Kalau di dalam dunia akademisi ilmiah, seseorang itu dianggap senior atau menjadi profesor melalui banyaknya jumlah tulisan ilmiah dan manfaat yang dihasilkan melalui tulisan nya itu.

Penerimaan rekan sejawat atau seprofesi akan buku tulisan nya itu, dan penggunaan bukunya sebagai referensi ilmiah oleh orang orang yang seprofesi dengan nya juga merupakan bukti akan pengakuan keseniorannya dan otoritas ilmiah nya.

Demikian juga di dalam agama dan dunia dakwah Salafiyyah ini.

****
Syaikh Albany rohimahulloh misalnya, kebanyakan yang memberikan pengakuan akan kesenioran beliau adalah rekan rekan sejawat nya, para murid murid nya, dan Ummat Islam secara umum melalui penerimaan ilmiah atas karya karya beliau.

Pengakuan kesenioran beliau bukan melalui orang yang lebih tinggi atau dari guru beliau. Bukan pula melalui lembaga resmi di Saudi dengan haiah kibaarul ulama nya.

Namun para ulama di haiah kibaarul ulama semua sepakat bahwa Syaikh Albany rohimahulloh juga merupakan kibaarul ulama bagi umat Islam, melalui pengakuan dan penerimaan para ulama kibar terhadap buku buku dan tulisan ilmiah Syaikh Albany yang bermanfaat bagi dakwah Salafiyyah secara khusus dan Ummat Islam secara umum.

***
Demikian juga para Asatidz Senior dakwah Salafiyyah di Indonesia ini, yang diakui dan dirujuk oleh para asatidz lainnya akan masalah pengalamannya, khidmat nya terhadap dakwah, dan otoritas ilmiah nya yang dijadikan rujukan melalui buku buku tulisan nya yang tersebar untuk membina ummat.

Ini seperti Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawaz dan Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat. (Dan mereka berdua adalah orang biasa yang tidak ma’shum)

Adapun orang orang yang dengki akan hal ini, maka dia biasanya mengejek ejek atau menyindir nyindir kenapa beliau beliau dianggap kibar.

Emang siapa yang kasih rekomendasi bahwa beliau dianggap kibar, sehingga mempunyai otoritas untuk memberikan rekomendasi atau pertimbangan dalam pergerakan dakwah Salafiyyah di Indonesia?

Siapa yang kasih rekomendasi bahwa dia kibar, sehingga bisa memberikan pendapat bahwa ini asatidz yang lurus manhaj nya, ini orang orang yang bermasalah, dan ini orang orang yang hanya berkedok Salafi saja yang mana sebenarnya adalah Haroki atau Takfiri atau Hizbiyyun atau Free thinker fans berat manhaj muwazanah yang menyamar?

Demikianlah kedengkian demi kedengkian yang dihembuskan oleh orang orang yang mencoba menyusup dalam dakwah Salafiyyah di Indonesia ini.

Dan yang paling kentara kedengkian nya kepada asatidz kibar itu biasanya dari gerombolan free thinker dan fans berat manhaj muwazanah yang berkedok memakai baju Salafiyyah, yang mana mereka sangat mesra dengan Haroki dan Takfiri.

Demikianlah tipu daya dan muslihat mereka.

Jadi bagaimana setelah melihat uraian di atas?

Apakah kita sekarang sudah bisa “mengendus” dan mengenali keberadaan mereka di sekitar kita ini?

Advertisements