Sama – sama melakukan kesyirikan, namun orang musyrikin pada zaman Rasulullah itu faham arti, makna, dan tuntutan dari kalimat tauhid laa ilaaha illallaah.

Maka dari itu mereka tidak mau mengatakan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah, dan mereka mengakui bahwa apa yang mereka lakukan itu memang benar kesyirikan!

Hanya saja mereka beranggapan, itu adalah kesyirikan yang Allah perbolehkan secara turun temurun sejak nenek moyang dan budaya mereka. Kesyirikan yang legal dan halal kalo bahasa kita, bukan kesyirikan yang ilegal dan haram.

Syirik itu boleh dan tidak mengapa bagi mereka. Maka dari itu ketika Rasulullah diutus, mereka menyangkal dan tidak percaya bahwa Allah telah mengutus beliau untuk mengharamkan kesyirikan. Karena mereka memandang Allah membolehkan kesyirikan itu.

Mereka itu sebenarnya tahu dan percaya Risalah kenabian, karena musyrikin Arab itu mengenal dan mengaku mengikuti ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun mereka tidak percaya bahwa Muhammad diutus sebagai Nabi, karena wahyu yang dibawanya melarang kesyirikan sedangkan mereka beranggapan Allah memperbolehkan nya.

****
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ: لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، قَالَ: فَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ “، فَيَقُولُونَ: إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ، يَقُولُونَ: هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ

Dari Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata : Dulu orang-orang musyrik mengatakan [ketika melakukan haji jahiliyyah yang penuh kesyirikan – pent] ,

“Aku memenuhi panggilan-Mu wahai Dzat yang tiada sekutu bagi-Mu.”

Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Celakalah kalian, cukup, cukup [ucapan itu sampai di situ saja, dan jangan diteruskan – pent]”.

Tapi mereka meneruskan ucapan mereka,
“kecuali sekutu bagi-Mu yang memang Kau kuasai dan ia tidak menguasai.”

Mereka mengatakan ini ketika mereka sedang berthawaf di Baitullah [Ka’bah di Mekkah] ”
[Diriwayatkan oleh Muslim no. 1185].

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah (Yang disembah dan diibadahi) Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. [QS. Shaad : 4-5]

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ بَلْ جَاءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ( لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ )”Laa ilaaha illallah” mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan ilah-ilah kami (yang disembah dan diibadahi) karena seorang penyair gila?” Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya). [QS. Ash Shaaffaat : 35-37]

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) — dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. [QS Al Baqarah : 23-24]

****
Adapun sebagian kaum muslimin zaman sekarang, fasih mengucapkan kalimat tauhid Laa ilaaha illallah. Bersepakat bahwa Allah melarang untuk berbuat kesyirikan, dan sepakat bahwa itu adalah haram dan dosa terbesar yang paling utama.

Maka dari itu mereka marah jika dikatakan telah berbuat Syirik!

Namun walaupun begitu, mereka kurang faham akan arti, makna, dan tuntutan dari kalimat tauhid laa ilaaha illallaah itu sendiri. Kurang faham mengenai makna syirik.

Baik itu karena kebodohan ataupun syubhat. Baik karena tidak faham pengertian bahasa Arab dari kalimat tauhid ( لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ )”Laa ilaaha illallah”, atau bahkan mungkin karena sejak awal tidak faham bahasa Arab sebagaimana kita kita orang Ajam (non Arab yang tidak bisa bahasa Arab) ini.

Maka dari itu lah para ulama bangkit untuk menerangkan pengertian tauhid dan syirik, agar umat Islam tidak terjebak kepada kesyirikan dengan menyerahkan peribadahan kepada selain Allah. Baik itu kepada para wali, kuburan, dan yang semisal. Yang mana itu dianggap ajaran Islam.

Para ulama bangkit dan memerangi syubhat beserta kebodohan seputar masalah Tauhid dan syirik di kalangan umat Islam. Seperti misal diantaranya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang menulis kitabut tauhid, kasyfusy syubhat, qowaidul arba’, dan lain lain dalam bahasa Arab untuk orang Arab.

Jika orang Arab saja perlu untuk dihilangkan syubhat dan ketidakfahaman nya mengenai kesyirikan dan tauhid, terutama berkaitan dengan para wali, kuburan, jimat, sihir berkedok Islam, dan lain lain. Maka apalagi orang orang Ajam yang tidak faham bahasa Arab seperti kita ini.

Padahal Al Qur’an dan As Sunnah itu dalam bahasa Arab, yang mana hujjah harusnya sudah sampai kepada mereka. Namun ada juga orang Arab yang bisa membaca dan faham bahasa Arab, salah dalam memahami dan tergelincir dalam syubhat masalah Tauhid dan Syirik. Marah dan tidak terima jika dikatakan melakukan kesyirikan. Maka apalagi kita orang Ajam yang tidak faham bahasa Arab.

Kalau orang Arab itu sudah faham semua dan tidak terkena syubhat dalam masalah Tauhid dan Syirik, maka tentu tidak perlu para ulama itu menulis kitab kitab untuk membongkar syubhat dan ketidakfahaman Ummat mengenai hal itu. Apalagi kita orang Ajam yang tidak faham bahasa Arab.

Seharusnya penjelasan dari para ulama itu tidak perlu diterjemahkan ke bahasa Indonesia, jika kita semua faham dan tidak memiliki syubhat seputar Tauhid dan syirik.

****
Jadi disinilah perbedaan orang musyrikin pada zaman Rasulullah dahulu, dan kesyirikan yang menimpa kaum muslimin pada zaman sekarang.

Orang musyrikin pada zaman Rasulullah dahulu :
1. Faham arti, makna, dan tuntutan dari kalimat tauhid laa ilaaha illallaah.

2. Mengakui bahwa yang mereka lakukan adalah benar benar kesyirikan. Namun itu dianggap sebagai kesyirikan yang Allah perbolehkan, secara turun temurun sejak nenek moyang dan budaya mereka.

Mereka tidak marah jika dikatakan berbuat syirik! Maka dari itu mereka tidak mau mengatakan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah, walaupun mereka memahami nya.

3. Mereka tidak percaya bahwa Muhammad diutus sebagai Nabi, karena wahyu yang dibawanya melarang kesyirikan sedangkan mereka beranggapan Allah memperbolehkan nya.

*
Sedangkan kaum muslimin yang terjebak ke dalam kesyirikan zaman sekarang ini :
1. Mereka mau mengatakan dan mengikrarkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah. Walaupun kurang faham arti, makna, dan tuntutan dari kalimat tauhid laa ilaaha illallaah.

2. Mereka menganggap kesyirikan itu keharoman dan dosa yang paling besar. Maka dari itu mereka marah jika dikatakan berbuat syirik dikarenakan ketidakfahaman mereka.

3. Mereka sangat mempercayai dan mengimani kenabian Rasulullah dan segala Risalah yang dibawanya, yang melarang kesyirikan dengan sebenar benarnya.

Namun walau begitu mereka kadang berbuat kesyirikan karena tidak faham, dan bahkan justru beranggapan itu adalah amalan islami.

Advertisements