Takdir itu sudah ditetapkan. Apa yang kita ketahui itu adalah takdir yang sudah berlalu, adapun takdir yang ada di depan kita tidak mengetahui nya.

Karena kita tidak mengetahui takdir yang akan terjadi ke depannya, yang diwajibkan bagi kita ada dua :

1. Beriman secara global bahwa takdir manusia yang tidak kita ketahui di depan itu sudah ditetapkan sejak dulu kala.

2. Berikhtiar semaksimal mungkin untuk menjemput apa yang Allâh telah takdirkan bagi kita.

Adapun yang dilarang bagi kita juga ada dua :

1. Beralasan dengan takdir Allah yang belum kita ketahui di depan, untuk menolak irodah syar’iyyah Allâh yang dibebankan kepada kita.

2. Bahwasanya dilarang bagi kita menetapkan takdir muallaq yang merupakan takdir baru yang baru ditetapkan bergantung sesuai dengan usaha, ikhtiar, dan kehendak kita.

***
Dibolehkan bagi kita satu hal :

Beralasan dan berargumen dengan takdir yang telah lalu, yang telah terjadi, dan yang kita ketahui untuk bahan introspeksi serta penetapan takdir terhadap diri kita dengan menggunakan timbangan syariat.

Ini sebagaimana “debat” yang terjadi antara Nabi Musa dan Nabi Adam, ketika Nabi Musa menyalahkan “kesalahan” yang dilakukan Nabi Adam hingga menyebabkan dirinya dan keturunan nya dikeluarkan dari surga.

Nabi Adam memenangkan perdebatan itu dengan beralasan bahwa itu adalah takdir Allah yang telah ditetapkan sejak jauh kala, sesuai dengan hikmah Nya.

Hadits ini Shohih.

***
Dan dilarang bagi kita satu hal juga :
Berusaha mencari cari tahu apa takdir kita ke depan, karena itu rahasia Allâh sesuai dengan hikmah Nya.

Yang diwajibkan bagi kita adalah berikhtiar semampu kita sesuai dengan syariat, guna menjemput takdir kita yang sudah ditetapkan dan yang merupakan rahasia ilahi.

Salah satu hikmah dari hal ini agar terkumpul pada kita rasa Khouf (takut), Roja’ (pengharapan), dan Mahabbah (cinta) kepada Allah Ta’ala.

Ketiga rasa ini adalah ruh dalam memahami dan menjalankan agama.

Walloohu A’lam

Advertisements