Buat Adek yang di seberang Internet sana. Dek Afi ya namanya kalo tidak salah?

Kalau konsep toleransi itu hanya sekedar karena ini warisan, maka dari itu hendaklah kita jangan saling ganggu warisan masing-masing.

Maka Rasulullah dan dakwah nya sejak dari awal salah donk kalau kita melihat dari konsep “Toleransi itu adalah saling menghormati warisan masing-masing”.

Kok bisa?

Karena Rasulullah itu berdakwah dengan cara “menolak warisan budaya agama kaumnya”.

Allah berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ

“Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah: 104).

Jadi kalau misal konsep Toleransi itu adalah tidak boleh menolak dan menyalahkan warisan keyakinan masing-masing, maka yang pertama kali harus Adek salahkan harusnya Allah dan Rasul-Nya donk….?

****
Ah tapi mungkin karena adek beragama Islam “secara warisan”, maka adek tidak berani untuk menyalahkan Allâh dan Rasul-Nya kan?

Baik, kalau begitu mungkin pernyataan nya harus dirubah kali ya?

Kalau begitu bagaimana cara saya mensikapi agama Islam yang saya dapatkan secara warisan ini, sehingga bisa berbeda dengan agama, ideologi, dan keyakinan lain yang merupakan warisan juga itu?

Kalau ingin jawaban yang mendasar sebenarnya jawabannya adalah “Konsep Wahyu”, bukan “konsep warisan”.

Bingung? Maksudnya itu ini adalah uji ke otentikan wahyu. Akan saya jelaskan

****
Sekarang coba hadapkan semua kitab suci, pemikiran, dan ideologi manapun yang mereka bisa membuktikan keotentikan kitab suci, pemikiran, dan ideologi mereka bahwa itu benar benar dari Tuhan sang Maha Pencipta.

Masalah mereka mengklaim “ini juga wahyu dari sang Pencipta”, maka semua orang boleh mengklaim seperti itu. Tapi yang penting adalah buktinya.

Kenapa seperti itu?
Karena sejak dari awal Allah sudah menantang seluruh umat manusia, bahwa jika benar Al Qur’an itu adalah ciptaan manusia (baca : Muhammad). Maka tentu mereka bisa menciptakan gaya wahyu yang seperti Al Qur’an.

Kenapa?
Karena yang namanya buatan manusia itu tentu bisa ditiru atau dilakukan reverse engineering kalo bahasa teknik nya.

Misal, adek suka nggak dengan tulisan Shakespeare, Kahlil Gibran, atau Nietszche?

Nah kalau suka, bisa nggak membuat tulisan yang seperti gayanya Shakespeare, Kahlil Gibran, atau Nietszche walaupun itu berbeda konteks dengan yang mereka tulis?

Kalau belajar sastra dan faham masalah ilmu Hermeneutika, maka tentu adek akan langsung faham bahwa itu bisa. Namanya saja karya manusia, maka tentu pasti bisa ditiru gayanya.

Nah inilah yang Allah tantang berulang ulang dalam ayat-ayat Nya, supaya membuat yang semisal gaya Al Qur’an jika semisal mereka masih tidak yakin dan menuduh bahwa Al Qur’an itu hanya karya manusia saja (baca : karya Muhammad). Dan tidak menganggap bahwa Al Qur’an itu adalah Kalamullah (firman Allah).

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ ۚ بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ﴿٣٣﴾فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ

Ataukah mereka mengatakan, “Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman.

Kalau demikian, hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur’ân itu jika mereka orang-orang yang benar. [ath-Thûr/52: 33-34]

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِين ﴿٢٣﴾فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir. [ al-Baqarah/2: 23-24]

****
Mungkin nanti ada yang berkata,

“Ok, kalau begitu. Namun kan fakta bahwa saya memeluk agama Islam karena warisan keturunan. Saya tidak memeluk agama Islam dengan melalui proses pembuktian keotentikan wahyu dan berbagai macam analisa mukjizat Al Qur’an melalui Science dan teknologi.

Saya yakin itu ada dan benar. Namun saya tidak melalui itu semua. Saya kan hanya tinggal enak memeluk agama Islam karena warisan keturunan saja?

Bagaimana kemudian kalimat yang pas untuk membedakan antara warisan Islam yang saya peroleh, dengan warisan agama, ideologi, keyakinan, dan pemikiran lainnya? ”

Oh, jawabnya gini.

Emang yang namanya warisan itu mesti bentuknya harta ya? Enggak kan. Ada juga yang mewarisi hutang.

Emang yang namanya keturunan mesti sempurna ya? Enggak juga. Ada juga yang mendapatkan penyakit keturunan.

Nah disinilah dek bedanya…. Adek harusnya bersyukur mewarisi harta yang tidak bernilai berupa hidayah Islam. Adek harusnya bersyukur sebagai keturunan yang sempurna, tanpa memiliki penyakit keturunan atau cacat bawaan.

Maka bagaimana mungkin Adek justru menyamakan antara harta yang melimpah dengan hutang yang melilit, hanya gara gara sama namanya pake embel embel “warisan”?

Bagaimana mungkin Adek menyamakan antara tubuh yang sehat dan sempurna, dengan cacat bawaan dan penyakit keturunan, hanya gara gara sama namanya pake embel embel “keturunan”?

Kalau bahasa kerennya, ini namanya Logical fallacy” dek. Ini “not Apple to Apple”. Adek mencoba membandingkan dua hal yang berbeda, karena tertipu menganggap nya sama.

Semoga ini mudah untuk difahami.

– Kautsar Amru –

Advertisements