan nya yang bersifat muqoyyad.

Perkataan nya yang bersifat umum, harus dibawa ke perkataannya yang bersifat khusus.

Ini terutama dalam masalah takfir (pengkafiran) dan udzur bil jahl.

Adapun orang orang Takfiri dan orang yang menyimpang manhaj nya, biasanya suka bermain air keruh disini.

Mereka angkat fatwa dan qoul ulama yang bersifat Mutlak dan umum, dengan cara meninggalkan variasi fatwa lainnya yang bersifat muqoyyad dan menjelaskan perkataan sebelumnya yang mutlaq dan umum.

Akibatnya,
Orang yang nggak mudeng, yang belum memiliki pondasi pemahaman yang mapan dan mendalam, dan yang terbatas aksesnya dan pemahaman bahasa nya ke qoul para ulama dengan berbagai macam variasi nya itu.

Maka jelas mereka akan terfitnah dengan hal ini.

Advertisements