Sebenarnya tafsir jalan lain itu sesuai namanya, memang menyelisihi jalan daripada manhaj Salaf.

Sebagaimana kita lihat kemarin dalam masalah Aqidah Taqdir, ternyata menyelisihi manhaj Salaf dan justru menyerupai jalannya firqoh Qodariyah. Demikian juga dalam masalah Al Fatihah, ketika mentafsirkan ihdinash shiroothol mustaqiim juga menempuh jalan lain yang menyelisihi manhaj Salaf.

Para asatidz yang lain, selain dari Ustadz Firanda, sebenarnya juga sudah mengungkap jalan lain yang menyelisihi manhaj Salaf ketika menjelaskan masalah :

1. Wanita yang dinikahi karena 4 hal, ketika point masalah dinikahi karena harta nya diitafsirkan dengan jalan lain “Kemampuan dalam mengolah harta”. Yang mana ini menyelisihi penjelasan para ulama Salaf.

2. Tafsir jalan lain “Semua dianggap Salafi atau mengikuti manhaj Salaf” dengan hanya semata mata parameter cara sholat nya.

Padahal Rasulullah memuji dan tidak menyalahkan cara serta antusias para Khowarij dalam masalah sholat, akan tetapi Khowarij tetap sesat dan menyimpang walaupun sholat nya tidak dikritik Rasulullah.

3. Tafsir jalan lain, yakni salah baca atau salah kutip, doa sebelum makan Alloohumma baariklanaa yang semula dhoif tiba-tiba berubah menjadi Shohih.

Dan mungkin nanti ada lagi tafsir jalan lain yang menyimpang dari manhaj Salaf, karena tulisan kritik dan bantahan ilmiah para asatidz masih bersambung.

***
Adapun di sisi lain, kerajaan Abu abu dan para Free thinker sebenarnya juga ‘demen’ nih dengan tafsir jalan lain.

Karena ini merupakan pondasi yang penting bagi mereka untuk bisa menutupi kedok penyimpangan manhaj mereka, dengan ber retorika ini hanya masalah khilafiah, bukan masalah manhaj.

Dan kemudian agar bisa mengaku aku sebagai Salafi juga, walaupun manhaj nya salah dan menyimpang dari manhaj Salaf. Sehingga kemudian terjadilah Pluralisme Manhaj dan kampanye manhaj muwazanah.

Dan kemudian tertipu lah Ummat dalam memahami manhaj Salaf.

Advertisements