Masih edisi masalah timbangan,

Seorang muslim jika dia berakhlak buruk, maka apakah dia berdosa? Tentu dia berdosa, dan bahkan itu dosa besar.

Namun jikalau dia dosanya besar karena akhlaknya yang buruk, namun manhajnya dalam tauhid lurus dan benar.

Maka jika ditimbang dan dibandingkan di timbangan Allâh, maka manakah yang lebih berat?

***
Sebentar, sebelumnya saya nasehati ya mas. Fikir dulu baik baik sebelum menjawab.

Masalah timbangan Allâh itu masalah yang ghoib dan termasuk dalam perkara Aqidah lho.

Jangan sampai karena antum mengikuti hawa nafsu, lalu sembarangan menjawabnya.

***
Hmmm, ya. Anda benar.

Jikalau saya tujuannya sejak dari awal ingin mendiskreditkan seorang Muslim yang kebetulan saya menemukan “celah” keburukan di akhlaknya, maka ini adalah kesempatan paling baik untuk menjatuhkannya.

Jika tujuan saya seperti itu, tentu akan saya jawab berat Akhlaq dibandingkan pemahaman manhaj nya yang haq dalam masalah Tauhid

Peduli amat timbangan Allâh itu termasuk hal ghoib yang merupakan perkara Aqidah atau nggak. Yang penting tujuan saya untuk menjatuhkannya terpenuhi.

Tapi setelah anda berkata seperti itu, maka saya harus adil menjawabnya, walaupun saya membencinya dan menyebabkan tujuan saya tidak terpenuhi.

****
Jadi Karena akhlak buruk itu termasuk dosa besar yang harus diingkari, namun karena kita sudah berbicara dengan timbangan Allâh guna dibandingkan dengan manhaj yang haq dalam masalah Tauhid yang ada pada seorang muslim.

Maka sesuai dengan hadits Bithoqoh (Kartu) yang Rasulullah sebutkan, jika dibandingkan antara dosanya karena akhlaknya yang buruk dengan manhaj nya yang haq dalam masalah Tauhid, maka lebih berat manhaj tauhid nya yang haq di sisi timbangan Allâh.

Sekali lagi ini di sisi timbangan Allâh ya.

Kalau di sisi timbangan manusia seperti saya, saya tetap tidak terima dengan akhlaknya yang buruk, dan dia jatuh di timbangan manusia seperti saya ini.

***
Ohya gpp jika dia jatuh di timbangan manusia seperti kita kita ini.

Yang penting antum telah berlaku benar dan sesuai ilmu mengenai timbangan Allâh mengenai hal yang dibandingkan.

***
Hmm, tapi bukannya Rasulullah juga berkata yang berat di timbangan Allâh itu adalah bertaqwa kepada Allah dan Akhlak yang baik?

Ya benar, tapi hadits itu Rasulullah tidak mengikutinya dengan membanding bandingkan nya dengan hal lain. Beda dengan hadits Bithoqoh.

Sekali lagi hadits itu tidak dalam konteks membandingkan antara akhlak dengan manhaj dalam masalah Tauhid. Hadits itu hanya menjelaskan beratnya amalan akhlak baik di sisi timbangan Allâh. Bukan untuk membandingkan nya dengan manhaj.

Benar kan? Jadi kita on the same page dulu ya.

Jadi jangan sampai karena mengikuti hawa nafsu terus antum nambah nambahin hadits.

Jangan ya, nggak baik itu 🙂

***
Kalau begitu antum membandingkan dengan masalah akhlak Abu Tholib ? Kenapa nggak langsung sebutkan hadits masalah Bithoqoh?

Saya masih es-mos-si nih…..

Hehe jangan es-mos-si mas. Tapi antum menerima dan mengimani hadits Bithoqoh tadi kan?

Ya, saya mengimani nya. Jawaban anda benar dan saya salah. Saya hanya tanya kenapa nggak langsung sebut ke hadits Bithoqoh? Kan saya nggak harus korban perasaan jadinya.

Lho mas, cup cup jangan baper dan sedih dulu. Kan pertanyaan nya antara akhlak dan manhaj, berat mana di timbangan Allâh? Itu kan pertanyaan umum, jadi ya nggak salah donk jawaban saya.

Lagi pula jelas saya sebut disitu “manhaj masalah Tauhid” dibandingkan dengan akhlak baik. Antum saja kali yg kurang teliti membaca, dan terburu nafsu melempar tuduhan.

***
Iya, benar sih. Tapi kenapa antum nggak jawab pertanyaan saya?

Oh Itu kan pertanyaan hari jumat, sedangkan sekarang masih hari Ahad. Jadi buat apa saya jawab sekarang?….

Haha bercanda mas… Sekarang hari Ahad bukan hari jumat, semua tahu itu.

Anyway,
Saya ini sudah terbiasa tidak menjawab “loaded questions”.

Lagi pula teman teman yang lain faham kok apa yang saya maksud, dan faham juga bahwa ini adalah “loaded questions” yang berbeda dengan penjelasan yang saya tuliskan.

Maka dari itu saya biarkan saja dulu, biar mau meneliti lagi dan faham sendiri bahwa dia salah.

Bukanlah sikap yang bijak menasehati orang yang sedang mabuk.

Mending tunggu dulu biar mabuknya hilang, biar muntah muntah dulu dan mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya.

Setelah lega dan sadar, baru kita coba nasehati setelahnya. Siapa tau dia mau mendengar 🙂

=====
Catatan : Hadits Bithoqoh yang kita maksud adalah sebagai berikut,

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ

“Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. Setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang.

Kemudian Allah menanyakan padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zholim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.”

Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Dan sungguh tidak akan ada kezaliman atasmu hari ini.”

Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh’.

Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah didzolimi .”

Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya.Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tadi.

(HR. Ibnu Majah no. 4300, Tirmidzi no. 2639 dan Ahmad 2: 213. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy yaitu kuat dan perowinya tsiqoh termasuk perowi kitab shahih selain Ibrahim bin Ishaq Ath Thoqoni. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Advertisements