Riddah itu bisa terjadi karena takfir (pengkafiran), dan bisa juga karena orang tersebut murtad berpindah agama.

***
Murji’ah itu umumnya memiliki Aqidah bahwa Iman itu hanya sekedar Ma’rifat (mengetahui atau mengakui). Amalan dianggap bukan bagian dari iman, dan tidak mempengaruhi iman. Baik itu amalan perkataan ataupun amalan perbuatan.

Iman itu tetap dan konstan, tidak naik karena ketaatan, tidak turun karena kemaksiatan.

Maka dari itu, perkataan ash Shoolihii sang tokoh Murji’ah yang dikutip oleh Ibnu Taimiyyah dibawah ini berkata (yang digaris bawahi) :

ليس بكفر ولكنه لا يظهر إلا من كافر

“(Firman Allah mengenai perkataan orang kafir Ahlul Kitab, ‘Sesungguhnya Allah adalah satu dari tiga oknum’ di QS Al Maidah :73)

Maka perkataan ini bukanlah merupakan suatu kekufuran. Akan tetapi perkataan ini tidaklah ditampakkan terang terangan, kecuali oleh orang kafir ”
[Majmu Fatawa 7/544]

****
Hal ini dikatakan karena Murji’ah ber-i’tiqod, keimanan itu hanya sekedar Ma’rifat kepada Allah saja. Dan kekafiran itu karena sekedar karena kejahilan (kebodohan dan ketidaktahuan) mengenai Allah saja.

Ibnu Taimiyah berkata mengenai Murji’ah :

يزعمون أن الإيمان هو المعرفة بالله فقط، و الكفر به هو الجهل به فقط

“Murji’ah menganggap bahwa iman itu hanya sekedar Ma’rifat terhadap Allâh saja. Dan kekafiran kepada Allah itu hanya dikarenakan Jahl (tidak tahu) mengenai Allâh saja. “[Majmu Fatawa 7/544]

Dalam artian, amalan kekafiran apapun yang dilakukan, maka sepanjang dia masih mengetahui, mengakui dan mema’rifati beriman kepada Allah. Maka dia tetap dianggap sebagai Muslim yang memiliki keimanan yang sempurna.

Iman itu tetap menurut Murji’ah, sepanjang dia memiliki Ma’rifat yang benar kepada Allah sebagai bukti keimanan nya.

Maka dari itu Murji’ah juga berkata,

أن الصلاة ليست بعبادة الله، و أنه لا عبادة إلا الإيمان به

“Sesungguhnya sholat itu bukanlah bentuk peribadahan kepada Allah (yang sesungguhnya), dan sesungguhnya tidak ada ibadah (yang sesungguhnya) kecuali (hanya sekedar) beriman kepada Allah ” [Majmu Fatawa 7/544]

***
Jadi salah satu point pemahaman Murji’ah itu adalah : hanya menganggap keimanan kepada Allah itu hanya sekedar Ma’rifat saja.

Hal ini menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam definisi masalah iman, dan juga menyelisihi Ahlus Sunnah dalam masalah takfir (pengkafiran).

***
Disini juga harus kita tambahkan lagi, bahwa Ahlus Sunnah itu membedakan takfir mutlaq dan Takfir muayyan.

Sedangkan Khowarij menganggap bahwa semua itu adalah takfir mutlaq, baik itu terhadap masalah mu’ayyan (vonis individu tertentu) sekalipun.

Ini karena Khowarij memakai pemahaman “Kafir otomatis” dalam masalah takfir, sedangkan Ahlus Sunnah memiliki pemahaman “Pengkafiran secara terperinci” dalam masalah takfir.

Yakni Ahlus Sunnah memahami perincian dengan diverifikasi apakah sebab dan syarat takfir itu sudah terpenuhi atau belum.

Apakah ada syubhat dan udzur yang menyebabkan orang tersebut terhalang untuk dikafirkan atau tidak.

Jika itu semua terpenuhi, maka Ahlus Sunnah pun menjatuhkan takfir kepada nya. Jika tidak terpenuhi, maka tidak jatuh takfir kepada nya.

****
Adapun masalah seseorang murtad berpindah agama dengan keinginannya sendiri, maka Murji’ah pun tidak mengotak atik hal itu.

Orang yang murtad juga dianggap kafir oleh Murji’ah, karena dia telah mengingkari Ma’rifat nya kepada Allah. Sehingga dia dianggap tidak memiliki Iman alias Kafir.

Tidak ada Murji’ah yang menganggap bahwa Fir’aun itu adalah seorang Muslim, karena Fir’aun itu tidak mengakui dan tidak mema’rifati Allah sebagai Tuhan nya.

Demikian juga orang murtad yang tidak mengakui dan mema’rifati bahwa Allah sebagai Tuhan nya.

***
Orang yang bersikeras, bahwa orang yang murtad dengan keinginan sendiri berpindah agama, dia tetap dianggap sebagai Muslim atau Muslimah sepanjang dia belum mengurus administrasi dan ganti keterangan agama di KTP.

Dalam artian dia tidak menganggap nya sebagai orang Kafir.

Maka pemahamannya itu lebih irja’ dibandingkan Murji’ah itu sendiri. Pemahamannya lebih parah dibandingkan pemahaman Murji’ah itu sendiri.

Masalah dia mau Framing bagaimana pun, maka itu tidak merubah hakekat bahwa dia telah menyimpang dari manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dengan penyimpangan yang lebih parah dibandingkan Murji’ah.

Perkataan Murjiah masalah kekafiran Nashrani

 

*****

Tanya :

Di mn perbedaan mendasar…antara sufisme dgn murjiah khi..

Jawab :

Murji’ah mengeluarkan amal dari iman. Sehingga menganggap amal itu tidak mempengaruhi iman.

Bagi Murji’ah ini tidak berhubungan dengan tingkatan dan dzauq (perasaan). Yakni jika sudah level seperti ini, baru dia boleh mengeluarkan amal dari iman.

Namun bagi Murji’ah, pemahaman ini berlaku bagi semua orang di semua tingkatan. Baik yang Alim ataupun yg awam.

***
Sufi mengeluarkan syariat dari Islam, jika sang Sufi sudah mencapai maqom tertentu. Syariat hanya dianggap bagi orang awam saja, bukan bagi orang yang khowas seperti dia.

Sehingga dia beranggapan syariat tidak memiliki pengaruh terhadap keimanan dan keislaman nya, dan dia menganggap dirinya tidak memiliki kewajiban ikatan amal baginya jika dia sudah mencapai maqom tertentu (maqom haqiqat yang biasanya).

Jadi bagi Sufi, dia mengeluarkan syariat bagi dirinya itu berhubungan dengan tingkatan dan dzauq (perasaan) yang dimiliki oleh tiap tiap praktisi Sufi.

Sehingga makin nyeleneh seorang Sufi dari kacamata syariat, maka umumnya dianggap makin tinggi level ke waliannya.

***
Jadi pada praktik nya, terdapat sedikit perbedaan antara mengeluarkan iman dari amal bagi Murji’ah, dan terlepas dari kewajiban dan ikatan syariat bagi Sufi.

Murji’ah memutlakkan bagi semua orang, baik itu awam ataupun alim. Sedangkan Sufi hanya membolehkan jika sudah mencapai tingkatan maqom tertentu dan mencapai dzauq (perasaan) tertentu.

Sufi mengharuskan “gila” dan “mabuk perasaan cinta” dulu. Sedangkan Murji’ah tidak.

Aplikasi mungkin bisa sama antara Murji’ah dan Sufi, namun cara pandang nya berbeda.

Murji’ah sedikit lebih “senior” atau lebih dahulu ada, dibandingkan Sufi.

Advertisements