Beriman kepada para Malaikat secara terperinci – 1

Disini kita akan membahas masalah Penciptaan Malaikat dan Hikmah Allah menciptakan Malaikat.

A. MASALAH PENCIPTAAN MALAIKAT
[Cahaya (Nuur)] :

1. Malaikat diciptakan dari cahaya (nuur). Dari materi penciptaan yang berupa cahaya ini Malaikat diciptakan hingga mempunyai bentuk fisik.

2. Khabar penciptaan Malaikat berasal dari cahaya ini hanya kita dapatkan dari hadits Rasulullah yang shohih, adapun Al Qur’an tidak menjelaskannya.

Al Qur’an menjelaskan mengenai penciptaan nabi Adam ‘alaihis salaam berasal dari tanah, seperti dalam QS Shad : 71-72, Fathir : 11, Ali Imran : 59. Dan jin yang berasal dari api, seperti dalam QS Al Hijr : 27, Ar Rahman : 15, dan Al A’raf : 12.

Adapun untuk penciptaan Malaikat yang berasal dari cahaya kita hanya mendapatkan khabar itu dari hadits Rasulullah.

3. Jenis cahaya yang digunakan untuk menciptakan malaikat tidak dijelaskan secara terperinci, maka dari itu kita berpegang kepada kemutlakan pengertian kata “cahaya” (nuur) sebagai materi penciptaan Malaikat.

Memang ada hadits yang menyebutkan bahwa jenis cahaya yang digunakan sebagai materi penciptaan malaikat itu adalah cahaya hijab (Nuurul Hijab). Yakni hijab Allah yang terbuat dari cahaya. Akan tetapi hadits ini dhoif (lemah), sehingga tidak bisa dijadikan dalil.

———-
[Malaikat, Iblis, dan Nabi Adam] :

4. Malaikat diciptakan sebelum Nabi Adam ‘alaihis salaam diciptakan, sebagaimana ini jelas terlihat di dalam Al Qur’an. Yang mana Allah mengabarkan kepada para Malaikat, bahwa Allah akan menciptakan nabi Adam dan keturunannya sebagai Kholifah di muka bumi. [Lihat QS Al Baqarah : 30]

Sekedar menambahkan,
Iblis dari golongan Jin ini juga telah diciptakan sebelum nabi Adam ‘alaihis salaam diciptakan [Lihat QS Al Hijr : 27]. Maka dari itu Iblis disuruh Allah untuk sujud bersama-sama dengan Malaikat kepada nabi Adam ‘Alaihis salaam.

5. Khusus mengenai Iblis laknatullah ‘alaih, terdapat khilaf (perbedaan pendapat) di antara para ulama apakah Iblis itu berasal dari golongan Malaikat, ataukah berasal dari golongan Jin.Yang benar Iblis itu berasal dari golongan Jin.

Adapun ketika para Malaikat diperintahkan untuk sujud kepada Nabi Adam ‘alaihis salaam, yang mana Iblis juga ikut diperintah dan menolak untuk sujud bersama para Malaikat. Maka ini tidak menunjukkan bahwa Iblis berasal dari golongan Malaikat.

Ini hanya merupakan bentuk atau gaya bahasa istitsna munqothi’ (pengecualian yang terpisah), bukan istitsna minhu (pengecualian yang berasal dari golongan yang sama). Sebagaimana bentuk bahasa seperti ini juga diakui dalam bahasa Arab.

[Lihat juga pentarjihan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil hafidzahullah mengenai masalah ini untuk pembahasan yang lebih luas]

Iblis Laknatullah ‘alaih termasuk di dalam perintah Allah kepada para Malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam, karena dia golongan jin yang sangat taat sebelumnya, yang mempunyai derajat tinggi hingga memiliki kedudukan sama seperti para Malaikat.

Maka dari itu, Iblis diperintahkan sujud kepada Nabi Adam bersama-sama dengan para Malaikat. Walloohu A’lam.

Ulama Salaf dari kalangan Tabi’in Hasan Al Bashri berkata,
“Iblis tidak pernah menjadi malaikat sekejap pun juga. Sesungguhnya dia dari jenis Jin, sebagaimana Adam adalah asal manusia“ (Diriwayatkan oleh At-Thobari dengan sanad yang shahih. Lihat Juz: 3 / 89)

————-
[Malaikat bukan laki-laki dan bukan perempuan, tidak menikah, dan juga tidak berketurunan] :

6. Semua Malaikat diciptakan secara murni dari cahaya (nuur) secara mutlak, dan mereka tidak memiliki keturunan yang terlahir melalui perkawinan. Dengan kata lain, Malaikat tidak menikah dan juga tidak berketurunan.

Ini berbeda dengan manusia dan Jin.

Yang mana nabi Adam sebagai asal muasal manusia yang Allah ciptakan dari tanah, yang kemudian melanjutkan keturunan melalui perkawinan di antara sesama manusia.

Demikian juga Iblis yang Allah ciptakan dari api sebagai asal muasal Jin, yang kemudian melanjutkan keturunan melalui perkawinan antara sesama Jin.

7. Malaikat tidak disifati sebagai laki-laki ataupun perempuan, kecuali dalam bentuk gender penggunaan bahasa Arab saja.

Yakni karena isim (kata benda) dalam bahasa Arab itu dibagi menjadi dua : mudzakkar (maskulin) dan muannats (feminin). Dan tidak ada kata benda yang bergender netral dalam bahasa Arab. Maka isim Malaikat termasuk isim mudzakkar.

Walau kata Malaikat termasuk isim mudzakkar, namun ini tidak menunjukkan bahwa Malaikat itu berjenis laki-laki. Maka dari itu Malaikat tidak menikah dan juga tidak berketurunan. Semua diciptakan dari cahaya (nuur).

Berbeda dengan manusia dan jin, yang terbagi menjadi laki-laki dan wanita. Yang mana terjadi perkawinan di antara mereka, dan melahirkan keturunan.

————–
[Malaikat adalah Makhluk Ghoib yang memiliki alam sendiri, yang bisa ber-tasyakkul (menjelma) di alam kita untuk menampakkan diri] :

8. Malaikat termasuk makhluk ghoib yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa, kecuali jika Malaikat tersebut ber-tasyakkul (merubah bentuk untuk menjelma) menjadi manusia. Ini sama seperti hal-nya Jin yang juga merupakan makhluk ghoib bagi manusia, yang tidak bisa kita lihat kecuali jin itu ber-tasyakul dalam suatu bentuk tertentu.

Dan Nabi Muhammad Shalalloohu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Malaikat Jibril alaihis salaam dalam bentuk aslinya tanpa ber-tasyakkul sebanyak 2 kali, sebagaimana ini adalah kekhususan yang diberikan kepada Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Adapun ketika malaikat Jibril ber-tasyakkul sebagai seorang laki-laki dan menemui Rasulullah, maka para Sahabat juga dapat melihatnya.

9. Malaikat ketika ber-tasyakkul selalu menjelma menjadi seorang laki-laki. Sebagaimana hal ini banyak disebutkan dalam hadits yang Shohih. Malaikat tidak pernah menjelma menjadi seorang wanita untuk menampakkan diri kepada Manusia.

Akan tetapi ini juga tidak berarti bahwa Malaikat itu berjenis kelamin laki-laki, sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya.

10. Malaikat memiliki alam tersendiri yang berbeda dengan alam kita. Yang mana malaikat bisa melihat dan mengawasi kita, namun kita tidak bisa melihat malaikat.

Kita juga tidak bisa berkontak fisik dengan Malaikat karena alam kita berbeda, kecuali jika Malaikat itu ber-tasyakkul di alam kita.

————-
[Keyakinan bathil mengenai Malaikat] :

11. Kaum Musyrikin Arab jahiiyyah memiliki I’tiqod bahwa Malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah, dan ini adalah I’tiqod yang batil sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur’an. Lihat QS. Al Isra : 40, Ash Shaaffaat : 149 -154 dan Az Zukhruf : 15-29.

Ini juga membatalkan keyakinan Ahlul Kitab yang mensifati Malaikat sebagai wanita cantik yang memiliki bersayap, atau yang disifatkan sebagai anak laki-laki kecil bersayap yang polos dan lugu, atau yang mensifati Malaikat sebagai laki-laki tampan yang bersayap.

Wanita bidadari yang ada di Surga di langit itu bukan dari jenis Malaikat. Dan itu adalah suatu pembahasan tersendiri mengenai sifat-sifat surga dan penghuninya.

12. Allah subhaanahu wa ta’ala menciptakan Malaikat sebagai makhluk-Nya yang selalu ta’at, patuh, dan ma’shum (terjaga dari dosa). Lihat QS. An Nahl : 50, At Tahrim : 6, dan Al Anbiya : 26-27

Maka dari itu keyakinan adanya malaikat yang jahat, atau fallen angel (malaikat yang terjatuh karena dikeluarkan dari surga), atau Lucifer sebagaimana dalam literature barat. Itu semua adalah aqidah yang batil yang berasal dari Ahlul Kitab.

13. Malaikat diciptakan sebagai hamba Allah yang menyembah Allah, dan tidak mempunyai sifat uluhiyyah (Ketuhanan) sama sekali. Walaupun para Malaikat itu dekat dengan Allah, dan sering naik turun dari langit ke dunia untuk menjalankan perintah Allah.

Ini aqidah penting masalah penciptaan Malaikat yang harus kita fahami. Sehingga para Malaikat itu bukanlah suatu makhluk Allah yang kita ibadahi atau sampaikan doa kepadanya, sebagai media ber-tawasul (perantara) dalam bertaqorub (mendekatkan diri) kepada Allah.

Sebagaimana ini adalah keyakinan Musyrikin Jahiliyyah pada zaman dulu, yang Allah kabarkan kebatilannya dalam QS. Saba’ : 40-42 dan Az Zukhruf : 19-20

14. Malaikat diciptakan sebagai hamba Allah yang menyembah Allah, dan tidak mempunyai sifat uluhiyyah (Ketuhanan) sama sekali.

Keyakinan sebagian Ahlul Kitab (Kristen) bahwa Roh Kudus (nama lain dari Malaikat Jibril) sebagai oknum ketuhanan yang bersekutu dengan Allah, adalah aqidah yang batil dan syirik.

————
[Tujuan Diciptakan Malaikat] :

15. Malaikat asalnya diciptakan sebagai penghuni langit, yang memenuhi langit hingga tujuh lapis langit walaupun kita tidak bisa melihatnya.

Yang dimaksud 7 lapis langit di sini bukan hanya “langit dunia” yang bisa kita lihat tanpa bantuan alat saja. Namun juga termasuk ruang angkasa atau Antariksa,galaksi, dan segalanya.

Yang mana kita tidak mengetahui berapa besarnya langit ruang angkasa itu kecuali dengan menduga-duga melalui pendekatan ilmu kosmoslogi. Dan kita juga tidak mengetahui berapa jarak tahun cahaya, batas antara satu lapis langit ke langit selanjutnya.

Namun kita ber-I’tiqod bahwa di tiap lapisan langit itu banyak terdapat para Malaikat walaupun kita tidak bisa melihatnya. Ini sebagaimana Hadits Rasulullah bahwa langit sampai merintih karena beratnya memanggul para Malaikat, yang mana pada tiap jarak seluas 4 jari di langit pasti ada malaikat di situ.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ أَطَّتِ السَّمَاءُ، وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا لِلَّهِ، وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

“Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat, aku mendengar sesuatu yang tidak kalian dengar. Langit merintih dan layak baginya untuk merintih. Tidak ada satu ruang selebar 4 jari, kecuali di sana ada malaikat yang sedang meletakkan dahinya, bersujud kepada Allah. Demi Allah, andaikan kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan sering menangis.” (HR. Ahmad 21516, Turmudzi 2312, Abdurrazaq dalam Mushanaf 17934. Hadis ini dinilai hasan lighairihi oleh Syuaib Al-Arnauth).

16. Tiap-tiap langit itu juga memiliki para malaikat penjaganya tersendiri, sebagaimana yang dikabarkan dalam hadits mi’roj-nya (diangkatnya) Rasulullah ke langit bersama malaikat Jibril, hingga sampai langit ke tujuh di Sidrotul Muntaha.

Rasulullah di sana menyaksikan Arsy (singgasana) Allah subhaanahu wa ta’ala, yang dibawa oleh delapan Malaikat pemikul Arsy yang sangat besar. Yang mana jarak antara daun telinga hingga ke pundak salah satu malaikat pemanggul ‘Arsy itu jaraknya seperti 700 tahun perjalanan.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أُذِنَ لِى أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ

“Aku telah diizinkan untuk mengabarkan tentang para malaikat pemikul ‘arsy, sesungguhnya satu malaikat, jarak antara daun telinga sampai ke bahunya, sejauh perjalanan 700 tahun.” [HR. Abu Daud dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 151]

Malaikat pemikul Arsy ini juga disebutkan dalam QS Al-Mu’min : 7 dan Al Haqqah : 17

17. Malaikat walaupun diciptakan sebagai penghuni langit, namun ada beberapa jenis Malaikat yang bertugas naik turun dari langit ke dunia, untuk menjalankan tugasnya.

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada waktu shalat Shubuh dan shalat Ashar. Mereka berkumpul di saat Shalat Shubuh, maka malaikat malam naik ke langit dan tinggallah malaikat siang. Dan mereka berkumpul pada waktu Ashar, maka naiklah malaikat siang dan tinggallah malaikat malam.

Allah bertanya kepada para malaikat tersebut, “Bagaimana keadaan hamba-Ku ketika kalian tinggalkan?”

Para malaikat menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, maka ampunilah mereka nanti pada Hari Kiamat.” [Shahihul Musnad dan Shahih Ibnu Khuzaimah]

18. Malaikat diciptakan Allah dengan tugasnya masing-masing, sekaligus juga bertindak sebagai pasukan Allah yang siap mematuhi perintah Allah untuk berperang.

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” [QS. al-Anfal : 9]

وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ ۖ فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَىٰ مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ ۚ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu”.

Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah”.

Dan Allah sangat keras siksa-Nya. [QS Al Anfal : 48]

Kita akan berbicara mengenai tugas-tugas para Malaikat pada pembahasan tersendiri.

19. Malaikat diciptakan untuk selalu taat dan mematuhi perintah Allah, walaupun perintah itu berupa memberikan cobaan fitnah kepada Manusia. Sebagaimana Malaikat Harut dan Marut yang diturunkan untuk mengajarkan sihir, yang kemudian disebarkan oleh para Syaithan dari golongan jin kepada para manusia. Lihat QS Al Baqarah : 102

QS Al Baqarah : 102 itu jelas menyebutkan bahwa sebelumnya malaikat Harut dan Marut itu berkata bahwa sihir ini adalah fitnah, maka janganlah engkau Kafir. Akan tetapi manusia ada yang terhasut dengan fitnah itu melalui godaan syaithan jenis jin, sehingga mereka belajar sihir dan mengikat perjanjian dengan syaithan dari golongan jin. Walloohu A’lam.

Dari sisi Malaikat Harut dan Marut itu sendiri, maka mereka tidak dipandang bermaksiat karena mereka hanya taat dan patuh terhadap perintah Allah untuk memberikan cobaan fitnah berupa sihir yang kufur itu. Dan sebelumnya mereka juga sudah memberikan peringatan mengenainya.

Sihir itu tidak akan memberikan kemadhorotan kecuali atas izin Allah sebagaimana yang ditegaskan dalam QS Al Baqarah : 102 itu.

[Lihat juga berbagai perbedaan Tafsir mengenai siapa Harut Marut itu. Ada yang berpendapat bahwa itu adalah benar-benar Malaikat. Ada juga orang yang memiliki kesholehan seperti Malaikat. Dan ada juga yang berpendapat bahwa itu ada orang jahat yang berpura-pura sholeh seperti Malaikat]

Namun malaikat umumnya justru diturunkan dan ditugaskan untuk hal-hal yang baik, kecuali Harut dan Marut sesuai dengan hikmah yang Allah kehendaki. Bahkan ada juga Malaikat yang bertugas untuk menjaga kota Makkah dan Madinah agar tidak bisa dimasuki oleh Dajjal.

Dalam hadits Fathimah bin Qois radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Dajjal mengatakan,

فَأَخْرُجَ فَأَسِيرَ فِى الأَرْضِ فَلاَ أَدَعَ قَرْيَةً إِلاَّ هَبَطْتُهَا فِى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً غَيْرَ مَكَّةَ وَطَيْبَةَ فَهُمَا مُحَرَّمَتَانِ عَلَىَّ كِلْتَاهُمَا كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَ وَاحِدَةً أَوْ وَاحِدًا مِنْهُمَا اسْتَقْبَلَنِى مَلَكٌ بِيَدِهِ السَّيْفُ صَلْتًا يَصُدُّنِى عَنْهَا وَإِنَّ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلاَئِكَةً يَحْرُسُونَهَا

“Aku akan keluar dan menelusuri muka bumi. Tidaklah aku membiarkan suatu daerah kecuali pasti aku singgahi dalam masa empat puluh malam selain Makkah dan Thoybah (Madinah Nabawiyyah). Kedua kota tersebut diharamkan bagiku. Tatkala aku ingin memasuki salah satu dari dua kota tersebut, malaikat menemuiku dan menghadangku dengan pedangnya yang mengkilap. Dan di setiap jalan bukit ada malaikat yang menjaganya.” (HR. Muslim no. 2942)

Dan fitnah Dajjal itu jauh lebih besar dibandingkan sihir. Kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh Dajjal itu bukan sihir, akan tetapi memang benar-benar kemampuan yang luar biasa sebagai fitnah bagi ummat Manusia. Ini seperti kemampuan Dajjal untuk menghidupkan orang mati (dengan izin Allah), dan sebagainya.

*********
B. HIKMAH ALLAH MENCIPTAKAN MALAIKAT

Hikmah Allah menciptakan Malaikat sangat banyak, dan sejauh mana seseorang diberikan rezeki berupa ilmu dan pemahaman, maka sejauh itu pulalah dia dapat mengambil hikmah dari penciptaan Malaikat tersebut.

Berikut akan kami sebutkan beberapa hikmah penciptaan Malaikat, hingga Allah subhaanahu wa ta’ala sampai menjadikan Iman kepada para Malaikat itu sebagai rukun Iman kedua setelah beriman kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.

Di antara hikmah tersebut adalah :

1. Allah menciptakan Malaikat sebagai hamba-Nya yang beribadah dan tunduk patuh kepada Nya semata.

Yakni walaupun Malaikat memiliki kemuliaan yang sangat tinggi dan kemampuan yang sangat luar biasa, namun Malaikat tetaplah makhluk ciptaan Allah yang tidak memiliki unsur uluhiyyah (ketuhanan) sama sekali dan tidak boleh disembah atau diibadahi.

Ini sebagai ibroh bagi manusia, yang mana terdapat sebagian musyrikin yang kagum dengan kekuatan alam semesta hingga melakukan ritual peribadahan dan penyembahan kepadanya. Baik itu kepada pohon besar, gunung, lautan, Batu besar, peninggalan orang sholeh, kuburan, patung, dan lain-lain yang semisal.

Dijadikan Ibroh maksudnya bahwa walaupun para Malaikat yang memiliki kemuliaan, kekuatan , dan kemampuan yang sangat luar biasa melebihi dari semua yang kita sebutkan sebelumnya itu. Namun tidak boleh bagi kita untuk beribadah dan menyembah Malaikat. Tidak boleh ber-tawasul dan bertabaruk kepada para Malaikat. Semua itu adalah hak Allah semata.

2. Allah mampu menciptakan makhluk Ghoib yang durhaka dan selalu bermaksiat kepada-Nya, sebagaimana Syaithon dan Iblis dari golongan Jin. Dan Allah juga mampu menciptakan makhluk Ghoib yang selalu patuh dan taat kepada-Nya sebagaimana para Malaikat ini.

Dan semuanya itu tidaklah mengurangi kemuliaan dan kekuasaan Allah subhaanahu wa ta’ala sedikit pun.

Maka dari itu ketika kita Sholeh, hendaklah kita faham bahwa kesholehan itu demi untuk diri kita sendiri, dan itu tidak akan mempengaruhi kerajaan Allah. Dan demikian juga ketika kita bermaksiat.

Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

“Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun.

Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2577)

3. Mengimani bahwa terdapat Malaikat yang bertugas mengawasi kita dan mengatur alam semesta ini atas perintah Allah. Sehingga kita tidak merasa aman dari dari kekuasaan Allah, dan selalu merasa takut kepada Nya

4. Memberikan kita motivasi untuk melakukan amal sholeh, karena adanya keutamaan tertentu dari sebagian amalan tersebut yang dikaitkan dengan tugas khusus dari Malaikat.

Seperti misal keutamaan mendatangi majlis ilmu, yang mana disana terdapat Malaikat khusus yang bertugas mendatangi majlis ilmu dan menurunkan Sakinah (ketenangan) di sana. Hal ini akan kita bahas lebih lanjut di dalam tugas-tugas para Malaikat.

5. Mengaitkan sebagian kebaikan, keutamaan amalan, dan larangan dengan sifat dan hak-hak para Malaikat. Seperti misal tidak menyimpan patung atau gambar di dalam rumah, karena Malaikat Rahmat tidak akan memasuki rumah yang seperti itu.

Ini akan kita bahas pada bab-bab selanjutnya insya Allah

6. Memahami qaidah bahwa I’tiqod yang benar mengenai Malaikat dan hal-hal ghoib lainnya itu, mutlak harus berdasarkan khabar dari Allah dan Rasul-Nya. Tidak boleh berdasarkan hal-hal lainnya.

Sebab banyak orang yang memiliki I’tiqod yang salah kepada Malaikat, yang berakibat fatal hingga menyebabkan kesyirikan dan kerusakan Aqidah. Ini sebagaimana yang telah Allah jelaskan di dalam Al Qur’an. Dan hal ini juga berlaku kepada hal-hal ghoib lainnya.

Semua yang berkaitan dengan hal-hal yang ghoib itu, mutlak wajib ada dalil dan dasar khabar dari Allah dan Rasul-Nya. Tidak hanya berdasarkan tradisi, cerita mistis, mitos, klenik, mimpi, rangkain teori yang dibuat-buat, dan lain-lain semisal.

7. Meyakini bahwa para Malaikat itu adalah makhluk mulia ciptaan Allah yang ikut mendoakan dan memintakan ampunan bagi kita kepada Allah. Sehingga kita semangat dalam beramal dan tidak berputus asa dari Rahmat Allah

8. Memahami perincian Malaikat sebagai makhluk Allah yang sangat luar biasa, maka itu memberikan pengaruh kepada kita dalam memahami ke-Maha Kuasa an Allah. Yang mana ini akan mendorong keimanan kita kepada Allah menjadi lebih tinggi.

9. Menghilangkan keangkuhan dan memperbaiki akhlak buruk kita, dengan jalan memahami iman kepada para Malaikat yang benar.

Yakni memahami bahwa Malaikat selaku makhluk yang sangat luar biasa dan mulia itu sangat taat dan patuh kepada Allah, apalagi diri kita yang lemah dan banyak memiliki aib ini. Maka seharusnya tidak pantas bagi kita untuk bersikap angkuh dan berakhlak buruk, sedangkan makhluk yang lebih mulia dari kita tidak bersikap angkuh dan tidak berakhlak buruk.

10. Memahami bahwa wahyu Allah Al Qur’an yang mulia itu, dibawa oleh pemimpin para Malaikat yang mulia (yakni Malaikat Jibril ‘alaihis sallam), untuk diberikan kepada Nabi yang mulia Rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Maka dari itu, sudah sepantasnya kita memuliakan Al Qur’an dengan cara membacanya, memahaminya, mempelajarinya, mengilmuinya, dan mengamalkannya.

***

Tanya :

Tanya….bagaimana Nur Muhammad,adakah benar2 ada?

 

Jawab :

Tidak ada.

Nabi Muhammad shalalloohu alaihi wa sallam itu diciptakan melalui pernikahan biasa, sama seperti manusia lainnya.

Keyakinan Nur Muhammad itu berasal dari hadits palsu.

 

Apresiasi :

Amiin….aku jg beranggapan bgt…itu gunanya guru…syukron ustad….sering aku berselisih paham dgn orang toriqot

***

Tanya :

Ust.,apakah bs kita hubungkan jarak antar langit yg ditulis diatas dengan hadits lain yg menyatakan jarak tiap langit ke 1 dengan berikutnya 500 tahun…?

Sekalian nanya.,kenapa Jibril jg disematkan panggilan Alaihi Salam ust..? Jazakallahu khairan…

 

Jawab :

Ya, hadits 500 tahun itu ada.

Hadits yang menyebutkan jarak antar langit 71, 72, 73 tahun juga ada.

حدثنا محمد بن الصباح البزاز، ثنا الوليد بن أبي ثور، عن سماك، عن عبد اللّه بن عميرة، عن الأحنف بن قيس، عن العباس بن عبد المطلب قال : كنت في البطحاء في عصابة فيهم رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم، فمرت بهم سحابة فنظر إليها فقال: “ما تسمون هذه؟” قالوا: السحاب، قال: “والمزن” قالوا: والمزن، قال: “والعنان” قالوا: والعنان، قال أبو داود لم أتقن العنان جيداً، قال: “هل تدرون ما بعد ما بين السماء والأرض؟” قالوا: لا ندري قال: “إنَّ بعد ما بينهما إمَّا واحدةٌ أو اثنتان أو ثلاثٌ وسبعون سنةً، ثم السماء فوقها كذلك” حتى عدَّ سبع سموات “ثم فوق السابعة بحرٌ بين أسفله وأعلاه مثل ما بين سماءٍ إلى سماءٍ، ثم فوق ذلك ثمانية أو عالٍ بين أظلافهم وركبهم مثل ما بين سماء إلى سماء، ثم على ظهورهم العرش [ما] بين أسفله وأعلاه مثل ما بين سماء إلى سماء، ثم اللّه تبارك وتعالى فوق ذلك”.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash-Shabbaah Al-Bazzaaz : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Abi Tsaur, dari Sammaak, dari ’Abdullah bin ‘Amiirah, dari Al-Ahnaf bin Qais, dari Al-’Abbaas bin ’Abdil-Muthallib, ia berkata : ”Aku pernah berada di Bath-haa’ bersama sekelompok orng yang diantaranya adalah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncullah awan melewati mereka. Kemudian beliau menoleh ke arahnya, lalu bertanya : ”Kalin sebut apa itu ?”. Mereka menjawab : ”Awan”. Beliau bersabda : ”Dan mendung”. Mereka berkata : ”Dan mendung”. Beliau menambahkan : ”Dan mega”. Mereka pun mengatakan : ”Dan mega”. Abu Dawud berkata : ”Aku tidak dapat menangkap dengan sempurna kata ketiga ini”. Kemudian beliau shallallaahu ’alaihi wa sallam bertanya : ”Tahukah kalian jarak antara langit dan bumi ?”. Mereka menjawab : ”Kami tidak tahu”. Beliau bersabda : ”Sesungguhnya jarak antara keduanya adalah 71 atau 72 atau 73 tahun, kemudian demikian juga langit yang ada di atasnya lagi”. Demikian hingga beliau menyebutkan tujuh langit. ”Kemudian di atas langit ketujuh ada samudera yang jarak permukaan dan dasarnya adalah seperti jarak antara satu langit dengan langit lainnya. Kemudian di atas itu terdapat delapan malaikat au’aal yang jarak antara kuku dan lututnya adalah seperti jarak antara satu langit dengan langit lainnya. Kemudian di atas punggung mereka ada ’Arsy yang mana jarak antara bawah dan atasnya adalah seperti jarak antara satu langit dengan langit lainnya. Kemudian Allah tabaaraka wa ta’ala berada di atas itu” [HR. Abu Dawud no. 4723]

Selain itu ayat Al Qur’an yang menyebutkan bahwa para Malaikat dan Malaikat Jibril naik ke langit menghadap Allah dalam waktu sehari juga ada.

Lihat QS As Sajdah : 5 dan QS Al Ma’arij : 4

Selain itu naik ke langit hingga ke langit ke tujuh dalam waktu semalam juga ada (baca : bukan sehari), sebagaimana peristiwa mi’roj nya Rasulullah.

 

Dari hal itu (500 tahun, 71-73 tahun, sehari, dan semalam) semua bergantung kepada kecepatan nya.

Adapun parameter kecepatan dan jarak yang sebenarnya kita kurang mengetahui nya. Walloohu A’lam

 

Tanya :

Jazakallahu khairan ust…trus soal Malaikat khususnya Jibril ditambahkan Alaihis Salam kenapa ust..?

 

Jawab :

Saya jawab pake foto aja ya. Penjelasan nya agak panjang hehe

[Lalu saya Foto Buku Menyelisik Alam Malaikat terjemahan dari tulisan Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, terbitan Pustakan Imam Syafi’i, hal 326 – 329)

Advertisements