Yang tidak pernah ditahdzir istrinya atau orangtua nya, coba ngacung. Nggak ada kan?

Maka dari itu, mari kita lihat dulu esensi tahdzir nya.

***
Pernyataan “Semua diianggap Salafi” misalnya.

Kita lihat dulu,
masak orang yang mentakwil sifat sifat Allah yang banyak tersebar di negara ini juga dianggap Salafi?

Padahal buku buku induk manhaj Salaf tegas mengatakan, bahwa ini menyimpang dari manhaj Salaf.

Khowarij dalam wajah Takfiri dan Haroki, juga nanti jangan jangan bisa dianggap Salafi pengikut manhaj Salaf juga nih.

Nah berarti pemahaman ini Salah. Bahkan ini jauh lebih muwazanah dan lebih Pluralis Manhaj dibandingkan yang heboh sebelumnya sebenarnya.

***
Jika pemahaman salah ini kemudian disebar luaskan, maka berarti perlu ditahdzir dan diingatkan akan bahaya pemahaman ini nggak?

Nah, faham kan maksudnya?

***
Maka dari itu mengenal manhaj Salaf itu hendaklah berdasarkan ilmu dan dalil dalilnya yang terperinci.

Jangan hanya berdasarkan modal feeling dan popularitas. Atau yang instan instan model tematik.

Yang namanya popularitas zaman sekarang ini, dengan menggunakan sosial media marketing dan networking akan sangat mudah untuk dibikin dan diorbitkan.

Maka dari itu ketika sosial media marketing ini dikritisi dengan peringatan akan bahaya, maka banyak yg nggak suka dan menggoreng nya kan?

Ya, karena ada kepentingan untuk mengorbitkan seseorang dan menjatuhkan seseorang disitu.

Masalah esensi manhaj dan tahdzir dianggap tidak perlu dan sengaja dikaburkan di sini.

Sekarang sudah mulai faham kan, kenapa ekspose nya ini demikian besar dan sengaja di viral kan?

Advertisements