Khataman Al Qur’an ala Rasulullah

Leave a comment

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam belajar sembari mengkhatamkan Al Qur’an bersama Malaikat Jibril alaihis salaam, sekali khatam tiap tahun.

Tentu pada setahun itu termasuk juga pada bulan ramadhan.

Adapun pada tahun Rasulullah meninggal, beliau mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak dua kali.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ { فِيهِ }

“Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 4998).

***
Hadits ini memberikan pelajaran bagi kita :

1. Khataman itu jangan “ngoyo”, semampunya saja. Ditarget boleh, tapi jangan melebihi kemampuan kita.

2. Khataman itu tidak hanya sekedar membaca (qiroah) sampai khotam saja. Tapi juga membaca sambil mempelajari dan memahami nya juga. Paling tidak kita membaca Al Qur’an sambil membaca terjemahan nya setelahnya.

***
Lho, itu kan banyak riwayat ulama Salaf yang Khatam Al Qur’an berkali-kali di bulan ramadhan. Bagaimana itu?

Jawab, maqom kita beda. Saya cukup tahu diri bahwa mereka berada di level sangat jauh tinggi berbeda dengan saya.

Daripada saya ngos-ngosan nyerah nggak bisa ngikutin mereka, mending saya ikut Rasulullah saja yang memang kadang beliau sengaja melakukan seperti itu, agar semua umatnya bisa mengikuti nya.

Jadi saya cukup tahu diri. Sekali atau dua kali khatam Al Qur’an di bulan ramadhan itu bagi saya cukup.

Asalkan diikuti dengan mempelajari dan memahami Al Qur’an yang kita baca, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah yang saling belajar Al Qur’an dengan Malaikat Jibril.

Bagaimana dengan anda?

***

Tanya :

akhi bgmna cara tadarusan sprti dimasjid2 skrg ini, apkh ad sunnahny?

Jawab :

Kalau pesertanya adalah orang yang kurang lancar membaca Al Qur’an. Yakni agar satu sama lain bisa saling menyimak dan membenarkan. Atau mungkin ada seseorang yang ahli di sana yang menyimak.

Maka ini tidak mengapa.

Namun jikalau orangnya sudah mahir dan tidak diminta untuk bantu bantu simakan tadarusan, maka sebaiknya dia membaca Al Qur’an sendiri.

Walloohu A’lam

***

Tanya :

Kalo ga khatam selama Ramadhan?

Jawab :

Gpp, itu hanya keutamaan. Bukan kewajiban. Yang penting berusaha sebisanya saja

***

Tanya :

akhi mau tanya nih, di malam hari ramadhan yang paling afdhol shalat malam (tahajud) atau baca al qur’an? Baarakallahu fik.

Jawab :

Baca Al Qur’an dengan hafalan ketika berdiri untuk sholat Tahajud jika memungkinkan.

Tanya :

kalau tidak?

Jawab :

Jika sudah sholat tarawih bersama imam sampai selesai, maka lebih afdhol baca Al Qur’an

***

Tanya :

afwan..izin tanya ustadz..
benarkah boleh tarawih di rumah saja, berdasarkan hadist tentang sholat sunnah yg lebih utama dikerjakan d rumah? mohon jwbannya..

Jawab :

Tidak.
Rasulullah tiga kali sholat tarawih di masjid.

Zaman Umar dikoordinir jadi satu imam di masjid

Advertisements

Bukan masalah bom yang berulang, tapi denial yang berulang

Leave a comment

Kok selalu berulang terus ya?

Bukan bom nya yang berulang, tapi orang orang yang menyangkal bahwa memang benar ada pemikiran sesat di dalam umat Islam sendiri, yang menganggap pengeboman, penembakan, pembunuhan, dan terorisme itu sebagai bentuk jihad.

Rasulullah saja sudah mewanti wanti akan pemikiran sesat model Khowarij seperti ini, sejak jauh jauh hari.

Masih ingat dulu ketika ada pengeboman di area parkir masjid Nabawi di Madinah. Langsung muncul Broadcast message secara massive di Indonesia untuk menframing pemerintah Saudi. Padahal yang nulis orang Indonesia untuk dibagikan ke orang Indonesia sendiri.

Aneh.

Dan setelah ada hasil investigasi resmi dari Saudi, tidak pernah ada Broadcast massive minta maaf.

Kayaknya ini ada main politik dua kaki orang orang semacam ini.

Mandiri dalam membina diri

Leave a comment

Jika kita hanya bisa memetik buah, maka kita akan bergantung kepada yang memberikan kita buah.

Enak memang memetik buah yang sudah matang, dikupaskan lagi oleh orang yang memberikan kita buah, dan kita tinggal makan.

Namun jika kita belajar darinya menanam buah “di dalam diri kita”, maka kita akan dapat membantu nya membagikan buah.

Maka dari itu kita diajarkan untuk selalu berdoa, “robbii zidnii ‘ilman, warzuqnii fahman”

(Ya Allah Rabb ku, berikanlah aku tambahan ilmu. Dan berikanlah aku rizqi pemahaman)

Logical Fallacy “Argument To Moderation” atau “False Compromise” yang sering digunakan orang Liberal Pluralis

Leave a comment

Sepertinya sangat penting bagi kita untuk mengetahui Logical fallacy “Argument to Moderation” dewasa ini.

Terutama ketika banyak pemikiran munafiq yang sedang berkembang.

Jenis Logical fallacy ini yang kadang disebut juga “Middle Ground”, “false compromise “, atau “Grey argument”.

***
Logical fallacy ini bersifat ingin berpura-pura menjadi penengah yang sok bijak, dengan standar yang keliru, yang menginginkan agar masing-masing fihak mau berkompromi.

Misal si A mengatakan 5 + 5 =10, sedangkan si B mengatakan 5 + 5 = 20. Ketika beradu argument, muncul si C yang berkata daripada berdebat sebaiknya kita ambil saja jalur tengah, sehingga 5 + 5 =15.

Sounds fair kan? Masing-masing fihak terakomodasi. Tapi ini adalah logika yang salah.

***
Sama seperti logika Pluralis Liberal, dengan menganggap daripada masing-masing pemeluk agama itu melakukan “truth claim”. Maka sebaiknya dianggap saja semua agama itu benar.

Dianggap saja toh kita sama sama mendapatkan “warisan” Agama, maka sebaiknya semua dianggap benar saja.

Semua dianggap seperti filsafat Perennial, yang menganggap semua agama itu sebenarnya sumbernya sama, hanya berbeda dalam cara pengekspresian ibadah dan ajarannya saja.

Tidak perlu ada suatu argumentasi ilmiah dan pembuktian kebenaran wahyu, yang penting semua sama sama kompromistis saja. Semua sama sama diakomodasi, jadi adil.

Nah pemikiran dan pemahaman model seperti inilah yang disebut pemikiran munafiq. Kita diminta untuk mengorbankan sebagian keimanan kita, demi mendukung utopia indah yang munafiq atas nama perdamaian.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman mengenai orang orang munafiq semacam ini,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُون
أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka (orang orang munafiq) : “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.

Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [QS. Al Baqarah : 11-12]

****
Senada juga dalam hal ini, namun dengan intensitas yang lebih rendah di dalam kaum muslimin sendiri. Ketika berhadapan dengan Perselisihan Manhaj, dan penyimpangan Aqidah.

Maka mereka acuhkan argumentasi ilmiah dan solusi dakwah kepada manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah, demi ukhuwah, persatuan semu, dan menghadapi common enemy yang mereka katakan itu.

Akibatnya berapa banyak sunnah Rasulullah dan manhaj Salaf yang dilanggar, demi persatuan ukhuwah ala Pluralisme Manhaj.

Hadits hadits mutawatir masalah taat dan bersabar kepada ulil Amri yang dzolim? Buang saja ke tempat sampah.

Ada Da’i yang bermanhaj “tafsir jalan lain” dan memahami taqdir ala Qodariyah? Gpp, kasih aja udzur yang penting populer.

Takfiri bermunculan di mana mana? Gpp, yang penting dia satu kepentingan dengan kita dalam melawan pemerintah dan aparat nya.

Quburiyyun yang suka tawasul tabaruk ke kuburan para wali dan pewaris ilmu kalam yang menyimpang dalam memahami sifat sifat Allah, sehingga berkata Allah itu ada tanpa tempat dan Allâh ada di mana mana?

Gpp asalkan mereka adalah tradisionalis “garis lurus”, dan bukan orang Liberal. Maka mereka bisa kita rangkul dan tidak perlu untuk diotak atik penyimpangannya. Bikin perkara saja ntar kalau kita terlalu polos dan jujur berpegang kepada sunnah dan manhaj Salaf. Ada kepentingan dan common enemies yang lebih besar.

Dan lain lain.

***
Jadi di sini penting bagi kita untuk mengetahui Logical fallacy “Argument to Moderation”, atau “Middle Ground”, “false compromise “, dan “Grey argument”.

Baik itu dalam hubungan eksternal, yakni untuk menghadapi fitnah Pluralisme Agama.

Ataupun untuk kepentingan internal Ummat Islam sendiri, yakni untuk menghadapi fitnah Pluralisme Manhaj dalam memahami agama yang benar dengan berdasarkan sunnah Rasulullah dan manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Sometimes truth is hurt.
But Rasulullah and His companions (Sahabat) already said that, and already give us the guidance to face that.

Tinggal mau apa kagak. Tinggal memilih jalan yang benar, atau memilih jalan Logical fallacy.

Apa bedanya Murji’ah dengan Sufi?

Leave a comment

Murji’ah mengeluarkan amal dari iman. Sehingga menganggap amal itu tidak mempengaruhi iman.

Bagi Murji’ah ini tidak berhubungan dengan tingkatan dan dzauq (perasaan). Yakni tidak berhubungan jika sudah mencapai level seperti ini, maka baru dia boleh mengeluarkan amal dari iman.

Namun bagi Murji’ah, pemahaman ini berlaku bagi semua orang di semua tingkatan. Baik yang Alim ataupun yg awam.

***
Sufi mengeluarkan syariat dari Islam, jika sang Sufi sudah mencapai maqom tertentu. Syariat hanya dianggap bagi orang awam saja, bukan bagi orang yang khowas seperti dia.

Sehingga dia beranggapan syariat tidak memiliki pengaruh terhadap keimanan dan keislaman nya, dan dia menganggap dirinya tidak memiliki kewajiban ikatan amal baginya jika dia sudah mencapai maqom tertentu (maqom haqiqat biasanya).

Jadi bagi Sufi, dia mengeluarkan syariat bagi dirinya itu berhubungan dengan tingkatan dan dzauq (perasaan) yang dimiliki oleh tiap tiap praktisi Sufi.

Sehingga makin nyeleneh seorang Sufi dari kacamata syariat, maka umumnya dianggap makin tinggi level ke waliannya.

***
Jadi pada praktik nya, terdapat sedikit perbedaan antara mengeluarkan iman dari amal bagi Murji’ah, dan terlepas dari kewajiban dan ikatan syariat bagi Sufi.

Murji’ah memutlakkan bagi semua orang, baik itu awam ataupun alim. Sedangkan Sufi hanya membolehkan jika sudah mencapai tingkatan maqom tertentu dan mencapai dzauq (perasaan) tertentu.

Sufi mengharuskan “gila” dan “mabuk perasaan cinta” dulu. Sedangkan Murji’ah tidak.

Aplikasi mungkin bisa sama antara Murji’ah dan Sufi, namun cara pandang nya berbeda.

Murji’ah sedikit lebih “senior” atau lebih dahulu ada, dibandingkan Sufi.

***
Sekarang apa bedanya Murji’ah dengan Pluralis Liberal?

Sebenarnya prakteknya sama saja. Hanya beda sudut pandang dan beda pendekatan saja.

Fiqh mencium dan bercumbu dengan istri ketika sedang berpuasa

Leave a comment

Boleh jika bisa menahan diri untuk tidak inzal dan dukhul.

Adapun jika tidak bisa, apalagi masih darah muda, maka itu terlarang baginya.

Dah gitu aja, gampang kan?

***

Tanya :

mas, kalau kita bercanda2 dg pegang2 tp tiba2 keluar sperma (tanpa masuk pusaka) gmana mas? Apakah batal puasa dan terkena kaffarat?

Jawab :

Ada khilaf diantara para ulama dalam masalah itu, tapi yang kami rojihkan adalah hal itu membatalkan puasa.

Pembahasan lebih lanjut silakan lihat Free ebook kami berikut ini, pada pembahasan pembatal pembatal puasa yang diperselisihkan ulama, pada hal 78-82.

https://kautsaramru.files.wordpress.com/…/ebook-hadiah…

Tanya :
mas, kalau kita menunda2 mandi junub karena malas gmana mas?
Jawab :
Gpp, tapi Rasulullah memberikan contoh wudhu saja jika lagi malas mandi junub.

Plus ada juga sedikit kekurangan bagi orang yang junub, yakni dia akan dijauhi malaikat

Tanya :
Klo sekedar tegang, mengurangi pahala kah?
Jawab :
Kalau hitam putih fiqh sepertinya tidak. Walloohu A’lam

Seseorang yang memiliki “kemampuan” besar, cenderung mengikuti “hawa nafsu” yang besar

Leave a comment

Seseorang yang memiliki “kemampuan” yang besar, umumnya juga disertai memiliki kecenderungan mengikuti “hawa nafsu” yang besar.

Maka dari itu jangan heran ada jenis orang-orang yang memiliki kemampuan dan keahlian yang tinggi, namun dia memiliki kecenderungan menggunakan kemampuannya untuk membenarkan dan mendukung kecenderungan hawa nafsu nya.

Katakanlah dia menjadi agak “nyeleneh” dan kadang memiliki ego yang besar. Kecuali orang yang jujur terhadap kebenaran, mau menyalahkan dirinya sendiri, dan selalu berusaha untuk melawan hawa nafsu nya.

***
Di antara orang orang yang memiliki “spesifikasi yang tinggi” itu, sangat disayangkan ada yang memanfaatkannya hanya untuk kepentingan masalah duniawi dan kecenderungan hawa nafsu nya.

Dia tidak melirik sedikit pun untuk memanfaatkan kemampuannya untuk mempelajari, memperjuangkan, dan membela agama nya.

Kecuali orang orang yang Allah berikan kecenderungan dan hidayah dari Allah.

***
Bahkan di antara orang orang yang memiliki “spesifikasi yang tinggi” itu, yang walaupun dia menggunakan kemampuannya untuk masalah agama.

Dia tetap tidak terlepas juga dari godaan hawa nafsunya. Bukankah banyak juga orang memiliki kemampuan dalam memahami agama, namun membenarkan dan mendukung kecenderungan hawa nafsu nya atas nama agama?

Maka dari itu saya sangat salut terhadap orang yang memiliki “kemampuan dan spesifikasi yang tinggi”, yang dia menggunakannya untuk kepentingan agamanya, dan dia berusaha untuk berjuang sekuat tenaga melawan hawa nafsunya itu.

Dia jujur terhadap kebenaran, mau menyalahkan untuk dirinya sendiri jika dia memang bersalah.

Older Entries