Dulu ketika menjadikan fiqh sebagai pondasi utama, sebagaimana pelajaran yang ditekankan ala metode madzhabiyyah (yang mana Madzhab itu memang titik tekan nya pada fiqh dan pendapat pendapat).

Maka terasa bahwa ada missing link atau “skipping level” yang sepertinya nggak benar nih. Ada yang hilang dan ada suatu kesadaran secara tidak langsung, bahwa ini sepertinya bukan tahapan yang utama dan yang pertama dalam memahami Islam.

Mudah bagi kita untuk menjadi “Yahudi” dalam tanda kutip, asal menguasai fiqh. Mudah bagi kita untuk membenarkan hawa nafsu, asal kita menguasai fiqh.

***
Namun ketika sudah memahami manhaj dan Aqidah, dan menjadikan itu sebagai pondasi dan tahapan utama yang sebenarnya – dengan izin Allah -.

Maka barulah ilmu fiqh kita berubah menjadi ilmu fiqh yang sebenarnya, karena ditopang oleh pondasi dan dasar dasar yang benar.

Mungkin inilah salah satu hikmah, kenapa Rasulullah ketika di fase Makkah lebih banyak diturunkan ayat ayat berkaitan dengan Aqidah dan keimanan. Dan baru ketika di fase Madinah, lebih banyak diturunkan ayat-ayat berkaitan dengan Ahkam (hukum-hukum).

***
Bukan berarti fiqh tidak penting, tapi tahapan dalam memahami fiqh itu lebih penting.

Advertisements