Sekedar meluruskan informasi agar tidak salah faham, sesuai dengan informasi yang saya dapatkan.

***
Berkata Ustadz Abdul Barr :

“Melakukan syirik akbar atau kufur akbar misalnya. Tidak, tidak diadz.. . Tidak eee diadzab, tidak dipermasalahkan dia sampai datang padanya kejelasan.

Nah, itu satu point.

Point yang kedua kalau sampai kepadanya. Ya. Sampai kepadanya keterangan. Ini keterangan dari Allah dan Rasul-Nya. Ternyata dia menyelisihi, mujtahidan! dengan Ijtihad. Belum tahu yang benar seperti apa.

Lihat, fahuwa mukhthi’, ma’dzur, ma’jur marrotan waahidan…. Subhaanallooh.

Dia orang yang salah, diberi udzur, dapat pahala! Dapat pahala! Kenapa? Karena berijtihad. Berijtihad salah dapat pahala satu.

Ya lihat. Boro Boro mau kafir. Malah dikasih kesempatan dapat pahala. Subhaanallooh. Ya kan?

Fa qoola Ibnul Arobi, Al jaahil wal mukh… ”
[potongan rekaman audio berhenti di sini]

Sumber : https://www.dropbox.com/s/0…/AbdurBaarSyirikAkbarPahala.mp3…

****
Perhatikan bahwa sama sekali tidak ada perkataan,

“Ijtihad dalam syirik besar, seperti menyembah Nyi Roro Kidul atau Semar meskipun Ijtihadnya keliru, boro-boro kafir malah dapat satu pahala!!”

Dan orang yang faham fiqh tentu dia tau qaidah “Laaziimul qoul laisa bil qoul” (keharusan konsekuensi dari suatu perkataan itu bukanlah suatu perkataan sendiri)

Yang diterangkan adalah masalah Khofiyah (samar-samar) baginya sehingga dia berijtihad. Jika tidak Khofiyah mengapa sampai dikatakan ber Ijtihad?

Nah, jika di Framing dan dibawa kepada permasalahan dhohiroh yang sudah jelas, sebagaimana perkataan “menyembah Nyi Roro Kidul atau Semar” maka ini jelas adalah hal yang salah.

Perkataan beliau di atas itu umum, bisa dibawa kesini dan juga bisa dibawa kesana. Namun menisbatkan suatu perkataan yang tidak beliau katakan di rekaman itu, maka ini hanyalah kedustaan dan penipuan semata.

****
Contoh perkataan para ulama biasanya mengarah kepada perkataan yang menyimpang dari ulama seperti as subki, Al haitsami, dan As Suyuthi mengenai du’a bil amwaat (berdoa kepada mayit orang Sholeh atau melalui perantara mayit orang Sholeh).

Yang mana ini adalah pendapat dan Ijtihad beliau karena adanya hadits yang dhoif dan maudhu yang salah difahami.

Bukan contoh masalah “menyembah Nyi Roro Kidul atau Semar”. Para ulama tidak pernah mencontohkan hal ini.

Advertisements