Sebenarnya kalau para pendukung Ikhwanul Muslimin dan simpatisannya konsisten, berikut juga para Harokiyyun yang mengadopsi pemikiran Haroki hizbiyyah yang dicetuskan oleh IM.

Maka kedatangan raja Salman ini, adalah saat yang paling tepat untuk menunjukkan kebencian mereka kepada pemerintah Saudi dalam tiga hal.

***
1. Kebencian karena Saudi secara resmi mendukung As Sisi sebagai pemerintah definitif di Mesir.

Ketika terjadi konflik sewaktu pemerintahan mantan Presiden Mursi yang berasal dari Ikhwanul Muslimin itu, As Sisi berhasil melakukan kudeta dan mengambil alih pemerintahan resmi Mesir.

Yang mana setelah tampak bahwa As Sisi yang menang dan berkuasa secara de facto mempunyai kekuatan, Saudi secara resmi mendukung pemerintahan As Sisi sebagai pemerintahan definitif.

Ikhwanul Muslimin, simpatisannya, dan para Harokiyyun lainnya biasanya tidak terima dengan sikap Saudi, dan menyimpan dendam kesumat kepada Saudi.

*
Mereka selalu membawa bawa “dendam sejarah” terbunuhnya sekitar 900 pendemo di Rabiah Square ketika menolak pemerintahan As Sisi.

Dalam artian, sudah jatuh korban 900 orang kok Saudi malah secara resmi dukung As Sisi sih?

Dan demikian juga yang diikuti oleh para simpatisan serta pengikut manhaj IM di Indonesia.

*
Padahal jika kita mau berpikir logis, justru jika gejolak fitnah di Mesir itu “tidak ditenangkan”, bisa jatuh korban yang lebih banyak dari 900 orang dan perang Saudara.

Sikap fiqh “menghindari madhorot yang lebih besar ini” ( Akhofud dhororoin) kadang tidak difahami oleh orang yang menyimpang dari manhaj Salaf, dan hanya bertindak berdasarkan emosi.

Padahal sikap ini juga dilakukan oleh Salaf yang lebih utama daripada raja Salman, yakni sahabat Abdullah bin Umar rodhiyalloohu ‘anhu.

*
Ketika terjadi konflik antara Abdullah bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwan, maka setelah Abdul Malik bin Marwan muncul sebagai pemenang dan berkuasa secara de facto.

Dan Abdullah bin Zubair Qodarulloh dikalahkan dan sampai dibunuh dengan cara disalib oleh Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi yang bengis (selaku Panglima perang Abdul Malik bin Marwan waktu itu).

Maka demi menghindari madhorot yang lebih besar dan juga karena de facto Abdul Malik bin Marwan yang berkuasa, maka Abdullah bin Umar pun berbai’at dan menyatakan dukungan nya kepada Abdul Malik bin Marwan yang keluar sebagai penguasa de facto.

Ini Shohih sebagaimana peristiwa bai’at Abdullah bin Umar dengan atas nama Allah dan Rasul-Nya kepada Abdul Malik bin Marwan ini, disebutkan oleh Imam Al Bukhori dalam Shohih nya.

*
Uniknya lagi apakah ada sahabat atau Tabi’in yang lain ada yang protes dengan sikap Abdullah bin Umar?

Tidak, bahkan mereka justru mendukung nya karena mereka faham ini untuk menghindari madhorot yang lebih besar.

Mereka faham karena mereka bermanhaj Ahlus Sunnah, bukan Khowarij.

Tidak pernah mereka melakukan demo atau mengungkit ungkit “korban sejarah”, untuk menolak kekuasaan de facto Abdul Malik bin Marwan.

Mereka tidak mengungkit ungkit terbunuhnya Abdullah bin Zubair beserta pengikutnya, sebagaimana yang dilakukan Ikhwanul Muslimin terhadap Mursi dan korban demo di Rabiah Square.

Anas bin Malik selaku sahabat senior yang lain pun juga faham akan hal itu, dan bersabar atas apa yang terjadi.

Bahkan ketika para Tabi’in mengadu kepada Anas bin Malik perihal Hajjaj yang dzolim, beliau justru mengingatkan agar bersabar sesuai dengan hadits Rasulullah yang beliau riwayat kan.

Dan hadits Anas bin Malik ini Shohih, sebagaimana yang diriwayatkan Bukhori dalam Shohih nya

*
Bahkan ketika Asma binti Abu Bakar, ibu dari Abdullah bin Zubair didatangi oleh Al Hajjaj guna “diprovokasi” mengenai anaknya yang dia bunuh.

Maka Asma membalas perkataan Hajjaj dengan sebaik baik perkataan yang dinisbatkan kepada Rasulullah, hingga Hajjaj terdiam dan pergi tidak bisa membantah kata kata Asma.

Ini Shohih, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohih nya.

Dan Asma sama sekali tidak mengungkit ungkit terbunuhnya anaknya beserta para pengikutnya, guna menolak pemerintahan Abdul Malik bin Marwan yang secara de facto berkuasa.

Perhatikan dengan benar benar akan hal ini.

****
2. Seharusnya IM, para harokiyyun yang mengadopsi manhaj Haroki Hizbiyyah nya, beserta para simpatisan nya menunjukkan kebencian dan protes nya kepada Raja Salman dan Saudi atas dibredel dan dilarangnya buku buku Haroki tersebar di Saudi.

Khususon kepada dilarangnya buku buku penulis yang berafiliasi kepada Ikhwanul Muslimin dan Harokiyyun secara umum. Lebih Khususon lagi mengenai dilarangnya buku buku Hasan Al Bana dan Sayyid Quthb.

Seharusnya mereka berani menunjukkan framing yang dulu telah mereka lakukan berkaitan dengan hal itu, yang disebarkan kepada para pengikut dan simpatisan nya, kepada raja Salman yang sedang berkunjung.

Minta tuh kepada raja Salman agar buku buku IM, Khususon buku bukunya Hasan Al banna dan Sayyid Quthb, tidak dicekal dan tidak diperlakukan sebagai buku buku yang menyimpang dari manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

***
3. Seharusnya IM, para harokiyyun yang mengadopsi manhaj Haroki Hizbiyyah nya, beserta para simpatisan nya menunjukkan kebencian dan protes nya kepada Raja Salman dan Saudi atas tiga buah pengeboman akhir Ramadhan tahun 2016 yang lalu. Yang mana salah satunya berlokasi di area parkir dekat Masjidil Nabawi.

Sudah ingat?

Yang mana tidak sampai sehari dan belum keluar keterangan resmi dari Saudi, langsung keluar Framing dan teori konspirasi dari harokiyyun bahwa itu hanya kerjaan media Saudi yang membesar besarkan masalah yang mana media itu berafiliasi kepada pemerintahan Saudi.

Broadcast itu langsung beredar secara massive di Indonesia untuk mendiskreditkan pemerintah Saudi. Bahkan disebutkan nama dua orang ustadz Haroki yang bertanggung jawab menyebarkan Broadcast itu.

Sudah ingat?

Harusnya mereka protes kepada raja Salman sesuai dengan Framing mereka, untuk menunjukkan kebencian masalah berita pengeboman yang dikatakan direkayasa teori konspirasi oleh pemerintah Saudi sendiri.

****
Ah Namun kita sudah faham betapa inkonsisten nya mereka. Apalagi kalau dirasa positioning nya nggak bagus. Strategi “bermain dua kaki” memang sudah biasa dimainkan.

Begitu rajanya datang sendiri beserta rombongan nya, langsung diam dan bermain retorika.

Betapa luar biasa manhaj Haroki kalian itu.

Advertisements