Murji’ah mengeluarkan amal dari iman. Sehingga menganggap amal itu tidak mempengaruhi iman.

Bagi Murji’ah ini tidak berhubungan dengan tingkatan dan dzauq (perasaan). Yakni tidak berhubungan jika sudah mencapai level seperti ini, maka baru dia boleh mengeluarkan amal dari iman.

Namun bagi Murji’ah, pemahaman ini berlaku bagi semua orang di semua tingkatan. Baik yang Alim ataupun yg awam.

***
Sufi mengeluarkan syariat dari Islam, jika sang Sufi sudah mencapai maqom tertentu. Syariat hanya dianggap bagi orang awam saja, bukan bagi orang yang khowas seperti dia.

Sehingga dia beranggapan syariat tidak memiliki pengaruh terhadap keimanan dan keislaman nya, dan dia menganggap dirinya tidak memiliki kewajiban ikatan amal baginya jika dia sudah mencapai maqom tertentu (maqom haqiqat biasanya).

Jadi bagi Sufi, dia mengeluarkan syariat bagi dirinya itu berhubungan dengan tingkatan dan dzauq (perasaan) yang dimiliki oleh tiap tiap praktisi Sufi.

Sehingga makin nyeleneh seorang Sufi dari kacamata syariat, maka umumnya dianggap makin tinggi level ke waliannya.

***
Jadi pada praktik nya, terdapat sedikit perbedaan antara mengeluarkan iman dari amal bagi Murji’ah, dan terlepas dari kewajiban dan ikatan syariat bagi Sufi.

Murji’ah memutlakkan bagi semua orang, baik itu awam ataupun alim. Sedangkan Sufi hanya membolehkan jika sudah mencapai tingkatan maqom tertentu dan mencapai dzauq (perasaan) tertentu.

Sufi mengharuskan “gila” dan “mabuk perasaan cinta” dulu. Sedangkan Murji’ah tidak.

Aplikasi mungkin bisa sama antara Murji’ah dan Sufi, namun cara pandang nya berbeda.

Murji’ah sedikit lebih “senior” atau lebih dahulu ada, dibandingkan Sufi.

***
Sekarang apa bedanya Murji’ah dengan Pluralis Liberal?

Sebenarnya prakteknya sama saja. Hanya beda sudut pandang dan beda pendekatan saja.

Advertisements